Anda di halaman 1dari 25

-

Eggy Fherdyansa
102016148
Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Krida Wacana
Jl. Arjuna No.6 Jakarta Barat 11510 Telp. 021-56942061 Fax. 021-5631731
Email: Eggyfherdyansa20@gmail.com

Abstrak

Pemasukan makanan penting dalam menghasilkan energi yang digunakan untuk


menjalankan aktivitas kehidupan. Di dalam tubuh makanan yang telah masuk akan diolah
melalui serangkaian proses kimia yang disebut dengan metabolisme. Metabolisme mencakup
sintesis anabolisme dan penguraian katabolismemolekulorganik kompleks. Proses metabolisme
sangat penting untuk mengetahui apakah kadar makanan yang kita makan telah sesuai untuk
tubuh atau tidak. Bila ada seseorang yang berat badannya berlebih dari indeks massa tubuh,
berarti terjadi kelebihan zat-zat dalam tubuh, antara lain karbohidrat, protein dan lemak
Kata kunci: metabolisme, anabolisme, katabolisme

Abstract

Food intake is important in generating the energy used to run the activities of life. In the body of
the food that has been entered will be processed through a chemical process called metabolism.
Metabolism includes synthesis of anabolism and catabolism breaking down complex organic
molecules. Metabolic processes is very important to know whether the level of the food we eat
has been fit to the body or not. If there is someone that excess weight from body mass index,
mean excess occurs substances in the body, such as carbohydrates, protein and fat.

Keywords: metabolism, anabolism, katabolism


Pendahuluan

Didalam tubuh manusia terjadi berbagai macam proses metabolisme. Metabolisme adalah
proses-proses kimia yang terjadi di dalam tubuh makhluk hidup/sel yang diantaranya adalah
proses metabolisme energy yang didapat dari hasil pemecahan makanan yang kita makan
maupun dari proses oksidasi. Jika kita tidak mengkonsumsi makanan, maka tubuh kita akan
kekurangan energi dan tubuh kita juga dapat dengan mudahnya terjangkit suatu penyakit. Bila
tubuh kita kekurangan energi, maka tubuh kita akan lemah dan lemas sehingga aktivitas kita
sehari-hari dapat terganggu. Orang-orang yang berpendidikan adalah bibit yang terbaik dalam
meningkatkan diri dari kemiskinan yang menjadi penyebab kelaparan
Tingkat konsumsi ditentukan oleh kualitas serta kuantitas hidangan atau yang disajikan,
jika susunan hidangan memenuhi kebutuhan tubuh baik dari sudut kualitas maupun kuantitasnya,
maka tubuh akan mendapat kondisi kesehatan gizi sebaik-baiknya. Pada keadaan starvation atau
kelaparan mengakibatkan asupan gizi kurang, sehingga penyediaan zat-zat gizi bagi jaringan
tidak mencukupi sehingga akan menghambat fungsi jaringan tersebut, reaksi reaksi metabolic
menjadi terganggu dan mengalami perubahan abnormal sehingga terjadi perubahan dalam
susunan biokimiawi jaringan.
Dengan makalah ini, diharapkan pembaca dapat mengetahui segala sesuatu mengenai
metabolisme energi tubuh manusia dan juga tentang gizi yang baik untuk dikonsumsi oleh
individu agar tetap sehat.

Metabolisme Lipid

Secara ringkas, hasil akhir dari pemecahan lipid dari makanan adalah asam lemak dan
gliserol. Jika sumber energi dari karbohidrat telah mencukupi, maka asam lemak mengalami
esterifikasi yaitu membentuk ester dengan gliserol menjadi trigliserida sebagai cadangan energi
jangka panjang. Jika sewaktu-waktu tak tersedia sumber energi dari karbohidrat barulah asam
lemak dioksidasi, baik asam lemak dari diet maupun jika harus memecah cadangan trigliserida
jaringan. Proses pemecahan trigliserida ini dinamakan lipolisis.1

Proses oksidasi asam lemak dinamakan oksidasi beta dan menghasilkan asetil KoA.
Selanjutnya sebagaimana asetil KoA dari hasil metabolisme karbohidrat dan protein, asetil KoA
dari jalur inipun akan masuk ke dalam siklus asam sitrat sehingga dihasilkan energi. Di sisi lain,
jika kebutuhan energi sudah mencukupi, asetil KoA dapat mengalami lipogenesis menjadi asam
lemak dan selanjutnya dapat disimpan sebagai trigliserida.Beberapa lipid non gliserida disintesis
dari asetil KoA. Asetil KoA mengalami kolesterogenesis menjadi kolesterol. Selanjutnya
kolesterol mengalami steroidogenesis membentuk steroid. Asetil KoA sebagai hasil oksidasi
asam lemak juga berpotensi menghasilkan badan-badan keton (aseto asetat, hidroksi butirat dan
aseton). Proses ini dinamakan ketogenesis. Badan-badan keton dapat menyebabkan gangguan
keseimbangan asam-basa yang dinamakan asidosis metabolik. Keadaan ini dapat menyebabkan
kematian.1

Gambar 1 : Ikhtisar metabolisme lipid1

Metabolisme Gliserol

Gliserol sebagai hasil hidrolisis lipid (trigliserida) dapat menjadi sumber energi. Gliserol
ini selanjutnya masuk ke dalam jalur metabolisme karbohidrat yaitu glikolisis. Pada tahap awal,
gliserol mendapatkan 1 gugus fosfat dari ATP membentuk gliserol 3-fosfat. Selanjutnya senyawa
ini masuk ke dalam rantai respirasi membentuk dihidroksi aseton fosfat, suatu produk antara
dalam jalur glikolisis. 1
Gambar 2 : Reaksi kimia pada awal metabolisme gliserol3

Oksidasi Asam Lemak (oksidasi beta)

Untuk memperoleh energi, asam lemak dapat dioksidasi dalam proses yang dinamakan
oksidasi beta. Sebelum dikatabolisir dalam oksidasi beta, asam lemak harus diaktifkan terlebih
dahulu menjadi asil-KoA. Dengan adanya ATP dan Koenzim A, asam lemak diaktifkan dengan
dikatalisir oleh enzim asil-KoA sintetase (Tiokinase). 1

Gambar 3 : Aktivasi asam lemak menjadi asil KoA1

Asam lemak bebas (FFA) pada umumnya berupa asam-asam lemak rantai panjang. Langkah-
langkah masuknya asil KoA ke dalam mitokondria dijelaskan sebagai berikut:

Asam lemak bebas (FFA) diaktifkan menjadi asil-KoA dengan dikatalisir oleh enzim
tiokinase.
Setelah menjadi bentuk aktif, asil-KoA dikonversikan oleh enzim karnitin palmitoil
transferase I yang terdapat pada membran eksterna mitokondria menjadi asil karnitin. Setelah
menjadi asil karnitin, barulah senyawa tersebut bisa menembus membran interna
mitokondria.
Pada membran interna mitokondria terdapat enzim karnitin asil karnitin translokase yang
bertindak sebagai pengangkut asil karnitin ke dalam dan karnitin keluar.
Asil karnitin yang masuk ke dalam mitokondria selanjutnya bereaksi dengan KoA dengan
dikatalisir oleh enzim karnitin palmitoiltransferase II yang ada di membran interna
mitokondria menjadi Asil Koa dan karnitin dibebaskan.
Asil KoA yang sudah berada dalam mitokondria ini selanjutnya masuk dalam proses oksidasi
beta.
Dalam oksidasi beta, asam lemak masuk ke dalam rangkaian siklus dengan 5 tahapan
proses dan pada setiap proses, diangkat 2 atom C dengan hasil akhir berupa asetil KoA.
Selanjutnya asetil KoA masuk ke dalam siklus asam sitrat. Dalam proses oksidasi ini, karbon
asam lemak dioksidasi menjadi keton. Telah dijelaskan bahwa asam lemak dapat dioksidasi jika
diaktifkan terlebih dahulu menjadi asil-KoA. Proses aktivasi ini membutuhkan energi sebesar 2P
(-2P). Setelah berada di dalam mitokondria, asil-KoA akan mengalami tahap-tahap perubahan
sebagai berikut:

1. Asil-KoA diubah menjadi delta-trans-enoil-KoA. Pada tahap ini terjadi rantai respirasi dengan
menghasilkan energi 2P (+2P)
2. delta2-trans-enoil-KoA diubah menjadi L(+)-3-hidroksi-asil-KoA
3. L(+)-3-hidroksi-asil-KoA diubah menjadi 3-Ketoasil-KoA. Pada tahap ini terjadi rantai
respirasi dengan menghasilkan energi 3P (+3P)
4. Selanjutnya terbentuklah asetil KoA yang mengandung 2 atom C dan asil-KoA yang telah
kehilangan 2 atom C.

Dalam satu oksidasi beta dihasilkan energi 2P dan 3P sehingga total energi satu kali
oksidasi beta adalah 5P. Karena pada umumnya asam lemak memiliki banyak atom C, maka asil-
KoA yang masih ada akan mengalami oksidasi beta kembali dan kehilangan lagi 2 atom C
karena membentuk asetil KoA. Demikian seterusnya hingga hasil yang terakhir adalah 2 asetil-
KoA. Asetil-KoA yang dihasilkan oleh oksidasi beta ini selanjutnya akan masuk siklus asam
sitrat.1

Penghitungan Energi Hasil Metabolisme Lipid

Dari uraian di atas kita bisa menghitung energi yang dihasilkan oleh oksidasi beta suatu
asam lemak. Misalnya tersedia sebuah asam lemak dengan 10 atom C, maka kita memerlukan
energi 2 ATP untuk aktivasi, dan energi yang di hasilkan oleh oksidasi beta adalah 10 dibagi 2
dikurangi 1, yaitu 4 kali oksidasi beta, berarti hasilnya adalah 4 x 5 = 20 ATP. Karena asam
lemak memiliki 10 atom C, maka asetil-KoA yang terbentuk adalah 5 buah. Setiap asetil-KoA
akan masuk ke dalam siklus Krebs yang masing-masing akan menghasilkan 12 ATP, sehingga
totalnya adalah 5 X 12 ATP = 10 ATP. Dengan demikian sebuah asam lemak dengan 10 atom C,
akan dimetabolisir dengan hasil -2 ATP (untuk aktivasi) + 20 ATP (hasil oksidasi beta) + 10
ATP (hasil siklus Krebs) = 78 ATP. Sebagian dari asetil-KoA akan berubah menjadi asetoasetat,
selanjutnya asetoasetat berubah menjadi hidroksi butirat dan aseton. Aseto asetat, hidroksi butirat
dan aseton dikenal sebagai badan-badan keton. Proses perubahan asetil-KoA menjadi benda-
benda keton dinamakan ketogenesis.1

Sebagian dari asetil KoA dapat diubah menjadi kolesterol (prosesnya dinamakan
kolesterogenesis) yang selanjutnya dapat digunakan sebagai bahan untuk disintesis menjadi
steroid (prosesnya dinamakan steroidogenesis).1

Gambar 4 : Aktivasi asam lemak, oksidasi beta dan siklus asam sitrat1
Sintesis Asam Lemak

Makanan bukan satu-satunya sumber lemak kita. Semua organisme dapat men-sintesis
asam lemak sebagai cadangan energi jangka panjang dan sebagai penyusun struktur membran.
Pada manusia, kelebihan asetil KoA dikonversi menjadi ester asam lemak. Sintesis asam lemak
sesuai dengan degradasinya (oksidasi beta). Sintesis asam lemak terjadi di dalam sitoplasma.
ACP (acyl carrier protein) digunakan selama sintesis sebagai titik pengikatan. Semua sintesis
terjadi di dalam kompleks multi enzim-fatty acid synthase. NADPH digunakan untuk sintesis.
Tahap-tahap sintesis asam lemak ditampilkan pada skema berikut.1

Gambar 5 : tahap sintesis asam lemak1

Penyimpanan Lemak dan Penggunaannya Kembali

Asam-asam lemak akan disimpan jika tidak diperlukan untuk memenuhi kebutuhan
energi. Tempat penyimpanan utama asam lemak adalah jaringan adiposa. Adapun tahap-tahap
penyimpanan tersebut adalah:

- Asam lemak ditransportasikan dari hati sebagai kompleks VLDL.


- Asam lemak kemudian diubah menjadi trigliserida di sel adiposa untuk disimpan.
- Gliserol 3-fosfat dibutuhkan untuk membuat trigliserida. Ini harus tersedia dari glukosa.
- Akibatnya, kita tak dapat menyimpan lemak jika tak ada kelebihan glukosa di dalam tubuh.
Jika kebutuhan energi tidak dapat tercukupi oleh karbohidrat, maka simpanan trigliserida
ini dapat digunakan kembali. Trigliserida akan dipecah menjadi gliserol dan asam lemak.
Gliserol dapat menjadi sumber energi (lihat metabolisme gliserol). Sedangkan asam lemak pun
akan dioksidasi untuk memenuhi kebutuhan energi pula (lihat oksidasi beta). 1
Gambar 6 : Dinamika lipid di dalam sel adiposa. Perhatikan tahap-tahap sintesis dan degradasi
trigliserida 1

Metabolisme Karbohidrat
Glikolisis dan Oksidasi Piruvat
Kebanyakan jaringan memerlukan glukosa. Di otak, kebutuhan ini bersifat substansial.
Glikolisis, yaitu jalur utama metabolisme glukosa, terjadi di sitosil semua sel. Jalur ini unik
karena dapat berfungsi baik dalam keadaan aerob maupun anaerob, bergantung pada
ketersediaan oksigen dan rantai transpor elektron. Eritrosit yang tidak memiliki mitokondria,
bergantung sepenuhnya pada glukosa sebagai bahan bakar metaboliknya, dan memetabolisme
glukosa melalui glikolisis anaerob. Namun, untuk mengoksidasi glukosa melewati piruvat
(produk akhir glikolisis) oksigen dan sistem mitokondria diperlukan.2
Glikolisis merupakan rute utama metabolisme glukosa dan jalur utama untuk
metabolisme fruktosa dan galaktosa, dan karbohidrat lain yang berasal dari makanan.
Kemampuan glikolisis untuk menghasilkan ATP tanpa oksigen sangat penting karena hal ini
memungkinkan otot rangka bekerja keras ketika pasokan O2 terbatas.2
Glikolisis dibagi menjadi dua fase yaitu fase preapartory dan fase payoff. Setiap molekul
glukosa yang melewati fase preparatory, dua molekul gliseraldehid-3-fosfat terbentuk. Kedua
molekul itu menuju fase payoff. Piruvat adalah produk akhir dari fase kedua glikolisis.3
Semua enzim glikolisis ditemukan di sitosol. Glukosa memasuki glikolisis melalui
fosforilasi menjadi glukosa 6-fosfat yang dikatalis oleh heksokinase dengan menggunakan ATP
sebagai donor fosfat. Dalam kondisi fisiologis, fosforilasi glukosa menjadi glukosa 6-fosfat dapat
dianggap bersifat ireversibel. Heksokinasi dihambat secara alosterik oleh produknya, yaitu
glukosa 6-fosfat. Untuk lebih jelas mengenai glikolisis dapat dilihat pada gambar 1.2
Gambar 7. Proses Glikolisis.3
Di jaringan selain hati (dan sel pulau-pulau pankreas), ketersediaan glukosa untuk
glikolisis dikontrol oleh transpor ke dalam sel yang selanjutnya diatur oleh insulin. Heksokinase
memiliki afinitas tinggi untuk glukosa, dan di hati dalam kondisi normal enzim ini mengalami
saturasi sehingga bekerja dengan kecepatan tetap untuk menghasilkan glukosa 6-fosfat untuk
memenuhi kebutuhan sel. Sel hati juga mengandung isoenzim heksokinase, glukokinase yang
memiliki afinitas rendah. Fungsi glukokinasi di hati adalah untuk mengeluarkan glukosa dari
darah setelah makan dan menghasilkan glukosa 6-fosfat yang melebihi kebutuhan untuk
glikolisis, yang digunakan untuk sintesis glikogen dan lipogenesis.2
Glukosa 6-fosfat adalah senyawa penting yang berada di pertemuan beberapa jalur
metabolik: glikolisis, glukoneogenesis, jalur pentosa fosfat, glikogenesis, dan glikogenolisis.
Pada glikolisis, senyawa ini diubah menjadi fruktosa 6-fosfat oleh fosfoheksosa isomerasi yang
melibatkan suatu isomerasi aldosa-ketosa. Reaksi ini diikuti oleh fosforilasi lain yang dikatalisis
oleh enzim fosfofruktokinase untuk membentuk fruktosa 1,6-bisfosfat. Reaksi fosfofruktokinase
secara fungsional dapat dianggap ireversibel dalam kadaan fisiologis; reaksi ini dapat diinduksi
dan diatur secara alosterik, dan memiliki peran besar dalam mengatur laju glikolisis. Fruktosa
1,6-bisfosfat dipecah menjadi aldolase menjadi dua triosa fosfat, gliseraldhida 3-fosfat dan
diidroksiaseton fosfat. Gliseraldehida 3-fosfat dan dihidroksiaseton fosfat dapat saling
terkonveksi oleh enzim fosfotriosa isomerase.2
Glikolisis berlanjut dengan oksidasi gliseraldehida 3-fosfat menjadi 1,3-bisfosfogliserat.
Enzim yang mengatalisis reaksi oksidasi ini, gliseraldehida 3-fosfat dehidrogenase, bersifat
dependen NAD. Dalam reaksi berikutnya yang dikatalisis oleh fosfogliserat kinase, fosfat
dipindahkan dari 1,3-bisfosfogliserat ke ADP, membentuk ATP dan 3-fosfogliserat.
Karena untuk setiap molekul glukosa yang mengalami glikolisis dihasilkan dua molekul
triosa fosfat, padan tahap ini dihasilkan dua molekul ATP per molekul glukosa yang mengalamu
glikolisis. Lalu 3-fosfogliserat mengalami isomerasi menjadi 2-fosfogliserat oleh fosfogliserat
mutase. Besar kemungkinan bahwa 2,3-bisfosfogliserat merupakan zat antara dalam reaksi ini.
Langkah berikutnya dikatalisis oleh enolase dan melibatkan suatu dehidrasi yang
membentuk fosfoenolpiruvat. Enolase dihambat oleh fluorida, dan jika pengambilan sampel
darah untuk mengukur glukosa dilakukan, tabung penampung darah tersebut diisi oleh fluorida
untuk menghambat glikolisis. Enzim ini juga bergantung pada keberadaan Mg2+ atau Mn2+.
Fosfat pada fosfoenolpiruvat dipindahkan ke ADP oleh piruvat kinase untuk membentuk dua
molekul ATP per satu molekul glukosa yang teroksidasi.2
Keadaan redoks jaringan kini menentukan jalur mana dari dua jalur yang diikuti. Pada
kondisi anaerob, NADH tidak dapat direoksidasi melalui rantai respiratorik menjadi oksigen.
Piruvat direduksi oleh NADH menjadi laktat yang dikatalisisi oleh laktat dehidrogenasi.
Terdapat berbagai isoenzim laktat dehidrogenasi spesifik-jaringan yang penting secara klinis.
Reoksidasi NADH melalui pembentukan laktat memungkinkan glikolisisi berlangsung tanpa
oksigen dengan menghasilkan cukup NAD+ untuk siklus berikutnya dari reaksi yang dikatalisis
oleh gliseraldehida-3-fosfat dehidrogenase. Pada keadaan aerob, piruvat diserap ke dalam
mitokondria, dan setelah menjalani dekarboksilasi oksidatif menjadi asetil KoA, dioksidasi
menjadi CO2 oleh siklus asam sitrat. Ekuivalen pereduksi dari NADH yang dibentuk dalam
glikolisis diserap ke dalam mitokondria untuk dioksidasi.2
Kebanyakan reaksi glikolisisi bersifat reversibel, namun ada tiga reaksi jelas bersifat
eksergonik dan karena itu harus dianggap ireversibel secara fisiologis. Ketiga reaksi tersebut,
yang dikatalisis oleh heksokinase (dan glukokinase), fosfofruktokinase, dan piruvat kinase,
adalah tempat-tempat utama pengendalian glikolisis. Fosfofruktokinase dihambat oleh ATP
dalam konsentrasi intrasel, hambatan ini dapat cepat dihilangkan oleh 5AMP yang terbentuk
sewaktu ADP mulai menumpuk, yang memberi sinyal akan perlunya peningkatan laju glikolisis.2
Fruktosa masuk ke jalur glikolisis melalui fosforilasi menjadi fruktosa 1-fosfat, dan tidak
melalui tahap-tahap regulatorik utama sehingga dihasilkan lebih banyak piruvat (dan asetil KoA)
daripada piruvat yang dibutuhkan untuk membentuk ATP. Di hati dan jaringan adiposa, ini
menyebabkan peningkatan lipogenesis dan tingginya asupan fruktosa berperan menyebabkan
obesitas. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada gambar 8.3

Gambar 8. Reaksi Oksidasi Piruvat dan Regulasi Piruvat Dehidrogenase (PDH).4

Piruvat yang terbentuk di sitosol diangkut ke dalam mitokondria oleh suatu simporter proton.
Di dalam mitokondria, piruvat mengalami dekarboksilasi oksidatif menjadi asetil-KoA oleh
suatu kompleks multienzim yang terdapat di membran dalam mitokondria yaitu kompleks
piruvat dehidrogenase.2
Piruvat dehidrogenase dihambat oleh produknya, yaitu asetil-koA dan NADH. Enzim ini
juga diatur melalui fosforilasi oleh suatu kinase tiga residu serin pada komponen pirivat
dehidrogenase kompleks multienzim sehingga aktivitas enzim menurun, dan menyebabkan
peningkatan aktivitas melalui defosforilasi oleh suatu fosfatase. Kinase diaktifkan oleh
peningkatan rasio [ATP]/[ADP], [asetil-KoA]/[KoA], dan [NADH]/[NAD+]. Oleh sebab itu,
piruvat dehidrogenase, dan dengan demikian glikolisis, dihambat jika tersedia ATP dalam
jumlah memadai dan jika asam lemak teroksidasi. Di jaringan adiposa, tempat glukosa
menghasilkan asetil-KoA untuk lipogenesis, enzim tersebut diaktifkan sebagai respons terhadap
insulin.2

Siklus Asam Sitrat

Siklus asam sitrat adalah serangkaian reaksi di mitokondria yang mengoksidasi gugus asetil
pada asetil-KoA dan mereduksi koenzim yang ter-reoksidasi melalui rantai transpor elektron
yang berhubungan dengan pembentukan ATP.2
Siklus asam sitrat adalah jalur bersama terakhir untuk oksidasi karbohidrat, lipid, dan protein
karena glukosa, asam lemak, dan sebagian besar asam amino dimetabolisme menjadi asetil-KoA
atau zat-zat antara siklus ini. Siklus ini juga berperan sentral dalam glukoneogenesis, lipogenesis,
dan interkonversi asam-asam amino. Banyak proses ini berlangsung di sebagian besar jaringan,
tetapi hati adalah satu-satunya jaringan tempat semuanya berlangsung dengan tingkat yang
signifikan.2
Siklus diawali dengan reaksi antara gugus asetil pada asetil KoA dan asam dikarboksilat
empat karbon oksaloasetat yang membentuk asam trikarboksilat enam-karbon, yaitu sitrat. Pada
reaksi-reaksi berikutnya, terjadi pembebasan dua molekul CO2 dan pembentukan ulang
oksaloasetat. Hanya sejumlah kecil oksaloasetat yang dibutuhkan untuk mengoksidasi asetil-
KoA dalam jumlah besar. Proses ini bersifat aerob yang memerlukan oksigen sebagai oksidan
terakhir dari koenzim-koenzim yang tereduksi. Enzim-enzim pada siklus asam sitrat terletak di
matriks mitokondria. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar 4.2
Gambar 9. Tahapan Siklus Asam Sitrat.3
Reaksi awal antara asetil-KoA dan oksaloasetat untuk membentuk sitrat dikatalisis oleh sitrat
sintase yang membentuk ikatan karbon ke karbon antara karbon metil pada asetil-KoA dan
karbon karbonil pada oksaloasetat. Ikatan tioester pada sitril-KoA yang terbentuk mengalami
hidrolisis dan membebaskan sitrat dan KoASG (eksotermik).2
Sitrat mengalami isomerisasi menjadi isositrat oleh enzim akonitase. Racun fluoroasetat
bersifat toksik karena fluoroasetil-KoA berkondensasi dengan oksaloasetat untuk membentuk
fluorositrat, yang menghambat akonitase sehingga terjadi penimbunan sitrat.2
Isositrat mengalami dehidrogenasi yang dikatalisis oleh isositrat dehidrogenase untuk
membentuk oksalosuksinat yang tetap terikat pada enzim dan mengalami dekarboksilasi menjadi
-ketoglutarat. Terdapat tiga isoenzim isositrat dehidrogenase. Salah satunya yang menggunakan
NAD+, hanya terdapat di mitokondria. Dua lainnya menggunakan NADP+ dan ditemukan di
mitokondria dan sitosol. Oksidasi isositrat terkait-rantai respiratorik berlangsung hampir
sempurna melalui enzim yang dependen-NAD+.2
-ketoglutarat mengalami dekarboksilasi oksidatif dalam suatu reaksi yang dikatalisis oleh
suatu kompleks multi-enzim yang mirip dengan kompleks multienzim yang berperan dalam
dekarboksilasi oksidatif piruvat. Kompleks -ketoglutarat dehidrogenase memerlukan kofaktor
yang sama dengan kofaktor yang diperlukan kompleks piruvat dehidrogenase serta menyebabkan
terbentuknya suksinil-KoA. Kesetimbangan reaksi ini jauh lebih menguntungkan pembentukan
suksinil-KoA sehingga fisiologisnya reaksi ini harus berjalan satu arah. Arsenit menghambat
reaksi ini yang menyebabkan akumulasi substrat yaitu -ketoglutarat.2
Suksinil-KoA diubah menjadi suksinat oleh enzim suksinat tiokinase (suksinil-KoA
sintetase). Reaksi ini adalah satu-satunya fosforilasi tingkat substrat dalam siklus asam sitrat.2
Metabolisme suksinat yang menyebabkan terbentuknya oksaloasetat, memiliki rangkaian
reaksi kimia yang sama seperti yang terjadi pada oksidasi asam lemak: dehidrogenasi untuk
membentuk ikatan rangkap karbon-ke-karbon, penambahan air untuk membentuk gugus
hidroksil, dan dehidrogenasi lebih lanjut untuk menghasilkan gugus okso pada oksaloasetat.2
Reaksi dehidrogenasi pertama yang membentuk fumarat dikatalisis oleh suksinat
dehidrogenase yang terikat pada permukaan dalam membran dalam mitokondria. Fumarase
mengatalisis penambahan air pada ikatan rangkap fumarat sehingga menghasilkan malat. Malat
diubah menjadi oksaloasetat oleh malat dehidrogenase, suatu reaksi yang memerlukan NAD+.
Meskipun keseimbangan reaksi ini jauh menguntungkan malat, namun aliran netto reaksi
tersebut adalah ke oksaloasetat karena oksaloasetat terus dikeluarkan sehingga reoksidasi NADH
terjadi secara kontinu.2
Akibat oksidasi yang dikatalisis oleh berbagai dehidrogenase pada siklus asam sitrat,
dihasilkan tiga molekul NADH dan satu FADH2 untuk setiap molekul asetil-KoA yang
dikatabolisme per satu kali putaran siklus. Ekuivalen pereduksi ini dipindahkan ke rantai
respiratorik, tempat reoksidasi masing-masing NADH menghasilkan pembentukan 3 ATP dan
FADH2 2 ATP. Selain itu, terbentuk 1 ATP melalui fosforilasi tingkat substrat yang dikatalisis
oleh suksinat tiokinase.2
Glikogenesis
Glikogen adalah karbohidrat simpanan utama pada hewan, setara dengan pati pada
tumbuhan; glikogen adalah polimer bercabang D-glukosa. Zat ini terutama ditemukan di hati
dan otot; meskipun kandungan glikogen hati lebih besar daripada kandungan glikogen otot,
namun karena massa otot tubuh jauh lebih besar daripada massa hati, sekitar tiga-perempat
glikogen tubuh total berada di otot. Sebelum dijelaskan lebih lanjut, keseimbangan glikogen
dapat dilihat pada gambar 5.2
Gambar 10. Keseimbangan Glikogen.5
Glikogen otot merupakan sumber glukosa yang dapat cepat digunakan untuk glikolisis di
dalam otot itu sendiri. Glikogen hati berfungsi untuk menyimpan dan mengirim glukosa untuk
mempertahankan kadar glukosa darah di antara waktu makan. Setelah berpuasa 1218 jam,
glikogen hati hampir seluruhnya terkuras. Meskipun glikogen otot tidak secara langsung
menghasilkan glukosa bebas, namun piruvat yang terbentuk oleh glikolisis di otot dapat
mengalami transaminasi menjadi alanin yang dikeluarkan dari otot dan digunakan untuk
glukoneogenesis di hati.2
Seperti glikolisis, glukosa mengalami fosforilasi menjadi glukosa 6-fosfat yang dikatalisis
oleh heksokinase di otot dan glukokinase di hati. Glukosa 6-fosfat mengalami isomerasi menjadi
glukosa 1-fosfat. Kemudian glukosa 1-fosfat bereaksi dengan uridin trifosfat (UTP) untuk
membentuk nukleotida aktif uridin difosfat glukosa (UDPGlc) dan pirofosfat yang dikatalisis
oleh UDPGlc pirofosforilase. Reaksi berlangsung dalam arah pembentukan UDPGlc karena
pirofosfatase mengatalisis hidrolisis pirofosfat menjadi dua kali fosfat sehingga salah satu
produk reaksi dihilangkan. Untuk lebih jelas dapat lihat gambar 6.2
Gambar 11. Jalur Glikogenesis dan Glikogenolisis.4

Glikogen sintase mengatalisis pembentukan sebuah ikatan glikosida antara C1 glukosa


UDPGlc dan C4 residu glukosa terminal glikogen yang membebaskan uridin difosfat (UDP).
Suatu molekul glikogen yang sudah ada (primer glikogen) harus ada agar reaksi ini dapat
berlangsung. Primer glikogen ini pada gilirannya dapat dibentuk pada suatu orimer protein yang
dikenal sebagai glikogenin. Residu glukosa lain melekat pada posisi 14 untuk membentuk
suatu rantai pendek yang merupakan substrat untuk glikogen sintase. Di otot rangka, glikogenin
tetap melekat pada bagian tengah molekul glikogen; di hati, jumlah molekul glikogen lebih
banyak daripada jumlah molekul glikogenin.2
Penambahan sebuah residu glukosa ke rantai glikogen yang sudah ada terjadi di ujung luar
molekul sehingga cabang-cabang molekul nonpereduksi glikogen memanjang seiring dengan
terbentuknya ikatan 14 . Ketika rantai memiliki panjang sedikit 11 residu glukosa, sebagian
rantai 14 dipindahkan ke rantai di dekatnya oleh branching enzyme untuk membentuk ikatan
16 sehingga terbentuk titik percabangan. Cabang tumbuh melalui penambahan unit-unit 14
glukoasil dan percabangan selanjutnya.2

Glikogenolisis
Glikogen fosforilase mengatalisis tahap penentu kecepatan glikogenolisis dengan
mengatalisis pemecahan fosforoilitik ikatan ikatan 14 glikogen untuk menghasilkan glukosa 1-
fosfat. Residu glukoasil terminal dari rantai terluar molekul glikogen dikeluarkan secara
sekuensial sampai tersisa sekitar empat residu glukosa di kedua sisi suatu cabang 16.
Hidrolisis ikatan 16 memerlukan debranching enzyme; glukan transferase dan debranching
enzyme mungkin merupakan kedua bentuk aktivitas dari suatu protein tunggal. Kerja fosforilase
selanjutnya dapat berlangsung. Kombinasi kerja fosforilase dan enzim-enzim lain menyebabkan
terurainya glikogen secara sempurna. Reaksi yang dikatalisis oleh fosfoglukomutase bersifat
reversibel sehingga glukosa 6-fosfat dapat dibentuk dari glukosa 1-fosfat. Di hati glukosa 6-
fosfatase menghidrolisis glukosa 6-fosfat yang menghasilkan glukosa yang diekspor sehingga
kadar glukosa darah meningkat. Tahap-tahap dalam glikogenolisis dapat dilihat pada gambar 7,
sedangkan kontrol fosforilase pada gambar 8.2

Gambar 7. Tahap-tahap dalam Glikogenolisis.3


Gambar 12. Kontrol Fosforilase.4
Enzim-enzim utama yang mengendalikan metabolisme glikogen-glikogen fosforilase dan
glikogen sintase, diatur oleh mekanisme alosterik dan modifikasi kovalen karena terjadi
fosforilasi dan defosforilasi reversibel protein enzim sebagai respons terhadap kerja hormon.2
AMP siklik (cAMP) dibentuk dari ATP oleh adenilil siklase pada permukaan dalam
membran sel dan berfungsi sebagai second messenger intrasel sebagai respons terhadap berbagai
hormon, misalnya epinefrin, norepinefrin, dan glukagon. cAMP dihidrolisis oleh fosfodiesterase
sehingga kerja hormon-hormon tersebut terhenti; di hati insulin meningkatkan aktivitas
fosfodiesterase.2
Di hati peran glikogen adalah menyediakan glukosa bebas untuk diekspor guna
mempertahankan kadar glukosa darah, di otot berperan sebagai sumber glukosa 6-fosfat untuk
glikolisis sebagai respons terhadap kebutuhan akan ATP untuk kontraksi otot. Di kedua jaringan,
enzim diaktifkan oleh fosforilasi yang dikatalisis oleh fosforilase kinase (untuk menghasilkan
fosforilase a) dan diinaktifkan oleh defosforilasi yang dikatalisis oleh fosfoprotein fosfatase
(untuk menghasilkan fosforilase b), sebagai respons terhadap sinyal hormon dan sinyal lain.2
Fosforilase a aktif di kedua jaringan dihambat secara alosterik oleh ATP dan glukosa 6-
fosfat; di hati, tetapi tidak di otot, glukosa bebas juga merupakan suatu inhibitor. Fosforilase otot
berbeda dari isoenzim di hati karena memiliki tempat pengikatan untuk 5AMP yang berfungsi
sebagai aktivator alosterik bentuk b terdefosforilasi (inaktif) enzim. 5AMP bekerja sebagai
sinyal poten statu energi sel otot; 5AMP terbentuk sewaktu konsentrasi ADP mulai meningkat,
akibat reaksi adenilat kinase: 2x ADP ATP + 5AMP.2
Fosforilase kinase diaktifkan sebagai respons terhadap cAMP. Peningkatan konsentrasi
cAMP anak mengaktifkan protein kinase dependen-cAMP yang mengatalisis fosforilasi oleh
ATP fosforilase kinase b inaktif menjadi fosforilase kinase a aktif yang selanjutnya
memfosforilasi fosforilase b menjadi fosforilase a. Di hati, cAMP dibentuk sebagai respons atas
menurunnya kadar glukosa darah; otot kurang peka terhadap glukagon. Di otot, sinyal untuk
meningkatkan pembentukan cAMP dalah efek norepinefrin yang disekresikan sebagai respons
terhadap takut dan cemas, ketika kebutuhan akan glikogenolisis meningkat agar aktivitas otot
dapat ditingkatkan.2
Baik fosforilase a maupun fosforilase kinase a mengalami defosforilasi dan diinaktifkan oleh
protein fosfatase-1. Protein fosfatase-1 dihambat oleh suatu protein, yakni inhibitor-1, yang
hanya aktif setelah terfosforilasi oleh protein kinase dependen c-AMP. Oleh sebab itu, cAMP
mengontrol baik pengaktifan maupun penginaktifan fosforilase. Insulin memperkuat efek ini
dengan menghambat pengaktifan fosforilase b. Hormon ini melakukannya secara tidak langsung
dengan meningkatkan penyerapan glukosa sehingga meningkatkan pembentukan glukosa 6-
fosfat yang merupakan suatu inhibitor fosforilase kinase.7
Seperti fosforilase, glikogen sintase terdapat baik dalam keadaan terfosforilasi maupun tidak-
terfosforilasi; namun, efek fosforilasi adalah kebalikan efek pada fosforilase. Glikogen sintase a
aktif mengalami defosforilasi dan glikogen sintase b inaktif mengalami fosforilasi.2
Terdapat enam protein kinase berbeda yang bekerja pada glikogen sintase. Dia diantaranya
bersifat dependen Ca2+. Kinase lain adalah protein kinase dependen-cAMP yang memungkinkan
hormon, melalui perantaraan cAMP, menghambat sintesis glikogen secara sinkron dengan
pengaktifan glikogenolisis. Insulin juga memacu glikogenesis di otot secara bersamaan dengan
penghambatan glikogenolisis dengan meningkatkan kadar glukosa 6-fosfat yang merangsang
defosforilasi dan pengaktifan glikogen sintase. Defosforilasi glikogen sintase b dilaksanakan
oleh protein fosfatase-1 yang berada dalam kendali protein kinase dependen-cAMP. Untuk lebih
jelasnya dapat dilihat pada gambar 9.2
Gambar 13. Kontrol Glikogen Sintase.4
Pada saat yang sama dengan terjadinya pengaktifan fosforilase oleh peningkatan konsentrasi
cAMP, glikogen sintase diubah menjadi bentuk inaktif; kedua efek diperantarai oleh protein
kinase dependen-cAMP. Jadi, inhibisi glikogenolisis meningkatkan glikogenesis netto, dan
inhibisi glikogenesis meningkatkan glikogenolisis netto. Defosforilasi fosforilase a, fosforilase
kinase, dan glikogen sintase b dikatalisis oleh satu enzim dengan spesifitas yang luas yaitu
protein fosfatase-1. Selanjutnya. Protein fosfatase-1 dihambat oleh protein kinase dependen-
cAMP melalui inhibitor-1. Jadi, glikogenolisis dapat dihentikan dan glikogenesis dirrangsang
secara sinkron atau sebaliknya karena kedua proses bergantung pada aktivitas protein kinase
dependen-cAMP. Baik fosforilase kinase maupun glikogen sintase dapat difosforilasi secara
reversibel di lebih dari satu tempat oleh kinase dan fosfatase yang berbeda. Fosforilasi sekunder
ini memodifikasi sensivitas bagian/tempat utama terjadinya fosforilasidan defosforilasi.
Fosforilasi sekunder ini juga memungkinkan insulin menimbulkan efek yang timbal-balik
dengan efek cAMP melalui peningkatan glukosa 6-fosfat.6

Glukoneogenesis
Glukoneogenesis adalah proses mengubah prekursor nonkarbohidrat menjadi glukosa atau
glikogen. Substrat utamanya adalah asam-asam amino glukogenik, laktat, gliserol, dan propionat.
Hati dan ginjal adalah jaringan glukoneogenik utama.2
Glukoneogenesis memenuhi kebutuhan glukosa tubuh jika karbohidrat dari makanan atau
cadangan glikogen kurang memadai. Pasokan glukosa merupakan hal yang esensial terutama
bagi sistem saraf dan eritrosit. Kegagalan glukoneogenesis biasanya bersifat fatal. Glukosa juga
penting dalam mempertahankan kadar zat-zat antara siklus asam sitrat meskipun asam lemak
adalah sumber utama asetil-KoA di jaringan. Selain itu, glukoneognenesis membersihkan laktat
yang dihasilkan oleh otot dan eritrosit serta gliserol yang dihasilkan oleh jaringan adiposa.2
Tiga reaksi tidak-seimbang dalam glikolisis yang dikatalisis oleh heksokinase,
fosfofruktokinase, dan piruvat kinase, menghambat pembalikan sederhana glikolisis untuk
membentuk glukosa. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada gambar 10.2

Gambar 14. Jalur Utama dan Glukoneogenesis dan Glikolisis Hati.4

Pembalikan reaksi yang dikatalisis oleh piruvat kinase dalam glikolisis melibatkan dua
reaksi endotermik. Piruvat karboksilase mitokondria mengatalisis karboksilasi piruvat menjadi
oksaloasetat, suatu reaksi yang membutuhkan ATP dengan vitamin biotin sebagai koenzim.
Biotin mengikat CO2 dari bikarbonat sebagai karboksibiotin sebelum penambahan CO2 ke
piruvat. Enzim kedua, fosfoenolpiruvat karboksikinase, mengatalisis dekarboksilasi dan
fosforilasi oksaloasetat menjadi fosfoenolpiruvat dengan menggunakan GTP sebagai donor
fosfat. Di hati dan ginjal, reaksi suksinat tiokinase dalam siklus asam sitrat menghasilkan GTP,
dan GTP ini digunakan untuk reaksi fosfoenolpiruvat karboksikinase sehingga terbentuk
hubungan antara aktivitas siklus asam sitrat dan glukoneogenesis, untuk mencegah pengeluaran
berlebihan oksaloasetat untuk glukoneogenesis yang dapat mengganggu aktivitas siklus asam
sitrat.5
Perubahan fruktosa 1,6-bisfosfat menjadi fruktosa 6-fosfat, untuk pembalikan glikolisis,
dikatalisis oleh fruktosa 1,6-bisfosfatase. Keberadaan enzim ini menentukan apakah suatu
jaringan mampu membentuk glukosa tidah saja dari piruvat, tetapi juga dari triosa fosfat. Enzim
ini terdapat di hati, ginjal, dan otot rangka, tetapi mungkin tidak ditemukan di otot jantung dan
otot polos.2
Perubahan glukosa 6-fosfat menjadi glukosa dikatalisis oleh glukosa 6-fosfatase. Enzim ini
terdapat di hati dan ginjal, tetapi tidak di otot dan jaringan adiposa, akibatnya tidak dapat
mengekspor glukosa ke dalam aliran darah.2
Pemecahan glikogen menjadi glukosa 1-fosfat dikatalisis oleh fosforilase. Sintesis glikogen
melibatkan jalur yang berbeda melalui uridin difosfat glukosa dan glikogen sintase.2
Setelah transaminasi atau deaminasi, asam-asam amino glukogenik menghasilkan piruvat atau
zat-zat antara siklus asam sitrat. Oleh karena ini, reaksi yang dijelaskan sebelumnya dapat
menyebabkan perubahan laktat maupun asam amino glukogenik menjadi glukosa atau glikogen.2
Pada hewan bukan pemamah biak, termasuk manusia, propionat berasal dari oksidasi- asam
lemak rantai-ganjil yang terdapat pada lipid hewan pemamah biak, serta oksidasi isoleusin dan
rantai samping kolesterol, serta merupakan substrat bagi glukoneogenesis.5
Gliserol dibebaskan dari jaringan adiposa melalui lipolisis lipoprotein triasilgliserol dalam
keadaan kenyang: gliserol dapat digunakan untuk re-esterifikasi asam lemak bebas menjadi
triasilgliserol di jaringan adiposa atau hati, atau menjadi substrat untuk glukoneogenesis di hati.
Dalam keadaan puasa, gliserol yang dibebaskan dari lipolisis triasilgliserol jaringan adiposa
digunakan semata-mata sebata substrat untuk glukoneogenesis di hati dan ginjal.2
Lipogenesis
Asam lemak disintesis oleh sistem ekstramitokondria yang bertanggung jawab untuk
menyintesis palmitat dari asetil-KoA di sitosol. Pada sebagian besar mamalia, glukosa adalah
substrat utama untuk lipogenesis, tetapi pada hewan pemamah biak substrat tersebut adalah
asetat, yaitu molekul bahan bakar terpenting yang dihasilkan dari makanan.2
Jalur utama sintesis de novo asam lemak berlangsung di sitosol. Sistem ini terdapaat di
banyak jaringan, meliputi hati, ginjal, otak, paru, kelenjar mamaria, dan jaringan adiposa.
Kebutuhan kofaktornya mencakup NADPH, ATP, Mn2+, biotin, dan HCO3-. Asetil-KoA adalah
substrat langsungnya, dan palmitat bebas adalah produk akhirnya.2
Pembentukan malonil-KoA adalah tahap awal dan pengendali dalam sistem asam lemak.
Bikarbonat sebagai sumber CO2 diperlukan dalam reaksi awal untuk karboksilasi asetil-KoA
menjadi malonil-KoA dengan keberadaan ATP dan asetil-KoA karboksilase. Asetil-KoA
karboksilase memerlukan vitamin biotin. Enzim ini adalah suatu protein multienzim yang
mengandung subunit-subunit identik dengan jumlah bervariasi, masing-masing mengandung
biotin, biotin karboksilase, protein pembawa biotin karboksil, dan transkarboksilase, serta tempat
alosterik regulatorik. Reaksi ini berlangsung dalam dua tahap: karboksilasi biotin yang
melibatkan ATP dan pemindahan karboksil ke asetil-KoA untuk membentuk malonil-KoA.2
Kompleks asam lemak sintase adalah suatu polipeptida yang mengandung tujuh aktivitas
enzim. Pada bakteri dan tumbuhan, masing-masing enzim pada sistem asam lemak sintase
terpisah, dan ditemukan radikal asil dalam betuk kombinasi dengan suatu protein yang disebut
protein pengangkut asil (ACP). Namun pada ragi, mamalia, dan unggas, sistem sintase adalah
suatu kompleks polipeptida multienzim yang memasukkan ACP dan mengambil alih peran KoA.
Kompleks ini mengandung vitamin asam pantotenat dalam bentuk 4-fosfopantetein. Pemakaian
satu unit fungsional multienzim memiliki keunggulan berupa tercapainya efek
kompartementalisasi proses di dalam sel tanpa perlu membentuk sawar permeabilitas, dan
sintesis semua enzim di kompleks tersebut terkoordinasi karena dikode oleh satu gen.3
Pada mamalia, kompleks asam lemak sintase adalah suatu dimer yang terdiri dari dia
monomer identik, masing-masing menganding ketujuh aktivitas enzim lemak sintase pada sati
rantai polipeptida. Pada awalnya, suatu molekul priming asetil-KoA berikatan dengan gugus
SH sistein yang dikatalisis oleh asetil transasilase. Malonil-KoA berikatan dengan SH di
dekatnya pada 4-fosfopantetein ACP di monomer yang lain yang dikatalisis oleh malonil
transasilase, untuk membentuk asetil-malonil enzim. Gugus asetil menyerang gugus metilen di
residu malonil yang dikatalisis oleh 3-ketoasil sintase dan membebaskan CO2, membentuk 3-
ketoasil enzimm membebaskan gugus SH sistein. Dekarboksilasi memungkinkan reaksi
tersebut berlangsung tuntas, dan menarik sekuens reaksi keseluruhan ke arah selanjutnya. Gugus
3-ketoasil akan tereduksi, terdehidrasi, dan kembali tereduksi untuk membentuk enzim asil-S
jenuh. Molekul malonil-KoA baru berikatan dengan SH pada 4fosfopantetein, menggeser
residu asil jenuh ke gugus SH sistein bebas. Rangkaian reaksi diulang enam kalo lagi sampai
terbentuk radikal asil 16-karbon (palmitil) yang jenuh.2
Senyawa ini dibebaskan dari kompleks enzim oleh aktivitas enzim ketujuh di kompleks,
yaitu tioesterase. Palmitat bebas harus diaktifkan menjadi asil-KoA sebelum dapat diproses lebih
lanjut melalui jalur metabolik lain. Biasanya palmitat ini mengalami estrifikasi menjadi
asilgliserol, pemanjangan rantai atau desaturasi, atau esterifikasi menjadi ester kolesteril.2
Asetil-KoA yang digunakan sebagai primer membentuk atom karbon 15 dan 16 pada palmitat.
Penambahan seluruh unit C2 selanjutnya adalah melalui malonil-KoA.7

Daftar Pustaka

1. Murray RK, Hartono A, Ronardy DH. Biokimia harper. Edisi 27. Jakarta: EGC; 2012.h.95-
239, 435-78.
2. Murray RK, Granner DK, Rodwell VW. Biokimia harper. Edisi ke-27. Jakarta: EGC; 2009.
h. 132-86.
3. Nelson DL, Cox MM. Lehninger principles of biochemistry. 4th edition. New York: W. H.
Freeman and Company; 2005. p. 521-820.
4. Murray RK, Rodwell VW, Bender D, Botham KM, Weil PA, Kennelly PJ. Harper's
illustrated biochemistry. 28th ed. United States: McGraw Hill Professional; 2009.
5. Koolman J, Roehm KH. Color atlas of biochemistry. 2nd ed. Stuttgart: Georg Thieme Ver-lag;
2005. p. 157,163.
6. Sediaoetama Djaeni Ahmad. Ilmu gizi. Jilid 1. Jakarta: Penerbit Dian Rakyat, 2008.
7. Ralp J. Fessenden, Joan S. Fessenden. Organic Chemistry. Edisi ke-3. Massachuset:
Wadsworth Inc, 2001.
8.