Anda di halaman 1dari 31

BAB II

URAIAN TEORITIS

II.1. Komunikasi Antar Pribadi

II.1.1. Pengertian Komunikasi Antar Pribadi

Secara etimologi istilah komunikasi dalam bahasa Inggris, yaitu

communication berasal dari bahasa latin communication, dan bersumber dari kata

communis yang berarti sama. Sama yang dimaksud adalah sama makna atau sama

arti. Jadi komunikasi terjadi apabila terdapat kesamaan makna mengenai suatu

pesan yang disampaikan oleh komunikator dan diterima oleh komunikan (Effendy,

2003:30).

Salah satu tujuan komunikasi adalah mengubah sikap dan perilaku

seseorang atau sekelompok orang sebagaimana yang dikehendaki komunikator,

agar isi pesan yang disampaikan dapat dimengerti, diyakini serta pada tahap

selanjutnya. Hal ini sesuai dengan pendapat Carl I Hovland (Effendy, 1996:8)

mengemukakan bahwa komunikasi adalah suatu proses dimana informasi

seseorang (komunikator) menyampaikan perangsang-perangsang (biasanya

lambang-lambang dalam bentuk kata-kata) untuk mengubah tingkah laku orang

lain. Untuk itu harus ada kesepahaman arti dalam menyampaikan informasi

sehingga tercapai komunikasi yang efektif.

Menurut Mulyana (2002:73), komunikasi antar pribadi adalah

komunikasi antara dua orang atau lebih secara tatap muka, yang memungkinkan

adanya reaksi orang lain secara langsung, baik secara verbal maupun non verbal.

Universitas Sumatera Utara


Sedangkan menurut Rogers dalam Depari (1988) mengemukakan bahwa

komunikasi antar pribadi merupakan komunikasi dari mulut ke mulut yang terjadi

dalam interaksi tatap muka antara beberapa pribadi (Liliweri, 1991:12).

II.1.2 Ciri-ciri Komunikasi Antar Pribadi

Menurut De Vito (1976) ada beberapa ciri komunikasi antar pribadi

(Liliweri, 1991:13) yaitu :

1. Keterbukaan

Komunikator dan komunikan saling mengungkapkan ide atau gagasan

bahkan permasalahan secara bebas (tidak ditutup-tutupi) dan terbuka tanpa

rasa takut atau malu. Keduanya saling mengerti dan saling memahami.

2. Empati

Segala kepentingan yang dikomunikasikan ditanggapi dan diterima dengan

penuh perhatian oleh kedua belah pihak.

3. Dukungan

Setiap pendapat, ide atau gagasan yang disampaikan akan mendapat

dukungan dari pihak-pihak yang berkomunikasi. Dukungan membantu

seseorang untuk lebih bersemangat dalam melaksanakan aktivitas serta

meraih tujuan yang diinginkan.

4. Rasa Positif

Rasa positif menghindarkan pihak-pihak yang berkomunikasi untuk curiga

atau berprasangka buruk yang dapat mengganggu jalinan komunikasi.

Universitas Sumatera Utara


5. Kesamaan

Komunikasi akan menjadi lebih akrab dan jalinan pribadi akan menjadi kuat

apabila memiliki kesamaan tertentu, seperti kesamaan pandangan, sikap,

usia dan kesamaan idiologi, dan sebagainya.

II.1.3. Sifat Komunikasi Antar Pribadi

Komunikasi antar pribadi dari mereka yang saling mengenal lebih

bermutu karena setiap pihak mengetahui secara baik tentang liku-liku hidup pihak

lain, pikiran dan pengetahuannya, perasaannya, maupun menanggapi tingkah laku,

seorang-seorang yang sudah saling mengenal secara mendalam lebih baik

ketimbang yang belum mengenal. Kesimpulannya bahwa jika hendak

menciptakan suatu komunikasi antar pribadi yang lebih bermutu maka harus

didahului dengan suatu keakraban (Liliweri, 1991:30).

Adapun tujuh sifat yang menunjukkan bahwa suatu komunikasi antara

dua orang merupakan komunikasi antar pribadi dan bukan komunikasi lainnya,

yang terangkum dari pendapat-pendapat Reardon (1987), Effendy (1986), Porter

dan Samovar (1982) menyebutkan sifat-sifat yang membedakan (Liliweri,

1991:31) yaitu :

1. Komunikasi antar pribadi melibatkan di dalamnya perilaku verbal maupun

nonverbal. Perilaku verbal maupun nonverbal masing-masing dapat

menunjukkan seberapa jauh hubungan antara pihak-pihak yang terlibat

didalamnya.

Universitas Sumatera Utara


2. Komunikasi antar pribadi melibatkan perilaku yang spontan, scripted dan

contrived. Suatu perilaku spontan timbul karena kekuasaan emosi yang

bebas dari campur tangan kognisi. Perilaku scripted merupakan hasil belajar

seseorang secara terus menerus. Terakhir perilaku yang contrived karena

dikuasai sebagian besar oleh keputusan-keputusan yang rasional.

3. Komunikasi antar pribadi sebagai suatu proses yang berkembang. Proses

yang berkembang menandakan adanya kedinamisan yang pada gilirannya

meningkatkan mutu studi komunikasi antar pribadi.

4. Komunikasi antar pribadi harus menghasilkan umpan balik, mempunyai

interaksi dan koherensi. Suatu komunikasi antar pribadi harus ditandai

dengan adanya umpan balik dan interaksi yang terjadi mengandalkan suatu

perubahan dalam sikap, pendapat dan pikiran, perasaan dan minat ataupun

tindakan tertentu. Koherensi menandakan adanya suatu benang merah yang

terjalin antara pesan-pesan yang terungkap sebelumnya dengan yang baru

saja yang diungkapkan.

5. Komunikasi antar pribadi biasanya diatur dengan tata aturan yang bersifat

intrinsik dan ekstrinsik. Pengertian intrinsik adalah suatu standard dari

perilaku yang dikembangkan oleh seseorang sebagai panduan bagaimana

mereka melaksanakan komunikasi. Sedangkan ekstrinsik adalah adanya

aturan lain yang ditimbulkan karena adanya pengaruh pihak ketiga atau

pengaruh situasi dan kondisi sehingga komunikasi antar manusia harus

diperbaiki atau malah dihentikan.

Universitas Sumatera Utara


6. Komunikasi antar pribadi menunjukkan adanya suatu tindakan. Sifat yang

dimaksud adalah suatu hubungan sebab akibat yang dilandasi adanya

tindakan bersama-sama sehingga menghasilkan proses komunikasi yang

baik.

7. Komunikasi antar pribadi merupakan persuasi antar manusia. Dimana untuk

mencapai kesuksesan harus dikenal latar belakang psikologis dan sosiologis

seseorang.

II.1.4 Efektivitas Komunikasi Antar Pribadi

Dikatakan efektif bila dalam waktu tertentu tujuan dapat tercapai dengan

baik. Semakin sedikit waktu yang dipakai semakin efektif kegiatannya. Ini berarti

komunikasi antar pribadi efektif jika dalam waktu tertentu komunikan memahami

pesan yang disampaikan komunikator dengan baik dan melaksanakannya.

Berkomunikasi efektif berarti bahwa komunikator dan komunikan sama-sama

memiliki pengertian yang sama tentang suatu pesan. Komunikasi antar pribadi

dinyatakan efektif bila pertemuan komunikasi merupakan hal yang menyenangkan

bagi komunikan (Rakhmat, 2001:133).

Steward L. Tubs dan Sylvia Moss (dalam Rakhmat, 1996:16) juga

menambahkan bahwa tanda-tanda komunikasi yang efektif memiliki tanda-tanda

atau setidaknya menimbulkan, yaitu:

1. Saling pengertian

2. Memberikan kesenangan

3. Mempengaruhi sikap

Universitas Sumatera Utara


4. Hubungan sosial yang semakin baik

5. Adanya tindakan

Selain itu ada beberapa faktor-faktor pembentuk komunikasi antar

pribadi dengan orang lain menurut pendapat Cassagrande (1986) bahwa orang

berkomunikasi dengan orang lain karena (Liliweri, 1991:48) :

1. Setiap orang memerlukan orang lain untuk saling mengisi kekurangan dan

membagi kelebihan.

2. Setiap orang terlibat dalam proses perubahan yang relatif tetap.

3. Interaksi hari ini merupakan spektrum pengalaman masa lalu, dan membuat

orang mengantisipasi masa depan.

4. Hubungan yang diciptakan kalau berhasil merupakan pengalaman yang

baru.

II.2. Psikologi Komunikasi

II.2.1. Pengertian Psikologi Komunikasi

Psikologi berasal dari kata Yunani psyche yang artinya jiwa. Logos

berarti ilmu pengetahuan. Jadi secara etimologi psikologi berarti ilmu yang

mempelajari tentang jiwa, baik mengenai gejalanya, prosesnya maupun latar

belakangnya.

Sedangkan, komunikasi dalam bahasa Inggris, yaitu communication

berasal dari bahasa latin communication, dan bersumber dari kata communis yang

berarti sama. Sama yang dimaksud adalah sama makna atau sama arti. Jadi

Universitas Sumatera Utara


komunikasi terjadi apabila terdapat kesamaan makna mengenai suatu pesan yang

disampaikan oleh komunikator dan diterima oleh komunikan (Effendy, 2003:30).

Namun, menurut pendapat George A.Miller membuat definisi psikologi

yang mencakup semuanya : Psychology is the science that attempts to describe,

predict, and control mental and behavioral event. Dengan demikian, psikologi

komunikasi adalah ilmu yang berusaha menguraikan, meramalkan, dan

mengendalikan persistiwa mental dan behavioral dalam komunikasi (Miller,

1974:4).

II.2.2. Proses Psikologi Komunikasi

Dance (1967) mengartikan komunikasi dalam kerangka psikologi

behaviorisme sebagai usaha menimbulkan respons melalui lambang-lambang

verbal, ketika lambang-lambang verbal tersebut bertindak sebagai stimuli

(Rakhmat, 1989:3).

Psikologi juga menyebut komunikasi pada penyampaian energi dari alat-

alat indra ke otak, pada peristiwa penerimaan dan pengolahan informasi, pada

proses saling pengaruh diantara berbagai sistem dalam diri organisme dan diantara

organisme.

Universitas Sumatera Utara


II.2.3. Ciri Pendekatan Psikologi Komunikasi

Menurut Fisher ada empat ciri pendekatan psikologi pada komunikasi

(Rakhmat, 1989:9) yaitu :

1. Penerimaan stimuli secara indrawi (sensory reception of stimuli).

2. Proses yang mengantarai stimuli dan respons (internal mediation of stimuli).

3. Prediksi respons (prediction of response)

4. Peneguhan respons (reinforcement of responses)

II.3. Autisme

II.3.1. Pengertian Autisme

Dalam beberapa tahun terakhir ini para psikolog perkembangan semakin

banyak mendapat rujukan dari dokter anak untuk mengkonsultasikan anak-anak

usia 2-4 tahun dengan gejala-gejala autisme. Autisme, merupakan salah satu

gangguan perkembangan yang semakin meningkat saat ini, menimbulkan

kecemasan yang dalam bagi para orangtua. Jumlah penderita autisme meningkat

prevalensinya dari 1 : 5000 anak pada tahun 1943 saat Leo Kanner

memperkenalkan istilah autisme menjadi 1 : 100 ditahun 2001 Nakita, 2002

(Veskarisyanti, 2008:17). Kondisi ini menyebabkan banyak orangtua menjadi

was-was sehingga sedikit saja anak menunjukkan gejala yang dirasa kurang

normal selalu dikaitkan dengan gangguan autisme (Chaplin, 1997: 5).

Autisme berasal dari kata autos yang berarti segala sesuatu yang

mengarah pada diri sendiri. Dalam kamus psikologi umum (1982), autisme berarti

preokupasi terhadap pikiran dan khayalan sendiri atau dengan kata lain lebih

Universitas Sumatera Utara


banyak berorientasi kepada pikiran subyektifnya sendiri daripada melihat

kenyataan atau realita kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu penderita autisme

sering disebut orang yang hidup di alamnya sendiri (Chaplin, 1997:17).

Pada awalnya istilah autisme diambilnya dari gangguan schizophrenia,

dimana Bleuer memakai autisme ini untuk menggambarkan perilaku pasien

skizofrenia yang menarik diri dari dunia luar dan menciptakan dunia fantasinya

sendiri. Namun ada perbedaan yang jelas antara penyebab dari autisme pada

penderita skizofrenia dengan penyandang autisme infantile. Pada skizofrenia,

autisme disebabkan dampak area gangguan jiwa yang didalamnya terkandung

halusinasi dan delusi yang berlangsung minimal selama 1 bulan, sedangkan pada

anak-anak dengan autisme infantile terdapat kegagalan dalam perkembangan yang

tergolong dalam kriteria Gangguan Pervasif dengan kehidupan autistik yang tidak

disertai dengan halusinasi dan delusi (Lainhart-DSM IV, 1995).

Autisme atau autisme infantile (Early Infantile Autism) pertama kali

dikemukakan oleh Dr. Leo Kanner 1943 (Budiman, 1998) seorang psikiatris

Amerika. Istilah autisme dipergunakan untuk menunjukkan suatu gejala psikosis

pada anak-anak yang unik dan menonjol yang sering disebut Sindrom Kanner.

Ciri yang menonjol pada sindrom Kanner antara lain ekspresi wajah yang kosong

seolah-olah sedang melamun, kehilangan pikiran dan sulit sekali bagi orang lain

untuk menarik perhatian mereka atau mengajak mereka berkomunikasi.

Diperkirakan 75%-80% penyandang autis ini mempunyai retardasi mental,

sedangkan 20% dari mereka mempunyai kemampuan yang cukup tinggi untuk

bidang-bidang tertentu (Chaplin, 1997:15).

Universitas Sumatera Utara


II.3.2. Karakteristik Autisme

Ada beberapa karakter atau ciri-ciri yang bisa terlihat pada diri anak

penderita autisme (Handojo, 2003:50-51) yaitu :

1. Biasanya merupakan bayi yang manis dan baik, namun sangat pasif dan

sangat pendiam seperti tidak mempunyai bayi di rumah.

2. Sebagian kecil justru sebaliknya menjerit sepanjang waktu tanpa henti, tanpa

dapat ditenangkan / dibujuk, tanpa orang tua tahu sebabnya.

3. Tidak menunjuk saat usia 12 bulan.

4. Usia 12 bulan tidak mengoceh.

5. Usia 16 bulan tidak keluar satu katapun.

6. Usia 24 bulan belum bisa merangkai 2 kata.

7. Hilangnya kemampuan bahasa.

8. Tidak bisa bermain pura-pura (Pretend Play).

9. Kurang tertarik untuk berteman.

10. Sangat sulit untuk memusatkan perhatian.

11. Tidak adanya respon bila dipanggil namanya, cuek terhadap orang lain /

Lingkungan.

12. Kontak mata sangat minim / Tidak ada.

13. Gerakan tubuh yang repetiti / Misal Hand Flapping, Rocking.

14. Tantrum yang hebat.

15. Tertarik berlebihan terhadap sebuah objek misal kipas angin yang berputar

16. Menolak perubahan terhadap hal-hal rutin.

17. Oversensitif terhadap suara, tekstur dan bau.

Universitas Sumatera Utara


II.3.3. Kriteria Autisme

Pada dasarnya gangguan autisme tergolong dalam gangguan

perkembangan pervasive, namun bukan satu-satunya golongan yang termasuk

dalam gangguan perkembangan pervasive ( Pervasive Developmental Disorder)

menurut DSM IV (1995). Namun dalam kenyataannya hampir keseluruhan

golongan gangguan perkembangan pervasif disebut oleh para orangtua atau

masyarakat sebagai Autisme. Padahal di dalam gangguan perkembangan

pervasive meski sama-sama ditandai dengan gangguan dalam beberapa area

perkembangan seperti kemampuan interaksi sosial, komunikasi serta munculnya

perilaku stereotipe, namun terdapat beberapa perbedaan antar golongan seperti,

gangguan Autistik Infantile (Infantile Autism), Sindrom Rett (Retts Syndrome),

Gangguan Disintegrasi Masa Kanak (Childhoad Disintegrative Disorder),

Sindrom Asperger (Aspergers Syndrome) (Veskarisyanti, 2008: 15-16).

1. Autistik Infantile

Ciri yang menonjol pada autistik ini antara lain ekspresi wajah yang

kosong seolah-olah sedang melamun, kehilangan pikiran dan sulit sekali bagi

orang lain untuk menarik perhatian mereka atau mengajak mereka berkomunikasi.

Gangguan Autistik lebih banyak dijumpai pada pria dibanding wanita dengan

ratio 5 : 1. Gangguan autistik abnormalitas sudah muncul sejak tahun pertama

kelahiran.

Universitas Sumatera Utara


Kriteria Autistik Infantile, yaitu :

1. Kelemahan kualitatif dalam interaksi sosial.

2. Kelemahan kualitatif dalam bidang komunikasi.

3. Pola perilaku serta minat dan kegiatan yang terbatas dan berulang.

4. Cara bermain yang simbolik dan imajinatif.

5. Hiperaktif dan Hipoaktif

2. Sindrom Rett

Sindrom Rett adalah gangguan Neurologis (Syaraf). Awalnya

perkembangan anak normal. Tetapi setelah 5 bulan sampai 30 bulan

perkembangannya menurun. Kemampuan untuk melaksanakan kegiatan

berkurang. Ciri Autisme muncul, komunikasi, sosialisasi dan perilaku stereotipi

kadang disertai gangguan motorik.

Kriteria Sindrom Rett, yaitu :

1. Regresi yang menyeluruh dan berat pada anak perempuan ( Jarang sekali

pada anak laki-laki)

2. Menimbulkan retardasi mental yang berat.

3. Gangguan berbahasa, bahkan sama sekali tidak dapat berbahasa.

4. Gangguan pada fungsi tangan (timbul gerakan-gerakan tangan didepan

seperti memeras / bertepuk tangan yang terus menerus).

5. Defisit Neurologik Lainnya.

Universitas Sumatera Utara


3. Gangguan Disintegrasi Anak

Merupakan gangguan yang melibatkan hilangnya keterampilan yang

telah dikuasai anak setelah satu periode perkembangan normal pada tahun

pertama. Gangguan ini biasa muncul pada anak laki-laki. Perkembangan normal

anak terjadi hanya pada tahun pertama, setelah itu secara signifikan keterampilan

yang telah dimiliki seperti pemahaman, penggunaan bahasa dan yang lainnya

menghilang. Selain itu juga terjadi keabnormalan fungsi yang tampak pada

gangguan komunikasi, serta minat dan aktivitas yang sempit.

Kriteria Gangguan Disintegrasi Anak :

1. Perkembangan awal biasanya normal, termasuk bicaranya.

2. Terjadi regresi yang berat antara usia 2 -10 tahun yang meliputi :

- Fungsi Bahasa

- Sosialisasi

- Kognitif

- Kemampuannya dalam ketrampilan sehari-hari.

4. Sindrom Asperger

Gangguan Asperger (Aspergers Disorder) adalah bentuk yang lebih

ringan dari gangguan perkembangan pervasif. Ditunjukkan dengan penarikan diri

dari interaksi sosial serta perilaku yang stereotip, namun tanpa disertai

keterlambatan yang signifikan pada aspek bahasa dan kognitif. Asperger mirip

dengan autisme infantil dalam hal interaksi sosial yang kurang.

Universitas Sumatera Utara


Kriteria Sindrom Asperger yaitu :

1. Biasanya didiagnosis saat usia 6 tahun.

2. Sulit berteman, interaksi sosial sangat kurang.

3. Sulit membaca / berkomunikasi dengan cara non verbal / isyarat misal

ekspresi wajah.

4. Sulit memahami bahwa orang lain dapat mempunyai pikiran atau perasaan

yang berbeda dari dirinya.

5. Perilaku yang kaku dengan minat yang terbatas.

Pada umumnya anak penderita autisme bisa juga dilihat dari perilaku,

stimulasi diri, suasana, dan pikiran (Handojo, 2003:17) :

1. Perilaku : Berperilaku berlebihan (Hiperaktif) dan berperilaku kekurangan

(Hipoaktif).

2. Stimulasi Diri : Adanya suatu perilaku stimulasi diri untuk melakukan

gerakan yang diulang-ulang, seperti berjalan bolak-balik, geleng-geleng

kepala, dan berputar-putar.

3. Suasana : Tidak suka pada perubahan yang akan cenderung membuat anak

penderita autis emosi.

4. Pikiran : Adanya suatu preokupasi yang sangat terbatas pada suatu pola

pikiran, seperti duduk termangu dengan tatapan kosong.

Anak penyandang autistik mempunyai masalah/gangguan dalam bidang

(Handojo, 2003:18-20) yaitu :

1. Komunikasi

Munculnya kualitas komunikasi yang tidak normal, ditunjukkan dengan :

Universitas Sumatera Utara


a. kemampuan wicara tidak berkembang atau mengalami keterlambatan

b. pada anak tidak tampak usaha untuk berkomunikasi dengan lingkungan

sekitar.

c. anak tidak imanijatif dalam hal permainan atau cenderung monoton

d. Bahasa yang tidak lazim yang selalu diulang-ulang atau stereotipik.

2. Interaksi sosial

Timbulnya gangguan kualitas interaksi sosial yaitu :

a. Anak mengalami kegagalan untuk bertatap mata, menunjukkan wajah

yang tidak berekspresi.

b. Ketidakmampuan untuk secara spontan mencari teman untuk berbagi

kesenangan dan melakukan sesuatu bersama-sama.

c. Ketidakmampuan anak untuk berempati, dan mencoba membaca emosi

yang dimunculkan oleh orang lain.

3. Perilaku

Aktivitas, perilaku, dan ketertarikan anak terlihat sangat terbatas. Banyak

pengulangan terus-menerus dan stereotipik seperti :

1. Adanya suatu kelekatan pada rutinitas atau ritual yang tidak berguna,

misalnya kalau mau tidur harus cuci kaki dulu

2. Adanya suatu preokupasi yang sangat terbatas pada suatu pola perilaku yang

tidak normal, misalnya duduk di pojok sambil menghamburkan pasir seperti

air hujan, yang bisa dilakukannya berjam-jam.

3. Adanya gerakan-gerakan motorik aneh yang diulang-ulang, seperti

menggoyang-goyang badan, geleng-geleng kepala.

Universitas Sumatera Utara


4. Gangguan sensoris

1. Sangat sensitif terhadap sentuhan, seperti tidak suka dipeluk.

2. Bila mendengar suara keras langsung menutup telinga.

3. Senang mencium-cium, menjilat mainan atau benda-benda.

4. Tidak sensitif terhadap rasa sakit dan rasa takut.

5. Pola bermain

1. Tidak bermain seperti anak-anak pada umumnya.

2. Tidak suka bermain dengan anak sebayanya.

3. Tidak bermain sesuai fungsi mainan, misalnya sepeda di balik lalu

rodanya diputar-putar.

4. Menyenangi benda-benda yang berputar, seperti kipas angin, roda sepeda.

6. Emosi

1. Sering marah-marah tanpa alasan yang jelas, tertawa-tawa, menangis tanpa

alasan.

2. Temper tantrum (mengamuk tak terkendali) jika dilarang atau tidak

diberikan keinginannya.

3. Kadang suka menyerang dan merusak, berperilaku yang menyakiti dirinya

sendiri, serta tidak mempunyai empati dan tidak mengerti perasaan orang

lain.

II.3.4. Penyebab Autisme

Dalam catatan pakar autis Nakita, 2002 (Veskarisyanti, 2008:17) jumlah

penyandang autisme dibandingkan dengan jumlah kelahiran normal dari tahun

ketahun meningkat tajam sehingga ditahun 2001 lalu sudah mencapai 1 dari 100

Universitas Sumatera Utara


kelahiran. Peningkatan yang tajam ini tentunya menimbulkan pertanyaan, ada

perubahan apa dalam rentang waktu tersebut sehingga kasus terjadinya autisme

bisa meningkat tajam tidak saja di Indonesia tetapi juga di berbagai negara.

Sekitar 20 tahun lalu, penyebab autisme masih merupakan misteri.

Sekarang, berkat alat kedokteran yang semakin canggih, diperkuat dengan

autopsi, ditemukan penyebabnya antara lain gangguan neurobiologis pada

susunan saraf pusat (otak). Biasanya gangguan ini terjadi dalam tiga bulan

pertama masa kehamilan, bila pertumbuhan sel-sel otak di beberapa tempat tidak

sempurna (Veskarisyanti, 2008:17).

Faktor Penyebab :

Gangguan pada Susunan Syaraf Pusat, disebabkan oleh :

1. Faktor Genetik

2. Gangguan pertumbuhan sel otak janin, inveksi virus janin, perdarahan,

keracunan selama hamil muda

3. Gangguan pencernaan

4. Keracunan Logam Berat (Pg, Hg, Cad)

5. Gangguan auto imunity

Penyebabnya bisa karena (toxoplasmosis, cytomegalo, rubela dan

herpes) atau jamur (candida) yang ditularkan oleh ibu ke janin. Bisa juga selama

hamil sang ibu mengkonsumsi atau menghirup zat yang sangat polutif, yang

meracuni janin. Ada pendapat seorang ahli yang menyatakan bahwa lingkungan

yang terkontaminasi zat-zat beracun bisa menimbulkan kerusakan usus besar dan

memunculkan masalah dalam tingkah laku dan fisik.

Universitas Sumatera Utara


Faktor Genetika :

1. Mutasi Genetika : penyebab multifaktor

2. Telah ditemukan lebih dari 7 gen yang berhubungan dengan autisme. Perlu

beberapa gen untuk menimbulkan gejala autisme.

Penyebab multifaktorial dengan ditemukannya kelainan pada tubuh

penderita, munculnya gangguan biokimia, dan ada pula ahli yang berpendapat

autisme disebabkan oleh gangguan jiwal psikiatri. Menurut para peneliti, faktor

genetik juga memegang peranan kuat, dan mi terus diteliti. Pasalnya, manusia

banyak mengalami mutasi genetik, yang bisa karena cara hidup yang semakin

modern (penggunaan zat kimia dalam kehidupan sehari-hari, faktor udara yang

semakin terpolusi).

II.3.5. Teknik Penanganan Autisme

Penanganan / intervensi terapi pada penyandang autisme harus dilakukan

dengan intensif dan terpadu. Terapi secara formal sebaiknya dilakukan antara 48

jam sehari. Selain itu seluruh keluarga harus terlibat untuk memacu komunikasi

dengan anak. Penanganan penyandang autisme memerlukan kerjasama tim yang

terpadu yang berasal dari berbagai disiplin ilmu antara lain psikiater, psikolog

neurolog, dokter anak, terapis bicara dan pendidik.

Terapi perlu diberikan untuk membangun kondisi yang lebih baik.

Terapi juga harus rutin dilakukan agar apa yang menjadi kekurangan anak dapat

terpenuhi secara bertahap. Bagi orangtua anak dengan kelainan ini disarankan

oleh para ahli untuk menggunakan metode ABA dengan rutin dan disiplin tinggi.

Universitas Sumatera Utara


Perlu diingat bahwa terapi harus diberikan sedini mungkin sebelum anak

berusia 5 rahun. Sebab, perkembangan pesat otak anak umumnya terjadi pada usia

sebelum 5 tahun, tepatnya puncak pada usia 2-3 tahun.

Ada beberapa terapi autis yang paling efektif untuk anak penderita

autisme (Veskarisyanti, 2008:41-55) yaitu :

1. Terap Biomedik

Terapi biomedik fokus pada pembersihan fungsi-fungsi abnormal pada

otak. Anak-anak akan diperiksa secara intensif. Dengan terapi ini diharapkan

fungsi susunan saraf pusat bisa bekerja dengan lebih baik sehingga gejala autisme

berkurang atau bahkan menghilang.

2. Terapi Okupasi

Terapi okupasi berguna untuk melatih otot-otot halus anak. Hampir

semua kasus anak autistik mempunyai keterlambatan dalam perkembangan

motorik halus. Gerak-geriknya sangat kaku dan kasar, mereka kesulitan untuk

memegang benda dengan cara yang benar, kesulitan untuk memegang sendok dan

menyuap makanan ke mulutnya, sulit bermain bola selaiknya anak normal, sulit

bersalaman, atau memetik gitar. Dengan terapi ini anak akan dilatih untuk

membuat semua otot dalam tubuhnya berfungsi dengan tepat.

3. Terapi Integrasi Sensoris

Integrasi sensoris berarti kemampuan untuk mengolah dan mengartikan

seluruh rangsang sensoris yang diterima dari tubuh maupun lingkungan, dan

kemudian menghasilkan respons yang terarah.

Universitas Sumatera Utara


Terapi ini berguna meningkatkan kematangan susunan saraf pusat,

sehingga lebih mampu untuk memperbaiki struktur dan fungsinya. Aktivitas ini

merangsang koneksi sinaptik yang lebih kompleks, dengan demikian bisa

meningkatkan kapasitas untuk belajar.

4. Terapi Bermain

Terapi Bermain sebagai penggunaan secara sistematik dan model teoritis

untuk memantapkan proses interpersonal. Pada terapi ini, terapis bermain

menggunakan kekuatan terapiutik permainan untuk membantu klien

menyelesaikan kesulitan-kesulitan psikososial dan mencapai pertumbuhan,

perkembangan yang optimal.

Terapi bermain adalah pemanfaatan pola permainan sebagai media yang

efektif dan terapis, melalui kebebasan eksplorasi dan ekspresi diri. Bermain

merupakan bagian integral dari masa kanak-kanak, salah satu media yang unik

dan penting untuk memfasilitasi perkembangan :

- Ekspresi bahasa,

- Ketrampilan komunikasi,

- Perkembangan emosi, ketrampilan sosial,

- Ketrampilan pengambilan keputusan, dan

- Perkembangan kognitif pada anak-anak.

5. Terapi Perilaku

Terapi perilaku, berupaya untuk melakukan perubahan pada anak autistik

dalam arti perilaku yang berlebihan dikurangi dan perilaku yang berkekurangan

(belum ada) ditambahkan.

Universitas Sumatera Utara


Terapi ini memfokuskan penanganan pada pemberian reinforcement

positif setiap kali anak berespons benar sesuai instruksi yang diberikan. Tidak ada

hukuman (punishment) dalam terapi mi, akan tetapi bila anak berespons negatif

(salah/ tidak tepat) atau tidak berespons sama sekali maka ia tidak mendapatkan

reinforcement positif yang ia sukai tersebut.

Tujuan penanganan ini terutama adalah untuk meningkatkan pemahaman

dan kepatuhan anak terhadap aturan. Dan terapi ini hasil yang didapatkan

signifikan bila mampu diterapkan secara intensif, teratur dan konsisten pada usia

dini.

6. Terap Fisik

Penyandang autisme memiliki gangguan perkembangan dalam motorik

kasarnya. Kadang tonus ototnya lembek sehingga jalannya kurang kuat.

Keseimbangan tubuhnya juga kurang bagus. Fisioterapi dan terapi integrasi

sensoris akan sangat banyak menolong untuk menguatkan otot-otot dan

memperbaiki keseimbangan tubuh anak.

7. Terapi Wicara

Autisme mempunyai kesulitan dalam bicara dan berbahasa. Kadang-

kadang bicaranya cukup berkembang, namun mereka tidak mampu untuk

memakai kemampuan bicaranya untuk berkomunikasi/berinteraksi dengan orang

lain. Untuk mendapatkan hasil yang optimal, materi speech therapy sebaiknya

dilakukan berkolaborasi dengan metode ABA. Selain itu mereka juga harus

memahami langkah-langkah dalam metode Lovaas sebagai dasar bagi materi yang

akan diberikan.

Universitas Sumatera Utara


Terapis wicara adalah profesi yang bekerja pada prinsip-prinsip di mana

timbul kesulitan berkomunikasi atau gangguan pada berbahasa dan berbicara bagi

orang dewasa maupun anak.

8. Terapi Musik

Terapi musik adalah suatu terapi yang menggunakan musik untuk

membantu seseorang dalam fungsi kognitif, psikologis, fisik, perilaku, dan sosial

yang mengalami hambatan maupun kecacatan.

Terapi musik ini memiliki manfaat :

1. Memperbaiki self-awarences.

2. Meningkatkan hubungan sosial, penyesuaian diri, lebih mandiri, dan peduli

dengan orang lain.

3. Mengakomodasi dan membangun daya komunikasi.

4. Membangun identifikasi dan ekspresi emosi yang sesuai

Meningkatkan kesadaran akan dirinya, memusatkan perhatian,

mengurangi perilaku yang negatif yang tidak diharapkan, membuka komunikasi,

menciptakan hubungan sosial yang berpengaruh positif pada pertumbuhan dan

perkembangan positif.

9. Terapi Perkembangan

Terapi ini didasari oleh adanya keadaan bahwa anak dengan autis

melewatkan atau kurang sedikit bahkan banyak sekali kemampuan bersosialisasi.

Yang termasuk terapi perkembangan misalnya Floortime, Son-rise dan RDI

(Relationship Developmental Intervention). Floortime dilakukan oleh orang tua

untuk membantu melakukan interaksi dan kemampuan bicara.

Universitas Sumatera Utara


Sementara RDI (Relationship Developmental Intervention) mencoba

untuk membantu anak menjalin interaksi positif dengan orang lain, meskipun

tanpa menggunakan bahasa.

10. Terapi Visual

Individu autistik lebih mudah belajar dengan melihat (visual

learners/visual thinkers). Hal inilah yang kemudian dipakai untuk

mengembangkan metode belajar kornunikasi melalui gambar-gambar. Beberapa

video games bisa juga dipakai untuk mengembangkan ketrampilan komunikasi.

11. Terapi Medikamntosa

Disebut juga dengan terapi obat-obatan (Drug Therapy). Terapi ini

dilakukan dengan dengan pemberian obat-obatan oleh dokter yang berwenang.

12. Terapi Melalui Makanan

Terapi melalui makanan (Diet Therapy) diberikan untuk anak-anak

dengan masalah alergi makanan tertentu. Pada jenis terapi ini biasanya ditemukan

anak penderita autis terkadang susah makan atau mengalami alergi ketika

mengkonsumsi makanan tertentu, oleh sebab itu dalam terapi ini diberikan solusi

tepat bagi para orangtua untuk menyiasati menu yang cocok dan sesuai bagi putra-

putrinya sesuai dengan petunjuk ahli mengenai gizi makanan.

Universitas Sumatera Utara


II.4. Empati

Empati berasal dari bahasa Yunani yang berarti ketertarikan

fisik. Sehingga dapat didefinisikan sebagai kemampuan seseorang untuk

mengenali, mempersepsi, dan merasakan perasaan orang lain

(http://www.empathy.co.id).

Tubesing memandang empati merupakan identifikasi sementara terhadap

sebagian atau sekurang-kurangnya satu segi dari pengalaman orang lain.

Berempati tidak melenyapkan kedirian kita. Perasaan kita sendiri takkan hilang

ketika kita mengembangkan kemampuan untuk menerima pula perasaan orang

lain yang juga tetap menjadi milik orang itu. Menerima diri orang lain pun tidak

identik dengan menyetujui perilakunya. Meskipun demikian, empati

menghindarkan tekanan, pengadilan, pemberian nasihat apalagi keputusan. Dalam

berempati, kita berusaha mengerti bagaimana orang lain merasakan perasaan

tertentu dan mendengarkan bukan sekedar perkataannya melainkan tentang hidup

pribadinya: siapa dia dan bagaimana dia merasakan dirinya dan dunianya

(http://www.empathy.co.id).

Empati merupakan respons yang kompleks, meliputi komponen afektif

dan kognitif. Dengan komponen afektif, berarti seseorang dapat merasakan apa

yang orang lain rasakan dan dengan komponen kognitif seseorang mampu

memahami apa yang orang lain rasakan beserta alasannya. Daniel Batson (1995,

2008) menjelaskan adanya hubungan antara empati dengan tingkah laku

menolong serta menjelaskan bahwa empati adalah sumber dari motivasi altruistik.

Universitas Sumatera Utara


Ada tiga teori empati (Sarwono, 2009:128-129) :

1. Hipotesis empati altruisme

Menurut Batson, 1995-2008 (Sarwono, 2009:128-129) dalam hipotesis

empati altruisme dikatakan bahwa perhatian yang empatik yang dirasakan

seseorang terhadap penderitaan orang lain akan menghasilkan motivasi

untuk mengurangi penderitaan orang tersebut. Motivasi menolong ini bisa

sangat kuat sehingga seseorang bersedia terlibat dalam aktivitas menolong

yang tidak menyenangkan, berbahaya, bahkan mengancam jiwanya.

2. Model mengurangi perasaan negatif

Baron, Byrne, dan Branscombe, 2006 (Sarwono, 2009:128-129) menyatakan

bahwa model mengurangi perasaan negatif. Mereka menjelaskan bahwa

orang menolong untuk mengurangi perasaan negatif akibat melihat

penderitaan orang lain. Dengan demikian, tingkah laku menolong dapat

berperan sebagai self-help agar seseorang terbebas dari suasana hati yang

tidak menyenangkan.

3. Hipotesis kesenangan empatik

Dalam hipotesis ini, dikatakan bahwa seseorang akan menolong bila ia

memperkirakan dapat ikut merasakan kebahagian orang yang akan ditolong

atas pertolongan yang akan diberikannya. Satu hal yang paling penting disini

adalah seseorang yang menolong perlu untuk mengetahui bahwa

tindakannya akan memberikan pengaruh positif bagi orang yang ditolong.

Universitas Sumatera Utara


Dari tiga teori empati yang telah dijelaskan, terlihat bahwa kondisi afektif

seseorang merupakan element yang penting. Seseorang menolong karena

tindakannya akan meningkatkan perasaan positf dan mengurangi perasaan negativ

atas dirinya.

II.5. Sikap dan Perilaku

II.5.1. Pengertian Sikap dan Perilaku

Sikap dapat didefinisikan dengan berbagai cara dan setiap definisi itu

berbeda satu sama lain. Trow mendefinisikan sikap sebagai suatu kesiapan mental

atau emosional dalam beberapa jenis tindakan pada situasi yang tepat. Di sini

Trow lebih menekankan pada kesiapan mental atau emosional seseorang terhadap

sesuatu objek. Sementara itu Allport seperti dikutip oleh Gable mengemukakan

bahwa sikap adalah sesuatu kesiapan mental dan saraf yang tersusun melalui

pengalaman dan memberikan pengaruh langsung kepada respons individu

terhadap semua objek atau situasi yang berhubungan dengan objek itu.

Defenisi sikap menurut Allport ini menunjukkan bahwa sikap itu tidak

muncul seketika atau dibawa lahir, tetapi disusun dan dibentuk melalui

pengalaman serta memberikan pengaruh langsung kepada respons seseorang.

Harlen mengemukakan bahwa sikap merupakan kesiapan atau kecenderungan

seseorang untuk bertindak dalam menghadapi suatu objek atau situasi tertentu

(Sarwono, 2009: 81).

Menurut Mueller (1986) sikap adalah merupakan suatu konstruk

psikologi yang digambarkan sebagai kepercayaan, pendapat, minat, nilai, prilaku

yg perlu dipahami. Begitu juga berkowitz (1972) menarik suatu kesimpulan

Universitas Sumatera Utara


bahwa sikap adalah suatu respons yang evaluatif, yang dinamis dan terbuka

terhadap kemungikinan perubahan dikarenakan interaksi seseorang dengan

lingkungannya. Dan sikap hannya akan berarti jika tampak dalam bentuk

kenyataan yaitu prilaku yang lisan maupun yang dibuat (Liliweri, 1991:128-129).

Sikap adalah perasaan seseorang tentang obyek, aktivitas, peristiwa dan

orang lain. Perasaan ini menjadi konsep yang merepresentasikan suka atau tidak

sukanya (positif, negatif, atau netral) seseorang pada sesuatu. Sedangkan perilaku

adalah segenap manifestasi hayati individu dalam berinteraksi dengan lingkungan,

mulai dari perilaku yang paling nampak sampai yang tidak tampak, dari yang

paling dirasakan sampai yang paling tidak dirasakan (Faturochman, 2009:43).

Sikap dikembangkan dalam tiga model, yaitu :

1. Afeksi

Respon afektif adalah respon fisiologis yang mengekspresikan kesukaan

individu pada sesuatu.

2. Kecenderungan perilaku

Kecenderungan perilaku adalah indikasi verbal dari maksud seorang

individu.

3. Kognisi

Respon kognitif adalah pengevaluasian secara kognitif terhadap suatu objek

sikap. Kebanyakan sikap individu adalah hasil belajar sosial dari

lingkungannya.

Universitas Sumatera Utara


II.5.2. Pembentukan Sikap

Sikap dibentuk melalui proses belajar sosial, yaitu proses dimana

individu memperoleh informasih, tingkah laku, atau sikap baru dari orang lain.

Sikap dibentuk melalui empat macam (Sarwono, 2009:84-85) yaitu :

1. Pengondisian klasik

Proses pembelajaran dapat terjadi ketika suatu stimulus selalu diikuti oleh

stimulus yang lain, sehingga stimulus yang pertama menjadi suatu isyarat

bagi stimulus yang kedua.

2. Pengondisian instrumental

Proses pembelajaran terjadi ketika suatu perilaku mendatangkan hasil yang

menyenangkan bagi seseorang, maka prilaku tersebut akan diulang kembali.

3. Belajar melalui pengamatan

Proses pembelajaran dengan cara mengamati perilaku orang lain, kemudian

dijadikan sebagai contoh untuk berperilaku serupa.

4. Perbandingan sosial

Proses pembelajaran dengan membandingkan orang lain untuk mengecek

apakah pandangan kita mengenai sesuatu hal adalah benar atau salah.

Universitas Sumatera Utara


II.5.3. Fungsi Sikap

Menurut Baron, Byrne, dan Branscombe, 2006 (Sarwono, 2009:86-87)

terdapat lima fungsi sikap yaitu :

1. Fungsi pengetahuan

Sikap membantu kita untuk menginterpretasi stimulus baru dan menanpilkan

respon yang sesuai

2. Fungsi identitas

Sikap terhadap kebangsaan indonesia yang kita nilai tinggi dengan

mengekspresikan nilai dan keyakinan serta mengkomunikasikan siapa kita

3. Fungsi harga diri

Sikap yang kita miliki mampu menjaga atau meningkatkan harga diri.

4. Fungsi pertahanan diri

Sikap berfungsi melindungi diri dari penilaian negatif tentang diri kita

5. Fungsi memotifasi kesan

Sikap berfungsi mengarahkan orang lain untuk memberikan penilaian atau

kesan yang positif tentang diri kita.

Dari pengertian sikap diatas dapat kita simpulkan bahwa perilaku akan

muncul dipengaruhi oleh sikap dalam diri kita. Perilaku yang berada dalam

kendali individu secara sadar dan rasional akan mempengaruhi terhadap sikap dan

perbuatan kita.

Universitas Sumatera Utara


II.6. Model SOR

Dalam penelitian ini, model komunikasi yang digunakan adalah model

S-O-R (Stimulus-Organisern-Respon). Model ini mengemukakan bahwa tingkah

laku sosial dapat dimengerti melalui suatu analisis dan stimulus yang diberikan

dan dapat mempengaruhi reaksi yang spesifik dan didukung oleh hukuman

maupun penghargaan sesuai dengan reaksi yang terjadi.

Dengan kata lain, menurut Effendy (2003: 254) efek yang ditimbulkan

sesuai dengan teori S-O-R yang merupakan reaksi yang bersifat khusus terhadap

stimulus khusus, sehingga seseorang dapat mengharapkan dan memperkirakan

kesesuaian antara pesan dan reaksi komunikan.

Prinsip teori ini pada dasarnya merupakan suatu prinsip belajar yang

sederhana, dimana efek merupakan reaksi tethadap stimulus tertentu. Dengan

demikian, seseorang dapat mengharapkan atau memperkirakan suatu kaitan yang

erat antara pesan-pesan media dan reaksi audiens. Dalam proses perubahan sikap,

maka sikap komunikasi hanya dapat berubah apabila stimulus yang menerpanya

melebihi apa yang pernah dialaminya.

Prof. Dr. Marat (Effendy, 2003:255) dalam bukunya Sikap Manusia,

Perubahan Serta Pengukurannya mengutip pendapat Hovland, Janis dan Kelly

yang menyatakan bahwa dalam menelaah sikap baru, ada tiga variable penting

yaitu :

a. Perhatian,

b. Pengertian,

Universitas Sumatera Utara


c. Penerimaan

Berdasarkan uraian di atas, maka proses komunikasi dalam teori S-O-R

ini dapat digambarkan sebagai berikut :

Bagan III Teori S-O-R

Stimulus Organism
Perhatian
Pengertian
Penerimaan

Response

Gambar di atas menunjukkan bahwa perubahan sikap tergantung pada

proses yang terjadi pada individu. Stimulus atau pesan yang disampaikan kepada

komunikan mungkin diterima atau mungkin ditolak. Komunikasi akan

berlangsung apabila ada perhatian komunikan.

Setelah komunikan mengelolanya dan menerimanya, maka terjadilah

kesediaan untuk mengubah sikap.

Sehubungan dengan penjelasan di atas, teori S-O-R dalam penelitian ini

dapat dijelaskan sebagai berikut :

1. Stimulasi : Kemampuan empati orang tua.

2. Organism : Orang tua yang mempunyai anak penderita autis yang

bersekolah terapi di YAKARI.

3. Response : Peningkatan perilaku anak autis.

Universitas Sumatera Utara