Anda di halaman 1dari 18

BAB I

LAPORAN KASUS

A. IDENTITAS PASIEN

Nama : Tn. T

Umur : 47 tahun

Pekerjaan : Buruh

Alamat : Candi Rt 01/25 Sumberadi Mlati, Sleman

Masuk RS tanggal : 08 April 2016

B. ANAMNESIS

Dilakukan autoanamnesis dengan pasien:

Tanggal : 28 Maret 2016

Keluhan utama : Benjolan pada dubur, nyeri saat BAB

Riwayat Penyakit Sekarang

Seorang pasien laki-laki usia 47 tahun pekerja buruh pabrik

datang ke poli bedah dengan keluhan benjolan pada dubur, pasien

merasakan nyeri saat BAB, pasien mengatakan BAB keras dan adanya

perdarahan warna gelap saat BAB, pasien mengatakan bahwa

sebelumnya benjolan hanya kecil dan lama-kelamaan menjadi besar

dan tersa sakit, pasien belum pernah mencoba untuk mengobati sakit

yang dirasakan, pasien tidak merasakan adanya demam, mual, muntah,

nafsu makan normal baik.

1
Riwayat Penyakit Dahulu

Hipertensi (-), asma bronchial (-), diabetes melitus (-), penyakit

jantung (-), alergi obat (-).

Riwayat Penyakit Keluarga

Keluarga pasien tidak pernah merasakan hal yang serupa seperti pasien

rasakan, riwayat hipertensi disangkal, TBC disangkal, asma bronchial

disangkal, diabetes mellitus disangkal, penyakit jantung disangkal.

Riwayat Personal Sosial

Pendidikan terakhir pasien adalah SMA

Kegiatan pasien sehari-hari adalah buruh pabrik

Pasien mengaku kurang mengonsumsi minum air putih, pasien tidak

merokok, tidak minum minuman keras, atau menggunakan obat-

obatan tertentu

C. PEMERIKSAAN FISIK

1. KU & Kesadaran : tampak kesakitan, compos mentis

2. Kesadaran : E4 V5 M6

3. Tanda vital

Nadi: 80 kali/menit

Pernafasan: 24 kali/menit, regular

Tekanan darah: 120/80 mmHg

SpO2 = 99%

Suhu : 360 C

2
4. Kepala: normochepale

Mata: pupil isokor, konjungtiva pucat (-/-), sklera ikterik (-/-)

Hidung: simetris, sekret (-/-)

Mulut: mukosa bibir lembab, tonsil T0/T0, faring hiperemis (-), tanda

candidiasis (-), sariawan (-), gusi berdarah (-)

Telinga: simetris, serumen (-/-), gendang telinga intak

5. Leher: pembesaran limfonodi (-), peningkatan JVP (-),

6. Thorax

a. Jantung

- Inspeksi: iktus cordis tidak terlihat

- Palpasi: iktus cordis teraba pada sela iga ke-4 linea midclavicula kiri

- Perkusi: (tidak dilakukan)

- Auskultasi: bunyi jantung S1-S2 regular, murmur (-), gallop (-)

b. Paru-paru:

- Inspeksi: simetris saat inspirasi dan ekspirasi

- Palpasi: fremitus normal.

- Perkusi: sonor (+/+)

- Auskultasi: vesikuler (+/+), ronkhi basah kasar (-/-), wheezing (-/-)

7. Abdomen:

- Inspeksi: supel

- Auskultasi: peristaltik (+)

- Perkusi: tympani (+)

3
- Palpasi: nyeri tekan epigastrik (+), turgor kulit baik, hepar teraba

normal, lien tidak teraba.

8. Ekstremitas: akral hangat, nadi kuat, capillary refill time < 2 detik, edema

(-)

9. Status neurologis:

- Reflex fisiologis (+) normal

- Reflex patologis (-)

10. Status Lokalis Anal Canal

Rectal Toucher

- Inspeksi: tampak benjolan pada anus, warna kemerahan, bentuk

berbenjol-benjol, permukaan licin.

- Paplasi: tidak teraba massa, konsistensi kenyal.

- Pada sarung tangan: tak tampak darah, feses (-).

D. DIAGNOSIS KERJA

Hemoroid interna grade IV

E. DIAGNOSIS BANDING

- Polip
- Tumor rectum

F. PENATALAKSANAAN

Hemoroidectomy teknik white head

Cek darah lengkap

Infus RL 20 tpm

Inj. Ceftriaxone 1x1g, inj. ketorolac 3x1 gr

4
G. PEMERIKSAAN PENUNJANG

Laboratorium

28 Maret 2016. 13:41:33

Parameter Hasil Nilai Rujukan

HEMATOLOGI

Hemoglobin 19.2 gr% 12.0 16.0 gr/dL

Leukosit 12.0 ribu/Ul 4 10 rb/uL

Eosinofil 7 0-5%

Netrofil Segmen 65 25-60%

Trombosit 243 150-450 rb/uL

Golongan Darah O A,B,AB,O

IMUNOLOGI

HBSAG Non Reactive Non Reactive

KIMIA KLINIK

Glukosa Darah Sewaktu 94 70-140

5
BAB II

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Hemoroid adalah penebalan jaringan submukosa (anal cushion)

yang terdiri dari venula, arteriola, dan jaringan otot polos yang terletak di

kanalis anal (Chirs Tanto, et all, 2014). Sedangkan dari kamus Dorland,

hemoroid didefiniskan sebagai dilatasi varikosus vena plexus hemoroidalis

inferior atau superior, akibat dari tekanan vena yang presisten.

Di seluruh dunia, prevalensi hemroid diperkirakan mencapai 4,4 %

dari total populasi. Di Amerika Serikat, sepertiga dari 10 juta orang

dengan hemoroid mencarai pengobatan medis, yang mengakibatkan 1,5

juta resep terkait hemoroid diberikan. Jumlah penderita hemoroid yang

menjalani perawatan rumah sakit di AS terus menurun. Puncak terbanyak

117/100.000 orang menderita hemoroid pada tahun 1974; rasio ini

menurun menjadi 37/100.000 orang pada tahun 1987. Pasien menjalani

rawat jalan juga terus menurun (Thornton, 2012).

6
BAB III

TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi

Hemorid adalah pelebaran vena di dalam pleksus hemoroidalis yang

tidak merupakan keadaan patologik (Sjamsuhidayat & Jong, 2004).

Sementara pengertian menurut Smeltzer (2000) adalah pelebarann pembuluh

darah atau fleksus vena.

B. Anatomi

Bagian utama usus besar yang terakhir dinamakan rektum dan

terbentang dari kolon sigmoid sampai anus, kolon sigmoid mulai setinggi

krista iliaka dan berbentuk lekukan huruf S. Lekukan bagian bawah

membelok ke kiri waktu kolon sigmoid bersatu dengan rektum. Satu inci dari

rektum dinamakan kanalis ani dan dilindungi oleh sfingter eksternus dan

internus.

Usus besar secara klinis dibagi menjadi belahan kanan dan belahan

kiri sesuai dengan suplai darah yang diterimanya. Arteri mesenterika superior

memperdarahai belahan bagian kanan dan arteri mesenterika inferior

memperdarahi belahan kiri. Suplai darah tambahan untuk rektum adalah

melalui arteria sakralis media dan arteria hemoroidalis inferior dan media

yang dicabangkan dari arteria iliaka interna dan aorta abdominalis.

Aliran balik vena dari kolon dan rektum superior melalui vena

mesentrika superior dan inferior dan vena hemoroidalis superior. Vena

7
hemoroidalis media dan inferior mengalirkan darah ke vena iliaka dan

merupakan bagian dari sirkulasi sistematik. Terdapat anastomosis antara vena

hemoroidalis superior, media dan inferior, sehingga peningkatan tekanan

portal dapat mengakibatkan aliran darah balik ke dalam vena-vena ini.

Gambar 1. Anatomi Anorektal

C. Patofisiologi

Patofisiologi hemoroid adalah akibat dari kongesti vena yang

disebabkan oleh gangguan venous rektum dan vena hemoroidalis (Price

dan Smeltser, 2002).

Distensi vena awalnya merupakan struktur yang normal pada

daerah anus, karena vena ini berfungsi sebagai katup yang dapat

membantu menahan beban. Namun bila distensi terus menerus akan terjadi

gangguan vena berupa pelebaran-pelebaran pembuluh darah vena. Distensi

tersebut bisa disebabkan karena adanya sfingter anal akibat konstipasi,

kehamilan, tumor rektum. Aliran balik dan peningkatan tekanan vena

8
tersebut di atas yang berulang-ulang akan mendorong vena terpisah dari

otot sekitarnya sehingga vena prolap dan menjadi hemoroid. Biasanya

terjadi perdarahan sewaktu defekasi, perdarahan yang terjadi

mengakibatkan trombosis.

Gambar 2. Arteri Anorektal

D. Etiologi

Jaringan hemoroid biasanya menimbulkan gejala bila terjadi

pembengkak, inflamasi, thrombosis atau prolaps. Kebanyakan gejala yang

muncul timbul dari pelebaran pleksus hemoroid internus. Beberapa penyebab

hemoroid sebagai berikut (Thronton, 2012):

a. Berkurangnya aliran baik vena

b. Mengejan dan konstipasi.

c. Varises anorektum.

d. Faktor risiko lain: terlalu lama duduk atau berdiri, makanan (pedas, diet

rendah serat), diare kronis.

9
E. Klasifikasi

Hemoroid digolongkan menjadi hemoroid interna dan eksterna

1. Hemoroid Interna

Hemoroid interna dikelompokkan dalam empat derajat (Tronton, 2012):

a. Derajat I: Hemoroid menyebabkan perdarahan merah segar tanpa

nyeri pada waktu defikasi. Pada stadium ini tidak terjadi prolaps dan

pada pemeriksaan anoskopi terlihat hemoroid yang membesar

menonjol kedalam lumen.

b. Derajat II: Hemoroid menonjol melalui kanalis analis pada saat

mengedan ringan tetapi dapat masuk kembali dengan secara spontan.

c. Derajat III: Hemoroid menonjol saat keadaan mengedan dan harus

didorong kembali sesudah defikasi.

d. Derajat IV: Hemoroid ini merupakan hemoroid yang menonjol ke luar

dan tidak dapat didorong masuk kembali.

Gambar 5. Grade Hemoroid Interna

10
2. Hemoroid Eksterna

Hemoroid eksterna peka terhadap nyeri, suhu, raba dan tekanan

sehingga hemoroid eksterna cenderung lebih sakit. Penyebabnya tidak

diketahui, walaupun batuk dan mengedan dapat meningkatkan pelebaran

hemoroid yang diikuti oleh statis. Adanya pembengkakan kecil yang

mendadak dan nyeri pada pinggir anus dapat dikenali dengan segera oleh

pasien (Snell, 2006).

Gambar 6. Hemoroid Eksterna dan Interna

F. Diagnosis

a. Anamnesia (thornton, 2014)

Pasien dengan keluhan gejala anorektal sering kali diasumsikam

dengan hemoroid. Penting untuk diketahui apakah seorang pasien

mengeluhkan gejala anorektal yang disebabkan oleh hemoroid, atau yang

disebabkan oleh penyakit lainnya ataupun merupakan gabungan dari

keduanya (Ganz, 2013).

Gejala hemoroid yang paling sering dijumpai meliputi:

perdarahan perektal, nyeri, dan prolaps. Anamnesia yang menyeluruh

11
mencakup onset dan durasi dari setiap gejala yang muncul harus

ditanyakan. Untuk melengkapi hal itu: karakteristik nyeri, perdarahan,

protusi atau perubahan dari pola pencemaran, begitu pula status

koagulasi dan status imunologi pasien (Thornton, 2014).

Riwayat keluarga terhadap penyakit hemoroid, pola makan,

riwayat konstipasi maupun diare, riwayat pekerjaan yang terlalu banyak

duduk maupun mengangkat barang-barang yang berat sangatlah

berhubungan dan penting untuk diketahui (Thornton, 2014).

b. Tanda dan Gejala

Pasien sering mengeluh menderita hemoroid atau wasir tanpa

ada hubungannya dengan gejala rectum atau anus yang khusus. Nyeri

yang hebat jarang sekali ada hubungannya dengan hemoroid interna dan

hanya timbul pada hemoroid eksterna yang mengalami thrombosis.

a) Hemoroid Interna
Perdarahan umunya merupakan tanda pertama hemoroid

interna akibat trauma oleh feses yang keras. Darah yang keluar

berwarna merah segar dan tidak bercampur feses, dapat hanya berupa

garis pada feses atau kertas pembersih sampai pada perdarahan yang

terlihat menetes atau mewarnai toilet menjadi merah. Walaupun

berasal dari vena, darah yang keluar berwarna merah segar karena kaya

akan zat asam. Perdarahan luas dan intensif di pleksus hemoroidalis

menyebabkan darah di vena tetap merupakan darah arteri

(Sjamsuhidajat, 2007).

12
Hemoroid yang membesar secara perlahan akhirnya dapat

menonjol keluar sdan menyebabkan prolaps. Pada tahap awal,

penonjolan ini hanya terjadi sewaktu defekasi dan disusul oleh reduksi

spontan sesudah selesai defikasi. Pada stadium lebih lanjut, hemoroid

interna ini perlu didorong kembali setelah defikasi agar masuk ke

dalam anus. Akhirnya hemoroid dapat berlanjut menjadi bentuk yang

mengalami prolaps menetap dan tidak dapat didorong masuk lagi

(Sjamsuhidajat, 2007).

` Gambar 7. Linea Dentata

b). Hemoroid Eksterna

Pasien dengan hemoroid eksterna yang mengalami trhombus

akan mengeluhkan suatu masa akut yang sangat nyeri pada daerah

sekitar dubur. Nyeri pada hemoroid lazimnya hanya muncul

bersamaan dengan pembentukan thrombus akut. Nyeri ini

memuncak pada 48-72 jam dan menjadi berkurang pada hari ke-4

setelah thrombus terbentuk (Thornton, 2014). Keadaan ini ditandai

dengan adanya benjolan di bawah kulit kanalis analis yang nyeri

13
sekali, tegang, dan berwarna kebiruan, berukuran mulai dari

beberapa millimeter sampai 1-2 cm diameternya.(Sjamsuhidayat,

2007).

c. Pemeriksaan Fisik

Inspeksi ada daerah perianal secara langsung dapat

menggambarkan kelainan eksternal yang nampak. Apabila hemoroid

mengalami prolaps, lapisam epitel penutup bagian yang menonjol

Pada pemeriksaan colok dubur, hemoroid interna tidak dapat diraba

sebab tekanan vena didalamnya tidak cukup tinggi dan biasanya

tidak nyeri (Sjamsuhidajat, 2007).

G. Tata Laksana

Tata laksana hemoroid dapat dibedakan menjadi nonbedah dan

bedah (hemoroidektomi). Selain itu, pilihan tata laksana bergantung pada

derajat hemoroid. Kebanyakan pasien dengan hemoroid derajat 1 dan 2 dapat

diobati dengan tindakan local dan modifikasi diet. Pada sebagian derajat 2,

derajat 3 dan 4 pasien dapat dirujuk ke dokter spesialis bedah untuk dilakukan

hemoroidektomi.

Derajat 1 : modifikasi diet, medikamentosa;

Derajat 2 : rubber band ligation, koagulasi, ligasi arteri hemoroidalis-

repair rektoanal, modifikasi diet, medikamentosa;

Derajat 3: hemoroidektomi, ligasi arteri hemoroidalis-repair rektoanal,

hemoroidopexy dengan stapler, rubber band ligation, modifikasi diet;

14
Derajat 4: hemoroidektomi (cito untuk kasus thrombosis),

hemoroidopexy dengan stapler, modifikasi diet.

Tata Laksana Non bedah

Menjaga higienitas, menghindari pengejanan berlebihan saat defekasi,

atau aktivitas berat.

Modifikasi diet dengan makanan berserat, banyak minum, dan

mengurangi daging.

Medikamentosa: antibiotic apabila ada infeksi, salep rectal/supositoria

untuk anastesi dan pelembab kulit (sediaan supositoria/krim yang

mengandung fluocortolone pivalate dan lidokain), dan pelancar defekasi

(cairan paraffin, yal, magnesium sulfat). Pemakaian krim dilakukan

dengan cara dioleskan pada hemoroid dan kemudian dicoba untuk

dikembalikan ke dalam anus.

Ligasi hemoroid (rubber band ligation) dengan anoskopi. Mukosa

sebelah proksimal hemoroid dijepit dengan band.

Fotokoagulasi inframerah, skleroterapi.

Tata Laksana Bedah

Hemoroidektomi dilakukan apabila terapi konservatif tidak berhasil,

pada hemoroid dengan prolaps tanpa reduksi spontan (hemoroid derajat 3 dan

4), hemoroid dengan strangulasi, ulserasi, fisura, fistula, atau pada hemoroid

eksterna dengan keluhan.

15
Prinsip utama hemoroidektomi adalah eksisi hanya pada jaringan

yang menonjol dan eksisi konservatif kulit serta anoderm normal.

Hemoroidektomi terdiri dari prosedur terbuka dan tertutup. Pada

hemoroidektomi terbuka (Parks or Ferguson hemorrhoidectomy) dilakukan

reseksi jaringan hemoroid dan penutupan luka dengan jahitan benang yang

dapat diserap. Sedangkan pada hemoroidektomi tertutup (Milligan and

Milligan hemorrhoidectomy) dilakukan teknik yang sama, hanya saja luka

dibiarkan terbuka dan diharapkan terjadi penyembuhan sekunder. Selain

kedua teknik tersebut, terdapat berbagai teknik lain yang dapat digunakan:

Teknik operasi Whitehead

Teknik operasi Langenbeck

Teknik Longo (stapled hemorrhoidopexy)

H. Prognosis

Prognosis terhadap kekambuhan hemoroid sangat bergantung pada perubahan

pola defikasi pasien. Meningkatkan asupan tinggi serat, mengurangi makanan

yang menyebabkan konstipasi, ,mengurangi latihan fisik berlebih, dan duduk

lama saat buang air besar dapat menghindari dari kekambuhan gejala. Hal ini

berlaku pada semua pasien baik yang menjalani terapi konservatif, non bedah

maupun pembedahan (Doherty, 2010).

16
BAB III
KESIMPULAN

Hemorid adalah pelebaran vena di dalam pleksus hemoroidalis yang

tidak merupakan keadaan patologik (Sjamsuhidayat & Jong, 2004).

Sementara pengertian menurut Smeltzer (2000) adalah pelebarann pembuluh

darah atau fleksus vena.

Pada pasien tuan T usia 47 tahun ini telah ditegakkan diagnosis kerja

hemoroid interna grade IV. Untuk tindakan terapi yang diberikan berupa

hemoroidectomy dengan teknik white head.

Derajat hemoroid interna yang terjadi pada pasien:

Derajat IV: Hemoroid ini merupakan hemoroid yang menonjol ke luar dan

tidak dapat di dorong masuk kembali.

Pilihan tata laksana yang diberikan pada pasien yaitu: hemoroidectomy

dengan teknik whitehead. Teknik operasi Whitehead dilakukan dengan eksisi

sirkumferensial bantalan hemoroid di sebelah proksimal linea dentate

kemudian, mukosa rektal dijahit hingga linea dentate.

17
DAFTAR PUSTAKA

1. Bullard, KM. Schwartzs Principles of Surgery 9th Edition. Colon, Rektum,


and Anus. USA : McGraw-Hill Companies. 2010

2. Doherty GM, Way LW. Current Surgical Diagnosis & Treatment 13th
Edition. USA : McGraw-Hill Companies. 2010.

3. Ganz RA. The Evaluation and Treatment of Hemorrhoids; A Guide for


Gastroenterologist. Minesota : Clinical Gastroenterology and hepatology.
2013

4. Hartanto H. Kamus Kedokteran Dorland Edisi 29. Jakarta : Penerbit Buku


Kedokteran ECG. 2006

5. Kaidar-Person, O ., Person, B., and wexner, S.D., Hmorrhoidal Disease: A


Comprehensive Review. J. at American Collage of Surgeons. New York :
2007. Hal: 102-114

6. Sjamsuhidajat R, Jong WD. Buku Ajar Ilmu Bedah edisi.3. Jakarta: Penerbit
Buku Kedokteran ECG. 2007. Hal 788-792

7. Snell RS. Anatomi Klinik Mahasiswa Kedokteran Edisi 6. Jakarta : ECG,


2006

8. Thonton SC, Haemorrhoids [Internet]. 2014 [Update: Sep 12, 2012]; [cited
2014 May 6]. Available from:
http://emedicine.medscape.com/article/775407-overview#a0156.

18