Anda di halaman 1dari 18

BAB I

Pendahuluan

A. Latar Belakang

Manusia dalam hidupnya akan mengalami serangkaian perkembangan dalam


periode yang berurutan mulai periode prenatal sampai pada usia tua atau lanjut usia,
setiap periode itu akan dialami manusia selama hidupnya dan periode setiap periode
yang sudah dilalui tidak dapat diulang kembali, usia tua adalah periode penutup
dalam rentang hidup seseorang (Hurlock, 1999) masa tua adalah masa yang akan
terjadi pada setiap makhluk hidup sehingga menjadi tua merupakan siklus
perkembangan yang alamiah.

Orang yang berusia lanjut dalam meniti kehidupannya dapat dikategorikan dalam
dua macam sikap. Pertama, masa tua akan diterima dengan wajar melalui kesadaran
yang mendalam, sedangkan yang kedua, manusia usia lanjut dalam menyikapi
hidupnya cenderung menolak datangnya masa tua, kelompok ini tidak mau
menerima realitas yang ada (Hurlock, 1999) kelompok yang dapat menerima masa
tuanya akan dapat menerima kondisi fisik dan keadaan dirinya sedangkan pada
lanjut usia yang tidak dapat menerima kondisi tuanya dengan menolak masa tuanya
akan mengalami kecemasan .

Senility (keuzuran) akan terjadi pada masa lanjut usia, kemunduran fisik dan
disorganisasi mental menjadikannya menjadi ekstrinsik, kurang perhatian, dan
terasing secara sosial sehingga penyesuaian dirinya buruk, pemunduran itu sebagian
datang dari faktor fisik dan sebagian lagi dari faktor psikologis. Penyebab fisik dari
kemunduran ini adalah perubahan dalam sel-sel tubuh bukan karena penyakit
khusus tetapi karena proses menua, kemunduran secara psikologis terjadi karena
sikap tidak senang terhadap diri sendiri, orang lain, pekerjaan dan kehidupan yang
pada umumnya dapat menuju kearah senility, karena terjadi perubahan dalam
lapisan otak. Akibatnya, orang menurun secara fisik dan mental dan mungkin akan

1
segera menghadapi kematian, dan bagaimana seseorang mengatasi ketegangan dan
stress hidup akan mempengaruhi laju kemunduran itu. (Hurlock, 1999).

Dengan ketiadaan berbagai penyakit yang dapat diidentifikasikan para lansia dekat
dengan batas rentang kehidupan manusia sekarang cenderung menderita penurunan
fungsi, kehilangan minat untuk makan dan minum, dan akhirnya meninggal secara
alami (papalia, 2009).
Kematian secara umum dipandang sebagai hal yang menakutkan karena dianggap
sebagai lawan dari kehidupan dan tampak sebagai kepunahan, kematian merupakan
pengasingan karena memisahkan diri dengan orang-orang yang disayanginya
( Backer, 1982). Pada umunya individu tidak siap menghadapi kematian karena
takut akan pembalasan dari dosa-dosa yang telah mereka buat ( schawarts dan
Paterson, 1979), tidak memiliki konsep makna hidup dan mati ( shihab, 1997),
Tidak mengetahui apa yang akan dihadapinya setelah kematian atau mungkin
karena bayangan akan pedih dan sulitnya pengalaman setelah kematian ( shihab,
1997). Menurut pengakuan yang pernah diungkapkan oleh salah satu lansia yaitu
kepada penulis ketika wawancara beliau mengatakan:
Setiap wong sudah pasti takut sama yang namanya kematian apalagi orang sing
wis sepuh kayak saya ya mbak, jan-jane aku g wedi sama kematian tapi kalau ingat
dosa takut lagi sama yang namanya mati, tapi kalau mikir usia, penyakjit dan hidup
sebatangkara kayak begini g ada yang saya takutkan lagi, kalau dipanggil tuhan
sekarang saya siap, meskipun saya juga takut kalau saya kurang berbuat baik
didunia ini dan mungkin mati itu rasanya sakit, tapi saya sudah mempersiapkan
gaun juga buat nanti kalau saya mati sewaktu-waktu. (W.LS. 61. Perempuan.
7.05.2013)

Dari pengakuan narasumber beliau merasa takut menghadapi kematian karena ingat
dosa yang dilakukannya selama ini, tapi ia juga merasa siap karena menerima usia
lanjut, kesehatan dan kesendirian dalam hidupnya. Semakin lanjut usia seseorang,
biasanya mereka menjadi semakin kurang tertarik terhadap akhirat dan lebih
mementingkan kematian itu sendiri serta kematian dirinya, pada saat kesehatanya
memburuk mereka cenderung berkonsentrasi pada masalah kematian dan mulai

2
dipengaruhi perasaan tentang semakin dekatnya kematian. (Hurlock, 1999) para
lansia mulai berfikir tentang kapan kematian datang kepadanya, bagaimana
datangnya kematian itu dan bagaimana mati dengan cara yang baik, sehingga
pikiran-pikiran tersebut menimbulkan kecemasan tersendiri bagi para lansia dan
mulai mempersiapkan mental mereka untuk menghadapi datangnya kematian.
Menurut erikson individu yang berada pada masa dewasa akhir harus mengatasi
krisis terakhir dari delapan krisis yaitu integritas versus keputus asaan. Integritas
merupakan keadaan individu yang telah berhasil menyesuaikan diri dengan
keberhasilan-keberhasilan dan kegagalan dalam hidup, sehingga memiliki makna
hidup. Lawan dari integritas adalah keputusasaan dalam menghadapi perubahan-
perubahan siklus kehidupan individu terhdap kondisi sosial dan historis, juga
kefanaan hidup dihadapan kematian. Keputusan dapat memperburuk perasaan
bahwa hidup ini tidak ada artinya, bahwa ajal sudah dekat, dan sudah tidak ada
waktu lagi untuk berbalik dan mencoba gaya hidup yang lain. pada lansia yang
berhasil mengatasi krisis terakhir tersebut mencapai kebijaksanaan yang dapat
membuat mereka menerima apa yang telah dilakukan dalam hidupnya dan dapat
menerima datangnya kematian yang makin dekat, dengan teratasinya krisis tersebut
dimasa usia lanjut, lansia telah siap menghadapi kematian (Papalia, 2002).
Seperti yang diungkapkan salah satu narasumber :
Meskipun saya tidak memiliki anak dan harus tinggal dipanti jompo kayak gini
mbak, tapi saya bahagia karena saya termasuk orang yang beruntung bisa
merasakan pahit kehidupan sehingga saya selalu ingat sama yang punya hidup ya..
meskipun itu menguras tenaga, air mata, dan jika Empunya hidup memanggil saya,
insyaallah saya siap karena saya tau bahwa akhir kehidupan diusia ini. (W.ZB. 65.
Perempuan. 7.05.2013)
Meskipun orang lanjut usia tidak takut pada kematian, akan tetapi mereka juga ingin
mengetahui tentang berapa lama sisa usianya yang masih ada karena mereka ingin
melakukan hal-hal yang sebelumnya belum terselesaikan dalam hiduidupnya
sehingga dapat mempersiapkan diri menghadapi sisa hidupnya. Pada hakikatnya

3
kematian adalah suatu hal yang pasti terjadi, karena kematian adalh bagian dari
proses kehidupan sebagaimana proses kelahiran.
Berdasarkan hal tersebut pandangan lansia tentang konsep hidup dan mati
memegang peranan penting dalam kesiapan lansia untuk menghadapi kematian dan
kesiapan tersebut dapat mempengaruhi pencapaian optimum aging. Kesiapan
menghadapi kematian berarti keadaan lansia yang telah siap menghadapi kematian,
atau sedang melakukan segala sesuatu yang diperlukan untuk menghadapi kematian
sehingga tidak menyebabkan penyesalan apapun saat kematian itu datang ( Backer,
1982).
Kematian menjadi sebuah kecemasan tersendiri bagi lanjut usia sehingga ia mulai
mempersiapkan diri menghadapi kematian, seperti kedua narasumber penelitian ini
mereka mulai mempersiapkan kematiannya dengan membeli gaun untuk kematian
maupun lebih mendekatkan diri dengan Tuhan dan meningkatkan religiusitasnya,
jika lansia tidak disiapkan menghadapi kematian ini akan menjadi kecemasan yang
laten.
Berdasarkan latar belakang diatas maka penting untuk dilakukan penelitian tentang
kesiapan lansia menghadapi kematian dipanti Wredha harapan ibu di Jln. Krt.
Wongsonegoro Beringin Ngaliyan Kota Semarang dengan upaya mendapat hasil
yang maksimal dan sesuai dengan tujuan penelitian.
B. Fokus Penelitian
Fokus penelitian dalam penelitan ini adalah bagaimana lansia mempersiapkan
mentalnya dalam menghadapi kematian, penelitian ini dilakukan Di Wredha
harapan ibu. Kematian dinilai sebagai situasi yang menyebabkan kecemasan dan
siapapun akan takut jika dihadapkan pada situasi ini. Kecemasan akan kematian
dapat berkaitan dengan datangnya kematian itu sendiri, bagaimana cara datang
kematian, kehidupan setelah kematian serta dan rasa yang mungkin menyertai
datangnya kematian. Sehingga para lansia mulai mempersiapkan mentalnya dalam
menghadapi datangnya kematian.
C. Rumusan Masalah

1. Bagaimana gambaran kesiapan mental lansia menghadapi kematian ?


2. Bagaimana lansia mempersiapkan dirinya dalam menghadapi kematian ?

4
3. Bagaimana lansia mengatasi kecemasannya terhadap kematian ?
D. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi kesiapan psikologis
lansia dalam menghadapi kematian, dan bagaimana lansia mengatasi
kecemasan terhadap Kematian.
E. Manfaat Penelitian
1. Manfaat teoritis
Manfaat teoritis dari penelitian ini adalah untuk menambah kajian
pengetahuan dan pengembangan di bidang ilmu grantologi atau psikologi
lansia dan diharapkan sebagai bahan masukan maupun sumbangan
pemikiran yang dapat menambah perbendaharaan di bidang ilmu grantologi
atau psikologi lansia dan psikologi perkembangan.
2. Manfaat praktis

a. Bagi penulis

Penelitian ini berguna sebagai sarana latihan dan pengembangan


kemampuan serta menambah wawasan khususnya dibidang penelitian dan
dapat digunakan sebagai acuan untuk penelitian selanjutnya.

b. Bagi Pengelola Panti Wredha


Hasil penelitian ini berupa gambaran kesiapan lansia menghadapi kematian
Dapat digunakan sebagai masukan dalam mempersiapkan m lansia dalam
menghadapi kematian.
d. Bagi pembaca dan pengembang penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan kepada
narasumber penelitian tentang usaha menjaga kesehatan psikis dan fisik
guna melewati masa-masa akhir kehidupan dengan optimis.
Peneliti selanjutnya dapat mengembangkan penelitian tentang lansia dan
kesiapannya menghadapi kematian.
BAB II
Tinjauan pustaka

5
1. Kesiapan
Kesiapan menurut kamus psikologi adalah Tingkat perkembangan dari
kematangan atau kedewasaan yang menguntungkan untuk
mempraktikkan sesuatu (Chaplin, 2006: 419). Dikemukakan juga
bahwa kesiapan meliputi kemampuan untuk menempatkan dirinya jika
akan memulai serangkaian gerakan yang berkaitan dengan kesiapan
mental dan jasmani.
Kesiapan adalah keseluruhan kondisi yang membuatnya siap untuk
memberi respon/jawaban di dalam cara tertentu terhadap suatu
kecenderungan untuk memberi respon. Kondisi mencakup
setidaktidaknya tiga aspek yaitu: (1) kondisi fisik, mental dan emosional,
(2) kebutuhan-kebutuhan, motif dan tujuan, (3) keterampilan,
pengetahuan dan pengertian lain yang telah dipelajari. (Slameto, 2010:
113).
Menurut Dalyono (2005: 52) Kesiapan adalah kemampuan yang cukup
baik fisik dan mental. Kesiapan fisik berarti tenaga yang cukup dan
kesehatan yang baik, sementara kesiapan mental, memiliki minat dan
motivasi yang cukup untuk melakukan suatu kegiatan, sedangkan
menurut Oemar Hamalik (2008:94) kesiapan adalah tingkatan atau
keadaaan yang harus dicapai dalam proses perkembangan perorangan
pada tingkatan pertumbuhan mental, fisik, sosial dan emosional.
Lansia yang siap menghadapi kematian mempunyai ciri-ciri menerima
keadaan dirinya yang berbeda dari masa sebelumnya ( Hurlock, 2000).
Lansia yang siap menghadapi kematian dapat mengfatasi rasa cemas
maupun takutnya pada kematian, mereka sadar bahwa kematian pasti
datang bagi siapa saja yang hidup ( Backer, 1982 ). Mereka memiliki
pandangan dan sikap positif terhadap kematian, kehidupan saat ini
adalah ladangkerja keras untuk bekal hidup didunia yang lebih kekal
( shihab, 1997). Lansia yang siap menghadapi kematian menerima

6
kematian sebagai suatu hal yang nyata, dan memiliki konsep positif
tentang makna hidup dan mati ( najati, 1987).
2. Kematian
1. Definisi kematian
Secara biologis, kematian didefinisikan sebagai berhentinya semua
fungsi vital tubuh meliputi detak jantung, aktifitas otak, serta
pernafasan ( Singh, 2005). Kematian dinyatakan terjadi ketika nafas
dan denyut jantung individu telah berhenti dalam beberapa waktu
yang signifikan atau ketika seluruh aktivitas syaraf diotak berhenti
( Papalia, 2002 ).
Jadi dapat disimpulkan bahwa kematian adalah berhentinya fungsi
organ vital yang ada dalam diri manusia.
2. Pandangan terhadap kematian
Ada empat pandangan mengenai kematian ( kalish, 1985)
1) Kematian sebagai pengatur waktu
Kesadaran individu bahwa waktu yang dimilikinya
terbatas mempengaruhi caranya menggunakan waktu.
Jika waktu tidak terbatas, individu akan cenderung untuk
melakukan banyak hal dan idak perlu membuat prioritas
atau melepaskan beberapa pilihannya. Untuk orang yang
telah berusia lanjut kematian dipandang sebagai
parameter yang secara langsung membatasi masa depan
pribadi mereka. Datangnya kematian dapat menimbulkan
perasaaan ditipu oleh waktu ketika individu mulai
merenung kembali bulan-bulan yang telah terlewati.
Tetapi sebaliknya, kematian juga membuat momen-
momen serta setiap menit menjadi seolah berjalan amat
lambat karena tidak ada hal bermakna yang dapat
dilakukan. Karena semua hal yang bersifat sementara dan
mungkin ditinggalkan dalam keadaan tidak selesai.
2) Kematian sebagai sebuah ganjaran
Melalui sudaut pandang ini kematian secara bersamaan
dinilai sebagai hukuman yang diterima terhadap dosa-

7
dosa, terlepasnya individu dari rasa sakit, juga sebagai
hadiah karena dapat mengalami transisi menuju eksistensi
yang lebih baik.
3) Kematian sebagai sebuah transis
kematian dipandang sebagai sebagai suatu transisi menuju
kehidupan yang lain, suatu kehidupan setelah kematian.
4) Kematian sebagai suatu kehilangan
Kematian dianggap sebagai momen yang mengakibatkan
kehilangan bagi individu, kehilangan pengalaman,
kehilangan orang, tempat, benda, kehilangan kontrol dan
kompetensi. Kemtaian memberikan kehilangan yang
bersifat permanen yang tidak dapat dikembalikan.
Pandangan individu mengenai kematian dapat
dipengaruhi oleh pengalamannya menyaksikan proses
kematian orang lain. ketakutan individu melihat proses
kematian seseorang dapat mengakibatkan ketakutannya
pada proses kematiannya sendiri. Pandangan individu
tentang kematian dapat terbentuk oleh pengalamannya
yang berhubungan dengan kematian dapat terbentuk dari
pengalamannya berhubungfan dengan kematian, baik
pengalaman individu secara langsung ataupun
pengalaman orang lain yang dilihat oleh individu.
3. Lanjut usia
1) Pengertian Lanjut Usia
Menurut Tunner dan Helms (1983), lansia juga
merupakan periode kritik terhadap penilaian diri, waktu
untuk mengevaluasi kembali kesuksesan dan kegagalan
seseorang dan selama mengevaluasi masa lalu dan
mencoba untuk menghadapi masa sekarang, lansia
dihadapkan dengan persiapan untuk hari mendatang.
Menua (menjadi tua) adalah suatu proses menghilangnya
secara perlahan lahan kemampuan jaringan untuk
memperbaki diri/mengganti dan mempertahankan fungsi

8
normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi
dan memperbaiki kerusakan yang di derita (Nugroho,
2000).
Menurut undang undang no.4 tahun 1965 pasal 1,
seseorang di nyatakan sebagai lanjut usia setelah yang
bersangkutan mencapai umur 55 tahun, tidak mempunyai
atau tidak berdaya mencari nafkah sendiri untuk
keperluan hidupnya sehari-hari dan menerima nafkah dari
orang lain (Mubarok, 2006).
2) Batasan lanjut usia
Ada beberapa pendapat mengenai batasan-batasan umur
pada lanjut usia diantaranya yaitu:
a. Menurut organisasi kesehatan dunia.
Lanjut usia menurut organisaasi kesehatan dunia di bagi
menjadi 4 bagian, yaitu: Usia pertengahan (middle age)
yaitu kelompok usia antara 45 sampai 59 tahun.Lanjut
usia ( elderly) yaitu usia antara 60 sampai 74 tahun.
Lanjut usia tua (old) yaitu usia antara 75 sampai 90 tahun.
Usia sangat tua (very old) yaitu usia di atas 90 tahun.
b. Menurut Burnside (1979) batasan lansia adalah :
a) The Young Old (60-69 tahun)
b) The Middle Old (70-79 tahun)
c) c.The Old-Old (80-89 tahun)
d) The Very Old-Old (90-99 tahun)
c. Departemen kesehatan RI membagi lansia sebagai
berikut:
a) kelompok menjelang usia lanjut (45-54th)
sebagai masa vibrilitas
b) Kelompok usia lanjut (55-64 th) sebagai
presenium
c) Kelompok usia lanjut (55-64 th) sebagai senium
Dengan demikian, kelompok usia lanjut tidak dapat
diperhitungkan dengan hanya melihat pada sisi umur

9
saja, tetapi kelompok usia lanjut disesuaikan dengan
kemampuan dan tugas perkembangan masing-masing
individu.
4. Teori-teori penuaan
Teori biologis yaitu teori yang mencoba untuk menjelaskan proses fisik
penuaan, termasuk perubahan fungsi dan struktur, pengembangan, panjang
usia dan kematian.
1) Teori genetika
Teori sebab akibat menjelaskan bahwa penuaan terutama dipengaruhi oleh
pambentukan gen dan dampak lingkungan pada pembentukan kode genetik.
Penuaan adalah suatu proses yang secara tidak sadar di wariskan yang
berjalan dari waktu ke waktu mengubah sel atau struktur jaringan. Dengan
kata lain, perubahan rentang hidup dan panjang usia telah ditentukan
sebelumnya.
2) Teori wear and tire
Teori di pakai dan rusak mengusulkan bahwa akumulasi sampah metabolik
atau zat nutrisi dapat merusak sintesis DNA, sehingga mendorong malfungsi
molekular dan akhirnya malfungsi organ tubuh. Pendukung teori ini percaya
bahwa tubuh akan mengalami kerusakan berdasarkan suatu jadwal. Radikal
bebas adalah contoh dari produk sampah metabolism yang menyebabkan
kerusakan
ketika akumulasi terjadi. Radikal bebas adalah molekul atau atom dengan
suatu elektronyang tidak berpasangan. Ini merupakan jenis yang sangat
reaktif yang dihasilkan dari reaksi selama metabolism.
Radikal bebas dengan cepat dihancurkan oleh system enzim
pelindung pada kondisi normal, beberapa radikal bebas berhasi lolos dari
proses perusakan ini dan berakumulasi didalam struktur biologis yang
penting, saat itu kerusakan organ terjadi.
Karakteristik teori penuaan:
a) Peningkatan usia harapan hidup, tetapi mortalitas tidak dapat dihindari.
b) Penuaan dapat ditemukan didalam sel, molekul, jaringan, dan massa
tulang.

10
c) Perusakan bersifat progresif dan tidak tertandingi serta memengaruhi
semua system hidup.
d) Diperlukan waktu yang panjang utuk kembali dari periode serangan,
kelelahan dan stress.
e) Peningkatan kerentanan terhadap infeksi, kanker dan penyakit lain yang
berhubungan engan pertambahan usia.
3) Riwayat lingkungan
Menurut teori ini, faktor-faktor di dalam lingkungan (misalnya karsinogen
dari industri cahaya matahari, trauma dan infeksi) dapat membawa
perubahan dalam proses penuaan. Walaupun faktorfaktor ini diketahui dapat
mempercepat penuaan, dampak dari lingkugan lebih merupakan dampak
sekunder dan bukan merupakan faktor utama dalam penuaan.
4) Teori imunitas
Teori imunitas merupakan suatu kemunduran dalam sistem imun yang
berhubungan dengan penuaan. Ketika oranng bertanbah tua,
d. Tugas Perkembangan Lansia
a. Menemukan tempat tinggal yang memuaskan untuk masa tua.
b. Menyesuaikan diri dengan pensiun yang diperoleh.
c. Memelihara pasangan.
d. Mempersiapkan diri untuk hidup tanpa pasangan, atau menghadapi
kematian diri sendiri.
e. Memelihara hubungan dengan anak cucu.
5. Masalah yang Dihadapi Lansia
a. Keadaan fisik lemah dan tak berdaya sehingga harus tergantung kepada
orang lain.
b. Status ekonominya yang terancam sehingga harus melakukan perubahan
yang besar dalam kehidupannya.
c. Menentukan kondisi hidup yang sesuai dengan perubahan status ekonomi
dan kondisi fisiknya.
d. Mencari teman baru.
e. Mengembangkan kegiatan baru untuk mengatasi waktu luang.

11
6. Tugas perkembangan lanjut usia
Tugas perkembangan pada lanjut usia menurut havinghurst adalah sebagai
berikut
a. menyadari diri dengan menurunnya kesehatan fisik dan kesehatan
b. menyadari diri dengan masa pensiun
c. menyadari diridengan kematian pasangan hidup
d. membentuk hubungan dengan orang-orang yang sesuai
e. menyadari diri dengan peran sosial secara luwes

7. Kerangka berfikir

Kematian Cemas
lansia

Siap

Dapat mengatasi

Menolak

Sikap
Menerima

12
Semua makhluk yang hidup tidak akan pernah tahu kapan kematian akan
datang kepadanya akan tetapi bagi orang berusia lanjut ia mulai berfikir
dan mencemaskan tentang kematian karena usia lanjut merupakan siklus
terakhir dari kehidupan manusia.
Permasalahan umum yang terjadi adalah ketika para lansia belum dapat
menerima masa tuanya sehingga mencemaskan tentang kematian, jika ia
tidak bisa menerima masa tuanya maka ia akan mengalami keputusasaan
di masa ini. Dari bagan diatas diketahui bahwa saat menghadapi hari tua
para lansia harus dihadapkan pada kematian bagi yang dapat mengatasi
kecemasannya ia akan merasa siap dengan kematian, bagi yang tidak
dapat mengatasi ia akan merasa cemas dengan datangnya kematian.
Begitupun sikapnya jika lansia bersikap menerima datangnya kematian
ia akan siap menghadapinya akan tetapi bagio lansia yang tidak dapat
menerima ia akan merasa cemas dan tidak siap dengan datangnya
kematian.

13
BAB III
Metodologi Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif karena penelitian kualitatif


menggambarkan realita secara empiric, metode penelitaian kualitatif meneiliti objek
secara alamiah dimana peneliti sebagai instrument kunci, teknik pengumpulan data
dilakukan secara gabungan analisis bersifat induktif, dan hasil penelitian kualitatif
lebih menekankan makna daripada generalisasi.
Setiap penelitian memerlukan pendekatan penelitian yang menjelaskan cara
mengumpulkan dan menganalisis data agar proses penelitian dapat berlangsung
dengan efektif dan efisien serta mencapai tujuan penelitian yang diinginkan. Dalam
penelitian ini, peneliti menggunakan pendekatan yang besifat kualitatif dengan
desain penelitian fenomenologi.
Pendekatan fenomenologi pada dasarnya berprinsip apriori, sehingga tidak diawali
dan didasari oleh teori tertentu. Penelitian fenomenologi berangkat dari persepektif
filsafat mengenai apa yang diamati dan bagaimana cara mengamatinya. Penelitian
dengan judul Kesiapan Lansia Menghadapi Kematian akan lebih baik jika
menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologis
sehingga peneliti memilih jenis penelitian dan pendekatan penelitian kualitatif
fenomenologi.
1. Unit analisis

14
Unit Sub unit analis
Narasumber 1 Narasumber 2 Pengurus panti Praktisi
analisis
Kesiapan 1. Penerimaa 1. Penerimaan Cara menyikapi Cara
menghad n keadaan keadaan diri kematian mengatasi
2. Cara
api diri rasa cemas
2. Cara mengatasi
kematian
mengatasi rasa cemas
Pandangan
3. Kesadaran
rasa
terhadap
akan
cemas
kematian
3. Kesadaran kematian
4. Pandangan Cara
akan
terhadap menyikapi
kematian
4. Pandanga kematian kematian
5. Cara
n terhadap Konsep
menyikapi
kematian makna hidup
5. Sikap kematian
dan mati
6. Konsep
terhadap
makna hidup
kematian
6. Konsep dan mati
makna
hidup dan
mati

15
2. Narasumber penelitian
Narasumber merupakan penghuni panti werdha harapan ibu, penghuni panti werdha
harapan ibu harus telah berusia diatas 60 tahun keatas.
Teknik pengambilan narasumber dalam penelitian ini adalah dengan Purposive
Sampling adalah teknik penagmbilan sampel dengan cara tertentu. Dalam penelitian
ini narasumber yang diambil berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan yakni :
a. Penghuni panti wreda harapan ibu
b. Lanjut usia Berusia 60 tahun keatas
c. Belum mengalami kepikunan
d. Dapat berkomunikasi dengan baik
Selain narasumber utama peneliti menggunakan signifikan others yakni pengurus
panti wredha harapan ibu dan seorang praktisi psikologi lansia.
Dalam penelitian ini peneliti menjadi instrument utama sehingga kehadiran peneliti
mutlak diperlukan, kehadiran peneliti dalam penelitian ini diketahui statusnya
sebagai peneliti oleh narasumber karena peneliti terlebih dahulu meminta ijin
kepada kepala panti sebagai wakil lembaga terkait. Adapun peran peneliti dalam
penelitian ini adalah sebagai pengamat terhadap fenomena yang terjadi.
3. Pengumpulan data
a. Wawancara
Esterberg dalam sugiyono (2008) wawancara merupakan pertemuan dua
orang untuk bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab, sehingga dapat
dikonstruksikan makna dalam suatu topik tertentu. Dalm penelitian ini
menggunakan wawancara tidak terstruktur.
b. Observasi
Jenis observasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan
observsi nonpartisipatif karena narasumber mengetahui tentang keberadaan
peneliti.
4. Analisis data
Setelah terkumpul data dilakukan pemilahan secara selektif sesuai masalah
penelitian yang diangkat dalam penelitian. setelah itu, dilakukan pengolahan
data denagn proses editing yaitu dengan meneliti kembali data-data yang
digunakan, apakah data tersebut sudah cukup baik dan dapat segera
dipersiapkan untuk proses berikutnya.

16
Penelitian ini menggunakan analisa data yang dipeoleh sebelumnya dengan cara
deskriptif sehingga terdapat 3 alur yakni :
a. Reduksi data
b. Penyajian data
c. Penarikan kesimpulan dan verifikasi
Analisis data dengan menggunakan metode milles & hubermans. Karena
penelitian ini menggunakan pendekatan fenomenologis maka dapat jega
menggunakan metode creswell sebagai berikut :
1. Peneliti mulai dengan mendeskiripsikan terlebih dahulu pengalamannya.
2. Peneliti menemukan pertanyaan
3. Pertanyaan tersebut dikelompokkan kedalam unit-unit bermakna
4. Peneliti kemudian merefleksikan pemikirannya dan menggunakan variasi
imajinatif.
5. Peneliti kemudian mengkonstruksikan seluruh penjelasan tentang makna dan
esensi.
6. Proses tersebut merupakan langkah awal peneliti mengungkapkan
pengalamannya dan kemudian diikuti oleh pengalaman seluruh narasumber,
setelah semua itu dituliskan
5. Verifikasi data
Uji keabsahan data dalam penelitian ini adalah uji credibilitas, transferabilitas,
dependabilitas.
a. Uji kredibilitas adalah kepercayaan terhadap data hasil penelitian. Uji kredibilitas
dalam penelitian ini menggunakan teknik perpanjangan masa pengamatan dan
triangulasi,
Triangulasi data, yakni menggunakan berbagai sumber data seperti hasil
wawancara, atau juga dengan mewawancarai lebih dari satu subjek yang dianggap
memiliki sudut pandang yang berbeda dengan melakukan perbandingan antara data
narasumber I dan narasumber II.
b. Uji transferabilitas adalah ketepatan hasil penelitian yang kemungkinan hasil
penelitian ini dapat diterapkan. Peneliti harus menuliskan dengan rinci dan jelas
hasil penelitiannya.
c. Uji depenabilitas. Dalam penelitian kuantitatif, depenabilitas adalah reliabilitas.
Pengujian depenabilitas dilaksanakan dengan cara melakukan bimbingan untuk
mengaudit keseluruhan aktivitas peneliti dalam melakukan penelitian oleh auditor
yang independen.

17
DAFTAR PUSTAKA

Arifin, B. 1985. Hidup sesudah mati. Jakarta: PT. Kinta.


Arikunto, S. 2002. Prosedur penelitian: Suatu pendekatan praktek. Edisi revisi V. Jakarta: PT.
Rineka Cipta.
Atkinson, R.L, dkk. 1991. Pengantar psikologi, Edisi kesebelas, Jilid kedua. Alih bahasa:
Kusuma,W. Jakarta: Erlangga
Chaplin, J.P. 1999. Kamus lengkap psikologi. Penerjemah: Kartono, K. Jakarta: PT. Raja
Grafindo Persada.
Hidayat, K. 2005. Psikologi kematian: Mengubah ketakutan menjadi optimisme. Jakarta:
Hikmah.
Hurlock, E.B. 1994. Psikologi perkembangan: Suatu pendekatan sepanjang rentang
kehidupan. Alih bahasa: Istiwidayanti dan Soedjarwo. Jakarta: Erlangga.
Moody, R.A. 2001. Hidup sesudah mati. Alih bahasa: Susilastuti, R.A.Jakarta: PT. Gramedia
Pustaka Utama.
Nugroho, W. 1992. Perawatan lanjut usia. Jakarta: Buku Kedokteran EGC.
Santrock, J.W. 2002. Life span development: Perkembangan masa hidup, Edisi kelima, Jilid II.
Alih bahasa: Chusairi, A dan Damanik, J. Jakarta: Erlangga.
Schindler, J.A. 1992. Bagaimana menikmati hidup 365 hari dalam setahun. Penerjemah:
Simamora, S. Jakarta: Bumi aksara.
Setiabudhi, T & Hardywinoto. 2005. Panduan gerontologi: Tinjauan dari berbagai aspek.
Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

18