Anda di halaman 1dari 12

23

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Tipe Penggunaan Lahan (Land Utilization Type)


Salah satu tahapan sebelum melakukan proses evaluasi lahan adalah
mendeskripsi 11 atribut kunci tipe penggunaan lahan. Berdasarkan deskripsi
penggunaan lahan tanaman nilam (Phogostemon cablin Bent) secara rinci
diuraikan sebagai berikut :
a. Produksi
Produksi rata-rata selama umur ekonomis tanaman nilam (Phogostemon
cablin Bent) dirata-ratakan mencapai 8485 kg/ha nilam kering.
b. Pemasaran
Untuk petani budidaya produksi yang dihasilkan, oleh petani langsung dijual
pada petani pengumpul yang sekaligus pemilik penylingan nilam. Akan tetap
untuk petani budidaya sekaligus pemilik penyulingan hasilnya dapat berupa
minyak nilam. Sehingga minyak nilam tersebut langsung di jual ke pemasok atau
pedagang besar minyak nilam. Khusus daerah bone bolango minyak nilam itu
sendiri langsung dijual ke luar daerah.
c. Pengelolaan
Sebelum penanaman tanman nilam, terlebih dahulu petani melakukan
pengolahan tanah serta penyiapan bibit stek. Selanjunya setelah umur bibit 11/2
bulan kemudian tanaman dipindahkan ke lahan dengan jarak tanam 30 x 30 x 30
sehingga populasi tanaman hingga mencapai 10000 stek/ha. Pemupukan
dilakukan setiap tahun dari tahun pertama hingga tahun ke-3 dengan
menggunakan pupuk kandang dan pupuk anorganik serta untuk pengendalian
hama dan penyakit menggunakan pestisida. Untuk penyulingan nilam itu sendiri
hasil tanaman nilam dapat di suling dengan menggunakan alat yang sudah di buat.
d. Persyaratan Tenaga Kerja
Total tenaga kerja yang dibutuhkan di Bone Bolango untuk usaha budidaya
tanaman nilam sebanyak 150 hari orang kerja (HOK) dari sejak penyiapan lahan
sampai panen dan pasca panen.
24

e. Laba Kotor
Laba kotor dari tanaman nilam (Phogostemon cablin Bent) untuk petani
budidaya di kabupaten Bone Bolango sebesar Rp 25.455.000 dengan harga nilam
kering 3000/kg.
f. Pendapatan bersih petani
Pendapatan bersih petani nilam utnuk petani budidaya di bone bolango
sebesar 10.018.000 dari tahun pertama sampai tahun ke-3. Hasil tersebut belum
termasuk hasil untuk penjualan minyak nilam.
g. Nilai Net B/C Ratio
Nilai Net B/C Ratio untuk tanaman nilam didaerah penelitian ternyata lebih
besar dari 1,0 artinya usaha tani didaerah penelitian layak untuk dikembangkan.
4.2 Analisis Kesesuaian Lahan Tanaman Nilam
4.2.1 Satuan Lahan
Daerah penelitian memiliki 33 satuan lahan yang tersebar di seluruh wilayah
kabupaten bone bolango, tetapi satuan lahan tersebut tidak termasuk kawasan
hutan serta hutan lindung. Adapun satuan lahan daerah penelitian dapat dilihat
pada gambar 16. Disetiap satuan lahan memiliki legenda dan karakteristik masing-
masing seperti pada lampiran 2.
4.2.2 Kesesuaian Lahan Aktual
Hasil penelitian kelas kesesuaian lahan aktual dapat dilihat pada tabeL 3 dan
Gambar 17. Table 3 memperlihatkan bahwa daerah di daerah penelitian terdapat 2
klas kesesuian lahan aktual untuk tanaman nilam yaitu sesuai marjinal (S3) dan
tidak sesuai (N). Kelas kesesuaian lahan ini dianalisis berdasarkan kriteria
kesesuaian lahan tanaman nilam seperi yang terlihat pada lampiran 1.
a. Sesuai Marginal (S3)
Kelas kesesuain lahan aktual pada daerah penelitian dibedakan menjadi 7 sub
kelas, yaitu :
- Sub kelas S3rw tersebar pada satuan lahan pada satuan lahan 1 dengan luas
1.225 ha dengan factor pembatas media perakaran (Drainese Terhambat) dan
curah hujan rendah.
25

- Sub kelas S3rwn tersebar pada satuan lahan 2 dengan luas 1.814 ha dan pada
satuan lahan 30 dengan luas 1.211 ha dengan factor pembatas drainase
terhambat, curah hujan rendah dan P2O5 tersedia rendah.
- Sub kelas S3wn tersebar pada satuan lahan 3 (363 ha), 4 (3821 ha), 5 (1124
ha), 6 (849 ha), 7 (314 ha), 8 (383 ha), 9 (322 ha), 10 (527 ha), 14 (455 ha),
dan 15 (534 ha) dengan faktor pembatas adalah curah hujan yang rendah serta
C-Organik sangat rendah.
- S3wnp tersebar pada satuan lahan 12 seluas 1.502 dengan factor pembatas
adalah curah hujan rendah, serta kandungan C-Organik juga tidak tersedia.
- S3wrnp tersebar pada satuan lahan 16 (655 ha), 18 (3627 ha), 19 (675 , ha), 26
(2456 ha), 27 (889 ha), 29 (9.070 ha), 32 (808 ha) dan 33 seluas 17.536
dengan factor pembatasnya adalah curah hujan rendah, drainase terhambat, C-
Organik tidak tersedia serta kemudahan dalam pengolahan tanah.
- S3wrp tersebar pada satuan lahan 28 seluas 76 ha dan 31 seluas 15.784 ha
dengan faktor pembatas curah hujan yang rendah, drainase terhambat serta
kemudahan pengolahan tanah.
- S3wp tersebar pada satuan lahan 11 seluas 340 ha dengan factor pembatas
curah hujan dan tingkat pengolahan tanah.
b. Lahan Tidak sesuai (N)
- N1rwn tersebar pada satuan lahan 20 seluas 343 dengan factor pembatas
drainase terhambat, curah hujan rendah serta C-Organik tersedia rendah.
- N1rwnp tersebar pada satuan lahan 21 (1.095 ha), 22 (738 ha), 23 (1.896 ha),
24 (4.882 ha) dan 25 (2.707 ha) dengan factor pembatas drainase terhambat,
curah hujan rendah serta C-Organik tersedia rendah dan tingkat pengelolaan
tanah.
26

Gambar 16. Peta Satuan Lahan


27

4.2.3 Faktor-Faktor Pembatas yang Membatasi Penggunaan Lahan


Tanaman Nalam (Phogostemon cablin Bent)
Sebagian besar lahan-lahan di wilayah penelitian untuk pengembangan
tanaman nilam memiliki kelas keesuaian lahan aktual dengan factor pembatas
berat (S3= sesuai marginal) bahkan samapai sangat berat (N= tidak sesuai).
Faktor-faktor pembatas tersebut meliputi curah hujan, media perakaran, retensi
hara, dan drainase. Namun setelah diadakan pengelolaan sedang yang di sesuaikan
dengan kondisi petani maka faktor yang masih membatasi penggunaan lahan
adalah rata-rata curah hujan pertahun. Ini disebabkan tingginya kebutuhan air
tanaman sedangkan rata-rata curah hujan rendah.
4.2.3.1 Ketersediaan Air
Ketersediaan air dalam hal ini curah hujan menjadi faktor pembatas yang
membatasi sebagian besar penggunaan lahan yang ada di daerah penelitian. rata-
rata curah hujan tahuan yang rendah mengakibatkan kebutuhan air tanaman tidak
terpenuhi sehingga dapat berpengaruh terhadap pertumbuhan fegetatif dan
generative tanaman. Trojer (1976) mengemukakan bahwa jumlah curah hujan
yang kurang atau melebihi kebutuhan tanaman akan menurunkan kelas kesesuaian
lahan, sebab jumlah air yang dikonsumsi tanaman berpengaruh terhadap
pertumbuhan vegetatif dan generatif. Akan tetapi pembatas ini bisa di atasi namun
harus ada interfensi dari pemerintah, salah satu cara untuk mengatasi hal ini
adalah dengan pengairan.
4.2.3.2 Media Perakaran
Media perakaran dalam hal ini tekstur tanah menjadi faktor pembatas untuk
tanaman nilam (Phogostemon cablin Bent). Hal ini disebabkan oleh tanah-tanah di
wilayah penelitian sebagian mengandung tekstur lempung berpasir. salah satu
alternatif pemecahannya adalah dengan menambahkan bahan organik. Bahan
organik membantu memperbaiki sifat fisik tanah dan mengurangi kerentanan
terhadap pengikisan pada tanah pasiran.
4.2.3.3 Retensi Hara
Retensi hara dalam hal ini kekurangan unsur hara merupakan salah satu
faktor pembatas penggunaan lahan tanaman nilam (Phogostemon cablin Bent) di
28

kabupaten bone bolango. Ini disebabkan adanya kekurangan unsure hara terutama
C-Organik, dan P2O5 tidak tersedia untuk tanaman. Unsur hara merupakan
komponen yang sangat penting dalam menyuburkan tanaman. namun Masalah ini
bisa dipecahkan dengan cara pemupukan yang intensif dan sesuai dengan dosis
atau takaran yang dianjurkan.
4.2.3.4 Drainase
Drainase dalam hal ini berhubungan dengan penyerapan air kedalam tanah
merupakan salah satu faktor pembatas untuk kesesuaian tanaman nilam
(Phogostemon cablin Bent). Tanaman akan mati jika kekurangan air, sebaliknya
jika tanaman tergenang maka tanaman tersebut tidak akan tumbuh dengan baik.
Drainase ini dapat di atasi dengan cara pembuata drainase untuk pengaliran air.
Table 5. Hasil Penelitian kesesuaian Lahan Aktual

Kesesuaian lahan Luas


Sub Satuan
Kelas Kelas Faktor Pembatas Lahan Ha %
S1 (sangat
- - - - -
Sesuai)
S2 (Cukup
- - - - -
Sesuai)
Curah hujan yang rendah, drainase
terhambat serta kemudahan pengolahan
S3wrp tanah. 28, 31 15860 20.98
Drainese Terhambat dan curah hujan
S3rw rendah. 1 1225 1.62
Drainase terhambat, curah hujan rendah
S3rwn dan P2O5 tersedia rendah. 2, 30, 17 4610 6.10
3, 4, 5, 6,
S3 Sesuai Curah hujan yang rendah serta C- 7, 8, 9,10,
Marginal S3wn Organik sangat rendah. 14, 15 8692 11.5
Curah hujan dan tingkat pengolahan
S3wp tanah. 11, 13 4489 5.94
Curah hujan rendah, serta kandungan
S3wnp C-Organik juga rendah 12 1502 1.99
Curah hujan rendah, drainase
terhambat, C-Organik tersedia rendah 16, 18, 19,
serta kemudahan dalam pengolahan 26, 27, 29,
S3wrnp tanah 32, 33 27553 36.45
Drainase terhambat, curah hujan rendah
N1rwn serta C-Organik tersedia rendah 20 343 0.45
N (Tidak
Drainase terhambat, curah hujan rendah
Sesuai)
serta C-Organik tersedia rendah dan 21, 22, 23,
N1rwnp tingkat pengelolaan tanah. 24, 25 11318 14.97
Total 75592 100.00
29

Gambar 17. Peta Kesesuaian Lahan Aktual (KLA)


30

4.2.4 Kesesuaian Lahan Potensial


Penilaian kesesuaian lahan potensial untuk tanaman nilam dikabupaten
Bone Bolango dilakukan berdasarkan upaya perbaikan pada tingkat pengelolaan
sedang, artinya pengelolaan hanya dapat dilakukan oleh petani menengah dengan
modal menengah dan teknik pertanian sedang. Seperti yang terlihat pada table 6
dan penyebarannya pada gambar 18.

Tabel 6. Hasil Penelitian kesesuaian Lahan Potensial (KLP)

Satuan Kesesuaian Lahan Untuk Tanaman Nilam Luas


lahan Aktual Faktor pembatas Potensial Ha %
1 S3rw Curah hujan, drainase S3 1,225 1.62
2 S3rwn Drainase, curah hujan dan unsur hara S3 1,814 2.40
3 S3wn Curah hujan, KTK dan C-organik S3 363 0.48
4 S3wn Curah hujan dan C-organik S3 3,821 5.05
5 S3wn Curah hujan, KTK dan C-organik S3 1,124 1.49
6 S3wn Curah hujan, P2O5 dan C-Organik S3 849 1.12
7 S3wn Curah hujan dan P2O5 S3 314 0.42
8 S3wn Curah hujan dan C-organik S3 383 0.51
9 S3wn Curah hujan dan C-organik S3 322 0.43
10 S3wn Curah hujan, P2O5 dan C-Organik S3 527 0.70
11 S3wp Curah hujan dan tekstur S3 340 0.45
12 S3wnp Curah hujan, KTK dan jenis tanah S3 1,502 1.99
13 S3wp Curah hujan dan Jenis tanah S3 4,149 5.49
14 S3wn Curah hujan dan P2O5 S3 455 0.60
15 S3wn Cur#Ah hujan dan KTK S3 534 0.71
16 S3wrnp Curah hujan, drainase, P2O5 dan Jenis tanah S3 655 0.87
17 S3wrn Curah hujan, Drainase dan C-organik S3 1,585 2.10
18 S3wrnp Curah hujan, drainase, C-Organik dan Jenis tanah S3 3,627 4.80
19 S3wrnp Curah hujan, drainase, C-Organik dan Jenis tanah dan tekstur S3 675 0.89
20 N1rwn Drainase, curah hujan dan C-Organik S2 343 0.45
21 N1rwnp Drainase, Jenis Tanah, C-Organik dan Curah Hujan S2 1,095 1.45
22 N1rwnp Drainase, Jenis Tanah, C-Organik dan Curah Hujan S2 738 0.98
23 N1rwnp Drainase, Jenis Tanah, Tekstur, C-Organik, P2O5 dan Curah Hujan S2 1,896 2.51
24 N1rwnp Drainase, Jenis Tanah, Tekstur, C-Organik, P2O5 dan Curah Hujan S2 4,882 6.46
25 N1rwnp Drainase, Jenis Tanah, Tekstur, P2O5 dan Curah Hujan S2 2,707 3.58
26 S3wrnp Curah hujan, drainase, P2O5 dan Jenis tanah S3 2,456 3.25
27 S3wrnp Curah hujan, drainase, P2O5 dan Jenis tanah dan tekstur S3 889 1.18
28 S3wrp Curah hujan, drainase dan jenis tanah S3 76 0.10
29 S3wrnp Curah hujan, drainase, C-Organik dan Jenis tanah S3 9,070 1.20
30 S3rwn Curah hujan, drainase dan C-Organik S3 1,211 1.60
31 S3wrp Curah hujan, drainase dan jenis tanah S3 15,784 20.88
32 S3wrnp Curah hujan, drainase, P2O5, Jenis tanah dan tekstur S3 808 1.07
33 S3wrnp Curah hujan, drainase, C-organik dan Jenis tanah S3 17,536 23.20
Total 83,755 100
31

Gambar 18. Kesesuaian Lahan Potensial (KLP)


32

Tabel 6 memperlihatkan potensi pengembangan tanaman nilam di seluruh


wilayah penelitian dengan luas 83.755 ha dengan kelas S2 dan S3. Dengan
sebaran satuan lahan pada kelas S2 yaitu satuan lahan 20, 21, 22, 23 24, dan 25
dengan luas total 11.661 ha. Sedangkan untuk kelas S3 tersebar di satuan lahan 1,
2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 15, 16, 17, 18, 19, 26, 27, 28, 29, 30, 31,
32, dan 33 dengan total luasnya 72.094 ha. Hal ini menandakan potensi
pengembangan tanaman nilam cukup luas didaerah Kabupaten Bone Bolango
dengan luas 83.755 ha.
4.3 Kalender Tanam
Kalender tanam untuk pengembangan nilam (Phogostemon cablin Bent),
dimulai pada bulan januari sampai dengan juni dan bulan desember. Hal ini di
karenakan bulan januari sampai dengan Juni serta bulan desember rata-rata curah
hujan efektif 110 mm/bulan.
Pada analisis neraca air bulan januari sampai dengan bulan Juni dan bulan
desember mengalami surplus, sehingga dapat dijelaskan bahwa selama bulan
tersebut air cukup tesedia untuk tanaman dan petani dapat melakukan penanaman
nilam (Phogostemon cablin Bent). Sedangkan untuk bulan juli sampai bulan
november, air mengalami devisit sehingga kebutuhan air tanaman pada bulan
tersebut tidak terpenuhi. Dengan kondisi demikian direkomendasikan, pada
bulan-bulan tersebut dapat dilakukan pengairan. Untuk lebui jelasnya kalender
tanam dapat dilihat pada lampiran 13.
4.4 Analisis Usaha Tani Nilam (Phogostemon cablin Bent)
Hasil evaluasi usaha tani tanaman nilam (Phogostemon cablin Bent) yang
dihitung berdasarkan persamaan sebelumnya didaerah penelitian dapat dilihat
ternyata menguntungkan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada lampiran 9.
33

Table 7. Nilai setiap Komponen Usaha Tani Nilam (Phogostemon cablin Bent)
Daerah Penelitian Kabupaten
Komponen Usaha Tani
Bone Bolango
Produksi (Kg) 8485 kg nilam kering
Harga Jual Petani (Rp/Kg nilam kering) 3000
Penerimaan 25.455.000
Total Biaya 15.437.000
NPV 0.189
IRR (%) 85.98
Gross B/C Ratio 0.29
Net B/C Ratio 4.64
Sumber :data primer yang diolah
Analisis ekonomi ini berdasarkan hitungan penghasilan petani pada luasan
lahan 1 ha dan dan produksinya hanya sampai pada penjualan hasil tanaman nilam
kering belum termasuk harga minyak nilam. Tetapi untuk memperoleh hasil yang
lebih banyak lagi, usaha budidaya nilam bisa dikembangkan diareal lahan yang
lebih luas lagi.
Lahan lahan pertanian yang ada di kaupaten Bone Bolango umumnya
memilik kelas kesesuain lahan S3 dan N, dengan faktor pembatas curah hujan,
media perakaran dan retensi hara. Sementara umumnya faktor pembatas tersebut
sulit untuk dilakukan perbaikan dengan tingkat pengetahuan petani saat ini.
Sehingga kelas KLA dapat dinaikkan, kecuali untuk curah hujan.
Curah hujan dalam hal ini rata-rata curah hujan tahunan merupakan faktor
pembatas yang tidak dapat diperbaiki, ini disebabkan perlu pengelolaan yang
tinggi dan membutuhkan biaya yang sangat mahal, sedangkan petani tidak mampu
untuk menanggung biaya tersebut
Retensi hara dalam hal ini ketersediaan unsur hara dalam tanah merupakan
salah satu faktor pembatas. Namun hal ini bisa diatasi dengan pemupukan.
Sehingga masalah kekurangan hara tidak terjadi lagi.
Media perakaran dalam hal ini drainase dan tekstur, dapat diperbaiki kecuali
tekstur. Drainase dapat diperbaiki dengan cara pembuiatan saluran air untuk
mengalirkan kelebihan air permukaan. Ini sangat penting berhubungan dengan
perakaran yang nantinya berpengaruh besar terhadap pertumbuhan tanaman.
34

Setelah dilaksanakan usaha perbaikan tersebut, maka dapat dilihat bahwa


usaha tani nilam di Kabupaten Bone Bolango ada dua kelas kesesuain lahan
potensial (KLP) yaitu S2 dan S3. Kelas yang tidak bisa dinaikkan kelasnya
merupakan satuan lahan yang memiliki faktor pembatas yang tidak dapt dirubah
yaitu curah hujan.
Uraian di atas secar keseluruhan memperlihatkan bahwa penelitian evaluasi
kesesuaian lahan menggunakan sistem kategori merupakan salah satu penilaian
kesesuaian lahan yang refresentatif. Sebab hasilnya mewakili tingkat kesesuaian
lahan secara keseluruhan berupa kesesuaian lahan aktual, kemudian
dikelompokkan dari kategori tinggi dan kategori rendah atas dasar faktor
pembatas (limiting faktor), walaupun dengan ketersediaan data yang relative
kurang. Di samping itu karena penialaian KLP diatas upaya perbaikannya
dikaukan pada tingkat rendah dan sedang sehingga bisa menaikkan kelas
kesesuaian lahan menjadi tinggi (potensial) naik menjadi satu atau dua tingkat.hal
ini sejalan dengan pernyat aan Rifan (1997), bahwa salah satu kelebihan sistem
kategori adalah KLP memberikan gambaran pengelolaan lahan dengan teknilogi
tertentu.disamping itu Rifan (1997) juga menambahkan bahwa kelebihan sistim
kategori juga adalah interaksi antara komponen lahan dapat dijelaskan secara
realistik, dimana faktor faktor pembatas yang membatasi penggunaan lahanuntuk
setiap TPL, telah menggambarkan proses interaksi antara komponen lahan, baik
iklim, tanah, bentuk lahan (landform), hidrologi, tanaman dan manusia itu sendiri.
Penelitian ini mencoba memasukkan data yang lebih actual artinya berasal
dari daerah penelitian itu sendiri, kemudian menjadi kualitas dan karakteristik
lahan daerah tersebut (data tanah dan iklim) serta data sosial ekonomi yang
langsung diperoleh dari lapang dan dari instansi. Sehingga itu dibuat kalender
tanam untuk membantu masyarakat tani menentukan kapan waktu tanam
sebaiknya dilakukan menuru keadaan iklim setempat.