Anda di halaman 1dari 3

Nama : Erika W Hutagalung

NIM : D1A015131

PERANAN TEKSTUR TANAH DALAM SIFAT FISIKA, KIMIA, dan BIOLOGI


TANAH

Menurut Hardjowigeno (1992) tekstur tanah menunjukkan kasar halusnya tanah. Tekstur
tanah merupakan perbandingan antara butir-butir pasir, debu dan liat. Tanah disusun dari butir-
butir tanah dengan berbagai ukuran. Bagian butir tanah yang berukuran lebih dari 2 mm disebut
bahan kasar tanah seperti kerikil, koral sampai batu. Bagian butir tanah yang berukuran kurang
dari 2 mm disebut bahan halus tanah. Bahan halus tanah dibedakan menjadi:
(1) pasir, yaitu butir tanah yang berukuran antara 0,05 - 2 mm.
(2) debu, yaitu butir tanah yang berukuran antara 0,002 - 0,05 mm.
(3) liat, yaitu butir tanah yang berukuran kurang dari 0,002 mm.

Tanah bertekstur halus didominhasi oleh tanah liat dengan tekstur yang lembut dan licin
yang memiliki permukaan yang lebih halus dibandingkan dengan tanah bertekstur kasar yang
biasanya berbentuk pasir. Sehingga tanah-tanah yang bertekstur halus memiliki kapasitas dalam
proses penyerapan unsur-unsur hara yang lebih besar dibandingkan dengan tanah yang bertekstur
kasar. Namun, pada tanah bertekstur lembut ini umumnya lebih subur dibandingkan dengan
tanah bertekstur kasar. Karena banyak mengandung unsure hara dan bahan organic yang
dibutuhkan oleh tanaman serta mudah dalam menyerap unsur hara.
Tekstur tanah dapat diartikan sebagai perbandingan relatif (proporsi) dari komposisi
fraksi-fraksi penyusun tanah. Fraksi penyusun tanah yang dimaksud adalah fraksi pasir
(sand), debu (silt), dan lempung (clay). Berdasrkan hasil percobaan, Entisol bertekstur pasir
geluhan, Alfisol bertekstur geluh lempung pasiran, Ultisol memiliki tekstur geluh lempungan,
Renzina bertekstur lempung, dan Vertisol memiliki tekstur geluh lempungan. Faktor yang
mempengaruhi tekstur tanah antara lain bahan batuan induk, proses genesis, dan umur. Tekstur
tanah berkaitan erat dengan sifat fisik tanah. Sifat fisik tanah yang dipengaruhi oleh tekstur tanah
yaitu daya dukung tanah, daya serap atau daya simpan air, permeabilitas, erodibilitas
(kemudahan tanah tererosi), kemudahan penetrasi akar tanaman, drainase atau pengatusan,
kemudahan terolah, plastisitas, dan kelekatan
Sifat fisik tanah mempunyai banyak kemungkinan untuk dapat digunakan sesuai dengan
kemampuannya yang dibebankan kepadanya. Kemampuan untuk menjadi keras dan menyangga,
kapasitas untuk melakukan drainase dan menyimpan air, plastisitas, kemudahan untuk ditembus
akar, aerasi dan kemampuan menahan retensi unsur-unsur hara tanaman, semuanya erat
hubungannya dengan kondisi fisik tanah. Tekstur merupakan sifat tanah yang lebih permanen
dan terpenting (Foth, 1994).
Pertumbuhan tanaman dipengaruhi oleh sifat-sifat kesuburan tanahnya yakni kesuburan
fisik, kesuburan kimia dan kesuburan biologis. Kalau kesuburan fisik lebih mengutamakan
tentang keadaan fisik tanah yang banyak kaitannya drengan penyediaan air dan udara tanah,
maka kesuburan kimia berperan dalam menentukan dan menjelaskan reaksi-reaksi kimia yang
menyangkut dalam masalah-masalah ketersediaan unsur hara bagi pertumbuhan tanaman. Untuk
mencapai rnaksud tersebut, maka pembahasan mengenai sifat kimia tanah ini kita batasi pada.
hal-hal yang berkaitan erat dengan masalah-masalah antara lain : Reaksi tanah (pH), koloid
tanah, pertukaran kation, dan kejenuhan basa.
Mikroba-mikroba tanah banyak yang berperan di dalam penyediaan maupun penyerapan
unsur hara bagi tanaman. Tiga unsur hara penting tanaman, yaitu Nitrogen (N), Fosfor (P), dan
Kalium (K) seluruhnya melibatkan aktivitas mikroba. Hara N tersedia melimpah di udara.
Kurang lebih 74% kandungan udara adalah N. Namun, N udara tidak dapat langsung
dimanfaatkan tanaman. N harus ditambat atau difiksasi oleh mikroba dan diubah bentuknya
menjadi tersedia bagi tanaman. Mikroba penambat N ada yang bersimbiosis dan ada pula yang
hidup bebas. Mikroba penambat N simbiotik antara lain : Rhizobium sp yang hidup di dalam
bintil akar tanaman kacang-kacangan (leguminose). Mikroba penambat N non-simbiotik
misalnya: Azospirillum sp dan Azotobacter sp. Mikroba penambat N simbiotik hanya bisa
digunakan untuk tanaman leguminose saja, sedangkan mikroba penambat N non-simbiotik dapat
digunakan untuk semua jenis tanaman.
Mikroba tanah lain yang berperan di dalam penyediaan unsur hara adalah mikroba pelarut
fosfat (P) dan kalium (K). Tanah pertanian kita umumnya memiliki kandungan P cukup tinggi
(jenuh). Namun, hara P ini sedikit/tidak tersedia bagi tanaman, karena terikat pada mineral liat
tanah. Di sinilah peranan mikroba pelarut P. Mikroba ini akan melepaskan ikatan P dari mineral
liat dan menyediakannya bagi tanaman. Banyak sekali mikroba yang mampu melarutkan P,
antara lain: Aspergillus sp, Penicillium sp, Pseudomonas sp dan Bacillus megatherium. Mikroba
yang berkemampuan tinggi melarutkan P, umumnya juga berkemampuan tinggi dalam
melarutkan K.
Kelompok mikroba lain yang juga berperan dalam penyerapan unsur P adalah Mikoriza
yang bersimbiosis pada akar tanaman. Setidaknya ada dua jenis mikoriza yang sering dipakai
untuk biofertilizer, yaitu: ektomikoriza dan endomikoriza. Mikoriza berperan dalam melarutkan
P dan membantu penyerapan hara P oleh tanaman. Selain itu tanaman yang bermikoriza
umumnya juga lebih tahan terhadap kekeringan. Contoh mikoriza yang sering dimanfaatkan
adalah Glomus sp dan Gigaspora sp.
Oleh karena itu sifat fisika tanah , kimia tanah maupun biologi tanah sangat berpengaruh
dalam pembentukan tekstur tanah dan bahan bahan dalam tekstur tanah tersebut.