Anda di halaman 1dari 3

Tuberculosis

• Prevalensi
Prevalensi TBC bervariasi diberbagai Negara, prevalensi TBC dalam kehamilan di
Indonesia menurut survei nasional tahun 2004 adalah 119/100.000 penduduk dan dalam
kehamilan prevalensi tuberculosis bervariasi antara 0,37-1,6%6.

• Etilogi
Penyakit ini disebabkan oleh inhalasi mycobacterium tuberculosis yang menyebabkan
reaksi granuloma paru. Sebanyak 90% infeksi bersifat laten dan pada penurunan status
imunologik akan menjadi aktif. MDR-TB (multi drug resistant tuberculosis) bervariasi
1,2 – 14 % 1,6-8.

• Diagnosis
Gejala klinik infeksi tuberculosis adalah batuk dengan sputum minimal, hemoptisis,
subfebris, penurunan BB dan pada pemeriksaan foto toraks ditemukan gambaran
infiltrate, kavitas, dan limfadenopati mediastinum. Pemeriksaan radiologic harus
memakai pelindung timah pada abdomen, sehingga bahaya radiasi dapat diminimalisasi.
Pada trimester 1 hindari pemeriksaan foto toraks karena efek radiasi yang sedikitpun
masih berdampak negative pada sel-sel muda janin. Diagnosis dapat ditegakkan dengan
pemeriksaan hapusan sputum dan ditemukan basil tahan asam, uji tuberculin dengan
purified protein derivative (PPD) 5 unit intrakutan, pemeriksaan kultur Darah, PCR, dan
interferon gamma kuantitatif pada infeksi laten TBC 1-3,6-10.

• Luaran kehamilan
Kehamilan tidak mempengaruhi perjalanan penyakit ini. Namun, pada kehamilan dengan
infeksi TBC risiko prematuritas, IUGR, dan berat badan lahir rendah meningkat, serta
risiko kematian perinatal meningkat 6 kali lipat. Keadaan ini terjadi baik akibat diagnosis
yang terlambat, pengobatan yang tidak teratur dan derajat keparahan lesi di paru, maupun
infeksi ekstrapulmoner 1,9.
Infeksi TBC dapat menginfeksi plasenta, biasanya dalam bentuk granuloma. Bentuk
tuberkel jarang menginfeksi plasenta. Keadaan ini dapat menyebabkan infeksi pada janin
yang menyebabkan tuberculosis congenital. Tuberculosis congenital juga termasuk bayi
yang terinfeksi dari aspirasi secret pada proses persalinan. Neonatal tuberculosis dapat
menstimulasi infeksi kongenital lainnya, hepatosplenomegali, distres pernapasan,
demam, dan limfodenopati 1,9.
Neonatal tuberculosis jarang terjadi bila ibu sudah mendapatkan pengobatan sebelum
persalinan atau bila uji sputum BTA negative. Pada ibu dengan TBC aktif risiko
penularan pada bayi 50% pada tahun pertama 1,9,10.

• Penanganan
Sebelum kehamilan perlu diberi konseling ,engenai pengaruh kehamilan dan TBC, serta
pengobatan. Adanya TBC tidak merupakan indikasi untuk melakukan abortus.
Pengobatan TBC dengan isoniazid, rifampisin, etambutol, dan pirazinamid tidak
merupakan kontraindikasi pada kehamilan. Pengobatan TBC dengan amino-glikosida
(streptomisin) merupakan kontraindikasi pada kehamilan karena dapat menyebabkan
ototoksik pada janin.
Pengobatan TBC dalam kehamilan menurut rekomendasi WHO adalah dengan
pemberian 4 regimen kombinasi isoniazid, rifampisin, etambutol, dan pirazinamid selama
6 bulan , cara pengobatan sama dengan yang tidak hamil. Dapat juga diberikan 3 regimen
kombinasi, isoniazid, rifampisin, etambutol selama 9 bulan. Angka kesembuhan 90%
pada pengobatan selama 6 bulan directly observed theraphy (DOT)pada infeksi baru.
Saat persalinan mungkin diperlukan pemberian oksigen yang adekuat dan cara persalinan
sesuai indikasi obstetrik. Pemakaian masker dan ruangan isolasi diperlukan untuk
mencegah penularan. Pemberian ASI tidak merupakan kontraindikasi meskipun ibu
mendapatkan obat anti-TBC. Perlu diberikan vaksinasi BCG setelah profilaksis dengan
ibu dengan isoniazid 10mg/kg/hari pada bayi dari ibu dengan tuberculosis.

Langkah penanganan TBC pada kehamilan !


Sebelum • Konseling mengenai pengaruh kehamilan dan TBC serta pengobatan
kehamilan • Pemeriksaan penyaring tuberkulosis pada populasi risiko tinggi
• Perbaikan keadaan umum (gizi, anemia)
Selama • Tuberculosis bukan merupakan indikasi untuk melakukan pengguguran
kehamilan kandungan
• Pengobatan dengan regimen kombinasi dapat segera dimulai begitu diagnosis
ditegakkan
• Antenatal care dilakukan seperti biasa, dianjurkan pasien datang paling awal
atau paling akhir untuk mencegah penularan pada orang di sekitarnya
Selama • Persalinan dapat berlangsung seperti biasa. Penderita diberi masker untuk
persalinan menutupi hidung dan mulutnya agar tidak terjadi penyebaran kuman
kesekitarnya
• Pemberian oksigen adekuat
• Tindakan pencegahan infeksi (kewaspadaan universal)
• Ekstraksi vakum/forcep bila ada indikasi obstetrik
• Sebaiknya persalinan dilakukan diruang isolasi, cegah pendarahan pasca
persalinan dengan uterotonika
Pasca • Observasi 6-8 jam kemudian penderita dapat langsung dipulangkan
persalinan Bila tidak mungkin dipulangkan, penderita harus dirawat diruang isolasi
• Perawatan bayi harus dipisahkan dari ibunya sampai tidak terlihat tanda proses
aktif lagi (dibuktikan dengan pemeriksaan sputum sebanyak 3 kali dengan hasil
selalu negatif)
• Pemberian ASI tidak merupakan kontraindikasi meskipun ibu mendapatkan
OAT
• Profilaksis neonatus dengan isoniazid 10mg/kg/hari dan vaksinasi BCG