Anda di halaman 1dari 7

TERAPI MOKSIBUSI

A. Pengertian

Moksibusi adalah cara pengobatan tradisional yang menggunakan Moksa (MoE-kuasa=


Ramuan daun-daunan yang dibakar), dari bahan daun Ay atau Arthemesia Vulgaris, yang
dibakar diatas titik-titik akupunktur tertentu. pemanasan ini atau panas yang ditimbulkan dari
pembakaran moksa akan menembus kulit, jaringan ikat atau jaringan otot dimana terletak
titik akupunktur yang dituju, yang kemudian akan disalurkan melalui meridian yang
bersangkutkan sehingga diharapkan akan menimbulkan reaksi pengobatan dan pencegahana
penyakit yang direncanakan.

Pemilihan daun Atrhemesia Vulgaris sebagai bahan baku pembuatan Moksa karena daun
tersebut bersifat pahit dan pedas yang mampu mengaktifkan Yang-Qi dan bisa membuka 12
jalur meridian utama dan membuat Qi dan darah tetap lancar sirkulasinya. Pedasnya itu bisa
masuk kedalam melalui meridian dan melancarkan Qi dan Xue, sedangkan pahitnya untuk
menghilangkan lembab.

B. Tujuan Moksibasi

1. Menghangatkan Qi, Xue supaya lancar,


2. Mengusisr penyebab penyakit dingin
3. Menghangatkan Yang
4. Menambah kekuatan Yang

C. Manfaat
1. Flu Moksa dan panas terapeutik yang dihasilkannya diketahui dapat
membantu menghilangkan dingin dari tubuh.
2. Kehamilan sungsang Moksibusi dipercaya untuk membantu mengembalikan
posisi kepala bayi yang sungsang agar berada di posisi normal (bawah) selama
kehamilan, dan mencegah komplikasi saat melahirkan. Penelitian membuktikan
metode terapeutik ini memiliki kesuksesan sebesar 75% dalam mengatasi
sungsang. Hal ini dilakukan dengan menggabungkan moksa pada acupoint (alat
akupuntur) di dekat kandung kemih.
3. Nyeri datang bulan Ketika digabungkan dengan akupuntur, moksa juga
dikenal untuk mengurangi nyeri datang bulan dengan efektif.
4. Meredakan nyeri karena cedera, keseleo, dan otot tegang.
5. Meredakan nyeri artritis dan tendonitis
6. Masalah pencernaan
7. Gerakan usus besar yang tidak teratur
8. Tangan dan kaki lembab
D. Hasil Penelitian

Telah dilakukan riset di jerman, dengan menggunakan teknologi scan cahaya


photon, dimana ketika moksa dibakar dan diarahkan ke tubuh, asap yang mengenai
tubuh akan mengaktifkan system meridian. Pada system scan akan terlihat warna
kebiruan pada jalur meridian yang terkena asap. Hal ini hanya akan aktif jika
menggunakan moksa yang berasal dari jenis tanaman Artemisia Vulgaris. dimana
tanaman ini mempunyai frekuensi yang sama dengan meridian tubuh manusia. Di
negara Jepang beberapa puluh tahun yang lalu, seorang praktisi moksa di Jepang
bernama Sawada berhasil menyembuhkan pasien TBC hanya menggunakan moksa
dimana saat itu obat antibiotik dan obat TBC (tuberculosis) masih belum ditemukan.

Beberapa tahun belakangan ini beberapa praktisi senior yang menekuni


Japanese Acupuncture dan mendalami moksa (direct moksa) telah dilakukan riset di
negara bagian Afrika untuk menangani kasus TBC (tuberculosis) dan AIDS. Banyak
bukti yang menunjukkan bahwa dengan melakukan okyu (driect moksa) dapat
meningkatkan imunitas dan daya tahan tubuh pasien.
Umumnya pasien TBC ataupun pasien yang sedang menjalani program kemoterapi,
daya tahan tubuhnya akan menjadi lemah dan mengalami banyak efek samping,
dengan terapi okyu (direct moksa) ini sangat membantu meningkatkan daya tahan
tubuh dan mengurangi efek samping dari kemoterapi tersebut. Sehingga akan
membuat vitalitas pasien bertambah dan dapat menjalani aktifitas dengan efek
samping kemoterapi yang sangat minim.
TERAPI HERBAL

A. Pengertian

Herbal adalah tanaman atau tumbuhan yang mempunyai kegunaan atau nilai lebih
dalam pengobatan. Dengan kata lain, semua jenis tanaman yang mengandung bahan atau zat
aktif yang berguna untuk pengobatan bisa digolongkan sebagai herbal. Herbal kadang disebut
juga sebagai tanaman obat, sehingga dalam perkembangannya dimasukkan sebagai salah satu
bentuk pengobatan alternatif.

Obat herbal adalah obat yang bersifat organik atau alami, sama seperti tubuh kita. Obat
herbal murni diambil dari saripati tumbuhan atau hewan yang mempunyai manfaat untuk
pengobatan, tanpa ada campuran bahan kimia buatan (sintetis). Obat Herbal yang berasal dari
tumbuhan (nabati) misalnya jahe, bawang putih, kurma, jintan hitam (Habbatussauda), dsb.
Yang berasal dari hewan (hewani) diantaranya Teripang (Gamat), Madu, Propolis, minyak
ikan hiu, dsb.
Pada jaman sekarang ini, dengan berkembangnya teknologi kedokteran yang semakin
pesat dan banyaknya riset penelitian berkaitan dengan obat-obatan, maka semakin membuka
mata kita bahwa ternyata alam secara alaminya telah menyediakan obat yang manjur untuk
segala penyakit. Obat-obatan itu tidaklah sulit dicari dan beda dengan obat dari bahan kima
sintetis, yang lambat laun akan menimbulkan efek samping pada tubuh kita.

B. Tujuan
Menghilangkan akar penyakit. Efek obat herbal bersifat menyeluruh, sehingga
tidak hanya mengobati penyakit tapi juga meningkatkan sistem kekebalan tubuh
untuk melawan penyakit.
Bebas dari racun/toksin. Obat herbal mengandung zat anti racun dan memiliki
kemampuan mengeluarkan racun dari dalam tubuh.
Bisa mengobati banyak penyakit secara bersamaan. Obat herbal tidak hanya
berkhasiat menyembuhkan satu penyakit, tetapi dapat digunakan untuk
pengobatan lebih dari satu penyakit.

C. Manfaat

1. Temulawak

Temulawak (Curcuma xanthorhiza roxb) yang termasuk dalam keluarga Jahe


(zingiberaceae), temulawak ini sebagai tanaman obat asli Indonesia. Namun demikian
Penyebaran tanaman Temulawak banyak tumbuh di pulau Jawa, Maluku dan
Kalimantan. Karakteristik temulawak tumbuh sebagai semak tanpa batang, mulai dari
pangkalnya sudah berupa tangkai daun yang panjang berdiri tegak. Tinggi tanaman
antara 2 m s/d 2,5 m, daunnya panjang bundar seperti daun pisang yang mana pelepah
daunnya saling menutup membentuk batang.
Tanaman ini dapat tumbuh subur di dataran rendah dengan ketinggian 750 m
diatas permukaan laut, tanaman ini bisa dipanen setelah 8-12 bulan dengan ciri-ciri
daun menguning seperti mau mati. Umbinya akan tumbuh di pangkal batang berwarna
kuning gelap atau coklat muda dengan diameter panjang 15 cm dan 6 cm, baunya
harum dan sedikit pahit agak pedas. Temulawak sudah lama digunakan secara turun
temurun oleh nenek moyang kita untuk mengobati sakit kuning, diare, maag, perut
kembung dan pegal-pegal. Terakhir juga bisa dimanfaatkan untuk menurunkan lemak
darah, mencegah penggumpalan darah sebagai antioksidan dan memelihara kesehatan
dengan meningkatkan daya kekebalan tubuh.

2. Kunyit

Kunyit merupakan tanaman obat berupa semak dan bersifat tahunan (perenial)
yang tersebar di seluruh daerah tropis, tanaman kunyit tumbuh subur dan liar disekitar
hutan atau bekas kebun. Diperkirakan berasal dari Binar pada ketinggian 1300-1600
m dpl, ada juga yang mengatakan bahwa kunyit berasal dari India. Di daerah Jawa,
kunyit banyak digunakan sebagai ramuan jamu karena berkhasiat menyejukkan,
membersihkan, mengeringkan, menghilangkan gatal, dan menyembuhkan kesemutan.
Manfaat utama tanaman kunyit, yaitu sebagai bahan obat tradisional, bahan baku
industri jamu dan kosmetik, bahan bumbu masak, peternakan dan lain-lain.
Disamping itu rimpang tanaman kunyit itu juga bermanfaat sebagai anti inflamasi,
anti oksidan, anti mikroba, pencegah kanker, anti tumor, dan menurunkan kadar
lemak darah dan kolesterol, serta sebagai pembersih darah.

3. Keji beling

Keji beling atau orang jawa menyebutnya dengan nama sambang geteh,
sementara di tanah pasundan dikenal dengan sebutan remek daging, reundeu
beureum, dan orang ternate menyebutnya dengan nama lire. Tumbuhan ini memiliki
banyak mineral seperti kalium, kalsium, dan natrium serta unsure mineral lainnya.
Disamping itu juga terdapat asam silikat, tannin, dan glikosida. Kegunaannya
sebagai obat disentri, diare (mencret) dan obat batu ginjal serta dapat juga sebagai
penurun kolesterol. Daun tanaman ini selain direbus untuk diminum airnya, juga
dapat dimakan sebagai lalapan setiap hari dan dilakukan secara teratur. Daun keji
beling juga kerap digunakan untuk mengatasi tubuh yang gatal kena ulat atau semut
hitam, caranya dengan cara mengoleskan langsung daun keji beling pada bagian
yang gatal tersebut. Untuk mengatasi diare (mencret), disentri, seluruh bagian dari
tanaman ini direbus, selama lebih kurang setengah jam, kudian airnya diminum.
Sama juga prosesnya untuk mengobati batu ginjal. Daun keji beling juga dapat
mengatasi kencing manis dengan cara dimakan sebagai lalapan secara teratur setiap
hari. Demikian pula untuk mengobai penyakit lever (sakit kuning), ambien (wasir)
dan maag dengan cara dimakan secara teratur.
4. Sambiloto

Sambiloto (Andrographis paniculata), adalah sejenis tanaman herba dari famili


Acanthaceae, yang berasal dari India dan Sri Lanka. Sambiloto juga dapat dijumpai
di daerah lainnya, seperti Indonesia, Malaysia, Thailand, serta beberapa tempat di
benua Amerika. Genus Andrographis memiliki 28 spesies herba, namun hanya
sedikit yang berkhasiat medis, salah satunya adalah Andrographis paniculata
(sambiloto). Daun sambiloto banyak mengandung senyawa Andrographolide, yang
merupakan senyawa lakton diterpenoid bisiklik.

Senyawa kimia yang rasanya pahit ini pertama kali diisolasi oleh Gorter pada
tahun1911, andrographolide memiliki sifat melindungi hati (hepatoprotektif), dan
terbukti mampu melindungi hati dari efek negatif galaktosamin dan parasetamol.
Khasiat ini berkaitan erat dengan aktifitas enzim-enzim metabolik tertentu,
sambiloto telah lama dikenal memiliki khasiat medis. Ayurveda adalah salah satu
sistem pengobatan India kuno yang mencantumkan sambiloto sebagai herba medis,
dimana sambiloto disebut dengan nama Kalmegh pada Ayurveda. Selain berkhasiat
melindungi hati, sambiloto juga dapat menekan pertumbuhan sel kanker. Hal ini
disebabkan karena senyawa aktifnya, yakni Andrographolide, menurunkan ekspresi
enzim CDK4 (cyclin dependent kinase 4).

5. Tempuyung

Tempuyung (Sonchus arvensis L) termasuk tanaman terna menahun yang


biasanya tumbuh di tempat-tempat yang ternaungi, daunnya hijau licin dengan
sedikit ungu, tepinya berombak, dan bergigi tidak beraturan. Di dekat pangkal
batang, daun bergigi itu terpusar membentuk roset dan yang terletak di sebelah atas
memeluk batang berselang seling.

Daun berombak memeluk batang inilah yang berkhasiat menghancurkan batu


ginjal, di dalam daun tersebut terkandung kalium berkadar cukup tinggi. Kehadiran
kalium dari daun tempuyung inilah yang membuat batu ginjal berupa kalsium
karbonat tercerai berai, karena kalium akan menyingkirkan kalsium untuk bergabung
dengan senyawa karbonat, oksalat, atau urat yang merupakan pembentuk batu ginjal.

Endapan batu ginjal itu akhirnya larut dan hanyut keluar bersama urine, untuk
menggunakannya sebagai obat diperlukan lima lembar daun tempuyung segar. Setelah
dicuci bersih, daun diasapkan sebentar. Daun tersebut dimakan sekali habis sebagai
lalap bersama nasi, dalam sehari kita bisa memakan lalap itu sebanyak tiga kali.

6. Beluntas

Beluntas merupakan tanaman perdu tegak, berkayu, bercabang banyak,


dengan tinggi bisa mencapai dua meter. Daun tunggal, bulat bentuk telur, ujung
runcing, berbulu halus, daun muda berwarna hijau kekuningan dan setelah tua
berwarna hijau pucat serta panjang daun 3,8-6,4 cm. Tumbuh liar di tanah dengan
kelembaban tinggi, di beberapa tempat di wilayah Jawa Barat tanaman ini digunakan
sebagai tanaman pagar dan pembatas antar guludan di perkebunan.

Beberapa daerah di Indonesia menyebut nama beluntas dengan nama yang


berbeda seperti baluntas (Madura), Luntas (Jawa Tengah), dan Lamutasa (Makasar).
Secara tradisional daun beluntas digunakan sebagai obat untuk menghilangkan bau
badan, obat turun panas, obat batuk, dan obat diare. Daun beluntas yang telah
direbus sangat baik untuk mengobati sakit kulit, disamping itu daun beluntas juga
sering dikonsumsi oleh masyarakat sebagai lalapan. Adanya informasi secara
tradisional dari masyarakat yang telah lama memanfaatkan daun beluntas sebagai
salah satu tanaman obat mendorong para peneliti untuk mengadakan berbagai
penelitian guna membuktikan khasiatnya secara ilmiah.

D. Hasil Penelitian

Kanker dan Obat Herbal


Reviewer : Prof. Dr. Achmad Fudholi DEA.,Apt

Banyak obat-obat kimiawi yang sering diberikan pada penderita kanker,


seperti doxorubicin, daunorubicin, pemberian kortikosteroid dosis tinggi, dan lain-
lain. Senyawa-senyawa tersebut umumnya mempunyai sifat toksis yang tinggi.
Akibatnya banyak penderita kanker yang jika diberi obat kimiawi tersebut ,
merasakan efek samping yang tidak mengenakkan. Upaya untuk menghindari efek
samping itu dilakukan dengan mengalihkan tindakan dari pemberian obat kimiawi ke
obat herbal. Cara alternatif pemberian obat herbal untuk mengatasi penyakit kanker
ini semakin semarak seiring dengan upaya ilmiah yang dilakukan oleh banyak
peneliti,dan akademisi baik di dalam maupun diluar negeri, untuk dapat membuktikan
khasiat obat herbal tersebut secara rasional baik laboratoris maupun klinis.

Beberapa contoh tanaman yang sudah diamati seperti daun ngokilo (Gynura
procumbens), beluntas (Pluchea indica), murbei (Morus alba), tapak doro (Vinca alba)
dan masih banyak yang lain, membuktikan mampu mengatasi penyakit kanker dengan
derajat penyembuhan yang bervariasi. Banyak penelitian yang dilakukan sampai
mengarah pada upaya mencari jawaban mekanisme aksi obat herbal tersebut terhadap
pertumbuhan sel kanker, seperti uji antimutagenesis dimaksudkan untuk memeriksa
penghambatan proses mutagenesis sel kanker, uji sitotoksisitas untuk memastikan
bahwa obat herbal tersebut dapat membunuh sel-sel kanker tertentu, atau mengarah
pada gangguan proses metabolisme tubuh dengan mekanisme adaptogen.

Pemberian obat herbal dalam terapi kanker ini mempunyai keuntungan


tersendiri, yaitu relatif aman karena efek samping yang kecil. Hal ini disebabkan
karena adanya paradigma keseimbangan dalam komponen yang ada dalam tanaman
yang digunakan untuk pengobatan kanker tersebut. Walaupun demikian banyak
penderita kanker yang mengkombinasikan penggunaan obat kimiawi dan penggunaan
obat herbal secara bersamaan, dengan pemberian selang waktu.
Fitofarmaka

Menurut peraturan Menteri Kesehatan RI No. 760/Menkes/Per/IX/1992


fitofarmaka ditakrifkan sebagai sediaan obat yang telah dibuktikan keamanan dan
khasiatnya, bahan bakunya terdiri dari simplisia atau sediaan galenik yang telah
memenuhi persyaratan yang berlaku. Untuk memenuhi persyaratan peredaran sediaan
obat, calon fitofarmaka bersangkutan harus telah lolos uji praklinik dan klinik baku.
Salah satu uji praklinik yang dapat dilakukan adalah uji ketoksikan akut.

Ketoksikan akut adalah derajat efek toksik suatu senyawa pada hewan uji
tertentu yang terjadi dalam waktu singkat setelah pemberiannya dalam dosis tunggal.
Hewan uji yang biasa digunakan adalah tikus jantan dan betina. Oleh karena itu obat
herbal yang ditujukan untuk terapi tertentu harus mengalami uji tersebut, seperti
pengujian yang pernah dilakukan dari campuran bahan herbal Form Japanicus Fr.,
Radix Pseudo Ginseng.,Ligustrum Wallichii Fr., dan Atractylodes Macrocephala K.
Tujuan pengujian tersebut adalah untuk menetapkan potensi ketoksikan akutnya, yang
dinyatakan dengan Kisaran Dosis Letal Tengah (LD50) , mekanisme yang
memerantai terjadinya kematian hewan dan spektrum efek toksiknya.Hasilnya
menunjukkan bahwa pada tikus jantan dan betina dapat disebut minimal praktis tidak
toksik, karena sampai dosis tertinggi yang dapat diterima tikus (12500mg/Kg Berat
Badan) tidak memperlihatkan spektrum efek toksik yang berarti. Selain itu untuk
mengetahui pengaruh penghambatan campuran herbal tersebut terhadap tumor fase
inisiasi dan post inisiasi pada mencit, dilakukan uji anti kankernya pada hewan uji
yang menderita kanker akibat bahan karsinogenik.

Hasilnya menunjukkan bahwa pada dosis 450 mg/Kg Berat Badan kapsul
tersebut dapat menurunkan kejadian tumor akibat pemberian karsinogenik sebesar 38-
50% untuk mencit dan 25% untuk tikus. Disamping itu campuran tersebut dapat
menghambat pertumbuhan tumor khususnya pada fase post inisiasi awal sebesar 28-
70% untuk mencit dan 40% pada tikus dengan dosis pemberian 750 mg/ Kg Berat
Badan. Analisis mekanisme kerjanya antara lain sebagai anti proliferasi, sebagai
inhibitor cyclooxygenase (COX) atau dapat pula sebagai bahan pemacu apoptosis.
Dengan demikian terbukti bahwa campuran herbal uji tersebut aman untuk
dikonsumsi, dan bagus untuk pengatasan penyakit kanker.

Sesuai dengan paradigma penggunaan obat herbal, maka beberapa hal yang
harus diperhatikan agar efektivitas penggunaan obat herbal bisa maksimum adalah :
1. Dibarengi dengan makanan vegetarian. Sedangkan makanan yang dari hewani dikurangi
atau bahkan tidak sama sekali.
2. Pembatasan aktivitas anggota tubuh yang dapat merangsang atau menghambat proses
penyembuhan penyakit yang diderita.
3. Pengendalian terhadap faktor psikologis penderita, yang secara tidak langsung dapat
mengganggu proses aktivitas aksi obat herbal dalam tubuh.