Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kurikulum adalah perangkat mata pelajaran dan program pendidikan yang
diberikan oleh suatu lembaga penyelenggara pendidikan yang berisi rancangan
pelajaran yang akan diberikan kepada peserta pelajaran dalam satu periode jenjang
pendidikan. Penyusunan perangkat mata pelajaran ini disesuaikan dengan keadaan dan
kemampuan setiap jenjang pendidikan dalam penyelenggaraan pendidikan tersebut
serta kebutuhan lapangan kerja.
Lama waktu dalam satu kurikulum biasanya disesuaikan dengan maksud dan
tujuan dari sistem pendidikan yang dilaksanakan. Kurikulum ini dimaksudkan untuk
dapat mengarahkan pendidikan menuju arah dan tujuan yang dimaksudkan dalam
kegiatan pembelajaran secara menyeluruh.
Kurikulum menjadi pedoman bagi seorang tenaga pendidik untuk memberikan
materi dan ilmu yang baik terhadap peserta didik, kurikulum juga mempunyai
perkembangan dan itulah kenapa pentingnya peran kurikulum harus di pahami.

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana perbedaan paradigma KTSP dan K13 ?
2. Bagaimana perbedaan jenis dokumen kebijakan Permen Kurikulum KTSP dan K
13 ?
3. Bagaimana perbedaan pendekatan dan metode pembelajaran KTSP dan K 13 ?
4. Bagaimana perbedaan sistem penilaian dalam KTSP dan K 13 ?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui perbedaan paradigma KTSP dan K13.
2. Untuk mengetahui perbedaan jenis dokumen kebijakan Permen Kurikulum KTSP
dan K 13.
3. Untuk mengetahui perbedaan pendekatan dan metode pembelajaran KTSP dan K
13.
4. Untuk mengetahui perbedaan sistem penilaian dalam KTSP dan K 13.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Perbedaan Paradigma KTSP dan K 13


2.1.1 Paradigma KTSP
Menurut Undang-Undang No 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional,
pendidikan merupakan suatu usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana
belajar dan proses pembelajaran, agar peserta didik secara aktif mengembangkan
potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri,
kepribadian, kecerdasan, aklak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya,
masyarakat, bangsa dan negara.
Dari uraian ini tergambar kompetensi yang perlu dicapai oleh peserta didik
dalam satu proses pendidikan. Secara umum ada tiga ciri kompetensi yang
diamanahkan oleh undang-undang, yaitu menanamkan upaya memeperoleh
pengetahuan, memiliki keterampilan dan menanamkan nilai-nilai/sikap pada peserta
didik. Ketiga aspek dasar ini merupakan dasar penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan (KTSP).
Dalam penerapan suatu kurikulum, pengelola dan pelaksana pendidikan
seharusnya memiliki pandangan kedepan yang kreatif dan inovatif. Sebab paradigma
pendidikan juga turut berkembang, seperti sifat pengajaran berkembang menjadi
pembelajaran; teacher centre berkembang ke student centre; guru bukan lagi
penceramah tetapi guru fasilitator dan mediator; metode pembelajaran juga bervariasi.
Perubahan paradigma berhubungan dengan pola berpikir dan pola bertindak
dalam memandang, menyikapi dan melaksanakan kurikulum tersebut. Pelaksanaan
kurikulum memungkinkan peserta didik mendapatkan pelayanan yang bersifat
perbaikan, pengayaan dan percepatan sesuai dengan potensi, tahap perkembangan dan
kondisi peserta didik dengan tetap memperhatikan keterpaduan pengembangan pribadi
peserta didik yang berdimensi ke-Tuhanan , keindividuan, kesosialan dan moral.
Kurikulum dilakanakan dengan menggunakan pendekatan multistrategi dan
multimedia dengan menggunakan prinsip yang berpusat pada potensi, perkembangan
kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya, beragam dan terpadu,
tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan juga seni, relevan
dengan kebutuhan kehidupan, menyeluruh dan berkesinambungan, belajar sepanjang
hayat, seimbang antara kepentingan nasional dan daerah.
Adanya perkembangan paradigma ini, guru harus pula dapat merubah pola
pikir dan pola pendidikan lama ke arah yang baru. Sifat pengajaran yang berkembang
ke pembelajaran memberikan pesan bahwa saat ini guru bukan satu-satunya sumber
belajar karena masih banyak sumber belajar yang lain. Tinggal bagaimana guru dapat
memotivasi siswa agar dapat memanfaatkan sumber-sumber belajar tersebut.
Usaha pencapaian tujuan pembelajaran, guru seharusnya sudah merancang
sejak awal dan menatanya dalam silabus sehingga proses pelaksanaan pembelajaran
lebih terarah. Silabus tersebut idealnya telah mengarah pada berbagai ranah, utamanya
ranah kognitif, afektif dan psikomotor melalui apa yang dilihat, diamati, didengar,dan
dirasakan dalam aktivitas pembelajaran siswa.
Dengan KTSP, guru mengajar supaya peserta didik memahami yang diajarkan
dan mampu memanfaatkannya dengan menerapkan pemahamannya baik untuk
memahami alami lingkungan sekitar maupun untuk solusi atau pemecahan masalah
sehari-hari. Kegiatan mengajar bukan sekedar mengingat fakta untuk persediaan
jawaban tes sewaktu ujian. Akan tetapi, kegiatan mengajar juga diharapkan mampu
memperluas wawasan pengetahuan, meningkatkan keterampilan, dan menumbuhkan
sejumlah sikap positif yang direfleksikan peserta didik melalui cara berpikir dan cara
bertindak atau berperilaku sebagai dampak hasil belajamya. Oleh karena itu cara guru
mengajar perlu diubah. Ditinjau dari esensi proses pembelajarannya, perlu adanya
pengubahan paradigma "mengajar" (teaching) menjadi "membelajarkan" (learning
how to learn) sehingga proses belajarnya cenderung dinamis dan bersifat praktis dan
analitis dalam dua dimensi yaitu: pengembangan proses eksplorasi dan proses
kreativitas. Proses eksplorasi menjadi titik pijak untuk menggali pengalaman dan
penghayatan khas peserta didik, bukan dari pihak luar, bukan dari apa yang dimaui
orang tua, guru, maupun masyarakat bahkan pemerintah sekalipun. Dari proses
tersebut dikembangkan prakarsa untuk bereksperimen-kreatif, berimajinasi-kreatif
dengan metode belajar yang memungkinkan peserta didik untuk melatih inisiatif
berpikir, mentradisikan aktivitas kreatif, mengembangkan kemerdekaan berpikir,
mengeluarkan ide, menumbuhkan kenikmatan bekerjasama, memecahkan masalah-
masalah hidup dan kehidupan nyata. Karena itu, dalam proses pembelajaran
seharusnya tampak dalam bentuk kegiatan prakarsa bebas (independent study),
komunikasi dialogis antar peserta didik maupun antara peserta didik dan guru,
spontanitas kreatif, yang kadang-kadang terkesan kurang tertib menurut pandangan
pendidikan. Guru perlu menyediakan beragam kegiatan pembelajaran yang
berimplikasi pada beragamnya pengalaman belajar supaya peserta didik mampu
mengembangkan kompetensi setelah menerapkan pemahamannya pengetahuannya.
Untuk itu strategi belajar aktif melalui multi ragam metode sangat sesuai untuk
digunakan ketika akan menerapkan KTSP.
Dalam pendidikan matematika, Marpaung (2003) menyatakan perlunya
melakukan perubahan/ pergeseran paradigma dari paradigma mengajar ke paradigma
belajar. Lebih lanjut Marpaung memerinci karakteristik paradigma belajar, yaitu:
peserta didik aktif guru aktif, pengetahuan dikonstruksi, menekankan proses dan
produk, pembelajaran luwes dan menyenangkan, sinergi pikiran dan tubuh,
berorientasi pada peserta didik, asesmen bersifat realistik, dan kemampuan sebagai
suatu penguasaan hubungan antar pengetahuan yang tersusun dalam suatu jaringan.
Untuk itu dituntut komitmen guru untuk berubah, bersikap sabar, bersikap positif,
ramah dan memiliki kompetensi tinggi. Bentuk-bentuk penilaian yang dapat
digunakan oleh guru tidak hanya berupa penilaian "tradisional" yaitu hanya melakukan
kegiatan ulangan harian tetapi perlu dikembangkan penilaian "alternatif", antara lain
adalah portofolio, tugas kelompok, demonstrasi, dan laporan tertulis. Sebagai
penjabarannya antara lain, portofolio; merupakan kumpulan tugas yang dikerjakan
peserta didik dalam konteks belajar dalam kehidupan sehari-hari. Peserta didik
diharapkan untuk mengerjakan tugas tersebut supaya lebih kreatif. Mereka
memperoleh kebebasan dalam belajar sekaligus memperoleh kesempatan luas untuk
berkembang serta merekapun termotivasi. Penilaian ini tidak perlu mendapatkan
penilaian angka, melainkan melihat pada proses peserta didik sebagai pembelajaran
aktif. Sebagai contoh, peserta didik diminta untuk melakukan survei mengenai jenis-
jenis pekerjaan di lingkungan rumahnya.
Tugas kelompok, dalam pembelajaran kontekstual berbentuk pengerjaan
proyek. Kegiatan ini merupakan cara untuk mencapai tujuan akademik sambil
mengakomodasi perbedaan gaya belajar, minat, serta bakat dari masing-masing
peserta didik. Isi dari proyek akademik terkait dengan konteks kehidupan nyata, oleh
karena itu tugas ini dapat meningkatkan partisipasi peserta didik. Sebagai contoh,
peserta didik diminta membentuk kelompok projek untuk menyelidiki penyebab
pencemaran sungai di lingkungan peserta didik.
Demonstrasi, peserta didik diminta menampilkan hasil penugasan kepada
orang lain mengenai kompetensi yang telah mereka kuasai. Demonstrasi ini dapat
dilakukan di kelas atau di luar kelas. Di dalam kelas antara lain dapat dilakukan dalam
kegiatan laboratorium IPA, di lapangan olahraga untuk pelajaran Pendidikan Jasmani
dan Olahraga. Di luar kelas antara lain peserta didik diminta membentuk kelompok
untuk membuat naskah drama dan mementaskannya dalam pertunjukan, para
penonton dapat memberikan evaluasi pertunjukan peserta didik.

2.1.2 Paradigma K 13
Paradigma dimaknai oleh Prof. Heidy Ahimsa-Putra (guru besar FIB UGM)
sebagai seperangkat konsep yang berhubungan satu sama lain secara logis membentuk
suatu kerangka pemikiran. Konsep-konsep yang ditawarkan oleh kemdikbud terbilang
baru karena semua mata pelajaran yang ada dalam pembelajaran di kelas berbasis
saintifik (scientific learning). Kumpulan konsep-konsep ini merupakan kesatuan,
karena konsep-konsep ini berhubungan secara logis.
Dari perspektif peserta didik dengan pendidik, kurikulum 2013 menghendaki
adanya student center, artinya pembelajaran terpusat pada peserta didik yang menuntut
keaktifan peserta didik dalam pembelajaran. Sedangkan pada perspektif sebelumnya,
gurulah yang menjadi aktor utama dalam kelas sehingga pembelajaran di kelas tampak
menjenuhkan.
Di dalam Kurikulum 2013, guru bertugas sebagai fasilitator dan motivator bagi
peserta didik. Selain itu, prinsip dasar pada Kurikulum 2013 ini berupaya untuk
mengoptimalkan keingintahuan peserta didik. Semula, peserta didik diberi tahu oleh
guru, maka sekarang peserta didik dituntut untuk mencari tahu segala hal yang
berkaitan dengan materi pembelajaran.
Dalam kurikulum KTSP, pembelajaran Bahasa Indonesia terdapat kompetensi
membaca, menulis, mendengarkan, serta berbicara yang masuk dalam materi-materi
yang telah ditentukan. Maka dalam Kurikulum 2013 ini, semua kompetensi tersebut
melebur menjadi satu, tidak lagi terkotak-kotak antara kompetensi satu dengan yang
lain karena semua materi pembelajaran berbasis teks. Itu sebabnya, dalam
pembelajaran ini tidak boleh dilihat secara parsial, melainkan secara utuh. Dengan
pembelajaran teks ini, maka konsekuensinya peserta didik diajak guru untuk belajar
secara bertahap, dimulai dari guru membangun konteks, dilanjutkan kegiatan
pemodelan, membangun teks secara bersama-sama, sampai pada membangun teks
secara mandiri. Hal ini dilakukan karena teks merupakan satuan bahasa yang lengkap,
karena di dalam teks juga erat kaitannya dengan konteks. Maka, ketika mempelajari
suatu teks secara bersama-sama peserta didik juga belajar tentang konteks yang telah
ditentukan. Perbedaan mendasar antara
Kurikulum KTSP dengan Kurikulum 2013, yaitu mata pelajaran tertentu
mendukung kompetensi tertentu dan mapel dirancang berdiri sendiri, sedangkan pada
Kurikulum 2013 setiap mata pelajaran mendukung semua kompetensi dan mapel
dirancang terkait satu dengan yang lain (terintegrasi).
Jika dibandingkan dengan kurikulum sebelumnya, Kurikulum 2013 memiliki
karakteristik tersendiri, yaitu dengan pendekatan saintifik. Seperti yang telah
disinggung di atas, pendekatan ini memiliki perubahan yang mendasar, karena siswa
diajak untuk berpikir secara ilmiah. Perubahan itu tampak pada langkah-langkah
pembelajaran, dimulai dari kegiatan (1) mengamati (observasi), (2) menanya, (3)
mengumpulkan informasi (bernalar), (4) menganalisis, dan (5) mengomunikasikan
(mempresentasikan). Kemudian, pemerintah menambahkan satu kegiatan lagi yang
bersifat opsional, yaitu (6) mencipta (biasanya terdapat pada mata pelajaran IPA).
Langkah-langkah tersebut dapat diimplementasikan pada semua mata pelajaran
dengan harapan terjadi proses pembelajaran yang bersifat ilmiah.

2.2 Perbedaan Jenis Dokumen Kebijakan Permen KTSP dan K 13


2.2.1 Jenis Dokumen Kebijakan Permen KTSP
Kebijakan kurikulum 2006 ini dikenal dengan Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan (KTSP). Ciri yang paling menonjol adalah guru diberikan kebebasan untuk
merencanakan pembelajaran sesuai dengan lingkungan dan kondisi siswa serta kondisi
sekolah berada. Hal ini disebabkan Karangka Dasar (KD), Standar Kompetensi
Lulusan (SKL), dan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar (SKKD) setiap mata
pelajaran untuk setiap satuan pendidikan telah ditetapkan oleh Departemen Pendidikan
Nasional.Tujuan KTSP meliputi tujuan pendidikan nasional serta kesesuaian dengan
kekhasan, kondisi, potensi daerah, satuan pendidikan dan peserta didik. Oleh sebab
itu, kurikulum disusun oleh satuan pendidikan untuk memungkinkan penyesuaian
program pendidikan dengan kebutuhan dan potensi yang ada di daerahnya.
Landasan Hukum Penyusunan KTSP

A. Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.


- Pasal 36 ayat (1) :Pengembangan Kurikulum dilakukan dengan mengacu
pada Standar Nasional Pendidikan untuk mewujudkan tujuan pendidikan
nasional.
- Pasal 36 ayat (2) : Kurikulum pada semua jenjang dan jenis pendidikan
dikembangkan dengan prinsip diversifikasi, sesuai dengan satuan pendidikan,
potensi daerah dan peserta didik.
- Pasal 38 ayat (2) : Kurikulum pendidikan dasar dan menengah dikembangkan
sesuai dengan relevansinya oleh setiap kelompok atau satuan pendidikan dan
Komite Sekolah/Madrasah di bawah koordinasi dan supervisi Dinas
Pendidikan atau kantor Departemen Agama kabupaten/kota untuk pendidikan
dasar, dan provinsi untuk pendidikan menenga
Komponen KTSP meliputi 3 dokumen. Dokumen 1 yang disebut dengan Buku
I KTSP berisi sekurang-kurangnya visi, misi, tujuan, muatan, pengaturan beban
belajar, dan kalender pendidikan. Dokumen 2 yang disebut dengan Buku II KTSP
berisi silabus dan dokumen 3 yang disebut dengan Buku III KTSP berisi rencana
pelaksanaan pembelajaran yang disusun sesuai potensi, minat, bakat, dan kemampuan
peserta didik di lingkungan belajar. Penyusunan Buku I KTSP menjadi tanggung
jawab kepala sekolah/madrasah, sedangkan penyusunan Buku III KTSP menjadi
tanggung jawab masing-masing tenaga pendidik. Buku II KTSP sudah disusun oleh
Pemerintah.
1. Visi, Misi, dan Tujuan:
a. Visi Satuan Pendidikan
1) Satuan Pendidikan merumuskan dan menetapkan visi serta
mengembangkannya.
2) Visi Satuan Pendidikan:
a) dijadikan sebagai cita-cita bersama warga satuan pendidikan dan segenap
pihak yang berkepentingan pada masa yang akan datang;
b) mampu memberikan inspirasi, motivasi, dan kekuatan pada warga satuan
pendidikan dan segenap pihak yang berkepentingan;
c) dirumuskan berdasar masukan dari berbagai warga satuan pendidikan dan
pihak-pihak yang berkepentingan, selaras dengan visi institusi di atasnya
serta visi pendidikan nasional;
d) diputuskan oleh rapat dewan guru yang dipimpin oleh kepala
sekolah/madrasah dengan memperhatikan masukan komite
sekolah/madrasah;
e) disosialisasikan kepada warga satuan pendidikan dan segenap pihak yang
berkepentingan;
f) ditinjau dan dirumuskan kembali secara berkala sesuai dengan
perkembangan dan tantangan di masyarakat.
b. Misi Satuan Pendidikan
1) Satuan Pendidikan merumuskan dan menetapkan misi serta
mengembangkannya.
2) Misi Satuan Pendidikan:
a) memberikan arah dalam mewujudkan visi satuan pendidikan sesuai dengan
tujuan pendidikan nasional;
b) merupakan tujuan yang akan dicapai dalam kurun waktu tertentu;
c) menjadi dasar program pokok satuan pendidikan;
d) menekankan pada kualitas layanan peserta didik dan mutu lulusan yang
diharapkan oleh satuan pendidikan;
e) memuat pernyataan umum dan khusus yang berkaitan dengan program
satuan pendidikan;
f) memberikan keluwesan dan ruang gerak pengembangan kegiatan satuan-
satuan unit satuan pendidikan yang terlibat;
g) dirumuskan berdasarkan masukan dari segenap pihak yang berkepentingan
termasuk komite sekolah/madrasah dan diputuskan oleh rapat dewan guru
yang dipimpin oleh kepala sekolah/madrasah;
h) disosialisasikan kepada warga satuan pendidikan dan segenap pihak yang
berkepentingan;
i) ditinjau dan dirumuskan kembali secara berkala sesuai dengan
perkembangan dan tantangan di masyarakat.
c. Tujuan Satuan Pendidikan
1) Satuan Pendidikan merumuskan dan menetapkan tujuan serta
mengembangkannya.
2) Tujuan Satuan Pendidikan:
a) menggambarkan tingkat kualitas yang perlu dicapai dalam jangka
menengah (empat tahunan);
b) mengacu pada visi, misi, dan tujuan pendidikan nasional serta relevan
dengan kebutuhan masyarakat;
c) mengacu pada standar kompetensi lulusan yang sudah ditetapkan oleh
satuan pendidikan dan Pemerintah;
d) mengakomodasi masukan dari berbagai pihak yang berkepentingan
termasuk komite sekolah/madrasah dan diputuskan oleh rapat dewan guru
yang dipimpin oleh kepala sekolah/madrasah;
e) disosialisasikan kepada warga satuan pendidikan dan segenap pihak yang
berkepentingan.
2. Muatan Kurikuler
Muatan KTSP terdiri atas muatan nasional dan muatan lokal. Muatan KTSP
diwujudkan dalam bentuk struktur kurikulum satuan pendidikan dan penjelasannya.
a. Muatan nasional
Muatan kurikulum pada tingkat nasional terdiri atas kelompok mata pelajaran A,
kelompok mata pelajaran B, dan khusus untuk SMA/MA/SMK/MAK ditambah
dengan kelompok mata pelajaran C (peminatan), termasuk bimbingan konseling dan
ekstrakurikuler wajib pendidikan kepramukaan.
b. Muatan lokal
Muatan lokal yang dikembangkan oleh pemerintah daerah provinsi atau
kabupaten/kota sesuai dengan kewenangannya dan/atau satuan pendidikan dapat
berbentuk sejumlah bahan kajian terhadap keunggulan dan kearifan daerah tempat
tinggalnya yang menjadi:
1) bagian mata pelajaran kelompok B; dan/atau
2) mata pelajaran yang berdiri sendiri pada kelompok B sebagai mata pelajaran
muatan lokal dalam hal pengintegrasian tidak dapat dilakukan.
Bimbingan konseling dapat diselenggarakan melalui tatap muka di kelas sebagai
muatan kurikulum yang ditetapkan pada tingkat satuan pendidikan.
3. Pengaturan Beban Belajar dan Beban Kerja sebagai Pendidik
a. Beban belajar diatur dalam Sistem Paket atau Sistem Kredit Semester.
1) Sistem Paket
Beban belajar dengan sistem paket sebagaimana diatur dalam struktur kurikulum
setiap satuan pendidikan merupakan pengaturan alokasi waktu untuk setiap mata
pelajaran yang terdapat pada semester gasal dan genap dalam satu tahun ajaran. Beban
belajar pada sistem paket terdiri atas pembelajaran tatap muka, penugasan terstruktur,
dan kegiatan mandiri.
Beban belajar penugasan terstruktur dan kegiatan mandiri, maksimal 40% untuk
SD/MI, maksimal 50% untuk SMP/MTs, dan maksimal 60% untuk
SMA/MA/SMK/MAK dari waktu kegiatan tatap muka mata pelajaran yang
bersangkutan.
2) Sistem Kredit Semester
Sistem Kredit Semester (SKS) dapat diselenggarakan pada SMP/MTs,
SMA/MA, dan SMK/MAK yang terakreditasi A dari BAN S/M. Beban belajar setiap
mata pelajaran pada SKS dinyatakan dalam satuan kredit semester (sks).
Beban belajar kegiatan tatap muka, kegiatan terstruktur, dan kegiatan mandiri pada
satuan pendidikan yang menggunakan SKS mengikuti aturan sebagai berikut:
a) Pada SMP/MTs 1 (satu) sks terdiri atas: 40 menit kegiatan tatap muka, 40 menit
kegiatan terstruktur, dan 40 menit kegiatan mandiri.
b) Pada SMA/MA/SMK/MAK 1 (satu) sks terdiri atas: 45 menit kegiatan tatap
muka, 45 menit kegiatan terstruktur, dan 45 menit kegiatan mandiri.
b. Beban Belajar Tambahan
Satuan pendidikan boleh menambah beban belajar berdasarkan pertimbangan
kebutuhan belajar peserta didik dan/atau kebutuhan akademik, sosial, budaya, dan
faktor lain yang dianggap penting oleh satuan pendidikan dan/atau daerah, atas beban
pemerintah daerah atau satuan pendidikan yang menetapkannya.
4. Kalender Pendidikan
Kurikulum satuan pendidikan pada setiap jenis dan jenjang diselenggarakan
dengan mengikuti kalender pendidikan. Kalender pendidikan merupakan pengaturan
waktu untuk kegiatan pembelajaran peserta didik selama satu tahun ajaran yang
mencakup permulaan tahun ajaran, minggu efektif belajar, waktu pembelajaran efektif,
dan hari libur.
a. Permulaan Tahun Ajaran
Permulaan tahun ajaran adalah waktu dimulainya kegiatan pembelajaran pada awal
tahun ajaran pada setiap satuan pendidikan.
b. Pengaturan Waktu Belajar Efektif
1) Minggu efektif belajar adalah jumlah minggu kegiatan pembelajaran untuk
setiap tahun ajaran pada setiap satuan pendidikan,
2) Waktu pembelajaran efektif adalah jumlah jam pembelajaran setiap minggu
yang meliputi jumlah jam pembelajaran untuk seluruh mata pelajaran termasuk
muatan lokal, ditambah jumlah jam untuk kegiatan lain yang dianggap penting
oleh satuan pendidikan, yang pengaturannya disesuaikan dengan keadaan dan
kondisi daerah.
c. Pengaturan Waktu Libur
Penetapan waktu libur dilakukan dengan mengacu pada ketentuan yang berlaku
tentang hari libur, baik nasional maupun daerah. Waktu libur dapat berbentuk jeda
tengah semester, jeda antarsemester, libur akhir tahun ajaran, hari libur keagamaan,
hari libur umum termasuk hari-hari besar nasional, dan hari libur khusus.
B. Peraturan Pemerintah RI Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional
Pendidikan.
- Pasal 1 ayat (15) ; Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah
kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing
satuan pendidikan.
- Pasal 6 ayat (1) : Kurikulum untuk jenis pendidikan umum, kejuruan dan
khusus pada jenjang pendidikan dasar dan menengah terdiri atas :
1) Kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia.
2) Kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan akhlak mulia.
3) Kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi.
4) Kelompok mata pelajaran estetika.
5) Kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga dan kesehatan.
- Pasal 6 ayat (4) : Setiap kelompok mata pelajaran (KMP) dilaksanakan secara
holistik sehingga pembelajaran masing-masing kelompok mata pelajaran
mempengaruhi pemahaman dan/atau penghayatan peserta didik.
- Pasal 6 ayat (5) : Semua kelompok mata pelajaran sama pentingnya dalam
menentukan kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan pada pendidikan
dasar dan menengah.
- Pasal 6 ayat (6) : Kurikullum dan silabus SD/MI/SDLB/PAKET A, atau
bentuk lain yang sederajat, menekankan pentingnya kemampuan dan
kegemaran membaca dan menulis, kecakapan berhitung, serta kemampuan
berkomunikasi.
- Pasal 8 ayat (1) : Kedalaman muatan kurikulum pada setiap satuan
pendidikan dituangkan dalam kompetensi pada setiap tingat dan/atau semester
sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan.
- Pasal 13 dan 14 menekankan bahwa Kurikulum
SMP/MTs./SMPLB/SMA/MA/SMALB : Dapat memasukkan pendidikan
kecakapan hidup dan dapat memasukkan pendidikan berbasis keunggulan
lokal.
- Pasal 16 ayat (1) : Penyusunan kurikulum pada tingkat satuan pendidikan
jenjang pendidikan dasar dan menengah berpedoman pada panduan yang
disusun oleh BSNP.
- Pasal 17 ayat (1) ; Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan.
dikembangkan sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah/karakteristik
daerah, sosial budaya masyarakat setempat, dan peserta didik.
- Pasal 17 ayat (2) : Sekolah dan komite Sekolah, atau madrasah dan komite
madrasah, mengembangkan Kurikulum Tingkat satuan Pendidikan dan
silabusnya berdasarkan Kerangka dasar kurikulum dan Standar kompetensi
lulusan, di bawah supervisi Dinas Kabupaten/Kota yang bertanggungjawab di
bidang pendidikan untuk SD,SMP,SMA dan SMK ; dan departemen yang
menangani urusan pemerintah di bidang agama untuk MI,MTs., MA dan
MAK.
C. Peraturan Mendiknas RI Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar isi
Dalam dokumen ini dibahas standar isi sebagaimana dimaksud oleh Peraturan
Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005, yang secara keseluruhan mencakup:
1. kerangka dasar dan struktur kurikul um yang merupakan pedoman dalam
penyusunan kurikulum pada tingkat satuan pendidikan,
2. beban belajar bagi peserta didik pada satuan pendidikan dasar dan menengah,
3. kurikulum tingkat satuan pendidikan yang akan dikembangkan oleh satuan
pendidikan berdasarkan panduan penyusunan kurikulum sebagai bagian tidak
terpisahkan dari standar isi, dan
4. kalender pendidikan untuk penyelenggaraan pendidikan pada satuan pendidikan
jenjang pendidikan dasar dan menengah.
D. Peraturan Mendiknas RI Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi
Kelulusan.
Kompetensi adalah kemampuan bersikap, berpikir, dan bertindak secara
konsisten sebagai perwujudan dari pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang dimiliki
peserta didik. Standar Kompetensi adalah ukuran kom-petensi minimal yang harus
dicapai peserta didik setelah mengikuti suatu proses pembelajaran pada satuan
pendidikan tertentu. Standar Kompetensi Lulusan adalah kualifikasi kemampuan
lulusan yang mencakup pengetahuan, sikap, dan keterampilan.
Fungsi Standar Kompetensi Lulusan antara lain :
Standar kompetensi lulusan digunakan sebagai pedoman penilaian dalam
penentuan kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan.
Standar kompetensi lulusan pada jenjang pendidikan dasar bertujuan untuk
meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, ahklak mulia, serta
keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.
Standar kompetensi lulusan pada satuan pendidikan menengah umum bertujuan
untuk meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, ahklak mulia, serta
keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.
Standar kompetensi lulusan pada satuan pendidikan menengah kejuruan bertujuan
untuk meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, ahklak mulia, serta
keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai
dengan kejuruannya.
Ruang Lingkup SKL
1. SKL Satuan Pendidikan SMA
a) Berperilaku sesuai dengan ajaran agama yang dianut sesuai dengan
perkembangan remaja
b) Mengembangkan diri secara optimal dengan memanfaatkan kelebihan diri
serta memperbaiki kekurangannya
c) Menunjukkan sikap percaya diri dan bertanggung jawab atas perilaku,
perbuatan, dan pekerjaannya
d) Berpartisipasi dalam penegakan aturan-aturan sosial
e) Menghargai keberagaman agama, bangsa, suku, ras, dan golongan sosial
ekonomi dalam lingkup global.
f) Membangun dan menerapkan informasi dan pengetahuan secara logis, kritis,
kreatif, dan inovatif
g) Menunjukkan kemampuan berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif dalam
pengambilan keputusan
h) Menunjukkan kemampuan mengembangkan budaya belajar untuk
pemberdayaan diri
i) Menunjukkan sikap kompetitif dan sportif untuk mendapatkan hasil yang
terbaik
j) Menunjukkan kemampuan menganalisis dan memecahkan masalah kompleks
k) Menunjukkan kemampuan menganalisis gejala alam dan sosial
l) Memanfaatkan lingkungan secara produktif dan bertanggung jawab
m) Berpartisipasi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara
secara demokratis dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia
n) Mengekspresikan diri melalui kegiatan seni dan budaya
o) Mengapresiasi karya seni dan budaya
p) Menghasilkan karya kreatif, baik individual maupun kelompok
q) Menjaga kesehatan dan keamanan diri, kebugaran jasmani, serta kebersihan
lingkungan
r) Berkomunikasi lisan dan tulisan secara efektif dan santun
s) Memahami hak dan kewajiban diri dan orang lain dalam pergaulan di
masyarakat
t) Menghargai adanya perbedaan pendapat dan berempati terhadap orang lain
u) Menunjukkan keterampilan membaca dan menulis naskah secara sistematis
dan estetis
v) Menunjukkan keterampilan menyimak, membaca, menulis, dan berbicara
dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris
w) Menguasai pengetahuan yang diperlukan untuk mengikuti pendidikan tinggi

2. SKL Kelompok Mata Pelajaran

a) Agama dan Akhlak Mulia, bertujuan: membentuk peserta didik menjadi


manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta
berakhlak mulia. Tujuan tersebut dicapai melalui muatan dan/atau kegiatan
agama, kewarganegaraan, kepribadian, ilmu pengetahuan dan teknologi,
estetika, jasmani, olahraga, dan kesehatan.
b) Kewarganegaraan dan Budi Pekerti, bertujuan: membentuk peserta didik
menjadi manusia yang memiliki rasa kebangsaan dan cinta tanah air. Tujuan
ini dicapai melalui muatan dan/atau kegiatan agama, akhlak mulia,
kewarganegaraan, bahasa, seni dan budaya, dan pendidikan jasmani.
c) Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, bertujuan: mengembangkan logika,
kemampuan berpikir dan analisis peserta didik. Pada satuan pendidikan
SMA/MA/SMALB/Paket C, tujuan ini dicapai melalui muatan dan/atau
kegiatan bahasa, matematika, ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan sosial,
keterampilan/kejuruan, teknologi informasi dan komunikasi, serta muatan
lokal yang relevan.
d) Estetika, bertujuan: membentuk karakter peserta didik menjadi manusia yang
memiliki rasa seni dan pemahaman budaya. Tujuan ini dicapai melalui muatan
dan/atau kegiatan bahasa, seni dan budaya, keterampilan, dan muatan lokal
yang relevan.
e) Jasmani Olahraga dan Kesehatan, bertujuan: membentuk karakter peserta didik
agar sehat jasmani dan rohani, dan menumbuhkan rasa sportivitas. Tujuan ini
dicapai melalui muatan dan/atau kegiatan pendidikan jasmani, olahraga,
pendidikan kesehatan, ilmu pengetahuan alam, dan muatan lokal yang relevan.
3. SKL Mata Pelajaran

2.2.2 Jenis Dokumen Kebijakan Permen K 13


Berkaitan dengan upaya standarisasi pendidikan nasional, Pemerintah melalui
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan telah menerbitkan sejumlah peraturan baru,
diantaranya:
1. Permendikbud No. 20 Tahun 2016 tentang Standar Kompetensi Lulusan
Pendidikan Dasar dan Menengahyang
Digunakan sebagai acuan utama pengembangan standar isi, standar proses,
standar penilaian pendidikan,standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar
sarana dan prasarana, standar pengelolaan, dan standar pembiayaan. Dengan
diberlakukanya Peraturan Menteri ini, maka Peraturan Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan Nomor 54 Tahun 2013 Tentang Standar Kompetensi Lulusan untuk
Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.
2. Permendikbud No. 21 Tahun 2016 tentang Standar Isi Pendidikan Dasar dan
Menengah
Yang emuat tentang Tingkat Kompetensi dan Kompetensi Inti sesuai dengan
jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Kompetensi Inti meliputi sikap spiritual, sikap
sosial, pengetahuan dan ketrampilan. Ruang lingkup materi yang spesifik untuk setiap
mata pelajaran dirumuskan berdasarkan Tingkat Kompetensi dan Kompetensi Inti
untuk mencapai kompetensi lulusan minimal pada jenjang dan jenis pendidikan
tertentu. Dengan diberlakukannya Peraturan Menteri ini, maka Peraturan Menteri
Pendidikan Nasional Nomor 64 Tahun 2013 tentang Standar Isi untuk Satuan
Pendidikan Dasar dan Menengah, dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.
3. Permendikbud No. 22 Tahun 2016 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan
Menengah
Merupakan kriteria mengenai pelaksanaan pembelajaran pada satuan pendidikan
dasar dan satuan pendidikan dasar menengah untuk mencapai kompetensi lulusan.
Dengan diberlakukanya Peraturan Menteri ini, maka Peraturan Menteri Pendidikan
Nasional Nomor 65 Tahun 2013 Tentang Standar Proses untuk Satuan Pendidikan
Dasar dan Menengah, dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.
4. Permendikbud No. 23 Tahun 2016 tentang Standar Penilaian Pendidikan
Merupakan kriteria mengenai lingkup, tujuan, manfaat, prinsip, mekanisme,
prosedur, dan instrumen penilaian hasil belajar peserta didik yang digunakan sebagai
dasar dalam penilaian hasil belajar peserta didik pada pendidikan dasar dan pendidikan
menengah. Dengan diberlakukannya Peraturan Menteri ini, maka Peraturan Menteri
Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 66 Tahun 2013 tentang Standar Penilaian
Pendidikan dan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 104 Tahun
2014 tentang Penilaian Hasil Belajar oleh Pendidik Pada Pendidikan Dasar dan
Pendidikan Menengah dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.

2.3 Perbedaan Pendekatan dan Metode Pembelajaran KTSP dan K 13


2.3.1 Pendekatan dan Metode Pembelajaran KTSP
Pembelajaran KTSP menggunakan pendekatan dengan EEK (Eksplorasi ,
Elaborasi, dan konfirmasi
1. Eksplorasi
Eksplorasi adalah upaya awal membangun pengetahuan melalui peningkatan
pemahaman atas suatu fenomena (American Dictionary). Model pembelajaran ini
dapat dikembangkan melalui bentuk pertanyaan. Seperti yang dikatakan oleh Socrates
bahwa pertanyaan yang baik dapat meningkatkan motivasi siswa untuk
mengeksplorasi ilmu pengetahuan lebih mendalam.
Eksplorasi merupakan proses kerja dalam memfasilitasi proses belajar siswa dari
tidak tahu menjadi tahu. Siswa menghubungkan pikiran yang terdahulu dengan
pengalaman belajarnya. Mereka menggambarkan pemahaman yang mendalam untuk
memberikan respon yang mendalam juga. Bagaimana membedakan peran masing-
masing dalam kegiatan belajar bersama. Mereka melakukan pembagian tugas seperti
dalam tugas merekam, mencari informasi melalui internet serta memberikan respon
kreatif dalamberdialog.
Ciri-ciri pembelajaran berbasis eksplorasi : (1) Melibatkan peserta didik mencari
informasi (topik tertentu), (2) Menggunakan beragam pendekatan ,media dan sumber
belajar,(3) Memfasilitasi terjadinya interaksi antar peserta didik.
2. Elaborasi
Elaborasi adalah kegiatan inti pembelajaran.Ciri-ciri pembelajaran berbasis
Elaborasi : (1) Membiasakan peserta didik untuk membaca dan menulis yang beragam
melalui tugas tertentu,(3) Memfasilitasi peserta didik untuk memunculkan gagasan
baru melalui pemberian tugas, (4) Memberi kesemptan siswa untuk
berpikir,menganalisa,menyelesaikan masalah dan bertindak tanpa rasa takut.,(5)
kooperatif,(6) berkompetisi secara sehat, (7) Membuat laporan.
3. Konfirmasi
Konfirmasi merupakan tahap akhir dari pembelajaran. Pada bagian ini guru
memberikan feedback terhadap para peserta didik.Ciri-ciri pembelajaran berbasis
konfirmasi : (1) Guru memberi umpan balik positip terhadap hasi belajar anak didik,(2)
Guru memberi konfirmasi hasil eksplorasi peserta didik, (3) Guru memberi
kesempatan kepada peserta didik untuk merefleksi pengalamn belajarnya

Model pembelajaran adalah bentuk pembelajaran yang menggambarkan


kegiatan dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru. Dalam model
pembelajaran terdapat strategi pencapaian kompetensi peserta didik dengan
pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran tertentu
1. Examples Non Examples
Contoh dapat dari kasus / gambar yang relevan dengan KD
Langkah-langkah :
1) Guru mempersiapkan gambar-gambar sesuai dengan tujuan pembelajaran
2) Guru menempelkan gambar di papan atau ditayangkan melalui OHP
3) Guru memberi petunjuk dan memberi kesempatan pada peserta didik untuk
memperhatikan/menganalisis gambar
4) Melalui diskusi kelompok 2-3 orang peserta didik, hasil diskusi dari analisis
gambar tersebut dicatat pada kertas
5) Tiap kelompok diberi kesempatan membacakan hasil diskusinya
6) Mulai dari komentar/hasil diskusi peserta didik, guru mulai menjelaskan materi
sesuai tujuan yang ingin dicapai
7) Kesimpulan
2. Picture and Picture
Langkah-langkah :
1) Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai
2) Menyajikan materi sebagai pengantar
3) Guru menunjukkan/memperlihatkan gambar-gambar kegiatan berkaitan
dengan materi
4) Guru menunjuk/memanggil peserta didik secara bergantian untuk
memasang/mengurutkan gambar-gambar menjadi urutan yang logis
5) Guru menanyakan alasan/dasar pemikiran urutan gambar tersebut
6) Dari alasan/urutan gambar tersebut guru memulai menanamkan konsep/materi
sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai
7) Kesimpulan/rangkuman
3. Numbered Heads Together
Langkah-langkah :
1) Siswa dibagi dalam kelompok, setiap siswa dalam setiap kelompok mendapat
nomor
2) Guru memberikan tugas dan masing-masing kelompok mengerjakannya
3) Kelompok mendiskusikan jawaban yang benar dan memastikan tiap anggota
kelompok dapat mengerjakannya/mengetahui jawabannya
4) Guru memanggil salah satu nomor siswa dengan nomor yang dipanggil
melaporkan hasil kerjasama mereka
5) Tanggapan dari teman yang lain, kemudian guru menunjuk nomor yang lain
6) Kesimpulan
4. Cooperative SCRIPT
Skrip kooperatif : metode belajar dimana siswa bekerja berpasangan dan
bergantian secara lisan mengikhtisarkan, bagian-bagian dari materi yang dipelajari
Langkah-langkah :
1) Guru membagi siswa untuk berpasangan
2) Guru membagikan wacana/materi tiap siswa untuk dibaca dan membuat
ringkasan
3) Guru dan siswa menetapkan siapa yang pertama berperan sebagai pembicara
dan siapa yang berperan sebagai pendengar
Pembicara membacakan ringkasannya selengkap mungkin, dengan
memasukkan ide-ide pokok dalam ringkasannya. Sementara pendengar :
- Menyimak/mengoreksi/menunjukkan ide-ide pokok yang kurang
lengkap
- Membantu mengingat/menghafal ide-ide pokok dengan
menghubungkan materi sebelumnya atau dengan materi lainnya
4) Bertukar peran, semula sebagai pembicara ditukar menjadi pendengar dan
sebaliknya. Serta lakukan seperti diatas.
5) Kesimpulan Siswa bersama-sama dengan Guru
6) Penutup
5. Kepala Bernomor Struktur (Modifikasi Dari Number Heads)
Langkah-langkah :

1) Siswa dibagi dalam kelompok, setiap siswa dalam setiap kelompok mendapat
nomor
2) Penugasan diberikan kepada setiap siswa berdasarkan nomorkan terhadap
tugas yang berangkai
3) Misalnya : siswa nomor satu bertugas mencatat soal. Siswa nomor dua
mengerjakan soal dan siswa nomor tiga melaporkan hasil pekerjaan dst
4) Jika perlu, guru bisa menyuruh kerja sama antar kelompok. Siswa disuruh
keluar dari kelompoknya dan bergabung bersama beberapa siswa bernomor
sama dari kelompok lain. Dalam kesempatan ini siswa dengan tugas yang sama
bisa saling membantu atau mencocokkan hasil kerja sama mereka
5) Laporkan hasil dan tanggapan dari kelompok yang lain
6) Kesimpulan
6. Student Teams-Achievement Divisions (Stad) Tim Siswa Kelompok Prestasi
Langkah-langkah :
1) Membentuk kelompok yang anggotanya = 4 orang secara heterogen (campuran
menurut prestasi, jenis kelamin, suku, dll)
2) Guru menyajikan pelajaran
3) Guru memberi tugas kepada kelompok untuk dikerjakan oleh anggota-anggota
kelompok. Anggotanya tahu menjelaskan pada anggota lainnya sampai semua
anggota dalam kelompok itu mengerti.
4) Guru memberi kuis/pertanyaan kepada seluruh siswa. Pada saat menjawab kuis
tidak boleh saling membantu
5) Memberi evaluasi
6) Kesimpulan
7. Jigsaw (Model Tim Ahli)
Langkah-langkah :
1) Siswa dikelompokkan ke dalam = 4 anggota tim
2) Tiap orang dalam tim diberi bagian materi yang berbeda
3) Tiap orang dalam tim diberi bagian materi yang ditugaskan
4) Anggota dari tim yang berbeda yang telah mempelajari bagian/sub bab yang
sama bertemu dalam kelompok baru (kelompok ahli) untuk mendiskusikan sub
bab mereka
5) Setelah selesai diskusi sebagai tim ahli tiap anggota kembali ke kelompok asal
dan bergantian mengajar teman satu tim mereka tentang sub bab yang mereka
kuasai dan tiap anggota lainnya mendengarkan dengan sungguh-sungguh
6) Tiap tim ahli mempresentasikan hasil diskusi
7) Guru memberi evaluasi
8) Penutup
8. Problem Based Introductuon (PBI)
Langkah-langkah :
1) Guru menjelaskan tujuan pembelajaran. Menjelaskan logistik yang
dibutuhkan. Memotivasi siswa terlibat dalam aktivitas pemecahan masalah
yang dipilih.
2) Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar
yang berhubungan dengan masalah tersebut (menetapkan topik, tugas, jadwal,
dll.)
3) Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai,
eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah,
pengumpulan data, hipotesis, pemecahan masalah.
4) Guru membantu siswa dalam merencanakan menyiapkan karya yang sesuai
seperti laporan dan membantu mereka berbagi tugas dengan temannya
5) Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap
penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka gunakan

2.3.2 Pendekatan dan Metode Pembelajaran K 13


Dalam pembelajaran kurikulum 2013 sering menggunakan pendekatan Saintific.
Ada lima kegiatan utama di dalam proses pembelajaran menggunakan pendekatan
saintifik, yaitu:
1. Mengamati
Mengamati dapat dilakukan antara lain melalui kegiatan mencari informasi,
melihat, mendengar, membaca, dan atau menyimak.
2. Menanya
Menanya untuk membangun pengetahuan peserta didik secara faktual,
konseptual, dan prosedural, hingga berpikir metakognitif, dapat dilakukan melalui
kegiatan diskusi, kerja kelompok, dan diskusi kelas.
3. Mencoba
Mengeksplor/mengumpulkan informasi, atau mencoba untuk meningkatkan
keingintahuan peserta didik dalam mengembangkan kreatifitas, dapat dilakukan
melalui membaca, mengamati aktivitas, kejadian atau objek tertentu, memperoleh
informasi, mengolah data, dan menyajikan hasilnya dalam bentuk tulisan, lisan, atau
gambar.
4. Mengasosiasi
Mengasosiasi dapat dilakukan melalui kegiatan menganalisis data,
mengelompokan, membuat kategori, menyimpulkan, dan memprediksi/mengestimasi.
5. Mengkomunikasikan
Mengomunikasikan adalah sarana untuk menyampaikan hasil konseptualisasi
dalam bentuk lisan, tulisan, gambar/sketsa, diagram, atau grafik, dapat dilakukan
melalui presentasi, membuat laporan, dan/ atau unjuk kerja.
Model pembelajaran di dalam kurikulum 2013 diantaranya adalah:
1. Inquiry Based Learning
Langkah-langkah atau sintaks nya adalah sebagai berikut:
a) Observasi/Mengamati
b) Mengajukan pertanyaan
c) Mengajukan dugaan atau kemungkinan jawaban/ mengasosiasi atau melakukan
penalaran
d) Mengumpulkan data yang terakait dengan dugaan atau pertanyaan yang
diajukan/memprediksi dugaan
e) Merumuskan kesimpulan-kesimpulan berdasarkan data yang telah diolah atau
dianalisis, mempresentasikan atau menyajikan hasil temuannya.
2. Discovery Based Learnin
Langkah-langkah atau sintaks nya adalah sebagai berikut:
a) Stimulation (memberi stimulus); bacaan, atau gambar, atau situasi, sesuai
dengan materi pembelajaran/topik/tema.
b) Problem Statement (mengidentifikasi masalah); menemukan permasalahan
menanya, mencari informasi, dan merumuskan masalah.
c) Data Collecting (mengumpulkan data); mencari dan mengumpulkan
data/informasi, melatih ketelitian, akurasi, dan kejujuran, mencari atau
merumuskan berbagai alternatif pemecahan masalah
d) Data Processing (mengolah data); mencoba dan mengeksplorasi pengetahuan
konseptualnya, melatih keterampilan berfikir logis dan aplikatif.
e) Verification (memferifikasi); mengecek kebenaran atau keabsahan hasil
pengolahan data, mencari sumber yang relevan baik dari buku atau media,
mengasosiasikannya menjadi suatu kesimpulan.
f) Generalization (menyimpulkan); melatih pengetahuan metakognisi peserta
didik.
3. Problem Based Learning
Langkah-langkah atau sintaks nya adalah sebagai berikut:
a) Orientasi pada masalah; mengamati masalah yang menjadi objek pembelajaran.
b) Pengorganisasian kegiatan pembelajaran; menyampaikan berbagai pertanyaan
(atau menanya) terhadap malasalah kajian.
c) Penyelidikan mandiri dan kelompok; melakukan percobaan (mencoba) untuk
memperoleh data dalam rangka menyelesaikan masalah yang dikaji.
d) Pengembangan dan Penyajian hasil; mengasosiasi data yang ditemukan dengan
berbagai data lain dari berbagai sumber.
e) Analisis dan evaluasi proses pemecahan masalah
4. Project Based Learning
Langkah-langkah atau sintaks nya adalah sebagai berikut:
a) Menyiapkan pertanyaan atau penugasan proyek; langkah awal agar peserta didik
mengamati lebih dalam terhadap pertanyaan yang muncul dari fenomena yang
ada.
b) Mendesain perencanaan proyek; menyusun perencanaan proyek bisa melalui
percobaan.
c) Menyusun jadwal sebgai langkah nyata dari sebuah proyek.
d) Memonitor kegiatan dan perkembangan proyek; mengevaluasi proyek yang
sedang dikerjakan.
e) Menguji hasil; Fakta dan data dihubungkan dengan berbagai data lain.
f) Mengevaluasi kegiatan/pengalaman; mengevaluasi kegiatan sebagai acuan
perbaikan untuk tugas proyek pada mata pelajaran yang sama atau mata
pelajaran lain.
2.4 Perbedaan Sistem Penilaian dalam KTSP dan K 13
Penilaian kurikulum 2013 mengalami perubahan dari KTSP. Penilaian hasil
belajar mengalami pergeseran dari penilaian melalui tes (mengukur kompetensi
pengetahuan berdasarkan hasil saja), menuju penilaian autentik (mengukur semua
kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan berdasarkan proses dan hasil).
Dalam proses penilaian, kurikulum 2013 berbasis pada kemampuan melalui
penilaian proses dan output sedangkan KTSP hanya berfokus pada pengetahuan
melalui penilaian output. Penilaian dalam kurikulum 2013 menekankan aspek kognitif,
afektif, psikomotorik secara proporsional Penilaian test dan portofolio saling
melengkapi. Dalam KTSP, menekankan aspek kognitif test menjadi cara penilaian
yang dominan.Pada kurikulum 2013 skala nilai tidak lagi 0-100, malainkan 1-4 untuk
aspek kognitif dan psikomotor, sedangkan untuk aspek afektif menggunakan SB=
Sangat Baik, B= Baik, C= Cukup, K= kurang. Skala nilai 1-4 dengan ketentuan
kelipatan 0,33.
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Perubahan paradigma berhubungan dengan pola berpikir dan pola bertindak
dalam memandang, menyikapi dan melaksanakan kurikulum tersebut.
Di dalam Kurikulum 2013, guru bertugas sebagai fasilitator dan motivator bagi
peserta didik. Selain itu, prinsip dasar pada Kurikulum 2013 ini berupaya untuk
mengoptimalkan keingintahuan peserta didik. Semula, peserta didik diberi tahu oleh
guru, maka sekarang peserta didik dituntut untuk mencari tahu segala hal yang
berkaitan dengan materi pembelajaran.
Dalam proses penilaian, kurikulum 2013 berbasis pada kemampuan melalui
penilaian proses dan output sedangkan KTSP hanya berfokus pada pengetahuan
melalui penilaian output. Penilaian dalam kurikulum 2013 menekankan aspek kognitif,
afektif, psikomotorik secara proporsional Penilaian test dan portofolio saling
melengkapi. Dalam KTSP, menekankan aspek kognitif test menjadi cara penilaian
yang dominan

3.2 Saran
Agar kualitas pendidikan kita meningkat, guru perlu melakukan introspeksi dan
mau mengubah paradigma mengajar, cara berpikir serta mempraktekkan pembelajaran
dengan menggunakan paradigma belajar. Guru sebagai ujung tombak pembelajaran
sudah sekian lama menggunakan metode lama, ia menjadi sumber belajar utama.
Paradigma mengajar tersebut itu harus diubah dengan menggiatkan peserta didik agar
dapat mencapai kompetensinya melalui penguasaan materi ajar.