Anda di halaman 1dari 37

MODEL PEMBELAJARAN DISCOVERY DAN INQUIRY

MAKALAH
Untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Pengembangan Kurikulum Biologi
SMA yang dibimbing oleh Nanang Purwanto., M.Pd.

Oleh
Eka Suciati Pratiwi (17208153045)
Muhammad Wildana Fikria Z. (17208153058)
Rika Santica Devi (17208153067)

JURUSAN TADRIS BIOLOGI


FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI TULUNGAGUNG
Oktober 2017
KATA PENGANTAR

Tiada kata yang pantas pertama kali diucapan selain ucapan syukur kepada
ALLAH SWT dengan ucapan Alhamdulillahirrabilaalamin yang mana kita telah
diberi nikmat yang luar biasa dan dengan petunjuknya sehingga kita dapat
menyelesaikan makalah tepat dengan waktunya. Shalawat serta salam tidak lupa
kami ucapkan kepada baginda nabi Muhammad SAW. serta para keluarga,
sahabat, tabiin dan para pengikutnya dan dengan itu kita selalu menantikan
syafaatnya kelak di hari pembalasan.
Pada kesempatan yang sangat baik ini kami menyusun sebuah makalah
yang berjudul Model Pembelajaran Discovery dan Inquiry Sebelumnya
kami mengucapkan terimakasih kepada.
1. Rektor IAIN Tulungagung Dr. Maftukhin, M.Pd yang telah memberikan
kesempatan kepada kami untuk belajar di kampus tercinta ini.
2. Dosen matakuliah Pengembangan Kurikulum Biologi SMA Nanang
Purwanto., M.Pd. yang telah memberikan kepercayaan kepada kami untuk
menyusun makalah ini.
3. Teman-teman yang ikut membantu dalam pembuatan makalah ini. Dengan
amanat itu kami akan memberikan hasil yang terbaik untuk makalah ini.
Penyusun menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih banyak
kekurangan. Oleh karena itu, penyusun sangat mengharapkan kritik dan saran
yang membangun dari semua pihak untuk mengevaluasi makalah ini. Penyusun
berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat untuk semuanya.

Tulungagung, Oktober 2017

Tim penyusun
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I : PENDAHULUAN 1
A. Latar Belakang 1
B. Rumusan Masalah 2
C. Tujuan Penulisan 2
BAB II : PEMBAHASAN 4
A. Definisi Model Pembelajaran Inkuiri 4
B. Prinsip Penggunaan Model Pembelajaran Inkuiri 6
C. Langkah-Langkah dalam Pembelajaran Berbasis Inkuiri 9
D. Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran Inkuiri 14
E. Contoh Penggunaan Model Pembelajaran Inkuiri 15
F. Definisi Model Pembelajaran Discovery 18
G. Prinsip Penggunaan Model Pembelajaran Discovery 20
H. Langkah-Langkah dalam Pembelajaran Berbasis Discovery 21
I. Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran Discovery 23
J. Contoh Penggunaan Model Pembelajaran Discovery 24
BAB III : PENUTUP 35
A. Kesimpulan 35
B. Saran 36
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN

Pada Bab I ini diuraikan 1) latar belakang, 2) rumusan masalah, dan 3)


tujuan penulisan yang dipaparkan dibawah ini.

A. Latar Belakang
Pendidikan memiliki tujuan yang harus di capai dalam proses
pembelajarannya. Dalam pendidikan siswa tidak hanya ditekankan pada
penguasaan materi, melainkan ditekankan juga dalam penguasaan keterampilan.
Siswa juga harus memiliki kemampuan untuk membuat sesuatu dengan
menggunakan proses dan juga learning to know (pembelajaran untuk tahu) serta
learning to do (pembelajaran untuk melakaukan sesuatu) yang harus dicapai
dalam kegiatan pembelajaran.
Hasil belajar bukan hanya berupa penguasaan materi atau pengetahuan saja.
Tetapi juga soft skills dalam melihat, menganalisis, memecahkan masalah,
membuat rencana dan pembagian kerja, dengan begitu aktifitas dan produk yang
dihasilkan dari pembelajaran tersebut mendapatkan penilaian.
Metode yang digunakan dalam pembelajaran soft skills (keterampilan) itu
seperti metode diskusi, pemberian tugas/kelompok dan eksperimen, selain itu juga
dapat menggunakan model pembelajaraan/pendekataan inquiry dan discovery ini
merupakan pembelajaran kelompok dimana siswa itu diberi kesempatan untuk
berfikir mandiri dan saling membantu teman yang satu dan yang lain. Pendekatan
ini juga membimbing siswa untuk memiliki tanggung jawab baik secara individu
maupun kelompok.
Pembelajaran dengan menerapkan Pendekatan Inqiury Discovery merupakan
pembaharuan pendidikan yang mana siswa didorong untuk belajar secara aktif dan
guru mendorong siswa untuk memiliki pengalaman dan melakukan percobaan
yang memungkinkan siswa menemukan prinsip-prinsip untuk diri mereka sendiri.
Pembelajaran dengan Pendekatan inquiry discovery memacu keinginan siswa
untuk mengetahui, memotivasi mereka agar melanjutkan pekerjaannya hingga
menemukan jawaban. Siswa juga belajar memecahkan masalah secara mandiri
dan memiliki keterampilan berpikir kritiskarena mereka harus selalu menganalisis
dan menangani informasi. Selama proses inquiry discovery berlangsung, seorang
guru tidak boleh banyak bertanya atau berbicara, karena akan mengurangi proses

1
2

belajar inquiry discovery. Dengan pendekatan ini siswa dituntut untuk


bertanggungjawab pada pendidikan mereka sendiri. Guru yang menaruh perhatian
pada pribadi siswa akan menemukan kegiatan-kegiatan yang disukai siswa dan
hal-hal yang yang baik yang ada dalam diri siswa serta kesulitan-kesulitan yang
mengganggu siswa dalam proses belajar, guru dituntut menyesuaikan diri terhadap
gaya belajar siswa-siswanya.
Berkenaan dengan hal di atas, perlu di susun sebuah makalah yang mampu
menjadi inspirasi bagi manusia untuk memperoleh wawasan dan pengetahuan.
Oleh karena itu, penyusun menyusun sebuah makalah yang bertajuk Pendekatan
Inqury dan Discovery

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas maka rumusan masalah disajikan sebagai berikut.
1) Bagaimana definisi model pembelajaran inkuiri?
2) Bagaimana prinsip penggunaan model pembelajaran inkuiri?
3) Bagaimana langkah-langkah dalam pembelajaran berbasis inkuiri?
4) Apa saja kelebihan dan kekurangan model pembelajaran inkuiri?
5) Bagaimana contoh penggunaan model pembelajaran inkuiri?
6) Bagaimana definisi model pembelajaran discovery?
7) Bagaimana prinsip penggunaan model pembelajaran discovery?
8) Bagaimana langkah-langkah dalam pembelajaran berbasis discovery?
9) Apa saja kelebihan dan kekurangan model pembelajaran discovery?
10) Bagaimana contoh penggunaan model pembelajaran discovery?

C. Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah yang telah dijabarkan di atas maka tujuan
penulisan pada makalah ini sebagai berikut.
1) Menjelaskan definisi model pembelajaran inkuiri
2) Menjelaskan prinsip penggunaan model pembelajaran inkuiri
3) Menjelaskan langkah-langkah dalam pembelajaran berbasis inkuiri
4) Menjelaskan kelebihan dan kekurangan model pembelajaran inkuiri
5) Menjelaskan contoh penggunaan model pembelajaran inkuiri
6) Menjelaskan definisi model pembelajaran discovery
7) Menjelaskan prinsip penggunaan model pembelajaran discovery
8) Menjelaskan langkah-langkah dalam pembelajaran berbasis discovery
9) Menjelaskan kelebihan dan kekurangan model pembelajaran discovery
10) Menjelaskan contoh penggunaan model pembelajaran discovery
BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi Inkuiri
Kata inkuiri berasal dari bahasa inggris Inquiry berarti pertanyaan,
pemeriksaan, atau penyelidikan.
Inkuiri dapat didefinisikan dari berbagai sudut pandang misalnya dari sisi
sikap, inkuiri adalah mengajukan pertanyaan dan berpikir bebas, menunjukkan
rasa ingin tahu dan berpikiran terbuka (being open minded), mempertimbangkan
alternatif - alternatif lain, membangun rasa percaya diri dan keterandalan diri,
menerapkan kebiasaan - kebiasaan positif, meningkatkan perhatian dan kesadaran
terhadap sains, menyukai dan menjunjung nilai - nilai sains1.
Ditinjau dari aspek keterampilan, inkuiri adalah menggunakan logika dan
keterampilan memecahkan masalah, menggunakan keterampilan berpikir kritis,
mengintegrasikan keterampilan - keterampilan proses sains, mengembangkan
keterampilan berkomunikasi, belajar melalui kelompok kooperatif, menggunakan
keterampilan berpikir tingkat tinggi, menggunakan keterampilan - keterampilan
manipulatif dan mengukur, serta menggunakan operasi matematika.
Dari sisi siklus, inkuiri adalah dimulai dari mengajukan suatu
masalah/pertanyaan yang akan diinvestigasi, curah pendapat mengenai pemecahan
- pemecahan masalah/pertanyaan, mengidentifikasi salah satu dari curah gagasan
untuk diuji, mendesain dan melaksanakan perencanaan investigasi,
mengumpulkan bukti/data, dan menarik kesimpulan, serta mengkomunikasikan
hasilnya.
Dari sisi peranan pebelajar, dalam berinkuiri pebelajar mengajukan
pertanyaan: Apa yang akan terjadi bila ...... ?, yaitu pertanyaan yang akan
dipakai dalam investigasi, membuat prediksi dan hipotesa serta mengujinya,
melakukan observasi secara cermat, bekerja dalam kelompok, mengamati dan
mencatat bukti/data, menarik kesimpulan berdasarkan bukti/data, menggunakan
model untuk mendemonstrasikan pemahaman, sharing gagasan dengan teman,
mengusulkan penjelasan, bertanggung jawab atas pembelajarannya sendiri.

1
Srini M. Iskandar, Pendekatan Pembelajaran Sains Berbasis Konstruktivis, (Malang: Media Nusa
Creative, 2015), hal. 18

4
5

Dari sisi peranan pengajar, dalam berinkuiri pengajar mengeksplorasi minat


pebelajar, mengajukan pertanyaan yang mendorong pebelajar untuk melakukan
inkuiri, bertindak sebagai fasilitator dalam proses pembelajaran mengajukan
pertanyaan - pertanyaan yang tepat dalam kegiatan inkuiri memberi penguatan
positif, membantu para pebelajar mengases/menilai kemajuan belajar mereka
sendiri, menciptakan lingkungan yang kondusif untuk belajar.
Menurut piaget model pembelajaran inkuiri adalah model pembelajaran yang
mempersiapkan siswa pada situasi untuk melakukan eksperimen sendiri secara
luas agar melihat apa yang terjadi, ingin melakukan sesuatu, mengajukan
pertanyaan-pertanyaan, dan mencari jawabannya sendiri, serta menghubungkan
penemuan yang satu dengan penemuan yang lain, membandingkan apa yang
ditemukannya dengan yang ditemukan siswa lain.
Model pembelajaran Inkuiri ada dua macam:
1. Inkuiri Induksi
Inkuiri induktif adalah model inkuiri yang penetapan masalahnya
ditentukan sendiri oleh siswa sesuai dengan bahan/materi ajar yang akan
dipelajari.
2. Inkuiri Deduksi
Inkuiri deduktif adalah model inkuiri yang permasalahannya berasal dari
guru. Siswa dalam inkuiri deduktif diminta untuk menentukan
teori/konsep yang digunakan dalam proses pemecahan masalah.
Adapun beberapa hal yang menjadi karakteristik atau ciri-ciri utama
pembelajaran inkuiri adalah sebagai berikut2:
1. Pembelajaran inkuiri menekankan pada aktifitas siswa secara maksimal
untuk mencari dan menemukan, artinya pembelajaran inkuiri
menempatkan siswa sebagai subjek belajar. Dalam proses pembelajaran,
siswa tidak hanya berperan sebagai penerima pelajaran melalui penjelasan
guru secara verbal, tetapi mereka berperan menemukan sendiri inti dari
materi pelajaran itu sendiri
2. Seluruh aktivitas yang dilakukan siswa diarahkan untuk mencari dan
menemukan sendiri sesuatu yang dipertanyakan sehingga dapat
2
Sanjaya Wina, Strategi Pembelajaran Berorintasi Standar Proses Pendidikan, (Jakarta: Kencana,
2010), hal. 195
6

menumbuhkan sikap percaya diri (self believe). Aktivitas pembelajaran


biasanya dilakukan melalui proses tanya jawab antara guru dan siswa.
Oleh karena itu, kemampuan guru dalam menggunakan teknik bertanya
merupakan syarat utama dalam melakukan inkuiri.
3. Tujuan dari penggunaan strategi inkuiri dalam pembelajaran adalah
mengembangkan kemampuan berpikir secara sistematis, logis, dan kritis,
atau mengembangkan kemampuan intelektual sebagai bagian dari proses
mental. Dengan demikian, dalam inkuiri siswa tak hanya dituntut untuk
menguasai materi pelajaran, akan tetapi bagaimana mereka dapat
menggunakan potensi yang dimilikinya.
Dari beberapa penjelasan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa, model
pembelajaran inkuiri adalah rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan
pada proses berpikir secara kritis dan analisis untuk mencari dan menemukan
sendiri jawaban dari suatu masalah yang dipertanyakan.

B. Prinsip Penggunaan Model Pembelajaran Inkuiri


Pembelajaran Berbasis lnkuiri (IBL) adalah pembelajaran yang melibatkan
siswa dalam merumuskan pertanyaan yang mengarahkan untuk melakukan
investigasi dalam upaya membangun pengetahuan dan makna baru, seperti
didefinisikan dalam Alberta Learning sebagai berikut3.
"Inquiry-based learning is a process where students are involved in their
learning, formulate questions, investigate widely and then build new
understandings, meanings and knowledge

Mengajukan Menemukan Interpretasi Membuat


Pertanyaan Sumber Informasi Laporan

Gambar 2.1 Rincian Proses inkuiri

Pengalaman
Menyajikan masalah
(mengajukan pertanyaan),
mendiskusikan ide,
3
Ridwan Abdullah S, Pembelajaran Saintifikmenganalisis
Untuk Implementasi Kurikulum 2013, (Jakarta: Bumi
pertanyaan
Aksara, 2015), hal. 88
7

Pemahaman Informasi
Menjelaskan pendapat baru, Memperoleh, mengkritik,
menerapkan, mengevaluasi, menganalisis,
memunculkan ide baru, menginterpretasi, mengajukan
melakukan hal yang dipahami, pertanyaan baru
refleksi

Membangun Pengetahuan
Menyelesaikan masalah,
mengonstruksi pengetahuan,
menjelaskan informasi baru,
menintegrasikan ide baru

Gambar 2.2 Siklus dasar pembelajaran inkuiri

Prinsip prinsip model pembelajaran inkuiri yaitu4:


1. Berorientasi pada Pengembangan Intelektual
Telah disebutkan sebelumnya bahwa tujuan utama pembelajaran inkuiri adalah
mengembangkan kemampuan berpikir, karena inkuiri didasari oleh teori
kognitif yang menekankan arti penting proses internal seseorang. Dengan
demikian, pembelajaran inkuiri selain berorientasi pada hasil belajar, juga
berorientasi pada proses belajar. Karena itu, kriteria keberhasilan dalam
pembelajaran inkuiri bukan ditentukan oleh penguasaan siswa terhadap suatu
materi pelajaran, tetapi sejauh mana siswa beraktivitas mencari dan
menemukan sesuatu. Pada inkuiri ini yang dinilai adalah proses menemukan
sendiri hal baru dan proses adaptasi yang berkesinambungan secara tepat dan
serasi antara hal baru dengan struktur kognitif yang telah dimiliki siswa.

2. Prinsip Interaksi
Pada dasarnya, proses pembelajaran adalah proses interaksi, baik interaksi
siswa dengan guru, interaksi siswa dengan siswa, maupun interaksi siswa
dengan lingkungan. Pembelajaran sebagai proses interaksi berarti
menempatkan guru bukan sebagai sumber belajar, tetapi sebagai pengatur
interaksi itu sendiri. Kegiatan pembelajaran selama menggunakan pendekatan
4
Ibid., hal. 197-199
8

inkuiri ditentukan oleh interaksi siswa. Keseluruhan proses pembelajaran akan


membantu siswa menjadi mandiri, percaya diri dan yakin pada kemampuan
intelektualnya sendiri untuk terlibat secara aktif. Guru hanya perlu menjadi
fasilitator dan mengarahkan agar siswa bisa mengembangkan kemampuan
berpikirnya melalui interaksi mereka. Guru juga harus memfokuskan pada
tujuan pembelajaran, yaitu mengembangkan tingkat berpikir yang lebih tinggi
dan keterampilan berpikir kritis siswa5
3. Prinsip Bertanya
Inkuiri adalah mengajukan pertanyaan-pertanyaan, yaitu pertanyaan -
pertanyaan yang dapat dijawab dan mengantarkan pada pengujian dan
eksplorasi bermakna. Selama pembelajaran inkuiri, guru dapat mengajukan
suatu pertanyaan atau mendorong siswa mengajukan pertanyaan-pertanyaan
mereka sendiri, yang dapat bersifat open-ended, memberi peluang siswa untuk
mengarahkan penyelidikan mereka sendiri dan menemukan jawaban - jawaban
yang mungkin dari mereka sendiri, dan mengantar pada lebih banyak
pertanyaan lain. Oleh karena itu peran yang harus dilakukan guru dalam
pembelajaran inkuiri adalah sebagai penanya. Sebab, kemampuan siswa untuk
menjawab setiap pertanyaan pada dasarnya sudah merupakan sebagian dari
proses berpikir.
4. Prinsip Belajar untuk Berpikir
Belajar bukan hanya mengingat sejumlah fakta, akan tetapi belajar adalah
proses berpikir (learning how you think), yakni proses mengembangkan
potensi seluruh otak. Pembelajaran berpikir adalah pemanfaatan dan
penggunaan otak secara maksimal.
5. Prinsip Keterbukaan
Inkuiri menyediakan siswa beraneka ragam pengalaman konkrit dan
pembelajaran aktif yang mendorong dan memberikan ruang dan peluang
kepada siswa untuk mengambil inisiatif dalam mengembangkan keterampilan
pemecahan masalah, pengambilan keputusan, dan penelitian sehingga
memungkinkan mereka menjadi pebelajar sepanjang hayat. Inkuiri melibatkan
komunikasi yang berarti tersedia suatu ruang, peluang, dan tenaga bagi siswa
untuk mengajukan pertanyaan dan pandangan yang logis, obyektif, dan
bermakna, dan untuk melaporkan hipotesis mereka. Tugas guru adalah

5
Trianto, Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik, (Jakarta: Prestasi
Pustaka, 2007), hal. 140
9

menyediakan ruang untuk memberikan kesempatan kepada siswa


mengembangkan hipotesis dan secara terbuka membuktikan kebenaran
hipotesis yang diajukannya.
Dengan demikian, peran utama guru dalam pembelajaran inkuiri adalah
Pertama, Motivator. Memberi rangsangan supaya siswa aktif dan gairah berpikir.
Kedua, Fasilitator. Menunjukkan jalan keluar jika ada hambatan dalam proses
berpikir siswa. Ketiga, Penanya. Menyadarkan siswa dari kekeliruan yang mereka
perbuat dan memberi keyakinan pada diri sendiri. Keempat, Administrator.
Bertanggung jawab terhadap seluruh kegiatan didalam kelas. Kelima, Pengarah.
Memimpin arus kegiatan berpikir siswa pada tujuan yang diharapkan. Keenam,
Manajer. Mengelola sumber belajar, waktu, dan organisasi kelas. Ketujuh,
Rewarder. Memberi penghargaan pada prestasi yang dicapai dalam rangka
peningkatan semangat inkuiri pada siswa6.

C. Langkah-Langkah dalam Pembelajaran Berbasis Inkuiri


Siklus inkuiri jika digambarkan dalam sebuah bagan. seperti tampak pada
Gambar 3.1. Siklus inkuiri adalah7: (1) identifikasi Masalah. (2) Penyusunan
hipotesis, (3) Eksperimen. (4) Evaluasi hipotesis, dan (5) Membuat kesimpulan.

Identifikasi Masalah

Membuat Kesimpulan Penyusunan Hipotesis

Proses Inkuiri

Evaluasi Hipotesis Eksperimen

6
Ibid., hal. 136
7
Srini M. Iskandar, Pendekatan Pembelajaran Sains Berbasis Konstruktivis hal. 19
10

Gambar 3.1 Proses/Siklus Inkuiri

Adapun langkah-langkah dalam pelaksanaan model pembelajaran inkuiri


adalah sebagai berikut8.
1. Orientasi
Pada langkah ini guru mengondisikan agar siswa siap
melaksanakan proses pembelajaran dengan cara merangsang dan mengajak
siswa untuk berpikir memecahkan masalah. Langkah orientasi merupakan
langkah yang sangat penting, karena keberhasilan pembelajaran inkuiri
sangat tergantung pada kemauan siswa untuk beraktivitas menggunakan
kemampuannya dalam memecahkan masalah.
Beberapa hal yang dapat dilakukan dalam tahap orientasi adalah :
a) Menjelaskan topik, tujuan, dan hasil belajar yang diharapkan dapat
dicapai oleh siswa.
b) Menjelaskan pokok-pokok kegiatan yang harus dilakukan oleh
siswa untuk mencapai tujuan. Pada tahap ini dijelaskan langkah-
langkah inkuiri serta tujuan setiap langkah, mulai dari langkah
merumuskan masalah sampai dengan merumuskan kesimpulan.
c) Menjelaskan pentingnya topik dan kegiatan belajar. Hal ini
dilakukan dalam rangka memberikan motivasi belajar siswa.
2. Merumuskan masalah
Pada langkah ini guru membawa siswa pada suatu persoalan yang
mengandung teka-teki. Persoalan yang disajikan adalah persoalan yang
menantang siswa untuk berpikir memecahkan teka-teki itu. Proses berpikir
dan mencari jawaban teka-teki itulah yang sangat penting dalam strategi
inkuiri, oleh karena itu melalui proses tersebut siswa akan memperoleh
pengalaman yang sangat berharga sebagai upaya mengembangkan mental
melalui proses berpikir.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam merumuskan masalah adalah:

8
Sanjaya Wina, Strategi Pembelajaran Berorintasi Standar Proses Pendidikan..hal. 199-
203
11

a) Masalah hendaknya dirumuskan sendiri oleh siswa. Siswa akan


memiliki motivasi belajar yang tinggi manakala dilibatkan dalam
merumuskan masalah yang hendak dikaji.
b) Masalah yang dikaji adalah masalah yang mengandung teka-teki
dan jawabannya pasti.
c) Konsep-konsep dalam masalah adalah konsep-konsep yang sudah
diketahui terlebih dahulu oleh siswa. Artinya, sebelum masalah itu
dikaji lebih jauh melalui melalui proses inkuiri, guru perlu yakin
terlebih dahulu bahwa siswa sudah memiliki pemahaman tentang
konsep-konsep yang ada dalam rumusan masalah.
3. Merumuskan hipotesis
Kemampuan atau potensi individu untuk berpikir pada dasarnya
sudah dimiliki sejak individu itu lahir. Potensi berpikir tersebut dimulai
dari kemampuan setiap individu untuk menebak atau mengira-ngira
(berhipotesis) dari suatu permasalahan. Salah satu cara yang dapat
dilakukan guru untuk mengembangkan kemampuan berhipotesis pada
setiap anak adalah dengan mengajukan berbagai pertanyaan yang dapat
mendorong siswa untuk dapat merumuskan jawaban sementara atau dapat
merumuskan berbagai perkiraan kemungkinan jawaban dari suatu
permasalahan yang dikaji.
4. Mengumpulkan data
Dalam pembelajaran inkuiri, mengumpulkan data merupakan
proses mental yang sangat penting dalam pengembangan intelektual.
Proses pengumpulan data bukan hanya memerlukan motivasi yang kuat
dalam belajar, akan tetapi juga membutuhkan ketekunan dan kemampuan
menggunakan potensi berpikirnya. Oleh sebab itu, tugas dan peran guru
dalam tahapan ini adalah mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang dapat
mendorong siswa untuk berpikir mencari informasi yang dibutuhkan.
5. Menguji hipotesis
Menguji hipotesis adalah menentukan jawaban yang dianggap
diterima sesuai dengan data atau informasi yang diperoleh berdasarkan
pengumpulan data. Menguji hipotesis juga berarti mengembangkan
12

kemampuan berpikir rasional. Artinya, kebenaran jawaban yang diberikan


bukan hanya berdasarkan argumentasi, akan tetapi harus didukung oleh
data yang ditemukan dan dapat dipertanggungjawabkan.
6. Merumuskan kesimpulan
Merumuskan kesimpulan adalah proses mendeskripsikan temuan yang
diperoleh berdasarkan hasil pengujian hipotesis. Kadang banyaknya
jawaban yang diperoleh menyebabkan kesimpulan yang diputuskan tidak
fokus terhadap masalah yang hendak dipecahkan. Karena itu, untuk
mencapai kesimpulan yang akurat guru mampu menunjukkan pada siswa
data mana yang relevan.
Perlu diperhatikan bahwa kegiatan inkuiri sangat terkait dengan pengetahuan
atau keterampilan awal yang dimiliki oleh siswa sehingga komponen yang perlu
dilakukan dalam tahap perencanaan adalah9:
a) Memilih tema atau topik;
b) Mengidentifikasi pengetahuan awal;
c) Mengajukan pertanyaan awal;
d) Memilih dan mengeksplorasi sumber belajar;
e) Membuat perencanaan inkuiri.
Tahapan perencanaan sangat penting untuk dapat menarik minat siswa untuk
belajar lebih lanjut dan terpancing untuk melakukan kegiatan penyelidikan atau
investigasi. Rumusan pertanyaan sebaiknya dipersiapkan sekaligus dengan
lembaran kerja yang dibutuhkan. Lembaran kerja sangat dibutuhkan untuk siswa
sekolah dasar dalam upaya melatih mereka melakukan inkuiri10. Contoh
pertanyaan yang diajukan untuk mengarahkan siswa melakukan kegiatan
investigasi adalah sebagai berikut.
1. Apa yang terjadi jika sebuah permen coklat M & M dimasukkan ke dalam air?
2. Apakah warna permen coklat M & M yang berbeda (warnanya) akan larut
dengan laju berbeda?
3. Bagaimana bentuk atau pola warna yang terjadi jika sebuah permen coklat M
& M diletakkan pada piring berisi air?

9
Ridwan Abdullah S, Pembelajaran Saintifik Untuk Implementasi Kurikulum.. hal. 94
10
Ibid.,
13

4. Apakah suhu air berpengaruh terhadap laju pelarutan warna permen coklat M
& M?
5. Bagaimana pengaruh jumlah larutan gula yang ada di air terhadap laju
pelarutan warna permen coklat M & M?
Berikut ini diberikan contoh lembaran kerja siswa (LKS) terkait dengan
pertanyaan: Apa yang terjadi jika sebuah permen coklat M & M dimasukkan ke
dalam air?"

Lembaran Kerja Siswa


Apa yang terjadi jika sebuah permen coklat M & M dimasukkan ke dalam air?

Bahan dan Alat yang Dibutuhkan:


Beberapa permen coklat M & M
Sebuah piring plastic atau piring sterofom
Kertas tisu
Satu wadah beris air
Prosedur percobaan
1. Tuangkan air ke dalam sebuah piring plastik sampai akhirnya menutupi semua
bagian dasar dari piring tersebut.
2. Tunggu sampai air menjadi tenang, kemudian letakkan sebuah permen coklat
(berlapis gula warna) ke dalam piring tersebut secara perlahan di bagian tengah
piring. Upayakan agar air tidak bergoyang. Amati apa yang terjadi selama satu
menit.
3. Catat hasil pengamatan kamu dan buatlah gambar sesuai hasil pengamatan.
4. Buatlah beberapa pertanyaan terkait dengan percobaan yang kamu lakukan

D. Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran Inkuiri


Kelebihan dan kelemahan dari model pembelajaran inkuiri sebagai berikut11.
1. Kelebihan
a) Menekankan pada pengembangan aspek kognitif, afektif, dan
psikomotorik secara seimbang.
b) Siswa menjadi aktif dalam mencari dan mengolah sendiri informasi
c) Siswa mengerti konsep-konsep dasar dan ide-ide secara lebih baik
d) Memberikan ruang kepada siswa untuk belajar sesuai dengan gaya
belajar mereka.

11
Sanjaya Wina, Strategi Pembelajaran Berorintasi Standar Proses Pendidikan..hal. 206-
207
14

e) Siswa yang memiliki kemampuan diatas rata-rata tidak akan terhambat


oleh siswa yang lemah dalam belajar.
f) Membantu siswa dalam menggunakan ingatan dalam transfer konsep
yang dimilikinya kepada situasi-situasi proses belajar yang baru
g) Mendorong siswa untuk berfikir intuitif dan merumuskan hipotesisnya
sendiri.
h) Dapat membentuk dan mengembangkan konsep sendiri (self-concept)
pada diri siswa sehingga secara psikologis siswa lebih terbuka
terhadap pengalaman baru, berkeinginan untuk selalu mengambil dan
mengeksploitasi kesempatan-kesempatan yang ada
i) Memungkinkan siswa belajar dengan memanfaatkan berbagai jenis
sumber yang tidak hanya menjadikan guru sebagai satu-satunya
sumber belajar

2. Kekurangan
a) Jika guru tidak dapat merumuskan teka-teki atau pertanyaan kepada
siswa dengan baik, untuk memecahkan permasalahan secara sistematis,
maka akan membuat murid lebih bingung dan tidak terarah.
b) Kadang kala guru mengalami kesulitan dalam merencanakan
pembelajaran oleh karena terbentur dengan kebiasaan siswa dalam
belajar.
c) Dalam implementasinya memerlukan waktu panjang sehingga guru
sering sulit menyesuaikannya dengan waktu yang ditentukan.
d) Pada sistem klasikal dengan jumlah siswa yang relatif banyak;
penggunaan pendekatan ini sukar untuk dikembangkan dengan baik
e) Selama kriteria keberhasilan belajar ditentukan oleh kemampuan siswa
menguasai materi, maka pembelajaran ini sulit diimplementasikan oleh
guru
Setiap model pembelajaran pasti memiliki kekurangan, namun kekurangan
tersebut dapat diminimalisir agar berjalan secara optimal.

E. Contoh Penggunaan Model Pembelajaran Inkuiri


Beberapa contoh pertanyaan untuk diskusi inkuiri yang dapat dilakukan untuk
percobaan ayunan bandul adalah sebagai berikut.12

12
Ridwan Abdullah S, Pembelajaran Saintifik Untuk Implementasi Kurikulum.. hal. 91
15

Pertanyaan Keterangan
Apa yang akan kita ketahui jika Pertanyaan ini bersifat divergen dan
melakukan percobaan ayunan bandul? sangat cocok untuk inkuiri. Siswa akan
menemukan fakta dan konsep yang
dapat didiskusikan dengan guru untuk
membantunya menemukan konsep yang
benar.
Apa yang memengaruhi frekuensi Pertanyaan ini lebih bersifat konvergen,
ayunan bandul? namun dapat mengarahkan siswa untuk
menyelidiki tentang frekuensi ayunan
Siswa melakukan percobaan untuk mengetahui hal yang ditanyakan
Apa yang harus kita lakukan untuk Guru atau siswa mengajukan pertanyaan
mengetahui tentang frekuensi ayunan divergen dan masing-masing siswa atau
bandul tersebut? kelompok mungkin melakukan hal yang
berbeda. Mungkin ada yang
memvariasikan beban bandul.
Apakah perbedaan berat bandul Pertanyaan ini diajukan jika siswa
berpengaruh terhadap frekuensi memvariasikan berat bandul. Guru
ayunan? mengarahkan siswa untuk
menginterpretasi data.
Bagaimana perubahan frekuensi Pertanyaan ini merupakan pertanyaan
ayunan jika panjang tali bandul konvergen yang bersifat mengarahkan
diubah? siswa untuk melakukan penyelidikan
yang seharusnya dilakukan.
Bagaimana kita melakukan percobaan Pertanyaan ini mengarahkan siswa
untuk menyelidiki hal tersebut secara untuk melakukan percobaan untuk
akurat? menyelidiki hubungan antara frekuensi
ayunan dengan panjang tali bandul.

Penerapan Model Pembelajaran Inkuiri Pada Pembelajaran IPA Pada


Konsep Gaya Magnet
Rancangan RPP pada pembelajaran IPA tingkat SD tentang konsep gaya magnet
yaitu sebagai berikut:
A. Tahap pendahuluan
Pada tahapan ini guru melakukan kegiatan sebagai berikut:
1. Mengkondisikan siswa pada situasi belajar yang lebih baik, kegiatannnya
berupa:
a. Siswa berbaris sebelum masuk kelas
b. Siswa berdoa sebelum belajar dimulai
16

c. Guru mengabsen kehadiran siswa


2. Menjelaskan tujuan-tujuan pembelajaran yang akan dicapai, misalnya
setelah pembelajaran ini selesai diharapkan siswa dapat menyebutkan
benda-benda yang dapat ditarik magnet dan benda yang tidak dapat ditarik
magnet, siswa dapat menyebutkan bagian magnet yang memiliki gaya
kemagnetannya paling besar.
3. Melakukan apersepsi atau motivasi
Pada tahapan ini guru melakukan tahapan orientasi atau lebih umum
dikenal dengan sebutan apersepsi atau motivasi. Kegiatan yang dilakukan
guru dengan cara menunjukkan dua kotak dengan bungkus yang sama
akan tetapi isinya berbeda. Kotak yang satu isinya kosong dan kotak yang
satunya lagi berisi magnet. Selanjutnya guru menunjukkan dua kotak itu
dan menempelkan klip kertas pada dua kotak itu secara bergantian.
Selanjutnya guru menugaskan siswa untuk mengamati salah satu kotak
yang dapat menempelkan klip kertas tersebut. Siswa ditugaskan untuk
menebaknya tentang isi kotak yang bisa menempelkan klip kertas tersebut.
Selanjutnya guru membuka kotak itu dan menunjukkan ke siswa bahwa
klip kertas bisa menempel karena di dalam kotak ada magnet. Pada
kegiatan ini diharapkan siswa dapat lebih siap untuk mengikuti kegiatan
pembelajaran yang akan dilakukan.
B. Kegiatan Inti pembelajaran
1. Tahap eksplorasi
Pada tahap ini guru memberikan pertanyaan - pertanyaan sederhana,
misalnya: siapa yang pernah bermain-main dengan magnet? Apa yang
kamu lakukan dengan magnet? Sehingga diharapkan siswa memunculkan
permasalahan dari konsep magnet tersebut. Adapun permasalahan yang
akan dibahas pada pelajaran ini yaitu:
a. Benda-benda apa saja yang dapat ditarik oleh magnet?
b. Pada bagian mana pada magnet yang memiliki gaya kemagnetannya
paling besar?
Selanjutnya siswa ditugaskan untuk menjawab permasalahan yang
dimunculkan sehingga diperoleh hipotesis sederhana sebagai berikut:
17

Bahwa semua benda yang berbahan besi, nikel meruapan benda yang
dapat ditarik magnet. Dan kekuatan magnet yang paling besar terdapat di
ujung magnet.
2. Tahap elaborasi
Pada tahap ini yang dilakukan guru adalah sebagai berikut:
a. Membagikan lembar kerja siswa (LKS) serta memberikan bahan-
bahan yang akan digunakan siswa untuk melakukan percobaan. Guru
memberikan petunjuk yang sederhana agar pelaksanaan perobaan
dapat berjalan lancar.
b. Siswa secara berkelompok melakukan percobaan dan menuangkan
hasilnya pada LKS yang telah disediakan
c. Masing-masing kelompok melakukan presentasi
d. Guru bersama-sama siswa menyimpulkan hasil percobaan yang telah
dilakukan siswa.
e. Guru bertanya kembali tentang permasalahan yang muncul saat
pembelajaran dimulai. Apakah kesimpulan yang diperoleh bisa
menjawab permasalahan yang dimunculkan. Pada tahapan ini dikenal
dengan istilah pengujian hipotesis berdasarkan data yang diperoleh
siswa saat melakukan percobaan.
f. Siswa memajangkan hasil percobaan di papan pajangan.
3. Tahap konfirmasi
a. Guru memberikan kesempatan yang seluas-lusanya kepada siswa
untuk bertanya, menyampaikan pendapatnya atau pengalaman-
pengalaman siswa selama menggunakan magnet
b. Guru menjelaskan bahwa semua benda yang berbahan besi, nikel dan
kobal dapat ditarik magnet
C. Kegiatan akhir
Pada tahap ini kegiatan yang dilakukan adalah sebagai berikut:
a. Guru memberikan penilaian dengan alat tes berupa tes uraian singkat
b. Memberikan umpan balik dengan cara tugas sederhana
c. Ucapan terima kasih dan salam.
18

F. Definisi Discovery
Penemuan (discovery) merupakan suatu model pembelajaran yang
dikembangkan berdasarkan pandangan konstruktivisme. discovery learning
didefinisikan sebagai proses pembelajaran yang terjadi bila materi pembelajaran
tidak disajikan dalam bentuk finalnya, tetapi diharapkan siswa mengorganisasi
sendiri13.
Model discovery merupakan pembelajaran yang menekankan pada
pengalaman langsung dan pentingnya pemahaman struktur atau ide-ide penting
terhadap suatu disiplin ilmu, melalui keterlibatan siswa secara aktif dalam
pembelajaran. Bahan ajar yang disajikan dalam bentuk pertanyaan atau
permasalahan yang harus diselesaikan. Jadi, siswa memperoleh pengetahuan yang
belum diketahuinya tidak melalui pemberitahuan, melainkan melalui penemuan
sendiri.
Para ahli mendefinisikan discovery learning berbeda-beda, sesuai dengan
sudut pandanganya masing-masing:
1. Menurut Wilcox (Slavin, 1977), dalam pembelajaran dengan penemuan
siswa didorong untuk belajar sebagian besar melalui keterlibatan aktif
mereka sendiri dengan konsep-konsep dan prinsip-prinsip, dan guru
mendorong siswa untuk memiliki pengalaman dan melakukan percobaan
yang memungkinkan mereka menemukan prinsip-prinsip untuk diri
mereka sendiri.
2. Pengertian discovery learning menurut Jerome Bruner adalah metode
belajar yang mendorong siswa untuk mengajukan pertanyaan dan menarik
kesimpulan dari prinsip - prinsip umum praktis contoh pengalaman. Dan
yang menjadi dasar ide J. Bruner ialah pendapat dari piaget yang
menyatakan bahwa anak harus berperan secara aktif didalam belajar di
kelas. Untuk itu Bruner memakai cara dengan apa yang disebutnya
discovery learning, yaitu dimana murid mengorganisasikan bahan yang
dipelajari dengan suatu bentuk akhir.
3. Menurut Bell (1978) belajar penemuan adalah belajar yang terjadi
sebagian hasil dari siswa memanipulasi, membuat struktur dan

13
Imas Kurniasih & Berlin Sani, Implementasi Kurikulum 2013 Konsep & Penerapan, (Surabaya:
Kata Pena, 2014), hal. 43
19

mentransformasikan informasi sedemikian sehingga ia menemukan


informasi baru. Dalam belajar penemuan, siswa dapat membuat perkiraan
(conjucture), merumuskan suatu hipotesis dan menemukan kebenaran
dengan menggunakan proses induktif atau proses dedukatif, melakukan
observasi dan membuat ekstrapolasi.
Dalam pembelajaran discovery learning, mulai dari strategi sampai dengan
jalan dan hasil penemuan ditentukan oleh siswa sendiri. Melalui pembelajaran
discovery, diharapkan siswa terlibat dalam penyelidikan suatu hubungan,
mengumpulkan data, dan menggunakannya untuk menemukan hukum atau prinsip
yang berlaku pada kejadian tersebut. Pembelajaran discovery disusun dengan
asumsi bahwa observasi yang teliti dan dilakukan dengan hati-hati serta mencari
bentuk atau pola dari temuannya (dengan cara induktif) akan mengarahkan siswa
kepada penemuan hukum-hukum atau prinsip-prinsip.
Dari penjelasan diatas maka dapat disimpulkan bahwa model discovery
learning adalah suatu proses pembelajaran yang penyampaian materinya disajikan
secara tidak lengkap dan menuntut siswa terlibat secara aktif untuk menemukan
sendiri suatu konsep ataupun prinsip yang belum diketahuinya.

G. Prinsip Penggunaan Model Pembelajaran Discovery


Kegiatan belajar mengajar menggunakan metode penemuan (discovery) mirip
dengan inkuiri (inquiry). Inkuiri adalah proses menjawab pertanyaan dan
menyelesaikan masalah berdasarkan fakta dan pengamatan, sedangkan discovery
adalah menemukan konsep melalui serangkaian data atau informasi yang
diperoleh melalui pengamatan atau percobaan14. Jadi, belajar dengan menemukan
(discovery) sebenarnya adalah bagian dari proses inkuiri.
Sebagai proses belajar discovery mempunyai kemiripan dengan inkuiri yaitu
sama sama menekankan keaktifan siswa dan pencarian sendiri oleh siswa dengan
model pendekatan ilmiah. Perbedaannya adalah inkuiri lebih pada penyelidikan
suatu masalah yang secara ketat mengikuti metode ilmiah sedang discovery tidak
harus penyelidikan masalah, tetapi dapat berupa penemuan yang biasa, dan dapat
juga memecahkan persoalan yang tidak konkrit. Inkuiri jelas membutuhkan

14
Ridwan Abdullah S, Pembelajaran Saintifik Untuk Implementasi Kurikulum.. hal. 97
20

discovery di dalamnya, yaitu bagaimana seseorang menemukan sesuatu. Inkuiri


menuntut proses yang lebih kompleks dan lengkap sesuai dengan metode
ilmiah.sedangkan discovery tidak harus lengkap prosesnya.
Discovery sering diterapkan percobaan sains di laboratorium yang masih
membutuhkan bantuan guru, yang disebut guided discovery. Pembelajaran
discovery merupakan metode pembelajaran kognitif yang menuntut guru lebih
kreatif menciptakan situasi yang dapat membuat peserta didik belajar aktif
menemukan pengetahuan sendiri. Metode belajar ini sesuai dengan teori Bruner
yang menyarankan agar peserta didik belajar secara aktif untuk membangun
konsep dan prinsip. Kegiatan discovery melalui kegiatan eksperimen dapat
menambah pengetahuan dan keterampilan peserta didik secara simultan.

H. Langkah-Langkah dalam Model Pembelajaran Discovery


Pengaplikasian model discovery learning dalam pembelajaran, terdapat
beberapa tahapan yang harus dilaksanakan. Langkah-langkah operasional model
discovery learning yaitu sebagai berikut15.
1. Langkah persiapan model discovery learning
a) Menentukan tujuan pembelajaran.
b) Melakukan identifikasi karakteristik siswa.
c) Memilih materi pelajaran.
d) Menentukan topik-topik yang harus dipelajari siswa secara induktif.
e) Mengembangkan bahan-bahan belajar yang berupa contoh-contoh,
ilustrasi, tugas, dan sebagainya untuk dipelajari siswa.
2. Prosedur aplikasi model discovery learning
a) Stimulation (stimulasi/pemberian rangsang)
Pada tahap ini siswa dihadapkan pada sesuatu yang menimbulkan
kebingungan, kemudian dilanjutkan untuk tidak memberi generalisasi,
agar timbul keinginan untuk menyelidiki sendiri. Guru dapat memulai

15
Imas Kurniasih & Berlin Sani, Implementasi Kurikulum 2013 Konsep .hal. 68-71
21

dengan mengajukan pertanyaan, anjuran membaca buku, dan belajar


lainnya yang mengarah pada persiapan pemecahan masalah.
b) Problem statemen (pernyataan/identifikasi masalah)
Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengidentifikasi
masalah-masalah yang relevan dengan bahan pelajaran, kemudian
salah satunya dipilih dan dirumuskan dalam bentuk hipotesis.
c) Data collection (pengumpulan data)
Tahap ini siswa diberi kesempatan untuk mengumpulkan berbagai
informasi yang relevan, membaca literatur, mengamati objek,
wawancara, melakukan uji coba sendiri untuk menjawab pertanyaan
atau membuktikan benar tidaknya hipotesis.
d) Data processing (pengolahan data)
Pengolahan data merupakan kegiatan mengolah data dan informasi
yang telah diperoleh siswa melalui wawancara, observasi dan
sebagainya. Tahap ini berfungsi sebagai pembentukan konsep dan
generalisasi, sehingga siswa akan mendapatkan pengetahuan baru dari
alternatif jawaban yang perlu mendapat pembuktian secara logis.
e) Verification (pembuktian)
Pada tahap ini siswa melalakukan pemeriksaan secara cermat untuk
membuktikan benar atau tidaknya hipotesis yang ditetapkan tadi
dengan temuan alternatif dan dihubungkan dengan hasil pengolahan
data.
f) Generalization (menarik kesimpulan)
Tahap generalisasi/menarik kesimpulan adalah proses menarik sebuah
kesimpulan yang dapat dijadikan prinsip umum dan berlaku untuk
semua kejadian atau masalah yang sama, dengan memperhatikan hasil
verifikasi.
Tahapan pembelajaran dengan menggunakan model discovery learning secara
umum dapat digambarkan sebagai berikut.
22

Gambar 8.1 Tahapan pembelajaran dengan menggunakan model discovery learning secara
umum

I. Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran Discovery


Pemilihan model pembelajaran yang akan digunakan dalam pembelajaran
harus diiringi dengan suatu pertimbangan untuk mendapatkan suatu kebaikan
ataupun kelebihan.
1. Kelebihan
a) Membantu siswa untuk memperbaiki dan meningkatkan keterampilan-
keterampilan dan proses-proses kognitif.
b) Pengetahuan yang diperoleh melalui model ini sangat pribadi dan
ampuh karena menguatkan pengertian, ingatan, dan transfer.
c) Dapat meningkatkan kemampuan siswa untuk memecahkan masalah.
d) Membantu siswa memperkuat konsep dirinya, karena memperoleh
kepercayaan bekerja sama dengan yang lain.
e) Mendorong keterlibatan keaktifan siswa.
23

f) Mendorong siswa berpikir intuisi dan merumuskan hipotesis sendiri.


g) Melatih siswa belajar mandiri.
h) Siswa aktif dalam kegiatan belajar mengajar, karena ia berpikir dan
menggunakan kemampuan untuk menemukan hasil akhir.
Kurniasih & Sani juga mengemukakan beberapa kelebihan dari model
discovery learning, yaitu sebagai berikut16.
a) Menimbulkan rasa senang pada siswa, karena tumbuhnya rasa
menyelidiki dan berhasil.
b) Siswa akan mengerti konsep dasar dan ide-ide lebih baik.
c) Mendorong siswa berpikir dan bekerja atas inisiatif sendiri.
d) Siswa belajar dengan memanfaatkan berbagai jenis sumber belajar.
4. Kekurangan
a) Menyita banyak waktu karena guru dituntut mengubah kebiasaan
mengajar yang umumnya sebagai pemberi informasi menjadi
fasilitator, motivator, dan pembimbing
b) Kemampuan berpikir rasional siswa ada yang masih terbatas
c) Tidak semua siswa dapat mengikuti pelajaran dengan cara ini.
Setiap model pembelajaran pasti memiliki kekurangan, namun kekurangan
tersebut dapat diminimalisir agar berjalan secara optimal.

J. Contoh Penggunaan Model Pembelajaran Discovery


Contoh Pembelajaran discovery untuk materi pembiasaan cahaya yang dibahas
dalam mata pelajaran ilmu pengetahuan alam adalah sebagai berikut.
1. Kegiatan Pendahuluan
Guru melakukan apresiasi tentang materi pelajaran yang telah
disampaikan dan bertanya tentang jenis lensa serta penggunaannya. Guru
juga memberikan motivasi tentang perlunya mempelajari konsep
pembiasaan cahaya untuk dapat memahami beberapa fenomena yang
terjadi di alam atau dengan cara meningkatkan keingintahuan. Pertanyaan
yang dapat diajukan untuk memotivasi dengan cara meningkatkan
keingintahuan, misalnya: Kenapa pipet yang dimasukkan ke dalam air
kelihatan bertambah besar?

16
Ibid., hal. 66-67
24

Setelah peserta didik memberikan respons terhadap pertanyaan


guru, guru menyatakan atau menulis topik yang akan dipelajari terkait
dengan diskusi pada kegiatan pendahuluan.
2. Kegiatan Inti Pembelajaran
Kegiatan inti pembelajaran dimulai pada saat guru menyatakan
topik yang akan dipelajari serta memaparkan tujuan pembelajaran.
Misalnya dengan menyatakan: Nah, untuk lebih memahami hal tersebut,
kita akan mempelajari tentang pembiasan cahaya. Tujuan yang ingin
dicapai dalam pembelajaran ini adalah memahami kenapa terjadi
pembiasan, menerapkan konsep pembiasan untuk menjelaskan cara kerja
lensa, dan menganalisis permasalahan pembiasan pada beberapa kasus.
Guru sebaiknya mengujikan pertanyaan untuk memandu peserta
didik dalam melakukan kegiatan discovery tahap pertama. Contoh
pertanyaan yang dapat diajukan untuk memandu peserta didik menyelidiki
tentang gejala pembiasan adalah Bagaimana perubahan lintasan cahaya
jika merambat dari udara ke air?

Merumuskan Hipotesis dan Melakukan Investigasi


Peserta didik diminta membuat kelompok dan masing-masing kelompok
merumuskan hipotesis terkait dengan pertanyaan yang diajukan oleh guru.
Kelompok diminta melakukan penyelidikan, misalnya dengan bantuan
lembar kerja (LK) sebagai berikut.
Contoh Lembar Kerja:
Bagaimana perubahan lintasan cahaya jika merambat dari udara ke air?
Konsep:
Sebuah material transparan dan berbentuk melengkung dapat digunakan
sebagai lensa. Cahaya dapat dibiaskan (dibengkokkan) jika merambat
melalui medium yang berbeda.
Bahan yang Dibutuhkan:
- Sebuah bejana transparan berisi air - Uang logam (koin)
- Akuarium kecil - Senter
- Mangkok - Pensil atau jerami
- Air - Kertas hitam
- Penggaris
Diskusi:
- Apa yang dimaksud dengan lensa?
- Bagaimana lensa digunakan?
- Bagaimana sinar cahaya mempengaruhi penampakan benda di dalam
air?
25

- Bagaimana mengubah arah sinar cahaya?


- Bagaimana membengkokkan sinar cahaya?
Aktivitas Belajar
BAGIAN 1 (catatan: aktivitas ini dilakukan secara berpasangan)
Hipotesis
Apakah air dapat berfungsi sebagai lensa? (pertanyaan untuk mengarahkan
pada perumusan hipotesis)
Hipotesis
Bagaimana penampakan sebuah pensil yang dicelupkan sebagian ke dalam
bejana berisis air? (pertanyaan untuk mengarahkan pada perumusan
hipotesis)
Letakkan bejana bening di meja dan isilah dengan air
secukupnya
Masukkan pensil atau jerami ke dalam air
Observasi
Amati bagaimana bentuk penampakan pensil.
Bagaimana perubahan penampakan bentuk pensil?
BAGIAN 2
Letakkan mangkok di atas meja dan masukkan sebuah uang logam ke dalam
mangkok tersebut. Mintalah pada beberapa orang peserta didik untuk
mengamati uang logam, selanjutnya mereka diminta mundur sampai uang
logam tidak kelihatan lagi dari pandangan.
Hipotesis Apakah uang logam dapat terlihat lagi tanpa
mengubah posisi peserta didik yang menjadi
pengamat dengan mengisis air ke dalam mangkok?
(pertanyaan untuk mengarahkan pada perumusan
hipotesis)
Merancang eksperimen Seseorang peserta didik yang lain harus mengisikan
air ke dalam mangkok secara perlahan sampai uang
logam terlihat kembali.
Hipotesis Apakah uang logam terlihat lebih jelas dibanding
sebelumnya? (pertanyaan untuk mengarahkan pada
perumusan hipotesis)
Aplikasi Bagaimana air mengubah jalannya sinar cahaya dari
uang logam ke mata pengamat?
Inferensi Bagaimana sinar cahaya dibengokkan? (pertanyaan
untuk mengarahkan pada inferensi oleh peserta
didik).
26

Inferensi Kesimpulan apa yang dapat ditarik berdasarkan


kedua percobaan yang telah dilakukan?
Setelah melakukan kegiatan guru memandu kelas
untuk melakukan diskusi sehingga dapat
menjelaskan tentang fenomena yang diamati
dengan gambar sebagai berikut. Pembantuan
gambar juga dapat dibantu oleh guru jika peserta
didik tidk mampu menjelaskan secara mandiri.
Merancang dan Melaksanakan Investigasi Lanjutan
Peserta didik ditugaskan untuk menyelidiki sifat rambutan cahaya pada
berbagai medium transparan dengan menggunakan senter, akuarium, dan
bahan lainnya. Pertanyaan yang dapat diajukan untuk mengarahkan
percobaan diusulkan dengan bantuan sketsa atau bagian percobaan.
Penyampaian Hasil Investigasi
Dua kelompok dipilih untuk mempertahankan investigasinya secara
bergantian, dan kelompok lain menanggapi. Peserta didik diminta membaca
buku atau referensi tentang pembiasan cahaya, misalnya membahas tentang
hukum pembiasan cahaya (untuk mata pelajaran SMA).
Evaluasi
Guru meminta peserta didik untuk menyelesaikan sketsa pembiasan cahaya
pada berbagai geometri, misalnya pada geometri berikut.
Aktivitas belajar dilanjutkan dengan pembahasan tentang pembiasan cahaya
pada lensa dengan menerapkan konsep pembiasan cahaya pada lensa dengan
menerapkan konsep yang telah ditemukan melalui aktivitas sebelumnya.
Diskusi tentang penerapan konsep pembiasan pada lensa dapat dilakukan
dengan bantuan gambar dan pertanyaan sebagai berikut: Bagaimana fokus
cahaya oleh dua macam lensa berikut dan apa kesimpulan kamu berdasarkan
sketsa yang kamu buat?
3. Kegiatan Penutup
Guru memandu peserta didik untuk membuat kesimpulan tentang
pembiasan cahaya serta aplikasinya pada lensa. Guru memberi tugas rumah
kepada peserta didik untuk menganalisis apakah pembiasan cahaya
bergantung pada cepat rambat cahaya, frekuensi cahaya, dan panjang
gelombang cahaya.
Contoh Pembelajaran Discovery Berbasis Inkuiri
27

Kegiatan belajar menggunakan metode discovery yang berbasis inkuiri


pada umumnya melibatkan (engage) siswa dalam menginstruksi pengetahuannya
secara mandiri. Siswa diberi kesempatan untuk melakuakan eksplorasi,
menjelaskan (explain), melakukan elaborasi, dan mengevaluasi proses dan produk
belajarnya. Proses belajar itu digambarkan sebagai berikut.
Kegiatan Belajar
Melibatkan (Engage) Meraih perhatian siswa, merangsang pemikiran
mereka, dan membantu mengungkapkan
pengetahuan yang telah mereka miliki
Eksplorasi (Explore) Memberikan kesempatan pada siswa untuk
berpikir, merencanakan, menyelidiki, dan
mengorganisasikan data yang diperoleh
Menjelaskan (Explain) Melibatkan kesempatan siswa dalam
menganalisis eksplorasi yang dilakukan.
Menggunakan kegiatan refleksi untuk
memperjelas atau memperbaiki
pemahamannya.
Elaborasi (Elaborate) Memberikan kesempatan pada siswa untuk
mengembangkan dan memantapkan
pemahamannya tentang konsep serta
menerapkannya dalam situasi nyata.
Evaluasi (Evaluate) Mengevaluasi keseluruhan proses dan output
pembelajaran.

Berikut ini diberikan beberapa contoh kegiatan belajar menemukan


(discovery) berbasis inkuiri untuk pelajaran fisika dan biologi. Kegiatan ini
diadopsi dari aktivitas belajar sains yang dideskripsikan oleh Athur A. Carin dan
Robert B. Sound (1975).
Kegiatan Belajar 1:
Apa yang menyebabkan molekul-molekul cairan bergerak?
Konsep:
Molekul-molekul pada cairan selalu bergerak dengan pola acak atau pergerakan
Brownian. Pergerakan ini disebabkan oleh kalor.
Alat dan bahan yang diperlukan:
Akuarium atauwadah transparan dengan pinggiran lebar
Kaca mikroskop (kaca preparat)
Pulpen
Pipa Kaca
Mikroskop atau proyektor mikro
Tinta cina
Tinta
28

Air secukupnya
Diskusi
Apa yang akan terjadi jika kamu menambahkan satu atau dua tetes tinta pada
semangkuk air? Apa yang akan kamu lakukan untuk mengetahui hal tersebut?
Bagian I: Pergerakan Molekul Cairan
Proses Saintifik Kegiatan Pengamatan
Percobaan isi akuarium atau bejana transparan dengan air
bening. Celupkan sepotong pipa kaca sebotol
tinta. Letakkan jarimu di atas pipa kaca tersebut
dan pindahkan dari botol tinta sehingga satu
kolom tinta, sebesar 2 atau 3 cm, tertinggal
dalam pipa kaca. Lap bagian luar pipa dan,
dengan jari masih di atas pipa, turunkan pipa
dengan hati-hati dan perlahan-lahan ke dalam
bejana atau akuarium. ketika bagian atas kolam
tinta yang ada dalam pipa sejajar dengan
permukaan air, pindahkan jarimu untuk
beberapa saat dan biarkan beberapa tetes tinta
mengalir tanpa campur dengan air. Letakkan
lagi jarimu di atas pipa dan pindahkan pipa
dengan hati-hati keluar dari akuarium.
Pengamatan Apakah kamu melihat beberapa tetes tinta
tertahan di dekat bagian tengah bejana?
Amatilah akuarium atau bejana selama
beberapa menit tanpa menggerakkan atau
menggoyangnya.
Hipotesis Mengapa sedikit demi sedikit tinta bergerak ke
semua bagian air?
Mengamati Berapa lama waktu yang dibutuhkan agar
warna tinta tersebar merata dalam akuarium
atau bejana tersebut?

Bagian II: Pergerakkan Molekul Cairan


Proses Saintifik Kegiatan Pengamatan
Aplikasi Ambil sebuah mikroskop, kaca mikroskop,
pulpen, air dan tinta Cina.
Hipotesis Letakkan satu tetes air pada kaca mikroskop.
Celupkan ujung pulpen ke dalam tinta India.
Letakkan ujung pulpen ke tetesan air yang ada
pada kaca mikroskop. Letakkan tinta sedikit
mungkin.
29

Menurutmu apa yang terjadi pada tinta dan air


tersebut?
Catatan Bagi Guru: Peringatan siswa agar berhati-hati ketika
menggunakan dan memfokuskan mikroskop. Pastikan bahwa siswa
mengamati hal yang diharapkan. Jika siswa belum cukup dewasa atau
tidak cukup mahir dalam menggunakan mikroskop, guru dapat melakukan
semua aktivitas ini pada proyektor mikro agar seluruh kelas akan melihat
aktivitas yang sama diproyeksikan pada layar.
Letakkan kaca mikroskop dengan hati-hati
dengan tetesan air dan tinta di atasnya.
Fokuskan mikroskop pada tetesan tersebut.Hati-
hati jangan sampai lensa mikroskop bersentuhan
dengan kaca mikroskop.
Pengamatan Amati tinta yang ada pada air.
Apa yang terjadi pada partikel tinta?
Bagaimana mereka bergerak?
Inferensi Apa penyebab pergerakan tersebut?
Apakah hal tersebut membuktikan bahwa
molekul-molekul air juga bergerak?
Catatan Bagi Guru:
Pergerakan yang dilihat siswa adalah gerakan Brownian, yakni pergerakan
acak dari moleku-molekul.

Kegiatan Belajar 2:
Bagaimana pengaruh udara bergerak terhadap benda?
Konsep:
Tekanan dari cairan atau gas akan menjadi lebih rendah ketika bergerak dengan
cepat dan akan lebih tinggi ketika bergerak dengan lambat (asas Bernouli).
Alat dan bahan yang diperlukan:
Tiga lembar kertas buku catatan Sebuah Kartu kecil (3x3")
Satu gulung benang Sebuah corong kecil
Sebuah bola pimpong Sebuah jarum
Sebuah bola minum soda
Catatan Bagi Guru:
Sebuah melakukan kegiatan penyelidikan, guru harus menjelaskan tentang energi
potensial dan gerak.
Bagian I
Proses Saintifik Kegiatan Pengamatan
Percobaan Ambil selembar buku catatan.
Buat lipatan sebesar 1 inci di bagian panjang
kertas. Buat lagi satu lipatan pada sisi lainnya.
Letakkan kertas di permukaan yang rata.
30

Hipotesa Menurutmu, apa yang akanterjadi jika kamu


meniup bagian bawah lipatan kertas?
Percobaan Tiup bagian bawah kertas.
Mengamati Dari pengamatanmu, bagiamana gerak kertas
tersebut?
Jelaskan bagaimana sirkulasi udara di bawah
kertas sebelum kamu meniupnya.
Membandingkan Apa yang kamu ketahui tentang tekanan udara
di bawah kertas (saat kamu meniupnya)
dibandingkan dengan tekanan udara yang
mendesak kertas diruangan tersebut?

Bagian II
Proses Saintifik Kegiatan Pengamatan
Hipotesa Menurutmu, apa yang akan terjadi jpada
segumpal kertas yang diletakkan di dekat
mulut botol soda jika kamu meniup dari
samping mulut botol?
Percobaan Ambil selembar kertas dan sebuah botol
minuman soda.
Buat kertas menjadi gumpalan kacang polong.
Letakkan gumpalan kertas di dekat mulut
botol.
Tiup mulut botol dari samping.
Mengamati Apa yang terjadi pada gumpalan kertas?
Inferensi Mengapa hal itu terjadi pada gumpalan kertas
tersebut?
Membandingkan Apa yang kamu ketahui tentang tekanan udara
dalam botol dan tekanan udara di mulut botol
ketika kamu meniupnya?
Hipotesis Menurutmu, apa yang akan terjadi jika kamu
meletakkan segumpal kertas di mulut botol
(seperti sebelumnya dan meniupnya langsung
dari depan?
Percobaan Tiup mulut botol secara langsung.
Mengamati Catat hasil pengamatanmu.
Inferensi Apa yang dapat kamu simpulkan dari
pengamatanmu?

Bagian III
Proses Saintifik Kegiatan Pengamatan
31

Hipotesa Apa yang akan terjadi pada kartu yang


tengahnya ditusuk dengan jarum jika lubang
gulungan benang diletakkan di sekitar jarum
di tengah kartu dan seseorang meniuplubang
gulungan itu?
Percobaan Ambil gulungan benang, sebuah kartu kecil
("3x3") dan sebuah jarum.
Tusuk jarum di tengah kartu.
Biarkan jarum menempel di tengah kartu dan
posisikan agar jarum berada di tengah lubang
gulungan benang. Posisikan kartu berada di
bawah gulungan benang.
Pegang kartu dengan tanganmu untuk
menahannya agar tidak terlepas dari bagian
bawah gulungan benang.
Tiuplah bagian tengah gulungan benang dan
lepaskan kartu tersebut.
Mengamati Apa yang terjadi pada kartu?
Inferensi Mengapa hal itu terjadi?
Apa yang menahan kartu?
Mengapa angin yang kamu tiupkan melalui
lubang tidak membuat kartu itu jatuh?
Mengapa kamu membutuhkan jarum di
tengah kartu?

Catatan bagi guru:


Ada dua hal yang mempengaruhi hasil dari kegiatan ini, yaitu (1) Bagian bawah
gulungan benang harus halus (amlas jika perlu); dan (2) Siswa harus mengambil
napas yang dalam dan mempertahankan kolom udara agar udara bertiup lancar ke
arah lubang gulungan. Percobaan akan berlangsung lebih baik jika menggunakan
penghembus udara, misalnya hairdrayer.

Bagian IV
Proses Saintifik Kegiatan Pengamatan
Hipotesa Apa yang akan terjadi pada bola pimpong jika
diletakkan pada ujung yang luas dari sebuah
corong dan kamumeniup ujung
lainnya(bagian corong)?
Percobaan Ambil sebuah bola pingpong dan sebuah
corong.
32

Letakkan bola pingpong pada bagian lebar


corong dan tiup dari ujung yang lain dengan
lancar dan lama. Bagian lebar corong berada
di bawah dan kamu meniup ke arah bawah.
Mengamati Amati apa yang terjadi dan catat hasil
pengamatanmu.
Inferensi Mengapa hal tersebut terjadi pada bola?
Mengapa bola pingpong tersebut berputar?

Bagian V
Proses Saintifik Kegiatan Pengamatan
Hipotesa Jika kamu memegang ujung-ujung selembar
kertas dan meniup kertas dari atas, apa yang
akan terjadi pada kertas?
Percobaan Ambil secarik kertas.
Pegang ujung kiri kertas dengan tangan kiri
dan ujung kanannya dengan tangan kanan
Tiuplah bagian atas kertas tersebut.
Mengamati Apa yang terjadi pada kertas?
Inferensi Mengapa kertas tersebut bergerak demikian?
Aplikasi Mengapa berdiri terlalu dekat dengan kereta
api yang bergerak dapat menyebabkan
kecelakaan?
Pertanyaan:
1. Ketika kamu lewt dengan cepat di depan meja siswa lain yang terdapat kertas
di atasnya, apa yang terjadi pada kertas?
2. Bagaimana cara menerapkan asa Bernoulli ini untuk menjelaskan tentang
berkibarnya sebuah bendera?
3. Apa yang akan terjadi jika pesawat berhenti bergerak diudara?
Catatan bagi guru: Jika sebuah pesawat bergerak cukup cepat, gaya akibat
perbedaan tekanan antara bagian bawah sayap dan bagian atas sayap akan
cukup untuk melawan gravitasi. Pesawat berhenti di udara, pesawat akan
segera meluncur jatuh.
4. Bagaimana variasi lekuk sayap pesawat dan mengapa penampang sayap dibuat
seperti itu?
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Model pembelajaran inkuiri adalah rangkaian kegiatan pembelajaran yang
menekankan pada proses berpikir secara kritis dan analisis untuk mencari
dan menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang dipertanyakan.
Prinsip prinsip model pembelajaran inkuiri yaitu (1) Berorientasi pada
pengembangan intelektual, (2) Prinsip Interaksi, (3) Prinsip Bertanya, (4)
Prinsip belajar untuk berpikir, (5) Prinsip keterbukaan.
Langkah-langkah dalam pelaksanaan model pembelajaran inkuiri dimulai
dari orientasi, merumuskan masalah, merumuskan hipotesis,
mengumpulkan data, menguji hipotesis, merumuskan kesimpulan.
Kelebihan model pembelajaran inkuiri salah satunya yaitu menekankan
pada pengembangan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik secara
seimbang. Sedangkan untuk kekurangannya salah satunya yaitu jika guru
tidak dapat merumuskan teka-teki atau pertanyaan kepada siswa dengan
baik, untuk memecahkan permasalahan secara sistematis, maka akan
membuat murid lebih bingung dan tidak terarah.
Model discovery learning adalah suatu proses pembelajaran yang
penyampaian materinya disajikan secara tidak lengkap dan menuntut siswa
terlibat secara aktif untuk menemukan sendiri suatu konsep ataupun
prinsip yang belum diketahuinya.
Kegiatan belajar mengajar menggunakan metode penemuan (discovery)
mirip dengan inkuiri (inquiry). Inkuiri adalah proses menjawab pertanyaan
dan menyelesaikan masalah berdasarkan fakta dan pengamatan, sedangkan
discovery adalah menemukan konsep melalui serangkaian data atau
informasi yang diperoleh melalui pengamatan atau percobaan
Langkah-langkah operasional model discovery learning dimulai dari
langkah persiapan model discovery learning yang meliputi menentukan
tujuan pembelajaran; melakukan identifikasi karakteristik siswa; memilih
materi pelajaran; menentukan topik-topik yang harus dipelajari siswa
secara induktif; mengembangkan bahan-bahan belajar yang berupa contoh-
contoh, ilustrasi, tugas, dan sebagainya untuk dipelajari siswa. Kemudian
disusul prosedur aplikasi model discovery learning yang meliputi

35
36

stimulation (stimulasi/pemberian rangsang); problem statemen


(pernyataan/identifikasi masalah); data collection (pengumpulan data);
data processing (pengolahan data); Verification (pembuktian); dan
Generalization (menarik kesimpulan).
Kelebihan model pembelajaran discovery salah satunya yaitu membantu
siswa untuk memperbaiki dan meningkatkan keterampilan-keterampilan
dan proses-proses kognitif. Sedangkan kekurangannya salah satunya yaitu
menyita banyak waktu karena guru dituntut mengubah kebiasaan mengajar
yang umumnya sebagai pemberi informasi menjadi fasilitator, motivator,
dan pembimbing.

B. Saran
Model pembelajaran inkuiri menekankan pada masalah yang akan dipecahkan
dengan mengajukan hipotesis sesuai dengan rumusan masalah yang diajukan.
Model ini akan efektif bila guru mengharapkan siswa dapat menemukan sendiri
jawaban dari suatu permasalahan yang ingin dipecahkan. Penguasaan materi
pelajaran bukan sebagai tujuan utama pembelajaran, akan tetapi yang lebih
dipentingkan adalah proses belajar.
Karena model pembelajaran discovery learning hanya dapat dipakai untuk
materi materi tertentu, maka seorang guru atau seorang calon guru disarankan
agar mampu memilih dan memilah materi mana yang tepat dan cocok yang dapat
diterapkan dalam proses belajar agar tidak menyita waktunya juga tidak hanya
melibatkan beberapa siswa saja, karena model pembelajaran discovery diperlukan
keaktifan seluruh siswa.
DAFTAR PUSTAKA

Iskandar, Srini M. 2015. Pendekatan Pembelajaran Sains Berbasis Konstruktivis.


Malang: Media Nusa Creative
Kurniasih, Imas & Sani, Berlin. 2014. Implementasi Kurikulum 2013 Konsep &
Penerapan. Surabaya: Kata Pena.
S, Ridwan Abdullah. 2015. Pembelajaran Saintifik Untuk Implementasi
Kurikulum 2013. Jakarta: Bumi Aksara.
Trianto. 2007. Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik.
Jakarta: Prestasi Pustaka.
Wina, Sanjaya. 2010. Strategi Pembelajaran Berorintasi Standar Proses
Pendidikan. Jakarta: Kencana