Anda di halaman 1dari 35

APLIKASI BIOTEKNOLOGI DALAM BIDANG LINGKUNGAN

MAKALAH
Untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Bioteknologi
yang dibimbing oleh Arif Mustakim, M.Si.

Oleh
Kelompok 3

Kelompok 3

Putri Pramita S (17208153040)


Ifa Hani N (17208153049)
Finery yazid A (17208153055)
Triawati (17208153066)

JURUSAN TADRIS BIOLOGI


FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI TULUNGAGUNG
Oktober 2017
KATA PENGANTAR

Tiada kata yang pantas pertama kali diucapan selain ucapan syukur kepada
ALLAH SWT dengan ucapan Alhamdulillahirrabilaalamin yang mana kita telah
diberi nikmat yang luar biasa. Dan dengan petunjuknya kita dapat menyelesaikan
makalah sesuai dengan waktunya. Shalawat serta salam tidak lupa kami ucapkan
kepada baginda nabi Muhammad SAW serta para keluarga, sahabat, tabiin dan
para pengikutnya. Dan dengan itu kita selalu menantikan syafaatnya kelak di hari
pembalasan.
Di kesempatan yang sangat baik ini kami menyusun sebuah makalah yang
berjudul APLIKASI BIOTEKNOLOGI DALAM BIDANG
LINGKUNGAN. Sebelumnya kami ucapkan terimakasih kepada:
1. Rektor IAIN Tulungagung Dr. Maftukhin, M.Ag yang telah memberikan
kesempatan kepada kami untuk belajar di kampus tercinta ini.
2. Dosen mata kuliah Bioteknologi, Arif Mustakim, M.Si. yang telah
memberikan kepercayaan kepada kami untuk menyusun sebuah makalah
ini.
3. Dan tidak lupa juga kepada teman-teman yang ikut membantu dalam
pembuatan makalah ini. Dengan amanat itu kami akan memberikan hasil
yang terbaik untuk makalah ini.
Penyusun menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih banyak
kekurangan. Oleh karena itu, penyusun sangat mengharapkan kritik dan saran
yang membangun dari semua pihak untuk mengevaluasi makalah ini.
Penyusun berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat untuk semuanya.

Tulungagung, Oktober 2017

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................... i


DAFTAR ISI .................................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN ...............................................................................
A. Latar Belakang ................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah .............................................................................. 2
C. Tujuan ................................................................................................ 2
BAB II PEMBAHASAN ................................................................................ 3
A. Pengertian Bioteknologi Lingkungan ................................................ 3
B. Contoh Penerapan dan Mekanisme Bioteknologi Lingkungan ......... 5
1. Biogas ............................................................................................ 5
2. Bioremediasi.................................................................................. 9
3. Biodiesel ....................................................................................... 16
4. Fitoremediasi ................................................................................. 22
5. Biomassa ....................................................................................... 24
BAB III KESIMPULAN ............................................................................... 31
DAFTAR PUSTAKA

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Bioteknologi adalah cabang ilmu yang mempelajari pemanfaatan
makhluk hidup (bakteri, fungi, virus, dan lain-lain) maupun produk dari
makhluk hidup (enzim, alkohol) dalam proses produksi untuk menghasilkan
barang dan jasa. Bioteknologi merupakan ilmu terapan yang menggabungkan
berbagai cabang ilmu dalam proses produksi barang dan jasa. Penerapan
bioteknologi di masa ini juga dapat dijumpai pada pelestarian lingkungan hidup
dari polusi. Sebagai contoh, pada penguraian minyak bumi yang tertumpah ke
laut oleh bakteri, dan penguraian zat-zat yang bersifat toksik (racun) di sungai
atau laut dengan menggunakan bakteri jenis baru.
Bioteknologi lingkungan penggunaannya banyak melibatkan
mikroorganisme untuk meningkatkan kualitas lingkungan hidup manusia dan
alam sekitarnya. Peningkatan kualitas lingkungan tersebut meliputi pencegahan
terhadap masuknya berbagai polutan agar lingkungan tidak terpolusi,
membersihkan lingkungan yang terkontaminasi oleh polutan, dan
membangkitkan serta memberdayakan sumber daya alam yang masih memiliki
nilai tambah untuk meningkatkan kesejahteraan hidup manusia.
Essensi kajian bioteknologi lingkungan sesungguhnya untuk
meningkatkan kesejahteraan kehidupan manusia melalui pemberdayaan
lingkungan secara teknik. Bioteknologi lingkungan merupakan kajian yang
sangat menjanjikan terutama kesejahteraan dalam meningkatkan kehidupan
modern. Perlakuan teknologi secara mikrobiologi telah dikembangkan sejak
awal abad ke-20an, saat ini teknologi baru secara konstan ditujukan untuk
memecahkan masalah yang sedang trend sekarang ini, terutama masalah
lingkungan hidup.
Berdasarkan hal tersebut dapat diketahui bahwa betapa pentingnya
bioteknologi lingkungan yang harus ditumbuhkembangkan untuk
meningkatkan kesejahteraan taraf kehidupan manusia dan menangani masalah

1
lingkungan, sehingga sangat penting mempelajari tentang bioteknologi
lingkungan ini.
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian dari bioteknologi lingkungan?
2. Apa saja contoh penerapan dan mekanisme bioteknologi lingkungan?
C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui pengertian dari bioteknologi lingkungan
2. Untuk mengetahui contoh penerapan dan mekanisme bioteknologi
lingkungan

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Bioteknologi Lingkungan


Bioteknologi adalah cabang ilmu yang mempelajari pemanfaatan
makhluk hidup (bakteri, fungi, virus, dan lain-lain) maupun produk dari
makhluk hidup (enzim, alkohol) dalam proses produksi untuk menghasilkan
barang dan jasa. Bioteknologi merupakan ilmu terapan yang menggabungkan
berbagai cabang ilmu dalam proses produksi barang dan jasa.
Penerapan bioteknologi di masa ini juga dapat dijumpai pada pelestarian
lingkungan hidup dari polusi. Sebagai contoh, pada penguraian minyak bumi
yang tertumpah ke laut oleh bakteri, dan penguraian zat-zat yang bersifat toksik
(racun) di sungai atau laut dengan menggunakan bakteri jenis baru.
Bioteknologi lingkungan penggunaannya banyak melibatkan
mikroorganisme untuk meningkatkan kualitas lingkungan hidup manusia dan
alam sekitarnya. Peningkatan kualitas lingkungan tersebut meliputi pencegahan
terhadap masuknya berbagai polutan agar lingkungan tidak terpolusi;
membersihkan lingkungan yang terkontaminasi oleh polutan; dan
membangkitkan serta memberdayakan sumber daya alam yang masih memiliki
nilai tambah untuk meningkatkan kesejahteraan hidup manusia. Penggunaan
mikroorganisme untuk mengurangi polutan di lingkungan merupakan
bioremediasi.
Essensi kajian bioteknologi lingkungan sesungguhnya untuk
meningkatkan kesejahteraan hidup manusia melalui pemberdayaan lingkungan
secara teknik. Bioteknologi lingkungan merupakan kajian yang sangat
menjanjikan terutama kesejahteraan dalam meningkatkan kehidupan modern
yang mengarah kepada kehidupan modern yang lebih baik lagi. Perlakuan
teknologi secara mikrobiologi telah dikembangkan sejak awal abad ke-20an,
seperti mengaktivasi berbagai kotoran (hewan dan juga manusia) dan
pencernaan anaerobik hewan, kotoran-kotoran lain yang berserakan di
lingkungan sekitar tempat tinggal.

3
Pada waktu yang sama, teknologi-teknologi baru secara konstan
ditujukan untuk memecahkan masalah-masalah yang sedang trend sekarang ini,
terutama masalah lingkungan hidup, seperti detoksifikasi zat-zat kimia yang
berbahaya yang sudah banyak menyatu ke dalam berbagai tumbuhan dan
hewan peliharaan.
Beberapa perangkat penting yang sering digunakan untuk melihat
karakteristik dan proses pengontrolan polutan dalam teknologi lingkungan juga
telah dikembangkan secara bertahap sesuai dengan biaya yang tersedia.
Contoh: mengukur biomassa secara tradisional, seperti zat padat yang mudah
menguap, yang tidak memiliki relevansi berkurang atau hilang, meskipun
perangkat ini digunakan khusus untuk biologi molekuler guna mengeksplor
persebaran komunitas mikrobial.
Proses kerja bioteknologi lingkungan sesuai dengan prinsip kerja yang
sudah diaplikasikan pada bidang mikrobiologi dan rekayasa (engineering),
akan tetapi aplikasi prinsip-prinsip ini secara normal membutuhkan beberapa
tingkatan empirisme. Material yang diperlakukan dengan bioteknologi
lingkungan adalah sangat kompleks dan tidak dapat dipisahkan dalam berbagai
waktu dan tempat. Prinsip-prinsip rekayasa mengarah kepada perangkat
kuantitatif, sedangkan prinsipprinsip mikrobiologi seringkali mengarah kepada
observasi. Kuantifikasi merupakan essensi, jika proses ini handal (reliable) dan
hemat biaya (cost-efective).
Kompleksitas dari komunitas mikrobial terlibat dalam bioteknologi
lingkungan. Kompleksitas ini seringkali berada di luar deskripsi kuantitatif,
tidak memiliki nilai observasi kuantitatif dari nilai yang terbaik.
Kajian bioteknologi lingkungan berdasar pada prinsip-prinsip dan
aplikasi biologi, yang berkaitan dengan teknologi. Strategi dalam
mengembangkan bioteknologi lingkungan berbasis kepada konsep-konsep
dasar dan perangkat yang bersifat kuantitatif saja. Yang dimaksud dengan
prinsip-prinsip dan aplikasi biologi disini adalah memberdayakan semua proses
mikrobiologikal agar dapat dipahami, diprediksi, dan merupakan satu kesatuan
pemahaman. Setiap aplikasi bioteknologi lingkungan memiliki ciri-ciri khusus
tersendiri yang musti dipahami. Ciri khusus ini dilakukan secara bertahap.

4
Ilmu-ilmu pengetahuan yang terlibat kedalam kajian bioteknologi
lingkungan, di antaranya: dasar-dasar taksonomi makhluk hidup, dasar-dasar
mikrobiologi lingkungan, metabolisma, genetika, dan ekologi mikrobial. Di
samping itu, pengetahuan lain juga terlibat, seperti: stokiometri dan energetika
dari reaksi-reaksi mikrobial. Oleh karena itu, bioteknologi lingkungan
merupakan ilmu aplikatif yang harus ditumbuhkembangkan untuk
meningkatkan kesejahteraan taraf kehidupan manusia ke arah kemakmuran.
Bioteknologi lingkungan dibatasi pada yang secara langsung atau tidak
langsung menangani masalah-masalah lingkungan.
B. Contoh Penerapan dan Mekanisme Bioteknologi Lingkungan
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa bioteknologi lingkungan
adalah salah satu pemanfaatan bioteknologi yang banyak melibatkan
mikroorganisme untuk meningkatkan kualitas lingkungan hidup manusia dan
alam sekitarnya. Berikut beberapa contoh penerapan bioteknologi dibidang
lingkungan:
1) Biogas
Biogas adalah gas yang mudah terbakar yang dihasilkan dari proses
fermentasi bahan-bahan organik oleh bakteri anaerob (bakteri yang hidup
dalam kondisi kedap udara). Pada dasarnya semua jenis bahan organik bisa
diproses untuk menghasilkan biogas, namun demikian hanya bahan organik
(padat, cair) homogen seperti kotoran dan urine hewan ternak yang cocok
untuk sistem biogas sederhana. Jenis bahan organik yang diproses sangat
mempengaruhi produktivitas sistem biogas di samping parameter-parameter
lain seperti temperatur digeser, pH, tekanan dan kelembapan udara.

Gambar 1. Pemanfaatan biogas


Biogas merupakan teknologi pembentukan energi dengan memanfaatkan
limbah, seperti limbah pertanian,limbah peternakan danlimbah manusia.

5
Selain menjadi energi alternatif, biogas juga dapat mengurangi
permasalahan lingkungan, seperti polusi udara dan tanah.
Energi biogas memiliki kelebihan-kelebihan dibandingkan energi nuklir
atau batu bara, yakni tak berisiko tinggi terhadap lingkungan. Selain itu
biogas tak memiliki polusi yang tinggi, limbah biogas yaitu kotoran ternak
yang telah hilang gasnya merupakan pupuk organik yang sangat kaya unsur-
unsur yang dibutuhkan oleh tanaman.
Prinsip dasar teknologi biogas adalah proses penguraian bahan-bahan
organik oleh mikroorganisme dalam kondisi tanpa udara (anaerob) untuk
menghasilkan campuran dari beberapa gas, diantarannya metana dan CO2.
Biogas dihasilkan dengan bantuan bakteri metanogen atau metanogenik.
Bakteri ini secara alami terdapat dalam limbah yang mengandung bahan
organik, seperti limbah ternak dan sampah organik. Proses tersebut dikenal
dengan istilah anaerobic digestion atau pencernaan secara anaerob.
Umumnya, biogas diproduksi menggunakan alat yang disebut reaktor biogas
(digester) yang dirancang agar kedap udara (anaerob), sehingga proses
penguraian oleh mikroorganisme dapat berjalan secara optimal.

Gambar 2. Biogas
Biogas dapat digunakan sebagai bahan bakar, seperti halnya gas alam,
sementara campuran lumpur atau cairan biologis hasil fermentasi dapat
digunakan sebagai pupuk organik untuk tumbuhan. Biogas hanya dapat
terbakar apabila kandungan metana di dalamnya mencapai 45% atau lebih.
Gas metana (CH4) yang merupakan komponen uatama biogas merupakan
bahan bakar yang berguna karena mempunyai nilai kalor yang cukup tinggi,
yaitu sekitar 4800 sampai 6700 kkal/m3. Karena nilai kalor yang cukup

6
tinggi itulah biogas dapat digunakan untuk keperluan penerangan, memasak,
menggerakkan mesin dan sebagainya. Sistem produksi biogas juga memiliki
beberapa keuntungan seperti:
a) Produksi daya dan panas
b) Mengurangi pengaruh gas rumah kaca
c) Mengurangi polusi bau tidak sedap
d) Sebagai pupuk
Pembentukan biogas yang dilakukan oleh mikroba pada situasi anaerob,
meliputi tiga tahap yaitu tahap hidrolisis, tahap pengasaman dan tahap
metanogenik. Pada tahap hidrolisis terjadi plarutan bahan-bahan organik
mudah larut dan pencernaan bahan organik yang kompleks menjadi
sederhana, perubahan bentuk primer menjadi bentuk monomer. Pada tahap
pengasaman komponen monomer (gula sederhana) yang terbentuk pada
tahap hidrolisis akan menjadi makanan bagi bakteri pembentuk asam.
Produk akhir dari gula-gula sederhana pada tahap ini akan dihasilkan asam
asetat, propionat, format, laktat, alkohol dan sedikit butirat, gas
karbondioksida, hidrogen dan amoniak. Pada tahap metagonik adalah proses
pembentukan gas metan. Proses tersebut dapat dilihat pada gambar dibawah
ini.

Gambar 3. Tahap pembentukan biogas

7
Tahapan anaerob digestion antara lain sebagai berikut.
1. Hidrolisis secara enzimatik, bahan organik tak larut menjadi bahan organik
dapat larut. Enzim utama yang terlibat adalah selulase yang menguraikan
selulosa.
2. Bahan organik yang dapat larut akan didegradasi menjadi asam lemah (asam
organik) dengan bantuan bakteri pembentuk asam (non methanogenik).
3. Bakteri akan menguraikan sampah pada tingkat hidrolisis dan asidifikasi.
Hidrolisis yaitu penguraian senyawa kompleks atau senyawa rantai panjang
seperti lemak, protein, karbohidrat menjadi senyawa yang sederhana.
Sedangkan asifidifikasi yaitu pembentukan asam dari senyawa sederhana.
4. Setelah material organik berubah menjadi asam organik, maka tahap
selanjutnya adalah pembentukan gas metana dengan bantuan bakteri
pembentuk metana seperti Methanococus, Methanosarcina,
Methanobacterium, dan Methanobacillus.
Proses tersebut memiliki kemampuan untuk mengolah sampah/limbah yang
keberadaanya melimpah dan tidak bermanfaat menjadi produk yang lebih
bernilai. Biogas sebagian besar mengandung gas metana (CH4) dan karbon
dioksida (CO2), dan beberapa kandungan yang jumlahnya kecil diantaranya
hidrogen sulfida (H2S) dan ammonia (NH3) serta hidrogen (H2), dan nitrogen
yang kandungannya sangat kecil. Energi yang terkandung dalam biogas
tergantung dari konsentrasi metana (CH4), semakin tinggi kandungan metana
maka semakin besar kandungan energi (nilai kalor) pada biogas, dan
sebaliknya semakin kecil kandungan metana semakin kecil nilai kalor.
Kualitas biogas dapat ditingkatkan dengan memperlakukan beberapa
parameter yaitu :
1. Menghilangkan hidrogen sulfur, kandungan air, dan karbon dioksida (CO2).
Hidrogen sulfur mengandung racun dan zat yang menyebabkan korosi, bila
biogas mengandung senyawa ini maka akan menyebabkan gas yang berbahaya.
Bila gas dibakar maka hidrogen sulfur akan lebih berbahaya karena akan
membentuk senyawa baru bersama-sama oksigen, yaitu sulfur dioksida/sulfur
trioksida (SO2/SO3) senyawa ini lebih beracun dan membentuk asam sulfat
(H2SO3) suatu senyawa yang lebih korosif.

8
2. Menghilangkan kandungan karbon dioksida memiliki tujuan untuk
meningkatkan kualitas, sehingga gas dapat digunakan untuk bahan bakar
kendaraan. Kandungan air dalam biogas akan menurunkan titik penyalaan
biogas serta dapat menimbukan korosif.
Konversi limbah melalui proses anaerobik digestion dengan menghasilkan
biogas memiliki beberapa keuntungan, yaitu :
1) Energi biogas dapat berfungsi sebagai energi pengganti bahan bakar fosil
sehingga akan menurunkan gas rumah kaca di atmosfer dan emisi lainnya.
2) Metana merupakan salah satu gas rumah kaca yang keberadaannya di
atmosfer akan meningkatkan temperatur, dengan menggunakan biogas
sebagai bahan bakar maka akan mengurangi gas metana di udara.
3) Limbah berupa sampah kotoran hewan dan manusia merupakan material
yang tidak bermanfaaat, bahkan bisa mengakibatkan racun yang sangat
berbahaya. Dengan aplikasi anaerobik digestion akan meminimalkan efek
tersebut dan meningkatkan nilai manfaat dari limbah.1
2) Bioremediasi
Bioremediasi merupakan penggunaan mikroorganisme untuk mengurangi
polutan di lingkungan. Saat Bioremediasi terjadi, enzim yang diproduksi
oleh mikroorganisme memodifikasi polutan beracun dengan mengubah
struktur kimia polutan tersebut, sebuah peristiwa yang disebut
biotransformasi. Pada banyak kasus, biotransformasi berujung pada
biodegradasi, dimana polutan beracun terdegradasi, strukturnya menjadi
tidak kompleks, dan akhirnya menjadi metabolit yang tidak berbahaya dan
tidak beracun. Sejak tahun 1900an, orang-orang sudah menggunakan
mikroorganisme untuk mengolah air pada saluran air. Saat ini, Bioremediasi
telah berkembang pada perawatan limbah buangan yang berbahaya
(senyawa kimia yang sulit untuk didegradasi), yang biasanya dihubungkan
dengan kegiatan industri.
Bioremediasi dapat melalui cara seperti berikut:

1
Jessy Damayanti, Bioteknologi, (online) https://www.slideshare.net/JessyDing/bioteknologi-di-
bidang-lingkungan

9
a. Biostimulasi: Nutrien dan oksigen, dalam bentuk cair atau gas,
ditambahkan ke dalam air atau tanah yang tercemar untuk memperkuat
pertumbuhan dan aktivitas bakteri remediasi yang telah ada di dalam air
atau tanah tersebut.
b. Bioaugmentasi: Mikroorganisme yang dapat membantu membersihkan
kontaminan tertentu ditambahkan ke dalam air atau tanah yang tercemar.
Cara ini yang paling sering digunakan dalam menghilangkan kontaminasi
di suatu tempat. Namun ada beberapa hambatan yang ditemui ketika cara
ini digunakan. Sangat sulit untuk mengontrol kondisi situs yang tercemar
agar mikroorganisme dapat berkembang dengan optimal. Para ilmuwan
belum sepenuhnya mengerti seluruh mekanisme yang terkait dalam
Bioremediasi, dan mikroorganisme yang dilepaskan ke lingkungan yang
asing kemungkinan sulit untuk beradaptasi.
c. Bioremediasi Intrinsik: Bioremediasi jenis ini terjadi secara alami di
dalam air atau tanah yang tercemar. Beberapa kriteria yang harus
dipenuhi untuk penggunaan tindakan Bioremediasi adalah.
1) Organisme yang digunakan harus mempunyai aktivitas metabolisme
yang dapat mendegradasi kontaminan dengan kecepatan memadai
sehingga dapat membuat konsentrasi kontaminan pada tingkat/ambang
batas aturan yang ada.
2) Kontaminan yang dijadikan sasaran harus bioavailable (tersedia untuk
proses biologi).
3) Tempat dilakukan Bioremediasi harus mempunyai kondisi yang
kondusif untuk pertumbuhan mikroba atau tanaman atau untuk
aktivitas enzim.
4) Biaya Bioremediasi harus lebih murah dari biaya pengunaan teknologi
lain yang juga dapat mendetoksifikasi kontaminan (Budianto, 2009).
Bioremediasi dapat dibedakan berdasarkan lokasi, tempat
pencemaran, dan bahan pencemar antara lain sebagai berikut:
a) Berdasarkan lokasi
Ada dua jenis Bioremediasi berdasarkan lokasi, yaitu in-situ (atau
on-site) dan ex-situ (atau off-site). Pembersihan on-site adalah

10
pembersihan di lokasi. Pembersihan ini lebih murah dan lebih mudah,
terdiri dari pembersihan, venting (injeksi), dan Bioremediasi. Sementara
Bioremediasi ex-situ atau pembersihan off-side dilakukan dengan cara
tanah atau air yang tercemar diambil dan dipindahkan ke dalam
penampungan yang lebih terkontrol, kemudian diberi perlakuan khusus
dengan menggunakan mikroba. Bioremediasi ex-situ dapat berlangsung
lebih cepat, mampu me-remediasi jenis kontaminan yang lebih beragam,
dan lebih mudah dikontrol dibanding dengan Bioremediasi in-situ.
(Budianto, 2009).
Contoh:
Bioremediasi in situ, yakni pembersihan di lokasi. Contohnya yakni
sumur ekstraksi: untuk mengeluarkan air tanah yang kemudian ditambah
nutrisi dan oksigen dan dimasukkan kembali ke dalam tanah melalui
sumur injeksi.

Gambar 4. Contoh Proses Bioremediasi in-situ


Bioremediasi eksitu, yakni penggalian tanah yang tercemar dan
kemudian dibawa ke daerah yang aman. Di daerah aman, tanah tersebut
dibersihkan dari zat pencemar bisa melalui Slurry Phase yaitu bejana
besar digunakan sebagai bio-reactor yang mengandung tanah, air,
nutrisi dan udara untuk membuat mikroba aktif mendegradasi senyawa
pencemar.

11
Gambar 5. Contoh Proses Bioremediasi eksitu

b) Berdasarkan Jenis Bahan Pencemar


1) Bioremediasi Senyawa Organik
Yaitu proses mengubah senyawa pencemar organik yang
berbahaya menjadi senyawa lain yang lebih aman dengan
memanfaatkan organisme. Melibatkan proses degradasi. Biodegradasi
yaitu pemecahan cemaran organik oleh aktivitas mikroba yang
melibatkan serangkaian reaksi enzimatik.
Umumnya terjadi karena senyawa tersebut dimanfaatan sebagai
sumber makanan (substrat). Biodegradasi yang lengkap disebut juga
sebagai mineralisasi, dengan produk akhirnya berupa karbondioksida
dan air. Proses ini dipakai dalam pengolahan limbah untuk menjadi
CO2 dan air. Ko-metabolisma (co-metabolism) yaitu kemampuan
mikroba dalam mengoksidasi atau metabolisasi suatu senyawa tetapi
energi yang dihasilkan tidak dapat digunakan sebagai sumber energi
untuk pertumbuhan. Contohnya biodegradasi oleh bakteri
Pseudomonas sp.

12
2) Bioremediasi Senyawa Anorganik
Yaitu pemanfaatan organisme untuk mengubah, menyerap atau
memanfaatkan senyawa anorganik yang mencemari lingkungan.
Proses ini bisa melalui bioleaching yaitu proses ekstraksi dan
pemecahan logam menggunakan bakteri contohnya oksidasi besi dan
belerang menggunakan bakteri Acidithiobacillus thiobacillus dan
Thiooxidans acidithiobacillus dengan proses FeAsS (s) Fe2+ (aq) +
As3+ (aq) + S6+ (aq) . Selain itu bioremediasi senyawa anorganik bisa
dilakukan dengan biobsorsi yaitu proses penyerapan logam pada
permukaan sel akibat interaksi anion dan kation.

c) Berdasarkan Tempat Pencemaran


4) Bioremediasi Tanah
Bioremediasi tanah tercemar logam berat sudah banyak
dilakukan dengan menggunakan mikoriza dan bakteri pereduksi
logam berat sehingga tidak dapat diserap oleh tanaman. Hasil-hasil
penelitian menunjukkan bahwa cendawan memiliki kontribusi yang
lebih besar dari bakteri, dan kontribusinya makin meningkat dengan
meningkatnya kadar logam berat. Mikoriza dapat melindungi tanaman
dari ekses unsur tertentu yang bersifat racun seperti logam berat.
Mekanisme perlindungan terhadap logam berat dan unsur
beracun yang diberikan mikoriza dapat melalui efek filtrasi,
menonaktifkan secara kimia atau penimbunan unsur tersebut dalam
hipa cendawan. Tanaman yang berkembang dengan baik di lahan

13
limbah batubara ditemukan adanya oil droplets dalam vesikel akar-
mikoriza. Hal ini menunjukkan bahwa ada mekanisme filtrasi,
sehingga bahan beracun pada limbah yang diserap mikoriza tidak
sampai diserap oleh tanaman inangnya.

Gambar 6. Ektomikoriza pada Tanaman


Sumber: (Madjid, 2009)

Cendawan ektomikoriza dapat meningkatkan toleransi tanaman


terhadap logam beracun dengan mengakumulasi logam dalam hipa
ekstramatrik dan extrahyphae slime (Aggangan, et.al., 1998 dalam
Madjid, 2009) sehingga mengurangi serapannya ke dalam tanaman
inang. Pemanfaatan cendawan mikoriza dalam Bioremediasi tanah
tercemar, disamping dengan akumulasi bahan tersebut dalam hipa,
juga dapat melalui mekanisme pembentukan komplek logam tersebut
oleh sekresi hipa eksternal (Khairani, 2008 dalam Madjid 2009).
Bioremediasi dengan penerapan mikroorganisme untuk
mempercepat transformasi karbon dan penggunaan tanaman yang
dapat menimbun karbon dalam jaringannya telah menampakkan
beberapa hasil yang cukup memberikan harapan dalam
penanggulangan pencemaran pestisida ini. Transformasi kimia dari
bahan pencemar pestisida melalui proses Bioremediasi ini meliputi
beberapa proses, yaitu :
1. detoksikasi (konversi dari molekul yang bersifat toksik menjadi
produk yang tidak bersifat toksik),
2. degradasi (transformasi dari substrat kompleks menjadi produk
yang lebih sederhana),

14
3. konjugasi (pembentukan senyawa kompleks atau reaksi
penambahan),
4. aktivasi,
5. defusi/pemecahan, dan
6. perubahan spektrum toksisitas (Madjid, 2009).
5) Bioremediasi Air
Meningkatnya aktivitas manusia di rumah tangga menyebabkan
semakin besarnya volume limbah yang dihasilkan dari waktu ke
waktu. Volume limbah rumah tangga meningkat 5 juta m3 pertahun,
dengan peningkatan kandungan rata-rata 50% Konsekuensinya adalah
beban badan air yang selama ini dijadikan tempat pembuangan limbah
rumah tangga menjadi semakin berat, termasuk terganggunya
komponen lain seperti saluran air, biota perairan dan sumber air
penduduk. Keadaan tersebut menyebabkan terjadinya pencemaran
yang banyak menimbulkan kerugian bagi manusia dan lingkungan.
Dalam kondisi demikian, diperlukan suatu sistem pengolahan limbah
rumah tangga yang selain murah dan mudah diterapkan, juga dapat
memberi hasil yang optimal dalam mengolah dan mengendalikan
limbah rumah tangga sehingga dampaknya terhadap lingkungan dapat
dikurangi
Bioremediasi air dapat menggunakan bakteri atau tanaman air.
Penggunaan bakteri sering digunakan seperti Bacillus sp. untuk bahan
pencemar minyak bumi, Pseudomonas pseudomallei ICBB 1512
untuk menghilangkan senyawa merkuri beracun yang terlarut dalam
air limbah dan Desulfotomaculum orientis ICBB 1204,
Desulfotomaculum sp. ICBB 8815 dan ICBB 8818 yang mengubah
sulfat dalam air asam tambang menjadi hidrogen sulfida dan
kemudian bereaksi dengan logam berat setelah reaksi belangsung pH
(keasaman) air asam tambang yang mula-mula berkisar dari 2-3
meningkat mendekati netral (6-7). Sementara logam berat yang
terdapat air asam tambang mengendap.

15
Selain itu bisa juga digunakan berbagai tanaman air yang
memiliki kemampuan secara umum untuk menetralisir komponen-
komponen tertentu di dalam perairan. Reed (2005) menjelaskan
bahwa proses pengolahan limbah cair dalam kolam yang
menggunakan tanaman air terjadi proses penyaringan dan penyerapan
oleh akar dan batang tanaman air, proses pertukaran dan penyerapan
ion, dan tanaman air juga berperan dalam menstabilkan pengaruh
iklim, angin, cahaya matahari dan suhu.2

Gambar 7. Sistem Hidroponik Bioremediasi Air


Sumber: (http://www.slideshare.net/donithamanurung/pencemaran-
tanahfisika-lingkungan/)

3) Biodiesel
Biodisel merupakan bahan bakar alternatif dari sumber terbarukan
(renewable) yang bersifat ramah lingkungan dengan komposisi ester asam
lemak dari minyak nabati.

Gambar 8. Tahap pembuatan biodiesel

2
Lya Vita Ferdana, Bioteknologi Lingkungan, (Online)
https://id.scribd.com/doc/113165070/BIOTEKNOLOGI-LINGKUNGAN

16
Biodiesel juga didefinisikan sebagai bahan bakar yang berasal dari
minyak nabati yang mempunyai kualitas menyerupai minyak diesel ataupun
solar. Minyak diesel digunakan sebagai bahan bakar pada mesin diesel
stationer (pada PLN atau keperluan industri) sedangkan solar digunakan
sebagai bahan bakar mesin diesel moveable (alat-alat transportasi). Tanaman
di Indonesia yang berhasil dikembangkan sebagai sumber energi alternatif
biodiesel antara lain yaitu jarak pagar, kelapa sawit, dan alga.
Biodiesel dapat digunakan untuk bahan bakar mesin diesel, yang
biasanya menggunakan minyak solar. seperti untuk pembangkit listrik,
mesin-mesin pabrik yang menggunakan diesel, juga alat transportasi
termasuk mobil yang bermesin diesel. Biodiesel dapat sebagai pengganti
100% minyak solar, maupun sebagai campuran minyak solar tanpa
modifikasi mesin. Campuran minyak solar dengan biodiesel diberi kode B
(Blending). Sebagai contoh bahan bakar B5 adalah campuran yang terdiri
95% volume minyak solar dengan 5 % volume biodiesel. Minyak solar
dengan biodiesel dapat dicampur dengan berbagai perbandingan.
Penerapan peraturan emisi kendaraan mendorong diturunkannya kadar
belerang dalam minyak solar. Penurunan kadar belerang dapat menurunkan
emisi gas buang kendaraan berupa gas Sox dan SPM (Solid Particulate
Matters) yang mengotori udara. Akan tetapi solar yang berkadar belerang
rendah memiliki daya pelumasan rendah. Sementara itu produksi solar
Indonesia masih sangat tinggi kadar belerangnya (1500-4100 ppm). Dengan
demikian biodiesel sebagai campuran minyak solar mempunyai dua
keuntungan sekaligus. Pertama yaitu biodiesel mempunyai kadar belerang
yang jauh lebih kecil (sangat ramah lingkungan karena kadar belerang
kurang dari 15 ppm) dan yang kedua adalah biodiesel dapat meningkatkan
daya pelumasan.
Viskositas biodiesel lebih tinggi dibandingkan viskositas solar, sehingga
biodiesel mempunyai daya pelumasan yang lebih baik daripada solar. Oleh
karena mampu melumasi mesin dan sistem bahan bakar, maka dapat
menurunkan keausan piston sehingga mesin yang menggunakan bahan
bakar biodiesel menjadi lebih awet. Selain itu biodiesel sudah mengandung

17
oksigen dalam senyawanya, sehingga pembakaran di dalam mesin nyaris
sempurna dan hanya membutuhkan nisbah udara/bahan bakar rendah.
Dengan demikian emisi senyawa karbon non-CO2 dalam gas buang
kendaraan sangat kecil dan penggunaan bahan bakar lebih efisien.
Untuk membuat biodiesel dari minyak jelantah diperlukan peralatan yang
didesain khusus. Di dalam proses tersebut menggunakan bahan-bahan yang
sifatnya korosif, berbahaya apabila terhirup atau apabila mengenai kulit
dapat menyebabkan iritasi. Selain itu diperlukan pemanasan, sehingga
peralatan yang digunakan juga harus tahan panas. Peralatan untuk membuat
biodiesel umumnya dibuat dari bahan stainless steel. Berikut ini diuraikan
cara pembuatan biodiesel dari minyak jelantah.
Bahan yang digunakan adalah sebagai berikut:
Bahan baku:
a) Minyak jelantah. Sebelum proses esterifikasi maka minyak jelantah
dimurnikan terlebih dahulu menggunakan arang aktif.
b) Methanol (CH3OH)/Ethanol (CH3COOH) kemurnian 99%. Bahan ini
dapat diperoleh di toko bahan kimia. Jauhkan dari api karena sifatnya
yang mudah terbakar. Bahan ini mudah menguap, dan berbahaya apabila
terhirup.
c) KOH/NaOH. Bahan ini berupa kristal putih, yang dapat diperoleh di toko
bahan kimia. Larutannya apabila mengenai kulit dapat menyebabkan
iritasi. Apabila akan digunakan dikeringkan dulu, misalnya menggunakan
oven, oleh karena sifatnya mudah menyerap air.
Bahan untuk titrasi/ pencuci:
a) Isopropyl alkohol kemurnian 99%. Bahan ini dapat diperoleh di toko
bahan kimia. Jauhkan dari api karena sifatnya yang mudah terbakar.
Bahan ini mudah menguap, sehingga wadahnya harus ditutup rapat-rapat.
b) Air suling/aquades atau air bebas ion. Merupakan air murni hasil proses
penyulingan, atau dihilangkan kandungan ion-ionnya. Air ini juga bisa
diperoleh di toko bahan kimia. Air ini sekaligus untuk bahan pencuci.
c) Larutan Phenolphthalein (PP). Merupakan larutan tidak berwarna yang
dapat berubah warnanya menjadi merah muda pada pH tertentu.

18
Phenolphthalein dalam bentuk kristal putih dapat diperoleh di toko bahan
kimia. Larutan PP dibuat untuk segera digunakan, apabila disimpan
dalam bentuk larutan tidak boleh lebih dari 1 tahun. Untuk menghindari
kerusakan, penyimpanan sedapat mungkin menghindari cahaya,
dimasukkan di dalam botol berwarna gelap/hitam.
Langkah-langkah dalam proses pembuatan biodiesel adalah sebagai berikut:
1) Proses pemurnian minyak jelantah
a) Pembuatan arang aktif:
Arang batok kelapa ditumbuk, dan disaring menggunakan saringan
kelapa
Buat larutan kapur dengan memasukkan kapur ke dalam aquadest
Arang dimasukkan ke dalam larutan kapur dan dipanaskan sesuai
dengan kebutuhan
Arang disaring dan dikeringkan menggunakan oven/sinar matahari
b) Minyak jelantah disaring untuk memisahkan dengan kotoran padat.
Untuk memudahkan penyaringan, minyak dipanaskan sampai suhu
35oC.
c) Minyak jelantah hasil penyaringan dicampur dengan arang aktif,
diaduk-aduk dan disaring
d) Minyak jelantah dinetralkan dengan memberi larutan NaOH %
sebanyak beberapa ml kemudian diaduk. Setelah terbentuk endapan
kemudian disaring
2) Proses transesterifikasi
a) Minyak jelantah hasil pemurnian kemudian dipanaskan sampai suhu
100oC untuk menghilangkan kandungan airnya. Gunakan alat
pengaduk untuk memudahkan penghilangan uap air. Setelah air yang
mendidih dalam minyak mulai hilang, selanjutnya panaskan sampai
suhu 130oC selama 10 menit, dan dinginkan.
b) Titrasi untuk menentukan banyaknya katalis (KOH/NaOH) yang
diperlukan, dengan cara:
Siapkan alat titrasi terdiri buret dan gelas piala kecil

19
Siapkan larutan 1 gram KOH/NaOH ke dalam 1 liter air suling
(larutan 0,1 % KOH/NaOH)
Larutkan 1 ml minyak jelantah ke dalam 10 ml isopropil alkohol,
dipanaskan sambil diaduk sampai campuran jernih.
Tambahkan 2 tetes larutan PP.
Isi buret dengan larutan KOH 0,1 %, teteskan larutan tersebut tetes
demi tetes ke dalam larutan minyak jelantah-alkohol-PP, sambil
diaduk sampai larutan berwarna merah muda selama 10 detik
Lihat pada buret, volume (ml) larutan 0,1 % KOH yang digunakan,
dan tambahkan 5 maka ketemu jumlah gram KOH yang diperlukan
per liter minyak.
c) Penyiapan kalium/natrium metoksida (K+ / Na+ CH3O-), dengan cara
sebagai berikut:
Siapkan metanol, umumnya kebutuhannya adalah 20 % dari
volume minyak jarak. Apabila ada 100 liter minyak jarak maka
dibutuhkan 20 liter metanol.
KOH/NaOH yang telah ditentukan jumlahnya, dimasukkan ke
dalam methanol/ethanol, dicampur rata sampai terlarut sempurna,
dan terbentuk kalium/natrium metoksida.
Hati-hati dengan kalium/natrium metoksida, gunakan masker,
jangan hirup uapnya, dan apabila mengenai kulit menyebabkan
kulit terbakar tanpa terasa karena menyebabkan matirasa. Kalium
metoksida, juga sangat korosif. KOH dapat bereaksi dengan
alumunium, tin dan seng, jadi gunakan wadah dari gelas tahan
panas, enamel atau yang terbaik adalah dari stainless steel.
d) Pemanasan minyak jelantah dan pencampuran dengan kalium/natrium
metoksida, dilakukan dengan cara sebagai berikut:
Minyak jelantah dipanaskan sampai 48-54oC.
Siapkan alat pengaduk dan diatur pada kecepatan penuh.
Sambil diaduk, tambahkan kalium/natrium metoksida, dan diaduk
terus antara 50-60 menit.

20
Proses trans-esterifikasi akan menghasilkan metil ester (minyak
biodiesel) dan hasil samping gliserin
e) Pendiaman dan pemisahan metil ester (minyak biodiesel) dengan gliserin.
Cara pemisahannya adalah:
Proses dibiarkan sampai sempurna sedikitnya 8 jam dan suhu
dipertahankan pada 38oC.
Biodiesel akan berada di bagian atas, dan gliserin ada di bagian bawah
berwarna coklat gelap. Gliserin merupakan cairan kental yang dapat
memadat dibawah suhu 38oC.
Alirkan gliserin dengan hati-hati dari bagian bawah reaktor, sehingga
Apabila gliserin memadat maka dapat dipanaskan kembali agar
mencair.
Gliserin masih bercampur dengan sisa reaktan dan alkohol, maka
dinetralisasi menggunakan asam mineral dan dipanaskan pada suhu
66oC untuk mengambil kembali alkohol, sehingga diperoleh gliserin
kemurnian tinggi.biodiesel dapat dipisahkan kemudian ditempatkan di
wadah lain.
f) Pengecekan kualitas biodiesel. Biodiesel yang akan digunakan untuk
bahan bakar mesin diesel seperti pada mobil, memerlukan kualitas
biodiesel yang tinggi. 3Contoh spesifikasi biodiesel dapat dilihat pada
tabel berikut:

3
Sumarsih, Proses Pembuatan Biodiesel Minyak Jelantah, (Online)
https://sumarsih07.files.wordpress.com/2008/07/proses-pembuatan-biodiesel-minyak-jelantah.pdf

21
4) Fitoremediasi
Fitoremediasi adalah upaya penggunaan tanaman dan bagian-bagiannya
untuk dekontaminasi limbah dan masalah-masalah pencemaran lingkungan
baik secara ex-situ menggunakan kolam buatan atau reaktor maupun in-situ
atau secara langsung di lapangan pada tanah atau daerah yang
terkontaminasi limbah (Subroto, 1996). Fitoremediasi didefinisikan juga
sebagai penyerap polutan yang dimediasi oleh tumbuhan termasuk
pohon,rumput-rumputan, dan tumbuhan air. Pencucian bisa berarti
penghancuran, inaktivasi atau imobilisasi polutan ke bentuk yang tidak
berbahaya (Chaney dkk., 1995).
Ada beberapa metode fitoremediasi yang sudah digunakan secara
komersial maupun masih dalam taraf riset yaitu metode berlandaskan pada
kemampuan mengakumulasi kontaminan (phytoextraction) atau pada
kemampuan menyerap dan mentranspirasi air dari dalam tanah (creation of
hydraulic barriers). Kemampuan akar menyerap kontaminan di dalam
jaringan (phytotransformation) juga digunakan dalam strategi fitoremediasi.
Fitoremediasi juga berlandaskan pada kemampuan tumbuhan dalam
menstimulasi aktivitas biodegradasi oleh mikrobia yang berasosiasi dengan
akar (phytostimulation) dan imobilisasi kontaminan di dalam tanah oleh
eksudat dari akar (phytostabilization) serta kemampuan tumbuhan dalam
menyerap logam dari dalam tanah dalam jumlah besar dan secara ekonomis
digunakan untuk meremediasi tanah yang bermasalah (phytominin) (Chaney
dkk., 1995).
Menurut Corseuil dan Moreno (2000), mekanisme tumbuhan dalam
menghadapi bahan pencemar beracun adalah :
1) Penghindaran (escape) fenologis. Apabila pengaruh yang terjadi pada
tanaman musiman, tanaman dapat menyelesaikan daur hidupnya pada
musim yang cocok.
2) Ekslusi, yaitu tanaman dapat mengenal ion yang bersifat toksik dan
mencegah penyerapan sehingga tidak mengalami keracunan.

22
3) Penanggulangan (ameliorasi). Tanaman mengabsorpsi ion tersebut, tetapi
berusaha meminimumkan pengaruhnya. Jenisnya meliputi pembentukan
khelat (chelation), pengenceran, lokalisasi atau bahkan ekskresi.
4) Toleransi. Tanaman dapat mengembangkan sistem metabolit yang dapat
berfungsi pada konsentrasi toksik tertentu dengan bantuan enzim.
Secara alami tumbuhan memiliki beberapa keunggulan, yaitu: (i)
Beberapa famili tumbuhan memiliki sifat toleran dan hiperakumulator
terhadap logam berat,(ii) Banyak jenis tumbuhan dapat merombak polutan,
(iii) Pelepasan tumbuhan yang telah dimodifikasi secara genetik ke dalam
suatu lingkungan relatif lebih dapat dikontrol dibandingkan dengan
mikrobia,(iv) Tumbuhan memberikan nilai estetika, (v) Dengan
perakarannya yang dapat mencapai 100 x 106 km akar per ha, tumbuhan
dapat menghasilkan energi yang dapat dicurahkan selama proses
detoksifikasi polutan,(vi) Asosiasi tumbuhan dengan mikroba memberikan
banyak nilai tambah dalam memperbaiki kesuburan tanah (Feller, 2000).
Semua tumbuhan memiliki kemampuan menyerap logam tetapi dalam
jumlah yang bervariasi. Sejumlah tumbuhan dari banyak famili terbukti
memiliki sifat hipertoleran, yakni mampu mengakumulasi logam dengan
konsentrasi tinggi pada jaringan akar dan tajuknya, sehingga bersifat
hiperakumulator. Sifat hiperakumulator berarti dapat mengakumulasi unsur
logam tertentu dengan konsentrasi tinggi pada tajuknya dan dapat digunakan
untuk tujuan fitoekstraksi.
Dalam proses fitoekstraksi ini logam berat diserap oleh akar tanaman dan
ditranslokasikan ke tajuk untuk diolah kembali atau dibuang pada saat
tanaman dipanen (Chaney dkk., 1995). Mekanisme biologis dari
hiperakumulasi unsur logam pada dasarnya meliputi proses-proses: (i)
Interaksi rizosferik, yaitu proses interaksi akar tanaman dengan medium
tumbuh (tanah dan air). Dalam hal ini tumbuhan hiperakumulator memiliki
kemampuan untuk melarutkan unsur logam pada rizosfer dan menyerap
logam bahkan dari fraksi tanah yang tidak bergerak sekali sehingga
menjadikan penyerapan logam oleh tumbuhan hiperakumulator melebihi
tumbuhan normal (McGrath dkk., 1997), (ii) Proses penyerapan logam oleh

23
akar pada tumbuhan hiperakumulator lebih cepat dibandingkan tumbuhan
normal, terbukti dengan adanya konsentrasi logam yang tinggi pada akar
(Lasat dkk., 1996).
Akar tumbuhan hiperakumulator memiliki daya selektifitas yang tinggi
terhadap unsur logam tertentu (Gabbrielli dkk., 1991), (iii) Sistem
translokasi unsur dari akar ke tajuk pada tumbuhan hiperakumulator lebih
efisien dibandingkan tanaman normal. Hal ini dibuktikan oleh nisbah
konsentrasi logam tajuk/akar pada tumbuhan hiperakumulator lebih dari
satu (Gabbrielli dkk., 1991).
Mekanisme penyerapan dan akumulasi logam berat oleh tumbuhan dapat
dibagi menjadi tiga proses yang sinambung, yaitu penyerapan logam oleh
akar,translokasi logam dari akar ke bagian tumbuhan lain, dan lokalisasi
logam pada bagian sel tertentu untuk menjaga agar tidak menghambat
metabolisme tumbuhan tersebut (Connel dan Miller, 1995). Pembentukan
reduktase di membran akar berfungsi mereduksi logam yang selanjutnya
diangkut melalui kanal khusus di dalam membran akar. Setelah logam
dibawa masuk ke dalam sel akar, selanjutnya logam harus diangkut melalui
jaringan pengangkut, yaitu xilem dan floem kebagian tumbuhan lain oleh
molekul khelat. Berbagai molekul khelat yang berfungsi mengikat logam
dihasilkan oleh tumbuhan, misalnya histidin yang terikat pada Ni dan
fitokhelatin-glulation yang terikat pada Cd (Salt dkk., 1998).
Salah satu contoh aplikasi pada fitoremediasi yaitu bunga matahari.
Bunga matahari merupakan hiperakumulator Pb dan diendapkan dalam
jaringan daun dan batang (Gratao dkk., 2005). Tanaman ini merupakan
tanaman hias sehingga baik digunakan untuk membersihkan lahan yang
terletak di tepi jalan atau areal perkantoran pada lahan bekas tambang
(Gratao dkk., 2005).
5) Biomassa
Semua materi organik mempunyai potensi untuk dikonversi menjadi
energi. Biomassa dapat secara langsung dikonversi menjadi bahan padatan,
cair atau gas untuk menghasilkan panas dan listrik. Teknologi biomassa
adalah cara-cara mengubah bahan baku biomassa menjadi energi yang lebih

24
bersih dan efisien. Teknologi biomassa meliputi sistem pembakaran
langsung (direct combustion), pembriketan (briuetting), perancangan tungku
yang efisen (improved stove), gasification, pirolysis, anaerobic digestion,
dan liquefaction.

Gambar 9. Siklus biomassa


a. Densifikasi (Pemeletan/ pembriketan)
Densifikasi adalah teknik konversi biomassa menjadi pelet atau briket
atau pellet akan memudahkan dalam penanganan biomassa. Tujuannya
agar meningkatkan densitas dan memudahkan penyimpanan dan
pengangkutan. Proses ini dapat menaikkan kalori per unit volume, muda
disimpan dan diangkut, mempunyai ukuran dan kualitas yang seragam.
Tahap densifikasi melalui beberapa proses yaitu proses penggilingan,
proses pemeletan, proses pendinginan, dan proses penapisan.
b. Direct combustion
Pada teknologi direct combustion, tekanan uap digunakan dalamboiler
untuk membakar biomassa padat (biomassa yang sudah dikeringkan,
dipipihkan dibentuk menjadi pelet atau briket).
Panas pembakaran digunakan sebagai pembangkit tenaga listrik dan
produksi panas melalui pengembalian panas dan media pemindahan
panas seperti uap dan air panas menggunakan ketel kukus atau konverter
panas.

25
c. Karbonisasi
Karbonisasi adalah teknologi yang mengubah biomassa menjadi
arang.caraini dapat mengantipasi emisi karbon di atmosfer yang biasa
dihasilkan oleh proses pembakaran biomassa.
d. Proses anaerobik
Proses anaerobik merupakan proses biologis yang mengkonversi
biomassa baik padatan maupun cairan menjadi gas tanpa oksigen. Proses
anaerobik melibatkan mikroorganisme tanpa kehadiran oksigen dalam
suatu digester.
e. Biomassa liquefaction
Adalah proses pengubahan biomassa menjadi bahan energi cair.
Teknologi inidibedakan menjadi dua yaitu konversi secara biokimia
untuk menghasilkan alkohol dan konversi secara termokimia untuk
menghasilkan bio-oli.
Contoh dalam pembuatan briket biomassa dengan menggunakan limbah
sekam padi. Sekam padi merupakan lapisan keras yang meliputi kariopsis,
terdiri dari belahan lemma dan palea yang saling bertautan, umumnya
ditemukan di areal penggilingan padi. Dari proses penggilingan padi, biasanya
diperoleh sekam 20 30%, dedak 8 12 %, dan beras giling 50 63,5% dari
bobot awal gabah. Sekam memiliki kerapatan jenis bulk density 125 kg/m3,
dengan nilai kalori 1 kg sekam padi sebesar 3300 k.kalori dan ditinjau dari
komposisi kimiawi, sekam mengandung karbon (zat arang) 1,33%, hydrogen
1,54%, oksigen 33,645, dan Silika (SiO2) 16,98% (Sipahutar, 2010). Suatu
briket dikatakan baik jika memiliki nilai kalori yang tinggi, di atas kadar SNI
untuk briket yaitu sebesar 5000 kal/g (Ridwan, 2013).
Cara pembuatan briket sekam padi :
Penjemuran bahan baku
Bahan baku berupa sekam padi dikeringkan untuk mengurangi
kandungan airnya.
Pirolisis
Pirolisis adalah proses dekomposisi kimia dengan meggunakan
pemanasan tanpa adanya oksigen. Proses ini atau disebut juga proses

26
karbonasi atau yaitu proses untuk memperoleh karbon atau arang, (Yudanto
dan Kusumaningrum, 2010). Berikut ini adalah gambaran skema alat
pirolisis (Hartanto dan Alim, 2011).

Adapun cara konvensional yang dapat dilakukan adalah dengan


menggunakan cerobong panas yang telah dipanaskan menggunakan kayu
bakar. Sekam kemudian ditumpuk mengelilingi cerobong. Hantaran panas
dari cerobong ini akan membuat sekam berubah warna menjadi hitam atau
kita sebut sebagai arang sekam. Metode pengarangan lain dapat dilakukan
asalkan tidak membakar sekam secara langsung dengan api.

27
(sumber : http://green.kompasiana.com/penghijauan/2011/11/26/aplikasi-
konversi-energi-biomassa-413583.html)
Penghancuran dan pengayakan
Proses ini bertujuan untuk mendapatkan ukuran partikel arang tertentu
yang akan dibentuk menjadi briket.
Pencampuran perekat
Beberapa perekat yang dapat digunkan diantaranya adalah tanah liat dan
tepung kanji. Menurut Ridwan (2013) campuran perekat yang lebih baik
digunakan adalah larutan tepung kanji. Sebagai contoh, arang yang
dihasilkan 1 kg, maka perekatnya terdiri dari campuran 1 kg air dan tepung
kanji 0,1 kg (konsentrasi 10 %). Agar larutan perekat homogen, sebaiknya
larutan dipanaskan terlebih dahulu sebelum dicampur dengan arang sekam.
Pengepresan dan Pencetakan
Pengepresan dilakukan dengan memberikan tekanan pada adonan briket
dengan besar tekanan 140 200 kg/cm2 (Ridwan, 2013). Berikut ini model
alat pengepresan untuk mencetak briket ( Yudanto dan Kusumaningrum,
2010).

28
Adapun cara konvensionalnya adalah dengan menggunakan cetakan
biasa yang terbuat dari paralon, bambu, ataupun cetakan besi.
Pengeringan
Pengeringan yang kedua ini bertujuan untuk menghilangkan kadar air
yang terkandung dalam briket setelah melalui proses pencampuran dengan
larutan perekat. Waktu pengeringan di bawah sinar matahari berkisar 2-3
hari. Cara pengeringan yang lain adalah dengan meggunakan mesin oven.
Menurut penelitian-penelitian yang telah dilakukan terdapat
banyak faktor yang mempengaruhi nilai kalori briket sekam padi yang
dihasilkan, antara lain pada variasi suhu dan waktu proses
pirolisis, perbandingan kadar campuran perekat, serta pengepresan atau
pemberian tekanan pada saat mencetak adonan briket. Menurut Hartanto dan
Alim (2011), dengan perbandingan kanji kering dan sampel arang 1:7,
proses pirolisis pada suhu 390 oC dan waktu 90 menit mampu menghasilkan
briket sekam padi dengan nilai kalori 5609,453 kal/g.

29
Gambar 10. Briket arang

30
BAB III
KESIMPULAN

1. Bioteknologi lingkungan merupakan kajian yang sangat menjanjikan terutama


kesejahteraan dalam meningkatkan kehidupan modern yang mengarah kepada
kehidupan modern yang lebih baik lagi.
2. Penerapan bioteknologi lingkungan banyak melibatkan mikroorganisme untuk
meningkatkan kualitas lingkungan hidup manusia dan alam sekitarnya.
3. Biogas adalah gas yang mudah terbakar yang dihasilkan dari proses fermentasi
bahan-bahan organik oleh bakteri anaerob (bakteri yang hidup dalam kondisi
kedap udara).
4. Bioremediasi merupakan penggunaan mikroorganisme untuk mengurangi
polutan di lingkungan. Proses ini terbagi menjadi dua yaitu in situ dan ex situ.
5. Biodisel merupakan bahan bakar alternatif dari sumber terbarukan (renewable)
yang bersifat ramah lingkungan dengan komposisi ester asam lemak dari
minyak nabati.
6. Fitoremediasi adalah upaya penggunaan tanaman dan bagian-bagiannya untuk
dekontaminasi limbah dan masalah-masalah pencemaran lingkungan baik
secara ex-situ menggunakan kolam buatan atau reaktor maupun in-situ atau
secara langsung di lapangan pada tanah atau daerah yang terkontaminasi
limbah.
7. Biomassa dapat secara langsung dikonversi menjadi bahan padatan, cair atau
gas untuk menghasilkan panas dan listrik. Teknologi biomassa adalah cara-cara
mengubah bahan baku biomassa menjadi energi yang lebih bersih dan efisien.

31
DAFTAR PUSTAKA

Damayanti, Jessy Bioteknologi, (online)


https://www.slideshare.net/JessyDing/bioteknologi-di-bidang-lingkungan

Ferdana, Lya Vita Bioteknologi Lingkungan, (Online)


https://id.scribd.com/doc/113165070/BIOTEKNOLOGI-LINGKUNGAN

Sumarsih, Proses Pembuatan Biodiesel Minyak Jelantah, (Online)


https://sumarsih07.files.wordpress.com/2008/07/proses-pembuatan-biodiesel-minyak-
jelantah.pdf