Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH TEKNOLOGI BAKERY DAN CONVECTIONARY

KUE BOLU

Disusun oleh :
1. Ismira Widiastuti H3113055
2. Nurfi Ikhsani H3113070
3. Rasri Frideahapsari H3113077
4. Sonia Alfionika M.P. H3113088
5. Vera Indria Sari H3113094
6. Zermia Hubbul M. H3113101

PROGRAM STUDI DIPLOMA TIGA TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2015
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Tepung terigu merupakan tepung yang dapat dipakai untuk membuat roti
karena mengandung gluten sebagai kerangka dasar roti. Tepung terigu yang
digunakan di pabrik roti diperoleh dari gandum yang digiling. Tepung terigu
merupakan bahan pangan yang pada umumnya berasal dari gandum. Indonesia
sampai saat ini masih mengimpor gandum untuk memenuhi kebutuhan gandum
dalam negeri. Impor gandum diperkirakan akan membengkak 100% selama 10
tahun mendatang. Potensi impor gandum per tahun diperkirakan mencapai 10
juta ton per tahun. Konsumsi gandum ini terus meningkat, peningkatan konsumsi
perkapitanya menanjak signifikan setiap tahunnya. Pada tahun 2003 mencapai
19,8 gram perkapita, lalu di tahun 2006 meningkat menjadi 22,6 gram per kapita,
selanjutnya di tahun 2008 sudah menjadi 38 per kapita (Bilqisti dkk, 2011).
Cake dan bolu sebenarnya berasal dari daratan Eropa dan diperkenalkan
kepada masyarakat Indonesia oleh bangsa Belanda selama masa penjajahan. Di
Eropa sendiri, setiap negara sedikitnya memiliki satu jenis cake yang demikian
istimewanya hingga terkenal di seluruh manca negara . Pada awalnya cake telah
dikenal oleh bangsa Mesir kuno. Cara pengolahan serta bahan-bahannya sangat
sederhana dan dibuat untuk keperluan upacara-upacara keagamaan. Sekarang ini
mutu dan rasa cake maupun pastry telah jauh berbeda. Dengan wawasan yang
makin berkembang, manusia menambahkan dan mencampurkan macam-macam
bahan dan aroma sehingga sekarang ini cake begitu luas variasinya.
Pada umumnya bolu adalah kue berbahan dasar tepung biasanya
menggunakan tepung terigu, gula dan telur. Kue bolu umumnya dimatangkan
dengan 2 cara dipanggang di dalam oven dan dikukus. Dan disini penulis akan
membahas tentang bolu kukus. Faktor keberhasilan dalam pembuatan pembuatan
bolu kukus adalah dalam cara mengocok adonan dan mengukus adonan,
misalnya mengocoknya terlalu lama atau terlalu sebentar ataupun pengukusannya
tidak sempurna bisa membuat bolu kukus tidak jadi atau istilahnya bantat.
Kriteria bolu kukus yang baik adalah teksturnya empuk, dan mengembang
dengan ciri bagian atas bolu kukusnya terbelah menjadi 4 bagian, dan supaya
mendapatkan hasil seperti itu pengukusan bolu kukus dilakukan kurang lebih 15
menit sampai bolu kukus benar-benar mengembang. Hasil akhir dalam
pembuatan bolu kukus akan dihasilkan bolu kukus yang mempunyai beberapa
rasa misalnya rasa coklat dan rasa pandan.
B. Tujuan
Tujuan dari penyusunan makalah ini diantaranya adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui apa itu Kue Bolu.
2. Mengetahui cara pembuatan dan prinsip pembuatan Kue Bolu.
3. Mengetahui karakteristik Kue Bolu yang baik.
4. Mengetahui faktor-faktor penentu kualitas dari Kue Bolu.
C. Manfaat
1. Dapat mengetahui apa itu Kue Bolu.
2. Dapat mengetahui cara pembuatan dan prinsip pembuatan Kue Bolu.
3. Dapat mengetahui karakteristik Kue Bolu yang baik.
4. Dapat mengetahui faktor-faktor penentu kualitas dari Kue Bolu.
BAB II
ISI
A. Definisi Produk
Cake dan bolu sebenarnya berasal dari daratan Eropa dan diperkenalkan
kepada masyarakat Indonesia oleh bangsa Belanda selama masa penjajahan. Di
Eropa sendiri, setiap negara sedikitnya memiliki satu jenis cake yang demikian
istimewanya hingga terkenal di seluruh manca negara . Pada awalnya cake telah
dikenal oleh bangsa Mesir kuno. Cara pengolahan serta bahan-bahannya sangat
sederhana dan dibuat untuk keperluan upacara-upacara keagamaan. Sekarang ini
mutu dan rasa cake maupun pastry telah jauh berbeda. Dengan wawasan yang
makin berkembang, manusia menambahkan dan mencampurkan macam-macam
bahan dan aroma sehingga sekarang ini cake begitu luas variasinya.
Bolu atau kue bolu (bahasa Inggris: cake) adalah kue berbahan dasar tepung
(umumnya tepung terigu), gula, dan telur.
Kue bolu dan cake umumnya dimatangkan dengan cara dipanggang di
dalam oven, walaupun ada juga bolu yang dikukus, misalnya: bolu kukus. Kue
bolu kukus merupakan salah satu kue nusantara yang sangat popular dan mudah
ditemui. Bentuknya yang menyerupai bunga yang sedang mekar dan merekah
indah merupakan salah satu daya tarik kue bolu kukus ini, selain rasanya yang
manis dan tekstur kue yang lembut di lidah. Kue bolu kukus ini bentuknya
menyerupai kue mangkok.
Pada umumnya bolu adalah kue berbahan dasar tepung biasanya
menggunakan tepung terigu, gula dan telur. Kue bolu umumnya dimatangkan
dengan 2 cara dipanggang di dalam oven dan dikukus. Dan disini penulis akan
membahas tentang bolu kukus.

B. Karakteristik Produk yang Baik


Karakteristik bolu kukus yang baik adalah bolu kukus yang mempunyai
warna menarik, aroma harum khas bolu kukus, tekstur lembut empuk dan rasa
yang manis gurih. Ciri khas bolu kukus seperti yang sudah dikenal selama ini
menggunakan paper cup, berbentuk mangkuk dengan permukaan yang merekah
dalam warna putih semburat warna lain di atasnya.
Menurut Putri (2010), kualitas kue bolu kukus ditentukan dari rasa,
tekstur, aroma dan tingkat pengembangan. Tingkat pengembangan adalah
perbandingan tinggi kue bolu kukus dengan tinggi adonan. Faktor yang
mempengaruhi tingkat pengembangan antara lain putih telur ayam, soda kue atau
pengembang kue dan protein yaitu gluten (Hartandria, 2014).
Karakteristik bolu kukus singkong yang baik adalah bolu kukus yang
mempunyai warna menarik yaitu kuning kecoklatan, aroma harum khas bolu
kukus singkong, tekstur lembut empuk dan rasa yang manis gurih.

C. Faktor-Faktor Penentu Kualitas Produk


Faktor keberhasilan dalam pembuatan pembuatan bolu kukus adalah
dalam cara mengocok adonan dan mengukus adonan, misalnya mengocoknya
terlalu lama atau terlalu sebentar ataupun pengukusannya tidak sempurna bisa
membuat bolu kukus tidak jadi atau istilahnya bantat. Kriteria bolu kukus yang
baik adalah teksturnya empuk, dan mengembang dengan ciri bagian atas bolu
kukusnya terbelah menjadi 4 bagian, dan supaya mendapatkan hasil seperti itu
pengukusan bolu kukus dilakukan kurang lebih 15 menit sampai bolu kukus
benar-benar mengembang. Hasil akhir dalam pembuatan bolu kukus akan
dihasilkan bolu kukus yang mempunyai beberapa rasa misalnya rasa coklat dan
rasa pandan.

D. Alat dan Bahan Baku


1. Alat:
a. Kompor
b. Mixer
c. Waskom
d. Dandang
e. Pengaduk
f. Alat pencetak
g. Mangkok
2. Bahan:
a. 4 buah telur
b. kg tepung terigu
c. kg gula putih
d. 2 gelas susu (400 ml)
e. 1 sdt baking powder
f. margarin
g. 2 bh vanili
h. air
Hasil: 50 buah

E. Definisi dan Fungsi Masing-Masing Bahan


1. Tepung Terigu
Tepung terigu merupakan hasil olahan dari gandum, jenis bahan baku
yang paling ideal untuk pembuatan roti, tepung terigu yang digunakan dalam
pembuatan roti adalah tepung yang mempunyai kualitas baik, karena tepung
terigu mampu menyerap air dalam jumlah besar, dapat mencapai konsistensi
adonan yang tepat, memiliki elastisitas yang baik untuk menghasilkan roti
dengan remah halus, tekstur lembut, volume besar serta mengandung protein
paling tinggi yaitu berkisar antara 8%-14%. Didalam tepung terigu terdapat
senyawa yang dinamakan gluten. Hal ini yang membedakan tepung terigu
dengan tepung tepung lainnya.
Tepung terigu mengandung dua macam protein yang memegang
peranan penting dalam pembuatan roti, yaitu protein gluten berfungsi
menentukan struktur produk roti dan memberikan kekuatan pada adonan
untuk menahan gas dari aktivitas ragi, dan glutenin memberikan elastisitas
dan kekuatan untuk perenggangan terhadap gluten. Kandungan gizi tepung
terigu yang baik akan mempunyai komposisi kadar air 13%, kadar protein 12-
13%, kadar hidrat arang 72-73%, kadar lemak 1,5%, pada saat bercampur
dengan air yang berfungsi sebagai kerangka roti, membuat adonan tidak
mudah pecah pada waktu diroll dan menahan gas CO2 hasil fermentasi. Gas
CO2 yang tertahan dalam kerangka jaringan gluten dapat lolos kembali apabila
kerangka gluten yang terbentuk tidak kuat, akibatnya roti menjadi kempes
kembali setelah dioven (Haryono, 1992).
Kualitas tepung terigu dipengaruhi oleh moisture (kadar air), ash
(kadar abu), dan beberapa parameter fisik lainnya, seperti water absorption,
development time, stability, dan lain-lain. Moisture adalah jumlah kadar air
pada tepung terigu yang mempengaruhi kualitas tepung, bila jumlah moisture
melebihi standar maksimum maka memungkinkan terjadinya penurunan daya
simpan tepung terigu karena akan semakin cepat rusak, berjamur dan bau
apek. Ash adalah kadar abu yang ada padatepung terigu yang mempengaruhi
proses dan hasil akhir produk antara lain, warna produk (warna crumb pada
roti, warna mie) dan tingkat kestabilan adonan, semakin tinggi kadar Ash
semakin buruk kualitas tepung dan sebaliknya semakin rendah kadar Ash
semakin baik kualitas tepung, hal ini tidak berhubungan dengan jumlah dan
kualitas protein.
2. Margarin
Margarin pada umumnya dibuat dari minyak nabati. Margarin
merupakan emulsi yang terdiri atas lemak nabati, air dan garam dengan
perbandingan (80:18:2). Margarin dapat dikonsumsi tanpa dimasak. Sifat fisik
margarin pada suhu kamar adalah berbentuk padat, berwarna kuning, dan
bersifat plastis. Komposisi gizi margarin adalah sekitar 80 %. Merupakan zat
gizi penting untuk menjaga kesehatan manusia. Selain itu, lemak dan minyak
merupakan sumber energi yang lebih efektif dibandingkan dengan karbohidrat
dan protein. Sumbangan energi per gram lemak, protein, dan karbohidrat
masing-masing 9, 4, dan 4 kkal (Mudjajanto, Eddy dan Noor, 2004).
Margarin merupakan salah satu sumber energi dengan vitamin A,D, E
dan K serta memiliki jumlah kalori yang lebih sedikit dari pada mentega
biasa. Margarin memberi cita rasa gurih, mengurangi remah roti,
mempermudah pemotongan, serta dapat memperlunak kulit roti, berfungsi
untuk memperpanjang daya simpan, memperkeras tekstur agar tidak meleleh
pada suhu kamar, dan mempertinggi titik didih untuk memenuhi tujuan
pengovenan. Ciri-ciri margarin yang menonjol adalah bersifat plastis, padat
pada suhu ruang, agak keras pada suhu rendah, teksturnya mudah dioleskan,
serta segera dapat mencair di dalam mulut.
3. Air
Air merupakan komponen penting dalam bahan baku pembuatan roti
bakery, karena air dapat mempengaruhi penampilan, tekstur, serta cita rasa
makanan, kandungan air dalam bahan makanan roti ikut menentukan
acceptability, kesegaran, dan daya tahan bahan, kandungan air pada produk
roti di tentukan pada saat penggolahan dimulai penggadonan, air sangat
menentukan pada pengolahan makanan roti, tanpa air pengolahan makanan
tidak dapat berlangsung, air juga di gunakan sebagai ingredient makanan
olahan (Auinger Pfund, 1999).
Air pada proses penggolahan juga dapat berfungsi sebagai penghantar
panas dan pelarut dan sebagai media reaksi antara gluten dengan karbohidrat,
air yang digunakan sebaiknya memiliki pH antara 6-9,makin tinggi pH maka
roti yang dihasilkan tidak mudah hancur karena absorbsi air meningkat
dengan meningkatnya pH, selain pH air yangdigunakan harus air yang
memenuhi persyaratan air minum, diantaranya tidak berwarna, tidak berbau,
tidak berasa (Auinger Pfund, 1999).
Jumlah air yang ditambahkan pada umumnya sekitar 26-38% dari
campuran bahan yang akan digunakan, jika lebih dari 38% adonan akan
menjadi sangat lengket dan jika kurang dari 28% adonan akan menjadi rapuh
sehingga sulit dicetak (Astawan, 2006).
Air yang berhubungan denagan hasil-hasil industri pengolahan harus
memenuhi standar mutu yang harus diperlukan untuk air minum dengan nilai
pH satu larutan ialah angka antara 0 sampai dengan 14 yang menunjukan
keasaman (acidity) atau pengaraman (alkality) dalam larutan. Apabila apabila
nila pH 7 berarti netral, bila di bawah 7 larutan asam(acid), semakin rendah
pH larutan semakin asam, sebaliknya semakintinggi pH berarti larutan bersifat
alkali (garam), semakin tinggi pHsemakin tinggi pula alkali (Cauvain Stanley,
Linda, Dan Young, 2000). Industri pengolahan pangan perlu mengembangkan
syarat-syarat mutu air khusus untuk mencapai hasil pengolahan yang
memuaskan, dalam banyak hal diperlukan air minum, dimana diperlukan
penanganan tambahan semua mikroorganisme yang ada, untuk
menghilangkan semua bahan-bahan di dalam air yang mungkin dapat
mempengaruhi penampakan, rasa, dan stabilitas hasil akhir, untuk
menyesuaikan pH pada tingkat yang diinginkan dan supaya mutu air
sepanjang tahun dapat konsisten (Buckle, 1985).
Kadar air merupakan salah satu karakteristik yang sangat penting pada
bahan pangan, karena air dapat mempengaruhi penampakan, tekstur, dan cita
rasa pada bahan pangan. Kadar air dalam bahan pangan ikut menentukan
kesegaran dan daya awet bahan pangan tersebut, kadar air yang tinggi
mengakibatkan mudahnya bakteri, kapang, dan khamir untuk berkembang
biak, sehingga akan terjadi perubahan pada bahan pangan (Winarno, 1997).
4. Baking powder
Baking powder biasanya digunakan sebagai pengembang (leavening
agent) cake, bolu panggang, bolu kukus, cup cake dan pancake. Komposisi
kimia dari baking powder adalah campuran sodium bicarbonat, sodium
alumunium fosfat, dan monocalcium fosfat. Baking powder juga berisi inert
seperti pati. Bahan berisi fat inert ini sengaja dicampur untuk menjaga agar
komponen bahan baking powder tetap dalam keadaan baik. Dari sisi kehalalan
komposisi baking powder tergolong aman. Seperti halnya baking soda, cara
kerja baking powder adalah akan mengeluarkan gas karbondioksida saat
bertemu dengan cairan dan terkena panas. Karenanya baking powder dapat
mengembangkan cake atau kue. Efek pengembangan double acting baking
powder ini bekerja saat adonan dibuat dan saat dipanggang. dikukus atau
digoreng. Bentuknya bubuk berwarna putih. Merek dagang untuk baking
powder double acting adalah Suparize, Hercules dan U-88. Gunakan1/2
sendok teh untuk 500 g tepung terigu. Dipasaran baking powder single acting
dikenal dengan merek dagang Royal, Hain, Davis, hercules, U-88, Suparize,
Pesawat Angkasa, dan Koepoe-Koepoe.
Bahan Tambahan Pembuatan Roti
1. Telur
Telur adalah suatu bahan makanan sumber protein hewani yang
bernilai gizi tinggi untuk dunia kuliner, telur berfungsi sebagai pengembang
adonan, membentuk warna, perbaikan rasa, menambah nilai gizi, sebagai
pelembut atau pengempuk, sebagai penambah aroma dan zat gizi. Jika telur
tidak digunakan dalam adonan maka adonan harus ditambahkan cairan
walaupun hasilnya kurang lunak. Roti yang lunak dapat diperoleh dengan
penggunaan kuning telur yang lebih banyak. Kuning telur banyak
mengandung lesitin (emulsifier). Bentuknya padat, tetapi kadar air sekitar
50%. Sementara putih telur, kadar air 86%. Putih telur mempunyai sifat
creaming yang lebih baik dibandingkan kuning telur.
Telur adalah suatu bahan makanan sumber zat protein hewani yang
bernilai gizi tinggi. Fungsi telur dalam penyelenggaraan gizi adalah sebagai
pengental, perekat atau pengikat (Tarwotjo Soejoeti, 1998).
Nilai Gizi yang terkandung dari kuning telur dan putih telur berbeda,
kuning telur memiliki kadar protein 16% dan kadar lemak 31%, sedangkan
putih telur memiliki kadar protein 13 %. Oleh karena itu bagian telur yang
mempunyai nilai gizi paling tinggi sebagai bahan makanan yaitu kuning telur.
Pada bagian kuning telur terdapat asam amino essensial yang sering disebut
triptofane. Vitamin yang banyak terdapat dalam telur adalah vitamin B,
komplek dalam jumlah cukup (Moehji, 1971).
Salah satu tolak ukur dalam menentukan mutu telur adalah
berdasarkan berat, ukuran telur ada yang besar, sedang dan kecil, mutu telur
dapat dinilai dari kondisi dan kebersihan kulit, besar kantong udara,
kekompakan putih telur, letak dan bentuk kuning telur, telur yang baru
dikeluarkan oleh induk ayam merupakan telur yang segar, telur yang masih
baru, kuning telurnya masih rapat, terletak di tengah-tengah putih telur yang
tebal, dilihat dari segi nutrisi telur baru dan telur lama tidak ada perbedaan,
kecuali rasa dan penampilannya tidak menarik, telur yang berumur lebih dari
dua minggu hanya baik untuk membuat kue.
2. Gula
Gula adalah karbohidrat murni yang tidak tersusun atas nutrient
lainnya seperti, lemak, protein, vitamin, dan mineral karena gula itu
karbohidrat yang murni maka gula disebut sebagai kalori kosong. Gula pasir
merupakan hasil dari batang tebu yang digiling dan diperas kemudian
cairannya yang manis diolah menjadi gula, gula pasir atau sukrosa adalah
disakarida yang tersusun dari satu gugus glukosa dan satu gugus fruktosa
(Tiench Tirtowinata, 2006).
Fungsi gula sebagai memberi rasa, mengatur fermentasi,
memperpanjang umur roti (shelf life), menambah kandungan gizi, membuat
tekstur roti menjadi lebih empuk, memberi daya pembasahan pada roti dan
memberi warna cokelat yang menarik pada kulit karena proses maillard atau
karamelisasi (Moehji, 1992).
Gula ditambahkan pada jenis roti tertentu untuk melengkapi
karbohidrat yang ada untuk fermentasi dan untuk memberikan rasa yang lebih
manis. Tapi gula lebih banyak dipakai untuk pembuatan kue dan biskuit
dimana selain rasa manis gula juga mempengaruhi tekstur. Jumlah gula yang
tinggi membuat remah kue lebih lunak dan lebih basah, dan pada biskuit juga
melunakkan (Moehji, 1992).
Mutu kualitas dari sisi kebersihan produk yaitu warna kuning lebih
disukai, karena rasa lebih manis, terlihat lebih asli, tidak banyak terpapar
bahan kimia, lebih hemat, sebagian tidak terlalu membedakan warna,
yangmenyukai gula berwarna putih, alasan hanya estetika, terlihat lebih
bersih, lebih pantas disajikan. Ukuran kristal lebih besar, kualitas lebih bagus,
penyuka gula putih, kristal lebih halus.
4. Susu
Tujuan pemakaian susu dalam pembuatan produk bakery yaitu untuk
memperbaiki gizi karena susu mengandung protein (kasein), gula laktosa dan
kalsium, memberikan pengaruh terhadap warna kulit (terjadi pencoklatan
protein dan gula), digunakan untuk mengoles permukaan roti, memperkuat
gluten karena kandungan kalsium, menghasilkan kulit yangenak dan crispy
serta bau aromatic smell (Koswara, 2009).
Jenis susu yang banyak digunakan dalam proses bakery adalah susu
bubuk, full krim dan skrim. Susu bubuk full krim mengandung lemak yang
tinggi sehingga memberikan kelembutan dan aroma yang menyenangkan.
Susu skim banyak mengandung protein kasein yang cenderung meningkatkan
penyerapan dan daya menahan air, sehingga mengeraskan adonan dan
memperlambat proses fermentasi adonan roti. Keuntungan susu skim adalah
kandungan air dan kandungan lemaknya rendah sehingga dapat disimpan
lebih lama dan tidak cepat tengik. Kadar air susu skim adalah 2,5% dan
kandungan lemaknya 1,1%.
Susu yang digunakan untuk pembuatan roti pada umumnya dalam
bentuk bubuk (powder). Hal ini disebabkan alasan kemudahan penyimpanan
dan mempunyai umur simpan yang lebih panjang dari pada susu segar.
Sebaiknya penyimpanan susu bubuk senantiasa dijaga agar tetap kering, hal
ini dilakukan karena susu bubuk bersifat sangat rentan terhadap kerusakan
dari lingkungan terutama air (Subarna, 1992).

F. Diagram Alir Proses dan Penjelasan

Mengocok bahan
(telur, gula, vanili, mentega dan baking powder)

Masukkan tepung terigu sambil diaduk

Tambahkan susu, aduk hingga rata

Adonan dibagi 2 bagian


(adonan tanpa pewarna dan adonan dengan pewarna)

Masukan dalam cetakan

Kukus Adonan dalam dandang yg sudah mendidih


selama 15 menit

Bolu kukus

Penjelasan:
Persiapan:
a. Mempersiapkan semua bahan serta alat yang akan dipergunakan
b. Menyiapkan cetakan untuk bolu kukus yang telah diisi kertas minyak
Cara membuat:
a. Kocok telur, vanili, baking powder, mentega dan gula putih hingga rata dan
mengembang.
b. Masukan tepung terigu sedikit demi sedikit sambil diaduk.
c. Tambahkan susu, lalu diaduk hingga merata.
d. Pisahkan adonan menjadi dua bagian, satu adonan diberi pewarna makanan
untuk toping dan satu lagi tidak perlu pewarna.
e. Tuang adonan tanpa warna ke cetakan bolu kemudian sisanya adonan
dengan warna.
f. Didihkan air pada dandang. Masukan cetakan adonan tersebut ke dandang,
kukus 15 menit hingga mengembang dan matang.
g. Bolu kukus siap disajikan.

G. Prinsip Pembuatan
Pada umumnya, proses pengolahan bolu dengan menggunakan panas
dalam pengolahannya. Perbedaannya terletak pada kesesuaian produk yang
digunakan. Metode digunakan untuk bahan-bahan berdasar tepung yang
berbentuk adonan, misalnya adonan roti dan bolu/cake, dan buah-buahan.
Prinsip dari pengolahan pangan dengan metode baking and roasting ini adalah
penggunaan panas. Di mana panas akan mematangkan bahan dari mentah
menjadi siap dikonsumsi. Baking dan roasting bertujuan untuk meningkatkan
kualitas bahan pangan, baik dari segi penampilan yang lebih menarik, aroma dan
cita rasa yang lebih enak, tekstur yang lebih baik, dan masa simpan yang lebih
lama.
Prinsip-prinsip berdasarkan tiap proses dalam pembuatan bolu kukus
adalah sebagai berikut:
1. Tahap persiapan meliputi persiapan alat antara lain timbangan, pisau, parut
kelapa, kain bersih/kasa, mixer, kom adonan, gelas ukur,solet, cetakan kue,
panci pengukus dan kompor. Bahan yang perlu dipersiapkan antara lain
tepung terigu, telur ayam, gula pasir, minyak goreng, garam dan vanili.
2. Tahap Pelaksanaan meliputi pengocokan bahan sampai rata kemudian
dituang dalam cetakan dan dikukus.
3. Tahap Penyelesaian meliputi, Bolu yang telah dikukus dikeluarkan dari
cetakan atau loyang setelah dingin dipotong- potong. Penilaian yang
digunakan adalah penilaian subyektif. Penilaian subyektif merupakan cara
penilaian terhadap suatu produk dengan menggunakan panelis untuk menilai.
Penilaian subyektif merupakan sistem penilaian terhadap bahan pangan
dengan menggunakan indra manusia termasuk indra penglihatan, pembau,
perasa, peraba dan pendengar.
Pada pembuatan bolu/cake, pengocokan adonan dasar, terutama telur,
harus benar-benar diperhatikan. Telur harus dikocok sampai mengembang
sempurna, baru kemudian ditambahkan bahan-bahan lainnya. Pengocokan
telur secara bersamaan antara kuning dengan putihnya membuat tekstur cake
lebih lembut dan mengembang. Namun pada jenis cake tertentu seperti sponge
cake, pengocokan putih telur lebih dulu justru lebih dianjurkan untuk
menghasilkan cake yang mengembang sempurna. Margarin yang digunakan juga
harus dilelehkan terlebih dahulu agar mudah menyatu dengan adonan lain.
Penambahan margarin dilakukan terakhir setelah semua bahan diaduk rata.
Penambahan gula juga harus teliti jumlahnya. Terlalu sedikit gula akan
mengurangi cita rasa yang khas pada cake, sedangkan terlalu banyak gula akan
mengakibatkan rasa manis yang berlebihan yang biasanya dihindari oleh
konsumen.

H. Kandungan Gizi Kue Bolu


Menggunakan bahan-bahan yang sederhana bukan berarti kue ini tidak
memiliki kandungan gizi di dalamnya. Kandungan gizi pada kue ini cukup
banyak dengan beragam nutrisnya. Kandungan yang ada pada kue ini di
antaranya; energi yang cukup tinggi sebanyak 196 kkl, lemak sebanyak 3.99
gram. Kandungan lemak tersebut terdiri dari kandungan lemak jenih sebanyak
1.376 gram, kandungan lemak tak jenuh ganda sebanyak 0.506 gram, dan
kandungan lemak tak jenuh tunggal sebanyak 1.454 gram.
Selain kandungan tersebut, kue ini juga memiliki kandungan kolesterol
sebanyak 137 mg, protein sebanyak 5.44 gram, serat sebanyak 1.1 gram, 26.37
gram, sodium 122 mg, dan kalium 102 mg. Bolu juga memiliki kandungan
karbohidrat yang cukup banyak memberikan energi, yaitu sebanyak 36.09 gram.
Berbagai kandungan tersebut diperoleh dari bahan-bahan yang digunakan
sebagai adonan kue ini.
Dengan mengonsumsi kue tersebut Anda akan mendapatkan beberapa
manfaat yang diperoleh karena berbagai kandungan gizi di dalamnya.
Kandungan serat di dalam kue bolu akan dapat berguna untuk melancarkan
pencernaan. Tekstur kue ini yang lembut dan empuk juga aman dan baik
dikonsumsi untuk yang memiliki masalah pada lambung. Selain itu, kandungan
protein pada kue ini dapat digunakan untuk metabolisme tubuh. Kue yang
memiliki kandungan karbohidrat yang tinggi ini juga dapat memberikan energi
yang cukup banyak, sehingga kue ini juga cocok jika digunakan sebagai menu
sarapan. Banyak manfaat yang dapat diperoleh dengan mengonsumsi Kue Bolu,
terutama rasa kenyangnya.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Pada umumnya bolu adalah kue berbahan dasar tepung biasanya
menggunakan tepung terigu, gula dan telur. Kue bolu umumnya dimatangkan
dengan 2 cara dipanggang di dalam oven dan dikukus. Faktor keberhasilan dalam
pembuatan pembuatan bolu kukus adalah dalam cara mengocok adonan dan
mengukus adonan. Kue Bolu merupakan salah satu olahan kue yang dibuat
dengan cara yang mudah. Tekstur dari kue ini lembut dan empuk sehingga
mudah untuk dikonsumsi. Rasa dari kue ini sangat lezat dan memiliki berbagai
kandungan gizi.
B. Saran
Dalam membuat kue Bolu, pengadukan adonan harus benar-benar rata
dan ketika pengukusan disarankan jangan membuka tutup dandang apabila kue
bolu tersebut belum matang / belum waktunya bolu tersebut matang.
DAFTAR PUSTAKA

Astawan, M., 2006. Membuat Mie dan Bihun. Penebar Swadaya, Jakarta.
Auinger-Pfund et al. 1999. Pengolahan Kue dan Roti. Jakarta. Depertemen
Pendidikan Nasional Dikmenjur.
Buckle, KA., Edwards, R.A., Fleet G.H., dan Wooton M. (1985). Food Science
(Terjemahan dari Bahasa Inggris oleh Purnomo, Hari dan Adiono). (1987).
Ilmu Pangan. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia. Hal. 196-198.
Hartandria, Fitria. 2014. Uji Kadar Protein Pada Pembuatan Bolu Kukus Dari
Tepung Singkong (Manihot Esculenta Crantz) Dan Penambahan Ekstrak
Buah Naga Merah (Hylocereus Polyrhizus) Dengan Konsentrasi Yang
Berbeda.
Haryono.1992. Potensi dan Pemanfaatan Sagu. Kanisius. Yogyakarta
http://diskainet.blogspot.co.id/2013/05/kue-kolu-kukus.html
http://ResepTMindonesia.com/resepBoluLembutdanEmpuk.html
https://id.wikipedia.org/wiki/Bolu_kukus
Koswara, Sutrisno. 2009. Teknologi Pengolahan Roti. eBookPangan
Moehji, Sjahmien, B.Sc. 1992. Ilmu Gizi. Jakarta: Bhratara Niaga Media
Mudjajanto, Eddy Setyo dan Lilik Noor Yulianti. 2004. Membuat Aneka Roti.
Subarna, 2002. Baking Technology. Pelatihan Singkat Prinsip-prinsip Teknologi
Pangan Bagi Food Inspector. PAU Pangan dan Gizi IPB. Bogor.
Tarwotjo, Soejoeti C.1998. Dasar-dasar Gizi Kuliner. PT Gramedia Widiasarana
Indonesia: Jakarta
Tiench Tirtowinata, Spgk. 2006. Makanan Dalam Perspektif Al-Quran Dalam Ilmu
Gizi. Fakultas Kedokteran. Universitas indonesia. Jakarta
Winarno, F.G . 1997. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.