Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Secara umum, Pengertian Ideologi adalah suatu kumpulan gagasan, ide-


ide dasar, keyakinan serta kepercayaan yang bersifat sistematis dengan arah
dan tujuan yang hendak dicapai dalam kehidupan nasional suatu bangsa dan
negara.

Istilah ideologi berasal dari kata 'idea' (inggris) yang berarti gagasan, konsep,
pengertian dasar, cita-cita; dan kata 'logi' yang dalam bahasa
Yunani logos artinya ilmu atau pengetahuan. Secara Harfiah, Pengertian
Ideologi adalah pengetahuan tentang gagasan-gagasan, pengetahuan tentang
ide-ide, science of ideas atau ajaran tentang pengertian-pengertian dasar.

Dalam pengertian sehari-hari "idea" yang berarti 'cita-cita'. Cita-cita yang


dimaksud adalah cita-cita yang bersifat tetap yang harus dicapai sehingga cita-
cita yang bersifat tetap itu sekaligus merupakan dasar, pandangan atau paham.
Ideologi mencakup pengertian tentang ide-ide, pengertian dasar, gagasan dan
cita-cita. Ideologi dapat dianggap sebagai visi yang luas, sebagai cara
memandang segala sesuatu. Ideologi adalah sistem pemikiran abstrak (tidak
hanya sekadar pembentukan ide) yang diterapkan pada masalah publik
sehingga pembuat konsep ini menjadi intisari politik.

Pancasila adalah ideologi dasar bagi negara Indonesia. Nama ini terdiri
dari dua kata dari Sanskerta: paca berarti lima dan la berarti prinsip atau
asas. Pancasila merupakan rumusan dan pedoman kehidupan berbangsa dan
bernegara bagi seluruh rakyat Indonesia.

Lima sendi utama penyusun Pancasila adalah Ketuhanan Yang Maha


Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, kerakyatan yang
dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, dan

1
keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, dan tercantum pada paragraf ke-
4 Preambule (Pembukaan) Undang-undang Dasar 1945.

Meskipun terjadi perubahan kandungan dan urutan lima sila Pancasila


yang berlangsung dalam beberapa tahap selama masa perumusan
Pancasila pada tahun 1945, tanggal 1 Juni diperingati sebagai hari lahirnya
Pancasila. Dalam sejarahnya, Dasar Negara Indonesia adalah Pancasila,
ekstensi Pancasila sebagai filsafat bangsa Indonesia mengalami berbagai
macam interpretasi dan manipulasi politik sesuai dengan kepentingan penguasa
demi kekuasaan yang
dilindungi dibalik Ideologi negara Pancasila.

Dalam kedudukan yang seperti ini Pancasila tidak lagi diletakan sebagai dasar
pandangan hidup bangsa melainkan dibatasi dan di manipulasi demi
kepentingan politik penguasa pada saat itu.

Akibatnya adalah kurangnya tingkat kepercayaan masyarakat kepada


pemerintah, selain itu turunnya nilai-nilai yang ada pada pancasila dan
masyarakat
tidak mau menggunakannya untuk dijadikan pandangan hidup bangsa
Indonesia. Jagalah nilai-nilai luhur yang terdapat pada pancasila agar terbentuk
masyarakatyang memiliki karakteristik yang berbudaya, bermartabat, adil,
bersatu dan cinta damai dan tak terpengaruh budaya asing yang dapat
mengubah nilai-nilai yang terdapat dalam pancasila.

Seiring dengan perkembangan zaman dan kemajuan teknologi saat ini,


nilai-nilai luhur Pancasila diindikasikan mulai dilupakan masyarakat
Indonesia.Sendi-sendi kehidupan di masyarakat sudah banyak yang tidak
sesuai dengan nilai-nilai luhur pancasila. Pancasila sendiri telah mengalami
masa pasang surut, mulai dari era Kemerdekaan sampai yang terkini yakni era
Paling Baru. Setelah mengalami masa pasang surut namun eksistensi Pancasila
tidak pernah habis karena nilai-nilai dalam sila-sila tersebut memang nilai-
nilai yang hidup dan berkembang di dalam masyarakat bangsa ini.

2
Namun beda dulu beda sekarang atau jauh arang dari perapian,
Pancasila yang harusnya dijadikan panutan, telah ditinggalkan oleh sebagian
masyarkat bangsa ini bahkan yang lebih mengiris hati saat para penyelenggara
pemerintahan juga telah meninggalkanya dalam aturan-aturan yang mereka
buat, entah lupa atau memang tidak tahu mereka selau membuat aturan-aturan
yang nilainya sangat jauh dengan esensi yang terkandung di dalam Pancasila.

Sehubungan dengan dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara, dengan


ini menyerukan kepada seluruh warga dan semua pihak untuk mendorong
wakil-wakil rakyat yang memperoleh amanat untuk bertugas di Lembaga
Legislatif, juga pejabat negara yang memperoleh amanat untuk bertugas di
Lembaga Eksekutif, untuk sesegera mungkin merencanakan dan menyusun
Undang-Undang Tentang Aktualisasi Nilai-Nilai serta Eksistensi Pancasila
dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara.

Dengan adanya globalisasi batasan-batasan diantara negara seakan tak


terlihat, sehingga berbagai kebudayaan asing dapat masuk dengan mudah ke
masyarakat. Sebagai konsekuensi dari hal tersebut, tentunya akan terjadi
berbagai perubahan dalam masyarakat Indonesia, baik perubahan yang bersifat
positif maupun perubahan yang bersifat negatif. Bagi masyarakat dan negara
Republik Indonesia, Pancasila adalah suatu kenyataan yang tidak dapat
diganggu gugat. Namun, kedudukan formal Pancasila yang sangat kuat tersebut
tidak selalu sejajar dengan pengamalan Pancasila dalam kehidupan sosial
sehari-hari. Pada kenyataannya nilai-nilai Pancasila yang terkandung di
dalamnya sering diabaikan bahkan belum ditaati sebagaimana mestinya.
Apalagi mengingat perkembangan zaman yang semakin pesat, kemajuan
teknologi informasi dan komunikasi yang semakin pesat tersebut memicu
terjadinya perubahan pola pikir dan perilaku masyarakat di Indonesia.

Seperti yang kita ketahui, dalam struktur kurikulum pendidikan di Indonesia,


ada mata pelajaran atau mata kuliah yang didalamnya juga memuat pendidikan
Pancasila. Namun, meskipun demikian, Pancasila tidak cukup hanya
dimasukkan kedalam kurikulum sebuah mata pelajaran saja. Pada hakikatnya
Pancasila adalah sebuah nilai. Sebagai sebuah nilai, Pancasila tidak cukup

3
hanya sekedar dipelajari, namun harus diresapi, dihayati dan dipahami secara
mendalam. Semangat dan ideologi kebangsaan tidak dapat dilahirkan dan
dikembangkan dengan cara-cara kekerasan, melainkan harus dengan
membangkitkan kesadaran yang dalam. Selama ini warga masyarakat
Indonesia kurang percaya dan meyakini akan kedudukan semangat dan
ideologi kebangsaan dalam hidup berbangsa dan bernegara. Akhirnya
semangat mencintai dan setia kepada bangsa dan negara sendiri menjadi lemah.

Sebagai sebuah kesadaran maka Pancasila harus terus dipelihara dan


dikembangkan dengan melakukan kreasi di berbagai bidang kesenian, ilmu
pengetahuan, teknologi, pendidikan, hukum, sejarah, ekonomi, industri dan
sebagainya. Selain itu, Pancasila adalah progress yang kita lakukan dalam
berbagai sendi kehidupan berbangsa dan bernegara yang hasilnya tahap demi
tahap selalu bisa kita lihat dan rasakan. Pancasila itu adalah proyek
kebudayaan, sebagai proyek kebudayaan maka ia tak cukup diisi dengan
retorika tapi ia juga harus diisi dengan itikad baik, kejujuran dan kerja keras.

Globalisasi tidak selamanya memberikan dampak negatif bagi bangsa


Indonesia, berbagai dampak negatif terjadi dikarenakan manusia kurang bisa
memfilter dampak dari globalisasi sehingga lebih banyak mengambil hal-hal
negatif dari pada hal-hal positif yang sebenarnya bisa lebih banyak kita
dapatkan dari fenomena globalisasi ini. Dalam pergaulan dunia yang kian
global, bangsa yang menutup diri rapat-rapat dari dunia luar bisa dipastikan
akan tertinggal oleh kemajuan zaman dan kemajuan bangsa-bangsa lain. Oleh
karena itu, konsep pembangunan modern membuat bangsa dan rakyat
Indonesia membuka diri. Dalam upaya untuk meletakan dasar-dasar
masyarakat modern, bangsa Indonesia bukan hanya menyerap masuknya
modal, teknologi, ilmu pengetahuan, dan ketrampilan, tetapi juga terbawa
masuk nilai-nilai sosial politik yang berasal dari kebudayaan bangsa lain.

Perubahan wajah dunia sebagai dampak dari globalisasi telah membawa


pengaruh bagi perubahan sosial di Tanah Air. Perubahan drastis dengan
berbagai kemajuan yang telah dicapai, seyogianya dipandang sebagai upaya
bangsa untuk mengembangkan kepribadiannya sendiri melalui penyesuaian

4
dengan tuntutan dan kebutuhan masyarakat modern. Atau dengan kata lain,
dengan kepribadiannya sendiri, bangsa dan negara Indonesia berani
menyongsong dan memandang pergaulan dunia. Kini, mau tak mau dan suka
tak suka, bangsa Indonesia harus hidup dan berada di antara pusaran arus
globalisasi dunia.

Tetapi, harus diingat bahwa bangsa dan negara Indonesia tak mesti
kehilangan jati diri, kendati hidup di tengah-tengah pergaulan dunia. Yang
terpenting adalah bagaimana bangsa dan rakyat Indonesia mampu menyaring
agar hanya nilai-nilai kebudayaan yang baik dan sesuai dengan kepribadian
bangsa saja yang terserap. Sebaliknya, nilai-nilai budaya yang tidak sesuai
apalagi merusak tata nilai budaya nasional mesti ditolak dengan tegas.

Setidaknya ada dua alasan yang menyebabkan suatu ideologi tetap


eksis. Pertama adalah jumlah penganut atau pengikut. Semakin banyak
pengikut dari suatu ideologi, maka ideologi tersebut akan semakin kuat.
Pancasila merupakan ideologi yang diikuti oleh seluruh rakyat Indonesia.
Secara konseptual, Pancasila adalah ideologi yang kokoh. Pancasila tidak akan
musnah sepanjang masih ada pengikut yang memperjuangkannya. Kedua
adalah seberapa besar pengikut tersebut mempercayai dan menjadikan ideologi
sebagai bagian dari kehidupannya. Semakin kuat kepercayaan seseorang, maka
semakin kuat posisi ideologi tersebut. Sebaliknya, walaupun banyak pengikut,
tetapi apabila pengikut tersebut sudah tidak menjadikan ideologi sebagai
bagian dari kehidupannya, maka ideologi dikatakan lemah.

Dengan demikian eksis dan tidaknya Pancasila di era global sangat


tergantung dari nilai-nilai masyarakat. Jika nilai-nilai tersebut tetap tumbuh dan
berkembang, maka Pancasila juga akan terus eksis. Sebaliknya jika nilai
tersebut mengalami pergeseran, besar kemungkinan Pancasila juga akan
mengalami pergeseran.

Jika globalisasi mampu menggeser nilai-nilai di masyarakat dan


mengganti dengan tatanan nilai yang baru, maka besar kemungkinan Eksistensi
pancasila akan runtuh. Oleh karena itu, perlu adanya pemahaman nilai-nilai

5
Pancasila sebagai dasar, pandangan hidup, dan ideologi sekaligus sebagai
benteng diri dan filterisasi terhadap nilai-nilai yang masuk sebagai dampak dari
globalisasi.

Dengan ideologi suatu bangsa akan memiliki pegangan dan pedoman


bagaimana mengenal dan memecahkan masalah-masalah dalam bidang politik,
ekonomi, sosial, budaya, pertahanan dan keamanan yang timbul dalam
kehidupan masyarakat yang semakin maju. Dengan berpedoman pada ideologi,
maka suatu bangsa memiliki pola dalam menyelenggarakan program
pembangunan.

Dalam suatu ideologi terkandung konsep dasar mengenai kehidupan yang


dicita-citakan, terkandung dasar pikiran yang terdalam, serta gagasan mengenai
wujud kehidupan yang dianggap baik. Pada dasarnya ideologi suatu bangsa
adalah kristalisasi dari nilai-nilai yang dimiliki, yang diyakini kebenarannya,
serta menimbulkan tekad untuk mewujudkannya.

B. Ruang Lingkup Penelitian


Penetilian ini mencakup cara membuat makala yang baik dan benar
dengan memperhatikan tanda baca , cara penulisan dan tata bahasa yang baik
dan benar.

C. Rumusan Masalah
1. Bagaimana ekstensi pancasila dalam kehidupan berbangsa dan
bernegara?
2. Apa arti dari ideologi liberalisme ?
3. Apa arti ideologi komunisme ?
4. Bagaimana kelebihan ideologi pancasila dari ideologi negara lain ?
5. Bagaimana eksistensi pancasila terhadap pengaruh ideologi lain ?

D. Tujuan Penulisan
1. Mengetahui ekstensi pancasila dalam kehidupan dan berbangsa
2. Mengetahui arti dari ideologi liberalisme

6
3. Mengetahui ideologi komunisme
4. Kelebihan ideologi pancasila dari ideologi negara lain
5. Eksistensi pancasila terhadap pengaruh ideologi negara lain

7
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengaruh Pancasila Dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara

1. Fungsi Pancasila

1.1 Pancasila sebagai Jiwa Bangsa Indonesia.


Menurut Von Savigny menyatakan bahwa setiap Bangsa punya jiwanya
masing-masing yang disebut Volkgeist, artinya Jiwa Rakyat atau Jiwa Bangsa.
Pancasila sebagai jiwa Bangsa lahir bersamaan dengan adanya Bangsa
Indonesia yaitu pada jaman Sriwijaya dan Majapahit. Hal ini diperkuat oleh
Prof. Mr. A.G. Pringgodigdo yang menyatakan bahwa 1 Juni 1945 adalah Hari
Lahir istilah Pancasila. Sedangkan Pancasila itu sendiri telah ada sejak adanya
Bangsa Indonesia.

1.2 Pancasila sebagai Kepribadian Bangsa Indonesia.

Diwujudkan dalam sikap mental dan tingkah laku serta amal perbuatan sikap
mental. Sikap mental dan tingkah laku mempunyai ciri khas, artinya dapat
dibedakan dengan Bangsa lain. Ciri khas inilah yang dimaksud dengan
kepribadian.

1.3 Pancasila sebagai Pandangan Hidup Bangsa Indonesia.

Artinya Pancasila dipergunakan sebagai petunjuk hidup sehari-hari dan juga


merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisah-pisah antara satu dengan yang
lain.

1.4 Pancasila sebagai Dasar Negara Republik Indonesia atau


Dasar Falsafah Negara atau Philosofis Granslog.

Dalam hal ini Pancasila dipergunakan sebagai dasar mengatur pemerintahan


Negara, atau pancasila digunakan sebagai dasar untuk mengatur

8
penyelenggaraan Negara yang sesuai dengan bunyi pembukaan Undang-
undang Dasar 1945.

1.5 Pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum atau


sumber tertib hukum bagi Negara Republik Indonesia.

Sumber tertib hukum Republik Indonesia adalah pandangan hidup, kesadaran,


cita-cita hukum serta cita-cita moral yang meliputi suasana kejiwaan serta
watak Bangsa Indonesia. Cita-cita itu meliputi cita-cita mengenai kemerdekaan
Individu, kemerdekaan Bangsa, perikemanusiaan, keadilan sosial dan
perdamaian Nasional. Cita-cita politik mengenai sifat, bentuk dan tujuan
negara. Cita-cita moral mengenai kehidupan kemasyarakatan dan keagamaan.

1.6 Pancasila sebagai perjanjian luhur bangsa Indonesia.

Pada saat bangsa Indonesia mendirikan negara atau Proklamasi 17 Agustus


1945. Bangsa Indonesia belum mempunyai Undang-undang Dasar Negara
yang tertulis. 18 Agustus 1945 disahkan pembukaan dan batang tubuh Undang-
undang Dasar 1945 oleh PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia).
PPKI merupakan penjelmaan atau wakil-wakil seluruh rakyat Indonesia yang
mengesahkan perjanjian luhur itu untuk membela Pancasila untuk selama-
lamanya.

1.7 Pancasila sebagai cita-cita dan tujuan Bangsa Indonesia.

Cita-cita luhur Negara Indonesia tegas dimuat dalam pembukaan Undang-


undang Dasar 1945. Karena pembukaan Undang-undang Dasar 1945
merupakan penuangan jiwa proklamasi yaitu jiwa Pancasila, sehingga
Pancasila merupakan cita-cita dan tujuan bangsa indonesia. Cita-cita luhur
inilah yang akan disapai oleh Bangsa Indonesia.

1.8 Pancasila sebagai falsafah hidup yang mempersatukan Bangsa.

Pancasila merupakan sarana yang ampuh untuk mempersatukan Bangsa


Indonesia. Karena Pancasila adalah falsafah hidup dan kepribadian Bangsa

9
Indonesia yang mengandung nilai-nilai dan norma-norma yang oleh Bangsa
Indonesia diyakini paling benar, adil, bijaksana dan tepat bagi Bangsa
Indonesia untuk mempersatukan Rakyat Indonesia.

Sesuai dengan ketetapan MPR No. II/MPR/1978 tentang Ekaprasetia


Pancakarsa menjabarkan kelima asas dalam Pancasila menjadi 36 butir
pengamalan sebagai pedoman praktis bagi pelaksanaan Pancasila. Berikut 36
butir-butir Pancasila/Eka Prasetia Panca Karsa.

1. Ketuhanan Yang Maha Esa

a. Percaya dan Takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan
agama dan kepercayaan masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil
dan beradab.

b. Hormat menghormati dan bekerjasama antar pemeluk agama dan


penganut-penganut kepercayaan yang berbeda-beda sehingga terbina
kerukunan hidup.

c. Saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan


agama dan kepercayaannya.

d. Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan kepada orang lain.

2. Kemanusiaan yang adil dan beradab

a. Mengakui persamaan derajat persamaan hak dan persamaan kewajiban


antara sesama manusia.

b. Saling mencintai sesama manusia.

c. Mengembangkan sikap tenggang rasa.

d. Tidak semena-mena terhadap orang lain.

e. Menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.

f. Gemar melakukan kegiatan kemanusiaan.

10
g. Berani membela kebenaran dan keadilan.

h. Bangsa Indonesia merasa dirinya sebagai bagian dari seluruh umat


manusia, karena itu dikembangkan sikap hormat-menghormati dan
bekerjasama dengan bangsa lain.

3. Persatuan Indonesia

a. Menempatkan kesatuan, persatuan, kepentingan, dan keselamatan


bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi atau golongan.

b. Rela berkorban untuk kepentingan bangsa dan negara.

c. Cinta Tanah Air dan Bangsa.

d. Bangga sebagai Bangsa Indonesia dan ber-Tanah Air Indonesia.

e. Memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa yang ber-


Bhinneka Tunggal Ika.

4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam


permusyawaratan dan perwakilan

a. Mengutamakan kepentingan negara dan masyarakat.

b. Tidak memaksakan kehendak kepada orang lain.

c. Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk


kepentingan bersama.

d. Musyawarah untuk mencapai mufakat diliputi semangat kekeluargaan.

e. Dengan itikad baik dan rasa tanggung jawab menerima dan


melaksanakan hasil musyawarah.

f. Musyawarah dilakukan dengan akal sehat dan sesuai dengan hati nurani
yang luhur.

11
g. Keputusan yang diambil harus dapat dipertanggung jawabkan secara
moral kepada Tuhan Yang Maha Esa, menjunjung tinggi harkat dan martabat
manusia serta nilai-nilai kebenaran dan keadilan.

5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

a. Mengembangkan perbuatan-perbuatan yang luhur yang mencerminkan


sikap dan suasana kekeluargaan dan gotong-royong.

b. Bersikap adil.

c. Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban.

d. Menghormati hak-hak orang lain.

e. Suka memberi pertolongan kepada orang lain.

f. Menjauhi sikap pemerasan terhadap orang lain.

g. Tidak bersifat boros.

h. Tidak bergaya hidup mewah.

i. Tidak melakukan perbuatan yang merugikan kepentingan umum.Suka


bekerja keras.

j. Menghargai hasil karya orang lain.

k. Bersama-sama berusaha mewujudkan kemajuan yang merata dan


berkeadilan sosial.

2. Pengaruh Pancasila

2.1 Pengaruh Pancasila Terhadap Kehidupan Bermasyarakat

Pancasila pada saat ini cenderung menjadi lambang dan hanya menjadi
formalitas yang dipaksakan kehadirannya di Indonesia. Kehadiran Pancasila
pada saat ini bukan berasal dari hati nurani bangsa Indoensia. Bukti dari semua
itu adalah tidak aplikatifnya sila-sila yang terkandung pada Pancasila dalam
kehidupan masyarakat Indonesia. Berdasarkan realita yang ada dalam

12
masyarakat, aplikasi sila-sila Pancasila jauh dari harapan. Banyaknya
kerusuhan yang berlatar belakang SARA (suku, ras, dan antargolongan),
adanya pelecehan terhadap hak azasi manusia, gerakan separatis, lunturnya
budaya musyawarah, serta ketidak adilan dalam masyarakat membuktikan
tidak aplikatifnya Pancasila. Adanya hal seperti ini menjauhkan harapan
terbentuknya masyarakat yang sejahtera, aman, dan cerdas yang diidamkan
melalui Pancasila.

Sebenarnya bangsa Indonesia bisa berbangga dengan Pancasila, sebab


Pancasila merupakan ideologi yang komplit. Bila dibandigkan dengan
pemikiran tokoh nasionalis Cina, dr. Sun Yat Sen, Pancasila jauh lebih unggul.
Sun Yat Sen meunculkan gagasan tentang San Min Chu I yang berisi tiga
pilar,yaitu nasionalisme, demokrasi, dan sosialisme. Gagasan Sun Yat Sen ini
mampu mengubah pemikiran bangsa Cina di selatan.Dengan gagasan ini, Sun
Yat Sen telah mampu mewujudkan Cina yang baru, modern, dan maju.
Apabila San Min ChuI-nya Sun Yat Sen mampu untuk mengubah bangsa yang
sedemikian besar, seharusnya Pancasila yang lebih komplit itu mampu untuk
mengubah Indonesia menjadi lebih baik.

Di Indonesia, sejak diresmikannya Pancasila sampai sekarang, penerapan


Pancasila masih jauh bara dari api. Yang terjadi pada saat ini bukan
penerapan Pancasila, melainkan pergeseran Pancasila.Ketuhanan yang menjadi
pilar utama moralitas bangsa telah diganti dengan keuangan. Kemanusiaan
yang akan mewujudkan kondisi masyarakat yang ideal telah digantikan dengan
kebiadaban dengan banyaknya pelanggaran terhadap hak azasi manusia.
Persatuan yang seharusnya ada sekarang telah berubah menjadi embrio
perpecahan dan disintegrasi. Permusyawarahan sebagai sikap kekeluargaan
berubah menjadi kebrutalan. Sementara itu, keadilan sosial berubah menjadi
keserakahan.

Selain dari pihak masyarakat sendiri, pergeseran makna Pancasila juga


dilakukan oleh pihak penguasa. Pada masa tertentu, secara sistematis Pancasila
telah dijadikan sebagai alat politik untuk melanggengkan kekuasaan. Tindakan
yang dilakukan terhaap Pancasila ini turut menggoncang eksistensi Pancasila.

13
Pancasila seakan-akan momok yang menakutkan, sehingga oleh sebagian
masyarakat dijadikan sebuah simbol kekuasaan dan kelanggengan salah satu
pihak.

Dalam era kesemrawutan global sekarang, ideologi asing mudah


bermetamorfosa dalam aneka bentuknya dan menjadi pesaing
Pancasila. Hedonisme (aliran yang mengutamakan kenikmatan hidup) dan
berbagai isme penyerta, misalnya, semakin terasa menjadi pesaing yang
membahayakan potensialitas Pancasila sebagai kepribadian bangsa. Nilai
intrinsik Pancasila pun masih sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor
kondisional. Padahal, gugatan terhadap Pancasila sebagai dasar negara dengan
sendirinya akan menjadi gugatan terhadap esensi dan eksistensi kita sebagai
manusia dan warga bangsa dan negara Indonesia.

Untuk menghadapi kedua ekstrim (memandang nilai-nilai Pancasila


terlalu sulit dilaksanakan oleh segenap bangsa Indonesia di satu pihak dan di
pihak lain memandang nilai-nilai Pancasila kurang efektif untuk
memperjuangkan pencapaian masyarakat adil dan makmur yang diidamkan
seluruh bangsa Indonesia) diperlukan usaha bersama yang tak kenal lelah guna
menghayati Pancasila sebagai warisan budaya bangsa yang bernilai luhur,
suatu sistem filsafat yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai agama, bersifat
normatif dan ideal, sehingga pengamalannya merupakan tuntutan batin dan
nalar setiap manusia Indonesia.

Dari berbagai kenyataan di atas timbul berbagai pertanyaan, apakah


pancasila sudah tidak cocok lagi dalam kehidupan masyarakat Indonesia, kalau
pancasila masih cocok di Indonesia, dalam hal ini siapa yang salah, bagaimana
membangun Indonesia yang lebih baik sehingga sesuai dengan cita-cita para
pendiri bangsa.

Salah seorang budayawan Indonesia yaitu Sujiwo Tejo mengatakan bahwa


untuk memajukan bangsa ini kita harus melihat kebelakang, karena masa
depan bangsa Indonesia ada dibelakang. Maksudnya kita harus melihat
kembali sejarah berdirinya bangsa Indonesia. Cita-cita untuk memajukan

14
bangsa Indonesia ada disana. Cita-cita bersama itu adalah suatu paham yang
diperkanalkan oleh Ir.Soekarno dalam rapat BPUPKI. Cita-cita tersebut ialah
pancasila.

Pancasila merupakan perpaduan nilai-nilai yang tumbuh dan berkembang


dalam masyarakat Indonesia. Oleh karena itu secara konsep pancasila
merupakan suatu landasan ideal bagi masyarakat Indonesia. Presiden Republik
Indonesia (Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono) dalam pidato
kenegaraannya mengatakan bahwa pancasila sebagai falasafah Negara sudah
final. Untuk itu jangan ada pihak-pihak yang berpikir atau berusaha
menggantikannya. Presiden juga meminta kepada seluruh kekuatan bangsa
untuk mempraktikkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa,
bernegara dan bermasyarakat. Penegasan Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono adalah bentuk sikap reaktif atas kecenderungan realitas sistem
sosial politik yang saat ini mengancam eksisitensi Pancasila sebagai ideologi
bangsa. Dengan demikian pernyataan itu jika sikapi secara konstruktif
merupakan peringatan dan sekaligus ajakan politis kepada generasi sekarang
untuk menjaga Pancasila dari berbagai upaya taktis dari pihak-pihak yang ingin
mencoba menggantikannya.

2.2 Membangun Moral/Karakter Manusia

Secara etimologis, istilah karakter berasal dari bahasa Yunani,


yaitu kharaseein,yang awalnya mengandung arti mengukir tanda di kertas atau
lilin yang berfungsi sebagai pembeda (Bohlin, 2005). Istilah ini selanjutnya
lebih merujuk secara umum pada bentuk khas yang membedakan sesuatu
dengan yang lainnya. Dengan demikian, karakter dapat juga menunjukkan
sekumpulan kualitas atau karakteristik yang dapat digunakan untuk
membedakan diri seseorang dengan orang lain (Timpe, 2007).

Perkembangan berikutnya, pengetahuan tentang karakter banyak dipelajari


pada ilmu-ilmu sosial. Dalam filsafat misalnya, istilah karakter biasa
digunakan untuk merujuk dimensi moral seseorang. Salah satu contoh adalah
ilmuwan Aristoteles yang sering menggunakan istilah th untuk karakter yang

15
secara etimologis berkaitan dengan ethics dan morality. Adapun ahli
psikologi pun banyak yang mengajukan definisi karakter dari berbagai
pendekatan. Ada yang menggunakan istilah karakter pada area moral saja, ada
juga yang memakainya pada domain moral dan nonmoral. Menurut Hasting et
al. (2007), karakter mempunyai domain moral dan nonmoral. Karakter
berdomain moral ialah semua perilaku yang merujuk kepada hubungan
interpersonal atau hubungan dengan orang lain. Contohnya, kasih sayang,
empati, loyal, membantu dan peduli dengan orang lain (sifat-sifat feminis).
Sedangkan karakter berdomain nonmoral adalah semua perilaku yang merujuk
kepada pengembangan sifat-sifat dalam diri atau intrapersonal. Contohnya,
disiplin, jujur, bertanggung jawab, pantang menyerah dan percaya diri (sifat-
sifat maskulin). Baik karakter berdomain moral maupun nonmoral tersebut
mempunyai tujuan yang sama, yaitu untuk membentuk kepribadian yang peka
terhadap kepentingan sosial (prososial).

Karakter juga terkadang dipandang sebagai kepribadian dan/atau lebih bersifat


perilaku. Banyak ilmuwan psikologi yang mengabaikan fungsi kognitif pada
definisi mereka mengenai karakter, namun ada juga yang lebih bersifat
komprehensif. Bahkan ada ilmuwan yang menyatakan bahwa karakter
merupakan suatu konstruksi sosial. Menurut ahli konstruksi sosial, karakter
seseorang dipengaruhi oleh lingkungan sosialnya. Hal ini akan dijelaskan lebih
lanjut dalam perkembangan moral pada manusia.

Salah satu definisi karakter yang cukup lugas dikemukakan oleh Berkowitz
(2002), yaitu sekumpulan karakteristik psikologis individu yang mempengaruhi
kemampuan seseorang dan membantu dirinya untuk dapat berfungsi secara
moral. Dikarenakan sifat karakter yang plural, maka beberapa ahli pun
membagi karakter itu ke dalam beberapa kategori. Peterson dan Seligman
(2004) mengklasifikasikan kekuatan karakter menjadi 6 kelompok besar yang
kemudian menurunkan 24 karakter, yaitu kognitif (wisdom and knowledge),
emosional (courage/kesatriaan), interpersonal (humanity), hidup bersama
(justice), menghadapi dan mengatasi hal-hal yang tak menyenangkan
(temperance), dan spiritual (transcendence). Di Indonesia, sebuah lembaga

16
yang bernama Indonesia Heritage Foundation merumuskan nilai-nilai yang
patut diajarkan kepada anak-anak untuk menjadikannya pribadi berkarakter.
Megawangi (dalamhttp://ihfkarakter.multiply.com/journal) menamakannya 9
Pilar Karakter, yakni cinta Tuhan dan kebenaran; bertanggung jawab,
kedisiplinan, dan mandiri; mempunyai amanah; bersikap hormat dan santun;
mempunyai rasa kasih sayang, kepedulian, dan mampu kerja sama; percaya
diri, kreatif, dan pantang menyerah; mempunyai rasa keadilan dan sikap
kepemimpinan; baik dan rendah hati; mempunyai toleransi dan cinta damai.

Sedangkan pemahaman moral sendiri menurut Damon (1988) adalah aturan


dalam berperilaku (code of conduct). Aturan tersebut berasal dari kesepakatan
atau konsesus sosial yang bersifat universal. Moral yang bermuatan aturan
universal tersebut bertujuan untuk pengembangan ke arah kepribadian yang
positif (intrapersonal) dan hubungan manusia yang harmonis (interpersonal).
Lebih lanjut, Nucci & Narvaes (2008) menyatakan bahwa moral merupakan
faktor determinan atau penentu pembentukan karakter seseorang. Oleh karena
itu, indikator manusia yang berkarakter moral adalah:

1. Personal improvement; yaitu individu yang mempunyai kepribadian yang


teguh terhadap aturan yang diinternalisasi dalam dirinya. Dengan demikian, ia
tidak mudah goyah dengan pengaruh lingkungan sosial yang dianggapnya tidak
sesuai dengan aturan yang diinternalisasi tersebut. Ciri kepribadian tersebut
secara kontemporer diistilahkan sebagai integritas. Individu yang mempunyai
integritas yang tinggi terhadap nilai dan aturan yang dia junjung tidak akan
melakukan tindakan amoral. Sebagai contoh, individu yang menjunjung tinggi
nilai agamanya tidak akan terpengaruh oleh lingkungan sosial untuk
mencontek, manipulasi dan korupsi.

2. Social skill; yaitu mempunyai kepekaan sosial yang tinggi sehingga


mampu mengutamakan kepentingan orang lain. Hal ini ditunjukkan dengan
hubungan sosialnya yang harmonis. Setiap nilai atau aturan universal tentunya
akan mengarahkan manusia untuk menjaga hubungan baik dengan orang lain.
Contohnya, individu yang religius pasti akan berbuat baik untuk orang lain atau
mengutamakan kepentingan ummat.

17
3. Comprehensive problem solving; yaitu sejauhmana individu dapat
mengatasi konflik dilematis antara pengaruh lingkungan sosial yang tidak
sesuai dengan nilai atau aturan dengan integritas pribadinya terhadap nilai atau
aturan tersebut. Dalam arti, individu mempunyai pemahaman terhadap
tindakan orang lain (perspektif lain) yang menyimpang tetapi individu tersebut
tetap mendasarkan keputusan/sikap/ tindakannya kepada nilai atau aturan yang
telah diinternalisasikan dalam dirinya. Sebagai contoh, seorang murid yang
tidak mau mengikuti teman-temannya mencontek saat tidak diawasi oleh guru
karena ia tetap menjunjung tinggi nilai atau aturan yang berlaku (kejujuran).
Meskipun sebenarnya ia mampu memahami penyebab perilaku teman-
temannya yang mencontek. Keluwesan dalam berfikir dan memahami inilah
dibutuhkan untuk menilai suatu perbuatan tersebut benar atau salah.

Terminologi pendidikan memang berbeda dengan pengajaran. Perbedaan


tersebut terletak pada ranah yang disentuh oleh pendidikan dan pengajaran.
Dalam terminologi pengajaran maka guru hanya memberikan ilmu sebatas
dalam ranah pengetahuan (cognitive) kepada muridnya. Sedangkan dalam
terminologi pendidikan maka guru memberikan ilmu dalam ranah pengetahuan
(cognitive), perasaan (affective), sikap (attitude) dan tindakan (action). Hal
tersebut sebenarnya berdasarkan pemikiran filosofis dari Aristoteles (filusuf
Yunani) yang mempunyai prinsip soul & body dualism, yaitu manusia
hakikatnya terdiri dari dua elemen dasar, yaitu rohani dan ragawi. Oleh karena
itu, pendidikan tidak hanya memberikan asupan untuk raga (dalam hal ini
direpresentasikan dengan otak) tetapi juga asupan untuk rohani berupa
moralitas untuk menentukan sikap baik-buruk atau benar-salah.

Berdasarkan paparan pemahaman istilah di atas maka pemakalah mencoba


mendefinisikan pendidikan berkarakter moral sebagai proses transfer
pengetahuan, perasaan, penentuan sikap dan tindakan terhadap fenomena
berdasarkan nilai atau aturan universal sehingga peserta didik mempunyai
kepribadian yang berintegritas tinggi terhadap nilai atau aturan tersebut dan
mampu melakukan hubungan sosial yang harmonis tanpa mengesampingkan

18
nilai atau aturan yang ia junjung tinggi tersebut. Sehingga pendidikan
berkarakter moral ini dapat membantu peserta didik memahami kebaikan,
mencintai kebaikan dan menjalankan kebaikan (know the good, love the good,
and do the good). Dengan demikian, karakter sebagai pembeda antara orang
terdidik dengan orang yang tidak terdidik terlihat dengan jelas dari tiga
indikator output yang telah disebutkan. Oleh karena itu, pemakalah mempunyai
perspektif yang berbeda dengan Hasting et al. (2007) yang membedakan
karakter moral dan nonmoral. Berdasarkan definisi tersebut, justru pemakalah
menggabungkan karakter domain moral dan nonmoral menjadi tiga indikator
yang tidak dapat dipisahkan ketika ingin mengetahui ciri manusia yang
berkarakter moral.

B. Ideologi Liberalisme
1. Pengertian Liberalisme

Pengertian Liberalisme adalah faham yang menghendaki adanya


kebebasan kemerdekaan individu di segala bidang, baik dalam bidang politik,
ekonomi maupun agama. Liberalisme adalah suatu ideologi dan pandangan
falsafat serta tradisi politik yang mendasar pada kebebasan dan kesamaan hak.
Pada umumnya liberalisme mencita-citakan suatu masyarakat untuk bebas
dengan kebebasan berfikir bagi setiap individu dengan menolak adanya
pembatasan bagi pemerintah dan agama, hal tersebut merupakan paham dari
liberalisme. Paham liberalisme adalah berasal dari kata spanyol yaitu liberales,
liberales merupakan nama suatu partai politik yang berkembang mulai pada
abad ke-20, dimana pada waktu itu memiliki suatu tujuan demi
memperjuangkan pemerintah yang berdasarkan konstitusi. Menurut faham itu
titik pusat dalam hidup ini adalah individu. Karena ada individu, maka
masyarakat dapat tersusun, dan karena ada individu pula negara dapat
terbentuk. Oleh karena itu masyarakat atau negara harus selalu menghormati
dan melindungi kebebasan kemerdekaan individu. Tiap-tiap Individu harus
memiliki kebebasan dan kemerdekaan dalam bidang politik, ekonomi dan
agama

19
Kebebasan- Kebebasan Dalam Paham Liberalisme

a. Dalam Bidang Politik

Terbentuknya suatu negara merupakan kehendak dari individu-individu. Maka


yang berhak mengatur menentukan segala-galanya adalah individu-individu
itu. Dengan kata lain kekuasaan tertinggi (kedaulatan) dalam suatu negara
berada di tangan rakyat (demokrasi). Agar supaya kebebasan atau kemerdekaan
individu tetap di hormati dan dijamin, maka harus disusun dibentuk Undang-
Undang, Hukum, Parlemen dan lain-lain. Demokrasi yang dikehendaki oleh
golongan liberal tadi kemudian dikenal sebagai Demokrasi Liberal. Dalam
alam demokrasi liberal itu golongan yang kuat akan selalu memperoleh
kemenangan, sedang golongan yang lemah akan selalu kalah. Meskipun
demikian demokrasi itu hingga sekarang dapat berjalan dengan baik di negara-
negara Eropa Barat dan Amerika Serikat.

b. Dalam Bidang Politik

Liberalisme menghendaki adanya sistim ekonomi besar. Tiap-tiap individu,


tiap orang, harus memiliki kebebasan kemerdekaan dalam berusaha, memilih
mata pencaharian yang disukai, mengumpulkan harta benda dan lain-lain.
Pemerintah jangan mencampuri masalah perekonomian, karena masalah itu
adalah masalahnya individu. Semboyan Kaum Liberal yang terkenal berbunyi
adalah "Laisser faire, laisser passer, ie monde va de lui
meme" Artinya Produksi bebas, perdagangan bebas, dunia akan berjalan
sendiri. Dalam alam ekonomi liberal akan terjadi persaingan hebat antara
individu satu dengan individu lainnya. Pengusaha-pengusaha dengan modal
besar akan mudah menelan pengusaha-pengusaha kecil. Akibatnya timbullah
perusahaan-perusahaan raksasa yang dapat menguasai perekonomian negara
dan politik negara. Jurang pemisah antara si kaya dan si miskin makin lama
makin bertambah lebar dan dalam.

20
c. Dalam Bidang Agama

Liberalisme menganggap masalah agama sebagai masalah indiviu, masalah


pribadi. Tiap-tiap individu harus memiliki kebebasan kemerdekaan beragama.
Oleh sebab itu Liberalisme menolak campur tangan negara (Pemerintah) dalam
bidang agama. Kebebasan kemerdekaan beragama menurut pendapat
liberalisme dapat diartikan :

Bebas merdeka memilih agama yang disukai

Bebas merdeka menjalankan ibadah menurut agama yang dianutnya.

Bebas merdeka untuk tidak memilih menganut masalah satu agama.

2. Sejarah liberalisme

Liberalisme pertama kali disuara gelorakan oleh golongan borjuis


perancis pada abad ke-18 sebagai reaksi protes terhadap kepincangan
keganjilan yang telah lama berakar kuat di Perancis. Sebagai akibat warisan
sejarah masa lampau, di Perancis terdapat pemisahan pembedaan yang tajam
sekali antara golongan berhak istimewa dan golongan tanpa hak. Golongan
pertama memiliki segala-galanya. Seakan-akan golongan inilah yang memiliki
negara Perancis. Mereka terdiri dari kaum bangsawan dan kaum alim atau
ulama (padri). Golongan kedua hanya memiliki kewajiban, tidak mempunyai
hak apa-apa. Mereka itu adalah rakyat Perancis, baik golongan borjius yang
kaya raya maupun golongan rakyat biasa. Ibarat budak belian, rakyat harus
selalu tunduk dan taat kepada tuannya, yaitu kaum bangsawan dan kaum padri.

Golongan Borjius yang diperlakukan sewenang-wenang tadi lalu berjuang


untuk memperoleh kebebasan kemerdekaan sebagai kaum penguasa mereka
menuntut memperjuangkan kebebasan atau kemerdekaan berusaha. Jadi
kebebasan kemerdekaan dalam bidang ekonomi. Karena sejak adanya
Colbertisme (abad ke-17), pemerintah Perancis terlalu banyak mencampuri
masalah kebebasan ekonomi perdagangan, sehingga sangat mengekang
kebebasan kemerdekaan berusaha. Lambat laun tuntutan perjuangan golongan
borjius tadi tidak terbatas pada kebebasan kemerdekaan dalam bidang ekonomi

21
saja, melainkan juga dalam bidang politik dan agama. Reaksi protes golongan
borjius terhadap kepincangan atau keganjilan tata masyarakat dan tata
pemerintahan Perancis banyak dipengaruhi oleh karya tulisan Philosophes,
misalnya Voltare, Rousseau, dan Montesquie.

Voltare : Voltare (1694-1778), sebagai seorang penganut Rasionalisme banyak


sekali mengemukakan kritikan atau kecaman terhadap kepincangan dan
keganjilan yang terdapat di perancis.

Jean Jacques Rousseau : Rousseau (1721-1778) yang menulis Du Contract


Social, membentangkan pendapatnya mengenai tata negara. Menurut dia
kedaulatan dalam suatu negara harus berada ditangan rakyat.

Montesquie : Montesquie (1689-1755) menulis L'esprit des lois artinya jiwa


undang-undang atau jiwa hukum. Dalam buku itu terdapat teorinya tentang
Trias Politica. Ketiga kekuasaan yang dimaksud ialah : Legeslatif, Eksekutif
dan Judikatif harus dipisah-pisahkan agar tidak terjadi sewenang-wenangan.

Buah pikiran para Philosophes itu bukan hanya mempengaruhi golongan


borjius, melainkan juga mempengaruhi rakyat jelata yang lebih tertekan dan
tertindas. Di Perancis makin lama makin tertimbun perasaan tidak puas. Pada
abad ke-18 golongan borjius merupakan golongan minoritas. Bila mereka
sendirian melancarkan aksi kebebasan kemerdekaan, maka tidak mungkin akan
berhasil. Oleh sebab itu mereka lalu mengajak golongan rakyat jelata untuk
bersama-sama melawan menantang golongan bangsawan dan padri. Sebagai
akibatnya pada tahun 1789 meletus Revolusi Perancis. Jadi, Revolusi Perancis
itu sebenarnya revolusinya golongan borjius yang menuntut memperjuangkan
kebebasan kemerdekaan. Mereka itu kemudian disebut Golongan
Liberal (Golongan orang-orang yang bebas merdeka).

Gerakan untuk mewujudkan Liberalisme membutuhkan waktu yang panjang


dan lama. Di Perancis Liberalisme baru benar-benar dapat dilaksanakan pada

22
tahun 1870, yaitu setelah Perancis menjadi Negara Republik yang ketiga. Dari
Perancis gerakan liberalisme tadi menyebar ke negara-negara lain di daratan
Eropa. Tatkala Eropa dilanda api Perang Koalisi (1792-1815) Napoleon
Bonaparte beserta pasukannya menjelajahi hampir seluruh pelosok daratan
Eropa. Walaupun di negerinya sendiri Napoleon memerintah sebagai seorang
diktator, namun di daerah-daerah yang diduduki atau dikuasai ia selalu
menganjur-anjurkan Pemerintahan yang berdasarkan Liberalisme. Setelah
perang koalisi berakhir dan Napoleon jatuh, gerakan Liberalisme sudah
tersebar luas di luar wilayah Perancis. Perkembangan Gerakan liberalisme di
Perancis selalu di ikuti oleh negara-negara lain. Ketika di Perancis meletus
Revolusi bulan Juli tahun 1830 dan revolusi bulan Februari tahun 1848, api
revolusi itu dengan cepat menjalar ke negara-negara di sekitar Perancis
(Belgia, Italia, Austria, dan Jerman).

Ciri-ciri ideologi liberal sebagai berikut :

1) Demokrasi merupakan bentuk pemerintahan yang lebih baik.

2) Anggota masyarakat memiliki kebebasan intelektual penuh, termasuk


kebebasan berbicara, kebebasan beragama, dan kebebasan pers.

3) Pemerintah hanya mengatur kehidupan masyarakat secara terbatas.


Keputusan yang dibuat hanya sedikit untuk rakyat sehingga rakyat dapat
belajar membuat keputusan untuk diri sendiri.

4) Kekuasaan dari seseorang terhadap orang lain merupakan hal yang buruk.
Oleh karena itu, pemerintahan dijalankan sedemikian rupa sehingga
penyalahgunaan kekuasaan dapat dicegah.

5) Suatu masyarakat dikatakan berbahagia apabila setiap individu atau


sebagian terbesar individu berbahagia. Kalau masyarakat secara keseluruhan
berbahagia, kebahagiaan sebagian besar individu belum tentu maksimal

23
24