Anda di halaman 1dari 10

A.

Urbanisasi Berlebih

Urbanisasi berlebih merupakan suatu keadaan tidak mempunyai kota-kota yang menyediakan
fasilitas pelayanan pokok dan kesempatan kerja yang memadai untuk penduduk yang bertambah
dengan pesat dan bukanlah suatu konsep yang menyenangkan para ahli ekonomi dan ahli
perencanaan. Salah satu alasannya adalah bahwa urbanisasi berlebih terjadi diluar perkiraan.
Masalah-masalah yang dihadapi oleh negara-negara baru merdeka pada waktu itu dan sekarang
dirasakan amat berat sehingga terlalu lamban bila dipecahkan dengan meniru pembangunan
secara evolusioner dan kapitalime modern. Salah satu bagian dari proses industrialisasi yang tak
dapat dihindarkan adalah urbanisasi. Perpindahan penduduk dan sumber daya lain dari desa ke
kota diharapkan dapat memberikan tenaga kerja yang murah dan tabungan yang dipaksakan
(forced savings) untuk mendorong industrialisasi dikota. Kemudian sampai pada titik tertentu
diharapkan bahwa (seperti dengan tingkat pertumbuhan penduduk) tingkat urbanisasi akan
menurun secara berangsur-angsur, disertai berkurangya kepadatan penduduk di desa dan
produktivitas yang lebih tinggi di sektor pertanian. Dengan demikian, diharapkan agar penduduk
desa pada umumnya tidak kalah makmurnya dengan para pekerja di kota industri. Migrasi akan
sangat berkurang karena rangsangan ekonomi untuk berpindah tidak ada lagi. Meskipun ada
beberapa kekecualian, industrialisasi tidak mampu mendorong seluruh masyarakat ke suatu
tingkat yang lebih modern dan adil. Tampaknya, keseimbangan antara sektor pedesaaan dan
sektor perkotaan masih jauh, dan menurut pandangan beberapa ahli ekonomi dan para pemimpin
pemerintahan, keseimbangan itu tidak mungkin tercapai melalui kebijakan yang mengutamakan
pertumbuhan industri modern saja. Tidak ada rumus matematik yang menentukan suatu batas
tertentu sampai dimana kota-kota tidak boleh dikembangkan lagi. Selain itu, ukuran kota yang
optimal ditentukan oleh berbagai faktor ekonomi, sosial, dan geografi yang berbeda-beda antara
suatu negara dengan negara lain. Rupanya, tidak ada batasan tertentu mengenai ukuran atau
besarnya suatu kota sepanjang ia dapat berkembang ke luar dan ke atas (horisontal dan vertikal)
dan pertumbuhan sektor industri dan jasa mampu menyerap sejumlah besar para pekerja baru.

Karena semakin besar perhatian pemerintah terhadap pesatnya urbanisasi, seharusnya


masyarakat dan badan-badan yang terlibat dalam usaha pembangunan lebih banyak
memperhatikan masalah yang penting ini. Dibutuhkan penelitian lebih banyak lagi, tetapi pada
saat ini sudah jelas bahwa ada tiga gejala yang menunjukkan bahwa kota-kota telah tumbuh
terlalu pesat untuk dapat mendukung pertumbuhan ekonomi di negara sedang berkembang.
Ketiga gejala tersebut adalah : 1. Jumlah penganggur dan setengah penganggur yang besar dan
semakin meningkat. 2. Proporsi tenaga kerja yang bekerja pada sektor industri di kota hampir
tidak dapat bertambah dan malahan mungkin semakin berkurang. 3. Jumlah penduduk dan
tingkat pertumbuhannya sudah begitu pesat sehingga pemerintah tidak mampu memberikan
pelayanan kesehatan, perumahan, dan transportasi yang memadai. Kebanyakan negara sedang
berkembang mengabaikan sektor pertanian untuk mendapat sumber daya dalam upaya
meningkatkan usaha industrialisasi dan urbanisasi. Kebijakan ini sangat mengutamakan urban
bias (kecenderungan mengutamakan kota) yang sudah mendarah daging dalam kehidupan
ekonomi di kebanyakan negara sedang berkembang. Kebijakan yang berdasarkan Urban bias ini
akan memperlebar jurang pendapatan antara kota dan desa. Keadaan ini mendorong tetap
berlangsungnya tingkat migrasi yang tinggi meskipun pengangguran di kota meningkat terus.
Selama pendapatan di desa tetap rendah dan upah di sektor perkotaaan lebih tinggi dari
semestinya karena kebijakan pemerintah dan pengaruh institusional lainnya, maka kaum
migran dari desa akan terus mengalir ke kota untuk mencari pekerjaan di sektor modern yang
upahnya lebih baik walaupun sukar (atau tidak mungkin) dimasuki. Pengalaman pada beberapa
dasawarsa yang lalu menunjukkan bahwa dinegara yang banya penduduknya, urbanisasi bisa
menjadi suatu prasyarat bagi modernisasi dan pembangunan ekonomi. Tetapi ini bukanlah satu-
satunya prasyarat. Banyak ahli di negara sedang berkembang dan di negara maju sekarang
beranggapan bahwa syarat penting lainnya yang belum terpenuhi adalah suatu daerah pedesaan
yang lebih produktif.

B. Industrialisasi Urban Bias dan Kemiskinan di Desa Terdapat beberapa perbedaan yang
mendasar antara negara-negara yang baru merdeka dan negara maju pada waktu mereka mulai
menjalankan industrialisasi satu abad yang lalu atau lebih. Perbedaan utama adalah mengenai
penduduk. Sistem pelayanan kesehatan dasar yang dikembangkan oleh negara-negara Eropa
dapat menurunkan tingkat kematian secara menyolok di daerah jajahan, tetapi tingkat kelahiran
tetap tinggi seperti keadaan semula.

C. Kebijakan-Kebijakan industrialisasi Ada beberapa teori yang dirumuskan dalam tahun 1950-
an dan awal tahun 1960-an untuk menjelaskan bagaimana caranya negara berkembang dapat
mengadakan modernisasi. Pada waktu itu, semua teori ini mengakui bahwa industrialisasi
merupakan satu-satunya jalan untuk mencapai kemerdekaan dan kebebasan. Bahkan kaum
Marxis pun tidak membantah hal ini. Dengan demikian, muncullah beberapa kebijakan yang
memprioritaskan industrialisasi, tanpa memandang orientasi ideologi. Tabungan dalam negeri
harus ditingkatkan dan diarahkan untuk memperoleh modal yang dibutuhkan guna membangun
industri, jalan raya, dan pelabuhan-pelabuhan untuk menghubungkan pabrik-pabrik (kebanyakan
dimiliki orang asing) dalam negeri dengan dunia luar. Sektor pertanian ditekan karena dianggap
sebagai sumber dana pembangunan industri yang masih lemah dan dilindungi oleh pemerintah
terhadap persaingan dari luar negeri. Perlindungan tersbut dalam bentuk mempertahankan nilai
mata uang dalam negeri sehingga lebih murah mendatangkan mesin-mesin dan teknologi yang
dibutuhkan untuk membangun industri, penetapan tarif dan pajak sedemikian rupa sehingga
mencegah para petani mengimpor barang-barang pertanian dan konsumsi yang lebih murah, dan
kebijakan ini memaksa mereka membayar harga relatif tinggi yang ditetapkan oleh indsutri yang
dilindungi pemerintah. Selanjutnya nilai mata uang yang tinggi berarti bahwa ekspor relatif
murah. Jadi, hampir tidak ada insentif bagi para petani untuk meningkatkan produksi ekspor.
Pemerintah mengerahkan segala sumber daya untuk mengadakan investasi yang dapat
menciptakan dan mendukung industri. Hanya sedikit sekali sumber daya digunakan untuk sektor
pertanian. Para ahli perncanaan dan ahli ekonomi menyatakan bahwa sektor industri dan sektor-
sektor ekonomi lainnya akan tumbuh dengan pesat sehingga dapat menyerap para penganggur
dan setengah penganggur. Kemudian diharapkan akan tiba saatnya tingkat upah naik, sehingga
mesin yang mengemat tenaga kerja secara ekonomis dapat dipertanggungjawabkan.
Bagaimanapu juga, nampaknya tidak banyak pilihan pada waktu itu. Ada beberapa keuntungan
ekonomi yang dapat dipetik dari usaha mendirikan kota. Yang paling penting bagi negara sedang
berkembang adalah pendapat bahwa pemusatan para importir, pengusaha pabrik, pedangan
eceran, dan sejumlah besar konsumen di dalam satu atau beberapa daerah tertentu, biasanya akan
menghasilkan paling banyak barang dan jasa dengan biaya termurah dalam pasar yang paling
besar. Juga banyaknya tenaga kerja yang mengelompok dalam suatu kota diharapkan memiliki
ketrampilan dan pendidikan bermacam ragam sehingga dapat mengisi atau melatih untuk
mengisi pekerjaan-pekerjaan di sektor industri. Karena jumlah tenaga kerja ini relatif besar, ada
kecenderungan untuk tetap mempertahankan suatu tingkat upah yang memadai, yang akan
menekan atau mengurangi biaya produksi. Pemerintah secara langsung mendorong
perkembangan kota dengan mensubsidi pendirian dan pemeliharaan fasilitas pelayanan ini. Juga
kadang-kadang pajak yang dikenakan pada para pemakai jasa tidak cukup untuk menutup biaya
pembuatan jalan raya yang menghubungkan satu kota dengan kota-kota lain dan dengan
pelabuhan-pelabuhan. Pemerintah membantu pembangunan yang demikian ini sehingga
mengurangi biaya perusahaan dan merupakan insentif untuk mendirikan pabrik-pabrik di kota.
Pemerintah memainkan peranan kunci dalam kehidupan ekonomi di hampir semua negara
sedang berkembang. Pemusatan para pembuat kenijakn dan birokrat di kota-kota besar
kebanyakan di ibu kota, mendorong para produsen barang dan jasa berpusat di kota tersebut.
Khususnya ibu kota atau beberapa kota besar yang mempunyai sistem (atau satu-satunya sistem)
transportasi dan komunikasi terbaik, yang dengan demikian mengurangi biaya produksi dan
distribusi di daerah tersebut. Tentunya, apabila industri berkembang dengan baik di suatu daerah
tertetentu, maka perusahaan-perusahaan baru akan lebih tertarik untuk pindah kedaerah tersebut.

D. Migrasi Desa-Kota Perpindahan penduduk dari desa ke kota (migrasi desa-kota) merupakan
satu faktor utama yang mendorong pesatnya pertumbuhan kota-kota di negara sedang
berkembang. Diduga bahwa pada saatnya tingkat pertumbuhan pendapatan di kota akan
berkurang karena kelebihan migran di pasar tenaga kerja. Sementara itu, pertumbuhan sektor
pertanian dan penghasilan yang lebih tinggi oleh karena tenaga kerja relatif tebatasdi desa akan
meningkatkan pendapatan di desa yang kira-kira dapat mengimbangi pendapatan kota. Hal ini
akan mengakhiri keinginan bermigrasi. Jadi daya respons tenaga kerja terhadap perubahan
pendapatan dikota dan penghasilan di desa diharapkan akan mengubah apa yang pada mulanya
dianggap sebagai suatu pertumbuhan tidak seimbang menjadi suatu pertumbuhan yang stabil,
suatu proses mengoreksi diri sendiri. Seperti terbukti sekarang, hal tersebut di atas tidak pernah
terjadi. Sebab-sebab utama kegagalan ini berhubungan, baik secara langsung maupun tidak
langsung, dengan kebijakan-kebijakan industrialisasi dan urbanisasi yang dikira dapat memacu
pertumbuhan ekonomi di segala sektor. Pertama, kemandekan ekonomi di desa menyebabkan
pertumbuhan penduduk tetap mencapai tingkat yang sangat tinggi. Kedua, pertambahan
penduduk yang tinggi disertai dengan pendapatan yang rendah telah memaksa makin banyak
penduduk desa mencari jalan lain untuk meningkatkan tarf hidupnya. Ketiga, kebijakan yang
melindungi sektor industri di kota telah menciptakan pendapatan yang lebih tinggi dan
kesempatan kerja yang lebih besar di kota.

E. Pengangguran di Sektor Industri. Sejalan dengan meningkatnya migrasi desa-kota, jumlah


orang yang mencari pekerjaan di sektor industri meningkat sedangkan jumlah pekerja yang
dibutuhkan semakin sedikit. Perpindahan dari industri padat karya ke industri padat modal di
negara Barat membutuhkan waktu yang lebih lama untuk menyerap kaum migran di sektor
industri. Meskipun perpindahan ini tidak akan dicapai tanpa pengorbanan, namun sektor industri
sekalipun sudah semakin bersifat pada modal, pada umumnya berkembang cukup pesat sehingga
dapat menyerap hampir semua pencari kerja. Di beberapa negarabermigrasi ke luar
negerdibandingkan dengan tingkat pembangunan dan i. Ada yang berpendapat bahwa
kesempatan kerja di sektor industridan urbanisasi yang dialami oleh negara maju seharusnya
tidak dianggap satu-satinya modal. Melainkan, pengalaman negara sedang berkembang dewasa
ini lebih menyerupai apa yang seharusnya diharapkan dalam proses pembangunan ekonomi.
Meskipun begitu, nampaknya sudah disepakati secara umum bahwa sifat pada modal dari
teknologi industri modern menghambat penyerapan tenaga kerja yang setiap tahunnya meningkat
di kota. Dan diakui juga bahwa urbanisasi yang sama di negara industri dulu, jumlah tenaga kerja
yang terserap di sektor industri tidak sama banyaknya di negara sedang berkembang. Barangkali
sektor informal akan menjembatani jurang ini. Namun, hal ini dapat diragukan karena
pertumbuhan sektor jasa sangat tergantung pada pertumbuhan sektor modern. Selain itu data
menunjukkan peningkatan pengangguran dan setengah pengangguran yang cukup besar di kota
dan hal ini mencerminkan keterbatasan sektor informal yang produktif. Kemungkinan besar
bahwa urbanisasi berlebih bisa semakin parah. Pertama, ada beberap bukti yang menunjukkan
bahwa tingkat migrasi semakin meningkat. Jika demikian, proporsi penduduk yang hidup dikota
meningkat . Kedua, migrasi paling menonjol di kota-kota terbesar.

F. Dampak Pertumbuhan Penduduk yang Pesat terhadap Fasilitas Pelayanan di Kota


Pertumbuhan penduduk kota jauh lebih pesat dari kemampuan pemerintah di negara sedang
berkembang untuk menyediakan fasilitas pelayanan yang memadai, dan banyak pemerintah tidak
berusaha lagi untuk menyediakan fasilitas layanan. Masalah yang dihadapi di kota-kota di negara
maju juga dialami di kota-kota negara sedang berkembang , tetapi tingkatnya lebih berat.
Semakin besar suatu kota, masalah yang dihadapinya lebih banyak dan lebih sulit. Terbukti
bahwa pencemaran udara, kebisingan, kemacetan lalu lintas, kejahatan, dan kesehatan cenderung
tumbuh lebih pesat daripada perkembangan wilayah kota-kota besar.

Beberapa ahli perencanaan kota mengatakan bahwa tak ada urbanisasi berlebih karena kota jauh
lebih efesien daripada desa di dalam menyediakan kesempatan kerja dan pendapatan yang lebih
tinggi, dan alternatif-alternatif lain, seperti overruralization (penduduk desa berlebih) justru
buruk. Merek selalu optimis. Pertama, inflasi di negara industri telah meningkatkan biaya impor
bahan pangan dan mesin-mesin yang harus dipikul oleh negara sedang berkembang. Kedua,
pertumbuhan ekonomi yang lebih lamban di dunia Barat dan aturan-aturan baru yang membatasi
perdagangan telah mengurangi permintaan akan hasil-hasil industri dari negara sedang
berkembang. Ketiga, melonjaknya harga minyak telah memperlemah kedudukan ekonomi negara
sedang berkembang. Karena faktor ini, masalah keseimbangan neraca pembayaran dan hutang
luar negeri (debt service) semakin parah dan untuk mempertahankan pertumbuhan kesempatan
kerja di kota. Jika urbanisasi berlebi telah menjadi hal yang biasa, yang berkembang sendiri dan
merusak (self perpetuating selfdefeating), maka memaksa orang tinggal di daerah pedesaan
bukanlah jalan keluar. Bagaimanapun juga, migrasi sering merupakan suatu usaha yang nekat
untuk memperoleh standar hidup yang paling minim. Orang menggunakan hak pilih dan
berpindah. Bagi kebanyakan negara sedang berkembang, nampaknya tidak ada alternatif yang
praktis selain strategi pemusatan pembangunan di daerah pedesaan. Migrasi akan menurun dan
pendapatan meningkat di daerah pedesaaan jika sektor pertanian dan indsutri kecil yang
berkaitan dengan sektor pertanian di desa dapat menciptakan lebih banyak kesempatan kerja dan
meningkatkan pendapatan. Suatu pendekatan yang demikian ini secara tidak langsung dan
perlahan-lahan melawan sebab-sebab timbulnya urbanisasi berlebih.

G. Menciptakan Suatu Strategi Pembangunan Masyarakat Desa Adapun suatu pertumbuhan


ekonomi yang meningkat, kebanyakan negara sedang berkembang tetap menghadapi berbagai
masalah yang dirasakan pada permulaan masa pembangunan. Justru kemiskinanlah yang
merajalela, bertahan terus di luar perkiraan perikemanusiaan, dan nampaknya tak perlu ada
dalam dunia yang begitu kaya ini, yang telah menarik perhatian para pengamat. Pertumbuhan
ekonomi nampaknya tidak mempengaruhi beratus-ratus juta penduduk yang masih menderita
kelaparan setiap hari. Sejak pertengahan 1970-an, ketidakpuasan itu telah dituangkan dalam
suatu pendekatan alternatif pembangunan desa. Dasar pemikiran yang diperoleh melalui suatu
penelaahan kembali sejarah ekonomi negara Barat dan dari penelitian yang pertama kali
menunjukkan bahwa sektro pedesaan dapan memainkan suatu peranan penting dalam
meningkatkan pendapatan dan menciptakan kesempatan kerja.

H. Prinsip-prinsip Strategi Pembangunan Masyarakat Desa yang Mendasar Meskipun penekanan


aspek-aspek tertentu mungkin berbeda dan masih disusunnya berbagai perincian yang lebih
mendetil, sudah dicapai kesepakatan dalam banyak hal pada tahun-tahun terakhir ini mengenai
prinsip-prinsip umum suatu strategi pembangunan masyarakat desa. Pertumbuhan yang disertai
dengan pemerataan merupakan tujuan umum. Peningkatan pendapatan kaum misktin di desa
sama pentingnya dengan pertumbuhan ekonomi secara umum. Sektor pertanian harus mendapat
prioritas paling tinggi. Sumber-sumber daya dan tenaga kerja trampil harus disalurkan ke dalam
suatu usaha yang terus menerus untuk meningkatkan produksi pangan. Para petani kecil dapat
menjadi kunci keberhasilan produksi pertanian jika mereka dapat memperoleh dengan biaya
murah Land reform sering masih dibutuhkan untuk mendorong para petani agar meningkatkan
penghasilan mereka. Land reform juga dapat menciptakan distribusi pendapatan dan kekayaan
lebih merata di desa. Prasaran pedesaan khususnya jalan raya, gudan penyimpanan bahan
pangan, harus dibangun agar petani dapat dengan menjual hasil-hasil mereka, sehingga dapat
didistribusikan dengan kerugian yang minimum. Menghubungkan para petani dengan pasar
adalah sangat penting. Lembaga-lembaga pemasaran, koperasi, dan keuangan yang melayani
para petani harus didirikan pada lokasi yang tepat di pasar desa dan di kota-kota kecil. Sekolah
menengah dan sekolah teknik juga harus dibangun di sana. Industri kecil padat karya harus
dikembangkan pada pusat ini untuk meningkatkan kesempatan kerja di samping menghasilkan
barang-barang dan fasilitas pelayanan yang bermanfaat bagi petani. Dibutuhkan lebih banyak
penelitian dan pengembangan mengenai teknologi yang menggunakan lebih banyak tenaga kerja
secara efesien dan lebih sedikit modal di pertanian maupun industri kecil. Partisipasi dalam
proses pembuatan keputusan harus terbuka bagi rakyat dari semua lapisan dalam bidang-bidang
yang secara langsung mempengaruhi kehidupan mereka, baik pada tingkat nasional maupun
tingkat lokal

I. Kebijakan-kebijakan Praktis Kebijakan-kebijakan industrialisasi di masa lalu tidak hanya gagal


mendorong masyarakat ke luar dari keterbelakangan, tetapi bahkan menyebabkan makin
parahnya masalah pengangguran dan setengah pengangguran, kemiskinan, migrasi besar-besaran
dan pertumbuhan penduduk kota yang tak terkendalikan. Dengan menciptakan keuntungan
ekonomi bagi industri-industri yang menggunakan peralatan modern yang hemat tenaga kerja,
pengutamaan sektor industri di kota oleh pemerintah akan menghambat suatu pola pertumbuhan
yang lebih merata. Kebijakan-kebijakan yang didukung oleh teori sebagian besar berlawanan
dengan pengalaman selama ini. Usaha-usaha pemerintah di bidang pembangunan masyarakat
desa dipusatkan pada penciptaan iklim fisik dan ekonomi yang menghargai inisiatif yang diambil
oleh petani dan pedagang kecil, di samping melanjutkan usaha pembangunan prasarana yang
dibutuhkan untuk pembangunan yang lebih seimbang antardaerah. Usaha-usaha untuk
mempertajam kebijakan-kebijakan mungkin tidak praktis dan mahal. Menerjemahkan prinsip-
prinsip umum ini ke dalam proyek-proyek dan program-program praktis merupakan suatu
tantangan besar

Kesimpulan Adanya Urbanisasi yang berlebih dapat berdampak pada kepadatan penduduk
dimana merupakan suatu istilah yang disebut dilema urbanisasi. Penyebab urbanisasi berlebih
adalah adanya suatu gejala dimana kota-kota telah tumbuh terlalu pesat di negara yang sedang
berkembang. Dengan mengabaikan sektor pertanian sebagai dasar untuk mendapat sumber daya
dalam upaya meningkatkan usaha industrialisasi dan urbanisasi. Sehingga terjadinya urban bias
yang merupakan kecenderungan lebih mengutamakan kota daripada desa yang mengakibatkan
kemiskinan di desa. Untuk itu diperlukan adanya kebijakan pemerintah daerah dalam otonomi
daerahnya masing-masing dalam upaya mendukung Prinsip-prinsip Strategi Pembangunan
Masyarakat Desa yang Mendasar sehingga dapat menjamin pembangunan di Desa dan
mengurangi pengangguran masyarakat yang ada di kota.

- Rabu, 12 Oktober 2011

Macet? Sudah menjadi hal yang biasa di kehidupan perkotaan, terutama Jakarta.
Kehidupan Jakarta yang keras membuat beberapa orang ingin mengetahui, apa sebab
perkotaan-perkotaan besar sering terjadi kemacetan yang meresahkan masyarakat.
Menurut saya, ini terjadi karena banyaknya penduduk yang mendiami di wilayah kota-
kota besar, dan ditambahnya pesatnya pertumbuhan penduduk di wilayah Indonesia.
Oleh sebab itu, berikut adalah faktor-faktor, mengapa terjadi kemacetan, ke-penuh
sesakan, dan kejadian-kejadian lain yang meresahkan penduduk di Indonesia,
sehingga terjadi kejadian-kejadian yang tidak diinginkan, alias tindakan kriminal.

1. MIGRASI
Migrasi adalah peristiwa berpindahnya suatu organisme dari suatu tempat ke tempat
lainnya. Dalam banyak kasus, organisme bermigrasi untuk mencari sumber-cadangan-
makanan yang baru untuk menghindari kelangkaan makanan yang mungkin terjadi
karena datangnya musim dingin atau karena kepadatan penduduk. Selain migrasi ada
istilah lain tentang dinamika penduduk yaitu mobilitas. Pengertian Mobilitas ini lebih luas
daripada migrasi sebab mencakup perpindaahan wilayah secara permanen dan
sementara.
Migrasi ini merupakan akitab dari keadaan lingkungan seklitar yang kurang
menguntungkan bagi dirinya. Sebagai akibat dan kedadaan alam yang kurang
menguntungkan menimbulkan terbatasnya sumberdaya yang mendukung penduduk
didaerah tersebut.
Langkah-langkah imigran dalam menentukan keputusannyauntuk pindah ke daerah
laina tau kawasan (aeal) lain terlebih dahulu ingin mengetahui lebih dahulu faktor-faktor
sebagai berikut :
- Persediaan sumber alam
- Lingkungan sosial budaya
- Potensi ekonomi
- Alat masa depan

sumber: http://3rest.wordpress.com/2010/11/06/faktor-pesatnya-pertumbuhan-penduduk/

Tingginya perkembangan penduduk kota terutama disebabkan migrasi yang dilakukan


oleh penduduk pedesaan. Urbanisasi merupakan salah satu aspek migrasi yang akan
mempengaruhi pertambahan penduduk perkotaan. Todaro (2000) menyatakan bahwa
munculnya urbanisasi yang berlebihan di suatu negara dipicu oleh pesatnya
pertumbuhan penduduk yang didukung oleh menurunnya angka kematian serta adanya
kebijakan pemerintah yang cenderung bias ke kota. Tingginya angka migrasi ke kota
menyebabkan tidak meratanya distribusi penduduk atau persebaran penduduk
sehingga terjadi pemusatan penduduk di perkotaan. Akibatnya kepadatan penduduk di
perkotaan tersebut semakin tinggi. Tingginya angka migrasi ini disebabkan karena
adanya faktor-faktor penarik dan pendorong yang menyebabkan penduduk pedesaan
atau penduduk daerah lain tersebut melakukan perpindahan kedaerah perkotaan.

Faktor-faktor pendorong (push factor) antara lain adalah :


1. Makin berkurangnya sumber-sumber kehidupan seperti menurunnya daya dukung
lingkungan, menurunnya permintaan atas barang-barang tertentu yang bahan bakunya
makin susah diperoleh seperti hasil tambang, kayu, atau bahan dari pertanian.
2. Menyempitnya lapangan pekerjaan di tempat asal (misalnya tanah untuk pertanian di
wilayah perdesaan yang makin menyempit).
3. Adanya tekanan-tekanan seperti politik, agama, dan suku, sehingga mengganggu
hak asasi penduduk di daerah asal.
4. Alasan pendidikan, pekerjaan atau perkawinan.
5. Bencana alam seperti banjir, kebakaran, gempa bumi, tsunami, musim kemarau
panjang atau adanya wabah penyakit.

Faktor-faktor penarik (pull factor) antara lain adalah :


1. Adanya harapan akan memperoleh kesempatan untuk memperbaiki taraf hidup.
2. Adanya kesempatan untuk memperoleh pendidikan yang lebih baik,
3. Keadaan lingkungan dan keadaan hidup yang menyenangkan, misalnya iklim,
perumahan, sekolah dan fasilitas-fasilitas publik lainnya.
4. Adanya aktivitas-aktivitas di kota besar, tempat-tempat hiburan, pusat kebudayaan
sebagai daya tarik bagi orang-orang daerah lain untuk bermukim di kota besar.
Todaro (1979) berpendapat bahwa motivasi seseorang untuk pindah adalah motif
ekonomi. Motif tersebut berkembang karena adanya ketimpangan ekonomi antar
daerah. Todaro menyebutkan motif utama tersebut sebagai pertimbangan ekonomi
yang rasional. Mobilitas ke perkotaan mempunyai dua harapan, yaitu memperoleh
pekerjaan dan harapan memperoleh pendapatan yang lebih tinggi dari pada yang
diperolehnya di tempat asalnya.
sumber: http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/18232/5/Chapter%20I.pdf

2. MENIKAH USIA DINI/HAMIL DILUAR NIKAH


Perkawinan pada umumnya dilakukan oleh orang dewasa dengan tidak memandang
pada profesi, agama, suku bangsa, miskin atau kaya, tinggal di desa atau di kota.
Namun tidak sedikit manusia yang sudah mempunyai kemampuan baik fisik maupun
mental akan mencari pasangannya sesuai dengan apa yang diinginkannya. Dalam
kehidupan manusia perkawinan bukanlah bersifat sementara tetapi untuk seumur
hidup. Sayangnya tidak semua orang tidak bisa memahami hakekat dan tujuan dari
perkawinan yang seutuhnya yaitu mendapatkan kebahagiaan yang sejati dalam
berumah-tangga.
Batas usia dalam melangsungkan perkawinan adalah penting atau dapat dikatakan
sangat penting. Hal ini disebabkan karena didalam perkawinan menghendaki
kematangan psikologis.
Usia perkawinan yang terlalu muda dapat mengakibatkan meningkatnya kasus
perceraian karena kurangnya kesadaran untuk bertanggung jawab dalam kehidupan
berumah tangga bagi suami istri.
Pernikahan yang sukses sering ditandai dengan kesiapan memikul tanggung-jawab.
Begitu memutuskan untuk menikah, mereka siap menanggung segala beban yang
timbul akibat adanya pernikahan, baik yang menyangkut pemberian nafkah, pendidikan
anak, maupun yang berkait dengan perlindungan, pendidikan, serta pergaulan yang
baik.
Tujuan dari perkawinan yang lain adalah memperoleh keturunan yang baik. Dengan
perkawinan pada usia yang terlalu muda mustahil akan memperoleh keturunan yang
berkualitas. Kedewasaan ibu juga sangat berpengaruh terhadap perkembangan anak,
karena ibu yang telah dewasa secara psikologis akan akan lebih terkendali emosi
maupun tindakannya, bila dibandingkan dengan para ibu muda.
sumber: http://www.solex-un.net/repository/id/hlth/CR10-Res3-ind.pdf

3. MENERAPKAN ISTILAH "BANYAK ANAK BANYAK


REJEKI"
Siapa bilang banyak anak itu bikin sial dan sulit untuk dijalani. Program KB atau
keluarga berencara a.k.a keluarga berkualitas yang dicanangkan pemerintah Indonesia
itu memang program yang baik untuk keluarga yang memiliki penghasilan yang
terbatas, tidak senang keramaian, tidak memiliki leader yang kuat, tidak suka yang
rumit-rumit, dan lain sebagainya. Toh agama tidak melarang serta KB juga tidak wajib
dan yang melanggar pun tidak dihukum.

Orang-orang jaman dulu beranggapan banyak anak banyak rezeki karena mereka
berorientasi pada kuantitas sumber daya manusia / sdm. Tetapi di jaman yang serba
sulit ini menjadi agak bergeser. Semakin banyak anak yang berkualitas maka semakin
baik pula rejekinya. Jadi kuantitas dan kualitas sdm anak semua dikelola dengan baik.

Untuk bisa menerapkan pola banyak anak banyak rejeki memang tidak mudah karena
butuh pengorbanan orang tua dan saudara yang lain untuk mendukungnya. Anak yang
jumlahnya banyak sudah pasti sulit sekali untuk mengurusnya. Perlu modal, waktu,
tenaga, pikiran, perasaan, kepemimpinan, tercurah untuk menjalani hidup dengan
banyak anak-anak.

Tetapi jika berhasil membuat anak yang dewasa dengan kualitas tinggi maka setelah itu
kita akan menuai hasilnya. Dari sisi ekonomi banyak anak yang mapan dan mampu
menunjang kehidupan orangtua. Dari sisi kebanggaan sudah pasti kita bangga kalau
anak kita semua jadi orang yang mandiri, sukses, mapan, dll. Dari sisi agama pun kita
akan tenang di akhirat jika anak-anak kita adalah anak yang soleh/soleha karena
mereka akan mendoakan kita agar mendapat ampunan Tuhan.

Jadi bukan berarti Banyak Anak Tidak Banyak Rejeki, tetapi Jika kita bisa menjalani
dengan baik maka Banyak Anak Banyak Rejeki bukan isapan jempol semata.

sumber: http://organisasi.org/banyak-anak-banyak-rejeki-itu-memang-benar-kalau-kita-bisa-jalani

Tanggung jawab pengendalian jumlah pendidikan bukan hanya tanggung jawab Badan KB dan
Pemberdayaan Manusia (BKBPM) Kota Malang saja, tapi tanggung jawab bersama, termasuk
TNI AD. Karenanya, untuk menyukseskan program KB, Kodim 0833 Kota Malang bersama
BKBPM menggelar bakti sosial KB Kesehatan di Puskesmas Janti, kemarin.

Menurut Komandan Kodim 0833 Kota Malang, Letkol Arh. Wahyu Jiantono, dari data yang ada
setiap tahunnya di Kota Malang tercatat angka kelahiran mencapai 1403 bayi per tahunnya,
dengan angka kematian bayi mencapai 509 jiwa. Agar laju pertumbuhan dapat diatur, program

KB harus dapat dilakukan secara terus menerus.


Melalui keterpaduan lintas sektoral, program pengendalian laju pertumbuhan dapat diatur
dengan baik, kata Dandim 0833 Kota Malang, Letkol Arh. Wahyu Jiantono kepada Malang
Post, seusai meninjau pelaksanaan bakti sosial kemanunggalan program KB bersama TNI,
kemarin.

Dijelaskan, program itu sebagai tindak lanjut dari MoU yang telah ditanda tangani bersama
Panglima TNI dan BKKBN di tingkat pusat dan dilanjutkan sampai tingkat provinsi dan daerah.
Di Kota Malang, melalui program KB bersama TNI ditargetkan mampu menjaring akseptor KB
baru mencapai 7590 akseptor.

Program itu dilaksanakan mulai 1 Mei lalu hingga 31 Oktober mendatang. Sampai dengan
pertengahan Juni, sebanyak 2943 akseptor KB baru sudah terjaring melalui program tersebut.
Dengan alokasi waktu yang cukup panjang, alumnus SMAN 3 Malang itu optimis target jumlah
akseptor baru dapat tercapai.
Tidak mudah untuk mengajak masyarakat untuk mengikuti program KB. Sesuai dengan aturan
yang kami terima, realisasi target akseptor mencapai jumlah 40 persen dianggap berhasil dan
cukup bagus dalam menjaring akseptor baru, ungkapnya.

Kodim mengerahkan Babinsa yang ada di masing-masing wilayah untuk mengajak sekaligus
mensosialisasikan program KB kepada masyarakat secara luas. Tujuan dari program KB itu juga
untuk meningkatkan perekonomian masyarakat, khususnya keluarga pra sejahtera I dan keluarga
pra sejahtera.

Sementara itu, Wawali Kota Malang, Bambang Priyo Oetomo berharap kebersamaan antara TNI
dengan Pemkot Malang yang sudah terjalin dengan baik dapat terus dikembangkan. Supaya
tetap bersemangat, program KB akan membantu program kesejahteraan masyarakat, tandasnya.
(aim/udi/malangpos