Anda di halaman 1dari 16

KONSEP DASAR MEDIS

A. Defenisi
Halusinasi adalah perubahan persepsi sensori : keadaan dimana individu atau
kelompok mengalami atau beresiko mengalami suatu perubahan dalam jumlah, pola atau
interpretasi stimulus yang datang (Mukhripah, 2012).
Halusinasi merupakan gangguan atau perubahan persepsi dimana pasien
mempersepsikan sesuatu yang sebenarnya tidak terjadi. Suatu penerapan panca indra
tanda ada rangsangan dari luar. Suatu penghayatan yang dialami suatu persepsi
melaluipanca indra tanpa stimullus eksteren : persepsi palsu. (Prabowo, 2014)
Halusinasi merupakan salah satu gejala yang sering ditemukan pada klien dengan
gangguan jiwa, halusinasi sering diidentifisikasikan dengan skizofrenia. Dari seluruh
klien skizofrenia 70% diantaranya mengalami halusinasi. Gangguan jiwa lain yang
disertai dengan gejala halusinasi adalah gejala panik defensif dan delirium.
Halusinasi merupakan gangguan persepsi dimana pasien mempersepsikan sesuatu
yang sebenarnya tidak terjadi. Suatu pencerapan panca indera tanpa ada rangsangan dari
luar. Suatu penghayatan yang dialami seperti suatu persepsi melalui pancaindera tanpa
stimulus eksternal; persepsi palsu. Berbeda dengan ilusi dimana pasien mengalami
persepsi yang salah terhadap stimulus, salah persepsi pada halusinasi terjadi tanpa
adanya stimulus eksternal yang terjadi. Stimulus internal dipersepsikan sebagai sesuatu
yang nyata oleh pasien.

B. Etiologi
1. Faktor Predisposisi
a. Faktor Perkembangan
Pada tahap perkembangan individu mempunyai tugasperkembangan yang
berhubungan dengan pertumbuhan interpersonal, bila dalam pencapaian tugas
perkembangan tersebut mengalami gangguan akan menyebabkan seseorang
berperilku menarik diri.
b. Faktor Sosiokultural
Seseorang yang merasa tidak diterima di ingkungannya sejak bayi akan merasa
disingkirkan, kesepian, dan tidak percaya pada lingkungannya.
c. Faktor Biokimia
Mempunyai pengaruh terhadap terjadinya gangguan jiwa. Adanya stress yang
berlebih dialami seseorang maka di dalam tubuh akan dihasilkan zat yang dapat
bersifat halusinogenik neurokimia. Akibat stress berkepanjangan menyebabakan
teraktivasinya neutransmitter otak.
d. Faktor Psikologi

Program Profesi NERS Angk. XI UIN Alauddin Makassar


(Nurilmi 70900116019)
Tipe kepribadian lemah dan tidak bertanggung jawab mudah terjerumus
padapenyalahgunaan zat adiktif. Hal ini berpengaruh pada ketidakmampuan
pasien dalam mengambil keputusan yang tepat demi masa depannya. Pasien lebih
memilih kesenangan sesaat dan lari dari alam nyataa menuju alam hayal.
e. Faktor Genetik dan Pola Asuh
Penelitian menunjukkan bahwaanak sehat yang diasuh oleh orang tua skizofrenia
cenderung mengalamai skizofrenia. Hasil studi menunjukkan bahwa faktor
keluarga menunjukkan hubungan yang sangat berpengaruh padapenyakit ini.
2. Faktor Presipitasi
a. Biologis
Gangguan dalam komunikasi dan putaran balik otak, yang mengatur proses
informasi serta abnormalitas pada mekanisme pintu masuk dalam otak yang
mengakibatkan ketidakmampuan untuk secara selektif menanggapi stimulus yang
diterima oleh otak untuk diinterpretasikan.
b. Stress Lingkungan
Ambang toleransi terhadap tress yang berinteraksi terhadap stresosor lingkungan
untuk menentukan terjadinya gangguan perilaku.
c. Sumber Koping
Sumber koping mempengaruhi respon individu dalam menamggapi stress
d. Perilaku
Respons klien terhadap halusinasi dapat berupa curiga, ketakutan, perasaan tidak
aman, gelisah, dan bingung, perilaku menarik diri, kurang perhatian, tidak
mampu mengambil keputusan serta tidak dapat membedakan nyata dan tidak.
1) Dimensi fisik
Halusianasi dapat ditimbulkan oleh beberapa kondisi fisik seperti kelelahan
yang luar biasa, penggunaan obat-obatan, demam hingga delirium, intoksikasi
alkohol dan kesulitan untuk tidur dalamwaktu yang lama.

2) Dimensi emosional
Perasaan cemas yang berlebihan atas dasar problem yang tidak dapat diatasi
merupakan penyebab halusianasi itu terjadi, isi dari halusinasi dapat berupa
peritah memaksa dan menakutkan. Klien tidak sanggup lagi menentang
perintah tersebut hingga dengan kondisi tersebut klien berbuat sesuatu
terhadap ketakutan tersebut. 4
3) Dimensi intelektual
Dalam dimensi intelektual ini menerangkan bahwa individu dengan halusinasi
akan memperlihatkan adanya penurunan fungsi ego. Pada awalnya halusinasi
merupakan usha dari ego sendiri untuk melawan impuls yang menekan,
namun merupakan suatu hal yang menimbulkan kewaspadaan yang dapat

Program Profesi NERS Angk. XI UIN Alauddin Makassar


(Nurilmi 70900116019)
mengambil seluruh perhatian klien dan tak jarang akan mengotrol semua
perilaku klien.
4) Dimensi sosial
Klien mengalami gangguan interaksi sosial dalam fase awal dan comforting,
klien menganggap bahwa hidup bersosialisasi dialam nyata sangat
membahayakan. Klien asyik dengan dengan halusinasinya, seolah-olah ia
merupakan tempat untuk memenuhi kebutuhan akan interaksi sosial, kontrol
diri dan harga diri yang tidak didapatkan dalam dunia nyata. Isi halusinasi
dijadikan kontrol oleh individu tersebut, sehingga jika perintah
halusinasiberupa ancaman, dirinya atau orang lain individu cenderung
keperawatan klien dengan mengupayakan suatu proses interkasi yang
menimbulkan pengalaman interpersonal yang memuaskan, serta
mengusahakan klien tidak menyendiri sehingga klien selalu berinteraksi
dengan lingkungannya dan halusinasi tidak berlangsung.
5) Dimensi spiritual
Secara spiritualklien halusinasi mulai dengan kehampaan hidup, rutinitas,
tidak bermakna, hilangnya aktivitas ibadah dan jarang berupaya secara
spiritual untuk menyucikan diri, irama sirkardiannya terganggu (Prabowo,
2014).

C. Jenis-jenis Halusinasi
Haluinasi terdiri dari beberapa jenis, dengan karakteristik tertentu, diantaranya:
1. Halusinasi Pendengaran ( akustik, audiotorik)
Gangguan stimulus dimana pasien mendengar suara-suara terutama suara-suara
orang, biasanya pasien mendengar suara orang yang sedang membicarakan apa yang
sedang dipikirkannya dan memerintahkan untuk melakukan sesuatu.
2. Halusinasi Pengihatan (visual)
Stimulus visual dalam bentuk beragam seperti bentuk pencaran cahaya, gambaraan
geometrik, gambar kartun dan/ atau panorama yang luas dan komplesk. Bayangan
bias bisa menyenangkan atau menakutkan.
3. Halusinasi Penghidu (Olfaktori)
Gangguan stimulus pada penghidu, yamg ditandai dengan adanya bau busuk, amis,
dan bau yang menjijikan seperti : darah, urine atau feses. Kadang-kadang terhidu bau
harum. Biasnya berhubungan dengan stroke, tumor, kejang dan dementia.
4. Halusinasi Peraba (Taktil, Kinaestatik)
Gangguan stimulus yang ditandai dengan adanya sara sakit atau tidak enak tanpa
stimulus yang terlihat. Contoh merasakan sensasi listrik datang dari tanah, benda
mati atau orang lain.
5. Halusinasi Pengecap (Gustatorik)

Program Profesi NERS Angk. XI UIN Alauddin Makassar


(Nurilmi 70900116019)
Gangguan stimulus yang ditandai dengan merasakan sesuatu yang busuk, amis, dan
menjijikkan.
6. Halusinasi sinestetik
Gangguan stimulus yang ditandai dengan merasakan fungsi tubuh seperti darah
mengalir melalui vena atau arteri, makanan dicerna atau pembentukan urine.
7. Halusinasii viseral
Timbulnya perasaan tertentu di dalam tubuhnya.
a. Depersonalisasi adalah perasaan aneh pada dirinya bahwa pribadinya sudah tidak
seperti biasanya lagi serta tidak sesuai dengan kenyataan yang ada. Sering pada
skizofrenia dan sindrom obus parietalis. Misalnya sering merasa diringa terpecah
dua.
b. Derelisasi adalah suatu perasaan aneh tentang lingkungan yang tidak sesuai
dengan kenyataan. Misalnya perasaan segala suatu yang dialaminya seperti dalam
mimpi. (Yosep Iyus, 2007).

D. Rentang Respon Halusinasi


Halusinasi merupakan salah satu respon maldaptive individual yang berbeda
rentang respon neurobiologi (Stuart and Laraia, 2005). Ini merupakan persepsi
maladaptive. Jika klien yang sehat persepsinya akurat, mampu mengidentifisikan dan
menginterpretasikan stimulus berdasarkan informasi yang diterima melalui panca indera
(pendengaran, pengelihatan, penciuman, pengecapan dan perabaan) klien halusinasi
mempersepsikan suatu stimulus panca indera walaupun stimulus tersebut tidak ada.
Diantara kedua respon tersebut adalah respon individu yang karena suatu hal mengalami
kelainan persensif yaitu salah mempersepsikan stimulus yang diterimanya, yang tersebut
sebagai ilusi. Klien mengalami jika interpresentasi yang dilakukan terhadap stimulus
panca indera tidak sesuai stimulus yang diterimanya, rentang respon tersebut sebagai
berikut:
Diantara kedua respon tersebut adalah respon individu yang karena sesuatu hal
mengalami kelainan persepsi yaitu salah mempersepsikan stimulus yang diterimanya
yang disebut sebagai ilusi. Pasien mengalami ilusi jika interpretasi yang dilakukannya
terhadap stimulus panca indera tidak akurat sesuai stimulus yang diterima. Rentang
respon halusinasi dapat dilihat pada gambar dibawah ini.

Adaptif Maladaptif
Pikiran logis Kadang pikiran terganggu Gangguan proses pikir/
Persepsi akurat Ilusi Halusinasi
Emosi konsisten Emosi berlebihan atau kurang Tidak mampu mengalami
Dengan pengalaman Emosi

Program Profesi NERS Angk. XI UIN Alauddin Makassar


(Nurilmi 70900116019)
Perilaku sesuai Perilaku yang tidak biasa Perilaku tidak terorganisir
Hubungan Positif Menarik Diri Isolasi sosial

Rentang Respon
1. Respon adaptif
Respon adaptif adalah respon yang dapat diterima norma-norma social budaya yang
berlaku. Dengan kata lain individu tersebut dalam batas normal jika menghadapi
suatu masalah akan dapat memecahkan masalah tersebut. Respon adaptif :
a. Pikiran logis adalah pandangan yang mengarah pada kenyataan
b. Persepsi akurat adalah pandangan yang tepat pada kenyataan
c. Emosi konsisten dengan pengalaman yaitu perasaan yang timbul dari pengalaman
ahli
d. Perilaku social adalah sikap dan tingkah laku yang masih dalam batas kewajaran
e. Hubungan social adalah proses suatu interaksi dengan orang lain dan lingkungan
2. Respon psikosossial
Meliputi :
a. Proses piker terganggu adalah proses pikir yang menimbulkan gangguan
b. Ilusi adalah miss interprestasi atau penilaian yang salah tentang penerapan yang
benar-benar terjadi (objek nyata) karena rangsangan panca indra
c. Emosi berlebih atau berkurang
d. Perilaku tidak biasa adalah sikap dan tingkah laku yang melebihi batas kewajaran
e. Menarik diri adalah percobaan untuk menghindari interaksi dengan orang lain.
f. Respon maladapttif
3. Respon maladaptive adalah respon individu dalam menyelesaikan masalah yang
menyimpang dari norma-norma social budaya dan lingkungan, ada pun respon
maladaptive antara lain :
a. Kelainan pikiran adalah keyakinan yang secara kokoh dipertahankan walaupun
tidak diyakin ioleh orang lain dan bertentangan dengan kenyataan social.
b. Halusinasi merupakan persepsi sensori yang salah atau persepsi eksternal yang
tidak realita atau tidak ada.
c. Kerusakan proses emosi adalah perubahan sesuatu yang timbul dari hati.
d. Perilaku tidak terorganisi rmerupakan sesuatu yang tidak teratur
e. Isolasi sosisal adalah kondisi kesendirian yang dialami oleh individu dan diterima
sebagai ketentuan oleh orang lain dan sebagai suatu kecelakaan yang negative
mengancam.

E. Proses Terjadinya Masalah


Tahapan terjadinya halusinasi terdiri dari 4 fase dan setiap fase memiliki
karakteristik yang berdeda yaitu:
1. Fase I
Pasien mengalami perasaan mendalam seperti ansietas, kesepian, rasa bersalah dan
takut serta mencoba berfokus pada pikiran yang menyenangkan untuk meredakan

Program Profesi NERS Angk. XI UIN Alauddin Makassar


(Nurilmi 70900116019)
ansietas. Di sini pasien tersenyum atau tertawa yang tidak sesuai, menggerakkan lidah
tanpa suara, pergerakan mata yang cepat, diam dan asyik sendiri
2. Fase II
Pengalaman sensori menjijikan dan menakutkan. Pasien mulai lepas kendali dan
mencoba untuk mengambil jarak dirinya dengan sumberdipersepsikan. Disini terjadi
peningkatan tanda-tanda sistem saraf otonom akibat ansietas seperti peningkatan
tanda-tanda vital ( denyut jantung, pernapasan, dan tekanan darah), asyik dengna
pengalaman sensori dan kehilangan kemampuan untuk membedakan halusinasi
dengan realita.
3. Fase III
Pasien berhenti menghentikan perlawanan terhadap halusinasi dan menyerah pada
halusinasi tersebut. Di sini pasien sukar berhubungan dengan orang ain, berkeringat,
tremor, tidak mampu mematuhi perintah dari orang ain dan berada dalam kondisi
yang sangat menegangkan terutamajika akan berhubungan dengan orang lain.
4. Fase IV
Pengalaman sensori menjadi mengancam jika pasien mengikuti perintah halusinasi.
Di sni terjadi perikalu kekerasan, agitasi, menarik diri, tidak mampu berespon
terhadap perintah yang komplek dan tidak mampu berespon lebih dari 1 orang.
Kondisi pasien sangan membahayakan (Prabowo, 2014).

F. Tahap Intensitas Halusinasi


Tingkat intensitas halusinasi
1. Tahap I : Menyenangkan Ansietas tingkat sedang.
a. Tingkat : Secara umum halusinasi bersifat menyenangkan
b. Karakteristik
Orang yang berhalusinasi mengalami keadaan emosi seperti ansietas, kesepian,
merasa bersalah, dan takut serta mencoba untuk memusatkan pada penenangan
pikiran untuk mengurangi ansietas, individu mengetahui bahwa pikiran dan
sensori yang dialami tersebut dapat dikendalikan jika ansietasnya bisa diatasi
(Non Psikotik).
c. Perilaku klien
1) Menyeringai atau tertawa yang tidak sesuai.
2) Menggerakkan bibirnya tanpa menimbulkan suara.
3) Gerakan mata yang cepat.
4) Respon verbal yang lamban.
5) Diam dan dipenuhi oleh sesuatu yang mengasyikkan.
2. Tahap II : Menyalahkan Ansietas tingkat berat.
a. Tingkat : Secara umum halusinasi menjijikkan.
b. Karakteristik
Pengalaman sensori bersifat menjijikkan dan menakutkan, orang yang
berhalusinasi mulai merasa kehilangan kendali dan mungkin berusaha untuk

Program Profesi NERS Angk. XI UIN Alauddin Makassar


(Nurilmi 70900116019)
menjauhkan dirinya dari sumber yang dipersepsikan, individu mungkin merasa
malu karena pengalaman sensorinya, dan menarik diri dari orang lain ( Non
Psikotik ).
c. Perilaku klien
1) Peningkatan sistem saraf otonom yang menunjukkan ansietas, missal
peningkatan tanda tanda vital.
2) Penyempitan kemampuan konsentrasi.
3) Dipenuhi dengan pengalaman sensori dan mungkin kehilangan kemampuan
untuk membedakan antara halusinasi dengan realita.
3. Tahap III : Mengendalikan Ansietas tingkat berat
a. Tingkat : Pengalaman sensori menjadi penguasa
b. Karakteristik
Orang yang berhalusinasi menyerah untuk melawan pengalaman halusinasi dan
membiarkan halusinasi menguasai dirinya, isi halusinasi dapat berupa
permohonan, individu mungkin mengalami kesepian jika pengalaman sensori
tersebut berakhir (Psikotik).
c. Perilaku klien
1) Lebih cenderung mengikuti petunjuk yang diberikan oleh halusinasinya dari
pada menolaknya.
2) Kesulitan dalam berhubungan dengan orang lain.
3) Rentang perhatian hanya beberapa menit.
4) Gejala fisik ansietas berat (berkeringat, tremor, ketidakmampuan untuk
mengikuti petunjuk).
4. Tahap IV : Menaklukkan Ansietas tingkat panic
a. Tingkat : Secara umum halusinasi menjadi lebih rumit dan saling terkait dengan
delusi.
b. Karakteristik
Pengalaman sensori mungkin menakutkan jika individu tidak mengikuti perintah,
halusinasi bisa berlangsung dalam beberapa jam atau beberapa hari bila tidak ada
intervensi terapeutik (Psikotik).
c. Perilaku klien
1) Perilaku menyerang seperti panik.
2) Potensial melakukan bunuh diri
3) Amuk, agitasi, menarik diri, dan katakonik.
4) Tidak mampu berespon terhadap lingkungan

G. Tanda dan Gejala


Perilaku paisen yang berkaitan dengan halusinasi adalah sebagai berikut:
1. Bicara, senyum, dan ketawa sendiri
2. Menggerakkan bibir tanpa suara, pergerakan mata cepat, dan respon verba lambat
3. Menarik diri dari orang lain,dan berusaha untuk menghindari diri dari orang ain
4. Tidak dapat membedakan antara keadaan nyata dan keadaan yang tidak nyata
5. Terjadi peningkatan denyut ajntung, pernapasan dan tekanan darah

Program Profesi NERS Angk. XI UIN Alauddin Makassar


(Nurilmi 70900116019)
6. Perhatian dengan lingkunganyang kurang atau hanya beberapa detik dan
berkonsentrasi dengan pengalaman sensorinya.
7. Curiga, bermusuhan,merusak (diri sendiri, orang lain dan lingkungannya) dan takut
8. Sulit berhubungan dengan orang lain
9. Ekspresi muka tegang, mudah tersinggung,jengkel dan marah
10. Tidak mampu mengikuti perintah
11. Tampak tremor dan berkeringat, perilaku panik, agitasi dan kataton. (Prabowo, 2014)

H. Akibat
Akibat dari hausinasi adalah resiko mencederai diri, orang lain dan ingkungan. Ini
diakibatkan karena pasien berada di bawah halusinasinya yang meminta dia untuk
melakuka sesuatu hal diluar kesadarannya (Prabowo, 2014)

I. Mekanisme Koping
1. Regresi : menjadi malas beraktivitas sehari-hari
2. Proyeksi : menjeslaskan perubahan suatu persepsi dengan berusaha untuk
mengaliskan tanggung jawab kepada orang lain
3. Menarik diri : sulit mempercayai orang lain dan asyik dengan stimuus internal.
(Prabowo, 2014)

J. Penatalaksanaan
Pengobatan harus secepat mungkin harus diberikan, disini peran keluarga sangat
penting karena setelah mendapatkan perawatan di RSJ pasien dinyatakan boleh pulang
sehingga keluarga mempunyai peranan yang sangat penting didalam hal merawat pasien,
menciptakan lingkungan keluarga yang kondusif dan sebagai pengawas minum obat
1. Farmakoterapi
Neuroleptika dengan dosis efektif bermanfaat pada penderita skizofrenia yang
menahun,hasilnyalebih banyak jika mulai diberi dalam dua tahun penyakit.
Neuroleptika dengan dosis efek tinggi bermanfaat pada penderita psikomotorik yang
meningkat.

Program Profesi NERS Angk. XI UIN Alauddin Makassar


(Nurilmi 70900116019)
2. Terapi kejang listrik
Terapi kejang listrik adalah pengobatan untuk menimbulkan kejang grand mall secara
artificial dengan melewatkan aliran listrik melalui electrode yang dipasang pada satu
atau dua temples, terapi kejang listrik dapat diberikan pada skizofrenia yang tidak
mempan dengan terapi neuroleptika oral atau injeksi, dosis terapi kejang listrik 4-5
joule/detik.
3. Psikoterapi dan rehabilitasi
Psikoterapi suportif individual atau kelompok sangat membantu karena berhubungan
dengan praktis dengan maksud mempersiapkan pasien kembali kemasyarakat, selain
itu terapi kerja sangat baik untuk mendorong pasien bergaul dengan orang lain,
perawat dan dokter. Maksudnya supaya pasien tidak mengasingkan diri karena dapat
membentuk kebiasaan yang kurang baik, dianjurkan untuk mengadakan permainan
atau latihan bersama, seperti therapy modalitas.

Program Profesi NERS Angk. XI UIN Alauddin Makassar


(Nurilmi 70900116019)
KONSEP DASAR KEPERAWATAN
A. Pohon Masalah
Resiko Perilaku Kekerasan

Gangguan sensori perseptual : Halusinasi


dengar
Interaksi sosial menarik diri

Harga diri rendah

B. Masalah Keperawatan Yang Perlu Dikaji

Program Profesi NERS Angk. XI UIN Alauddin Makassar


(Nurilmi 70900116019)
Masalah keperawatan Data yang perlu dikaji
A. Perubahan Persepsi Subjektif:
Sensori: Halusinasi 1. Klien mengatakan mendengar
(pendengaran, sesuatu.
2. Klien mengatakan melihat
Penglihatan, Perabaan,
bayangan putih.
penciuman, pengecapan )
3. Klien mengatakan dirinya seperti
disengat listrik.
4. Klien mencium bau-bauan yang
tidak sedap, seperti feses.
5. Klien mengatakan kepalanya
melayang di udara.
6. Klien mengatakan dirinya
merasakan ada sesuatu yang
berbeda pada dirinya.

Objektif:
1. Klien terlihat bicara atau tertawa
sendiri saat dikaji.
2. Bersikap seperti mendengarkan
sesuatu.
3. Berhenti bicara di tengah- tengah
kalimat untuk mendengarkan
sesuatu.
4. Disorientasi.
5. Kosentrasi rendah.
6. Pikiran cepat berubah-ubah.
7. Kekacauan alur pikiran.

Data dikaji dengan menanyakan suara


siapa yang didengar,berkata apabila
halusinasi yang dialami adalah halusinas
dengar, atau apa bentuk bayangan yang
dilihat oleh klien bila jenis halusinasi
adalah halusinasi penglihatan, bau apa
B. Isi Halusinaasi
yang tercium untuk halusinasi penghidu,
rasa apa yang dikecap untuk halusinasi

Program Profesi NERS Angk. XI UIN Alauddin Makassar


(Nurilmi 70900116019)
pengecapan, atau merasakan apa di
permukaan tubuh bila halusinasi
perabaan.

Data yang dikaji dengan menanyakan


kepada klien kapan pengalaman
halusinasi muncul, berapa kali sehari,
seminggu atau bulan, pengalaman
C. Waktu dan Frekuensi halusinasi itu muncul, bila mungkin
Halusinasi klien diminta menjelaskan kapan
persisnya waktu terjadi halusinasi
tersebut. Informasi ini penting untuk
mengidentifasi pencetus halusinasi dan
menentukan bilamana klien perlu
diperhatikan saat mengalami halusinasi.
Perlu diidentifikasi situasi yang dialami
klien sebelum mengalami halusinasi.
Data dapat dikaji dengan menanyakan
kepada klien peristiwa atau kejadian
D. Situasi Pencetus yang dialami sebelum halusinasi
Halusinasi muncul. Selain itu, juga bisa
mengobservasi apa yang dialamai klien
menjelang muncul halusinasi untuk
memvalidasi klien.

Untuk menentukan sejauh mana


halusinasi telah mempengaruhi klien
bisa dikaji dengan menanyakan apa
yang dilakukan oleh klien saat
E. Respon Klien mengalami pengalaman halusinasi.
Apakah klien masih bisa mengontrol
stimulus halusinasi atau sudah tidak
berdaya lagi terhadap halusinasi.

Program Profesi NERS Angk. XI UIN Alauddin Makassar


(Nurilmi 70900116019)
C. Diagnosa Keperawatan
1. Gangguan persepsi sensorik: halusinasi pendengaran
2. Isolasi sosial : menarik diri
3. Resiko perilaku kekerasan

D. Intervensi Keperawatan
1. Gangguan persepsi sensorik: halusinasi pendengaran

Pasien Keluarga
No.
SPIP SPIk
1. Mengidentifikasi jenis halusinasi Mendiskusikan masalah yang
pasien dirasakan keluarga dalam merawat
pasien
2. Mengidentifikasi isi halusinasi
pasien Menjelaskan pengertian halusinasi,
tanda dan gejala halusinasi, jenis
halusinasi serta proses terjadinya
halusinasi
3. Mengidentifikasi waktu halusinasi Menjelaskan cara merawat pasien
pasien halusinasi
4. Mengidentifikasi frekuensi
halusinasi pasien
5. Mengidentifikasi situasi yang
menimbulkan halusinasi pasien
6. Mengidentifikasi respon pasien
terhadap halusinasi
7. Mengajarkan pasien menghardik
halusinasi
8. Menganjurkan pasien memasukkan
cara menghardik halusinasi dalam
kegiatan harian
SPIIP SPIIk
1. Mengevaluasi jadwal kegiatan Melatih keluarga mempraktekkan cara
harian pasien merawat pasien dengan halusinasi
2. Melatih pasien mengendalikan Melatih keluarga melakukan cara
halusinasi dengan cara bercakap- merawat langsung kepada pasien
cakap dengan orang lain halusinasi

Program Profesi NERS Angk. XI UIN Alauddin Makassar


(Nurilmi 70900116019)
3. Menganjurkan pasien memasukkan
ke dalam jadwal kegiatan harian
SPIIIP SPIIIk
1. Mengevaluasi jadwal kegiatan Membantu keluarga membuat jadwal
harian pasien aktivitas di rumah termasuk minum
obat (discharge planning)

2. Melatih pasien mengendalikan Menjelaskan follow up pasien setelah


halusinasi dengan cara mlakukan pulang
kegiatan (kegiatan yang biasa
dilakukan di rumah)
3. Menganjurkan pasien memasukkan
ke dalam jadwal kegiatan harian
SPIVP
1. Mengevaluasi jadwal kegiatan
harian pasien
2. Memberikan pendidikan kesehatan
tentang penggunaan obat secara
teratur
3. Menganjurkan pasien memasukkan
ke dalam jadwal kegiatan harian

2. isolasi sosial : menarik diri

Pasien Keluarga
No.
SPIP SPIk
1. Mengidentifikasi penyebab isolasi Mendiskusikan masalah yang dirasakan
sosial pasien keluarga dalam merawat pasien
2. Berdiskusi dengan pasien tentang Menjelaskan pengertian, tanda dan gejala
keuntungan berinteraksi dengan orang isolasi sosial yang dialami pasien beserta
lain proses terjadinya.
3. Berdiskusi dengan pasien tentang Menjelaskan cara-cara merawat pasien
kerugian berinteraksi dengan orang lain isolasi sosial
4. Mengajarkan pasien cara berkenalan
dengan satu orang
5. Menganjurkan pasien memasukkan
kegiatan latihan berbincang-bincang
dengan orang lain dalam kegiatan
harian
SPIIP SPIIk
1. Mengevaluasi jadwal kegiatan harian Melatih keluarga mempraktekkan cara
pasien merawat pasien dengan isolasi sosial
2. Memberikan kesempatan kepada pasien Melatih keluarga mempraktekkan cara
mempraktekkan cara berkenalan dengan merawat langsung kepada pasien isolasi
satu orang sosial
3. Membantu pasien memasukkan
kegiatan latihan berbincang-bincang
dengan orang lain sebagai salah satu
kegiatan harian

Program Profesi NERS Angk. XI UIN Alauddin Makassar


(Nurilmi 70900116019)
SPIIIP SPIIIk
1. Mengevaluasi jadwal kegiatan harian Membantu keluarga membuat jadwal
pasien aktivitas di rumah termasuk minum obat
(discharge planning)
2. Memberikan kesempatan kepada pasien Menjelaskan follow up pasien setelah
mempraktekkan cara berkenalan dengan pulang
dua orang atau lebih
3. Menganjurkan pasien memasukkan
dalam jadwal kegiatan harian
3. resiko perilaku kekerasan

Pasien Keluarga
no.
SPIP SPIk
1. Mengidentifikasi penyebab PK Mendiskusikan masalah yang
dirasakan keluarga dalam merawat
pasien
2. Mengidentifikasi tanda dan gejala PK Menjelaskan pengertian PK, tanda
dan gejala, serta proses terjadinya
PK
3. Mengidentifikasi PK yang dilakukan Menjelaskan cara merawat pasien
PK
4. Mengidentifikasi akibat PK
5. Menyebutkan cara mengontrol PK
6. Membantu pasien mempraktekkan
latihan cara mengontrol PK secara fisik
1
7. Menganjurkan pasien memasukkan
dalam kegiatan harian
SPIIP SPIIk
1. Mengevaluasi jadwal kegiatan harianMelatih keluarga mempraktekkan
pasien cara merawat pasien dengan PK
2. Melatih pasien mengontrol PK denganMelatih keluarga melakukan cara
cara fisik 2 merawat langsung kepada pasien PK
3. Menganjurkan pasien memasukkan ke
dalam jadwal kegiatan harian
SPIIIP SPIIIk
1. Mengevaluasi jadwal kegiatan harianMembantu keluarga membuat jadwal
pasien aktivitas di rumah termasuk minum
obat (discharge planning)
2. Melatih pasien mengontrol PK denganMenjelaskan follow up pasien
cara verbal setelah pulang
3. Menganjurkan pasien memasukkan ke
dalam jadwal kegiatan harian
SPIVP
1. Mengevaluasi jadwal kegiatan harian
pasien
2. Melatih pasien mengontrol PK dengan

Program Profesi NERS Angk. XI UIN Alauddin Makassar


(Nurilmi 70900116019)
cara spiritual
3. Menganjurkan pasien memasukkan ke
dalam jadwal kegiatan harian
SPVP
1. Mengevaluasi jadwal kegiatan harian
pasien
2. Melatih pasien mengontrol PK dengan
minum obat

3. Menganjurkan pasien memasukkan ke


dalam jadwal kegiatan harian

DAFTAR PUSTAKA

Eko Prabowo. (2014). Konsep & Aplikasi Asuhan Keperawatan Jiwa. Yogyakarta: Nuha
Medika.
Iyus, Y. (2007). Keperawatan Jiwa. Bandung: PT refika Aditama.
Mukhripah Damayanti, Iskandar . (2012). Asuhan Keperawatan Jiwa. Bandung: Refika
Aditama.

Program Profesi NERS Angk. XI UIN Alauddin Makassar


(Nurilmi 70900116019)