Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PRAKTIKUM

KIMIA FISIKA II

PERCOBAAN 3
ANGKA ANGKUT

Yang dibina oleh:


1. Dr. Sumari, M.Si
2. Dr. Yahmin, S.Pd., M.Si

Oleh:
Kelompok 8
1. Ita Desi Susilowati (140332600825)**
2. Jonava Oktavia (140332605633)
3. Mahrullina M. A. (140332601736)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN KIMIA
PROGRAM STUDI S1-KIMIA
Agustus 2016
A. JUDUL PERCOBAAN
Angka Angkut.
B. TUJUAN PERCOBAAN
Menentukan angka angkut kation dan anion dengan cara hittorf.

C. DASAR TEORI
Angka angkut adalah bagian arus yang diangkut oleh kation yang
bergerak ke katode dan oleh anion yang bergerak ke anode. Penghantaran
arus listrik dalam larutan elektrolit dilakukan oleh ion-ion, baik ion positif
maupun ion negatif. Bagian arus total yang dibawa oleh kation disebut
bilangan angkut kation (t+), sedangkan yang dibawa oleh anion disebut
bilangan angkut anion (t-). Antara keduanya berlaku hubungan :
t+ + t- = 1
Bagian arus yang dibawa oleh kation dan anion bergantung pada
kecepatan gerak ion itu dalam larutan. Pada suhu tertentu hubungan antara
bilangan angkut dan kecepatan gerak ion telah dirumuskan oleh Hittorf
sebagai berikut.
V+
t+ =
V+ + V
V
t =
V+ + V
Bilangan tanspor dari setiap ion didefinisikan sebagai bagian dari arus total
yang dibawa oleh ion utama. Bilangan ini disebut juga Bilangan Penghantaran.
Bilangan penghantaran dihitung dengan
a) Metode Hittorf
b) Metode pembatasan yang bergerak. Dalam metode pembatas yang
1000
bergerak, bilangan transport dihitung oleh =

Dimana Ci adalah konsentasi ion I dalam equivalen dm-3, I adalah arus listrik
dalam amper, V adalah volume melalui mana pembatas yang bergerak lewat,
dinyatakan dalam m3 dan t adalah waktu dalam detik.
Pada sel elektrolisis zat-zat dapat terurai sehingga terjadi perubahan
massa. Peruraian tersebut disebabkan oleh energi listrik yang diangkut oleh
ion-ion yang bergerak di dalam larutan elektrolit, atau karena adanya daya
gerak listrik di dalam sel tersebut. Daya gerak listrik ini merupakan
perbedaan potensial standar elektrode negatif (katode) dan potensial standar
elektrode positif (anode). Perbedaan potensial standar ini biasanya disebabkan
perbedaan bahan yang dipakai antara anode dan katode, namun dapat juga
bahan yang dipakai sama, tetapi konsentrasi larutan elektrofitnya berbeda.
Jenis yang terakhir ini disebut sel konsentrasi.
D. ALAT DAN BAHAN
Alat :
Sumber arus DC
Stop watch
Buret
Corong
Pipet takar 5 mL
Erlenmeyer 100 mL
Wadah elektrolisis
Bahan :
Elektroda Cu
Larutan CuSO4 0,1 M
Larutan Na2S2O3 0,1 M
Larutan KI 0.1 M (baru)
Indikator amilum (baru)

E. PROSEDUR PERCOBAAN
1. Bersihkan sepasang elektroda Cu dengan kertas gosok, cuci dengan air
kemudian dengan alkohol. Timbang elektroda yang akan dipakai sebagai
anoda dengan ketelitian 0,001 gram.
2. Isikan larutan CuSO4 0,1 M (tentukan konsentrasi sesungguhnya dengan
cara titrasi) ke dalam wadah untuk elektrolisis.
3. Rangkai peralatan seperti gambar.
4. Tentukan volume larutan dalam ruang anoda, dengan mengukur tinggi,
panjang dan lebar larutan dalam ruang anoda.
5. Alirkan listrik selama 30 menit, catat kuat arus tiap 1 menit. Kuat arus
dalam perhitungan adalah harga rata-rata kuat arus ini.
6. Ambilah 5 mL larutan disekitar anoda dengan pipet takar sebanyak tiga kali
dan tempatkan masing-masing dalam erlenmeyer.
7. Tambahkan ke dalam masing-masing erlenmeyer, 15 mL larutan KI 0,1 M
8. Titrasilah dengan larutan Na2S2O3 0,1 M sampai warna coklat hampir
hilang.
9. Tambahkan indikator amilum, dan titrasi lagi sampai warna biru hilang.
10. Tentukan juga konsentrasi larutan CuSO4 yang belum dielektrolisis
dengan cara titrasi seperti diatas.
11. Bersihkan anode dengan air (jangan digosok) kemudian dengan alkohol.
Timbanglah anode tersebut bila sudah kering benar.

F. DATA PENGAMATAN
1. Berat anoda awal 12,9516 gram
2. Berat anode akhir 12,9447 gram
3. Volume CuSO4 sebelum elektrolisis 5,00 mL
4. Volume Na2S2O3 0,1 M 4,80 mL
5. Volume CuSO4 setelah elektrolisis 5,00 mL
6. Volume Na2S2O3 0,1 M 5,067 mL
7. Tinggi larutan ruang anode 2,10 cm
8. Panjang larutan ruang anode 4,70 Cm
9. Lebar larutan ruang anode 2,80 Cm
10. Kuat arus rata-rata 12,83 A
11. Lama elektrolisis 1800 detik

G. ANALISIS DATA
Pada percobaan ini bertujuan untuk menentukan angka angkut kation dan
anion dengan cara Hittorf. Dalam menentukan angka angkut kation dan anion
dengan cara Hittorf adalah dengan prinsip elektrolisis. Larutan yang
dielektrolisis adalah larutan CuSO4 yang berwarna biru. Larutan ini ditentukan
konsentrasinya dengan cara titrasi iodometri yaitu dengan larutan Na2S2O3.
Larutan CuSO4 yang akan dititrasi yaitu sebelum elektrolisis dan sesudah
elektrolisis. Sebelumnya larutan CuSO4 yang berwarna biru ditambahkan
dengan larutan KI 0,1 N tidak berwarna sehingga diperoleh warna larutan
menjadi coklat kemudian dititrasi warnanya berubah menjadi putih, setelah itu
ditambahkan indikator amilum larutan menjadi berwarna biru pekat dan
dilanjutkan titrasi hingga berwarna putih. Begitu pula keadaan larutan saat
dititrasi setelah elektrolisis yaitu sama seperti larutan sebelum dielektrolisis.
Berdasarkan data hasil percobaan titrasi CuSO4 sebelum elektrolisis dan
sesudah elektrolisis akan diperoleh konsentrasi CuSO4 sebelum elektrolisis dan
konsentrasi CuSO4 setelah elektrolisis. Berikut adalah perhitungannya.
Perhitungan konsentrasi CuSO4 sebelum elektrolisis :
5 mL CuSO4 + 15 mL KI
Persamaan Reaksi :
2CuSO4(aq)+ 2KI(aq) 2Cu2+(aq) + I2(g) + 2K+(aq) + SO42-(aq)
Reduksi : 2e + Cu2+ Cu
Oksidasi : 2I- I2 + 2e
I2 (aq)+ 2Na2S2O3(aq) 2I-(aq)+ S4O62-(aq) + 4Na+ (aq)
Reduksi : 2e + I2 2I-
Oksidasi : 2S2O32- S4O62- + 2e
Volume Na2S2O3 yang dibutuhkan untuk menitrasi CuSO4 setelah elektrolisis
V Na2S2O3 = 4,80 mL
V CuSO4 = 5,00 mL
V KI = 15,00 mL
M KI = 0,1 M
n KI = 1,5 mmol
1 ekv 1 mmol
N KI = 1,5 mmol = 0,1 N
1mmol 15 mL
N I2 = 2 ekv x 0,1 N = 0.2 N
ekv I2 = ekv Na2S2O3
ekv I2 = 0,2 N x 4,80 mL
= 0,96 m ekv
ekv CuSO4 = ekv Na2S2O3
5 mL x N = 0,96 mekv
0,96
N=
5
= 0,192 N
0,192 1
M CuSO4 = x
1 2
= 0,096 M
Perhitungan konsentrasi CuSO4 setelah elektrolisis :
5 mL CuSO4 + 15 mL KI
Persamaan Reaksi :
2CuSO4(aq)+ 2KI(aq) 2Cu2+(aq) + I2(g) + 2K+(aq) + SO42-(aq)
Reduksi : 2e + Cu2+ Cu
Oksidasi : 2I- I2 + 2e
I2 (aq)+ 2Na2S2O3(aq) 2I-(aq)+ S4O62-(aq) + 4Na+ (aq)
Reduksi : 2e + I2 2I-
Oksidasi : 2S2O32- S4O62- + 2e
Volume Na2S2O3 yang dibutuhkan untuk menitrasi CuSO4 setelah elektrolisis
adalah sebagai berikut.
V1 = 5,20 mL
V2 = 5,00 mL
V3 = 5,00 mL
5,20 + 5,00 +5,00
sehingga, diperoleh Vrata-rata = = Vrata-rata = 5,067 mL
3
V CuSO4 = 5,00 mL
V KI = 15,00 mL
M KI = 0,1 M
n KI = 1,5 mmol
1 ekv 1 mmol
N KI = 1,5 mmol = 0,1 N
1mmol 15 mL
N I2 = 2 ekv x 0,1 N = 0.2 N
ekv I2 = ekv Na2S2O3
ekv I2 = 0,2 N x 5,067 mL
= 1,0134 m ekv
ekv CuSO4 = ekv Na2S2O3
5 mL x N = 1,0134 m ekv
1,0134
N=
5
= 0,20268 N
0,20268 1
M CuSO4 = x
1 2
= 0,10134 M
Jadi, konsentrasi larutan CuSO4 akhir (ruang anode) adalah 0,202 N,
sedangkan konsentrasi larutan CuSO4 awal adalah 0,192 N, sehingga
selisihnya adalah sebagai berikut.
Nakhir - Nawal = 0,203 N - 0,192 N = 0,011 N
Pada percobaan ini dilakukan penentuan angka angkut cara Hittorf. Pada
cara Hittorf digunakan sel elektrolisis yang dibagi menjadi tiga bagian dengan
menggunakan penyekat berpori. Tiga bagian tersebut adalah ruang anode,
ruang katode, dan ruang penghubung. Pada proses elektrolisis jumlah
ekivalen kation yang terbentuk di anode sama dengan jumlah ekivalen atom
yang terbentuk di katode, tetapi konsentrasi kation di sekitar elektrode
tidaklah tepat sama.
Reaksi yang terjadi dalam percobaan ini adalah reaksi redoks. Pada ruang
anode sebagai kutub positif (+) terjadi reaksi oksidasi, Cu(s) Cu2+(aq) + 2e.
Oleh karena itu, larutan pada ruang anoda terjadi penambahan ion Cu2+ dan
terjadi pengurangan berat pada elektrode Cu. Besarnya penurunan berat
elektode Cu dapat diketahui dengan menghitung selisih antara berat Cu
sebelum elektrolisis dan setelah elektrolisis.
Penurunan berat elektrode di anode
= berat elektrode awal berat elektrode akhir
= 12,9516 g 12,9447 g
= 0,0069 g
Jumlah ekivalen ion Cu2+ di ruang anode (x)
0,203 ekv
= 27,636 cm3
1L
0,203 ekv
= 0,027636 dm3
1L
= 0,0056 ekivalen
Perubahan jumlah ekivalen ion Cu2+ disekitar anode dapat diperoleh dari
pengurangan konsentrasi akhir dengan konsentrasi awal dikalikan volume
ruang anode.
Perubahan jumlah ekivalen ion Cu2+ disekitar anode (y)
= (0,203 N - 0,192 N) 0,0276 dm3
= 0,000303 ekivalen
0,0056 ekv0,000303 ekv
Angka angkut kation (nc) = = 0,94
0,0056 ekv

Angka angkut anion (na) = 1 nc


= 1 0,94
= 0,06
Sementara itu, diruang katode sebagai kutub negatif (-) terjadi reaksi
reduksi, Cu2+(aq) + 2e Cu(s). Oleh karena itu, pada ruang katoda terjadi
penambahan berat pada elektrode Cu akibat penambahan Cu dari larutan.
Namun penambahan ini tidak diperhitungkan karena data yang didapatkan
kurang valid akibat ada endapan-endapan Cu yang menempel pada elektrode
jatuh ke dasar ruang katode.
Hasil yang didapat dari perhitungan data percobaan, memiliki rentang
yang sangat jauh (antara angka angkut katiaon dan angka angkut anion). Hal
ini kemungkinan disebabkan data volume Na2S2O3 yang didapat setelah
titrasi tidak signifikan dengan berat anode setelah elektrolisis. Hal ini
disebabkan dua hal :
1. Kealahan praktikan dalam mengamati warna titik akhir titrasi saat
mentitrasi larutan dalam ruang anode setelahelektrolisis, sehingga volume
yang didapat mungkin berlebih atau masih kurang.
2. Pada proses pengeringan anode, mungkin sebagian Cu hasil elektolisis
yang menemoel dikatode terkikis atau hilang saat pembilasan anode,
sehingga mempengaruhi penimbangan.

H. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil percobaan diperoleh angka angkut pada elektrolisis
CuSO4 dengan elektrode Cu dengan cara Hittorf, angka angkut kation sebesar
0,94 dan angka angkut anion sebesar 0,06.

I. DAFTAR PUSTAKA
Atkins,P.W. 1999. Kimia Fisika Edisi Keempat. Jakarta: Erlangga
Atkins, Peter dan Julio de Paula. 2010. Physical Chemistry 9th Edision.
New York: W. H. Freeman and Company
Sumari, Nazriati, dan Muhadi. 2016. Petunjuk Praktikum Kimia Fisika ll.
Malang: Universitas Negeri Malang
Yuriska sekar. 2013. Elektrolisis. (online).
(http://www.scribd.com/doc/132380029/elektolisis). Diakses pada tanggal 2
september 2016
Yeni. 2014. Laporan Praktikum Kimia Fisika ll Bilangan Angkut.
(online). (http://www.scribd.com/praktikum kimia fisika 2/laporan praktikum
kimia fisika ii bilangan angkut.html). Diakses pada tanggal 2 september 2016
I. PERTANYAAN
1. Tuliskan reaksi elektrolisis larutan CuSO4 dengan elektrode Cu.
Anode : Cu(s) Cu2+(aq) + 2e
Katode : Cu2+(aq) + 2e Cu(s)

2. Tuliskan reaksi yang terjadi pada titrasi larutan CuSO4 pada percobaan ini.
2CuSO4(aq) + 4KI(aq) 2CuI(s) + I2(aq) + 2K2SO4(aq)
I2(aq) + 2S2O32-(aq) 2I-(aq) + S4O62-(aq)
Lampiran