Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Persaingan sangat dibutuhkan dalam peningkatan kualitas hidup manusia. Dunia
yang kita kenal sekarang ini adalah hasil dari persaingan manusia dalam berbagai aspek.
Persaingan yang dilakukan secara terus-menerus untuk saling mengungguli membawa
manusia berhasil menciptakan hal-hal baru dalam kehidupan yang berangsur-angsur
menuju arah yang semakin maju dari sebelumnya. Untuk terciptanya keadilan dan
kesejahteraan bagi semua pihak, persaingan yang harus dilakukan adalah persaingan
yang sehat. Kegiatan ekonomi dan bisnis pun tidak luput dari sebuah persaingan,
mengingat kegiatan ini dilakukan banyak pihak untuk menunjang kelangsungan
hidupnya. Persaingan harus dipandang sebagai hal yang positif dan sangat esensial
dalam dunia usaha. Dengan persaingan, para pelaku usaha akan berlomba-lomba untuk
terus menerus memperbaiki produk dan melakukan inovasi atas produk yang dihasilkan
untuk memberikan yang terbaik bagi pelanggan. Dari sisi konsumen, mereka akan
mempunyai pilihan dalam membeli produk dengan harga murah dan kualitas
terbaik.Oleh karena itu, hukum yang mengatur persaingan usaha dalam kegiatan
ekonomi dan bisnis sangat diperlukan semua pihak supaya tidak ada pihak-pihak yang
merasa dirugikan.
Dinegara lain keberadaan Undang-undang Anti Monopoli sudah sangat tua. Di
Amerika Serikat, keberadaan Undang-undang tersebut sudah berumur lebih dari 100
tahun yang dikenal dengan nama Shermant Act. Di Kanada pada tahun 1889 undang-
undang semacam itu sudah dikenal, sedangkan di Jepang umurnya sekitar 40 tahun dan
di Jerman umurnya sekitar 60 tahun dan terdapat lembaga pengawas dengan nama
Bundes Kartel Amm. Berbeda dengan Indonesia, setelah dilanda berbagai krisis mulai
dari krisi ekonomi hingga krisis multi dimensi barulah di tahun 1999 tepatnya bulan
maret Undang-undang tentang monopoli diterbitkan. Pada intinya, undang-undang
monopoli dirancang untuk mengoreksi tindakan-tindakan dari kelompok pelaku
ekonomi Yang menguasai pasar. Karena dengan posisi dominana mereka dapat
menggunakan kekuatannya untuk berbagai macam kepentingan yang menguntungkan
pelaku usaha. Sehingga dengan lahirnya undang-undang anti monopoli maka ada

1
koridor-koridor hukum yang mengatur ketika terjadi persaingan usaha tidak sehat antara
pelaku-pelaku usaha.
Dengan adanya praktik monopoli pada suatu bidang tertentu, berarti terbuka
kesempatan untuk mengeruk keuntungan yang sebesar-besarnya bagi kepentingan
pribadi.Disini monopoli diartikan sebagai kekuasaan menentukan harga, kualitas dan
kuantitas produk yang ditawarkan kepada masyarakat.Masyarakat tidak pernah diberi
kesempatan untuk menentukan pilihan, baik mengenai harga, mutu maupun jumlah.
Kalau mau silakan dan kalau tidak mau tidak ada pilihan lain. Itulah citra kurang baik
yang ditimbulkan oleh keserakahan pihak tertentu yang memonopoli suatu bidang.
Dengan demikian, praktik monopoli akan menguasai pangsa pasar secara mutlak
sehingga pihak-pihak lain tidak memiliki kesempatan lagi untuk berperan serta.Apalagi
kalau produk yang dimonopoliitu merupakan kebutuhan primer, dapat dipastikan
mereka akan mengeruk keuntungan yang sebesar-besarnya.Dalam kondisi yang
demikian, masyarakat tidak mempunyai alternatif lain kecuali membeli produk yang
dimonopoli tersebut dan akan terjadi pula inefisiensi dalam menghasilkan produk.

B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian praktik monopoli dan persaingan tidak sehat?
2. Apa saja yang termasuk pada praktik monopoli?
3. Apa pengertian posisi dominan dalam persaingan usaha?

C. Tujuan
1. Mengetahui pengertian praktik monopoli dan persaingan tidak sehat.
2. Mengetahui hal yang termasuk dalam praktik monopoli.
3. Mengetahui tentang posisi dominan dalam persaingna usaha.

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Praktek Monopoli dan Persaingan Tidak Sehat


Pengertian Praktek Monopoli dan Persaingan Tidak Sehat menurut UU no.5
Tahun 1999 tentang praktek monopoli adalah pemusatan kekuatan ekonomi oleh satu
atau lebih pelaku usaha yang mengakibatkan dikuasainya produksi dan atau pemasaran
atas barang dan atau jasa tertentu sehingga menimbulkan persaingan tidak sehat dan
dapat merugikan kepentingan umum.
Persaingan Tidak Sehat adalah persaingan antar pelaku usaha dalam menjalankan
kegiatan produksi dan atau pemasaran barang atau jasa yang dilakukan dengan cara
tidak jujur atau melawan hukum atau menghambat persaingan usaha.
Undang-Undang Anti Monopoli No. 5 Tahun 1999 memberi arti kepada
monopolis sebagai suatu penguasaan atas produksi dan atau pemasaran barang dan atau
atas penggunaan jasa tertentu oleh satu pelaku usaha atau kelompok pelaku usaha (pasal
1 ayat (1) Undang-undang Anti Monopoli). Sementara yang dimaksud dengan praktek
monopoli adalah suatu pemusatan kekuatan ekonomi oleh salah satu atau lebih pelaku
yang mengakibatkan dikuasainya produksi dan atau pemasaran atas barang dan atau jasa
tertentu sehingga menimbulkan suatu persaingan usaha secara tidak sehat dan dapat
merugikan kepentingan umum.Sesuai dalam Pasal 1 ayat (2) Undang-Undang Anti
Monopoli.
Monopoli diindikasikan sebagai sesuatu yang netral, bukan positif maupun negatif
dikarenakan ada beberapa hal yang mempengaruhi terjadinya monopoli, antara lain :
1) Monopoli terjadi sebagai akibat dari superior skill, yang salah satunya dapat
terwujud dari pemberian hak paten secara eksklusif oleh negara.
2) Monopoli terjadi karena pemberian negara. Di Indonesia terlihat dari pelaksanaan
pasal 33 ayat (2) dan (3) UUD 1945 yang dikutip kembali dalam pasal 51 UU ini.
3) Monopoli merupakan suatu historical accident dimana monopoli terjadi karena
tidak sengaja dan berlangsung karena proses alamiah yang ditentukan oleh berbagai
faktor terkait dimana monopoli tersebut terjadi. Dalam hal ini penilaian mengenai
pasar bersangkutan yang memungkinkan terjadinya monopoli sangat relevan.

3
Dalam melakukan kegiatan usaha di Indonesia, pelaku usaha harus berasaskan
demokrasi ekonomi dalam menjalankan kegiatan usahanya dengan memperhatikan
keseimbangan antara kepentingan pelaku usaha dan kepentingan umum. Tujuan yang
terkandung di dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999, adalah sebagai berikut :
1. Menjaga kepentingan umum dan meningkatkan efisiensi ekonomi nasional sebagai
salah satu upaya untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat.
2. Mewujudkan iklim usaha yang kondusif melalui pengaturan persaingan usaha yang
sehat, sehingga menjamin adanya kepastian kesempatan berusaha yang sama bagi
pelaku usaha besar, pelaku usaha menengah, dan pelaku usaha kecil.
3. Mencegah praktik monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat yang ditimbulkan
oleh pelaku usaha.
4. Terciptanya efektifitas dan efisiensi dalam kegiatan usaha.
Adapun kegiatan yang dilarang dalam Undang-undang Anti Monopoli adalah
sebagai berikut:
Bagian pertama berdasar Pasal 17
1. Pelaku usaha dilarang melakukan penguasaan atas produksi dan atau pemasaran
barang dan atau jasa yang dapat mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan
atau persaingan usaha tidak sehat.
2. Pelaku usaha patut diduga atau dianggap melakukan penguasaan atas produksi dan
atau pemasaran barang dan atau jasa sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) apabila:
a. Barang dan atau jasa yang bersangkutan belum ada substitusinya;
b. Mengakibatkan pelaku usaha lain tidak dapat masuk ke dalam persaingan usaha
barang dan atau jasa yang sama; atau
c. Satu pelaku usaha atau satu kelompok pelaku usaha menguasai lebih dari 50%
(lima puluh persen) pangsa pasar satu jenis barang atau jasa tertentu.

Bagian Kedua Monopsoni Pasal 18 adalah :


1. Pelaku usaha dilarang menguasai penerimaan pasokan atau menjadi pembeli
tunggal atas barang dan atau jasa dalam pasar bersangkutan yang dapat
mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat.

4
2. Pelaku usaha patut diduga atau dianggap menguasai penerimaan pasokan atau
menjadi pembeli tunggal sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) apabila satu pelaku
usaha atau satu kelompok pelaku usaha menguasai lebih dari 50% (lima puluh
persen) pangsa pasar satu jenis barang atau jasa tertentu.

Bagian Ketiga Penguasaan Pasar Pasal 19 adalah :


1. Pelaku usaha dilarang melakukan satu atau beberapa kegiatan, baik sendiri maupun
bersama pelaku usaha lain, yang dapat mengakibatkan terjadinya praktek monopoli
dan atau persaingan usaha tidak sehat berupa:
a. Menolak dan atau menghalangi pelaku usaha tertentu untuk melakukan kegiatan
usaha yang sama pada pasar bersangkutan;
b. Mematikan usaha pesaingnya di pasar bersangkutan sehingga dapat
mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak
sehat.
2. Pasal 21 Pelaku usaha dilarang melakukan kecurangan dalam menetapkan biaya
produksi dan biaya lainnya yang menjadi bagian dari komponen harga barang dan
atau jasa yang dapat mengakibatkan terjadinya persaingan usaha tidak sehat.

Bagian Keempat Persekongkolan Pasal 22 adalah :


1. Pelaku usaha dilarang bersekongkol dengan pihak lain untuk mengatur dan atau
menentukan pemenang tender sehingga dapat mengakibatkan terjadinya
persaingan usaha tidak sehat.
2. Pasal 23 Pelaku usaha dilarang bersekongkol dengan pihak lain untuk
mendapatkan informasi kegiatan usaha pesaingnya yang diklasifikasikan
sebagai rahasia perusahaan sehingga dapat mengakibatkan terjadinya
persaingan usaha tidak sehat.
3. Pasal 24 Pelaku usaha dilarang bersekongkol dengan pihak lain untuk
menghambat produksi dan atau pemasaran barang dan atau jasa pelaku usaha
pesaingnya dengan maksud agar barang dan atau jasa yang ditawarkan atau
dipasok di pasar bersangkutan menjadi berkurang baik dari jumlah, kualitas,
maupun ketepatan waktu yang dipersyaratkan.

5
B. Praktek Monopoli
1. Oligopoli
Oligopoli adalah keadaan pasar dengan produsen dan pembeli barang hanya
berjumlah sedikit, sehingga mereka atau seorang dari mereka dapat
mempengaruhi harga pasar.
2. Penetapan Harga
Dalam rangka penetralisasi pasar, pelaku usaha dilarang membuat perjanjian,
antara lain :
a. Perjanjian dengan pelaku usaha pesaingnya untuk menetapkan harga atas
barang dan atau jasa yang harus dibayar oleh konsumen atau pelanggan
pada pasar bersangkutan yang sama ;
b. Perjanjian yang mengakibatkan pembeli yang harus membayar dengan
harga yang berbeda dari harga yang harus dibayar oleh pembeli lain
untuk barang dan atau jasa yang sama ;
c. Perjanjian dengan pelaku usaha pesaingnya untuk menetapkan harga di
bawah harga pasar ;
d. Perjanjian dengan pelaku usaha lain yang memuat persyaratan bahwa
penerima barang dan atau jasa tidak menjual atau memasok kembali
barang dan atau jasa yang diterimanya dengan harga lebih rendah
daripada harga yang telah dijanjikan.
3. Pembagian Wilayah
Pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan pelaku usaha pesaingnya
yang bertujuan untuk membagi wilayah pemasaran atau alokasi pasar
terhadap barang dan atau jasa.
4. Pemboikotan
Pelaku usaha dilarang untuk membuat perjanjian dengan pelaku usaha
pesaingnya yang dapat menghalangi pelaku usaha lain untuk melakukan
usaha yang sama, baik untuk tujuan pasar dalam negeri maupun pasar luar
negeri.

6
5. Kartel
Pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan pelaku usaha pesaingnya
yang bermaksud untuk mempengaruhi harga dengan mengatur produksi dan
atau pemasaran suatu barang dan atau jasa.
6. Trust
Pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan pelaku usaha lain untuk
melakukan kerja sama dengan membentuk gabungan perusahaan atau
perseroan yang lebih besar, dengan tetap menjaga dan mempertahankan
kelangsungan hidup tiap-tiap perusahaan atau perseroan anggotanya, yang
bertujuan untuk mengontrol produksi dan atau pemasaran atas barang dan
atau jasa.
7. Oligopsoni
Keadaan dimana dua atau lebih pelaku usaha menguasai penerimaan pasokan
atau menjadi pembeli tunggal atas barang dan/atau jasa dalam suatu pasar
komoditas.
8. Integrasi Vertikal
Pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan pelaku usaha lain yang
bertujuan untuk menguasai produksi sejumlah produk yang termasuk dalam
rangkaian produksi barang dan atau jasa tertentu yang mana setiap rangkaian
produksi merupakan hasil pengelolaan atau proses lanjutan baik dalam satu
rangkaian langsung maupun tidak langsung.
9. Perjanjian Tertutup
Pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan pelaku usaha lain yang
memuat persyaratan bahwa pihak yang menerima barang dan atau jasa hanya
akan memasok atau tidak memasok kembali barang dan atau jasa tersebut
kepada pihak tertentu dan atau pada tempat tertentu.
10. Perjanjian dengan Pihak Luar Negeri
Pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan pihak luar negeri yang
memuat ketentuan yang dapat mengakibatkan terjadinya praktik monopoli
dan atau persaingan usaha tidak sehat.

7
C. Posisi Dominan
Dalam perspektif ekonomi, posisi dominan adalah posisi yang ditempati oleh
perusahaanyang memiliki pangsa pasar terbesar. Dengan pangsa pasar yang besar
tersebut perusahaan memiliki market power. Dengan market power tersebut,
perusahaand ominan dapat melakukan tindakan/strategi tanpa dapat dipengaruhi
olehperusahaan pesaingnya. Dalam UU No.5/1999, posisi dominan didefinisikan
sebagaisuatu keadaan dimana pelaku usaha tidak mempunyai pesaing yang berarti
atausuatu pelaku usaha mempunyai posisi lebih tinggi daripada pesaingnya padapasar
yang bersangkutan dalam kaitan pangsa pasarnya, kemampuan keuangan,akses pada
pasokan atau penjualan serta kemampuan menyesuaikan pasokan atau permintaan
barang atau jasa tertentu.
Posisi dominan dapat dikatakan salah satu kunci pokok (pusat) dari
persainganusaha. Karena hampir pada setiap kasus hukum persaingan usaha,menjadi
perhatian pertama lembaga persaingan usaha, dalam hal ini di Indonesia. Dari ketentuan
Pasal 25 ayat 1 pelaku usaha yang mempunyaiposisi dominan dapat menyalahgunakan
posisi domiannya baik secara langsungmaupun tidak langsung untuk:
1. Mencegah dan atau menghalangi konsumen memperoleh barang dan ataujasa yang
bersaing, baik dari segi harga maupun kualitas dengan menetapkansyarat-syarat
perdagangan
Syarat utama yang harus dipenuhi oleh ketentuan Pasal 25 ayat 1huruf a adalah
syarat perdagangan yang dapat mencegah konsumen memperolehbarang yang
bersaing baik dari segi harga maupun dari segi kualitas. Dapat disimpulkan bahwa
konsumen telah mempunyai hubungan bisnis dengan pelaku usaha yang mempunyai
posisi dominan.

2. Membatasi pasar dan pengembangan teknologi


Pelaku usaha yang mempunyai posisi dominan dapat membatasi pasar. Pengertian
membatasi pasar di dalam ketentuan ini tidak dibatasi. Pengertian membatasi pasar
yang dilakukan oleh pelaku usaha yang mempunyai posisi dominan sebagai penjual
atau pembeli dapat diartikan dimana pelaku usaha yang mempunyai posisi dominan
mempunyai kemungkinan besar untuk mendistorsi pasar yang mengakibatkan pelaku
usaha pesaingnya sulit untuk dapat bersaing di pasar yang bersangkutan. Bentuk-

8
bentuk membatasi pasar dapat dilakukan berupa melakukan hambatan masuk pasar
(entry barrier), mengatur pasokan barang di pasar atau membatasi peredaran dan
atau penjualan barang dan atau jasa di pasar yang bersangkutan dan melakukan jual
rugi yang akan menyingkirkan persaingnya dari pasar.Termasuk melakukan
perjanjian tertutup dan praktek diskriminasi dapat dikategorikan suatu tindakan
membatasi pasar.

3. Menghambat pelaku usaha lain yang berpotensi menjadi pesaing untukMemasuki


pasar bersangkutan
Di dalam hukum persaingan usaha dikenal apa yang disebut dengan pesaing faktual
dan pesaing potensial. Pesaing faktual adalah pelaku usaha-pelaku usaha yang
melakukan kegiatan usaha yang sama di pasar yang bersangkutan. Sedangkan
pesaing potensial adalah pelaku usaha yang mempunyai potensi yang ingin masuk ke
pasar yang bersangkutan, baik oleh pelaku usaha dalam negeri maupun pelaku usaha
dari luar negeri. Hambatan masuk pasar bagi pesaing potensial yang dilakukan oleh
perusahaan swasta dan hambatan masuk pasar oleh karena kebijakan-kebijakan
Negara atau pemerintah. Hambatan masuk pasar oleh pelaku usaha posisi dominan
swasta adalah penguasaan produk suatu barang mulai proses produki dari hulu ke
hilir hinggapendistribusian-sehingga perusahaan tersebut demikian kokoh pada
sektor tertentu mengakibatkan pelaku usaha potensial tidak mampu masu ke pasar
yang bersangkautan.
Sedangkan hambatan masuk pasar akibat kebijakan negara atau pemerintahada dua,
yaitu hambatan masuk pasar secara struktur dan strategis. Hambatan masuk pasar
secara struktur adalah dalam kaitan sistem paten dan lisensi.
Sedangkan hambatan masuk pasar secara strategis adalah kebijakan-kebijakan yang
memberikan perlindungan atau perlakuan khusus bagi pelaku usaha tertentu,
akibatnya pesaing potensial tidak dapat masuk ke dalam pasar. Jadi, di dalam hukum
persaingan usaha ukuran yang sangat penting adalah bahwa pesaing potensial bebas
keluar masuk ke pasar yang bersangkutan.

9
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Persaingan Tidak Sehat adalah persaingan antar pelaku usaha dalam menjalankan
kegiatan produksi dan atau pemasaran barang atau jasa yang dilakukan dengan cara
tidak jujur atau melawan hukum atau menghambat persaingan usaha.
Undang-Undang Anti Monopoli No 5 Tahun 1999 memberi arti kepada
monopolis sebagai suatu penguasaan atas produksi dan atau pemasaran barang dan atau
atas penggunaan jasa tertentu oleh satu pelaku usaha atau kelompok pelaku usaha (pasal
1 ayat (1) Undang-undagn Anti Monopoli ). Sementara yang dimaksud dengan praktek
monopoli adalah suatu pemusatan kekuatan ekonomi oleh salah satu atau lebih pelaku
yang mengakibatkan dikuasainya produksi dan atau pemasaran atas barang dan atau jasa
tertentu sehingga menimbulkan suatu persaingan usaha secara tidak sehat dan dapat
merugikan kepentingan umum.Sesuai dalam Pasal 1 ayat (2) Undang-Undang Anti
Monopoli.

B. Saran
Dengan adanya Makalah ini diharapkan dapat membantu dalam memahami apa
itu Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. Dan apabila terdapat keselahan dan
kekurangan pada Makalah ini mohon dimaafkan karena tidak ada gading yang tak retak
dan tak ada manusia yang sempurna, kesempurnaan itu hanya milik sang pencipta dan
kekurangan hanya milik kita semua makhluknya.

10
DAFTAR PUSTAKA
Hardjan ruslie. Hukum perjanjian indonesia dan common law. Cet II. Jakarta : Pustaka
sinar Harapan. 1996
Sirait, Ningrum N. Hukum Persaingan di Indonesia: UU No. 5/1999 tentang Larangan
Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. Cet. I. Medan: Pustaka
Bangsa Press, 2004.
Indonesia. Undang-undang Tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha
Tidak Sehat, UU No. 5 Tahun 1999 LN No. 33 Tahun 1999, TLN No. 3817

11