Anda di halaman 1dari 3

Nama : Sow Ramadhan

Nim : 023801388

Tugas 1

Studi kasus

Konsumen Masih Melirik Pasar Tradisional

Melihat fenomena pasar tradisional di tengah pesatnya pertumbuhan pasar modern, dapat kita lihat,
bagaimana keadaan sesak pasar tradisional, masih dijumpai. Apalagi saat pagi hari, ketika banyak
pengunjung terutama para ibu sibuk melakukan ritual belanja untuk memenuhi kebutuhan hariannya.
Kelebihan pasar tradisional di antaranya harga dapat ditawar ini merupakan kepuasan tersendiri bagi para
ibu yang biasa berbelanja. Dalam hal kelengkapan barang dagangan, sebagian besar pasar tradisional
sudah lengkap menyediakan aneka keperluan sehari-hari. Mulai dari bumbu dapur, sayuran, sembako,
jamu, hingga kemenyan dan bunga-bunga keperluan ziarah ke makam, ada di sana. Hal inilah yang jarang
dijumpai di pasar modern, dan menjadi alasan para konsumen lebih memilih untuk sibuk di pasar becek
ketimbang di pasar modern.

Meski ritel modern tampak terus berkembang, pasar tradisional ternyata masih menjadi pilihan konsumen
untuk berbelanjaterutama untuk kebutuhan sehari-hari. Berdasarkan hasil riset Nielsen di lima kota
besar di Indonesia, yakni Jakarta, Bandung, Surabaya, Makassar, dan Medan, pasar tradisional masih
dominan sebagai tempat untuk berbelanja. Tren belanja tersebut terlihat dari frekuensi kunjungan ke
channel tradisionalseperti pasar tradisional, pasar becek, dan toko sayuranyang tetap tinggi
dibandingkan frekuensi belanja di channel modern. Frekuensi kunjungan konsumen ke pasar tradisional
bisa mencapai 25 kali dalam sebulan, 12 kali untuk pasar becek, dan 19 kali untuk toko sayuran.
Sementara kunjungan ke channel modern tidak lebih dari 7 kali dalam sebulan.

Melihat persentase dari frekuensi kunjungan ini, beberapa perusahaan yang menggarap pasar modern pun
tak mau ketinggalan. Direktur Retail dan Services Nielsen, Yongky Susilo, mengatakan pertumbuhan
pasar modern tahun ini diprediksi lebih pesat dari tahun 2009 karena semua peritel besar melakukan
ekspansi. Carrefour misalnya, telah menambah gerainya dari 44 menjadi 48 gerai, Giant dari 55 menjadi
61 gerai. Sementara, pertumbuhan yang paling subur memang terletak di sektor minimarket. Indomaret
yang tadinya hanya membangun 3.312 gerai, kini melonjak menjadi 4.110 gerai. Disusul Alfamart yang
juga tak mau kalah bersaing, dari 2.975 gerai, bertambah menjadi 3.777 gerai.
Dalam hal berbelanja, konsumen juga memerhatikan channel yang berbeda untuk melakukan pembelian
terhadap kategori yang berbeda juga. Konsumen melakukan pembelian untuk barang komoditas seperti
mi instan, minyak goreng, dan kecap pada tempat tradisional. Sedangkan lebih dari 50persen konsumen
akan memburu susu, vitamin, dan produk perawatan kulit ke pasar modern.

Pasar tradisional memang masih dominan di antara kalangan raksasa ritel global. Tapi di lain sisi, Yongky
menekankan, bukan berarti pasar tradisional menjadi pilihan satu-satunya. Tipe perilaku konsumen
Indonesia adalah repertoire atau saling-silang. Mereka yang ke pasar tradisional juga belanja di
hypermarket, supermarket, dan minimarket, tergantung urgensi kebutuhan. Tren belanja di semua
kategori tiap tahun juga naik, ujar dia.

Sumber : dikutip dari (Merliyani Pertiwi Majalah MARKETING)

Pertanyaan :

Jawab sesuai artikel yang diberikan

1. Berikan ulasan Anda tentang faktor mengapa pasar tradisional masih dapat bertahan di tengah
pertumbuhan pasar modern ?

Pasar tradisional dapat bertahan karena memiliki Kelebihan, kelebihan pasar tradisional di antaranya :

harga dapat ditawar ini merupakan kepuasan tersendiri bagi para ibu yang biasa berbelanja.
Dalam hal kelengkapan barang dagangan,
sebagian besar pasar tradisional sudah lengkap menyediakan aneka keperluan sehari-hari. Mulai
dari bumbu dapur, sayuran, sembako, jamu, hingga kemenyan dan bunga-bunga keperluan ziarah
ke makam, ada di sana. Hal inilah yang jarang dijumpai di pasar modern, dan menjadi alasan para
konsumen lebih memilih untuk sibuk di pasar becek ketimbang di pasar modern.

2. Bagaimana motivasi dan persepsi konsumen terhadap pemilihan tempat berbelanja ?

Motivasinya adalah untuk kebutuhan sehari-hari dan persepsinya adalah konsumen memerhatikan channel
yang berbeda untuk melakukan pembelian terhadap kategori yang berbeda juga.

Konsumen melakukan pembelian untuk barang komoditas seperti mi instan, minyak goreng, dan
kecap pada tempat tradisional.
Sedangkan lebih dari 50persen konsumen akan memburu susu, vitamin, dan produk perawatan
kulit ke pasar modern.
3. Apakah pertumbuhan pasar modern dapat menyebabkan perubahan sikap konsumen dalam
pemilihan tempat belanja? Berikan alasan Anda!

Dengan pertumbuhan pasar modern, menurut saya, memberikan efek dalam perubahan sikap konsumen,
kita bisa lihat sekarang betapa banyaknya pasar modern dari mini market seperti indomaret/alfamart,
super market seperti giant/super indo/Carrefour. Yang sudah menyasar ke dalam lingkungan masyarakat
dari perkotaan, perdesaan bahkan pemukiman seperti perumahan, mereka seperti melakukan strategi
jemput bola untuk mendapatkan kunjungan masyarakat.

hal ini mengakibatkan meningkatnya kunjungan masyarakat kedalam pasar modern secara pesat, karena
letak pasar modern yang sangat dekat lokasinya dibandingkan pasar tradisional yang jumlahnya hanya
sedikit dan lokasinya hanya ada pada posisi sentral di pemukiman masyarakat.

4. Bagaimana pengaruh kepribadian, konsep diri, gaya hidup dan psikografi terhadap segmentasi
pasar tradisional dan pasar modern ?

Dalam segmentasi pasar tradisional, cocok dan tepat untuk mereka yang ingin mendapatkan kebutuhan
dengan harga yang murah dan bisa ditawar, serta untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari2 yang lengkap
dan tidak dijual di pasar modern

Segmentasi pasar modern, cocok dan tepat untuk mereka yang ingin mendapat kemudahan karena
lokasinya sudah ada dimana2 (dekat dengan pemukiman) dan kenyamanan (bersih) serta barang dengan
kualitas yang baik (terdapat expired date) dalam berbelanja,

5. Apakah terdapat perbedaaan antara strategi pemasaran di pasar modern dan pasar tradisional?

Pasar modern melakukan berbagai strategi harga seperti strategi limit harga, strategi pemangsaan lewat
pemangkasan harga (predatory pricing), dan diskriminasi harga antar waktu (inter-temporal price
discrimination). Misalnya memberikan diskon harga pada akhir minggu dan pada waktu tertentu.
Sedangkan strategi nonharga antara lain dalam bentuk iklan, membuka gerai lebih lama, khususnya pada
akhir minggu, bundling/tying (pembelian secara gabungan), dan parkir gratis.

Untuk pasar tradisonal sendiri tidak ada strategi pemasaran karena harga berdasarkan tawar menawar
konsumen. dan harga yang dijual menyesuaikan keadaan stok barang dagang di pasar, makin sedikit
jumlahnya maka semakin mahal dan sebaliknya, jika banyak jumlah stok yang ada maka harganya
semakin murah.