Anda di halaman 1dari 41

LAPORAN PENDAHULUAN BRONKITIS

DI POLI ANAK
RS. Dr SOEPRAOEN MALANG

OLEH:

SYEHBY RISMAWAN

(151057)

PROGRAM STUDI KEPERAWATAN

POLITEKNIK KESEHATAN RS dr. SOEPRAOEN MALANG

TAHUN AKADEMIK 2017/2018


LAPORAN PENDAHULUAN BRONKITIS

A. DEFINISI
1. Bronkitis adalah suatu peradangan pada saluran bronkial atau
bronki. Peradangan tersebut disebabkan oleh virus, bakteri,
merokok, atau polusi udara (Samer Qarah, 2007).
2. Bronkitis akut adalah batuk dan kadang-kadang produksi dahak
tidak lebih dari tiga minggu (Samer Qarah, 2007).
3. Bronkitis kronis adalah batuk disertai sputum setiap hari selama
setidaknya 3 bulan dalam setahun selama paling sedikit 2 tahun
berturut-turut.
4. Bronkhitis adalah hipersekresi mukus dan batuk produktif kronis
berulang-ulang minimal selama 3 bulan pertahun atau paling
sedikit dalam 2 tahun berturut-turut pada pasien yang diketahui
tidak terdapat penyebab lain (Perawatan Medikal Bedah 2, 1998,
hal : 490).
Penyakit ini biasanya bersifat ringan dan pada akhirnya akan
sembuh sempurna. Tetapi pada penderita yang memiliki penyakit
menahun (misalnya penyakit jantung atau penyakit paru-paru) dan
pada usia lanjut, bronkitis bisa bersifat serius.
Macam-macam Bronchitis
Bronchitis terbagi menjadi 2 jenis sebagai berikut.
a. Bronchitis akut. Yaitu, bronchitis yang biasanya datang dan
sembuh hanya dalam waktu 2 hingga 3 minggu saja. Kebanyakan
penderita bronchitis akut akan sembuh total tanpa masalah yang
lain.
b. Bronchitis kronis. Yaitu, bronchitis yang biasanya datang secara
berulang-ulang dalam jangka waktu yang lama. Terutama, pada
perokok. Bronchitis kronis ini juga berarti menderita batuk yang
dengan disertai dahak dan diderita selama berbulan-bulan hingga
tahunan.
B. ETIOLOGI
1. Merokok merupakan satu-satunya penyebab kausal yang
terpenting. Peningkatan resiko mortalitas akibat bronkitis hampir
berbanding lurus dengan jumlah rokok yang dihisap setiap hari
(Rubenstein, et al., 2007).
2. Polusi udara yang terus menerus juga merupakan predisposisi
infeksi rekuren karena polusi memperlambat aktivitas silia dan
fagositosis. Zat-zat kimia yang dapat juga menyebabkan bronkitis
adalah O2, N2O, hidrokarbon, aldehid, ozon.
3. Infeksi. Eksaserbasi bronchitis disangka paling sering diawali
dengan infeksi virus yang kemudian menyebabkan infeksi sekunder
bakteri. Bakteri yang diisolasi paling banyak adalah Hemophilus
influenza dan streptococcus pneumonie dan organisme lain seperti
Mycoplasma pneumonia.
4. Defisiensi alfa-1 antitripsin adalah gangguan resesif yang terjadi
pada sekitar 5% pasien emfisema (dan sekitar 20% dari kolestasis
neonatorum) karena protein alfa-1 antitripsin ini memegang
peranan penting dalam mencegah kerusakan alveoli oleh neutrofil
elastase (Rubenstein, et al., 2007).
5. Terdapat hubungan dengan kelas sosial yang lebih rendah dan
lingkungan industri banyak paparan debu, asap (asam kuat,
amonia, klorin, hidrogen sufilda, sulfur dioksida dan bromin), gas-
gas kimiawi akibat kerja.
6. Riwayat infeksi saluran napas. Infeksi saluran pernapasan bagian
atas pada penderita bronkitis hampir selalu menyebabkan infeksi
paru bagian bawah, serta menyebabkan kerusakan paru
bertambah.
Bronkhitis kronis dapat merupakan komplikasi kelainan
patologik pada beberapa alat tubuh, yaitu:
a) Penyakit jantung menahun, yang disebabkan oleh kelainan
patologik pada katup maupun miokardia. Kongesti menahun pada
dinding bronkhus melemahkan daya tahan sehingga infeksi bakteri
mudah terjadi.
b) Infeksi sinus paranasalis dan rongga mulut, area infeksi
merupakan cumber bakteri yang dapat menyerang dinding
bronkhus.
c) Dilatasi bronkhus (bronkInektasi), menyebabkan gangguan
susunan dan fungsi dinding bronkhus sehingga infeksi bakteri
mudah terjadi.
d) Rokok dapat menimbulkan kelumpuhan bulu getar selaput lendir
bronkhus sehingga drainase lendir terganggu. Kumpulan lendir
tersebut merupakan media yang baik untuk pertumbuhan bakteri.
C. PHATWAY
D. PATOFISIOLOGI
Serangan bronkhitis disebabkan karena tubuh terpapar agen infeksi
maupun non infeksi (terutama rokok). Iritan (zat yang menyebabkan
iritasi) akan menyebabkan timbulnya respons inflamasi yang akan
menyebabkan vasodilatasi, kongesti, edema mukosa, dan
bronkospasme. Tidak seperti emfisema, bronkhitis lebih memengaruhi
jalan napas kecil dan besar dibandingkan alveoli. Dalam keadaan
bronkhitis, aliran udara masih memungkinkan tidak mengalami
hambatan.
Pasien dengan bronkhitis kronis akan mengalami:
a. Peningkatan ukuran dan jumlah kelenjar mukus pada bronkhus
besar sehingga meningkatkan produksi mukus.
b. Mukus lebih kental
c. Kerusakan fungsi siliari yang dapat menunjukkan mekanisme
pembersihan mukus.
Pada keadaan normal, paru-paru memiliki kemampuan yang
disebut mucocilliary defence, yaitu sistem penjagaan paru-paru yang
dilakukan oleh mukus dan siliari. Pada pasien dengan bronkhitis akut,
sistem mucocilliary defence paru-paru mengalami kerusakan sehingga
lebih mudah terserang infeksi. Ketika infeksi timbul, kelenjar mukus
akan menjadi hipertropi dan hiperplasia (ukuran membesar dan jumlah
bertambah) sehingga produksi mukus akan meningkat. infeksi juga
menyebabkan dinding bronkhial meradang, menebal (sering kali
sampai dua kali ketebalan normal), dan mengeluarkan mukus kental.
Adanya mukus kental dari dinding bronkhial dan mukus yang
dihasilkan kelenjar mukus dalam jumlah banyak akan menghambat
beberapa aliran udara kecil dan mempersempit saluran udara besar.
Bronkhitis kronis mula-mula hanya memengaruhi bronkhus besar,
namun lambat laun akan memengaruhi seluruh saluran napas.
Mukus yang kental dan pembesaran bronkhus akan mengobstruksi
jalan napas terutama selama ekspirasi. Jalan napas selanjutnya
mengalami kolaps dan udara terperangkap pada bagian distal dari
paru-paru. Obstruksi ini menyebabkan penurunan ventilasi alveolus,
hipoksia, dan acidosis. Pasien mengalami kekurangan 02, iaringan
dan ratio ventilasi perfusi abnormal timbul, di mana terjadi penurunan
PO2 Kerusakan ventilasi juga dapat meningkatkan nilai PCO,sehingga
pasien terlihat sianosis. Sebagai kompensasi dari hipoksemia, maka
terjadi polisitemia (produksi eritrosit berlebihan).
Pada saat penyakit bertambah parah, sering ditemukan produksi
sejumlah sputum yang hitam, biasanya karena infeksi pulmonari.
Selama infeksi, pasien mengalami reduksi pada FEV dengan
peningkatan pada RV dan FRC. Jika masalah tersebut tidak
ditanggulangi, hipoksemia akan timbul yang akhirnya menuiu penyakit
cor pulmonal dan CHF (Congestive Heart Failure).

E. TANDA DAN GEJALA


Gejalanya berupa:
a) Batuk, mulai dengan batuk batuk pagi hari, dan makin lama batuk
makin berat, timbul siang hari maupun malam hari, penderita
terganggu tidurnya.
Batuk pada bronchitis mempunyai ciri antara lain batuk
produktif berlangsung kronik dan frekuensi mirip seperti pada
bronchitis kronis, jumlah seputum bervariasi, umumnya jumlahnya
banyak terutama pada pagi hari sesudah ada perubahan posisi
tidur atau bangun dari tidur. Kalau tidak ada infeksi skunder
sputumnya mukoid, sedang apabila terjadi infeksi sekunder
sputumnya purulen, dapat memberikan bau yang tidak sedap.
Apabila terjadi infeksi sekunder oleh kuman anaerob, akan
menimbulkan sputum sangat berbau, pada kasus yang sudah
berat, misalnya pada saccular type bronchitis, sputum jumlahnya
banyak sekali, puruen, dan apabila ditampung beberapa lama,
tampah terpisah menjadi 3 bagian Lapisan teratas agak keruh,
Lapisan tengah jernih, terdiri atas saliva (ludah) Lapisan terbawah
keruh terdiri atas nanah dan jaringan nekrosis dari bronkus yang
rusak ( celluler debris ).
b) Dahak, sputum putih/mukoid. Bila ada infeksi, sputum menjadi
purulen atau mukopuruen dan kental.
c) Sesak bila timbul infeksi, sesak napas akan bertambah, kadang
kadang disertai tanda tanda payah jantung kanan, lama kelamaan
timbul kor pulmonal yang menetap.
Pada sebagian besar pasien ( 50 % kasus ) ditemukan keluhan
sesak nafas. Timbul dan beratnya sesak nafas tergantung pada
seberapa luasnya bronchitis kronik yang terjadi dan seberapa jauh
timbulnya kolap paru dan destruksi jaringan paru yang terjadi sebagai
akibat infeksi berulang ( ISPA ), yang biasanya menimbulkan fibrosis
paru dan emfisema yang menimbulkan sesak nafas. Kadang
ditemukan juga suara mengi ( wheezing ), akibat adanya obstruksi
bronkus. Wheezing dapat local atau tersebar tergantung pada
distribusi kelainannya
sesak nafas ketika melakukan olah raga atau aktivitas ringan
sering menderita infeksi pernafasan (misalnya flu)
bengek
lelah
pembengkakan pergelangan kaki, kaki dan tungkai kiri dan kanan
wajah, telapak tangan atau selaput lendir yang berwarna
kemerahan
pipi tampak kemerahan
sakit kepala
gangguan penglihatan.
Bronkitis infeksiosa seringkali dimulai dengan gejala seperti pilek,
yaitu hidung meler, lelah, menggigil, sakit punggung, sakit otot,
demam ringan dan nyeri tenggorokan. Batuk biasanya merupakan
tanda dimulainya bronkitis. Pada awalnya batuk tidak berdahak, tetapi
1-2 hari kemudian akan mengeluarkan dahak berwarna putih atau
kuning. Selanjutnya dahak akan bertambah banyak, berwarna kuning
atau hijau.
Pada bronkitis berat, setelah sebagian besar gejala lainnya
membaik, kadang terjadi demam tinggi selama 3-5 hari dan batuk bisa
menetap selama beberapa minggu. Sesak nafas terjadi jika saluran
udara tersumbat. Sering ditemukan bunyi nafas mengi, terutama
setelah batuk. Bisa terjadipneumonia.

F. PEMERIKSAAN PENUNJANG
a. Sinar x dadaDapat menyatakan hiperinflasi paru paru,
mendatarnya diafragma, peningkatan area udara retrosternal, hasil
normal selama periode remisi. Tes fungsi paruUntuk menentukan
penyebab dispnoe, melihat obstruksi, memperkirakan derajat
disfungsi.
a) TLC : Meningkat.
b) Volume residu : Meningkat.
c) FEV1/FVC : Rasio volume meningkat.
d) GDA : PaO2 dan PaCO2 menurun, pH Normal.
e) Bronchogram Menunjukkan di latasi silinder bronchus saat
inspirasi, pembesaran duktus mukosa.
f) Sputum : Kultur untuk menentukan adanya infeksi,
mengidentifikasi patogen.
g) EKG : Disritmia atrial, peninggian gelombang P pada
lead II, III, AVF
G. KOMPLIKASI
Ada beberapa komplikasi bronchitis yang dapat dijumpai pada
pasien, antara lain :
a. Bronchitis kronik
b. Pneumonia dengan atau tanpa atelektaksis, bronchitis sering
mengalami infeksi berulang biasanya sekunder terhadap infeksi
pada saluran nafas bagian atas. Hal ini sering terjadi pada mereka
drainase sputumnya kurang baik.
c. Pleuritis. Komplikasi ini dapat timbul bersama dengan timbulnya
pneumonia. Umumnya pleuritis sicca pada daerah yang terkena.
d. Efusi pleura atau empisema
e. Abses metastasis diotak, akibat septikemi oleh kuman penyebab
infeksi supuratif pada bronkus. Sering menjadi penyebab kematian.
f. Haemaptoe terjadi kerena pecahnya pembuluh darah cabang vena
(arteri pulmonalis) , cabang arteri (arteri bronchialis) atau
anastomisis pembuluh darah. Komplikasi haemaptoe hebat dan
tidak terkendali merupakan tindakan beah gawat darurat.
g. Sinusitis merupakan bagian dari komplikasi bronchitis pada saluran
nafas.
h. Kor pulmonal kronik pada kasus ini bila terjadi anastomisis cabang-
cabang arteri dan vena pulmonalis pada dinding bronkus akan
terjadi arterio-venous shunt, terjadi gangguan oksigenasi darah,
timbul sianosis sentral, selanjutnya terjadi hipoksemia. Pada
keadaan lanjut akan terjadi hipertensi pulmonal, kor pulmoner
kronik,. Selanjutnya akan terjadi gagal jantung kanan.
i. Kegagalan pernafasan merupakan komlikasi paling akhir pada
bronchitis yang berat da luas.
j. Amiloidosis keadaan ini merupakan perubahan degeneratif,
sebagai komplikasi klasik dan jarang terjadi. Pada pasien yang
mengalami komplikasi ini dapat ditemukan pembesaran hati dan
limpa serta proteinurea.

H. PENATALAKSANAAN MEDIS
Untuk mengurangi demam dan rasa tidak enak badan, kepada
penderita dewasa bisa diberikan aspirin atau acetaminophen; kepada
anak-anak sebaiknya hanya diberikan acetaminophen. Dianjurkan
untuk beristirahat dan minum banyak cairan.
Antibiotik diberikan kepada penderita yang gejalanya
menunjukkan bahwa penyebabnya adalah infeksi bakteri (dahaknya
berwarna kuning atau hijau dan demamnya tetap tinggi) dan penderita
yang sebelumnya memiliki penyakit paru-paru. Kepada penderita
dewasa diberikan trimetoprim-sulfametoksazol, tetracyclin atau
ampisilin. Erythromycin diberikan walaupun dicurigai penyebabnya
adalah Mycoplasma pneumoniae. Kepada penderita anak-anak
diberikan amoxicillin. Jika penyebabnya virus, tidak diberikan
antibiotik.
Jika gejalanya menetap atau berulang atau jika bronkitisnya
sangat berat, maka dilakukan pemeriksaan biakan dari dahak untuk
membantu menentukan apakah perlu dilakukan penggantian
antibiotik.
a. Pengelolaan umum ditujukan untuk semua pasien bronchitis,
meliputi: Menciptakan lingkungan yang baik dan tepat untuk pasien
Contoh :
1) Membuat ruangan hangat, udara ruangan kering.
2) Mencegah / menghentikan rokok.
3) Mencegah / menghindari debu,asap dan sebagainya.
b. Memperbaiki drainase secret bronkus, cara yang baik untuk
dikerjakan adalah sebagai berikut :
1) Melakukan drainase postural
Pasien dilelatakan dengan posisi tubuh sedemikian rupa
sehingga dapat dicapai drainase sputum secara maksimum. Tiap
kali melakukan drainase postural dilakukan selama 10 20
menit, tiap hari dilakukan 2 sampai 4 kali. Prinsip drainase
postural ini adalah usaha mengeluarkan sputum (secret bronkus)
dengan bantuan gaya gravitasi. Posisi tubuh saat dilakukan
drainase postural harus disesuaikan dengan letak kelainan
bronchitisnya, dan dapat dibantu dengan tindakan memberikan
ketukan padapada punggung pasien dengan punggung jari.
2) Mencairkan sputum yang kental
Dapat dilakukan dengan jalan, misalnya inhalasi uap air
panas, mengguanakan obat-obat mukolitik dan
sebagainya.Mengatur posisi tepat tidur pasien
Sehingga diperoleh posisi pasien yang sesuai untuk
memudahkan drainase sputum.
3) Mengontrol infeksi saluran nafas.
Adanya infeksi saluran nafas akut ( ISPA ) harus
diperkecil dengan jalan mencegah penyebaran kuman, apabila
telah ada infeksi perlu adanya antibiotic yang sesuai agar infeksi
tidak berkelanjutan.
c. Pengelolaan khusus.
Kemotherapi pada bronchitis
Kemotherapi dapat digunakan secara continue untuk
mengontrol infeksi bronkus ( ISPA ) untuk pengobatan
aksaserbasi infeksi akut pada bronkus/paru atau kedua-duanya
digunakan Kemotherapi menggunakan obat-obat antibiotic
terpilih, pemkaian antibiotic antibiotic sebaikya harus
berdasarkan hasil uji sensivitas kuman terhadap antibiotic secara
empiric.
Walaupun kemotherapi jelas kegunaannya pada
pengelolaan bronchitis, tidak pada setiap pasien harus diberikan
antibiotic. Antibiotik diberikan jika terdapat aksaserbasi infeki
akut, antibiotic diberikan selama 7-10 hari dengan therapy
tunggal atau dengan beberapa antibiotic, sampai terjadi konversi
warna sputum yang semula berwarna kuning/hijau menjadi
mukoid ( putih jernih ). Kemotherapi dengan antibiotic ini apabila
berhasil akan dapat mengurangi gejala batuk, jumlah sputum
dan gejala lainnya terutama pada saat terjadi aksaserbasi infeksi
akut, tetapi keadaan ini hanya bersifat sementara. Drainase
secret dengan bronkoskop. Cara ini penting dikerjakan terutama
pada saat permulaan perawatan pasien. Keperluannya antara
lain:
a) Menentukan dari mana asal secret.
b) Mengidentifikasi lokasi stenosis atau obstruksi bronkus.
c) Menghilangkan obstruksi bronkus dengan suction drainage
daerah obstruksi.
Pengobatan simtomatik
Pengobatan ini diberikan jika timbul simtom yang mungkin
mengganggu atau mebahayakan pasien.
Pengobatan obstruksi bronkus
Apabila ditemukan tanda obstruksi bronkus yang diketahui
dari hasil uji faal paru (%FEV 1 < 70% ) dapat diberikan obat
bronkodilator.
Pengobatan hipoksia.
Pada pasien yang mengalami hipoksia perlu diberikan oksigen.
Pengobatan haemaptoe.
Tindakan yang perlu segera dilakukan adalah upaya
menghentikan perdarahan. Dari berbagai penelitian pemberian
obat-obatan hemostatik dilaporkan hasilnya memuaskan walau sulit
diketahui mekanisme kerja obat tersebut untuk menghentikan
perdarahan.
Pengobatan demam.
Pada pasien yang mengalami eksaserbasi inhalasi akut
sering terdapat demam, lebih-lebih kalau terjadi septikemi. Pada
kasus ini selain diberikan antibiotic perlu juga diberikan obat
antipiretik.
Pengobatan pembedahan
Tujuan pembedahan : mengangkat (reseksi) segmen/ lobus
paru yang terkena.
a) Indikasi pembedahan : Pasien bronchitis yang yang terbatas dan
resektabel, yang tidak berespon yang tidak berespon terhadap
tindakan-tindakan konservatif yang adekuat. Pasien perlu
dipertimbangkan untuk operasi
Pasien bronchitis yang terbatas tetapi sering mengaami
infeksi berulang atau haemaptoe dari daerakh tersebut. Pasien
dengan haemaptoe massif seperti ini mutlak perlu tindakan
operasi.
b) Kontra indikasi
Pasien bronchitis dengan COPD, Pasien bronchitis berat,
Pasien bronchitis dengan koplikasi kor pulmonal kronik
dekompensasi.
c) Syarat-ayarat operasi.
Kelainan ( bronchitis ) harus terbatas dan resektabel.
Daerah paru yang terkena telah mengalami perubahan
ireversibel.
Bagian paru yang lain harus masih baik misalnya tidak ada
bronchitis atau bronchitis kronik.
d) Cara operasi.
Operasi elektif : pasien-pasien yang memenuhi indikasi dan
tidak terdaat kontra indikasi, yang gagal dalam pengobatan
konservatif dipersiapkan secara baik utuk operasi. Umumnya
operasi berhasil baik apabila syarat dan persiapan operasinya
baik.
Operasi paliatif : ditujukan pada pasien bronchitis yang
mengalami keadaan gawat darurat paru, misalnya terjadi
haemaptoe masif ( perdarahan arterial ) yang memenuhi
syarat-syarat dan tidak terdapat kontra indikasi operasi.
e) Persiapan operasi :
Pemeriksaan faal paru : pemeriksaan spirometri,analisis gas
darah, pemeriksaan broncospirometri (uji fungsi paru
regional).
Scanning dan USG.
Meneliti ada atau tidaknya kontra indikasi operasi pada pasien
Memperbaiki keadaan umum pasien.
PENGKAJIAN KEPERAWATAN

Data dasar pengkajian pada pasien dengan bronchitis :


a. Aktivitas/istirahat.
Gejala :Keletihan, kelelahan, malaise, Ketidak mampuan
melakukan aktivitas seharihari, Ketidak mampuan untuk
tidur, Dispnoe pada saat istirahat.
Tanda :Keletihan, Gelisah, insomnia, Kelemahan umum atau
kehilangan massa otot.
b. Sirkulasi.
Gejala : Pembengkakan pada ekstremitas bawah.
Tanda : Peningkatan tekanan darah, peningkatan frekuensi
jantung/takikardia berat, Distensi vena leher, Edema
dependent, Bunyi jantung redup, Warna kulit/membran mukosa
normal/cyanosis Pucat, dapat menunjukkan anemi.
c. Integritas Ego.
Gejala : Peningkatan faktor resiko Perubahan pola hidup.
Tanda : Ansietas, ketakutan, peka rangsang.
d. Makanan/cairan.
Gejala : Mual/muntah, Nafsu makan buruk/anoreksia, Ketidak
mampuan untuk makan, Penurunan berat badan, peningkatan
berat badan.
Tanda :Turgor kulit buruk, edema dependen,
berkeringat, Penurunan berat badan, palpitasiabdomen.
e. Hygiene.
Gejala : Penurunan kemampuan/peningkatan kebutuhan.
Tanda : Kebersihan buruk, bau badan.
f. Pernafasan.
Gejala : Batuk menetap dengan produksi sputum setiap hari
selama minimun 3 bulan berturut turut tiap tahun sedikitnya 2
tahun, Episode batuk hilang timbul.
Tanda : Pernafasan biasa cepat, Penggunaan otot bantu
pernafasan,
Bentuk barel chest, gerakan diafragma minimal, Bunyi nafas
ronchi, Perkusi hyperresonan pada area paru, Warna pucat
dengan cyanosis bibir dan dasar kuku, abu abu keseluruhan.
g. Keamanan.
Gejal : Riwayat reaksi alergi terhadap zat atau faktor
lingkungan, Adanya atau berulangnya infeksi.
h. Seksualitas.
Gejala : Penurunan libido.
i. Interaksi sosial.
Gejala : Hubungan ketergantungan, Kegagalan dukungan atau
terhadap pasanganatau orang dekat, Penyakit lama atau ketidak
mampuan membaik.
Tanda : Ketidakmampuan untuk mempertahankan suara karena
distress pernafasan, Keterbatasan mobilitas fisik, Kelalaian
hubungan dengan anggota keluarga lain.
DIAGNOSA KEPERAWATAN
1) Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan peningkatan
produksi sekret.
2) Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan obstruksi jalan
nafas oleh sekresi, spasme bronchus.
3) Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan broncokontriksi,
mukus.
4) Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan
dengan dispnoe, anoreksia, mual muntah.
5) Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan menetapnya
sekret, proses penyakit kronis.
6) Intoleransi aktifitas berhubungan dengan insufisiensi ventilasi dan
oksigenasi.
7) Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan.
8) Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi
tentang proses penyakit dan perawatan dirumah.

RENCANA KEPERAWATAN

TUJUAN DAN
DIAGNOSA
NO CRITERIA HASIL INTERVENSI (NIC)
KEPERAWATAN
(NOC)
1 Bersihan Jalan Nafas NOC : NIC :
tidak Efektif v Respiratory status : Airway suction
Ventilation Pastikan kebutuhan
Definisi v: Respiratory status : oral / tracheal
Ketidakmampuan untuk Airway patency suctioning
membersihkan sekresi
v Aspiration Control Auskultasi suara
atau obstruksi dari nafas sebelum dan
saluran pernafasan untuk Kriteria Hasil : sesudah suctioning.
mempertahankan v Mendemonstrasikan
Informasikan pada
kebersihan jalan nafas. batuk efektif dan klien dan keluarga
suara nafas yang tentang suctioning
Batasan Karakteristik : bersih, tidak ada
Minta klien nafas
- Dispneu, Penurunan sianosis dan dalam sebelum
suara nafas dyspneu (mampu suction dilakukan.
- Orthopneu mengeluarkan Berikan O2 dengan
- Cyanosis sputum, mampu menggunakan nasal
- Kelainan suara nafas bernafas dengan untuk memfasilitasi
(rales, wheezing) mudah, tidak ada suksion nasotrakeal
- Kesulitan berbicara pursed lips) Gunakan alat yang
- Batuk, tidak efekotif
v Menunjukkan jalan steril sitiap
atau tidak ada nafas yang paten melakukan tindakan
- Mata melebar (klien tidak merasa
Anjurkan pasien
- Produksi sputum tercekik, irama untuk istirahat dan
- Gelisah nafas, frekuensi napas dalam
- Perubahan frekuensi pernafasan dalam setelah kateter
dan irama nafas rentang normal, dikeluarkan dari
tidak ada suara nasotrakeal
Faktor-faktor yang nafas abnormal) Monitor status
berhubungan: v Mampu oksigen pasien
- Lingkungan : mengidentifikasika Ajarkan keluarga
merokok, menghirup n dan mencegah bagaimana cara
asap rokok, perokok factor yang dapat melakukan suksion
pasif-POK, infeksi menghambat jalan
Hentikan suksion
- Fisiologis : disfungsi nafas dan berikan oksigen
neuromuskular, apabila pasien
hiperplasia dinding menunjukkan
bronkus, alergi jalan bradikardi,
nafas, asma. peningkatan
- Obstruksi jalan nafas saturasi O2, dll.
: spasme jalan nafas,
sekresi tertahan, Airway
banyaknya mukus, Management
adanya jalan nafas Buka jalan nafas,
buatan, sekresi bronkus, guanakan teknik
adanya eksudat di chin lift atau jaw
alveolus, adanya benda thrust bila perlu
asing di jalan nafas. Posisikan pasien
untuk
memaksimalkan
ventilasi
Identifikasi
pasien perlunya
pemasangan alat
jalan nafas buatan
Pasang mayo
bila perlu
Lakukan
fisioterapi dada jika
perlu
Keluarkan sekret
dengan batuk atau
suction
Auskultasi suara
nafas, catat adanya
suara tambahan
Lakukan suction
pada mayo
Berikan
bronkodilator bila
perlu
Berikan
pelembab udara
Kassa basah NaCl
Lembab
Atur intake untuk
cairan
mengoptimalkan
keseimbangan.
Monitor respirasi
dan status O2

2 Gangguan Pertukaran NOC : NIC :


gas v Respiratory Status : Airway
Gas exchange Management
Definisi : Kelebihan atau
v Respiratory Status : Buka jalan nafas,
kekurangan dalam ventilation guanakan teknik
oksigenasi dan atau
v Vital Sign Status chin lift atau jaw
pengeluaran Kriteria Hasil : thrust bila perlu
karbondioksida di dalam
v Mendemonstrasikan
Posisikan pasien
membran kapiler alveoli peningkatan untuk
ventilasi dan memaksimalkan
Batasan karakteristik : oksigenasi yang ventilasi
Gangguan penglihatan adekuat Identifikasi
Penurunan CO2 v Memelihara pasien perlunya
Takikardi kebersihan paru pemasangan alat
Hiperkapnia paru dan bebas jalan nafas buatan

Keletihan dari tanda tanda


Pasang mayo

Somnolen distress bila perlu

Iritabilitas pernafasan Lakukan


v Mendemonstrasikan fisioterapi dada jika
Hypoxia
batuk efektif dan perlu
Kebingungan
suara nafas yang
Keluarkan sekret
Dyspnoe
bersih, tidak ada dengan batuk atau
nasal faring
sianosis dan suction
AGD Normal
dyspneu (mampu
Auskultasi suara
Sianosis
mengeluarkan nafas, catat adanya
warna kulit abnormal
sputum, mampu suara tambahan
(pucat, kehitaman) bernafas dengan
Lakukan suction
Hipoksemia mudah, tidak ada pada mayo
Hiperkarbia pursed lips) Berika
sakit kepala v Tanda
ketika tanda vital bronkodilator bial
bangun dalam rentang perlu

frekuensi dan normal Barikan


kedalaman nafas pelembab udara
abnormal Atur intake untuk
cairan
Faktor faktor yang mengoptimalkan

berhubungan : keseimbangan.

ketidakseimbangan Monitor respirasi

perfusi ventilasi dan status O2

perubahan membran
kapiler-alveolar Respiratory
Monitoring
Monitor rata
rata, kedalaman,
irama dan usaha
respirasi
Catat
pergerakan
dada,amati
kesimetrisan,
penggunaan otot
tambahan, retraksi
otot supraclavicular
dan intercostal
Monitor suara
nafas, seperti
dengkur
Monitor pola
nafas : bradipena,
takipenia,
kussmaul,
hiperventilasi,
cheyne stokes, biot
Catat lokasi
trakea
Monitor
kelelahan otot
diagfragma
(gerakan
paradoksis)
Auskultasi suara
nafas, catat area
penurunan / tidak
adanya ventilasi
dan suara
tambahan
Tentukan
kebutuhan suction
dengan
mengauskultasi
crakles dan ronkhi
pada jalan napas
utama
auskultasi suara
paru setelah
tindakan untuk
mengetahui
hasilnya

3 Pola Nafas tidak efektif NOC : NIC :


v Respiratory status : Airway
Definisi : Pertukaran Ventilation Management
udara inspirasi dan/atau
v Respiratory status : Buka jalan nafas,
ekspirasi tidak adekuat Airway patency guanakan teknik
v Vital sign Status chin lift atau jaw
Batasan karakteristik : Kriteria Hasil : thrust bila perlu
- Penurunan tekanan
v Mendemonstrasikan
Posisikan pasien
inspirasi/ekspirasi batuk efektif dan untuk
- Penurunan pertukaran suara nafas yang memaksimalkan
udara per menit bersih, tidak ada ventilasi
- Menggunakan otot sianosis dan
Identifikasi
pernafasan tambahan dyspneu (mampu pasien perlunya
- Nasal flaring mengeluarkan pemasangan alat
- Dyspnea sputum, mampu jalan nafas buatan
- Orthopnea bernafas dengan
Pasang mayo
- Perubahan mudah, tidak ada bila perlu
penyimpangan dada pursed lips) Lakukan
- Nafas pendek v Menunjukkan jalan fisioterapi dada jika
- Assumption of 3-point nafas yang paten perlu
position (klien tidak merasa
Keluarkan sekret
- Pernafasan pursed-lip tercekik, irama dengan batuk atau
- Tahap ekspirasi nafas, frekuensi suction
berlangsung sangat lama pernafasan dalam
Auskultasi suara
- Peningkatan diameter rentang normal, nafas, catat adanya
anterior-posterior tidak ada suara suara tambahan
- Pernafasan rata- nafas abnormal) Lakukan suction
rata/minimal v Tanda Tanda vital pada mayo
Bayi : < 25 atau > 60 dalam rentang
Berikan
Usia 1-4 : < 20 atau > 30 normal (tekanan bronkodilator bila
Usia 5-14 : < 14 atau > 25 darah, nadi, perlu
Usia > 14 : < 11 atau > 24 pernafasan) Berikan
- Kedalaman pernafasan pelembab udara
Dewasa volume tidalnya Kassa basah NaCl
500 ml saat istirahat Lembab
Bayi volume tidalnya 6-8 Atur intake untuk
ml/Kg cairan
- Timing rasio mengoptimalkan
- Penurunan kapasitas keseimbangan.
vital Monitor respirasi
dan status O2
Faktor yang
berhubungan : Terapi Oksigen
- Hiperventilasi v Bersihkan mulut,
- Deformitas tulang hidung dan secret
- Kelainan bentuk trakea
dinding dada v Pertahankan jalan
- Penurunan nafas yang paten
energi/kelelahan v Atur peralatan
- oksigenasi
Perusakan/pelema v Monitor aliran
han muskulo-skeletal oksigen
- Obesitas v Pertahankan posisi
- Posisi tubuh pasien
- Kelelahan otot v Onservasi adanya
pernafasan tanda tanda
- Hipoventilasi sindrom hipoventilasi
- Nyeri v Monitor adanya
- Kecemasan kecemasan pasien
- Disfungsi terhadap oksigenasi
Neuromuskuler
- Kerusakan
persepsi/kognitif Vital sign Monitoring
- Perlukaan pada Monitor TD,
jaringan syaraf tulang nadi, suhu, dan RR
belakang Catat adanya
- Imaturitas Neurologis fluktuasi tekanan
darah
Monitor VS
saat pasien
berbaring, duduk,
atau berdiri
Auskultasi
TD pada kedua
lengan dan
bandingkan
Monitor TD,
nadi, RR, sebelum,
selama, dan setelah
aktivitas
Monitor
kualitas dari nadi
Monitor
frekuensi dan irama
pernapasan
Monitor
suara paru
Monitor pola
pernapasan
abnormal
Monitor
suhu, warna, dan
kelembaban kulit
Monitor
sianosis perifer
Monitor
adanya cushing
triad (tekanan nadi
yang melebar,
bradikardi,
peningkatan
sistolik)
Identifikasi
penyebab dari
perubahan vital sign

4 Ketidakseimbangan NOC : NIC :


nutrisi kurang dari
v Nutritional Status : Nutrition
kebutuhan tubuh food and Fluid Management
Intake Kaji adanya alergi
Definisi : Intake nutrisi Kriteria Hasil : makanan
tidak cukup untuk
v Adanya Kolaborasi dengan
keperluan metabolisme peningkatan berat ahli gizi untuk
tubuh. badan sesuai menentukan jumlah
dengan tujuan kalori dan nutrisi
Batasan karakteristik : v Berat badan ideal yang dibutuhkan
- Berat badan 20 % atau sesuai dengan pasien.
lebih di bawah ideal tinggi badan Anjurkan pasien
- Dilaporkan adanya
v Mampu untuk meningkatkan
intake makanan yang mengidentifikasi intake Fe
kurang dari RDA kebutuhan nutrisi Anjurkan pasien
(Recomended Daily
v Tidak ada tanda untuk meningkatkan
Allowance) tanda malnutrisi protein dan vitamin
- Membran mukosa dan
v Tidak terjadi C
konjungtiva pucat penurunan berat
Berikan substansi
- Kelemahan otot yang badan yang berarti gula
digunakan untuk Yakinkan diet yang
menelan/mengunyah dimakan
- Luka, inflamasi pada mengandung tinggi
rongga mulut serat untuk
- Mudah merasa mencegah
kenyang, sesaat setelah konstipasi
mengunyah makanan Berikan makanan
- Dilaporkan atau fakta yang terpilih ( sudah
adanya kekurangan dikonsultasikan
makanan dengan ahli gizi)
- Dilaporkan adanya Ajarkan pasien
perubahan sensasi rasa bagaimana
- Perasaan membuat catatan
ketidakmampuan untuk makanan harian.
mengunyah makanan Monitor jumlah
- Miskonsepsi nutrisi dan
- Kehilangan BB dengan kandungan kalori
makanan cukup Berikan informasi
- Keengganan untuk tentang kebutuhan
makan nutrisi
- Kram pada abdomen Kaji kemampuan
- Tonus otot jelek pasien untuk
- Nyeri abdominal mendapatkan nutrisi
dengan atau tanpa yang dibutuhkan
patologi
- Kurang berminat Nutrition
terhadap makanan Monitoring
- Pembuluh darah kapiler BB pasien dalam
mulai rapuh batas normal
- Diare dan atau Monitor adanya
steatorrhea penurunan berat
- Kehilangan rambut badan
yang cukup banyak Monitor tipe dan
(rontok) jumlah aktivitas
- Suara usus hiperaktif yang biasa
- Kurangnya informasi, dilakukan
misinformasi Monitor interaksi
anak atau orangtua
Faktor-faktor yang selama makan
berhubungan : Monitor lingkungan
Ketidakmampuan selama makan
pemasukan atau Jadwalkan
mencerna makanan atau pengobatan dan
mengabsorpsi zat-zat tindakan tidak
gizi berhubungan selama jam makan
dengan faktor biologis, Monitor kulit kering
psikologis atau ekonomi. dan perubahan
pigmentasi
Monitor turgor kulit
Monitor kekeringan,
rambut kusam, dan
mudah patah
Monitor mual dan
muntah
Monitor kadar
albumin, total
protein, Hb, dan
kadar Ht
Monitor makanan
kesukaan
Monitor
pertumbuhan dan
perkembangan
Monitor pucat,
kemerahan, dan
kekeringan jaringan
konjungtiva
Monitor kalori dan
intake nuntrisi
Catat adanya
edema, hiperemik,
hipertonik papila
lidah dan cavitas
oral.
Catat jika lidah
berwarna magenta,
scarlet

5 Resiko infeksi NOC : NIC :


v Immune Status Infection Control
Definisi : Peningkatan
v Knowledge : (Kontrol infeksi)
resiko masuknya Infection control Bersihkan
organisme patogen v Risk control lingkungan setelah
Kriteria Hasil : dipakai pasien lain
Faktor-faktor resiko : v Klien bebas dari
Pertahankan
- Prosedur Infasif tanda dan gejala teknik isolasi
- Ketidakcukupan infeksi Batasi
pengetahuan untuk
v Mendeskripsikan pengunjung bila
menghindari paparan proses penularan perlu
patogen penyakit, factor
Instruksikan
- Trauma yang pada pengunjung
- Kerusakan jaringan mempengaruhi untuk mencuci
dan peningkatan penularan serta tangan saat
paparan lingkungan penatalaksanaann berkunjung dan
- Ruptur membran ya, setelah berkunjung
amnion v Menunjukkan meninggalkan
- Agen farmasi kemampuan untuk pasien
(imunosupresan) mencegah Gunakan sabun
- Malnutrisi timbulnya infeksi antimikrobia untuk
- Peningkatan paparan
v Jumlah leukosit cuci tangan
lingkungan patogen dalam batas
Cuci tangan
- Imonusupresi normal setiap sebelum dan
- Ketidakadekuatan v Menunjukkan sesudah tindakan
imum buatan perilaku hidup kperawtan
- Tidak adekuat sehat Gunakan baju,
pertahanan sekunder sarung tangan
(penurunan Hb, sebagai alat
Leukopenia, penekanan pelindung
respon inflamasi) Pertahankan
- Tidak adekuat lingkungan aseptik
pertahanan tubuh primer selama
(kulit tidak utuh, trauma pemasangan alat
jaringan, penurunan Ganti letak IV
kerja silia, cairan tubuh perifer dan line
statis, perubahan sekresi central dan dressing
pH, perubahan sesuai dengan
peristaltik) petunjuk umum
- Penyakit kronik Gunakan kateter
intermiten untuk
menurunkan infeksi
kandung kencing
Tingktkan intake
nutrisi
Berikan terapi
antibiotik bila perlu

Infection
Protection
(proteksi terhadap
infeksi)
Monitor tanda
dan gejala infeksi
sistemik dan lokal
Monitor hitung
granulosit, WBC
Monitor
kerentanan
terhadap infeksi
Batasi
pengunjung
Saring
pengunjung
terhadap penyakit
menular
Partahankan
teknik aspesis pada
pasien yang
beresiko
Pertahankan
teknik isolasi k/p
Berikan
perawatan kuliat
pada area epidema
Inspeksi kulit dan
membran mukosa
terhadap
kemerahan, panas,
drainase
Ispeksi kondisi
luka / insisi bedah
Dorong
masukkan nutrisi
yang cukup
Dorong masukan
cairan
Dorong istirahat
Instruksikan
pasien untuk minum
antibiotik sesuai
resep
Ajarkan pasien
dan keluarga tanda
dan gejala infeksi
Ajarkan cara
menghindari infeksi
Laporkan
kecurigaan infeksi
Laporkan kultur
positif

6 Intoleransi aktivitas b/d NOC : NIC :


curah jantung yang
v Energy Energy
rendah, ketidakmampuan conservation Management
memenuhi metabolisme
v Self Care : ADLs v Observasi adanya
otot rangka, kongesti Kriteria Hasil : pembatasan klien
pulmonal yang
v Berpartisipasi dalam melakukan
menimbulkan hipoksinia, dalam aktivitas aktivitas
dyspneu dan status fisik tanpa disertai
v Dorong anal untuk
nutrisi yang buruk peningkatan mengungkapkan
selama sakit tekanan darah, perasaan terhadap
nadi dan RR keterbatasan
Intoleransi aktivitas b/d
v Mampu melakukan
v Kaji adanya factor
fatigue aktivitas sehari hari yang menyebabkan
Definisi : Ketidakcukupan (ADLs) secara kelelahan
energu secara fisiologis mandiri v Monitor nutrisi dan
maupun psikologis untuk sumber energi
meneruskan atau tangadekuat
menyelesaikan aktifitas v Monitor pasien akan
yang diminta atau adanya kelelahan
aktifitas sehari hari. fisik dan emosi
secara berlebihan
Batasan karakteristik : v Monitor respon
a. melaporkan secara kardivaskuler terha
verbal adanya kelelahan dap aktivitas
atau kelemahan. v Monitor pola tidur
b. Respon abnormal dari dan lamanya
tekanan darah atau nadi tidur/istirahat pasien
terhadap aktifitas
c. Perubahan EKG yang Activity Therapy
menunjukkan aritmia v Kolaborasikan
atau iskemia dengan Tenaga
d. Adanya dyspneu atau Rehabilitasi Medik
ketidaknyamanan saat dalammerencanaka
beraktivitas. n progran terapi
yang tepat.
Faktor factor yang v Bantu klien untuk
berhubungan : mengidentifikasi
Tirah Baring atau aktivitas yang
imobilisasi mampu dilakukan
Kelemahan v Bantu untuk memilih
menyeluruh aktivitas konsisten
Ketidakseimbangan yangsesuai dengan
antara suplei oksigen kemampuan fisik,
dengan kebutuhan psikologi dan social
Gaya hidup yang v Bantu untuk
dipertahankan. mengidentifikasi
dan mendapatkan
sumber yang
diperlukan untuk
aktivitas yang
diinginkan
v Bantu untuk
mendpatkan alat
bantuan aktivitas
seperti kursi roda,
krek
v Bantu untu
mengidentifikasi
aktivitas yang
disukai
v Bantu klien untuk
membuat jadwal
latihan diwaktu
luang
v Bantu
pasien/keluarga
untuk
mengidentifikasi
kekurangan dalam
beraktivitas
v Sediakan penguatan
positif bagi yang
aktif beraktivitas
v Bantu pasien untuk
mengembangkan
motivasi diri dan
penguatan
v Monitor respon fisik,
emoi, social dan
spiritual

7 Cemas b/d penyakit NOC : NIC :


kritis, takut kematian
v Anxiety control Anxiety Reduction
atau kecacatan,
v Coping (penurunan
perubahan peran dalam
v Impulse control kecemasan)
lingkungan social atau Kriteria Hasil : Gunakan
ketidakmampuan yang
v Klien mampu pendekatan yang
permanen. mengidentifikasi menenangkan
dan Nyatakan
Definisi : mengungkapkan dengan jelas
Perasaan gelisah yang gejala cemas harapan terhadap
tak jelas dari
v Mengidentifikasi, pelaku pasien
ketidaknyamanan atau mengungkapkan Jelaskan semua
ketakutan yang disertai dan menunjukkan prosedur dan apa
respon autonom (sumner tehnik untuk yang dirasakan
tidak spesifik atau tidak mengontol cemas selama prosedur
diketahui oleh individu);
v Vital sign dalam
Pahami
perasaan keprihatinan batas normal prespektif pasien
disebabkan dari
v Postur tubuh, terhdap situasi stres
antisipasi terhadap ekspresi wajah,
Temani pasien
bahaya. Sinyal ini bahasa tubuh dan untuk memberikan
merupakan peringatan tingkat aktivitas keamanan dan
adanya ancaman yang menunjukkan mengurangi takut
akan datang dan berkurangnya Berikan
memungkinkan individu kecemasan informasi faktual
untuk mengambil mengenai
langkah untuk diagnosis, tindakan
menyetujui terhadap prognosis
tindakan Dorong keluarga
Ditandai dengan untuk menemani
- Gelisah anak
- Insomnia Lakukan back /
- Resah neck rub
- Ketakutan Dengarkan
- Sedih dengan penuh
- Fokus pada diri perhatian
- Kekhawatiran Identifikasi
- Cemas tingkat kecemasan
Bantu pasien
mengenal situasi
yang menimbulkan
kecemasan
Dorong pasien
untuk
mengungkapkan
perasaan,
ketakutan, persepsi
Instruksikan
pasien
menggunakan
teknik relaksasi
Barikan obat
untuk mengurangi
kecemasan

8 Kurang pengetahuan b/d NOC : NIC :


keterbatasan v Kowlwdge : disease Teaching : disease
pengetahuan process Process
penyakitnya, tindakan
v Kowledge : health
1. Berikan penilaian
yang dilakukan, obat Behavior tentang tingkat
obatan yang diberikan, Kriteria Hasil : pengetahuan
komplikasi yang mungkin
v Pasien dan pasien tentang
muncul dan perubahan keluarga proses penyakit
gaya hidup menyatakan yang spesifik
pemahaman 2. Jelaskan
Definisi : tentang penyakit, patofisiologi dari
Tidak adanya atau kondisi, prognosis penyakit dan
kurangnya informasi dan program bagaimana hal ini
kognitif sehubungan pengobatan berhubungan
dengan topic spesifik. v Pasien dan dengan anatomi
keluarga mampu dan fisiologi,
Batasan karakteristik : melaksanakan dengan cara yang
memverbalisasikan prosedur yang tepat.
adanya masalah, dijelaskan secara
3. Gambarkan
ketidakakuratan benar tanda dan gejala
mengikuti instruksi,
v Pasien dan yang biasa muncul
perilaku tidak sesuai. keluarga mampu pada penyakit,
menjelaskan dengan cara yang
Faktor yang kembali apa yang tepat
berhubungan : dijelaskan 4. Gambarkan
keterbatasan kognitif, perawat/tim proses penyakit,
interpretasi terhadap kesehatan lainnya. dengan cara yang
informasi yang salah, tepat
kurangnya keinginan 5. Identifikasi
untuk mencari informasi, kemungkinan
tidak mengetahui penyebab, dengna
sumber-sumber cara yang tepat
informasi. 6. Sediakan
informasi pada
pasien tentang
kondisi, dengan
cara yang tepat
7. Hindari harapan
yang kosong
8. Sediakan bagi
keluarga atau SO
informasi tentang
kemajuan pasien
dengan cara yang
tepat
9. Diskusikan
perubahan gaya
hidup yang mungkin
diperlukan untuk
mencegah
komplikasi di masa
yang akan datang
dan atau proses
pengontrolan
penyakit
10. Diskusikan pilihan
terapi atau
penanganan
11. Dukung pasien
untuk
mengeksplorasi
atau mendapatkan
second opinion
dengan cara yang
tepat atau
diindikasikan
12. Eksplorasi
kemungkinan
sumber atau
dukungan, dengan
cara yang tepat
13. Rujuk pasien
pada grup atau
agensi di komunitas
lokal, dengan cara
yang tepat
14. Instruksikan
pasien mengenai
tanda dan gejala
untuk melaporkan
pada pemberi
perawatan
kesehatan, dengan
cara yang tepat
DAFTAR PUSTAKA

Smeltzer, Suzanne C. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah Brunner &


Suddarth, alihbahasa; Agung Waluyo, editor; Monica Ester, Edisi
8. EGC: Jakarta.

Carolin, Elizabeth J. 2002. Buku Saku Patofisiologi. EGC: Jakarta.

Doenges, Marilynn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman Untuk


Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, alih bahasa; I
Made Kariasa, editor; Monica Ester, Edisi 3. EGC: Jakarta.

Tucker, Susan Martin. 1998. Standar Perawatan Pasien; Proses Keperawatan,


Diagnosis dan Evaluasi, Edisi 5. EGC. Jakarta.

Soeparman, Sarwono Waspadji. 1998. Ilmu Penyakit Dalam, Jilid II. Penerbit
FKUI: Jakarta.

Long, Barbara C. 1998. Perawatan Medikal Bedah. EGC: Jakarta.