Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Emosi adalah suatu perasaan yang mendorong individu untuk merespon atau
bertingkah laku terhadap stimulus, baik yang berasal dari dalam maupun dari luar
dirinya. Emosi berkaitan dengan perubahan fisiologis dan berbagai pikiran. Jadi,
emosi merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan manusia, karena
emosi dapat merupakan motivator perilaku dalam arti meningkatkan, tapi juga
dapat mengganggu perilaku intensional manusia.

Masa remaja merupakan puncak emosionalitas, yaitu perkembangan emosi


yang tinggi. Pertumbuhan fisik, terutama organ-organ seksual mempengaruhi
berkembangnya emosi atau perasaan-perasaan dan dorongan dorongan baru yang
dialami sebelumnya, seperti perasaan cinta, rindu, dan keinginan untuk berkenalan
lebih intim dengan lawan jenis.

Dalam pembahasan ini, penulis lebih focus pada materi perkembangan


emosi pada remaja. Dimulai dari pengertian emosi, bentuk-bentuk emosi, proses
terjadinya emosi, karakteristik perkembangan emosi pada remaja, faktor yang
mempengaruhi perkembangan emosi, perbedaan individual dalam perkembangan
emosi ,upaya mengembangkan emosi remaja.

1
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan emosi?
2. Apa yang menjadi bentuk-bentuk emosi ?
3. Bagaimana proses terjadinya emosi ?
4. Bagaimana hubungan emosi dan tingkah laku?
5. Apa yang menjadi karakteristik perkembangan emosi remaja?
6. Apa faktor yang mempengaruhi perkembangan emosi remaja?
7. Bagaimana perbedaan individual dalam perkembangan emosi?
8. Bagaimana upaya mengembangkan emosi remaja dan implikasinya bagi
pendidikan?

C. Tujuan Penulisan
1. Mengetahui Apa yang dimaksud dengan emosi
2. Mengetahui Apa yang menjadi bentuk-bentuk emosi
3. Mengetahui Bagaimana proses terjadinya emosi
4. Mengetahi Bagaimana hubungan emosi dan tingkah laku
5. Mengetahui apa yang menjadi karakteristik perkembangan emosi
remaja
6. Mengetahi Apa faktor yang mempengaruhi perkembangan emosi
remaja
7. Mengetahi Bagaimana perbedaan individual dalam perkembangan
emosi
8. Mengetahi Bagaimana upaya mengembangkan emosi remaja dan
implikasinya bagi pendidikan

2
D. Manfaat Penulisan
Dengan disusunnya makalah Psikologi Perkembangan Remaja mengenai
materi Konsep Dasar Perkembangan Emosi dan Gender pada Remaja,
diharapkan dapat bermanfaat bagi pembaca untuk mengetahui lebih dalam
tentang materi ini. Materi ini di harapkan dapat memberikan ilmu pengetahuan
tentang Konsep Dasar Perkembangan Emosi dan Gender pada Remaja.

3
BAB II
PEMBAHASAN

A. Konsep Dasar Perkembangan Emosi pada Remaja


1. Pengertian Emosi

Emosi berasal dari bahasa Latin yaitu emovere, yang berarti bergerak
menjauh. Arti kata ini menyiratkan bahwa kecenderungan bertindak
merupakan hal mutlak dalam emosi. Daniel Goleman (2002) mengatakan
bahwa emosi merujuk pada suatu perasaan dan pikiran yang khas, suatu
keadaan biologis dan psikologis dan serangkaian kecenderungan untuk
bertindak. Emosi merupakan reaksi terhadap rangsangan dari luar dan dalam
diri individu, sebagai contoh emosi gembira mendorong perubahan suasana
hati seseorang, sehingga secara fisiologi terlihat tertawa, emosi sedih
mendorong seseorang berperilaku menangis.

Chaplin (2002, dalam Safaria, 2009) merumuskan emosi sebagai suatu


keadaan yang terangsang dari organisme mencakup perubahan-perubahan
yang disadari, yang mendalam sifatnya, dan perubahan perilaku. Emosi
cenderung terjadi dalam kaitannya dengan perilaku yang mengarah
(approach) atau menyingkir (avoidance) terhadap sesuatu. Perilaku tersebut
pada umumnya disertai adanya ekspresi kejasmanian sehingga orang lain
dapat mengetahui bahwa seseorang sedang mengalami emosi. Jika seseorang
mengalami ketakutan mukanya menjadi pucat, jantungnya berdebar-debar,
jadi adanya perubahan-perubahan kejasmanian sebagai rangkaian dari emosi
yang dialami oleh individu yang bersangkutan Walgito (1994, dalam Safaria,
2009).

Dapat disimpulkan bahwa emosi adalah suatu perasaan dan pikiran


yang khas, suatu keadaan biologis dan psikologis dan serangkaian
kecenderungan untuk bertindak terhadap rangsangan dari luar dan dalam diri
individu mencakup perubahan-perubahan yang disadari, yang mendalam

4
sifatnya, dan perubahan perilaku pada umumnya disertai adanya ekspresi
kejasmanian.

2. Bentuk-Bentuk Emosi

Ada berbagai bentuk dari emosi yang biasa terjadi pada masa remaja.
Dan sebenarnya pola dari emosi masa remaja adalah sama dengan pola
emosi masa kanak-kanak, hanya saja perbedaannya terletak pada macam
dan derajat rangsangan yang membangkitkan emosi dan pola pengendalian
yang dilakukan individu terhadap emosinya.

Daniel Goleman (1995) (dalam Muhammad Ali & Muhammad


Asrari, 2004) mengidentifikasi sejumlah kelompok emosi, yaitu sebagai
berikut:

Amarah, didalamnya meliputi brutal, ngamuk, benci, marah


besar, jengkel, kesal hati, terganggu, rasa pahit, berang,
tersinggung, bermusuhan, tindak, kekerasan, dan kebencian
patologis.
Kesedihan, didalamnya meliputi pedih, sedih, muram, suram,
melankolis, mengasihani diri, kesepian, ditolak, putus asa, dan
depresi.
Rasa takut, didalamnya meliputi cemas, takut, gugup, khawatir,
waswas, perasaan takut sekali, sedih, waspada, tidak tenang,
ngeri, kecut, panik, dan fobia. Remaja umunya merasa takut
hanya pada kejadian-kejadian yang berbaya atau traumatik.
Kenikmatan, didalamnya meliputi bahagia, gembira, ringan puas,
riang, senang, terhibur, bangga, kenikmatan indrawi, takjub,
terpesona, puas, rasa terpenuhi, girang, senang sekali, dan mania.
Cinta, didalamnya meliputi penerimaan, persahabatan,
kepercayaan, kebaikan, hati, rasa dekat hati, bakti, hormat,
kasmaran, dan kasih sayang.
Terkejut, didalamnya meliputi terkesiap, takjub, dan terpana.

5
Jengkel, didalamnya meliputi hina, jijik, muak, mual, benci,tidak
suka, dan mau muntah.
Malu, didalamnya meliputi rasa bersalah, malu hati, kesal hati,
menyesal, hina, aib, dan hancur lebur.

3. Proses Terjadinya Emosi


Proses kemunculan emosi melibatkan faktor psikologis maupun
faktor fisiologis. Kebangkitan emosi kita pertama kali muncul akibat
adanya stimulus atau sebuah peristiwa, yang bisa netral, positif, ataupun
negatif. Stimulus tersebut kemudian ditangkap oleh reseptor kita, lalu
melalui otak. Kita menginterpretasikan kejadian tersebut sesuai dengan
kondisi pengalaman dan kebiasaan kita dalam mempersepsikan sebuah
kejadian. Interpretasi yang kita buat kemudian memunculkan perubahan
secara internal dalam tubuh kita. Perubahan tersebut misalnya napas
tersengal, mata memerah, keluar air mata, dada menjadi sesak, perubahan
raut wajah, intonasi suara, cara menatap dan perubahan tekanan darah
kita.
Pandangan teori kognitif menyebutkan emosi lebih banyak
ditentukan oleh hasil interpretasi kita terhadap sebuah peristiwa. Kita
bisa memandang dan menginterpretasikan sebuah peristiwa dalam
persepsi atau penilai negatif, tidak menyenangkan, menyengsarakan,
menjengkelkan mengecewakan. Persepsi yang lebih positif seperti
sebuah kewajaran, hal yang indah, sesuatu yang mengharukan,atau
membahagiakan Interpretasi yang kita buat atas sebuah peristiwa
mengkondisikan dan membentuk perubahan fisiologis kita secara
internal, ketika kita menilai sebuah peristiwa secara lebih positif maka
perubahan fisiologis kita pun menjadi lebih positif.

4. Hubungan Antara Emosi dan Tingkah Laku


Melalui teori kecerdasan emosional yang dikembangkannya,
Daniel Goleman (dalam Muhammad Ali & Muhammad Asrari, 2004)

6
mengemukakan sejumlah ciri utama pikiran emosional sebagai bukti
bahwa emosi memainkan peranan penting dalam pola berpikir maupun
tingkah laku individu. Adapun ciri utama pikiran emosional tersebut
adalah sebagai berikut.
a. Respon yang cepat tetapi ceroboh
Dikatakannya bahwa pikiran yang emosional itu ternyata jauh lebih
cepat dari pada pikiran yang rasional karena pikiran emosional
sesungguhnya langsung melompat bertindak tanpa mempertimbangkan
apapun yang akan dilakukakanya. Karena kecepatannya itu sehingga
sikap hati-hati dan proses analitis dalam berpikir di kesampingkan begitu
saja sehingga tidak jarang menjadi ceroboh. Padahal, kehati-hatian dan
analitis itu sesungguhnya merupakan ciri-ciri khas dari proses kerja akal
dalam berpikir. Namun dengan demikian disisi lain, pikiran emosional ini
juga memiliki suatu kelebihan, yaitu membawa perasaan kepastian yang
sangat kuat dan di luar jangkauan normal sebagaian yang dilakukan oleh
pikiran nasional. Misalnya, seorang wanita yang karena sangat takut dan
terkejutnya melihat binatang yang selama ini sangat ditakutinya sehingga
dia mampu melompati parit yang menurut ukuran pikiran rasional tidak
akan mungkin dapat dilakukannya.

b. Mendahulukan Perasaan Kemudian Pikiran


Pada dasarnya, pikiran nasional sesungguhnya membutuhkan
waktu sedikit lama dibandingkan dengan pikiran emosional sehingga
dorongan yang lebih dahulu muncul adalah dorongan hati atau emosi,
kemudian dorongan pikiran dalam urutan respons yang cepat, perasaan
mendahului atau minimal berjalan serempak dengan pikiran. Reaksi
emosional gerak cepat ini lebih tampak menonjol dalam situasi-situasi
yang mendesak dan membutuhkan tindakan penyelamatan diri.
Keputusan model ini menyedian individu dalam sekejap untuk siaga
menghadapi keadaan darurat. Disinilah keuntungan keputusan-keputusan
cepat yang didahului oleh perasaan atau emosi. Namun demikian, disisi

7
lain, ada juga reaksi emosional jenis lambat yang lebih dahulu melakukan
pe nggodokan dalam pikiran sebelum mengalirlkannya kedalam
perasaan. Keputusan model kedua ini sifatnya lebih disengaja dan
biasanya individu lebih sadar terhadap gagasan yang akan
dikemukakannya. Dalam reaksi emosional jenis ini, ada suatu
pemahaman yang lebih luar dan pikiran memainkan peranan kunci dalam
menentukan emosi-emosi apa yang akan dicetuskannya.

c. Memperlakukan Realitas Sebagai Realitas Simbolik


Logika pikiran emosional yang disebut juga logika hati bersifat
asosiatif. Artinya, memandang unsur-unsur yang melambangkan suatu
realitas itu sama dengan realits itu sendiri. Oleh sebab itu, seringkali
berbagai perumpamaan, pantun, kiasan, gambaran, karya seni, novel,
film, puisi, nyanyian, opera, dan teater secara langsung ditujukan secara
emosional. Para ulama, penyiar agama, dan para guru spiritual termasyur
ketika menyampaikan ajaran-ajarannya senantiasa berusaha menyentuh
hati pengikutnya dengan cara berbicara dalam bahasa emosi, dan
mengajar melalui perumpamaan, fabel, ibarat, dan kisah-kisah yang
sangat menyentuh perasaan. Oleh karena itu, ajaran orang-orang bijak
dengan cepat mudah dimengerti, dihayati, dan diterima oleh para
pengikutnya. Jika dilihat dari sudut pandang pikiran rasional,
sesungguhnya simbol-simbol dan berbagai ritual keagamaan tidak
sedemikian bermakna jika dibandingkan dengan sudut pandang pikiran
emosional.
d. Masa Lampau di Posisikan sebagai Masa Sekarang
Dari sudut pandang ini, apabila sejumlah ciri suatu peristiwa
tampak serupa dengan kenangan masa lampau yang mengandung muatan
emosi maka pikiran emosional akan menggapinya memicu perasaan yang
berkaitan dengan peristiwa yang di ingat. Pikiran emosional bereaksi
terhadap keadaan sekarang seolah-olah adalah masa lampau.
Kesulitannya adalah terutama apabila penilaian terhadap masa lampau itu

8
cepat dan otomatis, barangkali kita menyadari bahwa yang dahulu
memang begitu, ternyata sekarang sudah tidak lagi seperti itu. Dalam
konteks ini, Sigmund Freud melukiskan dengan bagus sekali, yaitu
bahwa seseorang yang pada masa kanak-kanak sering mendapat pukulan
yang menyakitkan, setelah dewasa akan bereaksi terhadap hardikan atau
kemaran dengan perasaan sangat takut atau kebencian, meskipun
sebenarnya hardikan atau kemarahan itu tidak lagi menimbulkan
ancaman seperti yang dialami pada masa lampau.
e. Realitas yang ditentukan Oleh Keadaan
Pikiran emosional individu banyak ditentukan oleh keadaan dan di
diktekan oleh perasaan tertentu yang sedang menonjol pada saat itu. Cara
seseorang berpikir dan bertindak pada saat merasa senang dan romantis
akan sangat berbeda dengan perilakunya ketika sedang dalam keadaan
sepi, marah, atau cemas. Dalam mekanisme emosi itu ada repertoar
pikiran, reaksi, bahkan ingatan sendiri. Repertoar menjadi sangat
menonjol pada saat disertai intensitas emosi yang tinggi.
Selain teori kecerdasan emosional yang dapat digunakan untuk
menjelaskan hubungan atau pengaruh emosi terhadap tingkah laku, ada
juga sejumlah teori emosi yang lain yang juga menjelasakannya. Adapun
teori-teori tersebut sebagai berikut :
a) Teori Sentral
Teori sentral dikemukakan oleh Walter B. Canon. Menurut teori
ini, gejala kejasmanian termasuk tingkah laku merupakan akibat dari
emosi yang dialami oleh individu. Jadi, individu mengalami emosi lebih
dahulu, baru kemudian mengalami perubahan-perubahan dalam
jasmaninya. Dengan demikian, menurut teori ini dapat dikatakan bahwa
emosilah yang menimbulkan tingkah laku, dan bukan sebaliknya.
b) Teori Peripheral
Teori ini dikemukakan oleh James dan Lange. Menurut teori ini
dikatakan bahwa gejala-gejala kejasmanian atau tingkah laku seseorang
bukanlah merupakan akibat dari emosi, melainkan emosi yang alami oleh

9
individu itu sebagai akibat dari gejala-gejala kejasmanian. Menurut teori
ini seseorang bukany karena takut kemudian lari, melainkan karena lari
menyebabkan seseorang jadi takut. Demikian juga, seseorang bukan
menangis karena sedih, tetapi karena menangis, ia menjadi sedih.
Seandainya seseorang itu tidak menangis, kemungkinan tidak akan
menjadi teramat sedih. Dendan demikian, menurut terori ini dapat di
katakan bahwa tingkat laku yang menimbulkan emosi, dan bukan
sebaliknya (Chaplin dalam Muhammad Ali & Muhammad Asrari, 2004).
c) Teori Kepribadian
Menurut teori ini, emosi merupakan suatu aktivitas pribadi dimana
pribadi ini tidak dapat dipisah-pisahkan. Oleh karena itu, emosi meliputi
perubahan-perubahan jasmani.
d) Teori Kedaruratan Emosi
Teori ini dikemukakan oleh Cannon. Teori ini mengemukakan
bahwa reaksi yang mendalam dari kecepatan jantung yang semakin
bertambah akan menambah cepatnya aliran darah menuju ke urat-urat,
hambatan pada pencernaan, pengembangan atau pemuaian kantung-
kantung didalam paru-paru dan proses lainnya yang mencirikan secara
khas keadaan emosional seseorang, kemudian menyiapkan organisme
untuk melarikan diri atau berkelahi, sesuai dengan penilaian terhadap
situasi yang ada oleh kulit otak sebaliknya (Chaplin dalam Muhammad
Ali & Muhammad Asrari, 2004).
Diskusi dalam khanazah psikologi tentang masalah emosi adalah
mengenai hubungan antara perasaan dengan emosi dan juga hubungan
antara emosi dengan motivasi. Pengalaman menunjukkan bahwa apabila
seseorang termotivasi maka akan terangsang secara emosional untuk
melakukan suatu kegiatan dengan intensitas tinggi. Dengan demikian,
dapat dikatakan bahwa emosi berhubungan erat dengan motivasi.
Berdasarkan uraian diatas, kita sependapat bahwa perbuatan atau
tingkah laku seseorang merupakan akibat dari emosi yang dialami orang
tersebut, bukan sebaliknya. Sebagaimana dicontohkan diatas, seseorang

10
bukan susah karena menangis, melainkan seseorang menangis karena
susah. Hubungan dengan motivasi adalah karena termotivasi, seseorang
kemudian mengalami emosi yang pada akhirnya berbuat sesuatu atau
bertingkah laku tertentu.

5. Karakteristik Perkembangan Emosi Remaja


Masa remaja dianggap sebagai periode badai dan tekanan, suatu
masa saat ketegangan emosi meninggi sebagai akibat perubahan fisik dan
kelenjar. Meningginya emosi disebabkan disebabkan remaja berada di
bawah tekanan sosial, dan selama masa kanak-kanak, ia kurang
mempersiapkan diri untuk menghadapi keadaan itu. Tidak semua remaja
mengalami masa badai dan tekanan. Sebagian dari mereka memang
mengalami ketidakstabilan emosi sebagai dampak dari penyesuaian diri
terhadap pola perilaku baru dan harapan sosial baru.
Secara garis besar, masa remaja dapat di bagi kedalam empat
periode, yaitu periode praremaja, remaja awal, remaja tengah, dan remaja
akhir. Adapun karakteristik untuk setiap periode adalah sebagaimana
dipaparkan berikut ini.
a. Periode Praremaja
Selama periode ini terjadi gejala-gejala yang hampir sama antara
remaja pria maupun wanita. Perubahan fisik belum tampak jelas, tetapi
pada remaja putri biasanya memperlihatkan penambahan berat badan yang
cepat sehingga mereka merasa gemuk. Gerakan-gerakan mereka mulai
menjadi kaku. Perubahan ini disertai sifat kepekaan terhadap rangsangan
dari luar dan respons mereka biasanya berlebihan sehingga mereka mudah
tersinggung dan cengeng, tetapi juga cepat merasa senang atau bahkan
meledak-ledak.
b. Periode Remaja Awal
Selama periode ini perkembangan fisik yang semakin kuat
tampak adalah perubahan fungsi alat kelamin. Karena perubahan alat
kelamin semakin nyata, remaja seringkali mengalami kesukaran dalam

11
menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan itu. Akibatnya, tidak
jarang mereka cenderung menyendiri sehingga merasa terasing, kurang
perhatian dari orang lain, atau bahkan merasa tidak ada orang yang mau
memperdulikannya. Kontrol terhadap dirinya bertambah sulit dan mereka
cepat marah dengan cara-cara yang kurang wajar untuk meyakinkan dunia
sekitarnya. Perilaku seperti ini sesungguhnya terjadi karena adanya
kecemasan terhadap dirinya sendiri sehingga muncul dalam reaksi yang
kadang-kadang tidak wajar.
c. Periode remaja tengah
Tanggung jawab hidup yang harus semakin ditingkatkan oleh
remaja, yaitu mampu memikul sendiri juga menjadi masalah tersendiri
bagi mereka.Karena tuntutan peningkatan tanggung jawab tidak hanya
datang dari orang tua atau anggota keluarganya tetapi juga dari masyarakat
sekitar nya. Tidak jarang masyarakat juga menjadi masalah bagi remaja.
Melihat fenomena yang sering terjadi dalam masyarakat yang seringkali
juga menunjukan adanya kontradiksi denga nilai-nilai moral yang mereka
ketahui, tidak jarang remaja mulai meragukan tentang ap yang disebut baik
atau buruk. Akibatnya, remaja seringkali ingin membentuk nilai-nilai
mereka sendiri yang mereka anggap benar, baik, dan pantas untuk
dikembangkan dikalangan mereka sendiri. Lebih-lebih jika orang tua yang
lebih dewasa disekitarnya ingin memaksakan nilai-nilainya agar dipatuhi
oleh remaja tanpa disertai dengan alasan yang masuk akal menurut
mereka.
d. Periode Remaja Akhir
Selama periode ini remaja mulai memandang dirinya sebagai orang
dewasa dan mulai mampu menunjukkan pemikiran, sikap , perilaku,yang
semakin dewasa. Oleh sebab itu, orang tua dan masyarakat mulai
memberikan kepercayaan yang selayaknya kepada mereka. Interaksi
dengan orang tua juga menjadi lebih bagus dan lancar karena mereka
sudah memiliki kebebasan penuh serta emosinya pun stabil. Pilihan arah
sudah semakin jelas dan mulai mampu mengambil pilihan dan keputusan

12
tentang arah hidupannya secara lebih bijaksana meskipun belum bis secara
penuh. Mereka juga mulai memilih cara-cara hidup yang dapat
dipertanggungjawab terhadap dirinya sendiri, orang tua, dan masyarakat.

6. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Emosi Remaja


Sejumlah penelitian tentang emosi menunjukkan bahwa
perkembangan emosi remaja sangat dipengaruhi oleh faktor kematangan
dan faktor belajar.Sejumlah faktor yang mempengaruhi perkembangan
emosi remaja adalah sebagai berikut.
a. Perubahan Jasmani
Perubahan jasmani yang ditunjukkan dengan adanya pertumbuhan
yang sangat cepat dari anggota tubuh. Ketidakseimbangan tubuh pada
pertumbuhan remaja ini sering mempunyai akibat yang tak tertduga pada
perkembangan emosi remaja. Hormon-hormon tertentu mulai berfungsi
sejalan dengan perkembangan alat kelaminnya sehingga dapat
menyebabkan rangsangan di dalam tuuh remaja dan seringkali
menimbulkan masalah dalam perkembangan emosi.
b. Perubahan Pola Interaksi dengan Orang Tua
Pola asuh orang tua terhadap anak, termasuk pada masa remaja
awal, sangat bervaiasi. Ada yang pola asuhnya menurut apa yang dianggap
terbaik oleh dirinya sendiri saja sehingga ada yang bersifat otoriter,
memanjakan anak, acuh tak acuh, tetapi ada juga yang penuh kasih sayang.
Perbedaan pola asuh orang tua dapat berpengaruh terhadap perbedaan
perkembangan emosi remaja.
Dalam konteks ini Gardner mengibaratkan dengan kalimat Too Big
to Spank yang maknanya bahwa remaja itu sudah terlalu besar untuk
dipukul. Pemberontakan terhadap orang tua menunjukkan bahwa mereka
berada dalam konflik dan ingin melepaskan diri dari penawasan orang tua.
Keadaan semacam ini sangat berpengaruh terhadap perkembangan emosi
remaja.
c. Perubahan Interaksi Teman Sebaya

13
Remaja seringkali membangun interaksi sesama teman sebayannya
secara khas dengan cara berkumpul untuk melakukan aktivitas bersama
dengan membentuk semacam geng. Pada masa ini para anggotanya
biasanya membutuhkan teman-teman untuk melawan otoritas atau
melakukan perbuatan yang tidak baik atau bahkan kejahatan bersama.
Faktor yang sering menimbulkan masalah emosi pada masa ini
adalah hubungan cinta dengan teman lawan jenis.
d. Perubahan Pandangan Luar
Faktor penting yang dapat memengaruhi perkembangan emosi
remaja selain perubahan-perubahan yang terjadi dalam diri remaja itu
sendiri adalah pandangan dunia luar.
Ada sejumlah perubahan pandangan dunia luar yang dapat
menyebabkan konflik-konflik emosional, yaitu sikap dunia luar terhadap
remaja sering tidak konsisten, dunia luar atau masyarakat masih
menerapkan nilai-nilai yang berbeda untuk remaja laki-laki dan
perempuan, seringkali kekosongan remaja dimanfaatkan oleh pihak luar
yang tidak bertanggung jawab
e. Perubahan Interaksi dengan Sekolah
Dalam pembaruan, para remaja sering terbentur pada nilai-nilai yang
tidak dapat mereka terima atau yang sama sekali bertentangan dengan
nilai-nilai yang menarik bagi mereka. Pada saat itu, timbullah idealisme
untuk mengubah lingkungannya. idealisme yang dikecewakan dapat
berkembang menjadi tingkah laku emosionalnya yang destruktif.
Sebaliknya, kalau remaja berhasil diberikan penyaluran yang positif untuk
mengembangkan idealismenya akan sangat bermanfaat bagi
perkembangan mereka sampai memasuki masa dewasa.

7. Perbedaan Individual Dalam Perkembangan Emosi


Maturasi perkembangan emosi mempunyai hubungan yang erat
dengan pertumbuhan dan perkembangan. Sejak lahir sampai kira-kira
umur 15, kebutuhan utama mereka adalah memperoleh kepercayaan dan

14
kepastian bahwa dirinya diterima oleh lingkungannya (Anna Alisjahbana
dalam Muhammad Ali & Muhammad Asrari, 2004). Penerimaan
lingkungan pada fase ini sangat menentukan bagi perkembangan hidup
selanjutnya. Kepercayaan yang diperoleh dari penerimaan lingkungan
dapat menjadi dasar kepercayaan terhadap diri sendiri dan kesehatan
perkembangan emosional. Apabila hubungan orang tua dan bayinya penuh
cinta kasih atau secara naluriah kehadiran bayi sangat diinginkan dan
dikasihi maka bayi hidup dalam lingkungan kasih sayang. Lain halnya
dengan kehadiran bayi berikutnya, orang tua kadang bersikap lain seperti
acuh tak acuh dan kurang perhatian, kehidupan emosionalnya akan
berbeda dengan bayi sebelumnya. Dengan demikian, secara individual
kedua anak tersebut akan mengalami perbedaan dalam perkembangan
emosi selanjutnya.
Proses perkembangan adalah saat anak menyadari permintaan dan
syarat-syarat hidup dalam suatu lingkungan. Meskipun masih dalam
lingkungan keluarga, batas-batas dalam bentuk disiplin mulai dapat
diberikan. Disiplin yang tegas tetapi disertai kasih sayang akan membantu
anak dalam perkembangan emosinya. Sebaliknya, jika disiplin dilakukan
dengan kekerasan yang tidak beralasan dan tanpa kasih sayang, akan
menimbulkan keragu-raguan pada diri anak dan anak akan kehilangan
kepercayaan diri. Apabila ini terjadi pada diri dua anak dalam satu
keluarga (seayah/seibu) secara individual, perkembangan emosinya akan
jelas bisa dibedakan.
Namun, kenyataannya sebagaimana telah diuraikan terdahulu, bahwa
manusia berbeda satu sama lain dalam berbagai hal, baik dalam bakat,
minat, keadaan jasmani, keadaan sosial, inteligensi, maupun
kepribadiannya. Berdasarkan faktor-faktor tersebut, perbedaan individual
dalam perkembangan emosi sangat dimungkinkan terjadi bahkan dapat
diramalkan akan terjadi.

15
8. Upaya Mengembangkan Emosi Remaja
Intervensi pendidikan untuk mengembangkan emosi remaja agar dapat
mengembangkan kecerdasan emosional, salah satu diantaranya adalah
dengan menggunakan intervensi yang dikemukakan oleh W,T. Grand
Consortium tentang Unsur-Unsur Aktif Program Pencegahan, yaitu
sebagai berikut.
a. Pengembangan Keterampilan Emosional
Cara yang dapat dilakukan untuk mengembangkan keterampilan
emosional individu adalah
Mengidentifikasi dan memberi nama atau label perasaan,
Mengungkapkan perasaan,
Menilai intensitas perasaan,
Mengelola perasaan,
Menunda pemuasaan,
Mengendalikan dorongan hati,
Mengurangi stres, dan
Mamahami perbedaan antara perasaan dan tindakan

b. Pengembangan Keterampilan Kognitif


Cara yang dapat dilakukan untuk mengembangkan keterampilan
kognitif individu adalah sebagai berikut.
Belajar melakukan dialog batin sebagai cara untuk menghadapi dan
mengatasi masalah atau memperkuat perilaku diri sendiri.
Belajar membaca dan menafsirkan isyarat-isyarat sosial, misalnya
mengenali pengaruh sosial terhadap perilaku dan melihat diri
sendiri dalam perspektif masyarakat yang lebih luas.
Belajar menggunakan langkah-langkah penyelesaian masalah dan
pengambilan keputusan, misalnya mengendalikan dorongan hati,
menentukan sasaran, mengidentifikasi tindakan-tindakan alternatif,
dan memperhitungkan akibat-akibat yang mungkin timbul.

16
Belajar memahami sudut pandang orang lain (empati).
Belajar memahami sopan santun, yaitu perilaku mana yang dapat
diterima dan mana yang tidak.
Belajar bersikap positif terhadap kehidupan.
Belajar mengembangkan kesadaran diri, misalnyan
mengembangkan harapan-harapan yang realistis tentang diri
sendiri.

c. Pengembangan Keterampilan Perilaku


Cara yang dapat dilakukan untuk mengembangkan keterampilan
perilaku individu adalah sebagai berikut.
Mempelajari keterampilan komunikasi nonverbal, misalnya
berkomunikasi melalui pandangan mata, ekspresi wajah, gerak-gerik,
posisi tubuh, dan sejenisnya.
Mempelajari keterampilan komunikasi verbal, misalnya mengajukan
permintaan dengan jelas, mendeskrisipkan sesuatu kepada orang lain
dengan jelas, menanggapi kritik secara efektif, menolak pengaruh
negatif, mendengarkan orang lain, dan ikut serta dalam kelompok-
kelompok kegiatan positif yang banyak menggunakan komunikasi
verbal.

Cara lain yang dapat digunakan sebagai intervensi edukatif untuk


mengembangkan emosi remaja agar dapat memiliki kecerdasan
emosional adalah dengan melakukan kegiatan-kegiatan yang didalamnya
terdapat materi yang dikembangkan oleh Daniel Goleman (dalam
Muhammad Ali & Muhammad Asrari, 2004) yang kemudian diberi nama
Self Science Curriculum, sebagaimana dipaparkan berikut ini.

Belajar Mengembangkan Kesadaran Diri


Caranya adalah mengamati sendiri dan mengenali perasaan
sendiri, menghimpun kosa kata untuk mengungkapkan

17
perasaan, serta memahami hubungan antara pikiran, perasaan,
dan respons emosional.
Belajar Mengambil Keputusan Pribadi
Caranya adalah mencermati tindakan-tindakan dan akibat-
akibatnya, memahami apa yang menguasai suatu keputusan,
pikiran, atau perasaan, serta menerapkan pemahaman ini ke
masalah-masalah yang cukup berat, seperti masalah seks dan
obat terlarang.
Belajar Mengelola Perasaan
Caranya adalah memantau pembicaraan sendiri untuk
menangkap pesan-pesan negatif yang terkandung didalamnya,
menyadari apa yang ada dibalik perasaan (misalnya, sakit hati
yang mendorong amarah), menemukan cara-cara untuk
menangani rasa takut, cemas, amarah, dan kesedihan.
Belajar Menangani Stres
Caranya adalah mempelajari pentingnya berolahraga,
perenungan yang terarah, dan metode relaksasi.
Belajar Berempati
Caranya adalah memahami perasaan dan masalah orang
lain, berpikir dengan sudut pandang orang lain, serta
menghargai perbedaan perasaan orang lain mengenai sesuatu.
Belajar Berkomunikasi
Caranya adalah berbicara mengenai perasaan secara efektif,
yaitu belajar menjadi pendengar dan penanya yang baik,
membedakan antara apa yang dilakukan atau dikatakan
seseorang dengan reaksi atau penilaian sendiri tentang sesuatu,
serta mengirimkan pesan dengan sopan dan bukannya
mengumpat.

18
Belajar Membuka Diri
Caranya adalah menghargai keterbukaan dan membina
kepercayaan dalam suatu hubungan serta mengetaui situasi
yang amat untuk membicarakan tentang perasaan diri sendiri.
Belajar Mengembangkan Pemahaman
Caranya adalah mengidentifikasi pola-pola kehidupan
emosional dan reaksi-reaksinya serta mengenai pola-pola
serupa pada orang lain.
Belajar Menerima Diri Sendiri
Caranya adalah merasa bangga dan memandang diri sendiri
dari sisi positif, mengenali kekuatan dan kelemahan diri anta,
serta belajar mampu untuk menertawakan diri anda sendiri.
Belajar Mengembangkan Tanggung Jawab Pribadi
Caranya adalah belajar rela memikul tanggung jawab,
mengenali-mengenali akibat-akibat dari keputusan dan
tindakan pribadi, serta menindaklanjuti komitmen yang telah
dibuat dan disepakati.
Belajar Mengembangkan Ketegasan
Caranya adalah mengungkapkan keperhatinan dan perasaan
anda tanpa rasa marah atau berdiam diri.
Mempelajari Dinamika Kelompok
Caranya adalah mau bekerja sama, memahami kapan dan
bagaimana memimpin, serta memahami kapan harus
mengikuti.
Belajar Menyelesaikan Konflik
Caranya adalah memahami bagaimana melakukan
konfirmasi acara jujur dengan orang lain, orang tua, atau guru,
serta memahami contoh penyelesaian menang-menang (win-
win solution) untuk merundingkan atau menyelesaikan suatu
perselisihan.

19
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
a. Emosi
1. Emosi adalah setiap kegiatan atau pergolakan pikiran, perasaan, nafsu
serta setiap keadaan mental yang hebat dan meluap-luap. Emosi juga
merujuk kepada suatu perasaan dan pikiran-pikiran yang khas, suatu
keadaan biologis dan psikologis, dan serangkaian kecenderungan untuk
bertindak. Adapun perasaan (feelings) adalah pengalaman yang disadari
yang diaktifkan baik oleh perangsang eksternal maupun oleh bermacam-
macam keadaan jasmaniah.
2. Ada 4 teori yang menjelaskan hubungan antara emosi dengan tingkah laku,
yaitu (a) teori sentral, (b) teori peripheral, (c) teori kepribadian, dan (d)
teori kecenderungan emosi.
3. Karakteristik emosi ada 4 periode, yaitu (a) periode praremaja, (b) periode
ramaja awal, (c) periode remja tengah, dan (d) periode remaja akhir.
4. Ada 5 faktor yang mempengaruhi perkembangan empsi remaja, yaitu (a)
perubahan jasmani, (b) perubahan pola interaksi dengan orang tua, (c)
perubahan interaksi dengan teman sebaya, (d) perubahan pandangan luar,
dan (e) perubahan interaksi dengan sekolah.
5. Upaya yang dapat dilakukan untuk mengembangkan emosi remaja agar
berkembang ke arah kecerdasan emosional antara lain dengan belajar
mengembangkan : (a) keterampilan emosional, (b) keterampilan kognitif,
dan (c) keterampilan perilaku

b. Saran

Saran dari penulis yaitu lebih banyak referensi lebih baik dalam
pembuatan makalah dan menambah pengetahuan kita terhadap masalah yang
menyangkut Psikologi Perkembangan Remaja.

20
DAFTAR PUSTAKA

Ali, Muhammad & Asrari, Muhammad. 2004. Psikologi Remaja. Jakarta : PT


Bumi Aksara
Elizabeth, Hurlock. 1980. Psikologi Perkembangan. Jakarta : Erlangga
Sarwono, Sarlito W. 2015. Psikologi Remaja. Jakarta : Rajawali
Santrock, John W. 2007. Psikologi Perkembangan Remaja Edisi 11 Jilid 1.
Jakarta : Erlangga

21

Anda mungkin juga menyukai