Anda di halaman 1dari 4

JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 1, No.

1, (2012) 1-4 1

Simulasi Pola Aliran dalam Tangki


Berpengaduk menggunakan Side-Entering
Impeller untuk Suspensi Padat-Cair
Brilliant Gustiayu S., Ayu Ratna S, Tantular Nurtono, Sugeng Winardi.
Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknologi Industri, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS)
Jl. Arief Rahman Hakim, Surabaya 60111
E-mail: swinardi@chem-eng.its.ac.id

Abstrak Tujuan penelitian ini untuk mempelajari dipengaruhi oleh distribusi konsentrasi dan deadzone (zona
pengaruh kecepatan impeller dan properti fluida terhadap pola mati). Deadzone (zona mati) adalah daerah yang tidak
aliran dalam side entering tangki berpengaduk. Pengadukan dilihat terpengaruhi oleh efek dari pengadukan itu sendiri. Deadzone
dari letak pengadukannya dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu
yang dihasilkan biasanya tidak lebih dari 1%.
pengadukan dari atas (Top Entering) dan pengadukan dari samping
(Side Entering). Selama ini penelitian menggunakan side-entering
Pengadukan bertujuan untuk mempercepat proses
impeller sangat jarang diteliti menggunakan simulasi dan lebih sering pencampuran fluida karena dapat mempercepat terjadinya
berdasarkan eksperimen yang membutuhkan banyak biaya dan perpindahan massa dan energi yang berupa panas, baik yang
instrumen analisis. Fenomena yang terjadi seperti pola aliran belum disertai reaksi kimia maupun tidak. Biasanya dalam alat tangki
dapat diketahui. Dengan menggunakan CFD yang merupakan berpengaduk yang merupakan satu sistem pencampuran dapat
analisis sistem yang melibatkan aliran fluida, perpindahan panas, dilengkapi dengan impeller dan baffle. Prinsip kerja tangki
dan fenomena yang terkait seperti reaksi kimia dengan menggunakan pengaduk sendiri adalah mengubah energi mekanis motor yang
simulasi komputer dapat telihat vector, kontur dan pola aliran yang memutar shaft impeller menjadi energi kinetik aliran fluida
terbentuk dari distribusi partikel padat dalam campuran. Dalam
dalam tangki berpengaduk. Energi kinetik tersebut
penelitian ini fluida yang digunakan adalah air dan larutan garam
sebagai single phase. Sedangkan sebagai larutan multiphase menimbulkan sirkulasi aliran fluida di ujung blade impeller
digunakan air dan partikel PVC dengan diameter partikel sebesar 94 sehingga terjadi proses pencampuran. Faktor-faktor yang
m. Dari simulasi yang dilakukan didapatkan bahwa pola alir yang mempengaruhi pengadukan dalam side-entering tank meliputi
terjadi dalam tangki berisi air (single phase), tangki yang berisi kecepatan putar impeller, geometri tangki, jenis fluida, sifat
larutan garam, dan tangki yang berisi air dan partikel PVC fluida, jenis impeller, jumlah impeller, dan letak atau posisi
cenderung tidak seragam, hal ini disebabkan karena perbedaan poros impeller.
densitas dan viskositas pada air dan larutan garam dan adanya solid Dilihat dari jenis fluidanya, pencampuran dapat dibagi
pada air dan partikel PVC, sehingga menyebabkan bedanya arah menjadi dua jenis yaitu pencampuran single phase dan
aliran yang terjadi dan juga distribusi solid pada tangki yang berisi
pencampuran multi phase. Dimana untuk pencampuran single
air dan partikel PVC yang berada pada dasar tangki.
phase meliputi fasa cair-cair, padat-padat, atau gas-gas. Untuk
pencampuran multiphase meliputi fasa cair-padat, cair-gas, cair-
Kata Kunci Side-Entering, Tangki Pengaduk, CFD, Impeller.
gas-solid, ataupun cair-gas-gas.
Suspensi padat-cair yang diaduk secara turbulent banyak
I. PENDAHULUAN ditemukan secara luas pada proses industri. Contohnya pada
IDE ENTERING TANK adalah tangki dengan impeller reaktor slurry katalis dimana partikel solid yang membawa
S yang dipasang dari sisi samping dinding dengan posisi
poros impeller yang relatif horisontal. Diamater untuk side-
material katalis disuspensikan pada aliran turbulen yang
dihasilkan oleh impeller. Aliran fluida turbulen menjaga
entering tank yang digunakan mempunyai ukuran yang besar partikel tetap tersuspensi, dan meningkatkan transfer massa dan
untuk memaksimalkan pencampuran. Untuk jenis-jenis impeller panas antara solid dan liquid, dengan demikian memungkinkan
yang digunakan dapat berupa propeller, inclined fan turbin terjadi reaksi pada zat kimia yang terkandung dalam fase liquid.
ataupun hydrofoil. Jumlah impeller yang digunakan tergantung Tangki berpengaduk untuk aplikasi suspensi solid telah
pada diameter tangki yang digunakan. dikembangkan secara tradisional dengan menggunakan just-
Untuk aplikasi side-entering tank biasa digunakan dalam suspended impeller rotational speed (Njs). Just-suspended
tangki minyak pelumas yang digunakan untuk mempertahankan speed merupakan kecepatan putar impeller minimal yang
keseragaman konsentrasi bahan aditif. Selain itu juga digunakan dibutuhkan untuk mengangkat semua partikel solid dari dasr
untuk Paper Pulp Chest yang berfungsi untuk mempertahankan tangki minimal 1 detik[6].
konsistensi suspensi dalam tangki. Sedangkan dalam tangki Penelitian kami menggunakan simulasi Computational
penyimpanan Crude-Oil digunakan untuk mengontrol Sludge Fluid Dynamics (CFD) karena Computational Fluid Dynamics
dalam tangki penyimpanan (storage). (CFD) merupakan analisis sistem yang melibatkan aliran fluida,
Kinerja side-entering tank ditentukan oleh profil aliran perpindahan panas, dan fenomena yang terkait lainnya seperti
(velocity vector) yang dihasilkan, yang mana velocity vector ini reaksi kimia dengan menggunakan simulasi komputer. Kode
JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 1, No. 1, (2012) 1-4 2

CFD tersusun atas algoritma-algoritma numerik yang dapat Sliding mesh merupakan permodelan yang cocok untuk
menyelesaikan permasalahan aliran fluida. Disamping itu, permasalahan yang melibatkan interaksi rotor/stator dan
kemajuan yang cepat telah dicapai dalam penyelesaian numerik melibatkan 2 daerah mesh yaitu daerah yang berdekatan dengan
menggunakan CFD daripada persoalan aliran turbulen di dalam rotor sebagai zona bergerak dan daerah yang berdekatan dengan
tangki berpengaduk satu fasa tanpa reaksi dengan berbagai stator sebagai zona diam, dimana kedua daerah tersebut dibatasi
impeller. [1] oleh sebuah slipping plane.
Dari kajian diatas maka tujuan penelitian kami adalah Selain metode Sliding Mesh, dapat digunakan metode
Untuk mempelajari pengaruh kecepatan impeller dan properti Moving Reference Frame (MRF). Metode ini tidak jauh beda
fluida terhadap pola aliran dalam side entering tangki dengan metode sliding mesh, sama-sama membagi daerah
berpengaduk. menjadi dua bagian yaitu moving zone dan static zone. Namun
yang membedakan kedua metode ini adalah pada sliding mesh
mengalami deformasi meshing, sedangkan pada metode MFR
II. METODE PENELITIAN
tidak mengalami deformasi meshing.
A. Permodelan
4. Permodelan Aliran Multifase
1. Permodelan Aliran Fluida Permodelan aliran multifase yang terdapat dalam
Fenomena aliran dapat dimodelkan dengan persamaan FLUENT adalah mixture model, Volume Of Fluid (VOF)
matematis yaitu persamaan kontinuitas (hukum kekekalan model, Eularian model dan Cavitation model. Dari keempat
massa) dan persamaan momentum (hukum kekekalan model ini yang digunakan untuk sistem ini adalah Mixture
momentum). Persamaan kontinuitas untuk suatu fluida model.
compressible pada aliran dapat ditulis sebagai berikut : Mixture model mengasumsikan tidak ada interface antara
dua fase yang immiscible dan memungkinkan kedua fase untuk
( u ) ( v ) ( w) saling mempengaruhi. Fraksi volume untuk fase sekunder (p)
+ + + =0
t x y z dan fase primer (q) untuk suatu kontrol volume mempunyai
( 2.1 )
nilai antara 0 dan 1, tergantung pada ruang yang ditempati oleh
Persamaan momentum dalam arah sumbu x, y dan z fase primer dan fase sekunder. Model ini juga memungkinkan
(persamaan gerak) dimana untuk fluida Newtonian kedua fase untuk bergerak pada kecepatan berbeda.
incompressible dan konstan dapat ditulis dalam bentuk- Persamaan kontinuitas untuk mixture
( 2.7 )
bentuk persamaan Navier-Stokes sebagai berikut :
Komponen x :
Vx Vx Vx Vx P 2Vx 2Vx 2Vx ( 2.2 ) Persamaan momentum dapat diekspresikan sebagai berikut :
+ Vx + Vy + Vz = + 2 + 2 + 2 + Gx
t x y z x x y z
Komponen y :
V y V y V y V y P 2V y 2V y 2V y ( 2.3 ) ( 2.8 )
+ Vx +Vy + Vz =
+ 2 + + + G y
t x y z y x y 2 z 2
Komponen z : 5. Computational Fluid Dynamics (CFD)
V V V V P 2V 2V 2V ( 2.4 ) CFD merupakan analisa sistem yang melibatkan aliran
z + Vx z + Vy z + Vz z = + 2z + 2z + 2z + Gz
t x y z z x y z fluida, perpindahan panas, dan fenomena yang terkait lainnya
seperti reaksi kimia dengan menggunakan simulasi komputer.
Metode ini meliputi fenomena yang berhubungan dengan aliran
2. Model turbulensi fluida seperti sistem liquid dua fase, perpindahan massa dan
Model k - standar (Launder & Spalding,1974) mempunyai panas, reaksi kimia, dispersi gas atau pergerakan partikel
dua model persamaan yaitu persamaan untuk k dan . k dan tersuspensi.
digunakan untuk mendefinisikan velocity scale. pendekatan Secara umum kerangka kerja CFD meliputi formulasi
mixing length model kita dapat menyatakan viscositas eddy persamaan-persamaan transport yang berlaku, formulasi kondisi
sebagai : batas yang sesuai, pemilihan atau pengembangan kode-kode
( 2.5 ) komputasi untuk mengimplementasikan teknik numerik yang
digunakan. Suatu kode CFD terdiri dari tiga elemen utama yaitu
pre-processor, solver dan post processor.
Dimana C adalah konstanta tak berdimensi
Persamaan transport pada model k - standart adalah :
B. Geometri dan Dimensi Tangki

1. Gambar dan Tabel


( 2.6 ) Geometri tangki berbentuk silinder dengan dasar datar
(flat bottomed cylindrical tank) dengan single 3 - blade
3. Permodelan Impeller propeller seperti ditunjukkan pada Gambar 3.1 dan 3.2 dengan
dimensi seperti ditunjukkan pada Tabel 3.1.
JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 1, No. 1, (2012) 1-4 3

Fluida yang digunakan adalah:


a. Air (single phase)
b. Air + garam
c. Air + partikel PVC (konsentrasi 10% volume

Tabel 2.1 Rincian dimensi tangki


Ratio Tangki Besar 420 rpm
H/D 0,402
d/D 0,026
s/D 0,025
h/D 0,032

Tabel 2.2 Rincian Liquida dan Solid Gambar 3.1 Pola aliran dalam tangki berisi fluida air
Liquid Solid
280 rpm
Jenis Partikel PVC
Air air garam
(Polyvinyl Chloride)
suhu (C) 29 - -
densitas
998,2 1.250 2500
(kg/m3)
viskositas
0,001003 0,000974 0,001003
(kg/m.s)
Diameter
- - 94 m 420 rpm
Partikel

Gambar 3.2 Pola aliran dalam tangki berisi air garam

Profil pada gambar diambil dari sudut pengamatan tegak


lurus dengan pola aliran axial. Pola aliran yang terbentuk sama,
Gambar 1. Bentuk dan dimensi tangki aliran bergerak dari propeller melalui dasar tangki menuju
dinding, naik keatas dan kembali ke propeller. Pada geometri
tangki dapat dilihat terjadinya stagnant flow yang cukup besar.
III. HASIL DAN DISKUSI Stagnant flow mempengaruhi homogenisasi larutan di
dalamnya. Semakin kecil stagnant flow, maka semakin
Dalam penelitian ini simulasi digunakan untuk menyelidiki homogen larutan yang didalamnya. Pola aliran yang dihasilkan
variasi pola aliran dan deadzone yang terjadi dengan lebih cenderung stabil.
detail dibandingkan menggunakan teknik eksperimen. Pada fluida air terlihat bahwa pola aliran cenderung
Berdasarkan simulasi yang dilakukan yang sesuai dengan bergerak kesamping kemudian keatas dan kembali ke propeller
metode komputasional dengan sistem yang telah diuraikan sedangkan untuk fluida air garam, pola aliran cenderung
sebelumnya. Hasil simulasi didapatkan setelah perhitungan bergerak ke atas kemudian kembali kebawah dan kembali
komputasional mencapai tingkat konvergensi yaitu 10-4 untuk kearah propeller
semua persamaan, dengan jumlah grid kurang lebih 60000 Deadzone merupakan daerah yang tidak mengalami efek
dengan ukuran yang beragam. Hasil-hasil simulasi tersebut pengadukan. Daerah deadzone dapat dilihat dari gambar dari
ditampilkan berupa contour dan vector dari velocity dari sistem vector velocity dimana daerah dilihat dari factor warna yang
secara total. rendah. Daerah ini diukur jumalahnya dengan menggunakan
Pada penelitian ini menggunakan tangki silindris dasar perbandingan rasio antara daerah yang mengalami efek
datar sebagai bentuk desain tangki yang disimulasikan. pengadukan yang sangat rendah dengan volume tangki. Satuan
Digunakan beberapa konfigurasi ukuran geometri tangki dan dari daerah ini berupa persen (%) volume.
kecepatan putar impeller, diantaranya ukuran geometri tangki B. Suspensi Solid-Liquid
besar meliputi diameter tangki (D) = 0,55 m; H = 0,25 m; dan
Suspensi solid-liquid diawali dengan mekanisme
diameter propeller = 0,029 m.
terangkatnya partikel tersebut dari dasar tangki selama 1 detik
A. Identifikasi Pola Alir oleh aliran sirkulasi liquida. Mekanisme ini menjadi parameter
Pola alir dalam side entering impeller berisi material operasional tangki berpengaduk yang dinamakan critical
air dan air garam untuk geometri tangki besar dengan ratio H/D impeller speed for just suspended solid atau disingkat NJS.
= 0,45. Sistem yg dipelajari adalah campuran polydisperse padat-
cair dengan ukuran diameter partikel 0,00094 m dengan
280 rpm
JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 1, No. 1, (2012) 1-4 4

konsentrasi 10%. Korelasi zwietering digunakan untuk Hal ini karena kecepatan putar impeller pada semua kecepatan
menentukan nilai kecepatan just suspended (NJS). putar impeller belum mencapai kecepatan NJS untuk partikel
Kontur dan vector konsentrasi solid pada diameter tangki solid pada tangki besar.
adalah sebagai berikut: Tangki membutuhkan kecepatan putar yang lebih besar
untuk mengangkat dan mendistribusikan partikel solid
keseluruh bagian tangki.
280 rpm

IV. KESIMPULAN/RINGKASAN
Penelitian ini berdasarkan simulasi berbasis CFD dengan
hasil menunjukkan bahwa Perbedaan densitas dan viskositas
antara air dan garam menyebabkan pola aliran didalam tangki
berbeda dan cenderung random dengan stagnant flow yang
makin kecil saat kecepatan putar impeller semakin besar.
420 rpm Kecepatan putar yang besar menyebabkan distribusi solid jauh
lebih merata. Rasio volume deadzone yang dihasilkan
cenderung kecil dibawah 1%.

Gambar 3.3 Kontur distribusi partikel pada kecepatan putar UCAPAN TERIMA KASIH
impeller secara horizontal Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang
membantu dalam penyelesaian penelitian dan artikel ilmiah ini.
280 rpm Penulis mengucapkan terima kasih kepada penguji Prof. Dr. Ir.
H. M. Rachimoellah, Dipl Est, Dr Widiyastuti, ST.MT ; Suci
Mahda Nia ST, MT ; rekan-rekan dan laboran pada
laboratorium Mekanika Fluida dan Pencampuran Teknik Kimia
ITS dan teman-teman teknik Kimia 2008 yang telah banyak
membantu.

DAFTAR PUSTAKA
420 rpm [1] Bakker, A., Fasano, J.B., Myers, K.J., Effects of Flow Pattern on the
Solids Distribution in a Stirred Tank, The Online CFM Book at
http://www.bakker.org/cfm, 1996.
[2] Cheremisinoff, Nicholas P, Handbook of Chemical Processing
Equipment, Copyright 2000 by Butterworth-Heinemann. pp 467.
Gambar 3.4 vektor kecepatan fluida pada kecepatan putar [3] Raju, K. S. Fluid Mechanics, Heat Transfer, and Mass Transfer:
impeller secara horizontal Chemical Engineering Practice
[4] Oldshue J. Y., Hirschland H. E. and Gretton A. T., Side-Entering Mixer,
Kecepatan putar impeller yang berada jauh dibawah Chem. Eng. Prog. 52, 1956 481.
[5] Wesselingh, J. A., Mixing of Liquids in Cylinfrical Storage Tanks with
kecepatan NJS akan menyebabkan distribusi solid terbatas pada Side-Entering Propeller. February,15 1975.
bagian dasar tangki terutama dibawah impeller. Solid terlihat [6] Zwitering,Th.N., Suspending of Solid Particle in Liquid by Agitators,
terkonsentrasi di bagian dasar tangki dengan konsentrasi lokal Chemical Engineering Science, 1958,8,pp. 244-253.
yang tinggi, sedangkan pada bagian yang dekat permukaan
tangki konsentrasi solid sangat rendah bahkan mendekati nol.
Pada kondisi ini campuran disebut dengan incomplete
suspension atau off bottom suspension.
Untuk sistem dengan kecepatan putar impeller berada
disekitar kecepatan NJS akan didapatkan solid yang mulai
tersuspensi atau terangkat dan tersebar ke tangki tetapi belum
merata. Konsentrasi lokal solid didasar tangki lebih rendah.
Sedangkan sistem dengan kecepatan putar impeller jauh
melebihi kecepatan NJS dapat disimpulkan bahwa partikel yang
ada didalam tangki sudah tersuspensi sempurna. Pada kondisi
ini campuran disebut dengan complete suspension atau
complete uniformity.
Dari gambar 3.3 terlihat bahwa solid terdistribusi di
bagian bawah tangki dan disekitar impeller. Solid sudah
terangkat dan menyebar, tetapi penyebaran belum maksimal.