Anda di halaman 1dari 28

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNIK PENGENDALIAN KOROSI

KOROSI GALVANIK
Dosen Pebimbing: Ir. Retno Indarti, MT.

Kelas : 3B
Kelompok : 6
Nama & NIM Anggota : Ridhwan Rais (151411056)
Reza Fitrayana (151411055)
Rani Dewi Eryani (151411054)
Radian Zulmar Dwi K. (151411053)

Tanggal Praktikum : 11 September 2017


Tanggal Penyerahan Laporan : 27 September 2017

PROGRAM STUDI DIPLOMA III TEKNIK KIMIA


JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
2017
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Korosi merupakan proses perusakan pada logam yang diakibatkan reaksi redoks
dan menghasilkan produk yang tidak diinginkan. Proses korosi mengakibatkan banyak
kerugian baik secara langsung maupun secara tidak langsung. Proses terjadinya korosi
tidak dapat dihindari, namun dapat dikendalikan. Untuk pengendalian dengan katodik
atau anodik, sebelum dilakukan pengendalian perlu diketahui terlebih dulu logam yang
bertindak sebagai anoda dan katoda. Selain itu perlu diketahui juga kacepatan korosi
dari masing-masing logam di berbagai larutan sebagai acuan untuk diterapkan
pengendalian tersebut.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang yang sudah dijelaskan sebelumnya, maka dalam praktikum
kali ini masalah akan dibatasi dalam rumusan berikut:
1. Bagaimana cara untuk menentukan logam yang berperan sebagai katode atau anode?
2. Bagaimana cara untuk menghitung laju korosi logam dalam keadaan lingkungan yang
berbeda?

1.3 Tujuan Praktikum


Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan praktikum kali ini dapat dibagi
menjadi 3 tujuan, yaitu:
1. Menentukan logam yang berperan sebagai katode dan anode.
2. Menentukan laju korosi logam dalam lingkungan yang berbeda.

Bab I: Pendahuluan | Laporan Praktikum Korosi Galvanik 1


BAB II
LANDASAN TEORI

Korosi adalah gejala destruktif yang memengaruhi hampir semua logam. Ketika korosi
berlangsung secara alami perubahan yang terjadi secara bersifat spontan sehingga disertai suatu
pelepasan energi bebas. Penurunan mutu logam tidak hanya melibatkan reaksi kimia namun
juga reaksi elektro-kima, yaitu bahan-bahan bersangkutan terjadi pemindahan elektron. Karena
elektron adalah suatu yang bermuatan negatif, maka pengangkutnya menimbulkan arus listrik
arus listrik, sehingga reaksi demikian dipengaruhi. Korosi galvanik dapat didefinisikan adanya
reaksi atau kontak antara dua logam yang berbeda dalam larutan elektrolit. Dalam korosi
galvanik logam yang lebih mulia atau logam yang potensialnya lebih positif akan bersifat
katodik, sedangkan logam yang potensialnya lebih negatif bersifat anodik. Apabila dua buah
logam yang berbeda saling kontak dan terbuka ke media yang korosif, laju korosinya akan
berbeda satu dengan yang lainnya (Tim Penyusun, 2002)
Dalam beberapa kasus, efek galvanik akan cenderung rendah jika perbedaan
potensialnya cukup besar, karena adanya lapisan oksida yang melindungi logam-logam yang
berada di deretan logam mulia. Penggabungan dua buah logam tak sejenis juga perlu
diperhatikan ukuran masing-masing logam di samping perbedaan potensialnya. Besar kecilnya
ukuran logam yang bertindak sebagai anode atau katode mempengaruhi kerapatan arus yang
menjadi faktor pemicu laju korosi. Logam dengan potensial korosi yang lebih negatif akan
terkorosi lebih intensif, sedangkan logam lainnya yang lebih mulia laju korosinya akan
menurun (Kurniawan, 2016).

Gambar 2.1 Rangkaian Sel Galvanik


(Sumber: http://www.caesarvery.com/2015/10/sel-elektrokimia-sel-volta-sel-
galvani.html, Tahun 2015)

Bab II: Landasan Teori | Laporan Praktikum Korosi Galvanik 2


Penyebab korosi galvanik ada beberapa macam, yaitu (Tim Penyusun, 2011) :
1. Lingkungan
Tingkatan korosi galvanik tergantung pada keagresifan dari lingkungannya. Pada
umumnya logam dengan ketahanan korosi yang lebih rendah dalam suatu
lingkungan berfungsi sebagai anoda. Biasanya baja dan seng keduanya akan
terkorosi akan tetapi jika keduanya dihubungkan maka seng akan terkorosi
sedangkan baja akan terlindungi. Pada kondisi khusus, sebagai contoh dalam
lingkungan air dengan temperatur 180, terjadi hal sebaliknya yaitu baja
mengalami koroso sedangkan Zn terlindungi. Hal ini dikarenakan produk korosi
pada Zn bertindak sebagai permukaan yang lebih mulia terhadap baja. Menurut
Haney, Zn menjadi kurang aktif dan potensialnya menjadi kebalikannya jika ada ion-
ion penghalang seperti nitrat, bikarbonat atau karbonat dalam air.
2. Jarak
Laju korosi umumnya paling besar pada daerah dekat permukaan kedua logam. Laju
korosi berkurang dengan makin bertambahnya jarak dari pertemuan kedua logam
tersebut. Pengaruh jarak ini tergantung pada konduktivitas larutan dan korosi
galvanik dapat diketahui dengan adanya serangan korosi lokal pada daerah dekat
permukaan logam.
3. Luas penampang
Jika luas penampang katodik jauh lebih besar dari pada katode maka makin besar
rapat arus pada daerah anode sehingga laju korosi makin cepat pula. Korosi di daerah
anodik akan menjadi 100-1000 kali lebih besar jika dibandingkan dengan
keseimbangan luas penampang anodik dan katodik.
Salah satu penentuan laju korosi adalah berdasarkan kehilangan berat. Menurut Faraday,
kehilangan berat suatu logam akibat proses korosi dinyatakan dengan massa zat yang hilang
sebanding dengan jumlah listrik yang dialirkan. Laju korosi logam atau suatu paduan logam
dinyatakan dengan satuan massa persatuan luas persatuan waktu atau satuan panjang persatuan
waktu. Menurut Indarti (2010), laju korosi dapat dihitung dengan rumus:
W
r=
At
W = berat yang hilang (gram) A = luas permukaan (cm2)
t = waktu (jam) = densitas (gr.cm-3)
r = laju korosi (mpy)

Bab II: Landasan Teori | Laporan Praktikum Korosi Galvanik 3


BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM

3.1 Alat dan Bahan Praktikum


Nomor Alat Bahan
1. Gelas Kimia 500 ml 6 buah Logam Cu 3 buah
2. Multimeter Logam Fe 6 buah
3. Spatula Logam Zn 3 buah
4. Neraca analitik NaCl 3,56 gram per liter
5. Elektrode acuan SCE Aquades
6. Batang pengaduk Air keran
7. Penggaris HCl 1 N
8. Kawat
9. Kertas abrasive
Tabel 3.1 Daftar Alat dan Bahan yang Diperlukan untuk Praktikum

3.2 Prosedur Praktikum


1. Mempersiapkan logam dan larutan untuk diuji korosi secara galvanik.
2. Menentukan logam yang berperan sebagai anode dan katode.
3. Menentukan potensial setengah sel masing-masing logam, dan potensial sel setelah
kedua logam terhubung.
4. Menentukan laju korosi dari karat yang terbentuk pada logam yang dicelupkan ke
dalam larutan tertentu.
Catatan: Prosedur kerja lengkap disertakan pada bagian lampiran.

3.3 Keselamatan Kerja selama Praktikum


1. Menggunakan jas laboratorium dan masker pelindung selama praktikum
berlangsung.
2. Berhati-hati dalam menggunakan peralatan gelas.
3. Berhati-hati dalam menuangkan larutan HCl.

Bab III: Metodologi Praktikum | Laporan Praktikum Korosi Galvanik 4


BAB IV
HASIL PRAKTIKUM DAN PEMBAHASAN

4.1 Tabel & Data Hasil Percobaan


4.1.1 Tabel & Data Pengamatan Larutan terhadap Logam yang Dicelupkan
Logam Sebelum 5 Hari Setelah 5 Hari
Larutan yang
Digunakan pH Keterangan pH Keterangan
Fe (A1) Larutan menjadi
Cu (A) berwarna coklat, dan
Larutan A Larutan
6 7 terdapat banyak
(NaCl) Fe (A2) berwarna bening
endapan berwarna
Zn (A)
coklat tua
Fe (B1)
Larutan tetap bening,
Larutan B Cu (B) Larutan
2 3 tetapi terdapat
(HCl) Fe (B2) berwarna bening
banyak gelembung
Zn (B)
Fe (C1) Larutan menjadi
Cu (C) berwarna coklat
Larutan C Larutan
6 7 dengan sedikit
(Air Keran) Fe (C2) berwarna bening
endapan berwarna
Zn (C)
coklat tua
Tabel 4.1 Data Pengamatan Larutan terhadap Logam yang Dicelupkan

Catatan: Gambar pengamatan disertakan pada bagian Lampiran

4.1.2 Tabel & Data Pengamatan Luas Permukaan Logam

Panjang Lebar Diameter Lubang Lingkaran


Logam
(cm) (cm) (cm)
Fe (A1) 5 2 0,4
Cu (A) 4,6 2,2 0,4
Fe (B1) 5 1,9 0,4
Cu (B) 4,5 2,5 0,4
Fe (C1) 5 1,85 0,4
Cu (C) 4,6 2,5 0,4
Fe (A2) 5 2 0,4
Zn (A) 4,6 2,2 0,4
Fe (B2) 5 2,1 0,4
Zn (B) 4,6 2,1 0,4
Fe (C2) 5 2 0,4
Zn (C) 4,7 2,3 0,4
Tabel 4.2 Data Pengamatan Luas Permukaan Logam

Bab IV: Hasil Percobaan dan Pembahasan | Laporan Praktikum Korosi Galvanik 5
4.1.3 Tabel & Data Pengamatan E logam sebelum Didiamkan selama 5 Hari
(Dalam SCE)

Jenis E Logam Jenis E Logam


Nomor
Logam (V.SCE-1) Logam (V.SCE-1)
Fe (A1) - 0,332 Fe (A2) - 0,334
1
Cu (A) + 0,124 Zn (A) - 0,734
Fe (B1) - 0,528 Fe (B2) - 0,522
2
Cu (B) + 0,272 Zn (B) - 1,125
1 2
Fe (C ) - 0,516 Fe (C ) - 0,358
3
Cu (C) + 0,218 Zn (C) - 0,410
Tabel 4.3 Data Pengamatan E logam sebelum
Didiamkan selama 5 Hari (Dalam SCE)

4.1.4 Tabel & Data Pengamatan E logam sebelum Didiamkan selama 5 Hari
(Dalam SHE)
Contoh Perhitungan untuk Logam Fe (A1):
E = Potensial Logam + 0,314
E Fe (A1) = - 0,332 + 0,314 = - 0,014 V.SHE-1

Jenis E Logam Jenis E Logam


Nomor -1
Logam (V.SHE ) Logam (V.SHE-1)
Fe (A1) - 0,014 Fe (A2) - 0,016
1
Cu (A) + 0,442 Zn (A) - 0,416
Fe (B1) - 0,210 Fe (B2) - 0,204
2
Cu (B) + 0,590 Zn (B) - 0,807
Fe (C1) - 0,198 Fe (C2) - 0,040
3
Cu (C) + 0,536 Zn (C) - 0,092
Tabel 4.4 Data Pengamatan E logam sebelum
Didiamkan selama 5 Hari (Dalam SHE)

Bab IV: Hasil Percobaan dan Pembahasan | Laporan Praktikum Korosi Galvanik 6
4.1.5 Tabel & Data Pengamatan E sel sebelum Didiamkan selama 5 Hari (Hasil
Pengukuran Menggunakan Voltmeter)

Jenis E Sel Jenis E Logam


Nomor
Logam (V) Logam (V)
1 2
Fe (A ) Fe (A )
1 + 0,228 + 0,136
Cu (A) Zn (A)
Fe (B1) Fe (B2)
2 + 0,185 + 0,022
Cu (B) Zn (B)
Fe (C1) Fe (C2)
3 + 0,355 + 0,148
Cu (C) Zn (C)
Tabel 4.5 Data Pengamatan E sel sebelum Didiamkan selama 5 Hari
(Hasil Pengukuran Menggunakan Voltmeter)

4.1.5 Tabel & Data Pengamatan E sel sebelum Didiamkan selama 5 Hari (Hasil
Perhitungan dari E Logam)
Contoh perhitungan potensial sel untuk logam Fe (A1) dan Cu (A)
E Logam Reduksi/Logam Oksidasi = Potensial Logam Reduksi - Potensial
Logam Oksidasi
E Cu (A)/Fe (A1) = + 0,442 (- 0,014) = + 0,456 V.SHE-1

Jenis E Sel Jenis E Logam


Nomor
Logam (V) Logam (V)
1 2
Fe (A ) Fe (A )
1 + 0,456 + 0,400
Cu (A) Zn (A)
Fe (B1) Fe (B2)
2 + 0,800 + 0,603
Cu (B) Zn (B)
Fe (C1) Fe (C2)
3 + 0,734 + 0,052
Cu (C) Zn (C)
Tabel 4.6 Data Pengamatan E sel sebelum Didiamkan selama 5 Hari
(Hasil Perhitungan dari E Logam)

Catatan: Pengukuran E logam dan E sel setelah 5 hari tidak


dilakukan, sehingga potensial sel dianggap konstan.

Bab IV: Hasil Percobaan dan Pembahasan | Laporan Praktikum Korosi Galvanik 7
4.1.6 Tabel & Data Pengamatan Massa Logam sebelum Dicelupkan ke dalam
Larutan Korosif

Massa Massa
Nomor Jenis Logam Jenis Logam
(gram) (gram)
Fe (A1) 10,42 Fe (A2) 10,26
1
Cu (A) 8,55 Zn (A) 1,68
Fe (B1) 9,81 Fe (B2) 10,51
2
Cu (B) 9,28 Zn (B) 1,60
1 2
Fe (C ) 9,95 Fe (C ) 10,25
3
Cu (C) 9,25 Zn (C) 1,75
Tabel 4.7 Data Pengamatan Massa Logam sebelum Dicelupkan ke
dalam Larutan Korosif

4.1.7 Tabel & Data Pengamatan Massa Logam setelah Dicelupkan ke dalam Larutan
Korosif

Massa Massa
Nomor Jenis Logam Jenis Logam
(gram) (gram)
Fe (A1) 10,36 Fe (A2) 10,22
1
Cu (A) 8,53 Zn (A) 1,62
1 2
Fe (B ) 9,53 Fe (B ) 10,27
2
Cu (B) 9,26 Zn (B) 1,38
1 2
Fe (C ) 9,92 Fe (C ) 10,19
3
Cu (C) 9,24 Zn (C) 1,62
Tabel 4.8 Data Pengamatan Massa Logam setelah Dicelupkan ke
dalam Larutan Korosi

4.1.8 Tabel & Data Hasil Perhitungan Laju Korosi selama 97 Jam

Contoh Perhitungan Pengurangan Massa Logam Fe (A1):


W Logam = Massa Logam Awal - Massa Logam Akhir
W Logam Fe (A1 ) = 10,42 - 10,36 = 0,06 gram

Contoh Perhitungan Luas Permukaan Logam Fe (A1):



Luas Permukaan Logam = (Panjang Lebar - diameter lingkaran2 )
4

Luas Permukaan Logam Fe (A1 ) = (5 2 - 0,42 ) = 9,8744 cm2
4

Bab IV: Hasil Percobaan dan Pembahasan | Laporan Praktikum Korosi Galvanik 8
Contoh Perhitungan Laju Korosi Logam Fe (A1):
k W
r=
At
3448818,898 0,06
r Fe (A1 ) = = 13,7256 mpy
2 9,8744 97 7,87

W A r
Nomor Jenis Logam
(gram) (cm2) (gram.cm-3) (mil.year-1)
Fe (A1) 0,06 9,8744 7,87 13,7256
1
Cu (A) 0,02 9,9944 8,96 3,9704
1
Fe (B ) 0,28 9,3744 7,87 67,4697
2
Cu (B) 0,02 11,1240 8,96 3,5672
1
Fe (C ) 0,03 9,1244 7,87 7,4269
3
Cu (C) 0,01 11,3744 8,96 1,7443
2
Fe (A ) 0,04 9,8744 7,87 9,1505
4
Zn (A) 0,06 10,3744 7,13 14,4201
Fe (B2) 0,24 10,3744 7,87 52,2567
5
Zn (B) 0,22 9,3344 7,13 58,7645
Fe (C2) 0,06 9,8744 7,87 13,7257
6
Zn (C) 0,13 10,1944 7,13 31,7951
Tabel 4.9 Data Hasil Perhitungan Laju Korosi selama 97 Jam

Catatan: Perhitungan lengkap disertakan pada bagian Lampira

Bab IV: Hasil Percobaan dan Pembahasan | Laporan Praktikum Korosi Galvanik 9
4.2 Pembahasan Hasil Praktikum
4.2.1 Pembahasan oleh Radian Zulmar Dwi K. (151411053)

4.2.2 Pembahasan oleh Rani Dewi Eryani (151411054)

4.2.3 Pembahasan oleh Reza Fitrayana (151411055)


Pada percobaan korosi galvanik dilakukan variasi larutan dan variasi
logam untuk mengetahui masing-masing pengaruhnya terhadap laju korosi.
Variasi larutan digunakan untuk mengetahui pengaruh lingkungan terhadap
korosi, sedangkan variasi logam yang membentuk rangkaian sel galvani
digunakan untuk mengetahui pengaruh besarnya potensial sel terhadap korosi.
Berdasarkan percobaan tersebut diperoleh pengaruh-pengaruh variabel
tersebut terhadap laju korosi. Berikut pengaruhnya terhadap korosi.
1) Korosi pada rangkaian sel sama di berbagai larutan
Pada rangkaian logam yang sama, laju korosi dipengaruhi oleh lingkungan
atau larutan yang berbeda-beda. Berdasarkan hasil percobaan diperoleh
pengaruh larutan sebagai berikut.
a) NaCl
Pada larutan NaCl laju korosi logam lebih rendah dari pada laju korosi di
Air Keran. Hal tersebut disebabkan oleh banyaknya ion Cl- yang terlarut
dalam larutan dalam larutan yang dapat mempercepat laju korosi logam
di anoda. Namun pada rangkaian Zn-Fe laju korosi lebih tinggi pada air
keran dari pada laju korosi pada larutan NaCl. Kecenderungan tersebut
dapat disebabkan luas permukaan yang berbeda pada logam dan juga
kandungan air keran yang tidak diketahui ion terlarutnya.
b) HCl
Pada larutan HCl logam lebih cepat terkorosi dibandingkan larutan yang
lainnya. Nilai laju korosi yang tinggi disebabkan oleh larutan yang bersifat
asam sehingga menyebabkan korosi yang aktif pada logam. Namun tidak
ada perubahan warna pada larutan HCl setelah 5 hari. Fenomena tersebut
dapat disebabkan karena produk hasil korosi larut dalam larutan HCl.
c) Air Keran

Bab IV: Hasil Percobaan dan Pembahasan | Laporan Praktikum Korosi Galvanik 10
Pada air keran memiliki laju korosi paling rendah, karena ion-ion tidak
terlalu banyak pada larutan. Air keran juga memiliki pH yang relatif
netral, sehingga kemungkinan korosinya adalah korosi pasif.
2) Korosi pada rangkaian sel berbeda pada larutan yang sama
Berdasarkan teori, jika potensial sel semakin besar, maka korosi cenderung
semakin cepat. Karena potensial anoda akan semakin minus sehingga
semakin mudah teroksidasi sedangkan potensial di katoda semakin positif
sehingga mudah tereduksi. Jadi proses reaksi redoks semakin spontan.
Berdasarkan data yang diperoleh, percobaan yang dilakukan ada yang
relevan dengan teori di atas dana ada yang tidak relevan. Ketidakrelevanan
dapat disebabkan karena luas permukaan logam yang berbeda-beda, selain
itu logam yang mengalami oksidasi pada rangkaian Fe-Cu adalah Fe,
sedangkan pada rangkaian Zn-Fe yang mengalami oksidasi adalah Zn,
sedangkan Fe mengalami reduksi.

Bab IV: Hasil Percobaan dan Pembahasan | Laporan Praktikum Korosi Galvanik 11
4.2.4 Pembahasan oleh Ridhwan Rais (151411056)
Setelah melaksanakan praktikum Korosi Galvanik, diperoleh beberapa
poin-poin penting yang dapat dibahas pada bagian pembahasan kali ini.
A. Hasil Pengamatan Cairan setelah Dicelupkan Logam selama 5 Hari
Pada praktikum kali ini, terdapat 3 jenis cairan yang digunakan untuk
menguji kecepatan korosi logam Fe, Zn, dan Cu, yaitu larutan NaCl, larutan
HCl, dan air keran.
Pertama-tama akan dibahas terlebih dahulu mengenai pengaruh larutan
NaCl terhadap proses korosi pada logam yang diuji. Larutan NaCl yang
digunakan memiliki pH bernilai 6, yang berarti larutan tersebut cenderung
asam. Akibatnya, korosi pada logam Fe, Zn, maupun Cu akan terjadi lebih
cepat dibandingkan ketika logam dicelupkan ke dalam larutan NaCl murni
yang memiliki pH 7. Hal tersebut dibuktikan pada hari kelima, di mana
larutan NaCl tersebut menjadi keruh dari keadaan sebelumnya yang berupa
larutan bening. Selain itu, pada larutan tersebut juga terdapat endapan dari
logam yang terkorosi (logam Zn pada sel Fe-Zn, dan logam Fe pada sel
Fe-Cu) dengan jumlah yang banyak. Banyaknya endapan dikarenakan
adanya 3 spesimen di dalam larutan yang menyebabkan munculnya endapan
tersebut, yaitu padatan NaCl (garam), H2O, dan O2 (adanya oksigen
dikarenakan larutan dibiarkan terbuka di dalam laboratorium, sehingga
terdapat kontak dengan udara). Adanya 3 spesimen tersebut juga
mempercepat laju korosi dari logam Zn dan logam Fe. Reaksi dari
timbulnya endapan tersebut adalah sebagai berikut:
Fe (s) + NaCl (aq) + H2O (l) FeCl2 (s) + H2 (g) + NaOH (aq)
Dari reaksi tersebut, dapat dibuktikan dengan jelas bahwa terdapat padatan
besi (II) klorida yang berwarna coklat tua. Selain itu, terbukti pula bahwa
pH larutan setelahnya mengalami kenaikan karena timbulnya senyawa basa
(NaOH) di dalam larutan.

Bab IV: Hasil Percobaan dan Pembahasan | Laporan Praktikum Korosi Galvanik 12
Gambar 4.1 Wujud Padatan Besi (II) Klorida
(Sumber: http://chemistry-
reference.com/images/compound/iron(II)%20chloride%20tetrahydrate.jpg)

Hal kedua yaitu mengenai korosi logam di dalam larutan HCl. Larutan HCl
yang digunakan memiliki nilai pH sebesar 2, yang berarti larutan ini
merupakan larutan yang paling asam dibandingkan larutan lainnya, sehingga
logam yang terendam di dalam larutan ini akan lebih cepat dan lebih mudah
terkorosi dibandingkan logam di larutan lainnya. Adanya 3 spesimen yang
menyebabkan korosi pada logam di larutan ini antara lain yaitu HCl, H2O,
dan O2 yang muncul akibat adanya kontak dengan udara. Selain itu,
perbedaan dengan larutan lainnya yaitu warna larutan masih tetap bening, dan
tidak terdapat endapan di dalam larutan. Berdasarkan reaksi berikut:
Fe (s) + 2 HCl (l) FeCl2 (s) + H2 (g)
Seharusnya terdapat endapan logam FeCl2 yang sama ketika logam
dicelupkan ke dalam larutan NaCl. Namun, berdasarkan pendapat dari hasil
penelitian yang diperoleh dari sumber
http://www.scienceforums.net/topic/14381-iron-in-hclaq/, padatan FeCl2
akan terbentuk di dalam larutan HCl tersebut apabila larutan sudah jenuh.
Kejenuhan larutan tersebut terjadi apabila larutan HCl yang digunakan sudah
mencapai pH yang netral atau basa (pH 7). Sedangkan meski sudah
direndam selama 5 hari, pH larutan HCl tersebut masih dalam keadaan asam.
Itulah alasan mengapa tidak ditemukannya endapan FeCl2 di dalam larutan
HCl yang tetap bening dan tidak tampak adanya kekeruhan pada larutan
tersebut. Selain itu, konsentrasi larutan HCl yang digunakan juga
mempengaruhi timbulnya endapan FeCl2 serta perubahan warna larutan.

Bab IV: Hasil Percobaan dan Pembahasan | Laporan Praktikum Korosi Galvanik 13
Karena konsentrasi HCl yang digunakan selama praktikum sebesar 0,01 N
yang terbilang cukup kecil konsentrasinya, maka hal tersebut menyebabkan
lamanya muncul gas H2 dan timbulnya endapan FeCl2.

Gambar 4.2 Larutan HCl dengan Konsentrasi Rendah yang Bereaksi


dengan Logam Besi
(Sumber: https://encrypted-
tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcT9lVN7c1NPN6zSNDycbtuXib8LX
L2SSMQFdxiArgx6DDOKM15e)

Hal ketiga yaitu mengenai cairan terakhir yang hanya berisi air keran. Air
keran yang digunakan memiliki nilai pH sebesar 6, yang berarti air keran
tersebut lebih cenderung asam. Penyebab lebih asamnya air keran tersebut
dipastikan karena mengandung sedikit zat besi, serta kaporit yang digunakan
untuk menjernihkan air keran tersebut yang berasal dari PDAM. Maka dari
itu, penyebab korosi pada logam besi selain kedua spesimen tersebut ialah
adanya unsur H2O dan O2. Endapan yang terbentuk membuktikan bahwa
dalam cairan tersebut juga terkandung ion Cl- yang berasal dari kaporit,
sehingga logam Fe membentuk senyawa FeCl2 seperti ketika logam tersebut
dicelupkan ke dalam larutan NaCl. Sedangkan penyebab munculnya
kekeruhan pada air keran tersebut adalah akibat bereaksinya zat besi yang
teroksidasi (Fe3+) dengan OH- yang membentuk Fe(OH)3 seperti pada reaksi
berikut:
Fe (s) + 2 H2O (l) Fe(OH)3 (aq) + H2 (g)

Bab IV: Hasil Percobaan dan Pembahasan | Laporan Praktikum Korosi Galvanik 14
Gambar 4.3 Warna Larutan yang Terbentuk Akibat Adanya Besi (III)
Hidroksida
(Sumber: https://encrypted-
tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcT63NGfeMZoPCe5UOcSET4x5Y
yb2QHS8TEn8xmCvGZlcj3gBO-CVQ)

B. Hasil Pengamatan E Logam dan E Sel Kedua Logam dan


Pengaruhnya terhadap Korosi Logam
Pengamatan nilai potensial logam dan potensial sel kedua logam dapat
dilihat pada Tabel 4.3, Tabel, 4.4, Tabel 4.5, dan Tabel 4.6. Hasil dari nilai
potensial tersebut kemudian akan dibahas pada bagian pembahasan kali ini.
Hal pertama yaitu mengenai nilai potensial logam. Berdasarkan literatur
umum mengenai nilai potensial logam pada keadaan standar, logam besi
memiliki nilai potensial sebesar - 0,44 V.SHE-1, logam Zn memiliki
potensial standar sebesar - 0,76 V.SHE-1, dan logam Cu memiliki potensial
standar sebesar + 0,34 V.SHE-1. Berdasarkan Tabel 4.4 berikut:

Jenis E Logam Jenis E Logam


Nomor
Logam (V.SHE-1) Logam (V.SHE-1)
Fe (A1) - 0,014 Fe (A2) - 0,016
1
Cu (A) + 0,442 Zn (A) - 0,416
1 2
Fe (B ) - 0,210 Fe (B ) - 0,204
2
Cu (B) + 0,590 Zn (B) - 0,807
1 2
Fe (C ) - 0,198 Fe (C ) - 0,040
3
Cu (C) + 0,536 Zn (C) - 0,092
Tabel 4.10 Nilai Potensial Logam dalam SHE

Nilai potensial dari seluruh logam yang diuji melebihi nilai potensial
standarnya. Menurut Ngatin (2002), apabila nilai potensial logam melebihi
nilai potensial standarnya, maka logam tersebut dipastikan mengalami

Bab IV: Hasil Percobaan dan Pembahasan | Laporan Praktikum Korosi Galvanik 15
korosi. Hal tersebut terbukti pada pengurangan massa logam, di mana
seluruh logam mengalami pengurangan massa yang berbeda-beda. Hal ini
membuktikan bahwa meskipun logam-logam sudah dirangkai dalam bentuk
sel, logam yang berada pada katoda atau yang berperan sebagai oksidator
(yang mengalami reduksi) akan tetap mengalami korosi meski dalam skala
kecil. Sedangkan logam yang berperan sebagai anoda akan mengalami
korosi dalam jumlah yang lebih besar, karena mengalami oksidasi dari
kondisi lingkungan yang ditambah dengan elektron yang mengalir dari
katoda.
Hal kedua yaitu mengenai potensial logam ketika telah dirangkai
menjadi satu rangkaian sel. Nilai potensial yang diukur menggunakan
voltmeter dibandingkan dengan hasil perhitungan masing-masing potensial
logam dapat dilihat pada tabel berikut:

Potensial Sel jika Diukur dengan Voltmeter

Jenis E Sel Jenis E Logam


Nomor
Logam (V) Logam (V)
1 2
Fe (A ) Fe (A )
1 + 0,228 + 0,136
Cu (A) Zn (A)
Fe (B1) Fe (B2)
2 + 0,185 + 0,022
Cu (B) Zn (B)
Fe (C1) Fe (C2)
3 + 0,355 + 0,148
Cu (C) Zn (C)
Potensial Sel Hasil Perhitungan dari Masing-Masing Potensial
Logam
Jenis E Sel Jenis E Logam
Nomor
Logam (V) Logam (V)
Fe (A1) Fe (A2)
1 + 0,456 + 0,400
Cu (A) Zn (A)
Fe (B1) Fe (B2)
2 + 0,800 + 0,603
Cu (B) Zn (B)
Fe (C1) Fe (C2)
3 + 0,734 + 0,052
Cu (C) Zn (C)
Tabel 4.11 Perbandingan Nilai Potensial Hasil Pembacaan Voltemeter
dengan Hasil Perhitungan

Nilai potensial sel antara pembacaan dengan voltmeter dengan


perhitungan memiliki perbedaan nilai yang cukup signifikan. Berbedanya
penentuan nilai potensial tersebut antara lain akibat berbedanya waktu

Bab IV: Hasil Percobaan dan Pembahasan | Laporan Praktikum Korosi Galvanik 16
pencelupan logam ketika dicelupkan ke dalam larutan, baik saat logam
belum dirangkai menjadi sel ataupun sudah dirangkai. Selain itu,
berbedanya luas permukaan yang dicelup juga dapat mempengaruhi
perbedaan nilai potensial sel tersebut. Faktor lain juga yang mempengaruhi
adalah suhu dan tekanan ruangan yang tidak konstan.
Untuk reaksi yang terjadi antara logam besi, logam seng, dan logam
tembaga antara lain sebagai berikut:
Logam Fe dengan Logam Cu
Anoda : Fe Fe2+ + 2 e-
Katoda : Cu2+ + 2 e- Cu
Reaksi Keseluruhan : Fe + Cu2+ Fe2+ + Cu
Logam Fe dengan Logam Zn
Anoda : Zn Zn2+ + 2 e-
Katoda : Fe2+ + 2 e- Fe
Reaksi Keseluruhan : Zn + Fe2+ Zn2+ + Fe
C. Hasil Pengamatan Laju Korosi
Laju korosi dari masing-masing spesimen (logam) dapat dilihat pada
tabel berikut:

W A r
Nomor Jenis Logam 2
(gram) (cm ) (gram.cm ) (mil.year-1)
-3

Fe (A1) 0,06 9,8744 7,87 13,7256


1
Cu (A) 0,02 9,9944 8,96 3,9704
Fe (B1) 0,28 9,3744 7,87 67,4697
2
Cu (B) 0,02 11,1240 8,96 3,5672
Fe (C1) 0,03 9,1244 7,87 7,4269
3
Cu (C) 0,01 11,3744 8,96 1,7443
2
Fe (A ) 0,04 9,8744 7,87 9,1505
4
Zn (A) 0,06 10,3744 7,13 14,4201
Fe (B2) 0,24 10,3744 7,87 52,2567
5
Zn (B) 0,22 9,3344 7,13 58,7645
2
Fe (C ) 0,06 9,8744 7,87 13,7257
6
Zn (C) 0,13 10,1944 7,13 31,7951
Tabel 4.12 Laju Korosi untuk Berbagai Logam dan Larutan

Bab IV: Hasil Percobaan dan Pembahasan | Laporan Praktikum Korosi Galvanik 17
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN

5.1 Simpulan
5.2 Saran

Bab V: Simpulan dan Saran | Laporan Praktikum Korosi Galvanik 18


DAFTAR PUSTAKA

Indarti, Retno. 2011. Petunjuk Praktikum Korosi Galvanik. Bandung: Jurusan Teknik Kimia
Politeknik Bandung
Kurniawan, Gilang. 2016. Korosi Galvanik FU. https://dokumen.tips/documents/korosi-
galvanik-fu.html [Diakses tanggal 17 September 2017 pukul 20.04]
Tim Penyusun. 2002. Teknik Pengendalian Korosi. Bandung: Jurusan Teknik Kimia Politeknik
Negeri Bandung

Daftar Pustaka | Laporan Praktikum Korosi Galvanik ii


LAMPIRAN
LAMPIRAN PERHITUNGAN LENGKAP

Perhitungan Potensial Logam dari SCE Menjadi SHE


E = Potensial Logam + 0,314
E Fe (A1) = - 0,332 + 0,314 = - 0,014 V.SHE-1
E Cu (A) = + 0,124 + 0,314 = + 0,442 V.SHE-1
E Fe (B1) = - 0,528 + 0,314 = - 0,210 V.SHE-1
E Cu (B) = + 0,272 + 0,314 = + 0,590 V.SHE-1
E Fe (C1) = - 0,516 + 0,314 = - 0,198 V.SHE-1
E Cu (C) = + 0,218+ 0,314 = + 0,536 V.SHE-1
E Fe (A2) = - 0,334 + 0,314 = - 0,016 V.SHE-1
E Zn (A) = - 0,734 + 0,314 = - 0,416 V.SHE-1
E Fe (B2) = - 0,522 + 0,314 = - 0,204 V.SHE-1
E Zn (B) = - 1,125 + 0,314 = - 0,416 V.SHE-1
E Fe (C2) = - 0,358 + 0,314 = - 0,040 V.SHE-1
E Zn (C) = - 0,410 + 0,314 = - 0,092 V.SHE-1

Perhitungan Potensial Sel


E Logam Reduksi/Logam Oksidasi = Potensial Logam Reduksi - Potensial Logam Oksidasi
E Cu (A)/Fe (A1) = + 0,442 (- 0,014) = + 0,456 V.SHE-1
E Cu (B)/Fe (B1) = + 0,590 (- 0,210) = + 0,800 V.SHE-1
E Cu (C)/Fe (C1) = + 0,536 (- 0,198) = + 0,734 V.SHE-1
E Fe (A2)/Zn (A) = - 0,016 (- 0,416) = + 0,400 V.SHE-1
E Fe (B2)/Zn (B) = - 0,204 (- 0,807) = + 0,603 V.SHE-1
E Fe (C2)/Zn (C) = - 0,040 (- 0,092) = + 0,052 V.SHE-1

Perhitungan Pengurangan Massa Logam


W Logam = Massa Logam Awal - Massa Logam Akhir
W Logam Fe (A1 ) = 10,42 - 10,36 = 0,06 gram
W Logam Cu (A) = 8,55 - 8,53 = 0,02 gram
W Logam Fe (B1 ) = 9,81 - 9,53 = 0,28 gram
W Logam Cu (B) = 9,28 - 9,26 = 0,02 gram
W Logam Fe (C1 ) = 9,95 - 9,92 = 0,03 gram

Lampiran | Laporan Praktikum Korosi Galvanik iii


W Logam Cu (C) = 9,25 - 9,24 = 0,01 gram
W Logam Fe (A2 ) = 10,26 - 10,22 = 0,04 gram
W Logam Zn (A) = 1,68 - 1,62 = 0,06 gram
W Logam Fe (B2 ) = 10,51 - 10,27 = 0,24 gram
W Logam Zn (B) = 1,60 - 1,38 = 0,22 gram
W Logam Fe (C2 ) = 10,25 - 10,19 = 0,06 gram
W Logam Zn (C) = 1,75 - 1,62 = 0,13 gram

Perhitungan Luas Permukaan Logam



Luas Permukaan Logam = (Panjang Lebar - diameter lingkaran2 )
4

Luas Permukaan Logam Fe (A1 ) = (5 2 - 0,42 ) = 9,8744 cm2
4

Luas Permukaan Logam Cu (A) = (4,6 2,2 - 0,42 ) = 9,9944 cm2
4

Luas Permukaan Logam Fe (B1 ) = (5 1,9 - 0,42 ) = 9,3744 cm2
4

Luas Permukaan Logam Cu (B) = (4,5 2,5 - 0,42 ) = 11,1240 cm2
4

Luas Permukaan Logam Fe (C1 ) = (5 1,85 - 0,42 ) = 9,1244 cm2
4

Luas Permukaan Logam Cu (C) = (4,6 2,5 - 0,42 ) = 11,3744 cm2
4

Luas Permukaan Logam Fe (A2 ) = (5 2 - 0,42 ) = 9,8744 cm2
4

Luas Permukaan Logam Zn (A) = (4,6 2,2 - 0,42 ) = 10,3744 cm2
4

Luas Permukaan Logam Fe (B2 ) = (5 2,1 - 0,42 ) = 10,3744 cm2
4

Luas Permukaan Logam Zn (B) = (4,6 2,1 - 0,42 ) = 9,3344 cm2
4

Luas Permukaan Logam Fe (C2 ) = (5 2 - 0,42 ) = 9,8744 cm2
4

Luas Permukaan Logam Zn (C) = (4,7 2,3 - 0,42 ) = 10,1944 cm2
4

Lampiran | Laporan Praktikum Korosi Galvanik iv


Perhitungan Laju Korosi Logam
k W
r=
At
cm cm 1 inch 1000 mils 24 jam 365 hari
1 =1
jam jam 2,54 cm inch hari year
cm
1 = 3448818,898 mpy
jam
mpy.jam
Maka k = 3448818,898
cm
3448818,898 0,06
r Fe (A1 ) = = 13,7256 mpy
2 9,8744 97 7,87
3448818,898 0,02
r Cu (A) = = 3,9704 mpy
2 9,9944 97 8,96
3448818,898 0,28
r Fe (B1 ) = = 67,4697 mpy
2 9,3744 97 7,87
3448818,898 0,02
r Cu (B) = = 3,5672 mpy
2 11,1240 97 8,96
3448818,898 0,03
r Fe (C1 ) = = 7,4269 mpy
2 9,1244 97 7,87
3448818,898 0,01
r Cu (C) = = 1,7443 mpy
2 11,3744 97 8,96
3448818,898 0,04
r Fe (A2 ) = = 9,1505 mpy
2 9,8744 97 7,87
3448818,898 0,06
r Zn (A) = = 14,4201 mpy
2 10,3744 97 7,13
3448818,898 0,24
r Fe (B2 ) = = 52,2567 mpy
2 10,3744 97 7,87
3448818,898 0,22
r Zn (B) = = 58,7645 mpy
2 9,3344 97 7,13
3448818,898 0,13
r Fe (C2 ) = = 31,7951 mpy
2 10, 97 7,87

Lampiran | Laporan Praktikum Korosi Galvanik v


LAMPIRAN PROSEDUR KERJA LENGKAP

Persiapan Logam dan Larutan

Mempersiapkan logam Cu, Fe, dan Zn. Kemudian membersihkan dengan menggunakan
kertas abrasive dan air keran.

Menimbang NaCl 3,56 gr kemudian larutkan dengan aquades hingga volume 1000 ml di
dalam gelas kimia.

Menyiapkan larutan HCl 1 M, jika tidak ada dapat mengenceerkan HCl pekat

Menentukan Katode dan Anode

Memasang elektroda reference (Cu) di kutub positif dan elektroda yang akan
potensialnya di kutub negatif pada multimeter.

Menyalakan multimeter dan memasukan kedua elektrode ke dalam larutan yang dipakai
yaitu (HCl, larutan NaCl, dan air keran).

Mencatat nilai potensial masing-masing logam.

Menentukan Potensial Sel

Memasang logam yang lebih negatif di anoda (kutub negatif) dan logam yang lebih
positif di katoda (kutub positif) pada multimeter.

Memasukan kedua logam tersebut ke dalam larutan yang sama

Mencatat nilai potensial masing-masing rangkaian.

Lampiran | Laporan Praktikum Korosi Galvanik v


Menentukan Laju Korosi

Menghubungkan kedua logam dengan menggunakan kawat, selanjutnya mencelupkan


kedua logam tersebut.

Menyimpan rangkaian tersebut selama 5 hari.

Menentukan laju korosi logam.

Lampiran | Laporan Praktikum Korosi Galvanik vi


LAMPIRAN GAMBAR HASIL PRAKTIKUM

Nomor Keterangan Gambar

Keadaan larutan setelah 5 hari

1 Larutan NaCl
Logam : Fe dengan Zn

Keadaan larutan setelah 5 hari

2 Larutan HCl
Logam : Fe dengan Zn

Keadaan larutan setelah 5 hari

3 Air Keran
Logam : Fe dengan Zn

Lampiran | Laporan Praktikum Korosi Galvanik vii


Keadaan larutan setelah 5 hari

4 Larutan NaCl
Logam : Fe dengan Cu

Keadaan larutan setelah 5 hari

5 Larutan HCl
Logam : Fe dengan Cu

Keadaan larutan setelah 5 hari

6 Air Keran
Logam : Fe dengan Cu

Lampiran | Laporan Praktikum Korosi Galvanik viii