Anda di halaman 1dari 12

ANALISIS JURNAL

Childrens Coping Strategies for Chemotherapy-Induced Nausea and Vomiting

Strategi Penanganan pada Anak yang Menjalani Kemoterapi-yang Menyebabkan


Mual dan Muntah

Oleh :
Profesi Ners Kelompok C PSIK FK UNLAM
STASE PEMINATAN ANAK

Dewi Irianti I1B108209


Rizky Ariani I1B108219
Meti Agustini I1B108231

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
2013
LEMBAR PENGESAHAN

ANALISIS JURNAL

Childrens Coping Strategies for Chemotherapy-Induced Nausea and Vomiting

Strategi Penanganan pada Anak yang Menjalani Kemoterapi-yang Menyebabkan


Mual dan Muntah

Oleh :
Profesi Ners Kelompok C PSIK FK UNLAM
STASE PEMINATAN ANAK

Dewi Irianti I1B108209


Rizky Ariani I1B108219
Meti Agustini I1B108231

Banjarmasin, 12 Juni 2013


Mengetahui,
Pembimbing Akademik Pembimbing Lahan

Devi Rahmayanti, S.Kep,Ns, Wiwik Winarsih, S.Kep, Ns


A. Judul Jurnal
Childrens Coping Strategies for Chemotherapy-Induced Nausea and Vomiting

Strategi Penanganan pada Anak yang Menjalani Kemoterapi-yang Menyebabkan Mual


dan Muntah

B. Latar Belakang Masalah


Pengobatan kanker pada anak menggunakan obat kemoterapi yang memiliki efek
samping dapat menyebabkan mual dan muntah yang sangat parah( CINV
Chemotherapy Induced Nausea and Vomiting ). Sebanyak 60% pasien anak yang
dilakukan kemoterapi, melaporkan bahwa mereka mengalami mual dan muntah selama
proses kemoterapi berlangsung. Namun, frekuensi dan durasi kejadian mual / muntah
tersebut belum di dokumentasikan secara baik. Mual dan muntah merupakan salah satu
efek kemoterapi yang paling ditakuti dan memperparah efek samping dari pengobatan
kemoterapi. Faktor yang mempengaruhi mual / muntah selama kemoterapi adalah
seperti faktor fisik dan psikososial, termasuk anoreksia, malnutrisi, ketidakseimbangan
cairan dan elektrolit, status fungsional yang buruk, dan kecemasan. Faktor-faktor
tersebut dapat menyebabkan pasien anak memiliki komplikasi , keterlambatan
pengobatan, dan penurunan kualitas hidup. Selain itu kemoterapi juga berdampak pada
aspek finansial seperti tersita nya waktu untuk bekerja karena merawat anak yang sakit,
serta meningkat nya biaya untuk melakukan kunjungan medis.
Obat kemoterapi diklasifikasikan berdasarkan potensinya menyebabkan emesis.
High Emetogenic Chemotherapy (HEC) atau agen kemoterapi yang berpotensi tinggi
menyebabkan emesis, yaitu sekitar 90% berpotensi menyebabkan muntah. Moderate
Emetogenic Chemotherapy (MEC) atau agen kemoterapi yang berpotensi 30% - 90%
menyebabkan emesis. Untuk menghindari efek samping kemoterapi yang merugikan
pada anak-anak seperti mual dan muntah,startegi untuk meminimalkan atau
menghilangkan efek mual/muntah menjadi sangat penting. Namun sebagai perawat,
juga harus memahami pengalaman anak terhadap rasa mual dan muntah untuk memilih
strategi yang efektif.
Kerangka Konseptual
Tiga komponen penting yang perlu di evaluasi yaitu: pengalaman simptom,
menajemen strategi mengatasi simptom dari mual/muntah, serta hasil / outcomes. Proses
evaluasi dimulai dari pengalaman merasakan mual/muntah yaitu mengkaji persepsi dan
respon dari gejala yang dirasakan, sehingga dapat ditentukan manajemen strategi yang
efektif untuk hasil yang positif. Penelitian ini mengevaluasi pengalaman mual/muntah
dengan mengkaji persepsi dan respon anak yang dilakukan kemoterapi MEC dan HEC.
Persepsi anak mengenai gejala mual/muntah dikaji dengan mengidentifikasi seberapa
sering anak mengalami mual/muntah, durasi, dan rasa sakit. Pemahaman yang
komprehensif mengenai pengalaman mual/muntah memungkinkan perawat dapat
menggunakan manajemen strategi yang efektif untuk mengurangi kejadian
mual/muntah.

Tinjauan Pustaka
1. Kemoterapi menyebabkan mual dan muntah
Sebuah penelitian lain menunjukan bahwa sebanyak 83% dari 35 anak berumur 7-
12 tahun yang menjalani kemoterapi mengalami mual, dan 41% mengalami muntah.
Penelitian lainnya juga menunjukan bahwa 100% dari 11 anak yang menjalani
kemoterapi mengalami mual, dan 36% mengalami muntah.
Sebuah studi penelitian mengevaluasi kejadian antisipasi mual dan penundaan
kejadian mual pada 66 orang anak yang menjalani kemoterapi, ditemukan bahwa 47 %
pasien anak tidak mengalami mual dan 80% pasien anak baru mengalami mual setelah 1
minggu kemoterapi. Mual/muntah merupakan hal yang menyakitkan dari kemoterapi.
Namun sugesti dapat menyebabkan pengalaman mual/muntah selama kemoterapi tidak
dirasakan oleh pasien anak.
2. Koping anak
Koping didefinisikan sebagai cara untuk mengelola pengalaman - pengalaman yang
menantang dan dapat dikategorikan sebagai cara mengatasi maslah secara aktif/pasif
atau berorientasi pada penghindaran masalah. Penelitian mengenai koping pada pasien
anak dengan kanker berfokus pada mengatasi diagnosis penyakit mereka. Sebuah studi
kualitatif pada 14 pasien dewasa yang di diagnosa terkena kanker, dalam 2 bulan
pertama strategi koping yang dugunakan adalah strattegi koping aktif dengan dukungan
sosial sebagai cara utama untuk mengatasi penyakit dan pengobatan mereka.
Pada pasien anak, untuk mengatasi rasa mual 86% mereka menggunakan strategi
koping pasif yaitu berpikir positif dan strategi koping aktif dari regulasi emosional dan
distraksi, namun 83% yang lainnya menggunakan strategi koping aktif dengan
dukungan sosial. Ketika mengatasi muntah, 88% menggunakan koping pasif dan 83%
menggunakan koping aktif.
Studi menunjukan bahwa pasien anak-anak biasanya menggunakan berbagai
macam koping (aktif dan pasif) dalam mengatasi mual/muntah. Namun koping aktif
merupakan strategi yang lebih sering digunakan dan dirasakan berhasil . Penelitian
tambahan diperlukan untuk mengidentifikasi jenis strategi koping yang lebih efektif.

C. Tujuan Penelitian
Untuk mengidentifikasi apakah terdapat perbedaan antara evaluasi yang dilakukan
pada antisipatif, akut, dan delay CINV pada frekuensi CINV dan strategi koping yang
digunakan oleh anak.
Studi penelitian ini mengevaluasi gejala berdasarkan pengalaman dengan menilai
persepsi dan respon dari CINV pada anak-anak menjalani MEC atau HEC. Persepsi
anak-anak gejala yang dinilai dari kuantitas mual dan frekuensi muntah, durasi, dan rasa
tidak nyaman, sedangkan respon gejala dinilai dengan mendokumentasikan strategi
coping yang digunakan mereka dengan CINV. Sebuah pemahaman yang komprehensif
tentang pengalaman gejala CINV akan memungkinkan pengasuh untuk mengusulkan
strategi manajemen yang lebih efektif untuk mengurangi kejadian dan konsekuensi dari
mual dan muntah, yang pada akhirnya dapat memberikan criteria hasil yang lebih baik
pada anak yang menerima MEC atau HEC.
D. Metode Penelitian
1. Pengaturan dan Sampel
Sampel penelitian dari 40 pasien dengan kanker direkrut dari rumah sakit
pendidikan khusus pediatri yang besar di Amerika Serikat bagian selatan. Anak-anak
direkrut dari pasien rawat inap dan rawat jalan dari sebuah pusat kanker dan
transplantasi sumsum (BMT) Unit tulang. Meskipun terapi perawatan oncologi dan
BMT bervariasi dalam intensitas, obat MEC dan HEC memiliki definisi khusus yang
memungkinkan kelompok mendapatkan perlakuan terapi yang di kombinasikan untuk
menentukan perbandingan.
Dari 40 sample yang diperlukan telah membuat perkiraan dengan sampling error
tidak lebih tinggi atau lebih rendah dari 5% dengan tingkat kepercayaan 95%. Ukuran
sampel ditetapkan menggunakan penentuan dari studi kesehatan. Kriteria inklusi adalah
anak-anak usia 7-12 tahun yang berbahasa Inggris, dengan diagnosis kanker, dan telah
dijadwalkan untuk menerima MEC atau HEC. Anak-anak menyelesaikan setidaknya
satu siklus kemoterapi sebelumnya untuk memiliki beberapa pengalaman potensial
dengan efek samping untuk secara akurat mengevaluasi antisipatif CINV. Kriteria
eksklusi dari penelitian yaitu jika mereka atau pengasuh utama mereka tidak bisa bahasa
Inggris karena instrumen yang digunakan untuk penelitian hanya tersedia dan divalidasi
dalam bahasa Inggris.

2. Instrumen
Anak-anak yang diidentifikasi merasakan mual atau muntah melalui survei yang
dilaporkan sendiri menggunakan adaptasi Rhodes Indeks Mual dan Muntah untuk
Pediatric (ARINVc). Survei terdiri dari beberapa item, yaitu: pasien-rated, alat
mengevaluasi frekuensi, durasi, dan perasaan mual dan frekuensi, jumlah muntah
selama sebelum 12 jam.
Tingkat kenyamanan pasien : tingkat perasaan mereka pada lima poin skala Likert
mulai dari 0 (tidak ada perasaan yang muncul) sampai 4 (mual atau muntah yang
signifikan). Survei ini memiliki potensi total skor 24, dengan skor yang lebih tinggi
menunjukkan mual atau muntah lebih signifikan. ARINVc adalah modifikasi dari
Indeks Rhodes asli Mual dan Muntah, tidak ada reliabilitas telah ditetapkan untuk
ARINVc, tapi instrumen asli memiliki Cronbach alpha dari 0,89-0,97 dan prosedur
split-setengah dari 0,83-0,99 (Rhodes & Johnson, 1984). Validitas konkuren adalah
menetapkan antara ARINVc dan National Cancer Institute mual dan muntah dengan
kriteria penilaian (r = 0,52-0,88, p <0,01) (Lo & Hayman, 1999).
Versi The Kidcope-Younger digunakan untuk mengevaluasi strategi koping pasien.
Kidcope adalah kuesioner 15 item yang menilai 10 strategi penanganan umum (5 aktif
dan 5 strategi coping pasif). Anak diminta untuk menjawab ya atau tidak
pertanyaan mengenai penggunaan berbagai strategi coping. Jika anak melaporkan ya,
maka dengan skala Likert mendapatkan 3 point pada efektivitas strategi, semakin tinggi
skor yang menunjukkan semakin efektif bantuan dari strategi koping. Keandalan dari
alat ditentukan dengan korelasi tes-tes ulang. Korelasi dari 0,56-0,75 diperoleh ketika
peserta dinilai dari lamanya mereka mengatasi stres pada pribadi yang sama 3 hari
terpisah, dan korelasi serupa 0,41-0,83 diperoleh ketika peserta dinilai dari lamanya
mereka mengatasi 3-7 hari terpisah, namun korelasi menolak 0,15-0,41 ketika
mengatasi dinilai 10 minggu terpisah (Spirito et al., 1988). Validitas kriteria terkait
ditunjukkan dengan validitas konkuren menunjukkan korelasi yang cukup antara
Kidcope dan Strategi Penanganan Inventory (Spirito et al., 1988). Pembuatan validitas
didukung dengan teknik kelompok yang dikenal menunjukkan perbedaan statistik yang
signifikan antara anak psikologis suara dan psikologis bingung (Spirito et al., 1988).

3. Prosedur
Setelah Badan review institusional dari Baylor College of Medicine di Houston,
TX, menyetujui penelitian ini. Sampel yang memenuhi syarat dan orang tua atau wali
mereka diperkenalkan pada penelitian oleh peneliti utama atau koordinator penelitian.
Jika mereka setuju untuk berpartisipasi, kemudian diminta untuk menandatangani surat
persetujuan suatu persetujuan. Pasien yang dilibatkan dalam penelitian sesuai criteria
inklusi. Pengumpulan data pertama untuk mengevaluasi CINV antisipatif dilakukan
dalam waktu 48 jam sebelum MEC atau HEC administrasi, pengumpulan data untuk
mengevaluasi kedua CINV akut dilakukan dalam waktu 24 jam setelah pemberian MEC
atau HEC obat kemo dalam infus, dan pengumpulan data ketiga untuk mengevaluasi
delay CINV terjadi dalam waktu setelah 24 jam dan sampai tujuh hari setelah
pemberian terakhir dari MEC atau agen HEC. Pada setiap point waktu pengumpulan
data, pasien menyelesaikan pertanyaan ARINVc dan kuesioner Kidcope. Koordinator
atau peneliti utama mengecek kelengkapan alat pada tiap point waktu untuk
memastikan tidak ada data yang hilang.

4. Analisis Data
SPSS , versi 15.0, digunakan untuk menganalisis statistik. Statistik deskriptif
univariat digunakan untuk menentukan frekuensi, ukuran pemusatan, dan variabilitas
untuk kuesioner ARINVc dan Kidcope. One way ANOVA digunakan untuk
mengevaluasi apakah nilai CINV, frekuensi strategi coping, atau keberhasilan strategi
coping berbeda secara signifikan sepanjang waktu. Jika signifikansi mencatat, analisis
post hoc menggunakan uji Bonferroni dilakukan untuk mengidentifikasi di mana
terdapat perbedaan.

5. Hasil Penelitian
Rekrutmen dilakukan sejak bulan mei 2009 sampai juni 2010. Empat orang pasien
yang diseleksi menolak menjadi partisipan penelitian dikarenakan berbagai alasan,
seperti menginginkan kompensasi finansial, dan tidak ingin membahas masalah efek
samping mual/muntah dari kemoterapi yang dijalani. Karakteristik 40 partisipan
penelitian ada di tabel 1. Umur pasien anak berkisar antara 7 12 tahun, namun hampir
semua partisipan penelitian merupakan laki-laki dan ras Caucasia. Pasien yang
menjalani kemoterapi MEC lebih banyak dari pada pasien yang menjalani HEC.
Meskipun begitu ada beberapa pasien juga menjalani terapi radiasi dan BMT.
Pengumpulan data diakukan pada 48 jam sebelum pasien menjalani kemoterapi
MEC atau HEC. 39 orang dari 40 pasien rawat jalan selama satu persatu. Anak lebih
sering dirawat dirumah sakit selama fase akut.pengumpulan data rata-rata dari
mual/muntah yang tertunda sekitar 4,9 hari, dengan kissaran 1 7 hari setelah
kemoterapi.

Kemoterapi menyebabkan mual/muntah


Pasien melaporkan mual/muntah selama 3 periode waktu : 12 pasien (30%)tidak
mengalami mual/muntah, 22 pasien (55%)mengalami mual/muntah akut, dan 28 pasien
(70%) mengalami mual/muntah beberapa waktu setelah menjalani kemoterapi. Total
skor mual/muntah (CINV) menunjukan frekuensi, tingkat keparahan, dan distress
mual/muntah yang meningkat dari waktu ke waktu. Pengukuran secara berulang
menggunakan ANOVA dengan mengukur total skor CINV (total skor mual/muntah yang
disebabkan kemoterapi) untuk mengevaluasi efek dari pasien yang menerima BMT
dibandingkan dengan pasien yang hanya menjalani kemoterapi saja pada tiga periode
penilaian. Namun tidak ada perbedaan skor total yang signifikan antara kedua
perbandingan tersebut.
Sebuah uji ANOVA dilakukan untuk mengevaluasi perubahan laporan pasien dari
mual/muntah antisipatif, akut, dan mual/muntah yang tertunda. Hasil analisis
menunjukkan perubahan signifikan secara statistik sepanjang waktu, L = 0,65, F (2, 38)
= 10,243, p <0,001. Uji perbandingan Tindak lanjut berpasangan pendekatan Bonferroni
menunjukkan sada perubahan statistik signifikan antara antisipatif dan akut skor CINV
(p <0,05) dan antara antisipatif dan tertunda skor CINV (p <0,001). CINV tertinggi
setelah pemberian kemoterapi selama periode waktu tertunda. Keandalan antisipatif,
akut, dan tertunda skor CINV menggunakan ARINVc di antara 40 anak dalam sampel
ini menunjukkan Cronbach alpha dari 0,84-0,92.

Mengatasi Frekuensi
Beberapa strategi coping yang dilaporkan selama jangka waktu antisipatif, akut,
dan tertunda (Gambar 3). Sebuah pengujian ANOVA berulang dilakukan dengan
frekuensi strategi coping untuk mengevaluasi efek dari pasien yang menerima BMT
dibandingkan kemoterapi saja pada tiga periode penilaian. Namun tidak ada pengaruh
yang signifikan antara perbandingan tersebut. Uji ANOVA menunjukkan tidak ada
perbedaan statistik yang signifikan dalam frekuensi dari strategi coping yang digunakan
selama tiga periode waktu (antisipatif, akut, dan tertunda). Jenis-jenis strategi coping
yang digunakan untuk antisipatif, akut, dan tertunda CINV adalah sebanding. Strategi
penanggulangan yang paling sering digunakan termasuk satu strategi pasif dengan
berpikir posotif dan tiga strategi coping aktif, regulasi emosional, dan pemecahan
maslah.
Strategi coping aktif digunakan dua kali lebih sering sebagai strategi penyesuaian
pasif. Yang paling umum digunakan strategi bertahan aktif adalah dengan cara distraksi,
seperti mencoba untuk melupakan mual/muntah yang disebabkan kemoterapi atau
melakukan kegiatan seperti menonton televisi atau bermain. Strategi koping pasif yang
paling umum digunakna adalah dengan berpikir positif seperti menganggap bahwa
mual/muntah merupakan hal yang biasa. Strategi koping pasif terdiri dari sikap
menghindar, dengan anak yang tidak menjadi aktif dalam mengelola nya atau CINV
nya.

Mengatasi Khasiat
Pasien yang menggunakan strategi coping diminta untuk menilai kemanjuran dari
setiap strategi pada skala Likert penilaian pada tiga titik. Sebuah uji ANOVA berulang
dilakukan dengan keberhasilan strategi coping mengevaluasi efek pasien yang
menerima BMT dibandingkan kemoterapi saja pada tiga periode penilaian.
Uji ANOVA menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan dalam efektivitas
setiap strategi penanggulangan dari waktu ke waktu. Strategi coping yang menerima
skor tertinggi termasuk dukungan sosial, gangguan, dan pemecahan masalah, yang
semua strategi coping aktif (lihat Gambar 4). Menyalahkan orang lain untuk
mual/muntah (CINV) yang tertunda adalah satu-satunya strategi untuk menerima nilai
tertinggi yang banyak mebantu, namun hanya satu anak dari sampel dilaporkan
menggunakan strategi ini.

6. Analisa Pembahasan
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif prospektif yang mengevaluasi
frekuensi, durasi, dan antisipasi stres, akut, dan delayed CINV dengan frekuensi dan
kemanjuran strategi koping yang digunakan untuk CINV di kalangan anak-anak usia
sekolah yang menerima program MEC atau HEC. CINV meningkat secara signifikan
dari waktu ke waktu. Angka kejadian mual atau muntah dalam penelitian ini adalah
(30% untuk antisipatif, 55% untuk akut, dan 70% untuk delayed) adalah sama dengan
tingkat prevalensi 60% yang dilaporkan dalam literatur (TYC et al., 1997). Satu
pertimbangan keperawatan yang penting adalah mual atau muntah dapat terjadi pada
pasien yang sudah lama selesai menjalani pengobatan kemoterapi. Anak-anak mungkin
tidak akan melaporkan gejala tersebut karena mereka mengharapkan efek samping dari
pengobatan kemoterapi hanya mereka yang merasakan. Akibatnya, pengkajian
keperawatan mengenai mual dan muntah pada anak perlu dilakukan sebelum, selama,
dan setelah perawatan kemoterapi. Hal ini merupakan kunci dari pengelolaan CINV.
Strategi penanggulangan gejala yang paling sering digunakan oleh anak-anak pada
penelitian ini meliputi strategi aktif dan pasif untuk mengatasi gangguan, angan-angan,
regulasi emosional, dan pemecahan masalah. Studi menemukan bahwa, strategi koping
aktif yang paling efektif dalam penanganan terhadap CINV. Strategi penanggulangan
yang paling efektif tidak selalu strategi yang paling sering digunakan oleh anak-anak
dengan CINV. Selain itu, efektivitas strategi koping tidak berubah secara signifikan
dari waktu ke waktu. Anak-anak mungkin perlu diperkenalkan dan menginstruksikan
tentang cara menggunakan berbagai strategi coping untuk membuat mereka lebih
efektif dalam membantu mengurangi atau meringankan CINV.

Keterbatasan
Studi saat ini disediakan hanya sebuah snapshot dari pengalaman CINV karena data
dikumpulkan masing-masing satu kali selama tiga periode waktu. Studi masa depan
harus meliputi penelitian kualitatif yang dapat memberikan gambaran yang
komprehensif pengalaman CINV dan strategi penanggulangan. Selain itu, studi
kualitatif akan memungkinkan anak-anak untuk mengekspresikan efektivitas strategi
penanganan khusus yang digunakan untuk CINV menggunakan bahasa mereka sendiri.
Potensi bias ada karena peserta ditanyai tentang mual dan muntah berdasarkan dengan
pengalaman. Generalisasi dari penelitian ini sangat terbatas. Studi harus dilakukan
untuk memvalidasi temuan yang lebih besar, sampel yang lebih beragam dari berbagai
institusi. Studi tambahan juga harus dilakukan untuk mengevaluasi perbedaan antara
rawat inap dengan status rawat jalan dan pasien dengan kanker dengan penerima BMT.

7. Kesimpulan
Perawat sebagai penyedia pelayanan kesehatan yang berfungsi sebagai titik yang
paling umum untuk melakukan kontak kepada pasien dan keluarga menjadikan bagian
penting untuk mengidentifikasi dan membantu dalam strategi manajemen CINV
(Ouwerkerk, 1994). Perawat perlu mengenali pentingnya aturan dalam perawatan untuk
pasien dengan CINV. Dengan peningkatan pengetahuan mengenai keefektifan strategi
koping yang efektif, diharapkan perawat dapat membantu anak-anak usia sekolah
dengan CINV untuk berkembang dan menggunakan strategi yang efektif. Selain itu,
perawat juga dapat mengajarkan kepada pengasuh utama untuk meringankan mual dan
muntah pada anak-anak yang menjalani kemoterapi. Perawat Pediatric onkologi adalah
pemberi pelayanan yang ideal untuk mengenali frekuensi CINV, memiliki pengetahuan
tentang periode waktu yang paling membuat anak menjadi stress tentang CINV, serta
dapat membantu dan memberikan perawatan dengan menggunakan strategi
penanggulangan yang efektif dan intervensi bagi efek samping umum pengobatan
kanker pada anak.

8. Implementasi Keperawatan
Implementasi keperawatan yang dapat diberikan adalah:
a. Kemoterapi merupakan tindakan pengobatan yang diberikan pada pasien kanker.
Pengobatan ini sifatnya berkelanjutan dan diberikan dalam jangka waktu yang
lama. Efek samping dari pengobatan ini cukup beragam, salah satu yang paling
dikeluhkan adalah mual dan muntah. Sebagai seorang perawat, harus dapat
memberikan intervensi yang tepat dalam menangani gejala tersebut.
b. Kemoterapi yang diberikan pada anak-anak akan memberikan tantangan tersendiri
bagi perawat dalam memberikan penanganan agar pasien tidak menolak untuk
melakukan pengobatan kemoterapi selanjutnya sesuai dengan jadwal/protocol yang
sudah ditentukan. Anak-anak akan lebih cepat mengalami trauma terhadap efek
samping yang muncul dari kemoterapi ini, sehingga tidak jarang akan
menyebabkan penolakan dari anak tersebut.
c. Kondisi kesehatan anak perlu diperhatikan saat akan melakukan kemoterapi.
Perlunya pemeriksaan secara komprehensif oleh perawat terhadap kesehatan anak
secara umum sangat penting dilakuakan.
d. Terapi bermain perlu dilakukan kepada anak dengan hospitalisasi yang lama dan
berulang agar anak tidak merasa bosan dan jenuh dengan kondisi rumah sakit yang
selalu dialaminya.