Anda di halaman 1dari 73

KOMUNIS DALAM PERPSPEKTIF BUNG HATTA

PANDANGAN DAN KRITIK BUNG HATTA TERHADAP


PARTAI KOMUNIS INDONESIA

Oleh:
ACHMAD KOMARUDIN
NIM : 9933216562

JURUSAN PEMIKIRAN POLITIK ISLAM


FAKULTAS USHULUDDIN DAN FILSAFAT
UIN SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1427 H / 2007 M
DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN
KATA PENGANTAR ....... i
DAFTAR ISI ...... iii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah .. 1

B. Tujuan Penelitian ..... 6

C. Pembatasan Masalah ... 7

D. Perumusan Masalah ..... 7

E. Metodelogi Penelitian .. 8

F. Sistematika Penulisan .. 9

BAB II SEJARAH SINGKAT BUNG HATTA

A. Gambaran Umum Lingkungan dan Kondisi

Sosial Masyarakat Minangkabau .. 13

B. Latar Belakang Keluarga dan Pendidikan 19

C. Perjuangan Mohammad Hatta Dalam

Menegakkan Kemerdekaan Republik Indonesia 25

BAB III KOMUNIS DALAM KONTEK KEINDONESIAAN

A. Gambaran Umum Komunis .. 29

B. Pengertian Dasar Tentang Komunis .. 35

C. Latar Belakang Berdirinya Komunis di Indonesia 36

D. PKI Sebagai Wujud Gerakan Komunis . 42


BAB IV KOMUNIS DALAM PANDANGAN HATTA
A. Perkembangan Komunis dari Waktu ke Waktu . 45
B. Kritik Bung Hatta Terhadap Perkembangan PKI 57

BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan ..... 62
B. Saran .... 64

DAFTAR PUSTAKA
KATA PENGANTAR

Bismillahirrohmanirrahim

Alhamdulillah, puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena

karunia dan inayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan karya tulis ini.

Shalawat dan salam semoga selalu tercurahkan kehadirat manusia yang paling

agung Nabi Muhammad SAW yang telah membawa umat manusia menuju jalan

yang diridhoi-Nya.

Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi ini dapat terwujud

karena dukungan moril dan spirituil rekan-rekan yang telah memotivasi penulis

dalam menyelesaikan skripsi ini.

Maka pada kesepatan yang berharga ini penulis mengucapkan terima kasih

yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang secara langsung maupun secara

tidak langsung telah membantu dan memberi kesempatan penulis dalam

penyusunan skripsi ini, terutama kepada :

1. Kepada Mantan Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Prof. Dr. Azyumardi

Azra beserta staf, dan Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Prof. Dr.

Komarudin Hidayat.

2. Kepada pihak Dekanat Fakultas Ushuluddin Bapak Prof. Dr. Amsal Bachtiar

MA beserta staf terkait

3. Kepada Ketua Jurusan Bapak Agus Darmaji M.A dan Sekretaris Jurusan Dra.

Wiwi Siti Sajaroh M.Ag.

4. Kepada Dosen Pembimbing Skripsi Bapak Idris Thaha M.Si, yang telah

meluangkan waktunya untuk memberikan bimbingan skripsi.


5. Kedua orang tua tercinta H. Mohammad Sukih dan Hj. Sapinah yang tiada

henti-hentinya memberikan dukungan moril dan sprituil, semoga amal

kebaikannya mendapat ganjaran yang setimpal.

6. Kakak-kakakku tercinta Sawan, Sofiyati, Achmad Sopian dan adikku

Nurhasanah penulis ucapkan terima kasih atas semua doanya.

7. Rekan-rekan seperjuangan PPI angkatan 99 yang telah memberikan motifasi

terutama Sayid Nur Fatah, Mustafid Gade, Muhammad Yusuf, Hadi

Ambon Fahmi, M. Rafiuddin, Ulfi Fauzi, Reza Bejo Nurdiyansyah,

Ricky Haryanto, Singgih dan rekan-rekan lainnya, terima kasih atas

motifasinya.

8. Kawan-kawan Majlis Talim Miftahul Huda yang selalu memperjuangkan dan

menghidupkan nilai-nilai Islam terutama Ustadz H. A. Naufal Mamun, bang

Jibud, Babet, Ojie, Firman, Aziz Habib, Aqi Iskandar dan kawan-kawan

lainnya.

9. Untuk teman diskusi, Abdul Jagur Hannan, Abdul Aziz Olay, Ahmad

Suprayoga, Suhaidi P-tet, N-cep, Wahyu Dewo Haryanto Nyamoex,

Dady Biaggi, yang telah menemani dalam penyusunan skripsi ini dan

seseorang yang telah memberikan inspirasi dan semangat.

Akhirnya untuk semua pihak penulis mengucapkan jazakumullah khairan

katsiro. Semoga Allah azza wajalla membalas semua kebaikannya. Amin.

Wallahu al-Muwafiq ilaa Aqwami ath-Thariq.

Jakarta, Februari 2007

Penulis
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang Masalah

Mohammad Hatta (1902-1980) merupakan seorang tokoh nasionalis yang

memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Ia merupakan seorang keturunan

Minangkabau yang berlatar belakang dari kalangan ulama terkemuka. Dengan

latar belakang itulah, kehidupan beragama mengakar dalam diri Hatta sehingga

dapat digambarkan bahwa Hatta merupakan seorang muslim yang taat

menjalankan ajaran agamanya serta luas pengetahuannya tentang ajaran Islam.

Hal ini senada dengan perkataan yang dilontarkan oleh Deliar Noer: Bung Hatta

merupakan tokoh unik yang berlainan dengan tokoh yang lain yang mendahului

kita, yang saya maksud adalah sifat taqwa beliau.1

Masa muda Hatta dihabiskan dalam dunia pendidikan dan organisasi. Ia

pernah aktif dalam Jong Sumatranean Bond (JSB) yang bersifat primordialis,

Perhimpunan Indonesia (PI) yang bersifat nasionalis sekuler di Belanda dan

Pendidikan Nasionalis Indonesia (PNI-Baru).

Dalam Perhimpunan Indonesia (PI) Hatta mencoba memperkenalkan dan

memperjuangkan kemerdekaan Indonesia pertama kalinya dalam dunia

internasional pada Kongres Internasional Menentang Kolonialisme di Brussel.

Keberhasilan Hatta dan kawan-kawan Perhimpunan Indonesia (PI) dalam

menentang kolonialisme tentulah bukan perjuangan organisasi ataupun

1
B. Setiawan, Ensiklopedi Nasional Indonesia, (Jakarta: PT. Cipta Adi Pustaka, 1990), h.
619.
1
perorangan, melainkan perwakilan dari rakyat Indonesia. Ikut pula menghadiri

Kongres tersebut dari golongan Partai Komunis Indonesia (PKI) yang diwakili

Semaun.

Pada awalnya PKI di bawah komando Semaun dan kawan-kawan muncul

sebagai langkah perjuangan untuk mewujudkan kemerdekaan Indonesia, tetapi

pada perkembangan selanjutnya organisasi ini bertolak haluan. Pada awal

kemerdekaan Indonesia, PKI malah merongrong pemerintahan sah yang baru

terbentuk. Terlebih-lebih ketika Indonesia dalam masa menentukan arah

kemerdekaan, PKI muncul sebagai kekuatan tandingan dan berusaha mengambil

alih kekuasaan negara yang lebih dikenal dengan peristiwa Gerakan 30 September

PKI.

Di Indonesia, paham dan gerakan komunis pertama kali muncul pada saat

bangsa tersadar bahwa bangsa Indonesia masih terjajah oleh bangsa lain, seperti

ungkapan Hattta yang dikutip oleh Ingelson Kami yang ada di sini (di

Belanda)... sedang berusaha membentuk suatu blok nasionalis yang berintikan

kaum nasionalis radikal yang kuat, termasuk orang komunis. Kerjasama dengan

orang komunis tidak ada bahayanya; malahan sebaliknya, asal kita tidak

melengahkan dasar-dasar ideologi kita sendiri, akan bertambah kuat membentuk

blok nasionalis.2

Keinginan untuk mewujudkan kemerdekaan diaktualisasikan dalam sebuah

gerakan yang bersifat organisasi ataupun pergerakan, baik yang bersifat kooperatif

maupun yang nonkooperatif. Golongan kooperatif merupakan golongan elite pada

2
M. Imam Aziz, Ketika Nasionalisme Letih, Kompas (Jakarta), Jumat 1 Juni 2002, h.
55
waktu itu yang memperjuangkan kemerdekaan dengan jalan menempatkan wakil-

wakilnya dalam dewan-dewan perwakilan rakyat yang dibentuk oleh pemerintah

Hindia Belanda seperti menjadi anggota DPR sekarang atau pada tingkat DPRD.

Yang termasuk dalam golongan ini antara lain Parindra (Partai Indonesia Raya)

yang merupakan fusi dari Budi Utomo, Sarekat Sumatra, Partai Sarekat Celebes,

dan Persatuan Bangsa Indonesia. Sedangkan golongan yang termasuk non

kooperatif pada waktu itu adalah PNI (Partai Nasional Indonesia) yang dipimpin

oleh Soekarno dan PNI Baru (Pendidikan Nasional Indonesia) yang dipimpin oleh

Mohammad Hatta.

Syarekat Islam secara langsung telah menjadi wadah awal munculnya gerakan

komunis di Indonesia. Hal ini disebabkan karena kadernya seperti Semaun dan

Darsono yang mencoba memulai dengan ide menuju kekiri-kirian dengan ide-

ide sosialisme. Semaun dan Darsono selalu menjadi oposisi dalam Sarekat Islam.

Dan pada tahun 1917 berdirilah PKI secara tidak resmi dan diam-diam yang

merupakan fraksi kiri di dalam Syarikat Islam.3

Indonesia sebagai negara berkembang pada jaman pergerakan dan awal-awal

kemerdekaan pernah melewati hitam kelabu bangsa dengan gerakan komunis.

Tercatat telah terjadi beberapa kali gerakan komunis muncul sebagai gerakan

pemberontak dan muncul sebagai atribut partai, yaitu dengan nama PKI (Partai

Komunis Indonesia). PKI sebagai pengusung gerakan komunis tercatat telah

beberapa kali melakukan gerakan-gerakan oposisi pemerintah. Pada tahun 1926

melakukan pemberontakan terhadap pemerintah Belanda yang berkuasa di

3
Mohammad Hatta, Bung Hatta Menjawab, (Jakarta: PT. Gunung Agung, 2005), Cet.
ke.2, h. 6
Indonesia, 1948 melakukan pemberontakan di Madiun, pada tahun 1965

melakukan rencana kudeta terhadap pemerintahan yang sah yaitu pemerintahan

Republik Indonesia. Tetapi semua usaha yang dilakukan PKI dapat ditumpas.

PKI sebagai salah satu partai yang turut meramaikan konstalasi perpolitikan

nasional pada waktu itu sebenarnya memiliki pengikut massa yang cukup besar

selain golongan nasionalis dan Islam. Visi dan misi PKI menawarkan persamaan

hak-hak rakyat secara umum sangat digandrungi oleh rakyat kecil, terutama para

petani dan buruh. Hal ini bisa dilihat dari perolehan suara PKI pada Pemilu

pertama tahun 1955 dengan masuk sebagai lima partai besar yang meraih suara

terbanyak dibanding dengan partai-partai lainnya bahkan partai Islam sekalipun.

Di sisi lain kehadiran PKI di Indonesia juga mendapat dukungan kuat dari

negara luar yang ingin meng-hegemoni komunis dan sosialis di Indonesia dengan

sebagai prinsip-prinsip yang sudah mereka terapkan dalam mengatur Negara.

Negara tersebut adalah Uni Soviet dan Republik Rakyat Cina (RRC).

Kehadiran gerakan komunis di Indonesia yang berwujud PKI dari awalnya

sebenarnya sudah banyak melahirkan kritik dan phobia di berbagai kalangan,

terutama kalangan Islam. Hal ini didasarkan pada bahwa ideologi komunis

bersebrangan dan bertentangan dengan ideologi Pancasila. Awal pertentangan

Islam dan komunis adalah ajaran tentang agama yang dianggap sebagai candu dan

hanya dipakai menjadi alat kelas penindas untuk menina bobokan kaum

tertindas.4

4
Fadli Rachman, Menghadang Komunisme, Sabili , Edisi Khusus (Juli, 2004), h.40-41
Untuk mengembangkan ideologinya dan menarik simpati di dalam masyarakat

komunis menawarkan wacana sama rata sama rasa. Maksudnya adalah semua

rakyat diberikan hak-hak yang sama dan tidak ada perbedaan dalam kelas-kelas

sosial.

Pada awal kemunculannya PKI memang telah menuai kritik. Salah satu tokoh

yang juga mengkritik pola gerakan PKI ini adalah Bung Hatta. Sebagai tokoh

yang tergabung dalam Partai Nasional Indonesia sebenarnya Bung Hatta juga

dianggap sebagai representasi tokoh Islam yang tergabung dengan Partai Nasional

Indonesia. Bung Hatta dianggap sebagai sosok yang memahami ajaran Islam

secara mendalam dan mengamalkannya dengan taat.

Sebagai tokoh politis dan gerakan yang mengenyam pendidikan dari dalam

dan luar negeri. Bung Hatta sangat memahami betul konstalasi perpolitikan

nasional. Dari permasalahan internal kenegaraan sampai pada permasalahan

hubungan luar negeri, yang berlangsung pada waktu itu mengingat Bung Hatta

adalah wakil Presiden Republik Indonesia sejak negara Indonesia

memproklamasikan diri sebagai negara yang merdeka dari para penjajah.

Bung Hatta yang tergabung dalam Pendidikan Nasionalis Indonesia (PNI-

Baru) adalah juga tokoh yang memiliki wawasan luas dalam bidang ekonomi.

Seperti dikatakan oleh Rikard Bagun, pemikiran Bung Hatta dalam bidang

ekonomi dianggap masih relevan dengan kondisi Indonesia saat ini. Sejak awal,

Hatta mendorong sistem ekonomi kerakyatan. Ada asumsi, sekiranya pemikiran


ekonomi Hatta dijalankan secara benar, mungkin kondisi Indonesia tidak akan

menjadi separah ini.5

Bung Hatta merasa terpanggil untuk pembangunan ekonomi yang berkeadilan

sosial yang memperbaiki dan meratakan kemakmuran kepada rakyat. Hal ini

seperti yang dilihat dan dialaminya sendiri pada koperasi-koperasi di Skandinavia.

Dalam diri Bung Hatta terbersit niat untuk menjadikan koperasi sebagai instrumen

demokrasi ekonomi di Indonesia, tetapi dalam realitasnya gagasan ini tidak

terealisasikan. Atas jasa-jasa beliau dalam upaya mengembangkan dunia

perkoperasian di Indonesia, nama Bung Hatta diabadikan sebagai Bapak Koperasi

Indonesia. 6

B. Tujuan Penelitian

Secara umum penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui lebih jelas tentang

pandangan dan kritik Bung Hatta tentang gerakan komunis di Indonesia, yang

terwujud dalam gerakan komunis di Indonesia itu adalah PKI (Partai Komunis

Indonesia).

Harus diakui penelitian tentang hal tersebut telah banyak dilakukan oleh

sarjana-sarjana yang termotivasi untuk maksud yang sama, ataupun untuk sekedar

pengembangan intelektualitasnya terhadap objek penelitian.

Melihat adanya kenyataan dari sekian banyaknya upaya yang telah dilakukan

untuk menganalisa keberadaan seorang tokoh yang secara langsung juga untuk

menganalisa sebuah peristiwa sejarah sudah pasti tidak menutup kemungkinan

5
Rikard Bagun, Bung Hatta, (Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2003) Cet. Ke-1, h.x
6
Team LP3ES, Pemikiran Pembangunan Bung Hatta, (Jakarta: Pustaka LP3ES, 1995),
Cet. Ke-1, h. 5
terjadinya distorsi, maka dalam hal ini secara khusus tulisan ini bertujuan untuk

menunjukkan apreasiasi terhadap kiprah seorang tokoh di masa pra kemerdekaan

dan pasca kemerdekaan Republik Indonesia. Dan sebagai harapannya adalah

tulisan ini bisa memberikan khazanah kepustakaan tentang diskursus kritik

gerakan komunis di Indonesia. Tulisan ini pada dasarnya juga menuntut standar-

standar keilmiahan untuk memenuhi persyaratan meraih gelar S-1 (Sarjana satu).

C. Pembatasan Masalah

Dengan menitik-fokuskan pengkajian pada seorang tokoh, penulisan skripsi

Komunis dalam Perspektif Bung Hatta; Pandangan dan Kritik Bung Hatta

terhadap Partai Komunis Indonesia ini penulis batasi pada pembatasan seorang

tokoh nasional yaitu Bung Hatta, sedangkan untuk pembahasan wacananya adalah

tentang kritik-kritik Bung Hatta terhadap gerakan komunis di Indonesia dengan

mengambil PKI sebagai objeknya, yang berlangsung pada masa pasca

kemerdekaan sampai akhir pemerintahan Orde Lama.

D. Perumusan Masalah

Berangkat dari latar belakang masalah dan tujuan penelitian di atas, maka

penulis mencoba merumuskan masalah. Dengan berdasarkan pada pernyataan

umum atas asumsi bahwa Bung Hatta sebagai tokoh nasionalis religius yang

progress dalam pergerakan nasional dan menjadi salah satu pemimpin bangsa

pada era kemerdekaan dan hidup dalam ephoria perpolitikan nasional pada masa

itu, tentu saja mengetahui dan memahami dengan jelas konstalasi perpolitikan
nasional pada waktu itu, terlebih-lebih memahami bagaimana langkah-langkah

PKI untuk mewujudkan negara komunis.

Dari asumsi tersebut diperoleh turunan pertanyaan yang kemudian penulis

mencoba untuk mendiskusikannya, yaitu:

- Konstribusi apa yang telah diberikan Mohammad Hatta dalam mewujudkan

kemerdekaan Indonesia?

- Apakah Partai Komunis Indonesia (PKI) itu dan bagaimanakah pemikiran-

pemikiran atau ide-ide PKI tentang negara komunis?

- Kritik-kritik apa saja yang disampaikan Bung Hatta terhadap PKI?

E. Metodologi Penelitian

Berkaitan dengan tema besar dari penelitian yang penulis lakukan yakni studi

tokoh dan pemikiran politiknya, maka metode yang digunakan untuk mendukung

penelitian ini adalah metode analisis deskriptif. Dengan demikian sang tokoh dan

peristiwa historis yang dimaksud senantiasa menjadi fokus analisa yang

diharapkan dapat memberikan gambaran utuh dan objektif bagi kepentingan dunia

akademis.

Sebagai penunjang langkah awal dari langkah di atas, kemudian dilengkapi

dengan metodologi yang secara umum disebut dengan istilah penelitian

kepustakaan (library research). Untuk penelitian kepustakaan ini penulis

menggunakan literatur primer yang ditulis langsung oleh sang tokoh. Hal ini

dilakukan dengan berbagai pertimbangan. Pertama, menganalisa peristiwa historis

yang sungguh-sungguh objektif di masa lampau hanya mungkin dilakukan dengan

upaya yang benar-benar optimal; kedua, untuk mendukung upaya optimal tersebut
maka salah satu diantaranya adalah terpenuhinya data-data yang orisinil melalui

penelitian kepustakaan yang juga menjanjikan objektifitas terhadap objek kajian

yang akan dianalisa; ketiga, kajian kepustakaan dilakukan sebagai langkah awal

dari upaya pengumpulan data, dan kemudian sebagai langkah alternatif dari upaya

riset lapangan, dimana riset lapangan tersebut membutuhkan waktu yang sangat

panjang.

Metodologi penelitian ini didukung dengan teknis penulisan, dalam hal ini

mengacu pada buku petunjuk Pedoman Penulisan Skripsi, Tesis, dan Disertasi

yang diterbitkan UIN Jakarta Press.

F. Sistematika Penulisan

Penulisan atas penelitian ini dibagi atas beberapa bab, yang masing-masing

bab mempunyai sub bab yang satu sama lainnya saling berkaitan.

Bab I Pendahuluan yang di dalamnya membahas secara global permasalahan

yang tercakup dalam skripsi ini meliputi; latar belakang masalah; kemudian

dilengkapi dengan pembatasan dan perumusan permasalahan; dan bagian yang

terpenting lain dalam penelitian, yaitu metodologi penelitian dan sistematika

penulisan skripsi.

Bab II Pembahasan awal. Pada pembahasan awal ini mengupas tentang

biografi sang tokoh yaitu Bung Hatta. Pada bab ini penulis mencoba

menggambarkan lingkungan dan kondisi sosial masyarakat Minangkabau yang

secara tidak langsung mempengaruhi pemikiran Bung Hatta, latar belakang

keluarga meliputi silsilah keluarga dan pendidikan yang pernah digeluti dan
berbagai organisasi yang pernah ditekuninya sampai dengan perjuangan

Mohammad Hatta dalam menegakkan kemerdekaan Republik Indonesia.

Bab III Pada bab ini penulis akan membahas tentang komunis dan latar

belakang lahirnya komunis secara umum dan pengertian komunis, komunis dalam

kontek ke-Indonesiaan, latar belakang berkembangnya komunis di Indonesia, dan

PKI sebagai wujud gerakan komunis.

Bab IV Pada bab ini penulis mengupas tentang pemikiran sang tokoh sebagai

pelaku sejarah yang diantaranya tentang pandangan Bung Hatta terhadap komunis

secara umum dan di Indonesia, kritik-kritik Bung Hatta terhadap perkembangan

PKI.

Bab V Penutup dan kesimpulan yang berdasarkan pada asumsi dan diskusi

yang sebelumnya telah dibahas pada bab-bab sebelumnya. Kesimpulan yang

dimaksud bukan sebagai sebuah pembuktian verifikasi, mengingat data subtansi

permasalahan yang diangkat ke dalam penelitian ini bersifat studi kasus historis

yang sebenarnya mesti mendapat pengakuan objektif dan bukan klaim kebenaran

sepihak. Secara implisit kesimpulan ini bermaksud pula memberikan pesan yang

terkandung di dalamnya.
BAB II

SEJARAH SINGKAT MOHAMMAD HATTA

Antara Mohammad Hatta dengan sejarah Indonesia terdapat hubungan

timbal balik yang unik. Hatta ikut dipengaruhi sejarah Indonesia, dan sebaliknya

pula Hatta ikut menentukan arah perkembangan sejarah Indonesia itu sendiri.

Mohammad Hatta terkenal sebagai seorang nasionalis dan demokrat. Ini

bisa dilihat dari awal kiprahnya dalam dunia pergerakan pada masa pra

kemerdekaan. Schulte Nordholt, seorang mantan pejabat kolonial Belanda,

memuat nama Bung Hatta sebagai lima pemimpin Asia dengan perpaduan

kesadaran agamanya (Islam) dan tradisi (Minangkabau) menumbuhkan rasa

nasionalisme untuk kemerdekaan bangsanya yang terjajah dengan pemikirannya

yang modern.

Bila dilihat dari sosio kulturalnya masyarakat Minangkabau memang erat

atau kental sekali dengan keislamannya. Hatta dirunut dari keluarganya yang

berlatar belakang tradisi surau di Batu Hampar, kakeknya merupakan seorang

ulama besar yang disegani pada masanya yaitu Syaikh Abdurrahman. Namun

pada kelanjutannya Hatta tidak melanjutkan tradisi surau dan memilih jalan

kehidupannya sendiri. Jika ia memang ingin melanjutkan tradisi suraunya

tersebut, sudah tentulah ia akan melanjutkan pendidikannya ke Mekkah atau

Madinah untuk menuntut ilmu agama. Akan tetapi ia lebih memilih jalur ilmu

umum yaitu dengan melanjutkan pendidikan masa kanak-kanaknya di ELS


(europeesche Lagere School), lalu ke MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs),

kemudian ke PHS (Prins Hendriks School) yang pada kelanjutannya ia

melanjutkan belajar ke negeri Belanda. Meskipun Hatta dikenal sebagai seorang

muslim yang taat, pendidikan Belanda (umum) bukan menjadi hambatan dalam

agamanya untuk siapa saja yang ingin mempelajarinya. Menurut Schulte Nordholt

mengatakan bahwa, bagi Hatta modernisme Islam adalah pilihan sewajarnya.7

Realitas kehidupan rakyat Indonesia yang tertindas, diberlakukan tidak

adil, dan kesewenang-wenangan yang dilakukan para penjajah menggugah hatinya

untuk mewujudkan kemerdekaan Indonesia. Tetapi hal ini tentulah tidak mudah

mengingat persatuan dan kesatuan dirasakan kurang diantara rakyat Indonesia.

Untuk mewujudkan impian tersebut diperlukan suatu wadah atau organisasi yang

dapat menyatukan visi dan misi. Oleh karena itu dalam tahap awal pendidikannya,

Hatta tidak hanya aktif dalam hal belajar saja, tetapi ia juga aktif dalam

organisasi-organisasi, baik organisasi yang bersifat kedaerahan (primordialis)

seperti JSB (Jong Sumatranen Bond) maupun yang bersifat nasional seperti PI

(Perhimpunan Indonesia) pada masa-masa selanjutnya.

Kematangan Hatta dalam pola berpikir banyak didapatkannya dari

pertemuan-pertemuan dengan siswa-siswa lain yang mempunyai misi dan visi

yang sama ketika ia belajar di PHS (Prins Hendrik School) ia sering berkunjung

ke STOVIA (School tot Opleiding voor Inlandsche Artsen) yaitu sekolah

kedokteran. Di Belanda ia bergabung dalam organisasi PI (Perhimpunan

7
Dr. Taufik Abdullah dalam kata pengantar Deliar Noer, Mohammad Hatta, Hati Nurani
Bangsa, (Jakarta: PT. Penerbit Djambatan, 2002), cet. 1, h.6
Indonesia). Pada organisasi inilah titik awal kiprah Mohammad Hatta dalam dunia

politik.

A. Gambaran Umum Lingkungan dan Kondisi Sosial Masyarakat

Minangkabau

Ketika revolusi kemerdekaan meletus, Sumatera Barat merupakan salah satu

daerah yang paling tegar menghadapi agresi Belanda.8 Mungkin latar belakang ini

dapat menerangkan keterlibatan cendikiawan seperti KH. Agus Salim, Natsir,

Sjahrir dan Hatta yang berasal dari Minangkabau dalam kepemimpinan nasional

yang secara proporsional jauh melebihi perbandingan besar cendikiawan dari

daerah lain.

Minangkabau yang sebagian besar wilayahnya termasuk Propinsi Sumatera

Barat, dari segi sosio-kultural dan agama mempunyai karakteristik yang unik

dibandingkan dengan suku bangsa lainnya yang ada di Indonesia. Karena di

daerah ini berlaku sistem sosial yang matrilineal, dimana garis keturunan

seseorang ditarik dari pihak ibunya bukan ditarik dari keturunan laki-laki atau

ayah (patrilineal). Berbeda dengan daerah-daerah yang berada di Indonesia pada

umumnya, dimana garis keturunan ditarik dari pihak bapak. Jadi, sistem dalam

keluarga Minangkabau seorang anak laki-laki mempunyai tanggung jawab penuh

terhadap kemenakannya, bukanlah ayah terhadap anaknya. Seperti halnya laki-

laki dalam kelurga Minangkabau, Hatta mempunyai tanggung jawab terhadap

kemenakannya.

8
Taufik Abdullah, Tidak Generasi Kerdil, Rikard Bagum (ed) dalam Bung Hatta,
(Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2003), cet. ke-1, h.3
Begitu pula dalam pembagian harta warisan seperti sawah, ladang dan tempat

kediaman, kaum wanita menduduki tempat yang dominan. Seperti dilukiskan

dalam legenda Lindu Mato, wanita dalam hal ini bundo kanduang sebagai ratu

adalah rajo usali (raja sebenarnya), sementara putranya Dang Tuangku sebagai

Raja Alam hanya berfungsi sebagai pelaksana pemerintah sehari-hari. Bundo

kanduanglah yang menjadi sumber pengetahuan, kebijaksanaan dan adat-istiadat

bagi Dang Tuangku.9

Meskipun menganut sistem matrilineal, namun dalam hal sistem kekuasaan

Minangkabau bukanlah penganut matriakhaat. Kekuasaan pada prakteknya dalam

kehidupan sehari-hari dipegang oleh Mamak; saudara laki-laki ibu. Dengan

demikian pemusatan kekuasaan tidak berada di tangan wanita seperti yang

terdapat pada kekuasan matriakhaat. Laki-laki dan perempuan mempunyai

peranan dan kedudukan sendiri-sendiri yang sama pentingnya.10

Jika kedudukan laki-laki pada segi lain dipandang rendah dan tak berkuasa

apa-apa dalam pepatah Minang disebut bagai abu di atas tunggul, adalah dalam

kontek hubungan yang terjadi melalui perkawinan. Dalam hal ini (suami orang

Sumando), menurut adat Minangkabau, tidak berkuasa atas anak maupun harta

dalam keluarga isterinya. Anak-anak berada dalam kekuasaan mamaknya. Sang

suami hanya berkuasa dalam keluarga asalnya sebagai mamak dari kemenak-

kemenakannya- tidak dalam keluarga isterinya. Karena itu jika bercerai dengan

9
Azyumardi Azra, Surau di Tengah Krisis; Pesantren dalam Perspektif Minangkabau
dalam M. Dawam Rahardjo (ed), Pergulatan Dunia Pesantren; Membangun dari Bawah, (Jakarta:
P3IM, 1985), cet. I, h. 150
10
Azyumardi Azra, Pergulatan Dunia Pesantren; Membangun dari Bawah, h. 150
isterinya, maka sang suami tadi keluar dari rumah hanya dengan membawa

pakaian yang melekat di tubuhnya. 11

Sistem adat Minangkabau yang unik itu semakin unik dan khas, bisa dilihat

dalam hubungannya dengan Islam. Menurut falsafah hidup Minangkabau, tidak

ada pertentangan antara adat dengan agama. Keduanya berjalan seiring tanpa

harus terlibat konflik, karena adat sebagai institusi kebudayaan berlaku dalam

masyarakat setelah mendapat legitimasi dari agama. Hubungan adat dan agama

yang demikian itu dengan indah sekali diungkapkan dalam pepatah : adat

bersandi syara, syara bersandi kitabullah (adat bersendi syara, syara bersendi

kitabullah).12 Hubungan adat dan agama lebih lanjut digambarkan dalam lambang

kelengkapan sebuah nagari di Minangkabau, yaitu balai adat dan masjid. Tidaklah

lengkap dan sempurna sebuah nagari, bila salah satu dari yang dua itu tidak ada.

Balai adat adalah lembaga kebudayaan, sedangkan masjid merupakan lembaga

agama. Kedudukan masjid, di samping sebagai balai adat juga pernyataan

keharmonisan ninik mamak dan alim ulama dalam masyarakat Minangkabau.13

Bagaimanapun juga hubungan antara adat dan agama demikian, jika ditelusuri

dari sejarah Minangkabau sesungguhnya tercapai setelah melalui proses yang

cukup panjang, dan berkaitan erat dengan konsepsi Alam Minangkabau. Pola

hubungan antara agama dan adat itu tercapai setelah berlangsung proses islamisasi

secara terus-menerus di dalam masyarakat Minangkabau, terutama dengan

11
Hamka, Adat Minangkabau Menghadapi Revolusi, (Jakarta: Tekad, 1963), h. 49
12
Taufik Abdullah, Tidak Generasi Kerdil, Rikard Bagum (ed) dalam Bung Hatta
(Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2003), cet. Ke-1, h. 15
13
Taufik Abdullah, Tidak Generasi Kerdil, h.17
pengenalan gagasan-gagasan baru dalam Islam yang dibawa oleh orang-orang

Minangkabau yang kembali dari Mekkah, Madinah dan Mesir.

Pembaharuan dalam penghayatan dan pengamalan Islam inilah yang

menimbulkan dinamika sekaligus konflik dalam masyarakat Minangkabau.

Hamka mencatat, gerakan pembaharuan di Minangkabau adalah gerakan paham

Islam yang pertama kali berlangsung di Indonesia akibat proses pembaharuan di

Minangkabau. Daerah ini kemudian memegang peranan penting dalam

menyebarkan ide-ide pembaharuan Islam ke daerah-daerah lain sementara di

Minangkabau telah muncul tanda-tanda pertama pembaharuan, ketika itu pula

daerah-daerah lain kelihatan hampir tenggelam dalam kegiatan keagamaan praktik

tradisional.14

Gerakan pembaharuan pemahaman Islam tak pelak lagi menimbulkan krisis

dalam masyarakat Minangkabau. Premis-premis kultural dan adat yang

merupakan paradigma dominan selama ini mulai goyah. Keinginan sementara

masyarakat Minangkabau untuk mempertahankan validitas nilai dan premis-

premis kultural yang ada serta kebutuhan untuk menutupinya dengan elemen-

elemen baru yang dibutuhkan menimbulkan konflik nilai dan sosial serta usaha

yang tak kunjung berhenti guna merumuskan kembali konsepsi Alam

Minangkabau yang sesuai dengan ajaran-ajaran Islam.

Sekolah-sekolah Belanda sebagai sistem pendidikan modern di Sumatera

secara tidak langsung menjadi tandingan sistem pendidikan surau muncul

sebagai hasil dari dihapusnya sistem belasting (pajak) dan diberlakukannya

14
Azyumardi Azra, Pergulatan Dunia Pesantren; Membangun dari Bawah, h. 152
kewajiban bagi para penduduk untuk menjual hasil kopi (monopoli) kepada

Kompeni Belanda. Pada kelanjutan kehidupan Hatta, ia lebih memilih jalur

pendidikan ini. Untuk lebih lanjutnya dapat dilihat pada sub bab berikutnya.

Pendirian sekolah-sekolah yang pada awalnya dikhususkan pada kalangan raja

atau penghulu adat dan calon pegawai yang akan duduk di pemerintahan

kemudian berangsur-angsur menjadi sekolah guru. Pada dasa warsa abad 20

suasana optimis menghadapi masa depan telah mulai bersemi di kota-kota

Minangkabau. Pemulihan perekonomian rakyat setapak demi setapak

menunjukkan kemajuan setelah mengalami peperangan selama hampir setengah

abad.

Melihat keadaan yang demikian dipahami oleh pemerintah kolonial merasa

perlu untuk mengganti monopoli kopi dengan sistem ekonomi yang relatif bebas.

Para kaum terpelajar, umumnya guru-guru yang berada di kota-kota Padang

merasakan bahwa sistem belasting jauh lebih baik daripada sistem tanam paksa.

Hal ini bertentangan dengan para penghulu adat dan para ulama yang mengatakan

bahwa, dengan diberlakukannya sistem belasting kembali berarti merupakan

pengkhianatan terhadap Plakat Panjang yang pernah disepakati. Konflik antara

pihak kompeni dengan penghulu adat berakhir dengan pemberontakan yang

terjadi pada pertengahan tahun 1908 diantaranya pemberontakan Kamang dan

pemberontakan Mangopoh. Ketika terjadinya pemberontakan ini Hatta telah

berumur 6 tahun. Menurut Taufik Abdullah mungkin Hatta tidak tahu apa yang

terjadi di dekat kota kelahirannya itu, tetapi mitos Plakat Panjang yang dikhianati
tidak pernah dilupakannya.15 Pemberontakan ini dapat dipadamkan dalam waktu

yang relatif sebentar yaitu antara dua sampai tiga bulan saja.

Berakhirnya sistem tanam paksa (monopoli) dan diberlakukannya sistem

belasting ternyata memberi kesempatan yang lebih luas bagi anak negeri untuk

terlibat dalam ekonomi pasar. Terlebih-lebih ketika terbukanya pintu ke pantai

timur ke Selat Malaka, maka kemajuan ekonomi rakyat semakin menaik juga.

Penetrasi ekonomi pasar yang semakin jauh ini juga memberi dampak dalam tata

perilaku sosial, bahkan juga mulai menggugah sistem status sosial. Dalam masa

inilah terjadinya pertumbuhan sekolah-sekolah dan terjadinya peningkatan siswa-

siswa yang belajar di sekolah.

Pergolakan intelektual yang melanda Sumatera tidak hanya berdampak pada

kaum laki-laki saja, tetapi juga berimbas pada kaum perempuan. Hal ini ditandai

dengan diserukannya kewajiban pendidikan bagi perempuan oleh Datuk Sutan

Maharaja. Ia juga mendirikan beberapa kursus tenun bagi perempuan dan

menerbitkan surat kabar perempuan Soenting Melajoe.

Tetapi bagaimanapun juga perkembangan intelektual di Sumatera tidak

terlepas dari keinginan untuk mempertahankan sesuatu yang dianggap dan

terbukti baik (konservatif). Hatta sebagai orang yang merasakan berada dalam

situasi multikultural dan suasana hirarki sosial yang ditentukan oleh ras dan

sebagai anak zamannya tidak terlepas dari pengaruh sosio kultural Minangkabau

yang selalu dibayang-bayangi oleh mitos Plakat Panjang.16

15
Taufik Abdullah, Tidak Generasi Kerdil, h. 23
16
Taufik Abdullah, Tidak Generasi Kerdil, h. 24
B. Latar Belakang Keluarga dan Pendidikan

Pada tanggal 12 Agustus 1902 Mohammad Hatta dilahirkan di Bukittinggi

dari sebuah keluarga yang berlatar belakang surau di Batu Hampar, yaitu sebuah

kampung di pingir jalan antara Bukittinggi dan Payakumbuh. Hatta merupakan

anak kedua, sedangkan kakaknya bernama Rafiah.

Hatta kecil diberi nama oleh kakeknya dengan nama Attar yang berarti

wewangian atau parfum. Dengan maksud supaya dengan nama tersebut sang

kakek berharap cucunya di kemudian hari menjadi mashur dan harum namanya.

Namun karena orang-orang Minangkabau sukar untuk menyebut nama Attar

maka dalam kesehariannya nama tersebut berubah menjadi Atta. Nama ini

dalam perkembangan selanjutnya menjadi nama baru yaitu Hatta.17

Ayahnya bernama Muhammad Djamil, seorang keturunan ulama besar di

surau Batu Hampar yaitu Syaikh Abdurrahman.18 Ayahnya adalah seorang

pedagang, ia tidak melanjutkan kehidupan ulama seperti kakeknya, karena

pamannya yang menggantikan datuknya di surau tersebut. Tetapi hal ini tidaklah

melepas pengaruh agama dari dirinya, karena memang semasa kecilnya ia sudah

dididik agama baik ibadah maupun perilakunya dengan sangat disiplin. Tapi

sayang Hatta kecil tidak pernah memperoleh kesempatan untuk mengenal

ayahnya, karena ayahnya meninggal dunia dalam usia 30 tahun, sewaktu Hatta

masih berumur 8 bulan.

17
Meutia Farida Swasono, Bung Hatta; Pribadinya dalam Kenangan, (Jakarta: UI Press,
1980), cet. ke-2, h. 5
18
Deliar Noer, Mohammad Hatta; Hati Nurani Bangsa 1902-1980, (Jakarta: Djambatan,
2002), cet.ke1, h. 14
Ibunda Mohammad Hatta bernama Siti Saleha binti Ilyas Bagindo Marah.19

Ibunya berasal dari kalangan pedagang. Kakeknya, Ilyas Bagindo Marah adalah

seorang pedagang besar, ia biasa disapa oleh Hatta dengan sebutan Pak Gaek.

Beberapa paman Hatta dari keturunan Pak Gaek ini juga menjadi pengusaha besar

di Jakarta. Sepeninggal ayahnya, ibunya Siti Saleh menikah lagi dengan Haji Ning

seorang pedagang asal Palembang. Haji Ning adalah kenalan dagang kakek Hatta,

Pak Gaek. Hubungan Hatta dengan ayah tirinya sangat bak, haji Ning

menganggap Hatta sebagai anak kandungnya sendiri. Karena sikapnya yang

terlalu baik dan kasih sayang yang diberikannya itulah, sampai-sampai Hatta tidak

menyangka bahwa haji Ning adalah ayah tirinya bukan ayah kandungnya.

Dalam masalah pendidikan kakek Hatta, Syaikh Abdurahman Batu Hampar

menghendaki agar Hatta memperdalam ilmu agama. Hal ini diungkapkan ketika

kakeknya Syaikh Abdurahman bermaksud akan ke Mekkah ia ingin membawa

Hatta melanjutkan pelajaran di bidang agama, kemudian ke Mesir (Al-Azhar)

yang dimaksudkan ketika Hatta kembali ke Minangkabau dapat meningkatkan

kualitas keilmuan di surau Batu Hampar yang memang sudah menurun setelah

ditinggal oleh Syaikh Abdurrahman. Akan tetapi keluarga ibunya dan seorang

pamannya berkeberatan karena menganggap Hatta masih terlalu kecil. Dan

pamannya mengusulkan agar paman Hatta yang bernama Idris menjadi pengganti

Hatta. Akhirnya pada masa-masa selanjutnya pilihan melanjutkan belajar ke Mesir

dan Mekkah tidak banyak dibicarakan.

19
Deliar Noer, Mohammad Hatta; Hati Nuran Bangsa 1902-1980, h.14
Di masa kecil Hatta bersekolah di Bukittinggi di Padang di ELS (Europeesche

Lagere School) yaitu sekolah dasar untuk orang kulit putih. Sekolah tersebut

berbahasa Belanda. Di sekolah dasar ini Hatta sampai tahun 1913 kemudian

melanjutkan ke MULO (Meer Uitgebreid Lagere School) sampai tahun 1917.

Di samping sekolah umum Hatta kecil juga gemar belajar agama. Di

Bukittinggi ia belajar agama di surau Nyik Djambek, sedangkan di Padang ia

belajar agama kepada Haji Abdullah Ahmad (seorang dermawan yang menyantuni

pelajar di sekolah Belanda).20 Kedua ulama tersebut merupakan ulama pembaharu

di Minangkabau yang sangat berpengaruh di Indonesia.

Hatta dikenal sebagai orang yang kaku dalam hal waktu, sehingga apabila ada

yang berjanji dengannya pada jam yang sudah ditentukan dan yang bersangkutan

terlambat, maka ia tak segan-segan menolak untuk menemui orang yang terlambat

tersebut.

Kedisiplinan tersebut didapatkan karena interaksinya dengan kedua guru

agama maupun dengan kalangan serikat usaha yang sangat disiplin. Disiplin hidup

itu juga menyangkut soal ibadah, akhlak dan moral. Dalam soal pengaruh ajaran

Islam sangat kuat dalam diri Hatta. Sehingga dalam seluruh hidupnya dapat

digambarkan, Hatta memperlihatkan pribadi yang asketik, tidak flamboyan dan

sederhana. Ucapan dan tindakannya memperlihatkan bobot humanisme yang

prosfektif, tidak ekslusif. Hatta taat beragama, tapi memperlihatkan pemahaman

yang tinggi terhadap agama lain.

20
Deliar Noer, Mohammad Hatta; Hati Nurani Bangsa 1902-1980, h. 14
Hatta mulai terjun dalam dunia organisasi semenjak ia bersekolah di MULO.

Organisasi yang pertama kali dilakoninya adalah JSB (Jong Sumateranen Bond)

cabang Padang sebagai bendahara. Hatta sangat tekun mengikuti kinerja

pergerakan nasional ketika ia masih bersekolah di Padang, terlebih-lebih di

Jakarta. Dua tokoh nasional yang ketika Hatta bersekolah di Padang sering

membangkitkan semangat rakyat adalah H. Agus Salim dan Abdoel Muis.21

Setelah lulus dari MULO Hatta melanjutkan sekolahnya di Jakarta yaitu di

PHS (Prins Hendrik School) atau sering disebut sekolah dagang Prins Hendrik.

Setelah di Jakarta tentulah wawasan Hatta dalam pergerakan nasional bertambah

luas dan dalam. Hal ini dikarenakan intensitas pertemuan, berdiskusi atau bertukar

pikiran diantara siswa STOVIA (School tot Opleiding voor Inlandsche Artsen)

atau sekolah kedokteran yang siswanya banyak berasal dari Minangkabau

Sumatera. Keuntungan ini diperolehnya karena kapasitasnya sebagai bendahara

pusat JSB. Hatta juga sering berkunjung ke rumah H. Agus Salim yang terkenal

sangat dekat hubungannya dengan pemuda. Rumah H. Agus Salim ketika itu

dijadikan pusat kaderisasi pemuda secara tidak resmi. Dan oleh H. Agus Salim

pulalah Hatta mendapat penjelasan mengenai sosialisme menurut Islam.22

Setelah lulus dari PHS Hatta merumuskan untuk melanjutkan studinya ke

Netherland, Belanda. Ia melanjutkan studinya di Sekolah Tinggi Dagang

(Nederlansche Handels Hooge School) di Rotterdam. Keputusan untuk

melanjutkan studinya ke Belanda tentu saja mengundang banyak pertanyaan.

21
Deliar Noer, Mohammad Hatta; Hati Nurani Bangsa 1902-1980, h. 20
22
Parakitri T. Simbolon, Turun Gunung! Mohammad Hatta 11 Tahun di Belanda, dalam
Rikard Bagum (ed), Bung Hatta, (Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2003), cet. ke-1, h. 56
Hatta seorang keturunan orang yang taat beragama dan sangat tidak senang

negerinya dijajah, malah berbalik belajar ke negeri penjajah.

Memang seperti telah dijelaskan di atas ada perbedaan mengenai masalah

pendidikan Hatta. Dari keluarga ayahnya menginginkan agar Hatta memperdalam

ilmu agama, sedangkan dari pihak keluarga ibu menginginkan agar Hatta

melanjutkan pelajaran kepada ilmu umum.

Setelah melanjutkan sekolahnya ke Belanda, Hatta bukan saja termasuk

mahasiswa yang kutu buku saja akan tetapi ia aktif dalam berorganisasi. Salah

satu organisasi yang dilakoninya adalah Indische Vereniging (Perkumpulan

Hindia) yang didirikan pada tahun 1908, yaitu sebuah organisasi yang pada

mulanya bergerak di bidang sosial sebagai forum tempat bertemunya para siswa

yang merantau ke negeri Belanda. Tetapi pada kelanjutannya, Indische Vereniging

meluaskan wawasannya kepada persoalan tanah air setelah tiga tokoh partai

hindia (Indische Partij) dibuang ke negeri Belanda tahun 1913, yaitu Suwardi

Suryaningrat (Ki Hajar Dewantoro), Douwes Dekker dan Tjipto Mangunkusumo.

Organisasi tersebut kemudian berpindah haluan menjadi organisasi politik dalam

hubungan dengan perkembangan tanah air ketika pelajar nasionalis yang

melanjutkan studinya ke negeri Belanda bertambah banyak. Para pelajar tersebut

merupakan pelajar yang semasa di Indonesia aktif dalam pergerakan Jong Java

(Jawa Madura), Jong Sumatranen Bond dan Budi Utomo.23

Setelah diadakan rapat dan pada tahun 1924 Indische Vereniging berganti

nama menjadi Indonesiche Vereeniging dan setahun kemudian menjadi

23
Deliar Noer, Gerakan Modern Islam Indonesia 1900-1942, (Jakarta: LP3ES, 1980), cet.
ke-2, h. 41
Perhimpunan Indonesia (PI). Dan pada tahun 1924 majalah Hindia Poetra (terbit

tahun 1916) yang terbit di bawah bendera PI berganti nama menjadi Indonesia

Merdeka.24 Perubahan nama ini dimaksudkan untuk lebih mencerminkan tujuan

politik Perhimpunan Indonesia yaitu menuju kemerdekaan Indonesia. Dalam

organisasi dan surat kabar ini Hatta banyak menuangkan ide-ide dan

pemikirannya untuk kemajuan rakyat dan bangsa Indonesia dan saran-saran positif

bagi perjuangan bangsa Indonesia.

Pada tahun 1926 tampuk kepemimpinan Perhimpunan Indonesia jatuh ke

pundak Hatta sampai tahun 1930. Hal ini menyebabkan keterlambatan Hatta

dalam menyelesaikan studinya. Tetapi hal ini juga menambah kematangan Hatta,

karena ia mengambil pelajaran yang baru diperkenalkan di sekolahnya yaitu Ilmu

Tata Negara.

Perhimpunan Indonesia merupakan organisasi politik yang mengklaim sebagai

kelompok nasionalis Indonesia di negeri Belanda yang merasa kecewa terhadap

gerakan nasionalisme di Indonesia, terutama terhadap SI (Syarekat Islam) dan PKI

(Partai Komunis Indonesia). Perhimpunan Indonesia kurang sepaham terhadap SI,

karena lebih menonjolkan keislamannya, sedangkan terhadap PKI dengan cara-

cara yang dilakukan PKI kurang disukainya. Oleh karena itu Hatta dan kawan-

kawan merumuskan bahwa Perhimpunan Indonesia harus diarahkan untuk

mencapai tiga tujuan:25

24
Deliar Noer, Mohammad Hatta; Hati Nurani Bangsa 1902-1980, h. 22
25
John Ingleson, Jalan ke Pengasingan, Pergerakan Nasionalisme Indonesia Tahun
1927-1934, (Jakarta: LP3ES, 1983), h. 3-4
a. Agar kawan-kawan sepergerakan (PI) semakin merasa diri sebagai orang

Indonesia dan mengembangkan komitmen yang bulat kepada Indonesia yang

bersatu (nasionalis)

b. Perhimpunan Indonesia harus berusaha menghapuskan gambaran tentang

Indonesia yang diciptakan oleh bangsa Belanda.

c. Mereka harus mengembangkan suatu ideologi yang kuat dan bebas dari

pembatasan Islam dan komunisme.

C. Perjuangan Mohammad Hatta dalam Menegakkan Kemerdekaan

Republik Indonesia

Mohammad Hatta sebagai seorang pergerakan, pejuang, politikus dan

proklamator banyak memberikan sumbangsihnya untuk kemerdekaan Indonesia.

Semasa kecilnya ia sudah melihat dan merasakan ketidakadilan, kesewenang-

wenangan dan ketertindasan rakyat Indonesia yang dilakukan oleh penjajah.

Karena latar belakang itulah yang menyebabkan terbukanya hati nuraninya untuk

mewujudkan Indonesia merdeka, baik dengan pikiran, tenaga bahkan jiwa dan

raganya.

Ketertindasan ini dirasakan karena kurang bersatunya rakyat Indonesia dalam

melawan penjajah itu sendiri. Oleh karena itu langkah awal yang diambil

Mohammad Hatta dalam upaya memperjuangkan kemerdekaan Indonesia adalah

dengan pergerakan dan organisasi politik sebagai wadah pemersatu.

Di Padang ia aktif dalam pergerakan Jong Sumatranen Bond, yang kemudian

dilanjutkannya ketika ia bersekolah di Prins Hendrik School, yang merupakan

pergerakan atau organisasi pertama kali dilakoninya. Dan pada masa-masa beliau
belajar selanjutnya, beliau selalu aktif dalam berorganisasi untuk menambah

kematangannya dalam pergerakan.

Bagi Hatta organisasi sangat diperlukan untuk menuju ke arah Indonesia

merdeka. Selain pengkaderan atau kaderisasi dalam organisasi juga sangat

diperlukan, supaya organisasi tetap eksis dalam pergerakan. Hal ini diharapkan

kontinuitas dalam tubuh organisasi itu sendiri, jika pucuk pimpinan terganjal

masalah, organisasi atau pergerakan tersebut tidak putus sebelum tujuan tercapai.

Karena dengan adanya kaderisasi akan timbul kader-kader baru yang siap

melanjutkan misi yang belum terlaksana. Inilah hal yang sangat ditekankan oleh

Bung Hatta.

Kalau dapat kita deskripsikan perjuangan Hatta untuk mewujudkan Indonesia

merdeka lebih banyak dan matang di dalam pemikiran, wacana-wacana dan

organisasi. Secara garis besar perjuangan Hatta dalam menegakkan kemerdekaan

Indonesia dapat ditelusuri di bawah ini.

Pada tahun 1917-1920 masuk organisasi Jong Sumatrenan Bond (JSB) di

Padang dan menjabat sebagai Sekretaris dan Bendahara dan aktif dalam

penerbitan Soeara Perempoean yang menyuarakan perjuangan kemerdekaan. Dan

ketika bersekolah di PHS (Prins Hendrik School) ia aktif kembali pada organisasi

yang sama dan menjabat sebagai bendahara pimpinan pusat JSB.26

Pada tahun 1922-1924 Hatta aktif dalam Perhimpunan Indonesia (PI) yang

berkedudukan di Belanda. Pada mulanya Perhimpunan Indonesia (PI) merupakan

26
I. Wangsa Widjaja, Mengenang Bung Hatta, (Jakarta: PT. Toko Gunung Agung Tbk,
2002), cet. ke-2, h. 30
organisasi sosial tetapi kemudian berangsur menjadi organisasi politik. Dalam

organisasi ini Hatta menjabat sebagai Bendahara.

Pada tahun 1926-1930 Hatta terpilih menjadi Ketua Perhimpunan Indonesia

yang menyebabkan ia agak telat menyelesaikan pendidikannya. Tetapi menambah

kematangannya dalam berorganisasi. Dan pada tahun ini ia pula ia menjabat

sebagai wakil Indonesia di Liga Anti Imprealis. Akibat politiknya dalam Liga, ia

sempat dipenjarakan, tapi tak lama kemudian dibebaskan.

Pada tahun 1930-1941 sekembalinya dari Belanda, berdasarkan kontrak politik

dan perjanjiannya dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) Hatta mendirikan

partai dan menjadi ketua Partai Nasional Indonesia (PNI) Pendidikan. Pada tahun

1933 Mohammad Hatta kembali ditangkap oleh pemerintah kolonial Belanda dan

dipenjarakan, lalu dibuang ke Boven Digul (Irian Barat) kemudian dipindahkan ke

Banda Neira.

Pada tahun 1942-1945 pemerintah militer Jepang mengangkatnya sebagai

penasehat pemerintah militer Jepang. Pada tahun yang sama ia ditunjuk sebagai

penasehat pimpinan PUTERA (Pusat Tenaga Rakyat). Menjadi anggota BPUPKI

(Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) yang

kemudian berubah menjadi PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia).

Pada tanggal 17 Agustus 1945 bersama Bung Karno memproklamasikan

kemerdekaan Indonesia. Setahun kemudian PPKI memilihnya menjadi Wakil

Presiden Republik Indonesia.

Pada tahun 1945 karena perubahan sistem pemerintahan, Hatta diangkat

menjadi Wakil Presiden merangkap Perdana Menteri. Dan pada tahun 1948 Hatta
menjadi delegasi Indonesia pada Konfrensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag

Belanda untuk merundingkan penyerahan kekuasan pemerintah dari tangan

Belanda yang membawa Indonesia ke bentuk negara Republik Indonesia Serikat

(RIS).

Pada tahun 1950-1956 menjabat Wakil Presiden negara republik Indonesia

ketika secara unilateral memutuskan Ikatan Uni Indonesia Belanda. Dan pada

tahun 1970 setelah tidak aktif dalam pemerintahan RI, Hatta diangkat menjadi

Dewan Penasehat Komisi IV (Komisi Penasehat Presiden) untuk pemberantasan

korupsi. Perjuangan Hatta tidak pernah berhenti sampai akhir hayatnya, karena

dengan gagasan-gagasannya yang masih relevan sampai sekarang perjuangannya

dirasakan masih terus berlangsung.


BAB III

KOMUNIS DALAM KONTEK KEINDONESIAAN

A. Latar Belakang Lahirnya Komunis

Pada dekade abad 20 komunisme merupakan momok menakutkan bagi

kalangan kapitalisme dan liberalisme. Komunisme lahir dan berkembang tidak

terlepas dari beberapa tokoh yang merupakan sebagai pendiri dan penggerak

dalam dunia komunis itu sendiri, terlebih-lebih Karl Marx. Karl Marx dikenal

sebagai Bapak Komunis bahkan menurut Hatta ada pengikut Marx yang

menganggap Marx sebagai Nabi yang akan memimpin kaum buruh ke alam

bahagia.27

Teori-teori Marx dipakai sebagai dasar demokrasi dari negara-negara yang

berpaham komunis yaitu diktator proletariat. Komunisme memandang bahwa

paham yang bukan lahir dari komunis adalah salah dan musuh. Prinsip komunis

ini dapat dilihat ketika pada masa pra kemerdekaan Indonesia ketika Hatta dan

kawan-kawan melakukan kontrak politik dengan tokoh PKI terutama Semaun

yang intinya PKI tunduk di bawah golongan nasionalis. Kejadian ini

menyebabkan Semaun dikeluarkan dari Comintren.28

27
Mohammad Hatta, Pengantar ke Jalan Ekonomi Sosiologi, (Jakarta: PT. Toko Gunung
Agung Tbk, 2002), cet. ke-4, h. 102
28
lihat Mohammad Hatta, Bung Hatta Menjawab, (Jakarta: PT. Toko Gunung Agung
Tbk, 2002), cet. ke-2, h. 32
Pertumbuhan dan perkembangan ajaran komunis dimulai dengan gerakan. Dan

dalam perkembangannya, paham komunis ini terhitung cepat berkembang di

sekitar abad ke 19. Paham ini muncul dalam tatanan masyarakat Eropa Barat yang

dalam tatanan sosialnya terjadi kepincangan, yang miskin semakin miskin dengan

kehidupannya begitu pula sebaliknya yang kaya semakin kaya dengan

kekayaannya. Upah buruh sangat rendah, sedangkan tenaga-tenaga pekerja

dioptimalkan untuk mendapatkan hasil yang sebesar-besarnya bagi para pemilik

modal. Hal yang demikian itu ditambah lagi dengan kondisi lingkungan kerja dan

lingkungan tempat tinggal yang tidak memungkinkan suatu kehidupan yang layak

dan sehat. Tidak adanya hubungan timbal balik yang baik antara pekerja dan

pemilik modal menimbulkan gejolak sosial yang mengakibatkan terjadinya

revolusi besar-besaran.

Kondisi sosial tersebut tumbuh dan berkembang subur karena para pemilik

modal merupakan keturunan bangsawan (feodal). Keadaan ini menggugah hati

nurani para cendikiawan Eropa terutama Robert Owen di Inggris, Saint Simon dan

Fourier di Perancis yang berusaha membanntu taraf hidup rakyat miskin

tersebut.29 Namun demikian cara penyampaiannya kurang diterima dan dicerna

oleh kalangan rakyat karena minimnya pengetahuan dan penyampaiannya dengan

cara-cara filosofi. Oleh karena itu dapat dikatakan perjuangan para cendikiawan

tidak membuahkan hasil, dan tidak membawa perubahan sama sekali.

Di Jerman muncul pula seorang tokoh lain, yaitu Karl Marx. Ia dilahirkan di

Trier pada tanggal 5 Mei 1818. Ia merupakan seorang Jerman keturunan Yahudi

29
Muchtar Pakpahan, Ilmu Negara dan Politik, (Jakarta: Bumi Intitama Sejahtera, 2006),
cet. ke-1, h. 178
yang menganut agama Kristen Protestan.30 Leluhur Marx turun temurun sampai

ke datuknya menjabat sebagai rabi, pendeta, hanya bapaknya yang menyimpang

dari jalan hidup pendeta. Bapaknya lebih memilih menjadi pengacara dan pada

tahun 1824 ia masuk agama Kristen Protestan dan di dalam agama inilah Marx

dididiknya.31

Karl Marx menggunakan metode-metode sejarah dan filsafat yang terkenal

dengan historis materialisme untuk membangun teori tentang perubahan yang

menunjukkan perkembangan masyarakat menuju suatu keadaan dimana ada

keadilan sosial. Menurut Hatta teori historis materialisme Marx yang terdapat

dalam Manifesto Komunis disandarkan pada dua unsur yaitu ekonomi dan

keinsyafan kelas. Motif ekonomi mendorong orang berjuang untuk mencapai

bangun produksi yang paling rasional untuk menghasilkan kebutuhan hidup

masyarakat. Keinsyafan kelas merupakan tenaga yang mendorong perubahan

masyarakat ke jurusan bentuk produksi yang terbaik tersebut, yang menurut Marx

yaitu untuk melaksanakan pergantian kapitalis dengan sosialis.32

Marx berpendapat bahwa selama masih adanya kelas-kelas dalam masyarakat,

maka kelas yang berkuasalah yang akan menghegemoni masyarakat kelas bawah.

Hukum, filsafat, agama dan kesenian merupakan refleksi dari status ekonomi

kelas tersebut. Namun, hukum-hukum perubahan berperan dalam sejarah sehingga

keadaan tersebut dapat berubah baik melalui suatu revolusi atau jalan damai.

Akan tetapi selama masih terdapat kelas yang berkuasa, maka masih akan terjadi

ekploitasi terhadap kelas yang lebih lemah. Hal ini tentu saja akan mengakibatkan
30
Muchtar Pakpahan, Ilmu Negara dan Politik, h. 178
31
Mohammad Hatta, Pengantar ke Jalan Ekonomi Sosiologi, h. 84
32
Mohammad Hatta, Pengantar ke Jalan Ekonomi Sosiologi, h. 104
pertikaian antar kelas-kelas tersebut, dan pertikaian akan berakhir apabila kelas

yang lemah menang, sehingga terjadilah masyarakat tanpa kelas.33 Melihat

keadaan sosial yang merugikan kelas bawah, Karl Marx berpendapat bahwa

masyarakat tidak bisa diperbaiki dengan cara tambal sulam, tetapi harus dirubah

secara radikal melalui pendobrakan sendi-sendi feodal yang telah menghegemoni

kaum proletar, bila perlu cara-cara dilakukan dengan cara kekerasan atau revolusi.

Pada awalnya, ide-ide ini dikemukakannya dalam disertasinya di Jena tahun

1842.34 Kemudian ia membuat teori sosialisme ilmiah. Karl Marx tidak berbicara

teori saja, tapi kemudian ia melaksanakan teorinya di dalam dunia politik dan

berusaha mengapresiasikannya dalam tataran praktis. Karena pahamnya inilah

membuat ia terusir dari Jerman dan pergi ke Rusia lalu pindah ke Brussel dan

pada akhirnya berdiam di London. Ketika berada di London ia menetap bersama

Fredich Engels yang pada akhirnya mencetuskan Manifesto Komunis dan Das

Kapital nya yang terkenal tersebut.

Tulisan Marx yang sekaligus merupakan ajarannya itu mencakup semua sendi

kehidupan kecuali unsur psikologi. Marx menguraikan hakekat kehidupan

manusia yang akhirnya menjadi dasar bertindak daripada pengikut komunis. Marx

juga menguraikan masalah perekonomian di negara-negara komunis dan

menguraikan demokrasi dalam negara yang pada akhirnya menjadi dasar

demokrasi di negara-negara yang berpaham komunis.

Marx berpendapat ideologi dan cita-cita komunisnya selalu dikonfrontasikan

dengan alat-alat aparatur negara. Oleh karena itu Marx selalu beranggapan negatif
33
Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, (Jakarta: PT. Raja Grafindo, 1999),
cet. ke-28, h. 44
34
Muchtar Pakpahan, Ilmu Negara dan Politik, h. 179
terhadap alat negara. Marx mengatakan bahwa alat negara bersifat memaksa.

Marx berkeyakinan bahwa masyarakat tidak dapat terus menerus dipaksa hingga

suatu saat masyarakat akan bersatu dengan membentuk komune-komune yang

akan melepaskan diri dari paksaan yang pada akhirnya akan melenyapkan negara

dan membentuk masyarakat komunis.

Marx menjelaskan bahwa negara terdiri dari kelas-kelas, sehingga antara kelas

yang satu dan kelas yang lainnya saling bertentangan. Ada kelas yang berkuasa

yakni kelas yang memerintah, sebaliknya di pihak lain terdapat kelas yang

diperintah. Ada kelas majikan dan ada kelas buruh yang senantiasa mendapat

pemerasan. Berdasarkan hal itulah Marx dan Engels berpendapat bahwa negara

tidak lain dan tak bukan hanyalah berupa mesin yang dipakai oleh suatu kelas

yang berkuasa untuk menindas kelas lainnya. Hal ini akan menimbulkan

pertentangan yang akan diakhiri oleh kemenangan rakyat yang tertindas.

Kemenangan tersebut pada akhirnya melenyapkan negara dan pada saat itulah

tercapai suatu masyarakat komunis yang tidak terdapat kelas-kelas sosial di

dalamnya. Jalan menuju masyarakat komunis harus dimulai dengan menggunakan

diktator proletariat, di nama kelas bawah memerintah dan menyingkirkan kelas

penindas yang minoritas. Dalam kekuasaannya tersebut terciptalah suatu susunan

masyarakat yang menerima prinsip bahwa setiap orang bekerja menurut

kesanggupannya dan setiap orang menerima cukup menurut kebutuhannya. Maka

dari inilah dikenal adanya ungkapan yang mengatakan berdiri sama tinggi dan

duduk sama rendah, sama rata dan sama rasa.


Hatta menilai Marx di dalam kerangka teorinya yang begitu logis dan kompak

strukturnya tidak memperhatikan unsur-unsur lainnya yang sama penting yaitu

psikologi. Hal ini menyebabkan munculnya suatu kejadian yang irasional semata-

mata, yaitu munculnya gerakan fasisme dan nazi yang didukung oleh berjuta-juta

kaum buruh yang mau bertempur dengan kelas mereka sendiri yang berpaham

sosialis dan komunis. Dalam kerangka teori Marx tidak diperhitungkan masalah

semacam ini, karena dasar tinjauannya semata-mata ekonomi dengan

mengabaikan faktor psikologi.35

Historis materialisme Marx menurut Hatta jika dilihat sebagai teori atau

metode ilmiah adalah tepat, tetapi jika historis materialisme sebagai ajaran politik

yang mengabaikan psikologi rakyat atau massa dan faktor-faktor lainnya adalah

suatu kealfaan yang besar konsekuensinya. Menurut Hatta kealfaan ini disebabkan

karena sifat Marx sebagai seorang ilmuwan yang juga dalam menentukan garis

politiknya tidak mau menyimpang dari analisa yang dapat dipertanggungjawabkan

secara ilmu. Menurut Hatta di sinilah keterangan paradoks apa sebab Marx

revolusioner dalam pandangan ilmunya tetapi ortodoks dalam pandangan

politiknya.36 Dan yang menerima marxisme sebagai pandangan hidup tidak

memusingkan sifat teori historis materialisme yaitu mereka yang menerima

marxisme sebagai ajaran agama yang menjanjikan surga di dunia. Bagi penganut

marxisme sebagai pandangan hidup (dogmatik) yaitu marxisme tidak dapat

dipisahkan dari materialisme inilah yang kemudian berangsur-angsur menjadi

komunis.

35
Mohammad Hatta, Pengantar ke Jalan Ekonomi Sosiologi, h. 107
36
Mohammad Hatta, Pengantar ke Jalan Ekonomi Sosiologi, h. 108
B. Pengertian Tentang Komunisme

Komunisme sebagai sebuah ideologi yang lahir dari kekacauan dan

ketimpangan sosial yang terjadi di Eropa terutama yang dilakukan terhadap buruh.

Paham ini pertama kali dikenalkan oleh para cendikiawan di Eropa oleh Robert

Owen (1771-1858), Saint Simon (1960-1825) dan Fourier (1772-1837). Tetapi

dari sekian banyak teori yang dikemukakan oleh para tokoh tersebut, teori Karl

Marx (1818-1883)lah yang dapat diterima dan dicerna dan diterapkan dalam

tataran praktisnya.

Menurut teori dialektika historis-nya Marx berpendapat bahwa seluruh

perkembangan di jagat raya terjadi akibat adanya konflik. Teori sosialisme Marx

telah mengalami beberapa modifikasi yang pada akhirnya melahirkan komunis.

Dalam komunisme agama dianggap tidak ada, karena menurut Marx agama

adalah candu bagi masyarakat. Sehingga bisa ditarik kesimpulan bahwa

komunisme adalah suatu paham atau pandangan materialistis yang menghapuskan

nilai-nilai keyakinan terhadap agama.

Mengenai pengertian komunis Hoetomo MA berpendapat bahwa komunis

adalah pandangan atau usaha yang berpijak pada Marx dan Engel dalam

penghapusan hak milik perseorangan dan menggantinya sebagai milik bersama

yang diatur dalam undang-undang.37 Sedangkan menurut W.J.S. Poerwadarminta,

37
Hoetomo MA, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, (Surabaya: CV. Mitra Pelajar,
2004), cet. ke-1, h. 185
komunis adalah usaha penghapusan milik perseorangan dan menggantinya

sebagai milik bersama.38

Menurut Marx, komunis merupakan suatu sistem politik yang mencerminkan

gaya hidup berdasarkan nilai-nilai atau asas-asas monoisme sebagai lawan

terhadap pluralisme sehingga tidak adanya golongan dalam masyarakat. Dalam

pandangan Marx, perjuangan kelas adalah motor perkembangan masyarakat,

sedangkan dalam perkembangan itu sendiri berlaku menurut hukum dialektik

historis.39 Menurut dialektik, tiap-tiap yang ada (position) ada lawannya

(opposition) dan pertentangan antar keduanya menimbulkan keadaan baru sebagai

kelanjutan (komposition).

Tujuan negara menurut paham ini juga untuk memberikan kebahagiaan hidup

yang merata dan sama kepada setiap warganya. Kebahagiaan yang merata itu

perlu dipertahankan dengan memberikan mata pencaharian bagi setiap manusia.

Karena dengan adanya mata pencaharian maka manusia akan mendapat kehidupan

yang layak. Negara juga perlu memberi jaminan bahwa hak-hak asasi manusia

tidak akan dilanggar tanpa memandang kelasnya. Namun pada dasarnya memang

manusia mempunyai sifat-sifat egois dan keinginan untuk memiliki kelebihan dari

manusia yang lainnya, maka untuk menjamin pemberian rezeki yang layak dan

merata pengakuan hak asasi dan kebebasan tanpa membedakan manusia maka

negara membuat undang-undang.

C. Latar Belakang Berdirinya Komunis di Indonesia

38
W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia Edisi Ketiga, (Jakarta: Balai
Pustaka, 2006), cet. ke-3, h. 224
39
Mohammad Hatta, Pengantar ke Jalan Ekonomi Sosiologi, (Jakarta: PT. Gunung
Agung Tbk. 2002), cet. ke-4, h. 94
Awal kemunculan komunis di Indonesia terjadi pada awal-awal abad kedua

puluh dan pada saat didirikannya ISDV (Indische Sociaal Democratische

Vereeniging) yang berdiri pada bulan Mei 1914 dan ditokohi oleh seorang

Sneevlet. Dengan demikian transformasi yang dialaminya menjadi PKI yang lebih

modern pada tahun 1920.

Sneevlet datang ke Hindia Belanda pada tahun 1913 ketika ia masih menjadi

anggota Sociaal Democratische Arbeiderpartij (SDAP) yang revesionis dan

Sociaal Democratische Partij (SDP) yang lebih radikal. SDP ini merupakan

embrio daripada Partai Komunis Belanda. Di Hindia Belanda ia bergabung

dengan staf editorial Soerabajasch Handeldsblad di Surabaya dan kemudian

menjadi sekretaris di Handelsvereeninging (semacam perkumpulan dagang) di

Semarang dan menjadi editor pada koran De Volharding milik VSTP

(Vereeninging van Spoor enTramweg Personeel). Artikel yang ditulisnya pada

tahun 1917 menyebabkan dia dituntut oleh pemerintah Hindia Belanda karena

dianggap memprovokasi rakyat Hindia Belanda. Dalam artikelnya ia

mengemukakan bahwa kekuasaan Belanda di Hindia Belanda yang menjadi

kekuasaan Tsar di Rusia hanya akan terjadi apabila orang-orang Indonesia

menyetujuinya.

Sneevlet merupakan seorang komunis tulen. Ia telah memperjuangkan adanya

kerjasama antara ISDV dan Sarekat Islam sebagai organisasi yang cukup besar

pada masanya. Hal ini senada dengan instruksi Comintern (Comunist

Internasional) dalam kongres II yang mengatakan bahwa dimana-mana orang

komunis haruslah menjalin kerjasama dan melakukan penetrasi ke dalam


organisasi-organisasi lainnya. Keberhasilannya dalam menggalang dan menyebar

luaskan paham komunis di Belanda dan Hindia Belanda menempatkannya sebagai

Direktorat Propaganda dalam Comintern untuk wilayah Timur Jauh.40

Dalam pandangan komunis internasional sesesungguhnya masyarakat

Indonesia sejak berabad-abad sebelumnya telah memiliki aspek yang dipandang

sebagai sifat-sifat komunistik. Hal ini dapat dilihat dari cara penyelenggaraan

pemenuhan keperluan hidup sehari-hari seperti gotong-royong dan konsep

pemilikan tanah secara bersama yang sebenarnya telah ada sejak masa sebelum

lahirnya kekuasaan feodal maupun kekuasaan kapitalistik ternyata dapat bertahan

dan tidak tergoyahkan di berbagai wilayah pedesaan di Indonesia. Konsep-konsep

tradisional itulah yang bersamaan dengan berbagai faktor lainnya belakangan

memainkan peranan yang amat penting bagi modifikasi terhadap marxisme khas

Indonesia.41

Menurut Hatta pandangan komunis internasional tentang Indonesia bukanlah

aspek yang bersifat komunistik. Pendapat tersebut terbantahkan, karena menurut

Hatta hal itu merupakan sendi demokrasi asli yang terdapat di wilayah-wilayah

Indonesia yang tercermin dalam tiga aspek.42 Pertama cita-cita rapat yang hidup

dalam sanubari rakyat Indonesia yaitu musyawarah mufakat. Kedua cita-cita

massa protes yaitu hak rakyat untuk merdeka bergerak, merdeka berkumpul dan

berserikat, ketiga cita-cita tolong menolong. Hatta berpendapat bahwa sanubari

40
Peter Edman, Komunisme Ala Aidit; Kisah Partai Komunis Indonesia di Bawah
Kepemimpinan DN. Aidit 1950-1965, (Jakarta: Center of Information Analysis, 2005), cet. ke-1, h.
11-12
41
Peter Edman, Komunisme Ala Aidit; Kisah Partai Komunis Indonesia di Bawah
Kepemimpinan DN. Aidit 1950-1965, h. 13
42
I. Wangsa Wijaya, Mengenang Bung Hatta, (Jakarta: PT. Toko Gunung Agung Tbk,
2002), cet. ke-2, h. 44
rakyat Indonesia penuh dengan rasa kebersamaan (kolektif) sehingga jika

seseorang ditimpa musibah maka ia tak perlu membayar orang lain untuk

membantu melainkan ia ditolong bersama-sama oleh orang desa lainnya. Menurut

Hatta disinilah tersimpan sendi perekonomian berkoperasi. Bila diperhatikan

bahwa tanah sebagai mata penghasilan bagi masyarakat di desa terhitung milik

bersama, orang hanya mempunyai hak memakai. Hal ini menandakan bahwa

persekutuan asli di Indonesia memakai asas kolektivisme yang berdasarkan pada

desentralisasi yaitu tiap-tiap bagian berhak menentukan nasibnya sendiri dan

bukan berdasarkan sentralisasi (satu pimpinan dari atas). Bukti ini menurut Hatta

terdapat pada sifat hak ulayat atas tanah, bukan negeri pada umumnya yang

mempunyai hak ulayat tanah tersebut melainkan desa.

Menurut Hatta tiga sendi demokrasi asli Indonesia jika lingkungan dasarnya

dijabarkan dan disesuaikan dengan kemajuan jaman, sendi tersebut menjadi dasar

kerakyatan yang seluas-luasnya yaitu kedaulatan rakyat.43 Di atas sendi yang

pertama dan yang kedua dapat didirikan tiang-tiang politik daripada demokrasi

yang sebenarnya yaitu pemerintahan negeri yang dilakukan oleh rakyat dengan

perantara wakil-wakilnya atau badan perwakilan sedangkan yang menjalankan

kekuasan pemerintahan senatiasa takluk kepada kemauan rakyat. Dan di atas sendi

yang ketiga dapat didirikan tonggak demokrasi ekonomi.

Dengan demikian varian komunisme yang diterapkan di Indonesia memiliki

perbedaan yang sangat signifikan dengan konsep aslinya yang berasal dari Eropa.

Hal ini dapat kita telusuri melalui tulisan Mortimer pada tahun 1978 yang

43
I. Wangsa Widjaya, Mengenang Bung Hatta, h. 45
mengatakan bahwa: di Asia terdapat berbagai kecendrungan-kecendrungan nyata

yang menuju ke arah sebuah interpretasi yang revolusioner terhadap Marxisme

yang bertentangan secara mendasar dengan banyak elemen skematik dalam

Marxisme, tetapi meskipun demikian ia masih memegang teguh semangat

revolusioner Marxisme.44

Hal serupa juga pernah dicermati oleh Lenin yang melihat kondisi Asia pada

umumnya dan Indonesia pada khususnya berbeda dengan apa yang dihadapi di

Eropa dalam pidatonya di hadapan para pemimpin komunis di negara-negara

timur pada tahun 1919 yang mengatakan bahwa:

Anda menghadapi sebuah tantangan yang sebelumnya belum pernah


dihadapi oleh orang-orang komunis di seluruh dunia; dasarkanlah diri anda
pada teori-teori komunis secara umum dan terapkan serta sesuaikan diri anda
dengan kondisi-kondisi khusus yang tidak dijumpai di negara-negara Eropa.
Anda harus dapat menjalankan teori ini dan menerapkannya pada keadaan
dimana massa utama adalah masyarakat petani, dimana anda harus
menyelesaikan tugas perjuangan yang bukannya melawan kaum kapitalis,
melainkan melawan sisa-sisa abad pertengahan.45

Pada kenyataannya memang terdapat varian berbeda antara marxisme di Asia

dan Eropa. Di Asia terutama di Indonesia, marxisme merupakan ekspresi-ekspresi

kemarahan, kekejaman yang melanda masyarakat petani, ketidak adilan,

penjajahan menjadi landasan elemental untuk meraih perubahan ke arah kebaikan.

Sedangkan di negara asalnya Eropa, marxisme merupakan sikap ketidaksabaran

terhadap tradisi, sifat-sifat khas kebudayaan dan sebagai sikap akomodatif

44
Mortimer Contributions to Asian Marxism sebuah makalah dalam konfrensi
Marxisme and Asia, dalam Peter Edman Komunisme Ala Aidit; Kisah Partai Komunis Indonesia di
Bawah Kepemimpinan D.N. Aidit 1950-1965, (Jakarta: Center of Information Analysis, 2005), cet.
ke-1, h. 11-14
45
Peter Edman, Komunisme Ala Aidit; Kisah Partai Komunis Indonesia di Bawah
Kepemimpinan DN. Aidit 1950-1965, cet. ke-1, h. 14
terhadap keberagaman. Jadi yang menjadi faktor penentu utama dalam marxisme

adalah rakyat yang terbangkitkan dari mimpi buruk.

Di Asia pada umumnya dan di Indonesia pada khususnya masa depan

dipahami sebagai revitalisasi dan transformasi wilayah pedesaan ke arah yang

positif dan dipergunakan secara ketat dalam pencapaian tujuan-tujuan yang

bersifat egaliterian, partisifatoris dan pembebasan. Hal ini senada dengan apa

yang diungkapkan oleh Herber Feith agar jangan terjadi pengabaian terhadap

faktor penting bagi perkembangan komunis Indonesia: Jika kita membiarkan diri

kita menjadi demikian terlibat dalam politik populis di perkotaan dan politik

konstituensi internasional, kita akan mengabaikan sekelompok masyarakat dengan

siapa kita menjalin suatu hubungan yang demikian bermakna di masa lalu dan dari

siapa kekuatan politik nyata kita selalu berasal, yakni rakyat petani Indonesia.46

Objek petani inilah yang pada masa-masa selanjutnya dicermati sebagai objek

dasar bagi perkembangan komunis di Indonesia, yaitu pada masa PKI dipimpin

oleh Aidit dan akan dijadikan sasaran utama kegiatan partai.

Menurut Aidit untuk membangun sebuah basis massa partai, petani

merupakan suatu elemen yang sangat penting. Petani merupakan basis yang

disekutukan dengan basis partai di perkotaan di semua front di seluruh wilayah

nasional. Jika hal ini terjadi, maka perkembangan baru bagi komunis di Indonesia

bahwa dengan sebuah basis yang besar ini komunis tidak dapat dikalahkan pada

langkah-langkah ekspansi selanjutnya.

46
Peter Edman, Komunisme Ala Aidit; Kisah Partai Komunis Indonesia di Bawah
Kepemimpinan DN. Aidit 1950-1965, cet. ke-1, h. 16
Untuk mengetahui lebih jauh tentang komunis di Indonesia, dapat kita telusuri

perkembangan komunis dari jaman penjajahan pemerintah kolonial Belanda yang

sering kita sebut sebagai jaman pra kemerdekaan sampai dengan masa

kemerdekaan. Perkembangan komunis sendiri terbagi dalam beberapa periode.

Pertama yang disebut dengan periode kanak-kanak yaitu komunis pada

kepemimpinan Semaun dan kawan-kawan. Kedua periode remaja yaitu komunis

di bawah kepemimpinan Muso dan Amir Syarifudin. Dan yang terakhir periode

dewasa yaitu komunis di bawah kepemimpinan D.N. Aidit dan kawan-kawan.

Pada periode-periode ini pula Partai Komunis Indonesia telah beberapa kali

berpindah kiblat dalam hal pandangan politiknya. Pada periode kanak-kanak dan

remaja PKI berkiblat kepada Moskow. Tetapi pada masa dewasanya dirasakan

kebijakan politik Moskow kurang menguntungkan dan haluan politik pun

berkiblat ke Peking (RRC).

D. PKI Sebagai Wujud Gerakan Komunis

Indonesia memiliki akar dan warisan budaya asli yang dapat dilacak jauh ke

belakang mempunyai unsur-unsur komunistik. Unsur inilah yang kemudian yang

memantapkannya dalam penanaman benih-benih komunis yang sesunguhnya.

Syarekat Islam secara langsung telah menjadi wadah awal munculnya gerakan

komunis di Indonesia. Hal ini disebabkan karena kader Syarekat Islam seperti

Semaun dan Darsono yang mencoba memulai dengan ide menuju kekiri-kirian

yaitu dengan ide-ide sosialisme.

Semaun dan Darsono selalu menjadi oposisi dalam Sarekat Islam. Semaun dan

Darsono pernah mendapat didikan komunis dari Sneevlet yang pada waktu itu
bekerja di Semarang. Sneevlet sendiri merupakan sayap kiri dalam ISDV. Di

Semarang itulah terjadi pertemuan dan kaderisasi secara tidak langsung antara

Sneevlet dan Semaun. Syarekat Islam yang kurang memperhatikan nasib buruh

merupakan lowongan baik bagi ide-ide radikal yang diinspirasikan oleh Sneevlet

dimasukkan Semaun dan Darsono ke dalam tubuh Syarekat Islam.

Pada tahun 1921 ketika Haji Agus Salim menegakkan disiplin partai, Syarekat

Islam resmi menjadi Partai Syarekat Islam dengan dasar non-kooperasi dan fraksi

oposisi dikeluarkan dari kepartaian. Setelah dikeluarkannya dari Partai Syarekat

Islam barulah PKI secara resmi muncul.

PKI yang baru berdiri pun dirasakan masih tidak kompak di antara para

petinggi partai. Hatta menilai bahwa dalam diri Semaun dan Darsono pun terdapat

perbedaan mencolok. Darsono terkenal sangat idealistik sedangkan Semaun lebih

bersifat realistik. Hal ini pula yang menyebabkan kehancuran PKI pada masa

penjajahan kolonial Hindia Belanda, karena adanya perbedaan paham untuk

melakukan suatu pemberontakan terhadap penjajah yang pada akhirnya PKI

diberangus oleh penjajah Belanda.47

Partai ini pada mulanya melakukan gerakannya secara underground sampai

saat diproklamasikannya kemerdekaan Republik Indonesia pada tahun 1945.

Setelah proklamasi kemerdekaan dan diberlakukannya Maklumat No. X barulah

partai ini memberanikan diri untuk melibatkan diri secara aktif dalam kancah

perpolitikan di Indonesia sampai dengan meletusnya peristiwa pemberontakan

Madiun pada tahun 1948. Akibat kericuhan yang terjadi dalam tubuh partai

47
Mohammad Hatta, Bung Hatta Menjawab, (Jakarta: PT. Toko Gunung Agung Tbk,
2002), cet. ke-2, h. 8
mengakibatkan terjadinya guncangan dalam kepemimpinan partai pada dekade

1950-1951. Dan pada masa inilah PKI dipimpin oleh seorang Dipa Nusantara

Aidit.

Pada masa-masa tersebut, ketika PKI masih benar-benar eksis, partai ini

menjalankan kebijakan yang bertujuan membawa massa rakyat ke dalam situasi

revolusioner. Sebuah kebijakan yang sangat jelas bagi sebuah partai komunis, tapi

hal ini dilakukan dengan membuat berbagai modifikasi. Di bawah

kepemimpinannya pula Aidit sebagai seorang teoritisi dalam perumusan kebijakan

dan langkah-langkah partai. Pada dekade ini dapat juga dikatakan tahun

gemilangnya PKI karena keberhasilan yang diperoleh Aidit melipat gandakan

jumlah anggota dan pengaruhnya. Dan pada masa-masa kepemimpinan D.N. Aidit

ini pula PKI mengalami kehancuran karena berusaha melakukan kudeta terhadap

pemerintahan yang sah yaitu Pemerintahan Republik Indonesia.


BAB IV

KOMUNIS DALAM PANDANGAN HATTA

A. Perkembangan Komunis Dari Waktu ke Waktu

Komunisme sebagai suatu ideologi pernah ikut andil dalam meramaikan

konstalasi perpolitikan di Indonesia. Pada masa pra kemerdekaan, komunis lahir

sebagai wujud dari pergerakan rakyat Indonesia yang merasa tertindas oleh

penjajah Belanda dan atas dasar keinsyafan untuk merdeka dari segala bentuk

penjajahan. Di bawah dukungan komunis Rusia (Uni Sovyet), komunis di Hindia

Belanda lahir. Tapi hal ini tidak berlangsung lama, karena pemerintah kolonial

Belanda tidak menyetujui berdirinya komunis di Hindia Belanda yang pada

akhirnya komunis yang baru lahir tersebut diberangus habis.

Komunisme sebagai paham yang berorientasi kepada kemaslahatan orang

banyak (kolektivitas) dianggap sebagai penghalang bagi pemerintah kolonial yang

lebih condong mementingkan kemaslahatan pribadi (individu) dan untuk

kepentingan sendiri. Paham komunis ini ditakutkan akan menyadarkan rakyat

Indonesia yang sedang terjajah, sehingga akan menimbulkan suatu sikap

perlawanan terhadap para penjajah itu sendiri, seperti yang telah dilakukan Karl

Marx dan Engels untuk mencerahkan kaum buruh di Jerman untuk melawan para

kaum kapitalis dan feodalis.


Menurut Hatta komunis Indonesia lahir dari haribaan organisasi Islam yaitu

Syarekat Islam (SI). Syarikat Islam yang dibentuk tahun 1912 menelorkan dalam

dirinya tokoh-tokoh diantaranya Semaun dan Darsono yang memulai ide-idenya

menuju kekiri-kirian dengan ide-ide sosialisme. Dari gagasan sosial demokrasi

berangsur-angsur berubah menjadi demokrasi sosial yang radikal. Semaun dan

Darsono selalu menjadi oposisi dalam Syarikat Islam (SI) dan akhirnya pada

tahun 1917 lahirlah PKI yang bersifat tidak resmi.48

Di dalam perkembangan PKI terdapat ketidak-kompakan diantara pemimpin

PKI mengakibatkan PKI yang baru tumbuh dan berkembang itu hancur. Hal ini

bisa dilihat dari pemberontakan pertama yang dilakukan PKI, dimana dalam setiap

tindakannya PKI selalu meminta persetujuan dari Stalin sebagai pemimpin

komunis internasional. Stalin tidak menyetujui diadakannya pemberontakan dan

memerintahkan untuk segera membatalkan rencana tersebut. Menurut Stalin tidak

adanya faktor yang objektif yang membolehkan untuk memberontak kepada

penguasa kolonial Belanda. Menurut Stalin, jika hal ini terjadi maka kalian

(Semaun dan kawan-kawan) akan menghancurkan partai dan PKI akan

dihancurkan oleh tindakan pemerintah kolonial Belanda di Indonesia.49 Karena

keterbatasan komunikasi akhirnya pemberontakan ini dilaksanakan dan

berdampak diberangusnya PKI.

Setelah PKI diberangus dan dilarang oleh pemerintah Belanda maka

diadakanlah suatu kontrak politik antara Bung Hatta dan Semaun yang ditanda

tangani oleh mereka berdua pada waktu Hatta masih melakukan studinya di
48
Mohammad Hatta, Bung Hatta Menjawab, (Jakarta: PT. Toko Gunung Agung Tbk.
2002), cet. ke-2, h. 6-7
49
Mohammad Hatta, Bung Hatta Menjawab, h. 10
Belanda. Kontrak politik tersebut berisikan pernyataan tertulis yang isinya: jikalau

PKI tidak akan hidup kembali dan mengadakan perjuangan menentang

kolonialisme, maka pimpinan pergerakan menentang penjajah diserahkan kepada

Perhimpunan Indonesia (PI) yang akan mendirikan partai yang mirip dengan PI di

Indonesia dan PKI tidak akan mengadakan oposisi kepada partai tersebut selama

partai tersebut menuju Indonesia merdeka. Alat-alat yang ada pada PKI seperti

mesin percetakan dan lain-lain akan diserahkan oleh PKI kepada partai baru yang

akan dibentuk PI di Indonesia.50 Setelah kembalinya Hatta ke Indonesia

berdasarkan perjanjian tersebut, maka dibentuklah sebuah partai PNI (Pendidikan

Nasional Indonesia) meskipun tidak seradikal PI di Belanda tetapi tetap menuju

kepada kemerdekaan.

Setelah sekian lama PKI tidak lagi terdengar gaungnya karena bergerak secara

underground sampai dengan diproklamasikannya Maklumat No.X partai-partai

yang pernah ada di Indonesia dihidupkan lagi, tapi dengan catatan untuk tujuan

kemerdekaan Indonesia. Maklumat No. X ini bertujuan untuk menunjukkan image

demokrasi bagi Indonesia yang baru saja merdeka dan untuk menghindarkan

sangkaan diktator atau fasis peninggalan Jepang.

Atas Maklumat No. X ini pula PKI hidup kembali di Indonesia di bawah

kepemimpinan Muso yang baru kembali dari Sovyet tetapi tidak bertujuan untuk

kemerdekaan malah sebaliknya. Muso berusaha untuk menghidupkan kembali

PKI dengan cara membangun dan membina kader-kader baru PKI.

50
Mohammad Hatta, Bung Hatta Menjawab, h. 11
Ketika Muso aktif kembali menghidupkan PKI ia mulai bergerak dengan

meningkatkan pemogokan-pemogokan dan pengacauan-pengacauan. Di Delanggu

PKI pernah menggerakan pemogokan dengan mengibarkan slogan-slogan dan

bendera-bendera merah, sehingga semua kelihatan serba merah dan memberi

kesan seakan-akan rakyat hidup dalam negeri PKI. Semuanya itu dalam rangka

mematangkan situasi ke arah perlawanan rakyat.

Menurut rencananya, Muso mulai hendak memproklamirkan negara Sovyet

Indonesia pada bulan November 1948, tetapi rencananya tersebut telah didahului

oleh para pengikutnya. Muso dan para petinggi-petinggi PKI lainnya sedang

dalam perjalanan ke Madiun, ketika mereka belum sampai ke Madiun, revolusi

sudah dimulai dengan dibacakannya Proklamasi Negara Sovyet Indonesia.51

Mulanya terjadi bentrokan kecil antara unsur-unsur kiri dengan TNI Siliwangi

yang menyebabkan jatuhnya korban seperti Dr. Muwardi. Lalu kemudian semakin

memanas dan meruncing, PKI semakin bertindak brutal dan tidak

berkeprimanusiaan. Akhirnya diadakanlah rapat diantara Badan Pekerja KNIP

untuk menindaklanjuti permasalahan PKI. Akhirnya diperoleh suatu keputusan

yang meminta agar kepada Presiden diberikan kekuasaan penuh selama 3 bulan

untuk mengatasi keadaan dan memberantas PKI. Sesudah lahirnya keputusan

akhirnya Presiden Soekarno memberikan pidato yang pendek yang mengatakan

Pilih Soekarno-Hatta atau Muso. Pidato ini mempunyai pengaruh di masyarakat

untuk menarik garis pemisah apakah negara ini akan diarahkan kepada demokrasi

terpimpin atau komunis.

51
Mohammad Hatta, Bung Hatta Menjawab, h. 18
Kesalahan-kesalahan PKI di daerah-daerah tertentu juga mendapat

perlawanan. Misalnya yang terjadi di Jawa Tengah dan Jawa Timur PKI

mengambil alih dan menguasai tanah bengkok yang diperuntukkan bagi Lurah

sebagai pengganti gaji dalam memimpin masyarakat. Lurah waktu itu

berpengaruh terhadap rakyat, sehingga revolusi yang dilakukannya itu tidak

berlaku dalam masyarakat, terutama sekali di daerah yang luas bahkan rakyat

berbalik menentang mereka.

Akibat tindakan yang dilakukan PKI tersebut akhirnya PKI dihancurkan dan

menurut rencana para pimpinannya akan dituntut dan diadili di muka hakim. Jika

dewan hakin resmi memutuskan bersalah karena memberontak terhadap

pemerintahan yang sah itu akan membuka jalan untuk sampai kepada keputusan

membubarkan dan melarang PKI. Tetapi pada kenyataannya waktu itu terjadi

Agresi Militer Belanda II, yang mengakibatkan tokoh-tokoh PKI tidak dapat

dituntut dan diadili, dengan alasan takut para pemimpin PKI tersebut beresiko

menyebrang kepada pihak Belanda maka para pemimpin PKI tersebut akhirnya

ditembak mati. Karena menurut Gatot Soebroto selaku Gubernur Militer

berpendapat bahwa keadaan perang dengan PKI dan Belanda sama saja yaitu

sama-sama menyerang Republik.

Dengan terjadinya Agresi Militer Belanda II tersebut sistem pemerintahan

berubah dari RI menjadi RIS. Pada kesempatan kali ini Hatta berpendapat untuk

menuntut kembali soal Madiun. Tetapi waktu itu Dr. Halim yang menjabat

sebagai Perdana Menteri Negara bagian RI menahannya dengan mengatakan

bahwa masalah Madiun adalah masalah RI bukan masalah RIS.


Akibat sistem pemerintahan yang berbeda, PKI seperti mendapat angin segar.

PKI yang sebelumnya telah memberontak terhadap pemerintahan RI dan akan

dibubarkan, pada masa pemerintahan RIS secara perlahan-lahan tapi pasti kembali

berdiri di bawah komando Dipa Nusantara (DN) Aidit dan menyingkirkan tokoh-

tokoh pendahulunya yang telah dianggap gagal melaksanakan suksesi komunis di

Indonesia. PKI di bawah kepemimpinan Aidit menggunakan serikat-serikat buruh

di bawahnya untuk menghasut para buruh melakukan aksi mogok seperti yang

terjadi di Sumatera Utara. Melihat keadaan tersebut Hatta pun meminta kepada

Jaksa Agung yang pada masa itu dijabat oleh Tirtawinata SH untuk melarang

berkembangnya PKI, tetapi hal itu ditolak karena menurutnya ini bukan masalah

RIS tetapi ini masalah negara bagian (Sumatera Barat) yang bersangkutan.

Seiring berjalan dengan waktu banyak negara bagian RIS yang membubarkan

diri dan masuk RI Yogya. Sehingga tinggal pemerintahan RIS, NIT, Negara

Sumatera Timur dan RI Yogya. Sukawati dari NIT dan Tengku Mansur dari

Sumatera Timur menyerahkan mandatnya kepada RIS. Pemerintah RIS dan RI

berunding untuk menentukan sistem pemerintahan dan pimpinan negara. Setelah

lama bermusyawarah akhirnya diputuskan bahwa pemerintahan kembali ke RI

Yogya dengan ditunjuknya Soekarno-Hatta sebagai Presiden dan Wakil Presiden

dengan kabinet parlementer-nya, tetapi bila terjadi kesulitan-kesulitan dalam

pemerintahan Bung Hatta ditunjuk merangkap sebagai Perdana Menteri.

Dalam situasi yang demikianlah DN. Aidit cukup pintar, ia mendekati Bung

Karno selaku Presiden Konstitusional. Dengan cara ini ia dapat memecah belah
keberadaan Dwitunggal, sehingga secara tidak langsung PKI membonceng kepada

Soekarno.

Di Jawa Tengah dan Sumatera PKI mencoba aksi-aksi sepihaknya untuk

menuntut landreform. Di Jawa Tengah aksi ini dapat dicegah dan tidak memakan

korban, tetapi di Sumatera ada beberapa orang tentara diserang dan dibunuh.

Tetapi kasus ini tidak sampai ke pengadilan untuk diadili karena perkaranya

didiamkan dan ditutup-tutupi dan pada akhirnya ditiadakan oleh Bung Karno.

Dengan demikian PKI mendapat perlindungan yang aman.

Sebenarnya Bung Karno pernah diingatkan oleh Bung Hatta mengenai bahaya

PKI dalam acara bincang-bincang di rumah Bung Hatta, tetapi Bung Karno

kurang tanggap. Tetapi secara garis besar munculnya dan majunya PKI di

Indonesia disebabkan karena kembalinya UUD 1945 kepada UUD Sementara

1950.

Kepeminpinan Bung Karno pun waktu itu dinilai terlalu bebas dibandingkan

dengan kedudukannya sebagai seorang Presiden Konstitusional dan terlalu kagum

terhadap pujian yang ditujukkan kepadanya. Kedekatan Bung Karno dan Aidit

pun disebabkan oleh faktor pujian tersebut yang pada akhirnya menjatuhkannya.

Komunis di bawah pimpinan Aidit berbeda dengan para pendahulunya. Pada

masa-masa kepemimpinan Semaun dan Muso, Partai Komunis Indonesia lebih

condong berkiblat ke Moskow, tetapi pada kepemimpinan Aidit PKI lebih

condong ke Peking. Hal ini tidak mengherankan jika Bung Karno menarik poros

Jakarta-Hanoi-Peking-Pyongyang dan Moskow tidak masuk lagi dalam poros

tersebut. Hal ini dikarenakan semakin tegangnya hubungan antara dua negara
komunis yaitu RRC dan Rusia sehingga berdampak terjadinya pergolakan-

pergolakan intern di dalam tubuh PKI yang berakhirnya dengan berubahnya kiblat

PKI ke Peking (RRC) yang dirasakan cara-cara komunis RRC tepat dan sesuai

untuk melakukan suksesi komunis di Indonesia

Perkembangan komunis di Indonesia relatif semakin pesat dengan politiknya

memecah belah partai. Hal ini bisa dilihat pada Pemilihan Umum tahun 1955,

partai yang mulanya berjumlah 5 pada masa RI pertama yang terdiri dari PNI,

Masyumi, PSI, Kristen dan Katholik kini berkembang menjadi 18 partai. Pada

tahun 1952 Masyumi pecah dengan keluarnya NU dan Perti di Sumatera Barat.

PNI juga mengalami perpecahan yang melahirkan PRN, kemudian PRN pecah

kembali menjadi PRN Bebas. Dari partai yang ada hanyalah PKI yang tidak pecah

malah bertambah kuat. PSI relatif kecil walaupun pintar. Di pusat PKI berbaik

dengan PNI, tetapi di daerah-daerah PNI dihantam terus oleh PKI.

Selain politik memecah belah partai, PKI mempunyai program jika PKI

menang dalam Pemilu maka PKI akan memilih Bung Karno menjadi Presiden.

Slogan ini digunakan untuk menarik massa dengan cara menunggangi popularitas

Bung Karno dan PKI adalah satu-satunya partai yang mempunyai pernyataan

demikian.

Tetapi bagaimanapun yang dilakukan PKI adalah bertujuan untuk merebut

kekuasaan. Hal ini telah diamati oleh PKI bahwa kekuatan dan kekuasaan yang

diharapkannya tidaklah akan menjadi kenyataan tanpa menyakinkan Soekarno

terlebih dahulu. Semuanya ini didasarkan pada pengetahuan sejarah komunis di


dunia terutama sekali di RRC dan kesadaran tentang keadaan masyarakat dan

tingkat perkembangannya pada waktu itu.

Gerakan untuk merebut Irian Barat (Trikora) dan Ganyang Malaysia

(Dwikora) yang PKI ikut menyuarakannya dapat kita baca arahnya yaitu

mendukung arah politik Soekarno. Dan usulan Aidit untuk dibentuknya Angkatan

Kelima di samping Angkatan Darat, Angkatan Laut, Angkatan Udara dan

Kepolisian yaitu para petani dan buruh yang dipersenjatai tidak lain adalah dalam

upaya untuk melakukan suatu pemberontakan.

Usulan Aidit membentuk angkatan kelima itu tidak sampai terbentuk tetapi

usaha-usaha Aidit untuk perebutan kekuasaan makin terasa pada awal-awal tahun

1965 dengan mewarnai segala bentuk kegiatannya dengan mengusung ide

Nasakom (Nasionalis, Agamis dan Komunis) yang disuarakan oleh Soekarno.

Mengenai Angkatan Kelima tersebut sebenarnya pernah diutarakan oleh tokoh

PKI sebelumnya yaitu Amir Syarifudin yang pada waktu itu menjabat sebagai

Menteri Pertahanan. Amir Syarifudin meminta agar dibentuk TNI masyarakat di

samping adanya TNI sebagai badan pertahanan yang resmi. TNI masyarakat yang

dipimpin oleh Djokosujono dari FDR (Front Demokrasi Rakyat) bila diteliti lebih

jauh kehadirannya dimaksudkan sebagai tentara pengawal yang akan melindungi

gerakan FDR dan pada kelanjutannya digunakan untuk pemberontakan. Politik

inilah yang sering dipakai PKI seperti yang dianjurkan oleh Stalin dimana ada

kesempatan di situ kita (PKI) masuk.

Menyikapi situasi yang demikian itu, Hatta merasa perlu kiranya untuk

menyusun suatu program kabinet itu menyebutkan tentang rasionalisasi terutama


dalam tubuh TNI. Mengenai langkah pada umumnya dikemukakan Hatta dalam

keterangan Pemerintah kepada Badan Pekerja KNIP tanggal 16 Februari 1948 di

antaranya . Rasionalisasi ke dalam pemerintah bermaksud mengadakan

perbaikan dalam susunan negara dan alat negara serta mencapai sedikit

pertimbangan antara pendapatan dan belanja negara.52

Kedekatan Aidit dan Soekarno semakin erat dan memperkuat kedudukan PKI

sehingga dirasakan partai-partai lain tidak dapat melawan kekuatan PKI, bahkan

oleh PNI sekalipun dikarenakan PNI tunduk terhadap kebijakan Bung Karno.

Menurut Bung Hatta hanya kekuatan tentaralah yang dapat melawan atau

menyeimbangi kekuatan PKI.

Ketika Bung Karno sakit dan berbekal isu tentang Dewan Jenderal, PKI

melancarkan gerakan untuk memberontak yang terkenal dengan istilah Gerakan

30 September 1965 (G30S PKI). Sebenarnya menurut rencana PKI,

pemberontakan akan dilakukan pada tahun 1970. Mengingat situasi yang semakin

genting dikarenakan Soekarno sakit keras dan ditakutkan Soekarno akan

meninggal karena sakitnya tersebut maka rencana pemberontakan dipercepat yaitu

tahun 1965. Pemberontakan ini telah menelan banyak korban diantaranya para

Jenderal Angkatan Darat yang pada akhirnya dikukuhkan sebagai Pahlawan

Revolusi.

Setelah terjadinya pemberontakan yang dilakukan oleh PKI, akhirnya PKI

diberangus mulai dari pimpinannya dan tak terkecuali para anggotanya oleh TNI

dibantu oleh rakyat. Reaksi rakyat yang tertekan dengan agitasi dan intimidasi

52
I. Wangsa Widjaja, Mengenang Bung Hatta, (Jakarta: PT. Toko Gunung Agung Tbk,
2002), cet. ke-2, h. 58
yang dilakukan oleh PKI menjadi tak terkendali. Bung Hatta menceritakan ketika

beliau berada di Unhas Padang beliau bertemu dengan Prof. Rikerk selau Dosen di

Unhas yang menceritakan bahwa pemuka-pemuka NU di Jawa Timur

mengatakan bila PKI membunuh ulama-ulama Islam, maka kami akan membalas

dan membunuh paling kurang 10 orang PKI untuk setiap ulama kami yang

dibunuh.

Menurut Bung Hatta, pada dasarnya memang PKI dianggap tidak cocok untuk

tumbuh dan berkembang di negara yang berlandaskan kepada asas Ketuhanan

Yang Maha Esa. Hal ini bertolak belakang dengan asas PKI sendiri yang

berlandaskan pada materialisme dan penolakan terhadap agama.

Hal ini bisa dilihat dari keterangan Bung Hatta mengenai ideologi Pancasila.

Menurut Bung Hatta Pancasila didasarkan pada Ketuhanan Yang Maha Esa

menjadi dasar yang memimpin cita-cita kenegaraan untuk menyelenggarakan

segala yang baik bagi rakyat dan masyarakat, sedangkan dasar Perikemanusiaan

adalah kelanjutan dengan perbuatan dalam praktik hidup daripada dasar yang

memimpin tersebut. Dasar kemanusiaan yang adil dan beradab harus menyusul

berangkaian dengan dasar yang pertama. Letaknya tidak dapat dipisahkan, sebab

ia harus dipandang sebagai kelanjutan ke dalam praktik hidup daripada cita-cita

dan amal Ketuhanan Yang Maha Esa. Ketuhanan Yang Maha Esa tidak lagi hanya

sebagai dasar hormat menghormati agama masing-masing, melainkan menjadi

dasar yang memimpin ke jalan kebenaran, keadilan, kebaikan, kejujuran,

persaudaraan dan lainnya.


Dasar persatuan Indonesia menegakkan bahwa tanah air kita Indonesia adalah

satu dan tidak dapat dibagi-bagi. Persatuan Indonesia mencerminkan susunan

negara nasional yang bercorak Bhineka Tunggal Ika. Dasar ini menegaskan sifat

Republik Indonesia sebagai negara nasional berdasarkan ideologi sendiri. Dasar

kerakyatan menciptakan pemerintahan yang adil, yang dilakukan dengan rasa

tanggung jawab agar tersusun sebaik-baiknya demokrasi Indonesia yang

mencakup demokrasi politik dan demokrasi ekonomi. Dasar keadilan sosial

adalah pedoman dan tujuan kedua-duanya. Dengan melaksanakan cita-cita ini

dalam praktik, rakyat hendaknya dapat merasakan keadilan yang merata dalam

segala lapangan hidup dalam bidang ekonomi, bidang sosial dan bidang

kebudayaan.

Dari keterangan di atas jelas-jelas bahwa Pancasila sebagai Dasar Negara

bertolak belakang terhadap ideologi komunis yang condong kepada asas

penolakan terhadap sila Ketuhanan. Arah penerapan sistem perpolitikan pun

sangat jauh bertentangan, jika Pancasila bertujuan untuk menciptakan demokrasi

bagi kepentingan rakyat sedangkan komunis bertujuan untuk membentuk suatu

diktator proletariat.

Sehingga menurut Bung Hatta bahwa Pancasila tidak boleh dijadikan amalan

di bibir saja, itu berarti pengkhianatan pada diri sendiri. Pancasila harus tertanam

dalam hati yang suci dan diamalkan dengan perbuatan. Tetapi timbullah

pertanyaan apakah cukup rasa tanggung jawab untuk menyelenggarakan cita-cita

bangsa dan tujuan negara sebagaimana mestinya menurut Pancasila. Orang lupa,

bahwa kelima sila tersebut saling berangkaian dan tidak berdiri sendiri. Di bawah
sila Ketuhanan Yang Maha Esa kelima sila itu saling ikat-mengikat. Dan yang

harus disempurnakan dalam Pancasila ialah kedudukan manusia sebagai hamba

Allah yang satu sama lain harus merasa bersaudara. Negara Republik Indonesia

belum lagi berdasarkan Pancasila apabila pemerintah dan masyarakat belum

sanggup mentaati UUD 1945, terutama belum dalam melaksanakan pasal 27 ayat

2, pasal 31, pasal 33 dan pasal 34. Dan ingatlah bahwa Pancasila itu adalah

kontrak rakyat Indonesia seluruhnya untuk menjaga persatuan dan kesatuan kita

sebagai bangsa.53

Dari uraian tersebut di atas, tahulah kita mengapa komunis ingin

melaksanakan suksesinya di Republik Indonesia dengan cara merongrong

pemerintahan dan melakukan pemberontakan, tidak lain karena ideologi Pancasila

yang telah dirumuskan bersama tidak memungkinkan diterapkannya komunis di

bumi pertiwi ini. Dan seperti kita ketahui bahwa salah satu tujuan PKI adalah

mengubah ideologi Pancasila dengan ideologi komunisnya.

Kulminasi dari rentetan gerakan PKI di Indonesia adalah Gerakan 30

September 1965 yang telah memakan banyak korban diantaranya para Jenderal

yang diisukan oleh PKI akan melakukan kudeta. Tetapi rencana PKI tinggallah

rencana, meskipun didukung dengan kesiapan dan kematangan rencana, tapi pada

akhirnya Allah jualah yang menentukan. Rencana untuk mengubah Ideologi

Pancasila menemui kegagalan. Atas karunia Allah pula Pancasila dapat

dipertahankan, maka oleh pemerintah setiap tanggal 1 Oktober diperingati sebagai

Hari Kesaktian Pancasila.

53
I. Wangsa Widjaja, Mengenang Bung Hatta, (Jakarta: PT. Toko Gunung Agung Tbk,
2002), cet. ke-2, h. 81
B. Kritik Hatta terhadap Perkembangan PKI

Berkembangnya komunis di Indonesia dari masa kolonial hingga Indonesia

berbentuk Republik ikut mewarnai corak perpolitikan di Indonesia. Tiga kekuatan

politik yang mewarnai perpolitikan Indonesia terdiri dari Nasionalis, Islam dan

Komunis. Tetapi pada akhirnya kekuatan komunislah yang mencoba

menghegemoni dua kekuatan besar lainnya untuk mengganti ideologi negara dan

dasar-dasar negara yang telah dibangun dengan susah payah di atas kepentingan

pribadi dan golongan dengan cara-cara yang tidak lazim.

Dukungan komunis internasional pun ikut andil dalam menegakkan komunis

di Indonesia yang nyata-nyata mempunyai kepentingan tersendiri seperti Rusia

dan RRC. Hal ini tidak lain supaya dalam berpolitik Indonesia selalu berkiblat

kepada Moscow (Komunis). Hal ini telah bertentangan dengan arah politik luar

negeri Indonesia yang bebas aktif dan nyata-nyata tidak memihak kepada blok-

blok tertentu seperti yang tertuang dalam GBHN (Garis-garis Besar Haluan

Negara). Dalam hal politik luar negeri bebas aktif Bung Hatta telah menyinggung

bahwa pendirian yang harus kita ambil ialah supaya kita jangan menjadi objek

dalam pertarungan politik internasional melainkan kita harus menjadi subjek

yang berhak menentukan sikap kita sendiri.54 Seperti yang kita ketahui bahwa

kekuatan dunia dihegemoni oleh dua kekuatan besar yaitu Kapitalis dan Sosialis

(Komunis).

54
Mohammad Hatta, Mendayung Antara Dua Karang, (Jakarta: Bulan Bintang, 1976), h.
21-22
Gerakan komunis yang terselubung sebagai nasionalis mempunyai tujuan

menegakkan komunis sedunia lewat revolusi sedunia. Bung Hatta mempunyai

beberapa alasan untuk tidak setuju dan menentang gerakan komunis itu, antara

lain:55 Pertama, komunisme di Indonesia tidak akan membawa kebebasan

melainkan memperkuat genggaman negara kapitalis yang tidak menghendaki

Indonesia jatuh ke tangan komunis. Kedua, gerakan komunis mengarah revolusi

sedunia dan tidak segan-segan untuk menggunakan kekerasan. Ketiga, komunis

menentang kapitalis dengan melancarkan revolusi sedangkan Bung Hatta lebih

suka menempuh jalan damai dengan melakukan gerakan koperasi. Keempat,

komunis berjuang berdasarkan teori perjuangan kelas, suatu strategi yang

mengancam kesatuan dan persatuan bangsa Indonesia.

Sedangkan kesalahan-kesalahan para pemimpin Indonesia pada waktu itu

yang menyebabkan komunis berkembang di Indonesia menurut analisa Bung

Hatta disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu diantaranya:56

Pertama, tidak adanya ketentuan hukum yang sah sebagai keputusan

pengadilan terhadap pemberontakan Madiun 1948 baik terhadap para pemimpin

dan pelakunya maupun terhadap organisasi yang mendukungnya.

Kedua, terlalu cepatnya bangsa ini meninggalkan sistem pemerintahan

Presidentil dan beralih kepada sistem Parlementer setelah pengakuan kedaulatan

Indonesia secara de jure oleh Belanda pada tanggal 27 Desember 1949.

55
Sartono Kartodirdjo, Peranan Bung Hatta dalam Pembangunan Bangsa, dalam
kumpulan tulisan tim LP3ES, Pemikiran Pembangunan Bung Hatta, (Jakarta: PT. Pustaka LP3ES,
1995), cet. ke1, h. 15
56
Mohammad Hatta, Bung Hatta Menjawab, h. 81-84
Sedangkan untuk masa peralihan dan pembangunan masih diperlukan suatu

pemerintahan yang kuat, stabil dan berwibawa.

Ketiga, sikap Kepala Negara yang berubah dari semula yang pada awalnya

menentang komunis tetapi pada kelanjutannya malah merangkul komunis dengan

anggapan bahwa komuns Indonesia itu berbeda dan tidak akan membahayakan.

Padahal seperti yang kita ketahui bahwa seorang komunis tidak boleh tunduk

kepada orang yang bukan komunis.

Keempat, dengan sistem Parlementer dan UUD 1950 makin nampak perebutan

pengaruh oleh partai-partai yang muncul menjadi seorang partijman (orang partai)

dibandingkan seorang stateman (negarawan). Karena yang diperlukan negara

adalah seorang stateman bukan partijman dan hal ini dipergunakan sebaik-baiknya

oleh PKI untuk melakukan politik pecah belah partai dan mengadu domba.

Keenam, pecahnya golongan agama dan nasional. Demikian pula perpecahan-

perpecahan di dalam tubuh golongan agama dan di dalam tubuh golongan

nasionalis itu sendiri. Kepintaran PKI dalam merebut hati pimpinan PNI di pusat

dan mengadu domba dan mengintimidasi PNI yang berada di daerah.

Ketujuh, kepintaran PKI mendukung dan memanfaatkan situasi secara penuh

aksi Trikora dan Dwikora dan menyokong poros Jakarta-Hanoi-Peking-

Pyongyang disertai Nasakom.

Kedelapan, pemerintah lebih mendahulukan politik dan menelantarkan

ekonomi. Kemerosotan ekonomi merupakan ladang empuk bagi PKI untuk

melebarkan sayapnya. Karena faktor kemiskinan merupakan faktor untuk

membangkitkan timbulnya pemberontakan.


Kesembilan, dengan ide-ide Nasakom PKI memaksanakan diri atas

pembentukan apapun di bawah sampai ke desa, di mana untuk PKI harus

disediakan tempat dalam struktur politik dan kehidupan sosial.

Kesepuluh, ditumpasnya pemerontakan PRRI/Permesta yang tidak setuju

dengan adanya konsepsi kuda berkaki empat. Karena pada masa PRRI, PKI

ditumpas habis dan setelah pemberontakan PRRI ditumpas, PKI kembali muncul

di Sumatera Barat.

Kesebelas, terlalu lambannya keputusan yang diambil pada waktu sidang

Konstituante mengenai dasar negara. Golongan Islam memperjuangkan negara

Islam, tetapi golongan ini kalah suara hanya mendapat 48% tidak mengaku kalah

dan menerima Pancasila yang pada akhirnya PKI lah yang muncul menjadi

pembela Pancasila. PKI yang notabene atheis bisa-bisanya membela Pancasila

yang sila-silanya dilandaskan atas Ketuhanan Yang Maha Esa.

Untuk mencegah timbulnya gerakan PKI kembali ataupun pemberontakan di

bumi pertiwi ini menurut Hatta ada beberapa faktor yang harus diperhatikan.

Pertama, kebebasan mengatakan mengeluarkan pendapat dan sanggahan. Kedua,

agar dalam proses membuka ekonomi bagi lalu lintas dagang dan investasi dunia

luar agar jangan sampai orang luar menunjukkan tanda dominasi yang mencolok.

Ketiga, dalam bidang pendidikan perlu ditanamkan betul pengertian Pancasila

sebagai Dasar Negara dan pentingnya pengamalan Pancasila dalam kehidupan

sehari-hari.
BAB V

KESIMPULAN

A. Kesimpulan

Pada masa penjajahan kolonial Belanda di Indonesia timbul kekuatan

mengatasnamakan nasionalisme. Semua elemen bangsa bersatu demi mewujudkan

kemerdekaan Indonesia dari tangan penjajah. Elemen-elemen terbesar yang

bersatu tersebut mengatasnamakan nasionalis, Islam dan komunis. Pada masa

pemerintahan Soekarno ketiga elemen tersebut dirangkul dalam NASAKOM.

Tiga kekuatan ini pula setelah Indonesia merdeka ikut meramaikan konstalasi

perpolitikan Indonesia. Hal ini terlihat jelas ketika mau kemana bangsa ini

diarahkan? Apakah negara ini berdasarkan pada demokrasi (nasionalis), Islam

atau komunis? Setelah melalui sidang-sidang yang panjang akhirnya disepakati

bahwa negara ini didasarkan demokrasi (nasionalis).

Ketika sistem pemerintahan sedang berlangsung, salah satu elemen tersebut

menjadi lawan bagi elemen lainnya. Itulah PKI. Mengatas namakan untuk

kepentingan rakyat buruh, tani dan golongan tertindas, tetapi dalam kenyataannya

tidaklah demikian. Karena dalam praktek politiknya mereka melakukan

intimidasi, pencekalan dan bahkan tindakan anarkis kearah pemberontakan. Malah

kalau dilihat lebih dalam lagi, PKI lah yang merugikan rakyat ini.
Hatta telah mengingatkan Soekarno tentang bahaya komunis, tetapi Soekarno

beranggapan bahwa komunis di Indonesia berbeda dengan komunis di Rusia.

Menurut Hatta komunis itu sama saja, tunduk pada Rusia dan mengikuti

keinginannya. Hatta juga mengingatkan kembali tentang kontraknya dengan

komunis setelah gagalnya pemberontakan komunis tahun 1926 yang

menyebabkan dipanggilnya Semaun ke Rusia. Karena prinsip komunis yang tidak

boleh menundukkan diri kepada yang bukan komunis menyebabkan Semaun

dipecat dari Comintern.

Gerakan komunis yang terselubung sebagai nasionalis mempunyai tujuan

menegakkan komunis sedunia lewat revolusi sedunia. Bung Hatta mempunyai

beberapa alasan untuk tidak setuju dan menentang gerakan komunis itu, antara

lain :

Pertama, komunisme di Indonesia tidak akan membawa kebebasan melainkan

memperkuat genggaman negara kapitalis yang tidak menghendaki Indonesia jauh

ke tangan komunis.

Kedua, gerakan komunis mengarah ke revolusi sedunia dan tidak segan-segan

untuk menggunakan kekerasan.

Ketiga, komunis menentang kapitalis dengan melancarkan revolusi sedangkan

Bung Hatta lebih suka menempuh jalan damai dengan melakukan gerakan

koperasi.

Keempat, komunis berjuang berdasarkan teori perjuangan kelas, suatu strategi

yang mengancam persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.


Selain itu juga, ideologi komunis bertentangan dengan ideologi negara ini

yang ber-Ketuhanan Yang Maha Esa. Ideologi Pancasila yang jelas-jelas

menerima semua unsur dan golongan nyata-nyata ingin digantinya dengan

ideologi komunis. Pancasila yang nyata-nyata merupakan kontrak rakyat

Indonesia seluruhnya untuk menjaga persatuan dan kesatuan ingin dihapus. Hal

ini bisa dilihat dari pemberontakan-pemberontakan yang dilakukan dengan isu

mengatasnamakan Dewan Jenderal akan melakukan kudeta terhadap

pemerintahan yang sah. Padahal nyata-nyata tidak ada Dewan Jenderal, malah

komunislah yang ingin melakukan kudeta. Ideologi komunis memang tidak sesuai

untuk diterapkan di bumi pertiwi ini.

B. Saran

Untuk mencegah bahaya laten komunis supaya tidak berkembang lagi di

Republik Indonesia hendaknya kita selalu waspada. Dan yang menjadi perhatian

bagi pemerintah hendaknya memperbaiki keadaan ekonomi. Kemiskinan yang

sangat besar, perbedaan yang menyolok antara si kaya dan si miskin senantiasa

menjadi bahan ampuh bagi gerakan komunis baik secara nyata maupun secara

sembunyi-sembunyi di Republik Indonesia. PKI senantiasa mengajarkan

pengikut-pengikutnya begitu rupa sehingga menjadi fanatik. Makin hebat

perbedaan itu semakin tebal kefanatikan itu bisa ditanamkan komunis.

Pemahaman, penghayatan dan pengamalan pancasila secara menyeluruh, tidak

hanya diucapkan dibibir saja merupakan salah satu benteng terhadap komunis.

Karena seperti kita ketahui, pancasila sebagai dasar negara mempunyai sila-sila

yang saling mengikat yang dipayungi oleh sila Ketuhanan Yang Maha Esa.
Karena dasar negara kita berbeda dengan negara-negara Eropa, dasar negara

Eropa didasarkan pada individualistis sedangkan negara kita didasarkan pada

kolektivitas.
DAFTAR PUSTAKA

Aziz, M. Imam, Ketika Nasionalisme Letih, Kompas, Edisi 100 Bung Karno, Juni
2001

Azra, Azyumardi, Prof, Dr., Pergulatan Dunia Pesantren; Membangun dari


Bawah, Jakarta: P3IM, 1985, cet. ke-1

Bagum, Rikard, Bung Hatta, Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2003, cet. ke-1

Edman, Peter, Komunisme Ala Aidit; Kisah Partai Komunis Indonesi di Bawah
Kepemimpinan D.N. Aidit 1950-1965, Jakarta: Center of Analysis, 2005,
cet. ke-1

Green, Marshall, dari Soekarno ke Soeharto, G30S-PKI dari Kacamata Seorang


Duta Besar, (terj) Tim Penerjemah Grafiti, Jakarta: Pustaka Utama Grafiti,
1993, cet. ke-4

Hamka, Adat Minangkabau Menghadapi Revolusi, Tekad, 1963

Hatta, Mohammad, Bung Hatta Menjawab, Jakarta: PT. Gunung Agung, 2005,
cet. ke-2

_________, Kumpulan Pidato I dari Tahun 1942-1949, Jakarta: PT. Gunung


Agung, 2002, cet. ke-2

_________, Kumpulan Pidato II dari Tahun 1951-1979, Jakarta: PT. Gunung


Agung, 2002, cet. ke-2

_________, Kumpulan Pidato III dari Tahun 1951-1979, Jakarta: PT. Gunung
Agung, 2002, cet. ke-2

_________, Mendayung Antara Dua Karang, Jakarta: Bulan Bintang, 1976

_________, Pengantar ke Jalan Ekonomi Sosiologi, Jakarta: PT. Gunung Agung,


2002, cet. ke-4

_________, Potrait of a Patriot, Paris: Mouton Publishers, 1972


Hoetomo, MA., Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, Surabaya: CV. Mitra Pelajar,
2004, cet. ke-1

Ingleson, John, Jalan ke Pengasingan; Pergerakan Nasionalisme Indonesia


Tahun 1927-1934, Jakarta: LP3ES, 1983
Kartodirjo, Sartono, Sejak Indische Sampai Indonesia, Jakarta: Penerbit Buku
Kompas, 2005, cet. ke-1

Noer, Deliar, Prof, Dr., Gerakan Modern Islam Indonesia 1900-1942, Jakarta:
LP3ES, 1980, cet. ke-2

_________, Mohammad Hatta; Hati Nurani Bangsa 1902-1980, Jakarta: PT.


Penerbit Djambatan, 2002, cet. ke-1

Pakpahan, Muchtar, Dr., Ilmu Negara dan Politik, Jakarta: Bumi Intitama
Sejahtera, 2006, cet. ke-1

Poerwadarminta, W.J.S., Kamus Umum Bahasa Indonesia Edisi Ketiga, Jakarta:


Balai Pustaka, 2006, cet. ke-3

Rachman, Fadli, Menghadang Komunisme, Sabili, Edisi Khusus, Juli 2004

Setiawan, B, Ensiklopedi Nasional Indonesia, Jakarta: PT. Cipta Adi Pustaka,


1990

Soekanto, Soerjono, Sosiologi Suatu Pengantar, Jakarta: PT. Raja Grafindo, 1999,
cet. ke-28

Soekarno, Ir., Dibawah Bendera Revolusi, Jakarta: Tim Penerbit Dibawah


Bendera Revolusi, 1964, cet. ke-3

Swasono, Meutia Farida, Bung Hatta; Pribadinya dalam Kenangan, Jakarta: UI


Press, 1980, cet. ke-2

Tim Media Pressindo, Saksi dan Pelaku Gestapu: Pengakuan Para Saksi dan
Pelaku Sejarah Gerakan 30 September 1965, Yogyakarta: Media
Pressindo, 2006, cet. ke-4

Tim LP3ES, Pemikiran Pembangunan Bung Hatta, Jakarta: LP3ES, 1995, cet. ke-
1

Widjaja, I. Wangsa, Mengenang Bung Hatta, Jakarta: PT. Toko Gunung Agung
Tbk, 2002, cet. ke-2

Yatim, Badri, Dr., Soekaro, Islam dan Nasionalisme, Jakarta: Logos Wacana
Ilmu, 1999, cet. ke-2