Anda di halaman 1dari 8

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Cuci Tangan Steril

Teknik dasar yang paling penting dalam pencegahan dan

pengontrolan penularan infeksi adalah mencuci tangan. Mencuci tangan

adalah menggosok dengan sabun secara Bersama seluruh kulit permukaan

tangan dengan kuat dan ringkas yang kemudian dibilas di bawah air mengalir

(Larson, 1995 dalam Potter & Perry, 2005). Cuci tangan bedah adalah

membersihkan tangan dengan menggunakan sikat halus dan sabun antiseptik

dibawah air mengalir untuk mengangkat debu, kotoran, minyak, atau lotion

maupun mikroorganism dari tangan dan lengan pada anggota tim bedah yang

akan melakukan prosedur pembedahan.

Cuci tangan bedah ini dapat melalui 2 proses:

1. Proses mekanik: menggosok tangan dengan menggunakan sikat halus,

untuk mengangkat kotoran dan microorganisme.

2. Proses kimiawi: proses melepaskan kotoran dan microorganism dengan

menggunakan antiseptik yang memiliki kemampuan residual.

B. Macam-macam Cuci Tangan

Cuci tangan dalam bidang medis di bedakan menjadi beberapa tipe, yaitu

cuci tangan medical (medical hand washing), cuci tangan surgical (surgical

hand washing). Adapun cara untuk melakukan cuci tangan tersebut dapat
dibedakan dalam beberapa teknik antara lain sebagai berikut ini (Perry &

Potter, 2005):

1. Teknik Mencuci Tangan Biasa

Membersihkan tangan dengan antiseptik mencuci tangan dan air untuk

mengurangi penyebaran bakteri tanpa harus merusak kulit. Antiseptik ini

bersifat cair, tetapi biasanya kurang efektif dan bekerja lebih lambat

daripada menggosok tangan higienis (WHO dalam 2009). Peralatan yang

dibutuhkan untuk untuk mencuci tangan biasa adalah setiap wastafel

dilengkapi dengan peralatan cuci tangan sesuai standar rumah sakit

(misalnya kran air bertangkai panjang untuk mengalirkan air bersih,

tempat sampah injak tertutup yang dilapisi kantung sampah medis atau

kantung pelastik berwarna kuning untuk sampah yang terkontaminasi

atau terinfeksi), alat pengering seperti tisu, lap tangan (hand towel),

sarung tangan (gloves), sabun cair atau cairan pembercih tangan yang

berfungsi sebagai antiseptic, lotion tangan, serta di bawah wastafel

terdapat alas kaki dari bahan handuk.

2. Teknik Mencuci Tangan Aseptik

Menurut WHO (2009), membersihkan tangan dengan antisepti

mencuci tangan dengan bahan antiseptic untuk mengurangi penyebaran

bakteri tanpa harus merusak kulit . antiseptic ini bersifat cair dan cepat

bereaksi, dan 5 tidak memiliki efek jika digunakan secara terus menerus,

khususnya bagi petugas yang berhubungan dengan pasien yang

mempunyai penyakit menular atau sebelum melakukan tindakan bedah


aseptik dengan antiseptik dan sikat steril. Prosedur mencuci tangan

aseptik sama dengan persiapan dan prosedur pada cuci tangan higienis

atau cuci tangan biasa, hanya saja bahan deterjen atau sabun diganti

dengan antiseptic setelah mencuci tangan tidak boleh menyentuh bahan

yang tidak steril.

3. Teknik Mencuci Tangan Steril

Teknik mencuci tangan steril adalah mencuci tangan steril (suci

hama), khususnya bila akan membantu tindakan pembedahan atau

oprasi. Peralatan yang dibutuhkan untuk mencuci tangan steril adalah

menyediakan bak cuci tangan dengan pedal kaki atau pengontrol lutut,

sabun antimikrobial (non-iritasi, spektrum luas, kerja cepat), sikat scrub

bedah dengan pembersih kuku dari plastik, masker kertas dan topi atau

penutup kepala, handuk steril, pakaian di ruang scrub dan pelindung

mata, penutup sepatu.

C. Tujuan Mencuci Tangan

Menjaga kondisi tangan tetap bersih dan mengangkat

mikroorganisme yang ada di tangan sehingga dapat mencegah terjadinya

infeksi silang (Cross Infection). Tujuan mencuci tangan adalah untuk

membuang kotoran dan organisme yang menempel di tangan dan untuk

mengurangi mikroba total pada saat itu. Tangan yang terkontaminasi

merupakan penyebab utama perpindahan-infeksi (Potter & Perry, 2005).


D. Metode Cuci Tangan Steril

1. Basahi tangan dan lengan sampai dengan 5 cm di atas siku di bawah air

mengalir.

2. Ambil sikat, spon lumuri dan gosok seluruh permukaan tangan, lengan

kanan dan kiri dari ujung jari sampai 5 cm di atas siku dengan

clorheksidin 4% menggunakan telapak tangan kiri secara memutar.

3. Lumuri dan sikat kuku jari tangan kanan dan kiri secara bergantian pada

masing-masing tangan selama satu menit lalu sikat dibuang, spon tetap

dipertahankan.

4. Bilas tangan dengan air mengalir dari ujung jari ke lengan sampai 5 cm

di atas siku hingga bersih, bila di ulang tetap dari ujung jari ke lengan

tidak boleh bolak balik.

5. Peras spon dan lumuri kembali tangan sampai lengan dengan

menggunakan clorheksidin 4%.

6. Gunakan spon untuk membersihkan tangan kanan dan kiri, mulailah

menggosok telapak tangan selama 15 detik, punggung tangan 15 detik,

kemudian seluruh jari secara berurutan. Selama 30 detik, setiap jari

digosok seolah mempunyai 4 sisi.

7. Buang spon, kemudian bilas tangan di bawah air mengalir dari ujung jari

hingga 5cm di atas siku sampai bersih.

8. Ambil clorheksidin 4% dan lumuri kembali sampai pergelangan tangan,

gosok tangan selama 1 menit untuk kedua tangan dengan tehnik cuci

tangan procedural, kemudian bilas dibawah air mengalir sampai bersih.


9. Biarkan air mengalir dari tangan sampai siku, untuk mencegah

kontaminasi dan pertahankan posisi tangan agar lebih tinggi dari siku.

E. Faktor Risiko Yang Mempengaruhi Terjadinya Infeksi

Pada akhir operasi, bakteri dan mikroorganisme lain mengkontaminasi

seluruh luka operasi, tapi hanya sedikit pasien yang secara klinis

menimbulkan infeksi (Fry, 2003).

F. Jenis Desinfektan Dalam Mencuci Tangan

Penggunaan sabun antimikroba diperlukan untuk mengurangi jumlah

mikroba total di tangan. Sabun antimikroba harus digunakan sebelum

melakukan tindakan invasif. Banyak sabun antimikroba yang efektif seperti

diantaranya klorheksidin glukonat (CHG), alcohol dan iodofor. Selain itu,

scrub bedah harus juga dilakukan bagi perawat yang bekerja di ruang

operasi. Scrub tangan bedah bertujuan untuk mengurangi dan menekan

pertumbuhan mikroorganisme kulit bila sarungan tangan sobek (AORN,

1994 dalam Potter & Perry, 2005). Selama pencucian tangan bedah, perawat

melakukan scrub dari ujung jari tangan ke siku dengan sabun atau deterjen

antimicrobial sebelum setiap operasi. Durasi optimal scrub tangan tidak

terlalu jelas, meskipun riset mengindikasikan bahwa hal tersebut bergantung

pada jenis produk antimikrobialnya (Potter & Perry, 2005).

G. Kepatuhan

1. Pengertian

Kepatuhan merupakan kesadaran dan kesediaan seseorang untuk

menaati semua peraturan dan norma-norma sosial yang berlaku.


Kepatuhan yang baik mencerminkan besarnya rasa tanggung jawab

seseorang terhadap tugas-tugas yang diberikan kepadanya (Hasibuan,

2003 dalam Kusumaningtias, dkk. 2003). Kepatuhan perawat adalah

perilaku perawat sebagai seorang professional terhadap suatu anjuran,

prosedur atau peraturan yang harus dilakukan atau ditaati (Setiadi, 2007).

Kepatuhan perawat adalah perilaku perawat sebagai seorang yang

professional terhadap suatu anjuran, prosedur, atau peraturan yang harus

dilakukan. Kepatuhan perawat dalam melakukan cuci tangan steril

diartikan sebagai ketaan untuk melakukan cuci tangan steril sesuai

prosedur (SOP) yang telah ditetapkan. Kurang patuhnya perawat dalam

menerapkan asuhan keperawatan akan berakibat rendahnya mutu asuhan

itu sendiri (Setiadi, 2007).

H. Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kepatuhan

Menurut (Niven, 2002) faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kepatuhan

adalah :

1. Pendidikan

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan

suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif

mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual

keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia,

serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan

negara. Tingginya pendidikan seorang perawat dapat meningkatkan


kepatuhan dalam melaksanakan kewajibannya, sepanjang bahwa

pendidikan tersebut merupakan pendidikan yang aktif.

2. Modifikasi Faktor Lingkungan dan Sosial

Hal ini berarti membangun dukungan sosial dari pimpinan rumah

sakit, kepala perawat, perawat itu sendiri dan teman-teman sejawat.

Lingkunganberpengaruh besar pada pelaksanaan prosedur asuhan

keperawatan yang telah ditetapkan. Lingkungan yang harmonis dan

positif akan membawa dampak yang positif pula pada kinerja perawat,

kebalikannya lingkungan negatif akan membawa dampak buruk pada

proses pemberian pelayanan asuhan keperawatan.

3. Perubahan Model Prosedur

Program pelaksanan prosedur asuhan keperawatan dapat dibuat

sesederhana mungkin dan perawat terlihat aktif dalam mengaplikasikan

prosedur tersebut. Keteraturan perawat melakukan asuhan keperawatan

sesuai standar prosedur dipengaruhi oleh kebiasaan perawat menerapkan

sesuai dengan ketentuan yang ada.

4. Meningkatkan Interaksi Profesional Kesehatan

Meningkatkan interaksi profesional kesehatan antara sesama

perawat (khususnya antara kepala ruangan dengan perawat pelaksana)

adalah suatu hal penting untuk memberikan umpan balik pada perawat.

Suatu penjelasan tetang prosedur tetap dan bagaimana cara

menerapkannya dapat meningkatkan kepatuhan. Semakin baik


pelayanan yang diberikan tenaga kesehatan, maka semakin mempercepat

proses penyembuhan penyakit klien.

5. Pengetahuan

Pengetahuan merupakan hasil tahu dan ini terjadi setelah orang

melakukan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu, dari pengalaman

dan penelitian terbukti bahwa perilaku yang didasari oleh pengetahuan

akan lebih langgeng dari pada perilaku yang tidak didasari oleh

pengetahuan (Notoatmodjo, 2007). Faktor factor yang mempengaruhi

tingkat pengetahuan seseorang adalah pendidikan, pekerjaan dan usia

(Mubarak, 2006).