Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH PEMULIAAN TERNAK

Pemuliaan Ternak Sapi Potong

Oleh:

Kelas: F

Kelompok: 7

Renodipta Dwida Hudojo 200110150032

Fauzi Atsani Harits Prakoso 200110150149

Syakir Fathul Mubin 200110150158

Helmi Muhammad Ilyasa 200110150191

FAKULTAS PETERNAKAN

UNIVERSITAS PADJADJARAN

SUMEDANG

2017
2

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dalam bidang peternakan, maka pengembangan perbibitan ternak diarahkan

pada peningkatan mutu ternak, sumber daya ternak, daya dukung wilayah,

pengawasan mutu dan penguasaan pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan

efisiensi dan produktifitas ternak.

Untuk mendapatkan bibit sapi potong yang bermutu perlu dilakukan

pengawasan mutu bibit sesuai dengan standar, salah satu langkah pengawasan

adalah perlunya dilakukan pemilihan / penilaian sapi potong. Seleksi atau pemilihan

sapi yang akan dipelihara merupakan salah satu faktor penentu dan mempunyai

nilai strategis dalam upaya mendukung terpenuhinya kebutuhan daging, sehingga

diperlukan upaya pengembangan pembibitan sapi potong secara berkelanjutan. Hal

inilah yang melatarbelakangi dibuatnya makalah tentang Pemuliaan Ternak Sapi

Potong.

1.2 Identifikasi Masalah

1. Bagaimana metode seleksi yang dilakukan pada ternak sapi potong?

2. Bagaimana metode perkawinan yang dilakukan pada ternak sapi potong?

1.3 Maksud dan Tujuan

1. Memahami metode seleksi yang dilakukan pada ternak sapi potong

2. Memahami metode perkawinan yang dilakukan pada ternak sapi potong


3

II

PEMBAHASAN

2.1 Metode Seleksi Sapi Potong

Seleksi adalah suatu proses memilih ternak yang disukai yang akan

dijadikan sebagai tetua untuk generasi berikutnya. Tujuan umum dari seleksi adalah

untuk meningkatkan produktifitas ternak melalui perbaikan mutu genetik bibit.

Dengan seleksi, ternak yang mempunyai sifat yang diinginkan akan dipelihara,

sedangkan ternak-ternak yang mempunyai sifat yang tidak diinginkan akan

disingkirkan. Dalam melakukan seleksi, tujuan seleksi harus ditetapkan terlebih

dahulu, dan pada ternak sapi potong, tujuan seleksi ingin memperoleh daging

dengan jumlah yang setinggi-tingginya dengan kualitas yang baik (Alwi, 2012).

Menurut Hardjosubroto (1994) menyatkan bahwa seleksi adalah tindakan

memilih sapi yang mempunyai sifat yang dikehendaki dan membuang sapi yang

tidak mempunyai sifat yang dikehendaki. Oleh karena itu, dalam melakukan seleksi

harus ada kriteria yang jelas tentang sifat apa yang akan dipilih, bagaimana cara

mengukurnya dan berapa standar minimal dari sifat yang diukur tersebut. Untuk

dapat memperoleh peningkatan mutu genetik pada generasi berikutnya dari sapi-

sapi hasil seleksi, maka harus ditentukan sifat apa yang akan diseleksi. Sifat seleksi

yang dipilih harus yang bersifat menurun dan biasanya berhubungan dengan tujuan

yang akan dicapai, yaitu sifat-sifat yang bernilai ekonomis tinggi.

Menurut Anon (2007), uji performans merupakan salah satu metode uji pada

ternak untuk mengetahui sejauh mana tingkat performans atau penampilan sapi

untuk memperoleh penampilan terbaik yang kemudian diturunkan pada anaknya

saat uji lanjutan (uji Progeny).


4

Pada pemilihan bibit sapi jantan yang diuji pada kisaran umur 1-2 tahun

sehingga barum memasuki tahap awal pertumbuhan yang optimal sebelum

mencapai dewasa kelamin. Dengan mengetahui perkembangan dan pertumbuhan

ternak pada saat uji maka akan diperoleh gambaran calon pejantan yang memiliki

produktivitas tinggi dan berkualitas. Metode pengujian yang dilaksanakan adalah

memilih ternak bibit berdasarkan sifat kualitatif dan kuantitatif yang meliputi:

pengukuran yaitu panjang badan, tinggi gumba, dan lingkar dada,

penimbangan yaitu berat badan, berat lahir, berat sapih (205 hari) berat

setahun, berat 2 tahun

pengamatan yaitu warna rambut, bentuk rangka, bentuk kepala, bentuk

kaki, bentuk kuku, bentuk skrotu,, dan kelainan yang lain seperti ekor

panjut, cundang, dan injin. Ternak hasil uji performans

direkomendasikan untuk mengikuti uji lebih lanjut dalam uji keturunan

(Progeny test) (Anon, 2007).

Sehubungan pemilihan calon bibit ternak perlu mengetahui kriteria

pemilihan sapi dan pengukuran sapi, sebab pada saat peternak melakukan pemilihan

diperlukan pengetahuan, pengalaman, dan kecakapan yang cukup di antaranya

adalah (Todingan, 2011) sebagai berikut:

1. Bangsa dan Sifat Genetik

Para peternak yang akan memelihara dan membesarkan ternak untuk

dijadikan bibit pertama-tama harus memilih bangsa sapi yang akan diternakkan,

baik jenis inpor maupun lokal. Kita telah mengetahui bahwa setiap jenis bangsa

sapi yang memiliki sifat genetik yang berbeda satu dengan yang lain, baik mengenai

daging maupun dalam beradaptasi terhadap lingkungan sekitarnya antara lain


5

penyesuaian iklim dan pakan, berpangkal dari sifat genetik suatu bangsa sapi yang

bisa diwariskan kepada keturunannya sehingga sapi tertentu harus dipilih oleh

peternak sesuai dengan tujuan dan kondisi setempat. Pemilihan ini memang cukup

beralasan, sebab peternak tidak akan mau menderita kerugian akibat faktor

lingkungan uang tidak menunjang.

2. Kesehatan

Bangsa sapi baik sapi sebagai calon bibit maupun sebagai penghasil daging

harus dipilih dari sapi yang benar-benar sehat. Untuk mengetahui kesehatan sapi

secara umum, peternak bisa memerhatikan keadaan tubuhm sikap dan tingkah laku,

pernapasan, denyut jantung, pencernaan dan pandangan sapi.

a) Keadaan tubuh

Sapi sehat, kondisi tubuh bulat berisi, kulit lemas

Tidak adanya eksternal parasit pada kulit dan bulunya, tidak ada

tanda-tanda kerusakan dan kerontokan bulu (licin dan mengkilap)

Selaput lendir dan gusi berwarna merah muda, lebih mudah bebas

bergerak.

Ujung hidung bersih, basah, dan dingin.

Kuku tidak terasa panas dan tau bengkak bila diraba.

Suhu tubuh anak 39,5 40 C

b) Sikap dan tingkah laku

Sapi sehat tegap

Keempat kaki memperoleh titik berat yang sama

Sapi peka terhadap lingkungan (ada orang cepat bereaksi)

Mulut akan dipenuhi paka bila diberi pakan


6

Sapi yang terus-menerus tiduran memberikan kesan bahwa sapi

tersebut sakit atau mengalami kelelahan

c) Pernapasan

Sapi sehat bernapas dengan tenang dan teratur, kecuali saat

ketakutan, kerja berat, udara panas, dan saat tiduran lebih cepat

Jumlah pernapasanz; pedet 30 kali/menit, dewasa 10-30 kali/menit

d) Pencernaan

Sapi sehat memamah biak dengan tenang sambil istirahat/ tiduran

Setiap gumpalan pakan dikunya 60-70 kali

Sapi sehat nafsu makan dan minum cukup besar

Pembuangan kotoran dan kencing berjalan lancar

Bila gangguan pencernaan, gerak perut besar berhenti atau cepat

sekali

e) Pandangan mata

Sapi sehat pandangan mata cerah dan tajam

Sapi sakit pandangan mata sayu

Seleksi calon bibit berdasarkan pengamatan/ penampilan fisik, bentuk atau

ciri luar sapi berkorelasi positif terhadap factor genetic seperti laju pertumbuhan,

mutu, dan hasil akhir.

Menurut Todingan (2011), bentuk atau ciri sapi potong yang baik, sebagai

berikut:

a. Ukuran badan panjang dan dalam, rusuk tumbuh panjang yang

memungkinkan sapi mampu menampung jumlah pakan yang banyak


7

b. Bentuk tubuh segi empat, pertumbuhan tubuh bagian depan, tengah dan

belakang serasi, garis badan atas dan bawah sejajar

c. Paha sampai pergelangan penuh berisi daging

d. Dada lebar dan dalam serta menonjol ke depan

e. Kaki besar, pendek, dan kokoh

2.2 Metode Perkawinan Sapi Potong

Tujuan dasar dari pemuliaan hewan adalah untuk memperbaiki

keefisiensian produksi dan kualitas produk untuk konsumen akhir melalui

perubahan genetika yang terencana.

Pilihan untuk melakukan perkawinan langsung ataupun perkawinan silang

akan terkait pada kemampuan anda untuk mengawinkan sapi anda, lingkungan

ternak dan pasar.

1. Program Perkawinan Langsung (Straight breeding)

Perkawinan langsung tidak hanya menghasilkan progeny untuk hasil

akhir tapi juga untuk mendapatkan pengganti betina untuk kelompok. Untuk

alasan ini, banyak sifat yang harus diseleksi secara seimbang karena hal

tersebut memberikan kontribusi pada tampakan secara keseluruhan. Adalah

penting untuk mengidentifikasi atau menyeleksi sapisapi tersebut untuk

sifat-sifat spesifik yang superior.

Program perkawinan langsung menarik untuk dicobakan pemulia

sapi potong karena program ini menghasilkan pengganti betina yang berasal

dari dalam kelompok. Program ini cukup mudah dilakukan karena hanya

ada satu sapi murni yang ada di lingkungan tersebut.

Poin-poin yang dianggap penting:


8

BREEDPLAN Estimated Breeding Values (EBVs) / Nilai pemuliaan

yang diperkirakan dari rencana pemuliaan dan indeks-indeks yang

telah tersedia untuk penyeleksian banteng dan sapi.

Opsi-opsi manajemen pemuliaan adalah sederhana dan tidak

mensyaratkan anda untuk mempunyai pejantan dari galur yang

berbeda atau untuk mengawinkan pejantan yang berbeda dengan

kelompok yang berbeda.

Kawanan memiliki mekanisme penggantian sendiri; penggantian

pemuliaan dihasilkan sendiri dalam kawanan.

Penggantian jenis hewan serupa, dengan sedikit variasi

Galur-galur yang 'kelihatan' serupa (seperti warnanya) mungkin

akan menjadi sebuah nilai premium Betina yang dihasilkan dari

persilangan langsung akan selalu dibutuhkan untuk digunakan pada

sistem perkawinan.

2. Program Perkawinan Silang (Crossbreeding)

Sistem perkawinan silang dapat memadukan secara bersama-sama

sebuah kombinasi gen-gen yang diinginkan dengan waktu lebih cepat

dibandingkan dengan yang dihasilkan dari yang dicapai dengan seleksi dari

perkawinan dalam. Keuntungan yang diperoleh merupakan tambahan dalam

pemuliaan, tapi karakter dan sifat-sifat individu anakan merupakan hal yang

penting untuk diketahui.

Perkawinan silang dilakukan pada perbedaan genetik yang ada

diantara dua atau lebih bibit untuk menghasilkan progeny yang memiliki

sifat-sifat yang sesuai untuk pasar dan lingkungan tertentu.


9

Keputusan untuk melakukan kawin silang juga terkait dengan

potensi hasil hybrid vigour, sesuatu yang akan meningkatkan produksi.

Hybrid vigour atau heterosis adalah perbedaan antara tampakan dari sebuah

progeny dan tampakan rata-rata induk. Secara umum, semakin jauh jarak

hubungan indukan, semakin besar jumlah heterosis yang dapat diharapkan.

Tingkat yang paling besar dari heterosis dihasilkan dari persilangan galur

murni yang hampir sama sekali tidak terkait dengan Bos indicus dan Bos

taurus. Heterosis akan menjadi lebih besar pada beberapa sifat dibandingkan

sifat lainnya (misalnya pada sifat-sifat ketahanan; ketahanan terhadap

parasit, kemampuan bertahan hidup, adaptasi lingkungan, dll.).

Demi mendapatkan keuntungan yang paling besar, semua program

perkawinan silang harus berdasarkan pada hewan-hewan perkawinan

langsung yang memiliki kecenderungan genetis tinggi untuk sifatsifat yang

penting secara ekonomis.

Perbaikan berkelanjutan dari sebuah program kawin silang

bergantung pada nilai guna genetis dari hewan yang digunakan sebagai

dasar pada persilangan (misalnya intensitas seleksi dalam populasi dimana

mereka dibibitkan) dan intensitas seleksi yang terdapat pada generasi-

generasi hasil kawin silang selanjutnya.


10

III

KESIMPULAN

Pemilihan bibit sapi jantan yang diuji pada kisaran umur 1-2 tahun sehingga

baru memasuki tahap awal pertumbuhan yang optimal sebelum

mencapai dewasa kelamin. Seleksi pada sapi potong ditinjau dari sifat

kualitatif dan kuantitatif sapi potong serta bentuk dan ciri sapi potong yang

baik.

Tujuan dasar dari pemuliaan hewan adalah untuk memperbaiki

keefisiensian produksi dan kualitas produk untuk konsumen akhir melalui

perubahan genetika yang terencana.

Pilihan untuk melakukan perkawinan langsung ataupun perkawinan silang

akan terkait pada kemampuan anda untuk mengawinkan sapi anda,

lingkungan ternak dan pasar


11

DAFTAR PUSTAKA

Alwi, Windawati. 2012. Seleksi Pemulian.

http://winwinalwi.blogspot.com/2012/11/pemuliaan-seleksi.html

Anon. 2007. Peraturan Direktur Jenderal Peternakan Tentang Petunjuk Teknis Uji

Performance Sapi Potong Nasional. Direktorat Jenderal Peternakan,

Departemen Pertanian.

Direktorat Pembibitan Ternak. 2012. Pedoman Pelaksanaan Uji Performan Sapi

Potong. Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan.

Kementerian Pertanian

Harjosubroto.1994. Aplikasi Pemuliabiakan Ternak di Lapangan. PT. Gramedia

Widiasarana Indonesia: Jakarta.

Todingan, Lambe. 2011. Pemilihan Dan Penilaian Ternak Sapi Potong Calon Bibit.

http:// disnaksulsel. info/index.php?option=com_docman& task

=doc_download&gid=23&Itemid=9