Anda di halaman 1dari 27

BAB 218

ANTIBIOTIK TOPIKAL
Mark W. Bonner
Paul M. Benson
William D. James
Dalam buku: Fitzpatricks Dermatology in General Medicine. Edisi 7. 2008.
Halaman 2113 2121

Antibiotik topikal memiliki peran penting dalam pengobatan sebagian besar


kondisi dermatologi (Tabel 218 - 1). Antibiotik yang paling sering diresepkan oleh
ahli dermatologi untuk pengobatan akne vulgaris ringan sampai sedang atau sebagai
terapi tambahan dengan terapi oral. Untuk infeksi superfisial lokal, seperti impetigo,
penggunaan agen topikal (misalnya, mupirosin) dapat menurunkan penggunaan
antibiotik oral dan masalah-masalah yang menyertainya, efek samping terhadap
pencernaan, dan potensi interaksi obat. Antibiotik topikal masih sering diresepkan
sebagai obat profilaksis setelah bedah minor atau prosedur kosmetik (chemical peel
atau laser resurfacing) untuk mengurangi risiko infeksi luka paska operasi dan
mempercepat penyembuhan luka. Penggunaan antibiotik topikal untuk profilaksis
setelah prosedur minor tersebut telah terbukti tidak diperlukan dan dapat
menimbulkan risiko untuk merangsang alergi. Petrolatum dianjurkan untuk
digunakan setelah prosedur bedah.

Ringkasan
Antibiotik Topikal
Antibiotik topikal berguna dalam pengobatan akne dan rosacea.
Digunakan pada impetigo yang memungkinkan menurunkan penggunaan
antibiotik oral.
Penggunaan antibiotik topikal untuk mencegah infeksi luka setelah prosedur
operasi tidaklah perlukan.

1
Tabel 218-1. AntibiotikTopikal
Nama Sumber Sediaan Mekanisme Kerja Bakteri

Basitrasin Bacillus subtilis O Menghambat dinding sel Gr+

Polimiksin B B.polymyxa O Detergent Gr-


Gramicidin O Kanal Ion Gr+
Pseudomonas
Mupirosin O Inhibitor Transfer RNA Gr+
Fluorescens

Neomisin Streptomyces Fradiae O Inhibisi ribosom 30S Gr-

Tetrasiklin Semisintetikb O,S Inhibisi ribosom 30S Gr


Meklosiklin Semisintetikc C Inhibisi ribosom 30S Gr
Streptococcus S, G, P,
Eritromisin Inhibisi ribosom 50S Gr
erythreus O
Klindamisin Semisintetik S,G,L Inhibisi ribosom 50S

Kloramfenikol S. venezuelaed C Inhibisi ribosom 50S

Asam Fusidat NA Berikatan dengan EF-G


Perak
Sintetik C -
sulfadiazin

Mafenide asetat Sintetik C Menghambat enzim Gr

Nitrofurazon Sintetik C,S Menghambat enzim Gr


Metronidazol Sintetik G,C Electrokimia Anaerob
Clioquinol Sintetik C,O Tidak diketahui Spektrum Luas

Asam Azelaik Sintetik C,G Inhibisi sintesis protein Gr+


C = krim; EF-G = elongasi faktor G; G = gel; Gr + = gram-positif; Gr - = gram-
negatif; Gr = gram-positif atau - negatif; L = Lotion; NA = tidak tersedia di
Amerika Serikat; O = salep; P = pledget; S = solusion.
a
Bakteria mengacu pada bakteri yang biasanya rentan terhadap antibiotik.
b
Semisintetik dari klortetrasiklin, difermentasi dari beberapa spesies Streptomyces.
c
Semisintetik dari Tetrasiklin.
d
Sekarang, benar-benar disintesis.

2
OBAT YANG DIGUNAKAN DALAM PENGOBATAN TOPIKAL PADA
AKNE DAN ROSASEA
Keefektifan antibiotik topikal untuk pengobatan akne vulgaris dan rosasea
disebabkan karena efek dari antibiotik secara langsung, namun sebagian besar dari
antibiotik topikal menunjukkan sifat anti-inflamasi dengan menekan faktor
kemotaktik neutrofil atau mekanisme lainnya. Terdapat kekhawatiran mengenai
penggunaan antibiotik topikal dalam pengobatan akne vulgaris karena menyebabkan
semakin tingginya tingkat resistensi antibiotik terhadap antibiotik topikal secara
umum. Kombinasi antimikroba benzoil peroksida dengan antibiotik dapat
mengurangi perkembangan resistensi antibiotik.

ERITROMISIN
Eritromisin termasuk ke dalam golongan antibiotik makrolida yang aktif
terhadap kokus gram positif dan basil gram negatif. Pada prinsipnya digunakan
sebagai agen topikal dalam pengobatan akne. Eritromisin mengikat ribosom 50S
bakterial dan memblok translokasi dari molekul peptidyl-transfer RNA(tRNA) ke
daerah akseptor, mempengaruhi pembentukan rantai polipeptida dan menghambat
sintesis protein. Selain sifat antibakteri, eritromisin memiliki aktivitas anti-inflamasi.
Eritromisin tersedia sebagai 1,5% - 2,0% solusio, gel, pledgets, dan salep sebagai
agen tunggal. Obat ini juga tersedia dalam kombinasi dengan benzoil peroksida.

KLINDAMISIN
Klindamisin merupakan antibiotik linkosamid semisintetik yang berasal dari
lincomycin. Mekanisme kerja sangat mirip dengan eritromisin, dengan mengikat
ribosom 50S dan mensupresi sintesis protein bakteri. Klindamisin digunakan secara
topikal sebagai 1% gel, solusio, suspensi (lotion) dan sabun terutama untuk
pengobatan akne. Obat ini juga tersedia dalam kombinasi dengan benzoil peroksida,
yang dapat memperlambat perkembangan resistensi antibiotik terhadap Klindamisin.
Kolitis Pseudomembran telah jarang dilaporkan terjadi sebagai akibat dari
penggunaan klindamisin topikal.

3
METRONIDAZOL
Metronidazol, nitroimidazol topikal, ini tersedia sebagai 0,75% gel, krim atau
lotion dan krim 1% atau gel untuk pengobatan topikal pada Rosacea. Pada potensi
rendah, obat ini digunakan dua kali sehari, dan dalam potensi tinggi, digunakan sekali
sehari. Penggunaan secara per oral, metronidazol merupakan spektrum luas yang
aktivitasnya melawan sebagian besar organisme protozoa dan anaerob.

ASAM AZELAIK
Asam Azelaik adalah asam dikarboksilat yang ditemukan dalam makanan
(gandum sereal dan produk hewan). Konsentrasinya sama dengan plasma normal
pada manusia (20-80 ng/mL); Penggunaan topikal tidak secara signifikan mengubah
konsentrasi obat. Mekanisme kerja dengan cara menormalisasi proses keratinisasi
(menurunkan ketebalan stratum korneum, menurunkan jumlah dan ukuran butiran
keratohialin, dan penurunan jumlah filagrin). Terdapat laporan penelitian secara in
vitro terhadap Propionibacterium acnes dan Staphylococcus epidermidis, yang
menyebabkan inhibisi sintesis protein. Pada mikroorganisme aerobik, terjadi inhibisi
enzim oxidoreductive (seperti tirosinase, enzim mitokondria dari saluran pernafasan,
5-reduktase dan polimerase DNA). Pada bakteri anaerobik, menyebabkan gangguan
glikolisis. Asam Azelaik digunakan terutama untuk pengobatan akne vulgaris dan
rosasea, meskipun beberapa mendukung untuk digunakan dalam pengobatan
hiperpigmentasi (seperti melasma yang baru terbentuk). Namun, US Food and Drug
Administration tidak menyetujui indikasi obat untuk hal ini. Asam Azelaik tersedia
sebagai preparat krim 20% atau gel 15%.

SULFONAMID (Sulfasetamid)
Sulfasetamid adalah sulfonamid topikal yang digunakan dalam pengobatan
rosasea dan akne. Mekanisme kerja antibakteri pada sebagian besar Sulfonamida
adalah berkompetitif dengan para-aminobenzoic acid (pABA) selama sintesis asam
folat. Mekanisme kerja pada pengobatan topikal rosasea saat ini masih belum

4
dipahami. Sulfasetamid tersedia sebagai lotion 10% dan dalam kombinasi dengan 5%
sulfur dalam gel, krim, suspensi, pembersih, kain,dan masker.

AGEN-AGEN YANG DIGUNAKAN UNTUK TERAPI TOPIKAL INFEKSI


BAKTERI SUPERFISIAL DAN LUKA BAKAR
Impetigo lokal, luka superfisial yang kotor dan infeksi sekunder penyakit kulit
kronis biasanya diobati dengan antibiotik topikal. Namun, impetigo yang luas, infeksi
ekstremitas bawah, atau penyakit terjadi pada individu dengan penurunan sistem
imunitas harus diobati dengan antibiotik sistemik untuk mengurangi risiko
komplikasi yang lebih serius. Antibiotik topikal kadang-kadang masih digunakan
setelah prosedur bedah minor. Hasil dari suatu studi skala besar yang
membandingkan basitrasin dan petrolatum pada lebih dari 1200 prosedur bedah
minor menunjukkan bahwa basitrasin secara statistik tidak mengurangi tingkat infeksi
ringan. Beberapa pasien, bahkan menunjukkan terjadinya alergi terhadap basitrasin.
Petrolatum lebih murah, efektivitas yang sama dan memiliki efek samping lebih
minimal dibandingkan basitrasin. Ketika membersihkan luka selama operasi kecil,
tidak perlu untuk menggunakan salep antibakteri untuk membantu dalam
penyembuhan atau mencegah infeksi. Karena luka bakar menghasilkan suatu daerah
yang baik untuk pertumbuhan bakteri yang mengancam kehidupan akibat infeksi
sekunder, sehingga sering digunakan terapi profilaksis topikal.

MUPIROSIN
Mupirosin, yang sebelumnya dikenal sebagai asam pseudomonic A,
merupakan obat antibiotik topikal yang berasal dari Pseudomonas fluorescens. Obat
ini secara reversibel mengikat sintetase isoleucyl-tRNA dan menghambat sintesis
protein bakteri. Aktivitas mupirosin terbatas untuk bakteri gram positif, terutama
Stafilokokus dan sebagian besar Streptokokus. Aktivitas meningkat dalam lingkungan
pH yang asam (5.5), yang merupakan pH normal kulit. Mupirosin agak sensitif
terhadap suhu, dan dengan demikian dapat kehilangan efektivitasnya jika terkena
suhu tinggi. Mupirosin salep 2% digunakan tiga kali sehari dan terutama

5
diindikasikan untuk pengobatan impetigo lokal yang disebabkan oleh S. aureus dan
Streptococcus pyogenes. Satu studi di Tennessee veteransAffair Hospital
menunjukkan bahwa penggunaan mupirosin salep berkepanjangan untuk mengontrol
Methicillin-Resistant S. Aureus (MRSA), terutama pada pasien yang terbaring di
tempat tidur dengan ulkus dekubitus, menyebabkan resistensi yang signifikan.4
Selain itu, peniliti Jepang menemukan bahwa konsentrasi rendah mupirosin
dalam serum dicapai setelah penggunaan intranasal dan menjelaskan kemungkinan
strain S.aureus mengalami resistensi terhadap mupirosin. Suatu studi skala kecil
mengenai penggunaan salep antibiotik intranasal kombinasi yang mengandung
basitrasin, polimiksin B, dan gramisidin berhasil menurunkan kolonisasi hingga 80%
(9 dari 11) dari pasien positif-MRSA yang tetap bersih setelah rata-rata penggunaan
lebih dari 2 bulan. Semua kasus MRSA yang sensitif terhadap mupirosin telah
tereradikasi, sedangkan hanya tiga dari lima kasus yang resistan terhadap mupirosin
yang tereleminasi.6 Formulasi baru yang melibatkan penggunaan garam kalsium
mupirosin (bantuan garam kalsium dalam stabilitas kimia dalam preparat intranasal)
tersedia untuk intranasal digunakan sebagai 2% salep dan krim topikal 2%.

BASITRASIN
Basitrasin adalah antibiotik polipeptida topikal yang diisolasi dari rantai
Tracy-I dari Bacillus subtilis. Basitrasin merupakan polipeptida siklik dengan
beberapa komponen (A, B, dan C). Basitrasin A adalah komponen utama dari produk
komersial dan sering digunakan sebagai garam seng. Basitrasin mengganggu sintesis
dinding sel bakteri dengan cara mengikat dan menghambat defosforilasi dari ikatan
membran lipid pirofosfat. Obat ini aktif melawan kokus gram positif seperti
stafilokokus dan streptokokus. Sebagian besar organisme Gram-negatif dan jamur
resisten terhadap obat. Obat ini tersedia sebagai basitrasin salep dan basitrasin seng,
dengan 400 hingga 500 unit per gram. Basitrasin topikal efektif untuk pengobatan
infeksi bakteri kulit superfisial seperti impetigo, furunkulosis dan pioderma. Obat ini
biasanya dikombinasikan dengan polimiksin B dan neomisin sebagai triple salep
antibiotik yang digunakan beberapa kali sehari untuk pengobatan infeksi sekunder

6
pada dermatitis atopik eksematosa, dermatitis numular atau dermatitis stasis.
Sayangnya, penggunaan topikal dari basitrasin disertai dengan risiko sensitisasi
kontak alergi dan syok anafilaksis namun jarang terjadi.7

POLIMIKSIN B
Polimiksin B merupakan antibiotik topikal yang berasal dari bentuk spora B.
Polymyxa pada tanah. Polimiksin B adalah campuran dari polimiksin B1 dan B2,
yang merupakan polipeptida siklik. Obat ini berfungsi sebagai kationik deterjen kuat
yang berinteraksi dengan dinding sel membran fosfolipid bakteri, sehingga
mengganggu integritas membran sel. Polimiksin B ini aktif terhadap berbagai
organisme gram-negatif, termasuk P. aeruginosa, Enterobacter dan Escherichia coli.
Polimiksin B juga tersedia dalam bentuk salep (5000-10.000 unit per gram) dalam
kombinasi dengan basitrasin atau sebagai triple salep antibiotik dengan basitrasin dan
neomisin. Obat ini harus digunakan satu hingga tiga kali sehari.

AMINIGLIKOSIDA TOPIKAL
(Neomisin and Gentamisin)
Aminoglikosida merupakan golongan penting antibiotik yang digunakan
secara topikal dan sistemik untuk pengobatan infeksi yang disebabkan oleh basil
gram-negatif. Aminoglikosida memiliki efek bakterisida dengan mengikat subunit
ribosomal 30S dan mengganggu sintesis protein.
Neomisin sulfat, adalah aminoglikosida yang paling sering digunakan secara
topikal, merupakan produk fermentasi dari Streptomyces fradiae. Neomisin yang
dikomersialkan adalah campuran dari neomisin Band C, sedangkan Framisetin,
digunakan di Kanada dan beberapa negara Eropa, yang merupakan murni neomisin
B.8 Neomisin sulfat memiliki aktivitas anti bakteri terhadap gram negatif aerobik dan
paling sering digunakan untuk profilaksis terhadap infeksi pada abrasi superfisial,
luka sayat dan luka bakar. Tersedia dalam bentuk salep (3.5 mg/g) dan juga dikemas
dalam kombinasi dengan antibiotik lain seperti basitrasin, polimiksin dan gramisidin.
Obat lain, seperti lidokain, pramoksin atau hidrokortison, juga tersedia dalam

7
kombinasi dengan neomisin. Neomisin tidak dianjurkan oleh sebagian besar ahli
dermatologi karena menimbulkan sejumlah besar kasus dermatitis kontak alergi.
Prevalensi dermatitis kontak yang tinggi, hingga 6% - 8% dari pasien yang menjalani
tes patch yang positif.9 Neomisin sulfat (20%) bersama dengan petrolatum ini
digunakan untuk menilai kontak alergi.
Gentamisin sulfat merupakan produk fermentasi dari Micromonospora
purpurea. Tersedia sebagai krim topikal 0,1% atau salep. Obat ini digunakan oleh
beberapa ahli bedah dermatologis ketika melakukan operasi pada telinga, terutama
pada pasien diabetes atau penurunan sistem kekebalan lainnya, untuk memberikan
profilaksis terhadap otitis eksterna maligna akibat P. aeruginosa. Preparat oftalmik
ini berguna dalam merawat luka operasi di daerah periorbital.

SULFONAMID (Silver Sulfadiazin and Mafenid Asetat)


Sulfonamida secara struktural mirip dengan PABA dan merupakan kompetitor
PABA selama sintesis asam folat. Sulfonamid digunakan untuk mengobati akne
vulgaris, akne rosasea, dan luka bakar. Silver sulfadiazin melepaskan perak secara
perlahan-lahan dan memberikan efeknya pada dinding dan membran sel bakteri.
Mekanisme kerja dari mafenid ini tidak sama seperti mekanisme kerja sulfonamid
karena PABA tidak berlawanan dengan mekanisme kinerjanya. Mafenid asetat, jika
digunakan di atas areal yang luas pada kulit, memiliki potensi untuk menyebabkan
asidosis metabolik, dan dapat menyebabkan rasa nyeri pada penggunaan topikal.
Kedua obat ini merupakan antibakteri spektrum luas yang berguna dalam pengobatan
luka bakar. Superinfeksi oleh Candida dapat menjadi efek samping pada penggunaan
krim mafenid.

NITROFURAZON
Nitrofurazon (Furasin) merupakan turunan nitrofuran yang digunakan untuk
pengobatan pasien luka bakar. Mekanisme kerja melibatkan inhibisi enzim bakteri
yang terlibat dalam degradasi glukosa dan piruvat secara aerobik dan anaerobik.
Nitrofurazon tersedia sebagai krim 0,2%, solusio, atau pelarut pakaian, dan dengan

8
spektrum aktivitas terhadap stafilokokus, streptokokus, E. coli, Clostridium
perfingens dan Proteus sp.

OBAT LAINNYA
GRAMISIDIN
Gramisidin adalah antibiotik topikal berasal dari B. brevis. Gramisidin
merupakan peptida linear yang membentuk saluran ion stasioner pada bakteri.
Aktivitas antibiotik gramisidin terbatas pada bakteri gram-positif.

KLORAMFENIKOL
Kloramfenikol tersedia di Amerika Serikat dengan penggunaan yang terbatas
untuk pengobatan infeksi bakteri kulit yang ringan. Mekanisme kerjanya mirip
dengan Eritromisin dan Klindamisin, dengan penghambatan ribosom 50S memblokir
translokasi peptidyl tRNA dari daerah akseptor. Kloramfenikol tersedia sebagai krim
1%. Obat ini jarang digunakan karena menimbulkan anemia aplastik yang fatal atau
supresi sumsum tulang terkait dengan penggunaanya telah dilaporkan pada
penggunaan kloramfenikol secara topikal.10

CLIOQUINOL
Clioquinol (juga dikenal sebagai iodochlorhydroxyquin) merupakan
antibakteri dan antifungal topikal spektrum luas yang saat ini diindikasikan untuk
pengobatan gangguan inflamasi pada kulit dan tinea pedis dan telah digunakan untuk
infeksi bakteri yang ringan. Mekanisme aksi hydroxyquinoline sintetik ini masih
belum diketahui. Efek samping dari clioquinol termasuk perubahan warna pakaian,
kulit, rambut, dan kuku dan potensi untuk menyebabkan iritasi. Clioquinol dapat
mengganggu penentuan fungsi tiroid karena mengganggu penyerapan yodium (efek
ini dapat bertahan hingga 3 bulan setelah penggunaan). Namun, clioquinol tidak
mengganggu dengan pemeriksaan T3 atau T4.

9
BAB 219
OBAT ANTI JAMUR TOPIKAL
Whitney A. High
James E. Fitzpatrick
Dalam buku: Fitzpatricks Dermatology in General Medicine. Edisi 7. 2008.
Halaman 2113 2121

Ringkasan
Anti Jamur Topikal
Pengobatan pilihan untuk infeksi jamur superfisial pada area yang terbatas.
Biaya yang rendah, insiden interaksi obat yang rendah, minimalnya efek
samping dan komplikasi, kemudahan dalam penggunaan.
Penggunaan obat sistemik ketika infeksi jamur yang superfisial mengenai
permukaan yang luas, melibatkan terminal rambut atau kuku atau resisten
terhadap pengobatan topikal.
Penggolongan antijamur topikal: Imidazol, alinamin dan benzilamin, polien.
Siklopirox olamin: antijamur topikal unik dengan aktivitas spektrum yang luas,
untuk berbagai indikasi.
Efek samping: Dermatitis iritan, Dermatitis Kontak Alergi, Reaksi urtikaria.
Obat Kombinasi (antijamur dan steroid) perhatikan efek samping karena
glukokortikoid.
Kombinasi Obat: kegagalan pengobatan tingkat tinggi, kekambuhan penyakit.

Infeksi jamur superfisial, termasuk dermatofitosis, kandidiasis dan pityriasis


versicolor, paling sering terbatas pada epidermis. Dalam mengobati infeksi ini, klinisi
harus memilih antara terapi topikal atau sistemik. Termasuk faktor-faktor yang
mempengaruhi terapi, namun tidak terbatas pada:
Luas dan derajat keparahan infeksi,
Lokasi yang terlibat,

10
Kondisi ko-morbid atau interaksi obat yang potensial, jika ada,
Antisipasi manfaat pengobatan,
Biaya dan akses terhadap obat-obatan, dan
Kemudahan penggunaan.
Pasien dengan infeksi jamur yang terbatas pada kulit glabrosa biasanya paling
baik diobati menggunakan obat topikal. Sebaliknya, orang-orang dengan penyakit
luas atau refrakter, atau dengan keterlibatan terminal rambut atau kuku, mungkin
akan lebih cocok menggunakan terapi sistemik. Pada beberapa kasus, pilihan
pengobatan lain dapat dipilih secara rasional.
Pengobatan dengan terapi antijamur topikal memiliki beberapa keunggulan
dibandingkan dengan pengobatan sistemik, termasuk:
Efek samping yang lebih minimal,
Interaksi obat yang lebih sedikit,
Lokalisasi pengobatan, dan
Secara umum biayanya lebih rendah.
Obat antijamur topikal yang banyak tersedia (tabel 219-1). Pada sebagian
besar obat anti jamur spesifik, telah digantikan dengan topikal non-spesifik, seperti
keratolitik (asam salisilat) atau antiseptik (gentian violet ataupun cat Castellani), yang
yang dulu sering digunakan. Antijamur topikal "ideal" diuraikan dalam (tabel 219-2),
namun saat ini tidak ada satu agen topikal memiliki semua mekanisme ini. Meskipun
ketersediaan luas, beberapa agen antijamur topikal memiliki perbandingan langsung
dengan satu sama lain dalam uji klinis. Studi yang disponsori oleh produsen biasanya
hanya membandingkan obat aktif dengan vehikulum. Ekstrapolasi antara studi lebih
rumit karena perbedaan dalam rancangan penelitian, durasi terapi, lokasi infeksi,
pemilihan metodologi atau hasil akhir pengobatan.
Sebagian besar antijamur topikal merupakan salah satu dari tiga golongan: (1)
imidazoles, (2) alinamin dan benzilamin, dan (3) polien. Beberapa agen tidak sesuai
dengan golongan ini dan dibahas secara terpisah.

11
IMIDAZOL
Imidazol merupakan golongan obat antijamur dengan spektrum yang luas.
Misalnya, seperti klotrimazol, telah sekitar puluhan tahun, sementara obat lain,
seperti sertakonazol, hanya tersedia baru-baru ini.

Mekanisme kerja
lmidazol menghambat sintesis komponen dinding sel jamur melalui
penghambatan lanosterol 14a-demethylase, enzim sitokrom P450, yang mengubah
lanosterol menjadi ergosterol.1 Menipisnya ergosterol mengakibatkan ketidakstabilan
membran dan hiperpermeabilitas, yang merupakan perubahan yang tidak sesuai
dengan pertumbuhan dan kelangsungan hidup jamur. Imidazol bersifat fungistatik.
Meskipun semua memiliki mekanisme aksi yang sama, penelitian secara in vitro
menunjukkan bahwa tidak semua dermatofit rentan terhadap imidazol pada
konsentrasi yang setara, dan hal ini dapat menjelaskan beberapa kegagalan
pengobatan.2-4 Saat ini, tidak ada referensi metode yang sama untuk pengujian
kerentanan dermatofit.
Imidazol topikal memiliki aktivitas anti-inflamasi melalui penghambatan
kemotaksis neutrofil, aktivitas calmodulin, sintesis leukotrien dan prostaglandin, dan
pelepasan histamin dari sel mast.5-7 Beberapa obat, seperti ketoconazol, memiliki efek
anti-inflamasi yang setara dengan hidrokortison 1%. Imidazol topikal juga
menunjukkan sifat antibakteri yang terbatas, khususnya organisme gram-positif.9.10

12
Tabel 219-1. Antijamur Topikal yang Sering Dipakai pada Penyakit Kulit

Kategori
Merek
Generik(S) Komposisi dalam Rx/Otc
Dagang(S)
Kehamilan
IMIDAZOL
Klotrimazol Cruex (Rx) 1% krim, lotion, C Rx and
DesenexAF lozenges/troches, OTC
Lotrimin powder, spray
Lotrimin AF solution, solution
Mycelex
Ekonazol Spectazole 1% Ecostatin C Rx only
cream C Ax only
Ketoconazol Nizoral 1%and 2% krim and C Rx and
Nizoral AD shampo OTC
Mikonazol Micatin 2% krim, lotion, C OTC
Micozole powder, spray
Monistat-Derm powder, spray
Zeasorb AF solution
Oxiconazol Derimine 1% krim, lotion B Rx
Mytungar
Oceral
Oceral GB
Okinazole
Oxistat
Oxizole
Sertaconazol Ertaczo 2% krim C Rx
Sulconazol Exelderm 1% krim, solution C Rx
Sulcosyn

ALINAMIN
Naftifin Naftin 1% krim, gel B Rx
Terbinafin Lamisil 1% krim, spray B Rx
LamisilAT solution, solutio

BENZILAMIN
Butenafin Mentax 1% krim B Rx
POLIEN

13
Nistatin Bio-Statin 100,000 Ulg krim, C Rx
Mycostatin lozenges, troches,
Nystop salep, powder,
Pedi-Dri solution
Anti Jamur Topikal Lainnya

Siklopirox Loprox 0.77% krim or lotion, B Rx


olamine Penlac 1%shampo or
solutio8% lacquer
kuku
Tolnaftat Equate(Wal- 1% krim, powder, N/A OTC
Mart) spray powder, spray
Tinactin solutio, solutio
Asam Desenexb 20% krim, 10% N/A OTC
undesilenik Cruex (OTC)c penetrating foam,
10%-20% powder,
20% spray powder
Obat Kombinasi
Klotrimazol- Lotrisone 1% Klotrimazol dan N/A Rx
betamethason 0.05% betametason
dipropionat dipropionat dalam
krim atau losion
Nistatin- Mycolog-II 100,000 U/g nistatin N/A Rx
triamcinolon Mytrex dan 0.1%triamcinolon
asetonid Quenalog asetonid
NlA = tidak berlaku; OTC = over-the-counter agen; RX = obat resep.
a
Kategori dalam kehamilan tergantung pada bentuk; sebagian besar bentuk adalah
kategori C.
b
Beberapa Desenex mengandung agen lain, seperti tolnaflat, Klotrimazol, Mikonazol
atau terbinafin.
c
Beberapa Cruex mengandung Mikonazol

14
Tabel 219-2. KriteriaAnti Jamur Topikal yang Ideal
Spektrum luas
Fungisida pada konsentrasi terapeutik
Tidak terdapat resistensi pada jamur yang ditargetkan
Keratinofilik dengan penetrasi keratin tanpa penyerapan sistemik
Tidak mengiritasi dan bersifat hipoalergi
Memiliki sifat anti-inflamasi
Penggunaan sekali per hari (atau kurang)
Terapi penyembuhan dengan durasi yang pendek
Ketersediaan dalam beberapa sediaan (krim, solusi, dll) dan ukuran
Murah

Tabel 219-3. Indikasi untuk penggunaan lmidazol Topikal


Dermatofitosis
Tinea pedis dan tinea manum
Tinea kruris
Tinea korporis
Tinea faciei (wajah)
Pitiriasis versicolor
Kandidiasis Mukokutaneus
Kandidiasis Kulit
Kandidiasisb Vulvovaginal
Kandidiasis Oral
Dermatitisd Seboroik
a
Oxiconazol dan sulconazol memiliki aktivitas relatif lemah terhadap Candida.
b
Klotrimazol, Econazol, Miconazol, Tercenazol, dan Tioconazol yang tersedia
sebagai preparat vagina.
c
Klotrimazol troches digunakan untuk oral thrush.
d
Ketoconazol digunakan untuk dermatitis seboroik.

15
Farmakokinetik
Antijamur topikal dirancang secara khusus untuk mengobati infeksi jamur
superfisial. Akibatnya, semua imidazol yang dipasarkan menunjukkan penetrasi yang
sangat baik pada stratum korneum dengan keratinofilik kuat. Sulkonazol dapat
dideteksi dalam stratum korneum hingga 96 jam setelah penggunaan.11 Demikian
pula, sertakonazol, semua imidazol terbaru yang dipasarkan, memiliki waktu paruh
dalam stratum korneum lebih dari 60 jam.12 Karena afinitas yang tinggi terhadap
keratin, penyerapan sistemik imidazol rendah, dengan ekskresi pada urin biasanya
dalam kisaran 0,3% hingga 1,0% dari dosis yang digunakan. Bahkan ketika
digunakan pada kulit yang meradang, penyerapan imidazol biasanya tidak melebihi
4% dari dosis yang digunakan. Sekali lagi, sulconazol bersifat khas karena
penyerapan perkutan pada kisaran 8% hingga 11% digunakan dosis yang berlebih
dari semua imidazol.11

Indikasi
Indikasi penggunaan imidazol topikal yang diuraikan dalam tabel 219-3.
Karena memiliki aktivitas antibakteri, beberapa imidazol topikal telah menunjukkan
efektivitas sederhana dalam mengobati eritrasma, impetigo, dan ektima. Karena
terdapat obat antibakteri yang lebih potensial, penggunaan imidazol jarang
diindikasikan.8,13,14
Pengobatan untuk infeksi jamur superfisial diobati dengan berbagai imidazol
dan biasanya tergantung pada desain studi. Sebagai contoh, mikonazol topikal telah
menunjukkan tingkat rata-rata penggunaan sebagai pengobatan sekitar 63% sampai
100%, tergantung pada studi yang dikutip. Tinjauan menyeluruh dari literatur yang
tersedia tidak terdapat bukti bahwa ada perbedaan yang signifikan dalam
kekambuhan diantara berbagai obat imidazol topikal; Namun, pertimbangan lain
mungkin menentukan pilihan imidazol tertentu. Imidazoles topikal tersedia krim atau
lotion. Meskipun lotion lebih sesuai untuk penggunaan pada daerah yang luas atau
pada kulit berambut, studi skala kecil menganjurkan bahwa krim dapat sedikit lebih
efektif. Pada studi yang dilakukan oleh produsen, krim oxiconazol memperbaiki

16
klinis dan merupakan obat jamur yang digunakan pada 52% dari kasus tinea pedis
sementara lotion yang merupakan obat yang hanya digunakan pada 41% dari kasus.
Selain itu, potensi untuk iritasi harus dipertimbangkan. Pada satu studi klotrimazol
topikal untuk pengobatan tinea kruris, reaksi erosif terjadi pada 4 dari 27 pasien
sementara sulconazol tidak menimbulkan erosi apapun dalam populasi yang sama.
Demikian pula, dalam studi kedua, reaksi iritan yang berat dilaporkan pada
penggunaan mikonazol tetapi tidak pada penggunaan sulkonazol.16 Sampai studi
formal dari iritasi dilakukan biasanya merekomendasikan penggunaan sulkonazol di
area sensitif seperti selangkangan. Akhirnya, kemudahan penggunaan mungkin
merupakan faktor untuk dipertimbangkan, karena beberapa imidazol tertentu disetujui
untuk dosis sekali sehari (Lihat Dosis Regimen).

Dosis Regimen
Imidazol topikal tersedia dalam berbagai bentuk (Lihat tabel 219-1).
Econazol, Ketoconazol dan oxiconazol yang disetujui untuk dosing sehari sekali
tetapi dosis dua kali sehari dianjurkan untuk selanjutnya. Namun demikian, meskipun
dosis dua kali sehari dianjurkan pada penggunaan sulconazol, studi yang
membandingkan penggunaan sehari sekali atau dua kali sehari pada tinea korporis
dan tinea kruris dilaporkan memiliki tingkat pengobatan yang identik. Obat ini telah
diperkirakan berdasarkan waktu paruhnya 60 menit dalam stratum korneum.12
Penggunaan semua antijamur topikal, termasuk imidazol, harus mencakup kulit
normal hingga radius 2 cm diluar daerah yang sakit. Durasi pada pengobatan dengan
imidazol bervariasi. Secara umum, tinea korporis dan tinea kruris memerlukan
pengobatan selama sekitar 2 minggu, sedangkan tinea pedis mungkin memerlukan
pengobatan hingga 4 minggu. Pengobatan harus dilanjutkan selama setidaknya 1
minggu setelah semua gejala mereda.18

Efek Samping dan Peringatan


Efek samping yang terkait dengan penggunaan imidazol topikal sama seperti
pada semua obat-obat topikal (tabel 219-4). Selain itu, klotrimazol dipasarkan dalam

17
kombinasi dengan glukokortikoid topikal, betametason dipropionat. Hal tersebut
mengasumsikan bahwa penambahan steroid akan lebih cepat meringankan
peradangan, pengelupasan, dan gatal. Studi awal menunjukkan kombinasi tersebut
memang lebih efektif daripada klotrimazol tunggal dalam mengurangi gejala.19,20
Namun, steroid topikal poten betametason dipropionat dan obat kombinasi
dipasarkan, dilaporkan terdapat striae dan efek samping lain pada kulit akibat
komponen steroid.21 Studi jangka panjang juga melaporkan angka kekambuhan lebih
tinggi (36%) pada penggunaan obat kombinasi.22,23
Obat kombinasi ini dapat terdiri dari 50% atau lebih resep antijamur oleh
penyedia kesehatan pelayanan primer, dibandingkan pada dermatologist yang
berkisar kurang dari 7%.24 Kemungkinan yang berlebihan oleh non-spesialis terjadi
karena asumsi yang keliru baik terhadap obat steroid ringan, atau bahwa kombinasi
merupakan "pilihan yang lebih baik" ketika diagnosis banding tidak dapat
disingkirkan.25 Food and Drug Administration Amerika Serikat telah dua kali
merevisi peringatan obat untuk klotrimazol-betametason dipropionat, membatasi
penggunaannya pada kulit yang tipis, penggunaan yang berkepanjangan, atau ketika
diagnosis masih ragu-ragu.

Tabel 219-4. Reaksi Efek Samping Topikal Antijamur

Dermatitis kontak iritan (diperparah oleh oklusi)


Dermatitis kontak alergi (obat aktif atau lebih mungkin terhadap bahan pengawet
lainnya)
Reaksi urtikaria (jarang)
Pengobatan tidak cocok karena kekeliruan diagnosis (lebih mungkin pada obat diluar
apotek)

Komplikasi
Penggunaan imidazol topikal dikaitkan dengan beberapa komplikasi. Karena
penyerapan sistemik yang rendah, interaksi obat dengan imidazol topikal sangat
jarang. Namun demikian, dalam satu studi, kadar takrolimus serum mengalami

18
peningkatan yang diamati pada penerima transplantasi ginjal yang menggunakan
klotrimazol troches untuk kandidiasis mukokutaneus.26 Untuk alasan ini, penggunaan
nistatin dapat merupakan pilihan ketika mengobati stomatitis pada pasien yang
melakukan transplantasi yang menggunakan takrolimus.
Kekhawatiran mengenai resistensi juga harus dipertimbangkan. Resistensi
Candida albican terhadap klotrimazol pernah dijumpai pada pasien human
immunodeficiency virus-positif dengan kandidiasis mukokutaneous.27 Prevalensi yang
rendah mengenai resistensi secara in vitro dari berbagai spesies Candida terhadap
imidazol topikal lainnya juga telah tercatat.28 Biasanya, resistensi ini dikaitkan dengan
resistensi terhadap flukonazol per oral.

ALINAMIN DAN BENZILAMIN


Alinamin dan benzilamin merupakan senyawa yang sangat berkaitan. Saat ini,
alinamin topikal dan benzilamin topikal tunggal telah dipasarkan (Lihat tabel 219-1).

Mekanisme kerja
Alinamin dan benzilamin memiliki mekanisme kerja yang umum. Obat ini
menghambat sintesis ergosterol melalui penghambatan squalene epoxidase, enzim
yang mengkonversi squalene menjadi squalene oksida.29 Berkurangnya ergosterol
mengakibatkan ketidakstabilan membran dan hiperpermeabilitas. Alinamin dan
benzilamin bersifat fungisida karena akumulasi squalene intraseluler langsung
menyebabkan kematian sel. Signifikansi klinis mekanisme fungisidal ini masih
belum jelas. Tidak seperti imidazol, aktivitas alinamin dan benzilamin tidak
bergantung pada sistem enzim sitokrom P450. Bila dibandingkan dengan naftifin,
terbinafin menunjukkan 10 hingga 100 kali lipat peningkatan potensi in vitro,
meskipun obat secara klinis tidak relevan bila digunakan. Seperti imidazol, alinamin
dan benzilamin menunjukkan aktivitas anti-inflamasi.30 Naftifin menghambat adhesi
sel polimorfonuklear terhadap endotelium, menghambat kemotaksis dan menghambat
jalur 5-lipoxygenase.31,32 Hal ini mengansumsikan bahwa terbinafin dan butenafin
menghasilkan efek anti-inflamasi melalui mekanisme yang serupa. Alinamin dan

19
benzilamin juga menunjukkan sifat antibakteri yang terbatas. Pada kenyataannya,
sebuah studi baru menunjukkan penurunan kadar hambat minimal terhadap bakteri
serta jamur ketika terbinafin digunakan dalam kombinasi dengan benzoil peroksida.33

Farmakokinetik
Alinamin dan benzilamin yang sangat larut dalam lemak dan efisien
menembus lapisan keratin, dimana obat ini dapat bertahan hingga durasi yang
panjang.34 Butenafin telah terdeteksi dalam lapisan keratin dengan konsentrasi
penghambatan minimum untuk setidaknya 72 jam setelah penggunaan35 dan
terbinafin dapat bertahan pada kadar yang sama selama sampai dengan 7 hari setelah
penggunaan.36 Penyerapan sistemik obat ini sangat rendah, dengan ekskresi urin yang
khas pada kisaran 3% sampai 5% dari dosis yang digunakan, yang secara biologis
dan klinis tidaklah signifikan.36

Indikasi
Indikasi untuk penggunaan alinamin topikal dan benzilamin topikal diuraikan
dalam tabel 219-5. Meskipun memiliki sifat antibakteri, terbinafin telah terbukti lebih
rendah daripada mupirosin untuk pengobatan impetigo37 dan obat antibakteri
konvensional harus digunakan sebagai gantinya. Demikian pula, meskipun alinamin
dan benzilamin menunjukkan aktivitas melawan jamur dimorfik yang terlibat dalam
infeksi sistemik seperti Sporothrix schenckii, Blastomyces dermatitidis dan
Histoplasmosis capsulatum, terapi topikal tidak efektif untuk kondisi ini.
Terbatasnya bukti yang menunjukkan bahwa alinamin topikal atau benzilamin
mungkin lebih banyak digunakan daripada imidazol topikal untuk infeksi dermatofit
tertentu. Percobaan berulang-ulang terhadap tinea pedis menunjukkan bahwa
terbinafin topikal selama 1 minggu sama efektifnya dengan imidazol topikal selama 4
minggu, dengan perbaikan dihasilkan hingga 53% hingga 95% dari kasus.38-41
Penggunaan yang lebih singkat pada terbinafin telah dikonfirmasi dalam suatu
penelitian menggunakan obat aktif dibandingkan hanya vehikulum tunggal.42 Pada
beberapa kasus, dengan sedikitnya tiga dosis penyembuhan dari tinea pedis

20
menggunakan terbinafin telah terjadi.43 Saat ini terbinafin 30g dalam kemasan tabung
tiga kali lebih mahal daripada klotrimazol 30g dalam kemasan tabung.44
Mempertimbangkan frekuensi penggunaan, jumlah obat yang diperlukan, kepatuhan
pasien dan kemudahan penggunaan, dan kecepatan dari penyembuhan. Beberapa ahli
menganjurkan terbinafin topikal dan imidazol topikal untuk pengobatan tinea
pedis.45,46 Namun demikian, menggunakan data yang sama, ahli lainnya telah
merekomendasikan penggunaan imidazol yang lebih murah, observasi kegagalan
terapi pada alinamin dan benzilamin belum tercapai.
Sampai saat ini, alinamin topikal dan benzilamin efektif terhadap Candida
atau Pityrosporum sp. Namun, mengingat biaya relatif agen ini dibandingkan dengan
agen yang lebih murah, sama-sama optimal, dan secara khusus disetujui, seperti
imidazol, polien, siklopiroksamin, dan selenium sulfida, tidak terdapat alasan kuat
untuk menghindari lebih banyak pilihan dengan harga yang terjangkau.

Tabel 219-5. Indikasi penggunaan Alinamin dan Benzilamin Topikal


Dermatofitosis
Tinea pedis dan tinea manum
Tinea kruris
Tinea korporis
Tinea Fasialis (wajah)
Pityriasis versicolor
Meskipun butenafin disetujui oleh Food and Drug Administration Amerika
Serikat untuk digunakan pada pengobatan Pitiriasis Versicolor ketersediaan berbagai
obat dengan biaya yang lebih hemat membatasi penggunaannya dalam klinis.

Dosis Regimen
Alinamin topikal dan benzilamin tersedia beberapa sediaan (Lihat tabel 219-
1). Setiap obat memiliki dosis sedikit berbeda berdasarkan formulasi, lokasi dan
derajat keparahan infeksi (tabel 219-6). Risiko dan tindakan pencegahan penggunaan
alinamin topikal dan benzilamin diuraikan dalam tabel berikut (Lihat tabel 219-3).

21
Tabel 219-6. Penggunaan Alinamin dan Benzilamin
Obat Frekuensi Penggunaan Durasi Penggunaan
Naftifin Krim, satu kali sehari Dianjurkan penggunaan selama 2
Gel, dua kali sehari minggu atau hingga gejala
menyembuh
Terbinafin Tinea pedis (inter digital), dua kali Minimal 1 minggu
sehari
Tinea pedis (plantar), dua kali sehari Minimal 2 minggu
Tinea lainnya, satu atau dua kali Minimal 1 minggu, maksimal 4
sehari minggu
Butenafin Tinea pedis, satu atau dua kali sehari Minimal 1 minggu bila penggunaan
2 kali sehari, dan minimal 4 minggu
bila penggunaan 1 kali sehari
Tinea lainnya, satu kali sehari Minimal 2 minggu
Pityriasis versicolor, satu kali seharia Minimal 2 minggu
a
Meskipun Butenafin disetujui oleh Food and Drug Administration Amerika Serikat
untuk digunakan pada pengobatan Pitiriasis Versicolor ketersediaan berbagai obat
dengan biaya yang lebih hemat membatasi penggunaannya dalam klinis.

Komplikasi
Komplikasi yang terjadi dengan menggunakan alinamin atau benzilamin
topikal sedikit.

POLIEN
Polien merupakan salah satu obat pertama yang ditemukan memiliki spesifik
sifat antijamur. Dua Polien antijamur topikal adalah nistatin dan amfoterisin B.
Namun hanya nistatin topikal aktif dipasarkan di Amerika Serikat (Lihat tabel 219-1).

Mekanisme kerja
Seperti pada semua yang termasuk golongan polien, nistatin mengikat
membran sterol secara ireversibel pada spesies Candida yang rentan.48 Molekul
Polien menunjukkan afinitas yang tinggi terhadap sterol jamur, termasuk ergosterol,
daripada terhadap sterol manusia, menghasilkan toksisitas yang selektif. Ikatan yang
ireversibel ini mengubah permeabilitas membran, yang menyebabkan kebocoran

22
komponen intraselular yang penting dan mengakibatkan kematian jamur. Pada
konsentrasi rendah, nistatin bersifat fungistatik, namun pada konsentrasi tinggi dapat
bersifat fungisidal.49

Farmakokinetik
Nistatin tidak larut dalam air dan tidak diserap dari kulit yang intak, saluran
pencernaan, atau vagina.50

Indikasi
Nistatin topikal digunakan untuk mengobati kandidiasis mukokutaneus yang
disebabkan oleh C. albicans, dan spesies lainnya seperti C. parapsilosis, C. krusei,
dan C. tropicalis. Pengulangan penelitian telah menunjukkan bahwa imidazol topikal
lebih efektif daripada nistatin dalam mengobati kandidiasis vulvovaginal, dan
penggunaan nistatin untuk indikasi ini telah jarang digunakan.51,52 Nistatin tidak
efektif terhadap dermatofit atau Pityrosporum dan oleh karena itu, obat ini tidak
diindikasikan untuk pengobatan tinea atau pityriasis versicolor.

Dosis Regimen
Nistatin tersedia dalam sediaan bubuk, krim, salep, suspensi, dan pastiles. Untuk
mengobati kandidiasis oral (trush), suspensi atau pastiles digunakan empat hingga
lima kali sehari, biasanya selama 2 minggu. Untuk mengobati infeksi kulit, bedak,
krim, dan salep digunakan dua kali setiap hari selama sekitar 2 minggu.

Efek Samping dan Peringatan


Efek samping yang berhubungan dengan penggunaan nistatin topikal adalah
sama seperti semua obat topikal lainnya (Lihat tabel 219-3). Sejumlah kasus
dermatitis kontak alergi yang disebabkan oleh nistatin tunggal telah dilaporkan.
Reaksi ini telah dilaporkan pada penggunaan topikal dan per oral.53,54 Anafilaksis
telah pernah dilaporkan pada penggunaan nistatin yang terkandung dalam supositoria
vagina tetapi reaksi diduga akibat kandungan selain nistatin.55 Kombinasi obat terdiri

23
dari nistatin dan triamcinolon asetonid yang banyak dipasarkan. Penambahan
triamcinolon dapat memberikan manfaat tambahan selama beberapa hari pertama
pengobatan nistatin ketika terjadi peradangan yang optimal.56 Setelah fase awal,
produsen merekomendasikan transisi penggunaan ke nistatin tunggal atau dengan
obat antijamur topikal lainnya. Meskipun triamcinolon asetonid merupakan obat
potensi sedang, gejala sisa pada kulit, termasuk striae, atrofi kulit dan akne yang
diinduksi steroid, pernah dilaporkan.57 Karena kandidiasis sering mengenai kulit yang
tipis dan rapuh, seperti daerah intertriginosa, sehingga berpotensi terjadi risiko
kerusakan.
Sampai saat ini, sebagian besar formulasi kombinasi, masih mengandung,
ethy-lenediamine, sensitizer yang dapat menyebabkan dermatitis kontak alergi.58
Seperti pada klotrimazol-betamethason dipropionate, obat kombinasi nistatin dan
triamcinolon asetonid yang lebih sering diresepkan bukan oleh dokter spesialis kulit.

Komplikasi
Komplikasi dengan polien topikal adala minimal. Resistensi nistatin dapat
ditemui pada beberapa spesies Candida.59,60 baik dapat terjadi pada strain jinak (tipe
primer) atau mungkin disebabkan selama terapi (tipe sekunder). Meskipun C.
albicans menunjukkan tingkat resistensi spontan yang rendah terhadap nistatin,61
terutama bila dibandingkan dengan resistensi terhadap imidazol,62 spesies lain, seperti
C. tropicalis, C. guilliermondi, C krusei, dan C. stellatoides, dengan cepat mengalami
resistensi terhadap nistatin.

Obat Lain
Beberapa antijamur topikal, seperti siklopirox olamin, tolnaftat dan
undecylenic acid, tidak dimasukkan ke dalam golongan utama dan oleh karena itu
akan dibahas secara terpisah.
Siklopirox Olamin
Siklopirox olaminmerupakan obat anti jamur hidroksipiridon dengan struktur
dan mekanisme kerja yang khas.

24
Mekanisme Kerja
Tidak seperti antijamur topikal lain, siklopirox olamin tidak mengganggu
sintesis sterol.63 Sebaliknya, melakukan penghambatan prekursor transpor aktif
membran selular yang penting, khususnya kation trivalen.64 Pada akhirnya,
mengganggu fungsi selular, mengakibatkan kematian jamur. Jika konsentrasi obat
cukup tinggi, integritas membran jamur sebenarnya bisa terganggu. Siklopirox
olamin juga memiliki aktivitas anti-inflamasi melalui penghambatan prostaglandin
dan sintesis leukotrien dalam sifat antibakteri spektrum luas sel polimorfonuklear.65
Dalam satu studi, siklopirox olamin topikal memiliki cakupan yang lebih luas
terhadap organisme gram positif-negatif daripada imidazol topikal atau alinamin
topikal.66

Farmakokinetik
Ketika digunakan pada kulit, siklopirox olamin tetap dalam konsentrasi tinggi
dalam epidermis dan dermis bagian atas. Siklopirox olamin menembus keratin
dengan mudah, pada kulit menunjukkan konsentrasi 10-15 kali penghambatan pada
epidermis yang merupakan konsentrasi minimum yang dapat mempengaruhi
spesies.65 Sensitifitas obat ini mampu menembus keratin sehingga direkomendasikan
untuk penggunaan pengobatan onikomikosis, karena obat ini mampu menembus
lempeng kuku.67 Studi metabolisme obat telah menunjukkan bahwa pada penggunaan
topikal, sekitar 10% dari dosis diekskresikan dalam urin.68

Indikasi
Siklopirox olamin diindikasikan untuk pengobatan dermatofitosis dan
onikomikosis, kandidiasis, pityriasis versicolor, dermatitis seboroik, dan bahkan
infeksi kulit oleh saprofit.69 Pada tinea pedis, tingkat kesembuhan infeksi jamur
hingga 85% telah diamati, dan pada dermatitis seboroik, persentase yang lebih besar
secara signifikan mencapai >75% menyembuh dalam 2 minggu penggunaan daripada
menggunakan sampo vehikulum saja.70,7l Meskipun pengobatan dengan siklopirox
olamin untuk tinea pedis dan dermatitis seboroik telah menghasilkan penyembuhan

25
yang setara dengan obat lain, penggunaan pengobatan untuk onikomikosis didapati
lebih efektif. Biasanya, penilaian efektivitas obat antijamur tergantung pada ketiadaan
jamur (kultur negatif) atau penyembuhan klinis (kuku bebas penyakit)
mengindikasikan keberhasilan pengobatan.72
Meskipun kuku bebas penyakit merupakan tujuan sebenarnya pengobatan
pasien, respon terhadap siklopirox olamine hanya mencapai 5,5% sampai 8.5% pada
mereka dengan durasi pengobatan 48 minggu.72,73 Dua penelitian terbaru
menunjukkan peningkatan efektivitas menggunakan terbinafin per oral dalam
kombinasi dengan siklopirox olamintopikal, sebagai perbandingan terapi terbinafin
tunggal peroral.74,75

Dosis Regimen
Siklopirox olamin ini tersedia dalam berbagai macam bentuk (Lihat tabel 219-
1). Kandidiasis kutaneus, dermatofitosis dan pityriasis versicolor digunakan 2x setiap
hari selama 2 minggu hingga 1 bulan, tetapi pengobatan untuk tinea pedis harus
dilanjutkan selama 1 bulan atau lebih. Bila menggunakan sampo siklopirox untuk
dermatitis seboroik, pengobatan digunakan 2x seminggu untuk jangka waktu yang tak
terbatas. Perbaikan umumnya terjadi dalam 2-4 minggu. Hingga saat ini, dalam
mengobati onikomikosis, digunakan setiap hari pada kuku dan hiponikium selama 48
minggu dan kelebihan obat dapat dibersihkan dengan alkohol.

Efek Samping dan Peringatan


Risiko yang berhubungan dengan penggunaan siklopirox olamin topikal sama
seperti obat topikal lainnya (Lihat tabel 219-3). Dermatitis kontak alergi telah jarang
dilaporkan dan siklopirox olamin dianggap sensitizer lemah.76 Pada pasien yang
mengalami reaksi alergi terhadap siklopirox, imidazol lebih aman digunakan karena
struktur kimia yang sangat berbeda.

Komplikasi
Komplikasi serius pada penggunaan siklopirox topikal minimal.

26
Obat Terdahulu
Tolnaftat dan asam undesilenik merupakan obat tertua yang sekarang tersedia
hanya di apotek (Lihat tabel 219-1). Studi berulang yang telah dilakukan
menunjukkan bahwa obat-obat ini diperkirakan sama dalam keberhasilan pengobatan,
77, 78
dan kurang efektif daripada imidazol, alinamin, benzilamin, dan siklpirox olamin
topikal. Selain itu, tolnaftat tidak efektif untuk mengobati kandidiasis. Tolnaftat
topikal dan asam undesilenik topikal memiliki efek samping dan tindakan
pencegahan yang sama seperti pada obat topikal lainnya (Lihat tabel 219-3). Selain
itu, bentuk asam undesilenik topikal dapat menimbulkan bau yang tidak
menyenangkan yakni "bau amis" yang menghambat penggunaan lebih lanjut. Karena
kedua obat ini dianggap kurang efektif daripada imidazol, dapat terjadi kegagalan
pengobatan pada penggunaan obat-obat ini.

KESIMPULAN
Karena biaya yang relatif lebih murah, efikasi pengobatan, kemudahan
penggunaan, dan potensi efek samping yang rendah, komplikasi atau interaksi obat,
antijamur topikal lebih sering digunakan untuk infeksi jamur yang terbatas pada
infeksi superfisial. Selain itu, penggunaan obat sistemik dibenarkan ketika infeksi
jamur superfisial mencakup permukaan area yang luas, melibatkan terminal rambut
atau kuku atau telah terbukti refrakter terhadap pengobatan topikal sebelumnya.
Imidazol menyediakan keseimbangan efektifitas dan keterjangkauan harga dan
diindikasikan untuk pengobatan dermatofitosis, kandidiasis mukokutaneus dan
pityriasis versicolor. Meskipun biaya yang lebih tinggi, alinamin dan benzilamin
dapat lebih efektif dalam beberapa kasus tinea pedis, karena durasi pengobatan yang
lebih pendek. Siklopirox olamin merupakan antijamur topikal dengan mekanisme
yang khas dan dapat diberikan pada berbagai indikasi. Nistatin topikal berguna dalam
mengobati kandidiasis mukokutaneus, tetapi tidak efektif untuk infeksi dermatofit.
Penggunaan tolnaftat dan asam undesilenik menurun karena efektifitas yang lebih
rendah dibandingkan dengan obat lain yang tersedia.

27