Anda di halaman 1dari 3

Densitas kamba (bulk density) adalah massa partikel yang menempati suatu unit volume tertentu.

Densitas kamba ditentukan oleh berat wadah yang diketahui volumenya dan merupakan hasil
pembagian dari berat bubuk dengan volume wadah. Semakin tinggi nilai densitas kamba
menunjukkan produk semakin padat (Gilang, 2013). Pada percobaan diperoleh densitas dan bobot
jenis dari beberapa jenis bahan pangan. Tabel 2.1 menunjukkan minyak kelapa sawit merek rose
brand (kelompok 4) memiliki densitas sebesar 0,9012 g/ml dan bobot jenis sebesar 0,9380 g/ml.
Menurut teori Wulandari (2011) bahwa densitas atau berat jenis minyak kelapa sawit berkisar
antara 0,909-0,917 g/ml pada suhu ruang. Nilai yang tidak jauh berbeda disebabkan pengaruh
metode pengolahan yang berbeda, massa bahan, volume bahan, dan campuran atau tambahan dari
bahan lain.

Pada percobaan praktikum penentuan bulk density dan bobot jenis tepung-tepungan, bahan yang
digunakan adalah tepung maizena, tepung tapioka, tepung beras, tepung sagu, dan tepung terigu.
Sampel tepung dimasukkan dalam wadah sampai penuh, lalu ditimbang wadah+tepung lalu
dihitung bulk density dan bobot jenisnya. Dari hasil percobaan diperoleh bulk density dan bobot
jenis tepung tapioka (kelompok 4) adalah sebesar 0,6679 gr/cm3 dan 0,6800 gr/cm3. Sedangkan
hasil bobot jenis praktikum kurang sesuai dengan teori Retnani dkk (2011) yang menyatakan bobot
jenis tepung tapioka yaitu 0,686 gr/cm3. Perbedaan yang tidak jauh hasil praktikum dan teori
disebabkan bentuk wadah, bentuk bahan pangan, geometri bahan, cara pengukuran, ukuran bahan,
dan sifat permukaan bahan masing-masing berbeda sehingga densitas serta bobot jenisnya
berbeda.

Pada Tabel 2.2.2 ditunjukkan bulk density dan bobot jenis kacang merah (kelompok 4) adalah
0,847 gr/cm3 dan 0,8510 gr/cm3. Hasil praktikum menyimpang dari teori dari Pramesta dkk (2012)
yang menyatakan bulk density kacang-kacangan antara 0,224-0,737 gram/cm3. Hal-hal yang
mempengaruhi besarnya bulk density pada biji bijian yaitu ukuran bahan, bentuk bahan, sifat-sifat
permukaan bahan, dan cara pengukuran. Semakin kecil ukuran dan teraturnya bentuk biji-bijian
maka sampel yang dapat ditampung dalam wadah akan semakin besar. Hal ini mengakibatkan
masa yang dapat ditampung juga semakin besar karena berkurangnya ruang kosong, sehingga
diperoleh bulk density yang semakin (Pramesta dkk, 2012). Ketidaksesuaian ini disebabkan bentuk
wadah, bentuk bahan pangan, geometri bahan, cara pengukuran, ukuran bahan, dan sifat
permukaan bahan masing-masing berbeda sehingga densitas serta bobot jenisnya berbeda.
Hasil praktikum pengaruh tingkat kematangan terhadap densitas dan bobot jenis buah
ditunjukkan pada Tabel 2.3. Berdasarkan hasil praktikum diperoleh hasil densitas pada buah
belimbing mentah, belimbing matang, dan belimbing matang berturut-turut adalah 1,002;
0,994; 0,984 gr/ml. sedangkan bobot jenisnya berturut-turut adalah 1,006; 0,998; 0,987 gr/cm3.
Hasil praktikum ini densitas dan BJ ketiga sampel buah belimbing sesuai teori Antarlina (2009)
yang menyatakan makin tua buah makin rendah densitasnya, densitas juga berhubungan
dengan kekerasan buah, makin keras daging buah makin tinggi densitasnya. Yang
mempengaruhi hasil praktikum ini adalah tingkat kematangan buah dan jenis buah klimakterik
atau nonklimakterik. Dari teori Antarlina (2009) tersebut, semakin matang buah, maka densitas
dan bobot jenis buah tersebut semakin kecil. Hal ini dikarenakan semakin matang buah terjadi
proses transpirasi dan respirasi pada buah yang semakin besar, menyebabkan kandungan air
dalam buah dapat hilang karena kedua proses tersebut sehingga membuat densitas dan BJnya
semakin rendah.

Dapus

Antarlina, Sri S. 2009. Identifikasi Sifat Fisik dan Kimia Buah-buahan Lokal Kalimantan. Buletin
Plasma Nutfah 15(2):80-90.
Gilang, Retna, Dian Rachmawanti Affandi, Dwi Ishartani. 2013. Karakteristik Fisik Dan Kimia
Tepung Koro Pedang (Canavalia ensiformis) Dengan Variasi Perlakuan Pendahuluan.
Jurnal Teknosains Pangan Vol. 2 (3) Hal: 34-42.
Pramesta, Laras Dianti, Dian Rahmawanti, Kawiji, Baskara Katri Anandito. 2012. Karakterisasi
Bubur Bayi Instan Berbahan Dasar Tepung Millet (Panicum sp) dan Tepung Kacang Merah
(Phaseolus vulgaris L.) Dengan Flavor Alami Pisang Ambon (Musa paradisiacal Var.
Sapientum L.). Jurnal Teknosains Pangan Vol 1 (1) hal : 32-40.
Retnani, Y. L. Herawati Dan S. Khusniati. 2011. Uji Sifat Fisik Ransum Broiler Starter Bentuk
Crumble Berperekat Tepung Tapioka, Bentonit dan Onggok. JITP Vol. 1 (2) hal : 88-97.
Wulandari, Nur, Tien R.Muchtadi, Slamet Budijanto, Sugiyono. 2011. Sifat Fisik Minyak Sawit
Kasar dan Korelasinya dengan Atribut Mutu. Jurnal Teknologi dan Industri Pangan Vol.
22 (2).

Anda mungkin juga menyukai