Anda di halaman 1dari 8

2

Pendahuluan penyakit sirosis hepatis dan edema akibat


Sirosis adalah penyakit hati kronis gagal ginjal.6
yang dicirikan dengan distorsi arsitektur Efek samping seperti gagal ginjal
hati yang normal oleh lembar-lembar fungsional, gangguan elektrolit, gangguan
jaringan ikat dan nodul-nodul regenerasi sel keseimbangan asam-basa, dan ensefalopati
hati, yang tidak berkaitan dengan vaskulatur hepatikum. Oleh karena itu, perlu
normal. Nodul-nodul regenerasi ini dapat diperhatikan apakah penggunaan obat
berukuran kecil (mikronodular) atau besar golongan ini telah sesuai dengan indikasi,
(makronodular). Sirosis dapat mengganggu kondisi pasien, dan pemilihan obat yang
sirkulasi darah intrahepatik, dan pada kasus tepat (jenis, dosis, frekuensi, dan lama
yang sangat lanjut, menyebabkan kegagalan pemakaian), mempertimbangkan manfaat
fungsi hati secara bertahap.19 dan risiko serta harganya yang terjangkau
Insidensi penyakit ini sangat bagi pasien tersebut.28
meningkat sejak Perang Dunia II, Penggunaan obat yang tidak tepat
peningkatan ini sebagian disebabkan oleh dapat memberikan dampak negatif yang
insidensi hepatitis virus yang meningkat, besar dan merugikan bagi unit instansi
namun yang lebih bermakna agaknya pelayanan kesehatan pasien maupun
adalah karena asupan alkohol yang sangat masyarakat itu sendiri. Oleh karena itu
meningkat. Alkoholisme merupakan satu- diperlukan pemilihan dan penggunaan obat
satunya penyebab terpenting sirosis.19 secara tepat, sehingga intervensi obat dapat
Data prevalensi sirosis hati di mencapai sasarannya (penyembuhan
Indonesia belum banyak. Di Rumah Sakit penderita) dengan efek samping obat
dr. Sardjito Yogyakarta, pada tahun 2004 seminimal mungkin dan instruksi
jumlah pasien sirosis hati berkisar 4,1% dari penggunaan obat dapat dipatuhi oleh pasien.
pasien yang dirawat di Bagian Penyakit Mengingat pentingnya pemberian obat
Dalam.23 Sedangkan penelitian di Sumatera secara tepat maka perlu dilakukan
Utara, asites terjadi pada 39,1 % pada penelitian mengenai pola penggunaan obat
pasien sirois hepatis.24 diuretika sebagai pengobatan asites pada
Komplikasi utama dari sirosis pasien sirosis hepatis di Rumah Sakit
adalah asites. Terjadi pada 50% pasien yang Muhammadiyah Palembang.
di ikuti selama lebih dari 10 tahun.17 Asites
adalah penimbunan cairan serosa dalam Metode Penelitian
rongga peritoneum.19 Penelitian Pola Penggunaan Diuretik
Diuretik telah menjadi andalan Sebagai Pengobatan Asites Pada Pasien
pengobatan asites sejak tahun 1940 ketika Sirosis Hepatis di Rumah Sakit
pertama kali tersedia. Furosemid atau lasix, Muhammadiyah Palembang Periode 2013-
merupakan obat diuretik golongan diuretik 2015 berbentuk survey dengan pendekatan
kuat atau loop diuretik yang sering kuantitatif. Populasi penelitian ini
digunakan sebagai salah satu pengobatan didapatkan 192 orang seluruh pasien
asites. Diuretik kuat merupakan obat yang penyakit hati, dimana terdapat 30 pasien
efektif untuk mengatasi asites akibat sirosis hepatis dengan komplikasi asites
yang merupakan subjek penelitian.
Penelitian ini dilakukan di Instalasi Rekam
2

Medik Rumah Sakit Muhammadiyah Pada Tabel diatas didapatkan


Palembang dengan pengambilan data jumlah pasien sirosis hepatis dengan
sekunder. Kriteria inklusi adalah pasien komplikasi asites yang dirawat di Rumah
sirosis hepatis dengan komplikasi asites dan Sakit Muhammadiyah Palembang Periode
mendapat pengobatan diuretik, sedangkan 2013-2015 sebanyak 30 orang (15,6%) dari
kriteria eksklusi adalah pasien dengan semua data pasien penyakit hati yang
penyakit lain. dirawat inap.
Metode teknis analisis data yang
dilakukan adalah analisis univariat Tabel 2. Distribusi Frekuensi Sirosis Hepatis
digunakan untuk mendeskripsikan variasi dengan Komplikasi Asites
seluruh variabel yang digunakan dengan Berdasarkan Jenis Kelamin
cara di tabulasi dan di narasi. Analisis Jenis Kelamin n %
univariat ini disajikan dengan distribusi Laki-laki 18 60
Perempuan 12 40
frekuensi.
Total 30 100
Hasil dan Pembahasan
Hasil Pada Tabel 2. diketahui bahwa
Berikut ini adalah hasil dari analisis yang jumlah pasien sirosis hepatis dengan
berupa distribusi frekuensi pasien sirosis komplikasi asites jenis kelamin laki-laki
hepatis dengan komplikasi asites sebanyak 18 orang (60%) dan jenis kelamin
berdasarkan semua data pasien penyakit perempuan sebanyak 12 orang (40%).
hati yang dirawat inap, jenis kelamin, usia,
jenis obat yang digunakan, komposisi obat Tabel 3. Distribusi Frekuensi Sirosis Hepatis
dengan Komplikasi Asites
diuretika, dosis pemberian obat
Berdasarkan Usia
spironolakton, dosis pemberian obat
Usia * n %
furosemid, lama pemberian obat diuretika
24-34 2 6,7
dosis tunggal dan kombinasi. 35-45 3 10,0
46-56 13 43,3
Tabel 1. Distribusi Frekuensi Penyakit Hati yang 57-67 9 30,0
dirawat Inap di Bagian Penyakit Dalam 68-78 2 6,7
Rumah Sakit Muhammadiyah 79-89 1 3,3
Palembang Periode 2013-2015 Total 30 100
Nama Penyakit Hati n % Menggunakan rumus Sturgess
Hepatitis Kronis 60 31,2
Hepatoma 40 20,8 Tabel diatas menyajikan jumlah
Sirosis Hepatis dengan 30 15,6 pasien sirosis hepatis dengan komplikasi
Komplikasi Asites asites menurut kelompok usia tertinggi
Hepatic Failure 25 13,0 adalah usia 46-56 tahun sebanyak 13 orang
Hepatic Sclerosis 10 5,2
(43,3%), sedangkan terendah usia 78-89
Hepatitis A 20 10,4
Hepatitis B 3 1,6 tahun sebanyak 1 orang (3,3%). Namun
Hepatitis Viral Akut 2 1,0 terdapat 5 orang pada usia < 46 tahun
Hepatic Fibrosis 2 1,0 (16,7%).
Total 192 100
2

Tabel 4. Distribusi Frekuensi Sirosis Hepatis Dari Tabel 5. didapatkan bahwa untuk
dengan Komplikasi Asites diuretik hemat kalium hanya diberikan
Berdasarkan Jenis Diuretika yang spironolakton (100%), dan untuk diuretik
Digunakan kuat hanya diberikan furosemid (100%).
Jenis Obat yang n % Pasien yang diberi diuretika spironolakton
Digunakan
dengan sediaan 25 mg tab sebanyak 1 orang
Diuretik Hemat Kalium 2 6,7
(3,6%), 50 mg tab sebanyak 2 orang (7,1%),
Diuretik Kuat 2 6,7 dan 100 mg tab sebanyak 25 orang (89,3%),
Diuretik Hemat Kalium 26 86,6 sedangkan pasien yang diberi diuretika
dan Diuretik Kuat furosemid dengan sediaan 20 mg sebanyak
Total 30 100 21 orang (75,0%), dan 40 mg sebanyak 7
orang (25,0%).
Pada Tabel diatas dapat dilihat bahwa
jenis obat yang sering digunakan yaitu Tabel 6. Distribusi Frekuensi Dosis Pemberian
diuretik hemat kalium sebanyak 28 orang, Obat Diuretika Spironolakton
dan diuretik kuat sebanyak 28 orang. Berdasarkan Aturan Pakai Pada
Pasien Sirosis Hepatis dengan
Komplikasi Asites
Tabel 5. Distribusi Frekuensi Komposisi Obat
Atura Dosis Pemberian Obat
Diuretika Spironolakton dan
n 25 mg 50 mg 100 mg Total
Furosemid Pada Pasien Sirosis Hepatis Pakai tab* tab tab
dengan Komplikasi Asites Obat n % n % n % n %
Komposisi n % Sediaan n % 1x1 0 0 0 0 10 100 10 100
Diuretik Spirono 2x1 1 8,3 3 25,0 8 66,7 12 100
Hemat lakton 3x1 0 0 0 0 6 100 6 100
Kalium Jumla 1 3,6 3 10,7 24 85,7 28 100
Spironolakt 28 100 25 mg 1 3,6 h
on tab tab = tablet
50 mg 2 7,1
tab
100 mg 25 89,3 Tabel diatas menyajikan aturan
tab pakai obat spironolakton paling banyak
diberikan untuk 1 kali sehari dengan dosis
100 mg dan paling sedikit diberikan untuk 3
Total 28 100 Total 28 100 kali pemberian dengan dosis 100 mg.
Komposisi n % Sediaan n % Namun, terdapat 12 orang untuk pemberian
Diuretik Furose
Kuat mid
2 kali sehari dengan mendapat dosis
Furosemid 28 100 20 mg 21 75,0 spironolakton yang berbeda-beda.
amp
40 mg 7 25,0 Tabel 7. Distribusi Frekuensi Dosis Pemberian
tab Obat Diuretika Furosemid Berdasarkan Aturan
Pakai Pada Pasien Sirosis Hepatis dengan
Total 28 100 Total 28 100 Komplikasi Asites
2

Aturan Dosis Pemberian Obat Pada Tabel 8. dapat dilihat bahwa


Pakai 20 mg amp 40 mg tab# Total dosis tunggal spironolakton adalah 3 hari
Obat n % n % n % masing-masing sebanyak 2 orang (6,7%),
1x1 16 72,7 6 27,3 22 100
diikuti dosis tunggal furosemid adalah 10
2x1 2 66,7 1 33,3 3 100
3x1 2 66,7 1 33,3 3 100
dan 12 hari masing-masing sebanyak 1
Jumlah 20 71,4 8 28,6 28 100 orang (3,3%). Sedangkan proporsi tertinggi
lama pemberian obat dosis kombinasi
Amp = ampul #Tab = tablet
adalah 12 hari sebanyak 5 orang (16,7%),
dan yang paling lama pemberian obat
Dari Tabel tersebut di atas diketahui
adalah 22 hari sebanyak 1 orang (3,3%).
aturan pakai obat furosemid, paling banyak
diberikan 1 kali sehari dengan dosis 20 mg,
Pembahasan
dan paling sedikit 2 kali sehari dan 3 kali
Dari hasil penelitian didapatkan
sehari dengan dosis masing-masing 20 mg
jumlah pasien yang dirawat di Rumah Sakit
dan 40 mg.
Muhammadiyah Palembang Periode 2013-
Tabel 8. Distribusi Frekuensi Lama Pemberian
2015 sebanyak 30 orang dari semua data
Obat Dosis Tunggal dan Kombinasi pasien penyakit hati yang di rawat inap.
Pada Pasien Sirosis Hepatis dengan Dilaporkan penderita sirosis hepatis
Komplikasi Asites di RS Santa Elisabeth Medan pada tahun
Dosis Lama n % 2003-2005 sebanyak 217 orang,18 di RSUD
Pemberian Dr. Pirngadi Medan dari tahun 2010-2011
Obat pasien sirosis hepatis berjumlah 103
Dosis Tunggal 3 hari** 2 6,7 orang,22 sedangkan hasil penelitian di
Spironolakton Rumah Sakit Martha Friska Medan tahun
Dosis Tunggal 10 hari** 1 3,3 2006-2007 penderita sirosis hepatis
Furosemid 12 hari** 1 3,3
sebanyak 120 orang.15 Begitu pula menurut
Dosis 2 hari* 1 3,3
Kombinasi
laporan di RSUD dr. Soedarso Pontianak
3 hari** 2 6,7 selama periode penelitian Januari 2008
4 hari** 3 6,7 sampai Desember 2010 diperoleh penderita
5 hari** 3 10,1 sirosis sebanyak 219 orang.25
6 hari** 3 10,1 Berdasarkan hasil penelitian diatas
7 hari*** 1 3,3
8 hari*** 1 3,3
terdapat perbedaan dengan penelitian saya
9 hari*** 1 3,3 dimana jumlah pasien sirosis hepatis yang
12 hari*** 5 16,7 saya dapatkan lebih kecil, sedangkan
13 hari** 2 6,7 penelitian Nursiah, Stiphany, Malau, dan
14 hari** 1 3,3 Tambunan mendapatkan pasien sirosis
15 hari** 1 3,3
17 hari** 1 3,3
hepatis lebih banyak.
19 hari** 1 3,3 Pada Tabel 2. didapatkan pasien
22 hari** 1 3,3 sirosis hepatis dengan komplikasi asites
Total 30 100 tertinggi adalah laki-laki dengan persentase
*dirujuk **rawat jalan ***memenuhi syarat 60% dan perempuan dengan persentase
40%.
2

Hasil penelitian di RSUD Dr. tahun dan median 51 tahun.25 Pada


Soedarso Pontianak Periode Januari 2008 penelitian di RSUP Dr. Kariadi Semarang
sampai Desember 2010 didapatkan bahwa didapatkan hasil bahwa umumnya penderita
sebanyak 128 pasien (69,6%) adalah laki- sirosis hepatis berusia diatas 50 tahun,
laki dan 56 pasien (30,4%) adalah dengan rerata usia 56 tahun.12 Sedangkan
perempuan. Proporsi sirosis hepatis lebih pada penelitian RSUD Dr. Pirngadi Medan
banyak terjadi pada laki-laki dengan ratio dapat dilihat bahwa proporsi tertinggi
antara laki-laki dan perempuan 2,3 : 1.25 penderita sirosis hati berdasarkan umur
Dari penelitian saya diperoleh yaitu pada kelompok umur 49-55 (28,2%).22
sirosis hepatis laki-laki 60% perempuan Penelitian ini sesuai dengan
40%, sedangkan pada penelitian dengan penelitian-penelitian yang mendapatkan
periode 2 tahun oleh Tambunan (2011) laki- pasien sirosis hepatis terbanyak pada
laki 69,6% perempuan 30,4%. Jadi terdapat dekade keempat dan kelima kehidupan. Hal
perbedaan penelitian saya dengan ini terjadi karena sirosis hepatis merupakan
Tambunan persentase laki-laki pada penyakit hati kronik yang akan muncul
penelitian saya lebih rendah daripada seiring bertambahnya usia. Gejala dan tanda
penelitian Tambunan, sedangkan persentase penyakit ini baru akan muncul bertahun-
perempuan pada penelitian saya lebih tinggi tahun kemudian setelah penderita terpapar
daripada penelitian Tambunan. faktor risiko dalam waktu yang lama
Penelitian diatas yang menyebutkan ataupun pernah mengalami penyakit hati
bahwa penderita sirosis hepatis terbanyak lain seperti hepatitis B.28 Namun ada juga
berjenis kelamin laki-laki. Hal ini pasien yang mengalami sirosis pada rentang
disebabkan karena laki-laki adalah kepala usia 24-34 tahun sehingga tidak menutup
rumah tangga yang harus bekerja lebih kemungkinan usia lebih muda bisa terkena
keras tanpa memperhatikan kemampuan sirosis hepatis.
fisik dan mentalnya sehingga lebih mudah Dari hasil penelitian diperoleh
terkena penyakit. Selain itu juga dapat pasien sirosis hepatis dengan komplikasi
dikaitkan dengan kebiasaan laki-laki yang asites mendapatkan pengobatan diuretik
sering mengkonsumsi alkohol dimana hemat kalium sebanyak 28 orang dan
alkohol merupakan salah satu penyebab diuretik kuat sebanyak 28 orang.
terjadinya sirosis hepatis.12 Dua studi telah dinilai merupakan
Hasil penelitian ini menunjukkan pendekatan terbaik untuk terapi, salah
bahwa pasien sirosis hepatis dengan satunya spironolakton dan furosemid hanya
komplikasi asites dapat dilihat bahwa ditambahkan pada pasien yang tidak ada
proporsi tertinggi penderita berdasarkan respon terhadap spironolakton. Pada pasien
usia yaitu pada kelompok usia 46-56 tahun sirosis hepatis dengan komplikasi asites
(43,3%) dan proporsi terendah pada ringan sampai sedang, diberikan terapi
kelompok usia 79-89 tahun (3,3%). tunggal spironolakton sedangkan terapi
Dari penelitian di RSUD Dr. tunggal furosemid tidak terlalu efektif dan
Soedarso Pontianak didapatkan hasil bahwa tidak dianjurkan.4 Beberapa obat yang bisa
sebagian besar pasien didiagnosis menderita digunakan untuk pasien sirosis hepatis
sirosis hepatis pada dekade keempat dan dengan komplikasi asites adalah
kelima (59,3%) dengan rerata usia 51,5
2

spironolakton, furosemid, bumetamid, ditingkatkan setiap 7 hari pada kasus yang


amilorid, dan metalazone.3 tidak ada respon ditingkatkan hingga dosis
Pada penelitian ini telah sesuai 400 mg dan 160 mg/hari.4
dengan teori yang menyebutkan bahwa Didapatkan lama pemberian obat
diberikan terapi diuretik dosis tunggal pasien sirosis hepatis dengan komplikasi
spironolakton maupun ditambahkan dengan asites yang di rawat inap mempunyai
diuretik furosemid.4 rentang dari 2 hari sampai 22 hari. Lama
Pada penelitian ini, pasien sirosis pemberian obat dosis tunggal spironolakton
hepatis dengan komplikasi asites semuanya adalah 3 hari masing-masing sebanyak 2
diberikan diuretik hemat kalium orang (6,7%), diikuti lama pemberian obat
spironolakton (100%) dan diuretik kuat dosis tunggal furosemid adalah 10 dan 12
furosemid (100%). hari masing-masing sebanyak 1 orang
Dalam buku MIMS Referensi Obat (3,3%). Sedangkan proporsi tertinggi lama
Indonesia, ada beberapa sediaan obat untuk pemberian obat dosis kombinasi adalah 12
spironolakton, yaitu 25 mg, 50 mg, dan 100 hari sebanyak 5 orang (16,7%), dan yang
mg. Sedangkan untuk furosemid yaitu 20 paling lama pemberian obat adalah 22 hari
mg, dan 40 mg.16 Keputusan Menteri sebanyak 1 orang (3,3%).
Kesehatan No. 328 Tahun 2013 tentang Pada penelitian Stiphany lama
Formularium Nasional, menyebutkan rawatan pasien dibedakan menjadi dua,
bahwa diuretik hemat kalium yang dipakai yaitu lama rawatan rata-rata berdasarkan
adalah spironolakton dan diuretik kuat sumber biaya, dan lama rawatan
adalah furosemid. Hal ini dikarenakan berdasarkan keadaan sewaktu pulang.22
spironolakton dan furosemid merupakan Lama rawatan rata-rata berdasarkan
obat generik yang dipakai untuk pasien sumber biaya didapatkan bahwa pasien
yang menggunakan BPJS ataupun ASKES. dengan sumber biaya bukan biaya sendiri,
Menurut data dari rekam medik pasien yang lama rawatan rata-rata 9,96 hari. Pasien
dirawat di Rumah Sakit Muhammadiyah dengan sumber biaya sendiri/umum, lama
Palembang hampir semuanya menggunakan rawatan rata-rata 6,91 hari. Pasien yang
BPJS ataupun ASKES. Sehingga obat yang sumber biayanya bukan biaya sendiri lebih
diberikan oleh dokter di rumah sakit lama dirawat karena mereka tidak
tersebut adalah spironolakton dan dibebankan dalam hal biaya perawatan
14
furosemid. karena adanya jaminan kesehatan dari
Dari hasil penelitian ini, pasien pemerintah berupa Askes, Jamkesmas, dan
sirosis dengan komplikasi asites untuk BPJS. Sedangkan pasien dengan biaya
spironolakton paling sering diberikan sendiri/umum lama rawatan lebih singkat
dengan aturan pakai 2 kali sehari sebesar karena mereka harus membayar biaya
100% sedangkan untuk furosemid paling perawatan sendiri. Lama rawatan
sering diberikan dengan aturan pakai 1 kali berdasarkan keadaan sewaktu pulang data
sehari sebesar 100%. menunjukkan bahwa penderita yang pulang
Dosis awal terapi tunggal berobat jalan, lama rawatan rata-rata 10,35
spironolakton diberikan 100-400 mg/ hari hari, sedangkan pasien yang pulang atas
dengan furosemid 40-160 mg/hari. Di mulai permintaan sendiri, lama rawatan rata-rata
dengan pengobatan 100 mg dan 40 mg/hari 8,06 hari.22
2

Pada penelitian ini, didapatkan lama 3. Dosis pemberian obat telah sesuai
rawatan rata-rata dari seluruh pasien yang untuk diuretika hemat kalium
dirawat adalah 4,8 hari. Untuk pemberian spironolakton yang paling banyak
obat diuretik spironolakton dan furosemid digunakan yaitu tablet dengan dosis
dimulai dengan pemberian minimal 7 hari, tertinggi per hari, sedangkan untuk
sedangkan pada penelitian ini paling lama diuretika kuat furosemid yang paling
diberikan sebanyak 12 hari. Hal ini banyak digunakan yaitu injeksi satu
menunjukkan bahwa pasien sudah diberikan ampula per hari.
lama pemberian obat secara tepat dengan 4. Aturan pakai pemberian spironolakton
ketentuan yang sudah ada pada penelitian telah sesuai dengan pedoman yang ada
sebelumnya.21 Berdasarkan data rekam yaitu satu kali per hari dan aturan
medik di Rumah Sakit Muhammadiyah pakai pemberian furosemide telah
Palembang ada beberapa pasien yang sesuai yaitu injeksi satu kali per hari.
mempunyai komplikasi lain selain asites 5. Lama pemberian obat diuretik yang
sehingga pasien dirujuk ke Rumah Sakit sesuai aturan masih rendah.
Umum Pusat dan diberikan diuretik <7 hari,
sedangkan untuk yang dirawat >12 hari Daftar Pustaka
dikarenakan pasien-pasien tersebut 1. Depkes RI. 2007. Pharmaceutical
mempunyai penyakit lain selain sirosis Care Untuk Penyakit Hati.
hepatis seperti infeksi saluran kemih, Direktorat Bina Farmasi Komunitas
hipertensi, jantung, maag kronis, dll dan Klinik Ditjen Bina Kefarmasian
sehingga memerlukan perawatan yang lebih dan Alat Kesehatan
lama dan lebih intensif. 2. EASL. 2010. Clinical Practice
Guidelines on the Management of
Kesimpulan Ascites, Spontaneous Bacterical
Dari penelitian Pola Penggunaan Peritonitis, and Hepatorenal
Diuretik Sebagai Pengobatan Asites Pada Syndrome in Cirrhosis. Journal of
Pasien Sirosis Hepatis di Rumah Sakit Hepatology. Vol. 53 : 397-417
Muhammadiyah Palembang Periode 2013- 3. Ganiswara, G., Suliatia, dkk. 2007.
2015 yang menggunakan data sekunder Farmakologi dan Terapi. Edisi 5.
berupa rekam medik, dapat disimpulkan Fakultas Kedokteran Universitas
beberapa hal sebagai berikut: Indonesia, Jakarta, Indonesia
1. Pasien sirosis hepatis dengan 4. Karina. 2007. Faktor Risiko
komplikasi asites yang dirawat inap Kematian Penderita Sirosis Hati di
yaitu sepertiga dari seluruh pasien RSUP Dr. Kariadi Semarang Tahun
penyakit hati. 2002-2006. Fakultas Kedokteran
2. Jenis obat yang diberikan yaitu Universitas Diponegoro Semarang
golongan diuretika dan telah sesuai 5. Keputusan Menteri Kesehatan
dengan pedoman yang sudah ada. Republik Indonesia Nomor 328
Diuretika yang sering digunakan Tahun 2013 tentang Formularium
adalah golongan diuretika hemat Nasional.
kalium dan golongan diuretika kuat. 6. Malau, Arda Sariani. 2011.
Karakteristik Penderita Sirosis Hati
2

yang di Rawat Inap di Rumah Sakit Penyakit Dalam. USU Digitalized


Martha Friska Medan Tahun 2006 Library, Universitas Sumatera
2010. Fakultas Kesehatan Utara, Indonesia
Masyarakat Universitas Sumatera 15. Tambunan, Aprinando. 2011.
Utara Karakteristik Pasien Sirosis Hati di
7. MIMS Referensi Obat Edisi 16. RSUD Dr. Soedarso Pontianak
2015. PT. Lapi Laboratories Serang Periode Januari 2008-Desember
Indonesia 2010. Fakultas Kedokteran
8. Moore, K.P, and Aithal, G.P, 2006. Universitas Tanjungpura, Pontianak
Guidelines on the Management of
Ascites in Cirrhosis. Gut
Bmjjournals 55 : 1-12
9. Nursiah. 2007. Karakteristik
Penderita Sirosis Hati Yang Dirawat
Inap di Rumah Sakit Santa Elisabeth
Medan Tahun 2003-2005. Fakultas
Kesehatan Masyarakat Universitas
Sumatera Utara
10. Price Sylvia Anderson, and Lorraine
McCarty Wilson. 2012.
Patofisiologi : Konsep Klinis
Proses-Proses Penyakit Vol. 1. Edisi
6. EGC, Jakarta, Indonesia
11. Setiawati, Arini dan Nafrialdi. 2012.
Farmakologi dan Terapi Edisi 5.
Departemen Farmakologi dan
Terapeutik Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia
12. Stiphany. 2012. Karakteristik
Penderita Sirosis HatiRawat Inap di
RSUD Dr. Pirngadi Medan Tahun
2010-2011. Fakultas Kesehatan
Masyarakat Universitas Sumatera
Utara
13. Sudoyo, AW., Setiyohadi, B., Alwi,
I., Simadibrata, M., Setiati S. 2009.
Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam
Edisi 5 Jilid I. Pusat Penerbitan
Departemen Ilmu Penyakit Dalam
Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia, Jakarta, Indonesia
14. Sutadi, dan Sri Mulyani. 2003.
Sirosis Hepatis Dari Bagian Ilmu