Anda di halaman 1dari 5

PENATALAKSANAAN HIPERTENSI

PADA IBU HAMIL


No Dokumen : 445.1/ /SOP/ IX /2016

No Revisi :
SOP
Tanggal mulai berlaku :

Halaman : 1/5

UPT.
PUSKESMAS PARUGA
dr. H. M. Natsir
Nip 19760711 200501 1 008
Hipertensi adalah Tekanan darah sekurang kurangnya 140 mmHg sistolik dengan
1.Pengertian 90 mmHg diastolik pada dua kali pemeriksaan yang berjarak 4-6 jam pada wanita
yang sebelumnya normotensi
2.Tujuan Sebagai acuan dalam menentukan penanganan Hipertensi
SK Kepala UPT. Puskesmas Paruga

3.Kebijakan No : 445.1/ / IX /2016


Tentang :
Panduan Midwifery Update 2016
Buku Acuan Pelayanan Obstetri dan Neonatal Emergensi Dasar 2008 dan 2014
4.Referensi
Buku Saku Pelayanan Kesehatan Ibu di fasilitas kesehatan dasar dan rujukan,
2013
1. Persiapan Alat :
1. Pelindung diri (Celemek), Dopler/Funduskop, Spatel lidah, Reflek patela,
Tensimeter, Termometer, O2 , gunting plester, tiang infus

5.Prosedur 2. Persiapan Bahan :


Infus RL, Infus set, Abocat no. 16/ lebih, Spuit 10 cc dan 20 cc Kapas alkohol,
Kasa steril, Betadin, jeli, plester, MgSo4 40 %, Aquadest, Calsium glukonas,
Nifedipin 10 mg, kateter, urine bag, masker
1. Petugas menyapa pasien dengan ramah
2. Petugas melakukan anamnesa
Riwayat kesehatan, riwayat pemeriksaan sebelum dan keluhan;
Hipertensi kronik :
ada riwayat hipertensi sebelum hamil/ sebelum kehamilan 20 minggu
riwayat pemeriksaan protein urine (-)
6. Langkah Langkah
bisa disertai keluhan Pusing, pandangan kabur, mual hingga muntah,
odem muka dan ekstrimitas, nyeri epigastrium, bisa juga tidak ada
keluhan
Hipertensi kronik dengan superimposed pre eklampsi :
Ada riwayat hipertensi sebelum kehamilan 20 minggu
Riwayat pemeriksaan protein urine (+)

1
disertai keluhan Pusing, pandangan kabur, mual hingga muntah, odem
muka dan ekstrimitas, nyeri epigastrium
Hipertensi gestasional :
Ada riwayat hipertensi setelah kehamilan 20 minggu
Riwayat pemeriksaan protein urine (-)
bisa disertai keluhan Pusing, pandangan kabur, mual hingga muntah,
odem muka dan ekstrimitas, nyeri epigastrium, bisa juga tidak ada
keluhan
Pre eklampsi :
Ada riwayat hipertensi setelah kehamilan 20 minggu
Riwayat pemeriksaan protein urine (+)
Disertai keluhan Pusing, pandangan kabur, mual hingga muntah, odem
muka dan ekstrimitas, nyeri epigastrium
Eklampsia :
Ada riwayat hipertensi setelah kehamilan 20 minggu
Riwayat pemeriksaan protein urine (+)
Disertai keluhan Pusing, pandangan kabur, mual hingga muntah, odem
muka dan ekstrimitas, nyeri epigastrium, KEJANG
3. Petugas melakukan pemeriksaan fisik
Pada pemeriksaan Tekanan darah dijumpai 140/90 mmHg
Kadang kadang ditemukan odem pada muka/ekstrimitas
4. Petugas menegakkan diagnosa
Hipertensi kronik : hipertensi tanpa protein urine sebelum hamil/ sebelum
kehamilan 20 minggu
Hipertensi kronik dengan superimposed pre eklampsi : Hipertensi dengan
protein urine sebelum kehamilan 20 minggu dengan gejala pre eklampsi
Hipertensi gestasional : Hipertensi tanpa protein urine setelah kehamilan
20 minggu dan menghilang pasca persalinan
Pre eklampsi : Hipertensi dengan protein urine setelah kehamilan 20
minggu
Disertai keluhan Pusing, pandangan kabur, mual hingga muntah, odem
muka dan ekstrimitas, nyeri epigastrium
Eklampsia : Pre eklampsia berat disertai kejang
5. Petugas membuat rencana tindakan dengan melibatkan pasien
6. Petugas memberikan KIE dan memberikan informed consent
7. Keluarga/Pasien menandatangani persetujuan tindakan
8. Petugas melakukan penanganan tindakan sesuai diagnosa
Hipertensi Kronik :
Jika tekanan darah sebelum kehamilan 20 minggu tidak diketahui, akan

2
sulit membedakan antara pre eklampsi dan hipertensi kronik. Dalam hal
ini, tangani sebagai Pre eklampsi
Jika tekanan darah diketahui sebelum hamil/sebelum kehamilan 20
minggu, maka berikan obat anti hipertensi. Bila terkendali tunggu sampai
aterm, bila tidak terkendali, rujuk.
Hipertensi kronik dengan superimposed pre eclampsia :
Tangani sebagai pre eklampsia
Hipertensi Gestasional :
Bila tekanan darah terkendali, pantau rutin tekanan darah dan protein
rutin
Bila tekanan darah meningkat, tangani sebagai pre eklampsi
Pre eklampsi ringan:
Dapat dirawat jalan dengan pengawasan dan kunjungan antenatal yang
lebih sering
Banyak istrahat
Diet biasa
Tidak perlu pengobatan
Rutin Pantau Tekanan darah dan Protein urine
KIE ibu tentang tanda bahaya pre eklampsi berat serta apa yang harus
dilakukan
Jika tekanan darah stabil, dapat ditunggu sampai aterm
Jika tekanan darah tidak stabil: Kelola sebagai pre eklampsi berat
Pre eklampsi berat/ eklampsi :
Baringkan Ibu pada posisi miring kiri, kepala sedikit lebih tinggi untuk
mengurangi aspirasi
Berikan O2 4-6 liter/menit (bila ibu sesak)
Pasang infus RL dengan jarum besar 16/lebih
Kateterisasi untuk pengukuran volume urine dan pemeriksaan protein
urine
Pemberian MgSo4 40 %
- MgSo4 40 % 4 gr IV selama 5 menit
- MgSo4 40 % 6 gr dalam larutan infus RL 28 tetes/menit
Jika Tekanan diastole > 110 mmHg, berikan nifedipin 10 mg per oral
Observasi Tanda vital, reflek dan Denyut jantung janin
Auskultasi paru untuk untuk mencari tanda edema paru
Rujuk ke Rumah Sakit

7. Bagan Alir

3
4
Jangan tinggalkan pasien sendiri
Petugas Selalu siap dan siaga bila terjadi kasus kegawatdaruratan
Selalu siapkan alat dan bahan tindakan gawat darurat apapun kondisinya
Kadaluarsa obat obatan yang diberikan
8. Hal- hal yg perlu Untuk hipertensi kronik, Bila sebelum hamil ibu sudah mengkonsumsi obat
diperhatikan
anti hipertensi, berikan penjelasan bahwa antihipertensi golongan ACE
inhibitor (misal captopril), ARB ( misal valsartan) dan klorotiazid di
kontraindikasikan bagi ibu hamil. Harus konsultasi dengan dokter obat
antihipertensi yang aman untuk ibu hamil.

9. Unit terkait Ruang bersalin, Polindes, Laboratorium


10. Dokumen terkait Rekam medis, Buku KIA Pasien, Surat rujukan

No Yg diubah Isi Perubahan Tanggal mulai


11. Rekaman Historis diberlakukan
Perubahan