Anda di halaman 1dari 24

MAKALAH

SEJARAH PENDIDIKAN DI INDONESIA

Mata Kuliah :
Landasan Pendidikan

Dosen Pengampu :
Ranti An Nisaa, M.pd

Disusun oleh:
1. Alfi Delvira 1701125081
2. Annisa Qadriyanti 1701125099
3. Elma Dwi Rahayu 1701125084
4. Nifa Nisfaturahmah 1701125093
5. Siti Khoerunisa 1701125087
6. Uli 1701125090

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PROF.DR.HAMKA
JAKARTA
2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur senantiasa kami ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa. Karena atas segala
rahmat, petunjuk, dan karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini untuk memenuhi
tugas Landasan Pendidikan. Makalah ini dapat digunakan sebagai wahana untuk menambah
pengetahuan, sebagai teman belajar, dan sebagai referensi tambahan dalam belajar Materi Sejarah
Pendidikan di Indonesia.

Ucapan terima kasih kami ucapkan kepada semua yang telah membantu dalam mempersiapkan,
melaksanakan, dan menyelesaikan penulisan makalah ini. Segala upaya telah dilakukan untuk
menyempurnakan makalah ini, namun tidak mustahil apabila dalam makalah ini masih banyak terdapat
kekurangan dan kesalahan. Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran yang dapat dijadikan
masukan dalam penyempurnaan Makalah ini.

Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua untuk menambah pengetahuan dan
wawasan tentang Sejarah Pendidikan di Indonesia.

Jakarta, 14 Oktober 2017

Penyusun

i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.................................................................................................................. i
DAFTAR ISI................................................................................................................................ ii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang.........................................................................................................................1
B. Rumusan Masalah....................................................................................................................1
C. Tujuan .....................................................................................................................1

BAB II PEMBAHASAN
A. Pendidikan Pra Kemerdekaan.............................2
B. Pendidikan Masa Kemerdekaan.................................6
C. Pendidikan di Indonesia Setelah Kemerdekaan.....................................................................11
D. Pioner Pendidikan Indonesia..................................................................................................12
E. Keunggulan dan Kelemahan Tiap Masa.................................................................................15

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan...............................................................................................................................20
B. Saran.........................................................................................................................................20

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................................21

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pendidikan sudah sepatutnya menentukan masa depan suatu negara. Bila visi pendidikan
tidak jelas, yang dipertaruhkan adalah kesejahteraan dan kemajuan bangsa. Visi pendidikan harus
diterjemahkan ke dalam sistem pendidikan yang memiliki sasaran jelas, dan tanggap terhadap
masalah-masalah bangsa. Karena itu, perubahan dalam subsistem pendidikan merupakan suatu hal
yang sangat wajar, karena kepedulian untuk menyesuaikan perkembangan yang disesuaikan dengan
perkembangan zaman. Sudah seyogyanya sistem pendidikan tidak boleh jalan di tempat, namun
setiap perubahan juga harus disertai dan dilandasi visi yang mantap dalam menjawab tantangan
zaman.
Di Indonesia, berubahnya subsistem pendidikan (kurikulum, UU) biasanya tidak ditanggapi
dengan antusiasme, namun malah sebaliknya membuat masyarakat ragu apakah penguasa di
Indonesia memiliki visi pendidikan yang jelas atau tidak. Visi pendidikan diharapkan mampu
menentukan tujuan pendidikan yang jelas. Karena, tujuan pendidikan yang jelas pada gilirannya
akan mengarahkan ke pencapaian kompetensi yang dibutuhkan serta metode pembelajaran yang
efektif. Dan pada akhirnya, kelak pendidikan mampu menjawab tuntutan untuk menyejahterakan
masyarakat dan kemajuan bangsa. Setidaknya ada empat tujuan yang menjadi idealisme
pendidikan, antara lain sebagai berikut:
1. Perolehan pengetahuan dan keterampilan (kompetensi) atau kemampuan menjawab
permintaan pasar.
2. Orientasi humanistic
3. Menjawab tantangan-tantangan sosial, ekonomi, serta masalah keadilan.
4. Kemajuan ilmu itu sendiri.
Dari keempat tujuan pendidikan di atas, setidaknya poin nomor 2 yang berorientasi pada
tujuan memanusiakan manusia atau humanistis, menjadi poin yang penting dalam proses
pendidikan, dan sudah sepatutnya bahwa pendidikan harus menjunjung hak-hak peserta didik dalam
memperoleh informasi pengetahuan.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana sejarah pendidikan di Indonesia pada masa pra kemerdekaan ?
2. Bagaimana sejarah pendidikan di Indonesia pada masa setelah kemerdekaan ?
3. Siapa saja pioner pendidikan di Indonesia ?
4. Apa saja keunggulan dan kelemahan pada setiap masa ?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui sejarah pendidikan di Indonesia sebelum dan sesudah kemerdekaan.
2. Untuk mengetahui pioner pendidikan di Indonesia.
3. Untuk mengetahui keunggulan dan kelemahan dari setiap masa.

1
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pendidikan Indonesia Pra Kemerdekaan


Pendidikan di Indonesia pada zaman sebelum kemerdekaan dapat digolongkan ke dalam tiga
periode, yaitu: Pendidikan yang berlandaskan ajaran keagamaan, Pendidikan yang berlandaskan
kepentingan penjajahan, dan Pendidikan dalam rangka perjuangan kemerdekaan.

1. Pendidikan yang Berlandaskan Ajaran Keagamaan


a. Pendidikan Hindu-Budha
Pendidikan pada zaman Hindu-Budha yang berlangsung antara abad ke-4 hingga abad ke-16
Masehi. Ajaran Hindu dan Budha memberikan corak pada praktik pendidikan di Indonesia pada
zaman kerajaan-kerajaan Hindu dan Budha di Kalimantan (Kutai), Pulau Jawa (Tarumanegara
hingga Majapahit), Bali dan Sumatera (Sriwijaya). Prasasti tertua yang ditemukan di Kutai dan di
Tarumanegara merupakan peninggalan agama Hindu. Pada periode awal berkembangnya agama
Hindu-Budha di Indonesia, sistem pendidikan sepenuhnya bermuatan keagamaan yang
dilaksanakan di biara-biara atau padepokan. Pada perkembangan selanjutnya, muatan pendidikan
bukan hanya berupa ajaran keagamaan, melainkan ilmu pengetahuan dalam berbagai bidang.
Pada masa Hindu-Budha ini, kaum Brahmana merupakan golongan yang menyelenggarakan
pendidikan dan pengajaran. Perlu dicatat bahwa sistem kasta tidaklah diterapkan di Indonesia
setajam sebagaimana yang terjadi di India. Adapun materi-materi pelajaran yang diberikan ketika
itu antara lain: teologi, bahasa dan sastra, ilmu-ilmu kemasyarakatan, ilmu-ilmu eksakta seperti
ilmu perbintangan, ilmu pasti, perhitungan waktu, seni bangunan, seni rupa dan lain-lain.
Menjelang periode akhir, pola pendidikan tidak lagi dilakukan dalam kompleks yang bersifat
kolosal, tetapi oleh para guru di padepokan-padepokan dengan jumlah murid relatif terbatas dan
bobot materi ajar yang bersifat spiritual religius. Para murid disini sembari belajar juga harus
bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari. Jadi secara umum dapatlah
disimpulkan bahwa:
1) Pengelola pendidikan adalah kaum brahmana dari tingkat dasar sampai dengan tingkat tinggi;
2) Bersifat tidak formal, dimana murid dapat berpindah dari satu guru ke guru yang lain;
3) Kaum bangsawan biasanya mengundang guru untuk mengajar anak-anaknya di istana
disamping ada juga yang mengutus anak-anaknya yang pergi belajar ke guru-guru tertentu;
4) Pendidikan kejuruan atau keterampilan dilakukan secara turun-temurun melalui jalur kastanya
masing-masing.

b. Pendidikan Islam
Pendidikan berlandaskan ajaran Islam dimulai sejak datangnya para saudagar asal Gujarat
India ke Nusantara pada abad ke-13. Kehadiran mereka mula-mula terjalin melalui kontak teratur
dengan para pedagang asal Sumatra dan Jawa. Para saudagar asal Gujarat yang beragama Islam itu
kemudian menjadi penyebar agama Islam di Indonesia. Ajaran Islam mula-mula berkembang di
kawasan pesisir, sementara di pedalaman agama Hindu masih kuat. Kerajaan Islam pertama di
Indonesia adalah Samudera-Pasai di Aceh, yang didirikan tahun 1297 oleh Sultan Malik Al-Saleh.
Namun diperkirakan pengaruh Islam telah masuk ke Indonesia jauh sebelum berdirinya Samudera-
Pasai. Hal ini terbukti dengan adanya batu nisan di Leran, dekat Gresik, Jawa timur, yang
menyebutkan tentang meninggalnya seorang wanita bernama Fatimah binti Maimun pada tahun 476
H (1082 M).
Di pulau Jawa dan Sumatera yang penduduknya lebih dahulu mengadakan kontak dengan
pendatang dari luar Indonesia (terutama dari Cina, India, dan Indonesia), didapati pendidikan agama
Islam dimasa pra-kolonial dalam bentuk pendidikan di surau atau langgar, pendidikan di pesantren,
dan pendidikan di madrasah. Pendidikan agama di langgar dilaksanakan secara sederhana dengan

2
bimbingan guru ngaji yang statusnya dibawah kyai. Materi yang diajarkan umumnya membaca Al-
quran dan fikih dasar.
Di pesantren, para santri tinggal di tempat pemondokan sederhana yang biasanya disebut
pondok. Sifat khusus pengajaran di pesantren antara lain :
1) Pelajaran bersifat keagamaan
2) Penghormatan yang tinggi kepada guru
3) Tidak ada gaji atau upah untuk guru karena motivasinya semata-mata karena Allah
4) Santri datang secara sukarela untuk menuntut ilmu
Selain itu, ada juga pendidikan di madrasah yang bukan hanya mengajarkan agama,
melainkan juga ilmu pengetahuan seperti astronomi (ilmu falak) dan ilmu pengobatan. Pendidikan
Indonesia baru mengenal sistem berjenjang yang formal sejak masuknya pengaruh Belanda. Namun
hingga datangnya kolonial Belanda dan bahkan hingga sekarang ketiga corak pendidikan Islam,
yaitu pendidikan di langgar, pesantren dan madrasah tetap bertahan.

c. Pendidikan Katolik dan Kristen-Protestan


Pendidikan katholik berkembang mulai abad ke-16 melalui orang-orang portugis yang
menguasai Malaka. Dalam usahanya mencari rempah-rempah untuk dijual di Eropa (yang saat itu
harganya sangat mahal), mereka selalu disertai misionaris Katolik-Roma yang berperan ganda
sebagai penasehat spiritual dalam perjalanan yang jauh dan penyebar agama di tanah yang di
datanginya. Misi mereka yang dikenal sebagai misi suci (mission sacre) dilaksanakan bersama misi
pencarian rempah-rempah. Segera setelah mereka menduduki suatu daerah atau pulau, usaha
pertama yang dilakukannya adalah menjadikan penduduk setempat sebagai pemeluk Katolik-Roma.
Kemudian di tempat itu didirikan seminar-seminar untuk mendidik anak-anak setempat. Namun
kekuasan Portugis tidak berlangsung lama, hanya sekitar setengah abad, karena diusir oleh Spanyol.
Kemudian Belanda menyebarkan agama Kristen-Protestan dan mengembangkan sistem
pendidikannya sendiri yang bercorak Kristen-Protestan.

2. Pendidikan yang Berlandaskan Kepentingan Penjajah


Indonesia pernah mengalami masa penjajahan, baik yang pada masa penjajan Belanda maupun
masa penjajahan Jepang. Sehingga, tidak mengherankan apabila pengaruhnya sangat kuat dalam
segala bidang, baik di bidang politik, ekonomi, maupun militer.
Secara garis besar, sejarah pendidikan di Indonesia terbagi atas sistem pendidikan masa pra
kemerdekaan, masa kemerdekaan, dan masa pemerintahan Republik Indonesia.
a. Pendidikan Pada Zaman VOC
Sebagaimana Bangsa Portugis sebelumnya, kedatangan Bangsa Belanda ke Indonesia pada abad
ke-16 mula-mula untuk tujuan dagang dengan mencari rempah-rempah denga mendirikan VOC.
Misi dagang tersebut kemudian diikuti dengan misi penyebaran agama yang terutama dilakukan
dengan mendirikan sekolah-sekolah yang dilengkapi dengan asrama untuk para siswa. Di sana
diajarkan agama Kristen-Protestan dengan bahasa pengantar Bahasa Belanda dan sebagian
menggunakan Bahasa Melayu. Dirikan sekolah-sekolah yang di arahkan untuk kepentingan
mendukung misi VOC di Nusantara.
b. Pendidikan Kolonial Belanda
Pudarnya VOC pada akhir abad ke-18 menandai masa datangnya zaman kolonial Belanda.
Tugas untuk mengatur pemerintahan dan masyarakat yang sebelumnya ditangani oleh kompeni
(institusi dagang) kemudian diambil alih oleh Pemerintah Belanda yang menjadikan Hindia-
Belanda sebagai tanah jajahan. Meskipun tetap berpihak pada kepentingan Belanda, system
pendidikan pun berubah menjadi lebih terbuka. Muatan keagamaan yang di masa-masa
sebelumnya sangat kental, diimbangi dengan muatan pengetahuan dan keterampilan yang
mendukung kepentingan Belanda.

3
Mulai akhir abad ke-19 dan hingga darsawarsa awal abad ke-20, lembaga-lembaga
pendidikan di Indonesia sangat beragam, meliputi sekolah dasar, sekolah raja, sekolah pertukangan,
sekolah kejuruan, sekolah-sekolah khusus untuk perempuan Eropa dan pribumi, sekolah dokter,
perguruan tinggi hukum, dan perguruan tinggi teknik. Untuk mengimbangi pendidikan Belanda,
pada periode ini berdiri pula lembaga-lembaga pendidikan bercorak keagamaan dan kebangsaan
oleh Muhammadyah, Taman Siswa, Ins Kayutanan, Maarif, dan perguruan Islam lainnya.
Pada masa ini, pendidikan terbagi menjadi dua, yaitu: pendidikan rendah, pendidikan
menengah, pendidikan kejuruan, dan pendidikan tinggi. Tujuan pendidikan pada masa penjajahan
Belanda lebih dititik beratkan kepada memenuhi kebutuhan pemerintah Belanda, yaitu tersedianya
tenaga kerja murah untuk hegemoni penjajah dan untuk menyebarluaskan kebudayaan Barat.

c. Pendidikan Pada Zaman Jepang


Pada tahun 1942-1945, masa pendudukan Jepang memberikan corak yang berarti
pendidikan di Indonesia. Tidak lama setelah berkuasa, Jepang segera menghapus sistem pendidikan
warisan Belanda yang didasarkan atas penggolongan menurut bangsa dan status sosial. Tanpa
membedakan status social mulai di buka tingkat sekolah terendah adalah Sekolah Rakyat (SR),
Sekolah Menengah Pertama (SPM) selama tiga tahun, Sekolah Menengah Tinggi (SMT) selama
tiga tahun. Sekolah dikejuruan juga di kembangkan, yaitu Sekolah Pertukangan, Sekolah Teknik
Menengah, Sekolah Pelayaran, Sekolah Pelayaran dan Sekolah Pelayaran Tinggi. Ditingkatkan
pendidikan tinggi, pemerintah pendudukan Jepang mendirikan Sekolah Tinggi Kedokteran (Ika
Dai Gakko) di Jakarta dan Sekolah Tinggi Teknik di Bandung.
Perubahan lain yang berarti bagi Indonesia dikemudian hari ialah bahasa Indonesia menjadi
bahasa pengantar pertama di sekolah-sekolah dan kantor-kantor pemerintahan, dan bahasa
pengantar kedua adalah Jepang. Sejak saat itu, bahasa Indonesia berkembang pesat sebagai bahasa
pengantar dan bahasa komunikasi ilmiah. Tujuan pendidikan pada zaman Jepang diarahkan untuk
mendukung pendudukan Jepang dengan menyediakan tenaga kerja kasar secara Cuma-Cuma yang
dikenal dengan romusha. Di sekolah, para siswa mengikuti latihan fisik, baris berbaris meniru
tentara Dai Nippon, latihan kemiliteran disertai indoktrinasi yang intinya kesetiaan penuh pada
Kaisar Jepang. Pemuda-pemuda yang menapak dewasa dijadikan romusha dan sebagian direkrut
untuk menjadi tentara.Tujuan pendidikan lebih ditekankan kepada dihasilkannya tenaga buruh kasar
secara cuma-cuma dan prajurit-prajurit untuk keperluan peperangan Jepang.

3. Pendidikan dalam Rangka Perjuangan Indonesia


Pendidikan dalam rangka perjuangan kemerdekaan ditandai oleh munculnya gerakan
pendidikan yang dipelopori oleh Muhammadiyah, Perguruan Taman Siswa, INS Kayutanam,
Pendidikan Maarif dan perguruan islam lainnya.

a. Muhammadiyah
Muhammadiyah lahir dibawah pengaruh kebangkitan nasionalisme Bangsa mula-mula misi
utama Muhammadiyah adalah untuk menyebarkan agama, kemudian membuka dan
menyelenggarakan pendidikan, baik sebagai sarana untuk anak mencerdaskan bangsa yang
dibodohi oleh pemerintah Belanda maupun sebagai sarana menyebarkan syiar Islam.
Muhammadiyah didirikan di kampong Kauman, Yogyakarta, pada tahun 18 November 1912.
Sekolah Muhammadiyah pertama didirikan pada tahun 1911. Dalam perkembangannya kemudian,
sekolah ini menjadi Volksschool (Sekolah Rakyat) 3 tahun. Muhammadiyah juga kemudian
mendirikan sekolah rakyat 3 tahun yang diberi nama Sekolah Kesultanan (Sultanaatschool),
menyusul kemudian HIS Muhammadiyah, sekolah menengah yang dimulai dengan sebuah MULO
yang diberi subsidi oleh pemerintah Belanda, juga sebuah Algemene Middelbare School (AMS)
yang mendapat bantuan dari para intelektual Indonesia yang beraliran nasional dan Holland
Inlandse Kweekschool. Kurikulum sekolah-sekolah Muhammadiyah di masa itu menyeimbangkan
muatan pelajaran agama dan umum dengan porsi masing-masing sekitar 50%.
4
Muhammadiyah adalah pembaharuan dibidang agama yang pada hakikatnya mengikuti jejak
gerak hidup zaman dan mengeluarkan golongan Islam dari isolasi sekaligus secara positif bergerak
dibidang social dan pendidikan. Unsur nasionalisnya jelas dalam sifat pendirinya, K.H Achmad
Dahlan, sebagai seorang nasionalis yang sikap hidupnya menjadi suri tauladan bagi anggota
Muhammadiyah.Dalam alam kemerdekaan,usaha-usahaMuhammadiyah di bidang pendidikan ini
semakin luas dan meningkat, mulai tingkat taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi. Selain
dalam bidang pendidikan, Muhammadiyah juga aktif dalam berbagai kegiatan sosial.

b. Taman siswa
Taman Siswa secara jelas menunjukkan sifatnya yang nasionalis dan pedagogis serta kultural.
Walaupun bukan suatu organisasi politik, Taman Siswa sejak pendiriannya mempunyai tujuan
politik, yaitu kemerdekaan Indonesia. Tujuan ini jelas dari pertimbangan Ki Hajar Dewantara,
pendirinya, sewaktu di pengasingan di negeri belanda untuk mendalami masalah pendidikan.
Menurut Ki Hajar, rakyat Indonesia harus benar-benar memahami arti kehidupan berbangsa dan
bertanah air melalui pendidikan. Kegiatan pendidikan diberikan kepada mereka yang berusia muda
dengan mendirikan Kindertuin atau Taman Kanak-kanak yang dikalangan Taman Siswa disebut
Taman Indriya, pada tanggal 3 Juli 1922. Lembaga pendidikan Taman Siswa diberi nama National
Onderwijs Institut Taman Siswa dengan Taman Indriya sebagai tingkat terendah. Taman Siswa
didasarkan atas kebangsaan dan kebudayaan Indonesia.
Pendidikan Taman Siswa selanjutnya mengakui hak-hak anak untuk bebas yang dinyatakan
tanpa batas. Batas itu antara lain adalah lingkungan dan kebudayaan. Pengakuan atas kebebasan
anak adalah suatu prinsip pendidikan yang sangat pokok pada Taman Siswa. Prinsip demokrasi
dikembangkan oleh Ki Hajar Dewantara dengan pengertian sebagai berikut :
1. Anak dalam pendidikan merupakan pusat perhatian pendidik.
2. Musyawarah sebagai prinsip demokrasi tetapi menghargai pemimpin.
3. Dasar demokrasi membawa kewajiban untuk memikul tanggung jawab.
Dengan gambaran diatas, maka Taman Siswa, terutama dibidang pendidikan dan kebudayaan,
telah memberi andil yang sangat besar terhadap pendidikan nasional. Bahkan Undang-Undang
Pendidikan No. 4 tahun 1950 praktis telah mencakup semua prinsip Taman Siswa.
c. INS Kayutanam
Sekolah ini didirikan sebagai tanggapan terhadap pendidikan Belanda yang berlangsung saat
itu oleh Muhammad Syafiei dinilai intelektualistik dengan mementingkan kecerdasan dan kurang
memperhatikan bakat-bakat anak. Melalui INS yang didirikannya ia berusaha agar para siswa tidak
menjadi cendekiawan setengah matang yang angkuh tetapi menjadi pekerja cekatan yang rendah
hati. Di INS, para siswa dididik untuk bekerja teratur dan produktif agar dapat hidup mandiri. Para
siswa mendapat pelajaran dalam berbagai bidang Di INS sebagai wahana untuk membuat anak-anak
sehat dan kuat
Falsafah yang mendasari gagasannya adalah Tuhan tidak sia-sia menjadikan manusia dan
alam lainnya. Masing-masing mesti berguna dan kalau tidak berguna itu disebabkan kita tidak
pandai menggunakannya. INS kayutaman mengembangkan sistem persekolahannya dengan
didasarkan atas aktivitas dan bertujuan untuk melahirkan dan memupuk semangat bekerja dan
percaya kepada diri sendiri.
Disamping dikembangkan atas dasar-dasar prinsip pedagogis, INS juga memupuk semangat
nasionalisme di kalangan para siswanya. Hal ini tampak dari tujuan pendidikannya, yaitu agar siswa
dapat berdiri sendiri dan tidak perlu mencari jabatan di kantor pemerintahan yang pada ssat itu
dikuasai oleh Pemerintah Kolonial Belanda.
Prinsip tidak menggantungkan diri kepada orang lain juga dianut oleh Muhammad Syafiei
sendiri yang menolak tawaran Pemerintah Belanda untuk menerima bantuan. Pengembangan
lembaga pendidikannya diusahakan atas dasar prinsip self-help (mandiri) dengan mengumpulkan
uang melalui pertunjukan, pameran hasil karya murid-murid, dan penjualan hasil kerja mereka.
Hanya pemberian yang tidak mengikat secara moral yang diterimanya.
5
Meskipun praktik dan gagasan pendidikannya bagus, sistem persekolahan yang
dikembangkan INS Kayutanam tidak berkembang diluar daerahnya. Para lulusan yang
dihasilkannya juga tidak cukup mendapat bekal untuk mendapatkan tempat dimaysarakat sehingga
dapat dikatakan keuntungan pendidikan hanya dirasakan oleh perorangan siswa.
INS Kayutanam bertahan hingga masa pendudukan Jepang, dan pada masa perang
kemerdekaan (tahun 1949) INS Kayutanam ditutup. MuhammadSyafei sendiri setelah tidak
menangani INS, ditunjuk sebagai Kepala Sekolah Guru Bantu (SGB). Ia tutup usia pada tahun
1966.

d. Pendidikan Maarif
Awal pendidikan maarif mulai berkembang pada tahun 1916 ketika K.H. Abdul Wahab
Hasbullah dan K.H. Mas Mansur, mendirikan kursus debat yang diberi nama Taswirul Afkar.
Kursus ini kemuadian berkembang dengan dibentuknya Jamiyah Nahdatul Wathon yang bertujuan
memperluas dan meningkatkan mutu pendidikan madrasah. Lembaga pendidikan maarif dalam
bentuk madrasah mula-mula berkembang di Jawa Timur, kemudian menyebar ke daerah-daerah
lainnya, dengan dipelopori oleh para ulama NU. Mula-mula, corak pendidikannya menyerupai
pesantren yang diformalkan, dengan hanya memuat pendidikan agama dalam kurikulumnya.
Dalam perkembangan kemudian, sebagaimana Muhammadiyah, Maarif memasukkan materi umum
ke dalam kurikulumnya.
Muktamar II NU di Surabaya pada tahun 1927 memutuskan untuk memberikan perhatian
yang penuh pada pengembangan madrasah dengan dana ditanggung oleh umat Islam, dan menolak
bantuan Belanda. Dalam Muktamar NU ke-4 di Semarang, Muktamar NU yang dilaksanakan setiap
tahun selalu memberikan perhatian khusus pada pengembangan pendidikan Maarif. Basis
pendidikan maarif pada dasarnya adalah pesantren yang juga merupakan basis utama kegiatan
pendidikan NU. hal inilah antara lain yang membedakannya dengan Muhammadiyah yang lebih
agresif dan sistematis dalam mengembangkan system pendidikan sekolahnya dengan menerapkan
menejemen modern.

B. Pendidikan Masa Kemerdekaan


1. Pendidikan Masa Orde Lama
Secara umum pendidikan orde lama sebagai wujud interpretasi pasca kemerdekaan di bawah
kendali kekuasaan Soekarno cukup memberikan ruang bebas terhadap pendidikan. Pemerintahan
yang berasaskan sosialisme menjadi rujukan dasar bagaimana pendidikan akan dibentuk dan
dijalankan demi pembangunan dan kemajuan bangsa Indonesia di masa mendatang. Pada prinsipnya
konsep sosialisme dalam pendidikan memberikan dasar bahwa pendidikan merupakan hak semua
kelompok masyarakat tanpa memandang kelas sosial. Pada masa ini Indonesia mampu mengekspor
guru ke negara tetangga, dan banyak generasi muda yang disekolahkan di luar negeri dengan tujuan
agar mereka kelak dapat kembali ke tanah air untuk mengaplikasikan ilmu yang telah mereka dapat.
Tidak ada halangan ekonomis yang merintangi seseorang untuk belajar di sekolah, karena
diskriminasi dianggap sebagai tindakan kolonialisme. Pada saat inilah merupakan suatu era di mana
setiap orang merasa bahwa dirinya sejajar dengan yang lain, serta setiap orang memiliki hak untuk
mendapatkan pendidikan.
Orde lama berusaha membangun masyarakat sipil yang kuat, yang berdiri di atas demokrasi,
kesamaan hak dan kewajiban antara sesama warga negara, termasuk dalam bidang pendidikan.
Sesungguhnya, inilah amanat UUD 1945 yang menyebutkan salah satu cita-cita pembangunan
nasional adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Banyak pemikir-pemikir yang lahir pada masa
itu, sebab ruang kebebasan betul-betul dibuka dan tidak ada yang mendikte peserta didik. Tidak ada
nuansa kepentingan politik sektoral tertentu untuk menjadikan pendidikan sebagai alat negara
maupun kaum dominan pemerintah. Seokarno pernah berkata: sungguh alangkah hebatnya kalau
tiap-tiap guru di perguruan taman siswa itu satu persatu adalah Rasul Kebangunan! Hanya guru
yang dadanya penuh dengan jiwa kebangunan dapat menurunkan kebangunan ke dalam jiwa sang
6
anak. Dari perkataan Soekarno itu sangatlah jelas bahwa pemerintahan orde lama menaruh
perhatian serius yang sangat tinggi untuk memajukan bangsanya melalui pendidikan.
Di bawah menteri pendidikan Ki Hadjar Dewantara dikembangkan pendidikan dengan
sistem among berdasarkan asas-asas kemerdekaan, kodrat alam, kebudayaan, kebangsaan, dan
kemanuasiaan yang dikenal sebagai Panca Dharma Taman Siswa dan semboyan ing ngarso sung
tulodho, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani pada 1950 diundangkan pertama kali
peraturan pendidikan nasional yaitu UU No. 4/1950 yang kemudian disempurnakan (jo) menjadi
UU No. 12/1954 tentang dasar-dasar pendidikan dan pengajaran di sekolah. Pada 1961 diundangkan
UU No. 22/1961 tentang Pendidikan Tinggi, dilanjutkan dengan UU No.14/1965 tentang Majelis
Pendidikan Nasional, dan UU No. 19/1965 tentang Pokok-Pokok Sitem Pendidikan Nasional
Pancasila. Pada masa akhir pendidikan Presiden Soekarno, 90 % bangsa Indonesia berpendidikan
SD.
Jika kita berbicara tentang kurikulum, maka sudah sepatutnya kita membicarakan
seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang
digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan
pendidikan tertentu. Kurikulum pada era Orde Lama dibagi manjadi 3 kurikulum di antaranya:

a) Rentang Tahun 1947-1968


Kurikulum pertama yang lahir pada masa kemerdekaan memakai istilah dalam bahasa Belanda
leer plan artinya rencana pelajaran. Perubahan arah pendidikan lebih bersifat politis, dari
orientasi pendidikan Belanda ke kepentingan nasional. Sedangkan, asas pendidikan ditetapkan
Pancasila. Kurikulum yang berjalan saat itu dikenal dengan sebutan Rencana Pelajaran 1947,
yang baru dilaksanakan pada tahun 1950. Orientasi Rencana Pelajaran 1947 tidak menekankan pada
pendidikan pikiran. Yang diutamakan adalah: pendidikan watak, kesadaran bernegara dan
bermasyarakat.
Pada masa tersebut siswa lebih diarahkan bagaimana cara bersosialisasi dengan masyarakat.
Proses pendidikan sangat kental dengan kehidupan sehari-hari. Aspek afektif dan psikomotorik
lebih ditekankan dengan pengadaan pelajaran kesenian dan pendidikan jasmani. Oleh karena itu,
yang lebih penting adalah bagaimana menumbuhkan kesadaran bela negara.

b) Rencana Pelajaran Terurai 1952


Kurikulum ini lebih merinci setiap mata pelajaran yang disebut Rencana Pelajaran Terurai
1952. Silabus mata pelajarannya jelas sekali, dan seorang guru mengajar satu mata pelajaran. Pada
masa ini memang kebutuhan peserta didik akan ilmu pengetahuan lebih diperhatikan, dan satuan
mata pelajaran lebih dirincikan. Namun, dalam kurikulum ini siswa masih diposisikan sebagai objek
karena guru menjadi subjek sentral dalam pentransferan ilmu pengetahuan. Guru yang menentukan
apa saja yang akan diperoleh siswa di kelas, dan guru pula yang menentukan standar-standar
keberhasilan siswa dalam proses pendidikan.
c) Kurikulum 1964
Fokus kurikulum 1964 adalah pada pengembangan daya cipta, rasa, karsa, karya, dan moral
(Panca wardhana). Mata pelajaran diklasifikasikan dalam lima kelompok bidang studi: moral,
kecerdasan, emosional/artistik, keterampilan, dan jasmaniah. Pendidikan dasar lebih menekankan
pada pengetahuan dan kegiatan fungsional praktis. Pada kurikulum 1964 ini, arah pendidikan mulai
merambah lingkup praksis. Dalam pengertian bahwa setiap pelajaran yang diajarkan disekolah
dapat berkorelasi positif dengan fungsional praksis siswa dalam masyarakat.

7
2. Pendidikan Pada Masa Orde Baru
Orde baru berlangsung dari tahun 1968 hingga 1998, dan dapat dikatakan sebagai era
pembangunan nasional. Dalam bidang pembangunan pendidikan, khususnya pendidikan dasar,
terjadi suatu loncatan yang sangat signifikan dengan adanya Instruksi Presiden (Inpres) Pendidikan
Dasar. Namun, yang disayangkan adalah pengaplikasian inpres ini hanya berlangsung dari segi
kuantitas tanpa diimbangi dengan perkembangan kualitas. Yang terpenting pada masa ini adalah
menciptakan lulusan terdidik sebanyak-banyaknya tanpa memperhatikan kualitas pengajaran dan
hasil didikan.
Pelaksanaan pendidikan pada masa orde baru ternyata banyak menemukan kendala, karena
pendidikan orde baru mengusung ideologi keseragaman sehingga memampatkan kemajuan dalam
bidang pendidikan. EBTANAS, UMPTN, menjadi seleksi penyeragaman intelektualitas peserta
didik.
Pada pendidikan orde baru kesetaran dalam pendidikan tidak dapat diciptakan karena unsur
dominatif dan submisif masih sangat kental dalam pola pendidikan orde baru. Pada masa ini,
peserta didik diberikan beban materi pelajaran yang banyak dan berat tanpa memperhatikan
keterbatasan alokasi kepentingan dengan faktor-faktor kurikulum yang lain untuk menjadi peka
terhadap lingkungan. Beberapa hal negatif lain yang tercipta pada masa ini adalah:
1) Produk-produk pendidikan diarahkan untuk menjadi pekerja. Sehingga, berimplikasi pada
hilangnya eksistensi manusia yang hidup dengan akal pikirannya (tidak memanusiakan
manusia).
2) Lahirnya kaum terdidik yang tumpul akan kepekaan sosial, dan banyaknya anak muda yang
berpikiran positivistic.
3) Hilangnya kebebasan berpendapat.
Pemerintah orde baru yang dipimpin oleh Soeharto mengedepankan motto membangun
manusia Indonesia seutuhnya dan Masyarakat Indonesia. Pada masa ini seluruh bentuk pendidikan
ditujukkan untuk memenuhi hasrat penguasa, terutama untuk pembangunan nasional. Siswa sebagai
peserta didik, di didik untuk menjadi manusia pekerja yang kelak akan berperan sebagai alat
penguasa dalam menentukan arah kebijakan negara. Pendidikan bukan ditujukan untuk
mempertahankan eksistensi manusia, namun untuk mengeksploitasi intelektualitas mereka demi
hasrat kepentingan penguasa.
Kurikulum-kurikulum yang digunakan pada masa orde baru yaitu sebagai berikut:
a) Kurikulum 1968
Kurikulum 1968 menekankan pendekatan organisasi materi pelajaran: kelompok pembinaan
Pancasila, pengetahuan dasar, dan kecakapan khusus. Muatan materi pelajaran bersifat teoritis,
tidak mengaitkan dengan permasalahan faktual di lapangan.
Pada masa ini siswa hanya berperan sebagai pribadi yang masif, dengan hanya menghapal teori-
teori yang ada, tanpa ada pengaplikasian dari teori tersebut. Aspek afektif dan psikomotorik tidak
ditonjolkan pada kurikulum ini. Praktis, kurikulum ini hanya menekankan pembentukkan peserta
didik hanya dari segi intelektualnya saja.
b) Kurikulum 1975
Kurikulum 1975 menekankan pada tujuan, agar pendidikan lebih efektif dan efisien berdasar
MBO (management by objective). Metode, materi, dan tujuan pengajaran dirinci dalam Prosedur
Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI), yang dikenal dengan istilah satuan pelajaran, yaitu
rencana pelajaran setiap satuan bahasan. Setiap satuan pelajaran dirinci menjadi : tujuan
instruksional umum (TIU), tujuan instruksional khusus (TIK), materi pelajaran, alat pelajaran,
kegiatan belajar-mengajar, dan evaluasi.
Pada kurikulum ini peran guru menjadi lebih penting, karena setiap guru wajib untuk membuat
rincian tujuan yang ingin dicapai selama proses belajar-mengajar berlangsung. Tiap guru harus
detail dalam perencanaan pelaksanaan program belajar mengajar. Setiap tatap muka telah di atur
dan dijadwalkan sedari awal. Dengan kurikulum ini semua proses belajar mengajar menjadi
sistematis dan bertahap.
8
c) Kurikulum 1984
Kurikulum 1984 mengusung process skill approach. Proses menjadi lebih penting dalam
pelaksanaan pendidikan. Peran siswa dalam kurikulum ini menjadi mengamati sesuatu,
mengelompokkan, mendiskusikan, hingga melaporkan. Model ini disebut Cara Belajar Siswa Aktif
(CBSA) atau Student Active Leaming (SAL). CBSA memposisikan guru sebagai fasilitator,
sehingga bentuk kegiatan ceramah tidak lagi ditemukan dalam kurikulum ini. Pada kurikulum ini
siswa diposisikan sebagai subjek dalam proses belajar mengajar. Siswa juga diperankan dalam
pembentukkan suatu pengetahuan dengan diberi kesempatan untuk mengemukakan pendapat,
bertanya, dan mendiskusikan sesuatu.
d) Kurilukum 1994
Kurikulum 1994 merupakan hasil upaya untuk memadukan kurikulum-kurikulum sebelumnya,
terutama kurikulum 1975 dan 1984. Pada kurikulum ini bentuk opresi kepada siswa mulai terjadi
dengan beratnya beban belajar siswa, dari muatan nasional sampai muatan lokal. Materi muatan
lokal disesuaikan dengan kebutuhan daerah masing-masing, misalnya bahasa daerah kesenian,
keterampilan daerah, dan lain-lain.
Berbagai kepentingan kelompok-kelompok masyarakat juga mendesak agar isu-isu tertentu
masuk dalam kurikulum. Akhirnya, Kurikulum 1994 menjelma menjadi kurikulum super padat.
Siswa dihadapkan dengan banyaknya beban belajar yang harus mereka tuntaskan, dan mereka tidak
memiliki pilihan untuk menerima atau tidak terhadap banyaknya beban belajar yang harus mereka
hadapi.

3. Pendidikan Pada Masa Reformasi


Era reformasi telah memberikan ruang yang cukup besar bagi perumusan kebijakan-kebijakan
pendidikan baru yang bersifat reformatif dan revolusioner. Bentuk kurikulum menjadi berbasis
kompetensi. Begitu pula bentuk pelaksanaan pendidikan berubah dari sentralistik (orde lama)
menjadi desentralistik. Pada masa ini pemerintah menjalankan amanat UUD 1945 dengan
memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya 20% dari anggaran pendapatan belanja
negara.
Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya dua puluh persen (20%)
dari anggaran pendapatan dan belanja negara, serta dari anggaran pendapatan dan belanja daerah
untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional.
Dengan didasarkan oleh UU No. 22 tahun 1999 tentang pemerintahan daerah, yang diperkuat
dengan UU No. 25 tahun 1999 tentang perimbangan keuangan pusat dan daerah, maka pendidikan
digiring pada pengembangan lokalitas, di mana keberagaman sangat diperhatikan. Masyarakat dapat
berperan aktif dalam pelaksanaan satuan pendidikan.
Pendidikan di era reformasi 1999 mengubah wajah sistem pendidikan Indonesia melalui UU No
22 tahun 1999, dengan ini pendidikan menjadi sektor pembangunan yang didesentralisasikan.
Pemerintah memperkenalkan model Manajemen Berbasis Sekolah. Sementara untuk
mengimbangi kebutuhan akan sumber daya manusia yang berkualitas, maka dibuat sistem
Kurikulum Berbasis Kompetensi.
Memasuki tahun 2003 pemerintah membuat UU No.20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan
nasional menggantikan UU No 2 tahun 1989., dan sejak saat itu pendidikan dipahami sebagai:
usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar
peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual
keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang
diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.
Pendidikan di masa reformasi juga belum sepenuhnya dikatakan berhasil. Karena, pemerintah
belum memberikan kebebasan sepenuhnya untuk mendesain pendidikan sesuai dengan kebutuhan
dan kepentingan lokal, misalnya penentuan kelulusan siswa masih diatur dan ditentukan oleh
pemerintah. Walaupun telah ada aturan yang mengatur posisi siswa sebagai subjek yang setara
dengan guru, namun dalam pengaplikasiannya, guru masih menjadi pihak yang dominan dan
9
mendominasi siswanya, sehingga dapat dikatakan bahwa pelaksanaan proses pendidikan Indonesia
masih jauh dari dikatakan untuk memperjuangkan hak-hak siswa.
Ada beberapa kesalahan dalam pengelolaan pendidikan pada masa ini, telah melahirkan
hasilnya yang pahit yakni:
1) Angkatan kerja yang tidak bisa berkompetisi dalam lapangan kerja pasar global.
2) Birokrasi yang lamban, korup dan tidak kreatif.
3) Masyarakat luas yang mudah bertindak anarkis.
4) Sumberdaya alam (terutama hutan) yang rusak parah.
5) Hutang Luar Negeri yang tak tertanggungkan.
6) Merajalelanya tokoh-tokoh pemimpin yang rendah moralnya.
Adapun kurikulum-kurikulum yang dipakai pada masa reformasi yaitu sebagai berikut:
a) Kurikulum Berbasis Kompetensi
Pada pelaksanaan kurikulum ini, posisi siswa kembali ditempatkan sebagai subjek dalam
proses pendidikan dengan terbukanya ruang diskusi untuk memperoleh suatu pengetahuan. Siswa
justru dituntut untuk aktif dalam memperoleh informasi. Kembali peran guru diposisikan sebagai
fasilitator dalam perolehan suatu informasi.
Kegiatan pembelajaran menggunakan pendekatan dan metode yang bervariasi, sumber belajar
bukan hanya guru, tetapi juga sumber belajar lainnya yang memenuhi unsur edukatif. Hal ini mutlak
diperlukan mengingat KBK juga memiliki visi untuk memperhatikan aspek afektif dan
psikomotorik siswa sebagai subjek pendidikan. Berikut karakteristik utama KBK, yaitu:
1. Menekankan pencapaian kompetensi siswa, bukan tuntasnya materi.
2. Kurikulum dapat diperluas, diperdalam, dan disesuaikan dengan potensi siswa (normal, sedang,
dan tinggi).
3. Berpusat pada siswa.
4. Orientasi pada proses dan hasil.
5. Pendekatan dan metode yang digunakan beragam dan bersifat kontekstual.
6. Guru bukan satu-satunya sumber ilmu pengetahuan.
7. Buku pelajaran bukan satu-satunya sumber belajar.
8. Belajar sepanjang hayat;
9. Belajar mengetahui (learning how to know),
10. Belajar melakukan (learning how to do),
11. Belajar menjadi diri sendiri (learning how to be),
12. Belajar hidup dalam keberagaman (learning how to live together).

b) Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006


Secara umum KTSP tidak jauh berbeda dengan KBK namun perbedaan yang menonjol
terletak pada kewenangan dalam penyusunannya, yaitu mengacu pada desentralisasi sistem
pendidikan. Pemerintah pusat menetapkan standar kompetensi dan kompetensi dasar, sedangkan
sekolah dalam hal ini guru dituntut untuk mampu mengembangkan dalam bentuk silabus dan
penilaiannya sesuai dengan kondisi sekolah dan daerahnya.
Jadi pada kurikulum ini sekolah sebagai satuan pendidikan berhak untuk menyusun dan
membuat silabus pendidikan sesuai dengan kepentingan siswa dan kepentingan lingkungan. KTSP
lebih mendorong pada lokalitas pendidikan. Karena KTSP berdasar pada pelaksanaan KBK, maka
siswa juga diberikan kesempatan untuk memperoleh pengetahuan secara terbuka berdasarkan sistem
ataupun silabus yang telah ditetapkan oleh masing-masing sekolah.
Dalam kurikulum ini, unsur pendidikan dikembalikan kepada tempatnya semula yaitu unsur
teoritis dan praksis. Namun, dalam kurikulum ini unsur praksis lebih ditekankan dari pada unsur
teoritis. Setiap kebijakan yang dibuat oleh satuan terkecil pendidikan dalam menentukan metode
pembelajaran dan jenis mata ajar disesuaikan dengan kebutuhan siswa dan lingkungan sekitar.

10
C. Pendidikan di Indonesia Setelah Kemerdekaan
1. Tujuan dan Kurikulum Pendidikan di Indonesia
Dalam kurun waktu 1945-1969, tujuan pendidikan nasional Indonesia mengalami 5 kali
perubahan, mengikuti perubahan dalam suasana kehidupan berbangsa kita. Sebagaimana tertuang
dalam Surat Keputusan Menteri Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan (PP & K), Mr. Suwandi,
tanggal 1 Maret 1946 ,tujuan pendidikan nasional pada masa awal kemerdekaan sangat menekankan
penanaman jiwa patriotisme hal ini dapat dipahami, maka penanaman jiwa patriotisme melalui
pendidikan dianggap merupakan jawaban guna mempertahankan Negara yang baru
diproklamasikan. Antisipasi tersebut kemudian terbukti benar dengan terjadinya agresi Balanda
terhadap Negara berdaulat Republik Indonesia.
Sejalan dengan perubahan suasana kehidupan kebangsaan, tujuan pendidikan nasional Indonesia
pun mengalami perluasan, tidak lagi semata-mata menekankan jiwa patriotisme. Dalam Undang-
Undang No. 4/1950 tentang dasar-dasar pendidikan dan pengajaran di sekolah, Sehingga
pendidikan dan pengajaran berdasar asas-asas yang termaktub dalam pancasila, Undang-Undang
Dasar Negara Republik Indonesia dan asas kebudayaan bangsa Indonesia. Rumusan tujuan yang
sama diulang lagi dalam Undang-Undang No. 12/1954 yang berlaku untuk seluruh wilayah RI.
Perubahan tujuan pendidikan nasional tersebut berimplikasi pada perubahan kurikulum yang
saat itu disebut rencana pelajaran. Kurikulum yang semula berorientasi pada kepentingan colonial
Belanda diubah sesuai dengan kebutuhan bangsa Indonesia yang telah merdeka. Kurikulum sekolah
pada masa-masa awal kemerdekaan dan tahun 1950-an ditujukan untuk :
a. Meningkatkan kesadaran bernegara dan bermasyarakat.
b. Meningkatkan pendidikan jasmani.
c. Meningkatkan pendidikan watak.
d. Memberikan perhatian pada kesenian.
e. Menghubungkan isi pelajaran dengan kehidupan sehari-hari, dan
f. Mengurangi pendidikan pikiran.
Mengurangi pendidikan pemikiran pada dasarnya merupakan reaksi terhadap pendidikan
kolonial yang amat menekankan aspek intelektualitas dan mengabaikan pendidikan watak.
Dibawah pengaruh Manipol-Usdek, pada tahun 1965 rumusan tujuan pendidikan nasional
mengalami perubahan. Dalam keputusan Presiden No.145 tahun 1965 tentang nama dan Rumusan
Induk Sistem Pendidikan Nasional dikemukakan rumusan tujuan pendidikan nasional kemudian
diperluas dan dipertajam dalam GBHN 1973
Rumusan yang tertuang dalam GBHN 1973 substansinya terus dipertahankan dengan hanya
mengalami sedikit perubahan, yaitu berupa penambahan sifat manusia Indonesia yang hendak
dibangun melalui pendidikan hingga GBHN 1998. Dengan substansi yang sama meskipun
rumusannya agak berbeda, tujuan tersebut juga tertuang dalam UU No. 2 /1989 tentang system
pendidikan nasional.
2. Sistem Persekolahan
Sistem persekolahan yang berlaku di Indonesia pada masa awal kemerdekaan meliputi 3
tingkatan, yaitu pendidikan rendah, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi.
Sistem persekolahan tersebut terus dipertahankan hingga tahun 1980-an. Akhir tahun 1960-an,
kalaupun terjadi perubahan, hal itu lebih pada bentuk kelembagaannya. Misalnya dihapuskannya
SGB, diubahnya SGA menjadi SPG, dan lebih dikembangkannya jenis-jenis sekolah menengah
kejuruan. Setelah berlakunya UU No 2/1989 tentang system pendidikan nasional diadakan
perubahan, antara lain bahwa Pendidikan Dasar merupakan pendidikan umum yang lamanya 6
tahun di SD dan 3 tahun di SLTP. Jadi SLTP merupakan pendidikan umum, sehingga akibatnya
sekolah pertama kejuruan dilebur menjadi SLTP.
Perkembangan lain yang penting dicatat pada era 1945-1969 ialah berdirinya 42 Perguruan
Tinggi Negeri berupa universitas, institute, dan sekolah tinggi yang umumnya terletak di ibukota
propinsi, sehingga kurun waktu tersebut dapat dikatakan sebagai era pertumbuhan PTN.

11
3. Perkembangan Jumlah Siswa
Berbeda dengan pada zaman kolonial Belanda yang membedakan kesempatan belajar atas dasar
ras dan asal-usul keturunan, pada zaman kemerdekaan kesempatan belajar dibuka untuk semua
orang, baik melalui jalur sekolah maupun luar sekolah. Hal ini sejalan dengan bunyi pasal 31 ayat 1
UUD 1945 bahwa tiap-tiap warga Negara berhak mendapatkan pengajaran. Dalam UU
Pendidikan No. 4/1950 dan UU No. 12/1954, pasal 17, disebutkan bahwa, tiap-tiap warga Negara
republic Indonesia mempunyai hak yang sama untuk diterima menjadi murid suatu sekolah jika
memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan untuk pendidikan dan pengajaran pada sekolah itu.
Ciri yang menonjol diawal kemerdekaan ialah tingginya motivasi belajar para siswa yang
usianya amat beragam, meskipun sarana yang tersedia hanya seadanya. pada tanggal 1 Juni 1946
dibentuk Bagian Pendidikan Masyarakat pada Kementerian Pendidikan, Pengajaran, dan
kebudayaan yang bertugas:
1) Memberantas buta huruf,
2) Menyelenggarakan kursus pengetahuan umum, dan
3) Mengembangkan perpustakaan rakyat

D. Pioner Pendidikan Indonesia


1. Raden Mas Soewardi Soeryaningrat
Terlahir pada 2 Mei 1889 dengan nama Raden Mas Soewardi Soeryaningrat telah menunjukkan
bahwa beliau adalah salah seorang yang berasal dari lingkungan keluarga keraton yaitu Keraton
Yogyakarta. Saat genap berusia 40 tahun, Raden Mas Soewardi Soeryaningrat berganti nama
menjadi Ki Hadjar Dewantara. Semenjak saat itu, ia tidak lagi menggunakan gelar kebangsawanan
di depan namanya dengan tujuan supaya ia dapat bebas dekat dengan rakyat, baik secara fisik
maupun hatinya.
Berasal dari lingkungan Keraton Yogyakarta membuat Ki Hajar Dewantara kecil mendapatkan
hak khusus yang tidak didapat anak-anak seusianya dari kalangan rakyat biasa pada saat itu, yaitu
hak untuk mengenyam pendidikan sekolah. Saat itu sekolah yang ada hanyalah sekolah-sekolah
yang didirikan oleh Belanda sehingga semua kurikulumnya menggunakan kurikulum Barat. Beliau
menempuh Sekolah Dasar di ELS (Sekolah Dasar Belanda) lalu melanjutkan ke Sekolah Dokter
Bumiputera (STOVIA) namun tidak tamat.
Tidak berhasil menyelesaikan pendidikannya di STOVIA, tidak membuat Ki Hajar Dewantara
vakum, beliaupun mulai menulis untuk beberapa surat kabar. Meskipun sempat mengenyam
pendidikan barat, namun beliau dikenal sebagai seorang wartawan yang patriotik dan mampu
membangkitkan semangat antikolonial bagi pembacanya. Beliau terus menyindir Belanda melalui
tulisan-tulisannya. Tulisan-tulisan tersebut menyulut kemarahan Belanda, puncaknya terjadi saat Ki
Hajar Dewantara menulis sebuah tulisan yang sangat terkenal yaitu Seandainya Aku Seorang
Belanda (judul asli: Als ik eens Nederlander was), dimuat dalam surat kabar de Expres milik Dr.
Douwes Dekker, tahun 1913. Sebagian isinya adalah "Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak
akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang telah kita rampas sendiri
kemerdekaannya". Artikel ini ditulis sebagai protes atas rencana pemerintah Belanda untuk
mengumpulkan sumbangan dari Hindia Belanda (Indonesia), yang saat itu masih belum merdeka,
untuk perayaan kemerdekaan Belanda dari Perancis. Tulisan ini membuat Belanda melalui
Gubernur Jendral Idenburg memerintahkan agar Ki Hajar Dewantara di asingkan ke Pulau Bangka
tanpa proses peradilan terlebih dahulu. Atas lobi dari kedua rekannya yang juga mengalami
hukuman pengasingan yaitu dr. Douwes Dekker dan dr. Cipto Mangoenkoesoemo, pengasingan
mereka diaihkan ke negeri Belanda, konon mereka mengajukan diasingkan ke Belanda agar bisa
mempelajari banyak hal agar kelak bermanfaat. Masa pengasinganpun dimulai sejak Agustus 1913,
masa-masa tersebut tidak disia-siakan oleh Ki Hajar Dewantara untuk mendalami bidang
pendidikan dan pengajaran, hingga akhirnya memperoleh sertifikat Europeesche Akte.

12
Sekembalinya ke tanah air pada tahun 1918, Ki Hajar Dewantara mencurahkan perhatiannya di
bidang pendidikan. Bersama rekan-rekan seperjuangannya lainnya, Ki Hajar mendirikan Nationaal
Onderwijs Instituut Tamansiswa atau lebih dikenal dengan Perguruan Nasional Tamansiswa pada 3
Juli 1922. Taman Siswa merupakan sebuah perguruan/sekolah untuk kaum pribumi yang bercorak
nasional yang menekankan rasa kebangsaan dan cinta tanah air serta semangat berjuang untuk
memperoleh kemerdekaan. Prinsip yang ditanamkan dalam Taman Siswa adalah ing ngarsa sung
tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani yang berarti seorang guru di depan harus bisa
menjadi teladan, di tengah harus bisa membangun semangat dan berinisiatif serta di belakang harus
bisa memberikan semangat dan dukungan bagi muridnya.
Perjuangan Ki Hajar Dewantara tak hanya melalui Taman siswa, sebagai penulis, Ki Hajar
Dewantara tetap produktif menulis untuk berbagai surat kabar. Hanya saja kali ini tulisannya tidak
bernuansa politik, namun beralih ke bidang pendidikan dan kebudayaan. Tulisan Ki Hajar
Dewantara berisi konsep-konsep pendidikan dan kebudayaan yang berwawasan kebangsaan.
Melalui konsep-konsep itulah dia berhasil meletakkan dasar-dasar pendidikan nasional bagi bangsa
Indonesia.
Setelah Indonesia merdeka, Beliau kemudian dipercaya sebagai Menteri Pendidikan, Pengajaran
dan Kebudayaan yang pertama di negri ini. Nama Ki Hadjar Dewantara bukan saja diabadikan
sebagai seorang tokoh dan pahlawan pendidikan (bapak Pendidikan Nasional) yang tanggal
kelahirannya 2 Mei dijadikan hari Pendidikan Nasional, tetapi juga ditetapkan sebagai Pahlawan
Pergerakan Nasional melalui surat keputusan Presiden RI No.305 Tahun 1959, tanggal 28
November 1959. Penghargaan lain yang diterimanya adalah gelar Doctor Honoris Causa dari
Universitas Gajah Mada pada tahun 1957. Dua tahun setelah mendapat gelar Doctor Honoris Causa
itu, ia meninggal dunia pada tanggal 28 April 1959 di Yogyakarta dan dimakamkan di sana.

2. Raden Ajeng Kartini


Raden Adjeng Kartini atau sebenarnya lebih tepat disebut Raden Ayu Kartini, (Jepara, 21 April
1879 Rembang, 17 September 1904) lahir dari keluarga ningrat Jawa. Sampai usia 12 tahun,
Kartini diperbolehkan bersekolah di ELS (Europese Lagere School). Tetapi setelah usia 12 tahun,
keadaan budaya dan sosial lingkungan di sekitarnya memaksanya tinggal di rumah atau dipingit.
Meskipun beliau tidak bisa kemana-mana termasuk keluar ke teras rumah, namun Kartini tidak
patah arang untuk terus belajar. Dengan kemampuan Bahasa Belanda yang didapatnya selama
sekolah di ELS, maka di rumah ia mulai belajar sendiri dan menulis surat kepada teman-teman
korespondensi yang berasal dari Belanda, salah satunya adalah Rosa Abendanon yang banyak
mendukungnya.
Dari buku-buku, koran, dan majalah Eropa, Kartini tertarik pada kemajuan berpikir perempuan
Eropa hingga akhirnya, beliau tergerak untuk memajukan perempuan pribumi, mendobrak keadaan
yang sangat mengungkung dan mengekang bahkan Kartini ingin mengangkat status sosial
perempuan yang sangat rendah pada saat itu.
Kartini banyak membaca surat kabar Semarang De Locomotief yang diasuh Pieter Brooshooft,
ia juga menerima leestrommel (paket majalah yang diedarkan toko buku kepada langganan). Di
antaranya terdapat majalah kebudayaan dan ilmu pengetahuan yang isinya cukup berat, juga ada
majalah wanita Belanda De Hollandsche Lelie. Kartini pun kemudian beberapa kali mengirimkan
tulisannya dan dimuat di De Hollandsche Lelie. Dari surat-suratnya tampak Kartini membaca apa
saja dengan penuh perhatian, sambil membuat catatan-catatan. Perhatiannya tidak hanya semata-
mata soal emansipasi wanita, tapi juga masalah sosial umum. Kartini melihat perjuangan wanita
agar memperoleh kebebasan, otonomi dan persamaan hukum sebagai bagian dari gerakan yang
lebih luas. Oleh orangtuanya, Kartini disuruh menikah dengan bupati Rembang, Raden Adipati
Joyodiningrat. Kartini menikah pada tanggal 12 November 1903. Suaminya mengerti keinginan
Kartini dan Kartini diberi kebebasan dan didukung mendirikan sekolah wanita di sebelah timur
pintu gerbang kompleks kantor kabupaten Rembang, atau di sebuah bangunan yang kini digunakan
sebagai Gedung Pramuka.
13
Berkat kegigihan Kartini, kemudian didirikan Sekolah Wanita oleh Yayasan Kartini di
Semarang pada 1912, dan kemudian di Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon dan
daerah lainnya. Nama sekolah tersebut adalah Sekolah Kartini. Yayasan Kartini ini didirikan oleh
keluarga Van Deventer, seorang tokoh Politik Etis. Selain itu atas buah pemikiran dan kerja keras
Kartini, sekarang perempuan memiliki kedudukan yang sejajar dengan kaum pria baik dalam
pendidikan, politik, karir, dan lain-lain.
Presiden Soekarno mengeluarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964,
tanggal 2 Mei 1964, yang menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional sekaligus
menetapkan hari lahir Kartini, tanggal 21 April, untuk diperingati setiap tahun sebagai hari besar
yang kemudian dikenal sebagai Hari Kartini.
Setelah Kartini wafat, Mr. J.H. Abendanon mengumpulkan dan membukukan surat-surat yang
pernah dikirimkan R.A Kartini pada para teman-temannya di Eropa. Abendanon saat itu menjabat
sebagai Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda. Buku itu diberi judul Door
Duisternis tot Licht yang artinya Habis Gelap Terbitlah Terang. Buku kumpulan surat Kartini ini
diterbitkan pada 1911. Buku ini dicetak sebanyak lima kali, dan pada cetakan terakhir terdapat
tambahan surat Kartini. Dalam bahasa Inggris, surat-surat Kartini juga pernah diterjemahkan oleh
Agnes L. Symmers.
Terbitnya surat-surat Kartini, seorang perempuan pribumi, sangat menarik perhatian masyarakat
Belanda, dan pemikiran-pemikiran Kartini mulai mengubah pandangan masyarakat Belanda
terhadap perempuan pribumi di Jawa. Pemikiran-pemikiran Kartini yang tertuang dalam surat-
suratnya juga menjadi inspirasi bagi tokoh-tokoh kebangkitan nasional Indonesia.

3. Raden Dewi Sartika


Dewi Sartika dilahirkan dari keluarga priyayi Sunda, Nyi Raden Rajapermas dan Raden
Somanagara. Meski melanggar adat saat itu, orang tuanya bersikukuh menyekolahkan Dewi Sartika,
ke sekolah Belanda. Sepeninggal ayahnya, Dewi Sartika dirawat oleh pamannya (kakak ibunya)
yang berkedudukan sebagai patih di Cicalengka. Dari pamannya, beliau mendapatkan didikan
mengenai kesundaan, sedangkan wawasan kebudayaan Barat diperolehnya dari didikan seorang
nyonya Asisten Residen bangsa Belanda.
Sejak 1902, Dewi Sartika sudah merintis pendidikan bagi kaum perempuan. Di sebuah ruangan
kecil, di belakang rumah ibunya di Bandung, Dewi Sartika mengajar di hadapan anggota
keluarganya yang perempuan. Merenda, memasak, jahit-menjahit, membaca, menulis, dan
sebagainya, menjadi materi pelajaran saat itu. Setelah berkonsultasi dengan Bupati R.A.
Martenagara, pada 16 Januari 1904, Dewi Sartika membuka Sakola Istri (Sekolah Perempuan).
Tenaga pengajarnya tiga orang; Dewi Sartika dibantu dua sepupunya, Ny. Poerwa dan Nyi. Oewid.
Murid-murid angkatan pertamanya terdiri dari 20 orang yang belajar di ruangan pendopo kabupaten
Bandung. Setahun kemudian, 1905, sekolahnya menambah kelas, sehingga kemudian pindah ke
Jalan Ciguriang, Kebon Cau. Lokasi baru ini dibeli Dewi Sartika dengan uang tabungan pribadinya,
serta bantuan dana pribadi dari Bupati Bandung. Lulusan pertama keluar pada tahun 1909,
membuktikan kepada bangsa kita bahwa perempuan memiliki kemampuan yang tak ada bedanya
dengan laki-laki. Tahun 1910, menggunakan hartanya pribadi, sekolahnya diperbaiki lagi sehingga
bisa lebih mememuhi syarat kelengkapan sekolah formal.

4. Hasyim Asyari
Gagasan Hasyim Asyari adalah bahwa untuk berjuang mewujudkan cita-cita nasional termasuk
dalam bidang pendidikan, diperlukan wadah berupa organisasi pada tahun 1926 ia mendirikan
Jamiyah Nahdlatul Ulama, dalam organisasi ini Hasyim Asyari berjuang membina dan
menggerakkan masyarakat melalui pendidikan. Beliau juga mendirikan pondok pesantren sebagai
basis pendidikan dan perjuangan melawan Belanda.

14
5. K.H. Ahmad Dahlan
Selain itu, Ahmad Dahlan juga berpandangan bahwa pendidikan harus membekali siswa dengan
pengetahuan dan ketrampilan yang diperlukan untuk mencapai kehidupan dunia. Oleh karena itu,
pendidikan yang baik adalah pendidikan yang sesuai dengan tuntutan masyarakat dimana siswa itu
hidup. Dengan pendapatnya yang demikian itu, sesungguhnya Ahmad Dahlan mengkritik kaum
tradisionalis yang menjalankan model pendidikan yang diwarisi secara turun temurun tanpa
mencoba melihat relevansinya dengan perkembangan zaman.
Ahmad Dahlan sadar, bahwa tingkat partisipasi muslim yang rendah dalam sektor-sektor
pemerintahan itu karena kebijakan pemerintah kolonial yang menutup peluang bagi muslim untuk
masuk. Berkaitan dengan kenyataan serupa ini, maka Ahmad Dahlan berusaha memperbaikinya
dengan memberikan pencerahan tentang pentingnya pendidikan yang sesuai perkembangan zaman
bagi kemajuan bangsa. Berkaitan dengan masalah ini Ahmad Dahlan mengutip ayat 13 surat al-
Rad yang artinya: Sesungguhnya Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum, sehingga mereka
mengubah apa yang ada pada diri mereka.
Upaya mewujudkan visi, misi dan tujuan pendidikan sebagaimana tersebut di atas dilaksanakan
lebih lanjut melalui organisasi Muhammadiyah yang didirikannya. Salah satu kegiatan atau program
unggulan organisasi ini adalah bidang pendidikan. Sekolah Muhammadiyah yang pertama berdiri
satu tahun sebelum Muhammadiyah sebagai sebuah organisasi berdiri. Pada tahun 1911 Ahmad
Dahlan mendirikan sebuah madrasah yang diharapkan bisa memenuhi kebutuhan kaum muslimin
terhadap pendidikan agama dan pada saat yang sama bisa memberikan mata pelajaran umum.
6. Mohammad Syafei
Mohammad Syafei lahir tahun 1893 di Ketapang (Kalimantan Barat) dan diangkat jadi anak
oleh Ibarahim Marah Sutan dan ibunya Andung Chalijah,kemudian dibawah pindah ke Sumatra
Barat dan menetap Bukit Tinggi.Marah Sutan adalah seorang pendidik dan inteletual ternama.Dia
sudah mengajar diberbagai daerah di nusantara,pindah ke Batavia pada tahun1912 dan disini aktif
dalam kegiatan penertiban dan Indische Partij.Pendidikan yang ditempuh Moh.Syafei adalah
sekolah raja di Bukit tinggi,dan kemudian belajar melukis di Batavia (kini Jakarta),sambil mengajar
disekolah Kartini.Pada tahun 1922 Moh.Syafei menuntut ilmu di Negeri Belanda dengan biaya
sendiri.Disini ia bergabung dengan Perhimpunan Indonesia ,sebagai ketua seksi pendidikan
.Dinegeri Belanda ini ia akrab dengan Moh.Hatta,yang memiliki banyak kesamaan dan karakteristik
dan gagagasan dengannya,terutama tentang pendidikan bagi pengembangan nasionalisme di
Indonesia.Dia berpendapat bahwa agar gerakan nasionalis dapat berhasil dalam menentang
penjajahan Belanda,maka pendidikan raktyat haruslah diperluas dan diperdalam.
Semasa di negeri Belanda ia pernah ditawari untuk mengajar dan menduduki jabatan disekolah
pemerintah.Tapi Syafei menolak dan kembali ke Sumatara Barat pada tahun1925.Ia bertekad
bertekad mendirikan sebuah sekolah yang dapat mengembangkan bakat murid-muridnya dan
disesuaikan dengan kebutuhan rakyat Indonesia,baik yang hidup dikota maupun dipedalaman.

E. Keunggulan dan Kelemahan dari Tiap Masa


1. Pada Masa Hindu-Budha
Keunggulan :
a. Pendidikannya sudah lebih maju dibandingkan dengan pendidikan zaman purba (tidak
hanya mempelajarai cara untuk bertahan hidup).
b. Sudah mengenal agama (hindu-budha).
c. Sudah mengenal kitab-kitab (sebagai bahan belajar yang lebih luas).
d. Pendidikan tidak hanya diajarkan dengan orang tua, namun diajarkan oleh guru yaitu guru
pertapa dan guru keratin.
Kelemahan :
a. Adanya masyarakat feodal yaitu raja dengan pegawai-pegawainya yang dijamin dan rakyat
yang menjamin.

15
b. Adanya kasta brahmana, ksatria, waisya dan sudra sehingga rakyat yang memiliki kasta
sudra tidak akan bisa pindah ke brahmana begitupun sebaliknya.
c. Yang bisa mengenyam pendidikan dengan layak hanya anak golongan pra raja-raja saja.
d. Bersifat tidak formal, dimana murid dapat berpindah dari satu guru ke guru yang lain.
2. Pada Masa Islam
Keunggulan :
a. Pendidikan islam diajarkan dengan jalan damai (tidak memaksa) dan mengakulturasi
kebiasaan masyarakat lama Indonesia seperti kebiasaan zaman purba atau hindu-budha
namun diberi unsur islaminya.
b. Islam mewajibkan setiap umat memiliki pendidikan islami, karena dalam islam menuntut
ilmu sebuah kewajiban.
c. Menunjukan bahwa sesudah kehidupan dunia, ada kehidupan yang lebih kekal yaitu
kehidupan akhirat.
d. Islam terbuka dan tidak mengenal perbedaan. Jadi pendidikan dapat dimiliki oleh siapa saja
baik itu laki-laki, perempuan, kaya, miskin dll.
e. Setelah tamat dari pesantren santri-santri bisa pulang kekampungnya masing-masing dan
menyebarkan ilmu agama yang telah diperolehnya.
Kelemahan :
a. Lebih kearah pendidikan islam jadi pendidikan umumnya sangat sedikit.
b. Walaupun seharusnya tidak boleh ada kasta atau perbedaannya, namun dalam faktanya
pendidikan islam memiliki perbedaan antara kaum wanita dan laki-laki. Wanita
pendidikannya hanya bersifat khusus dan mengenai urusan wanita, sedangkan laki-laki
pendidikannya lebih luas dan bersifat umum.
3. Pendidikan Masa Kolonial Belanda
Keunggulan :
a. Kurikulum yang terus meningkat membuat pendidikan semakin baik.
b. Biroksi colonial Belanda semakin lengkap.
Kelemahan :
a. Bahasa Belanda masih menjadi bahasa pengantar.
b. Masih memandang kelas atas dan kelas bawah.
c. Sulitnya kaum pribumi untuk menaiki tangga mobilitas social.
4. Pendidikan Masa Jepang
Keunggulan :
a. Sekolah rakyat 6 tahun
b. Bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar
c. Senam pagi : taiso
Kelemahan :
a. Kerja bakti; kinrohosi
b. Bahasa Inggris dilarang : pengetahuan sempit
c. Latihan kemiliteran/ baris-berbaris : kyoren
d. Romusha atau kerjapaksa yang sangat merugikan bagi bangsa Indonesia.
e. Banyak guru-guru yang dipekerjakan sebagai pejabat-pejabat pada masa itu yang
menyebabkan kemunduran standar pendidikan secara tajam.
5. Pendidikan Masa Orde Lama
Keunggulan :
a. Pendidikan merupakan hak semua orang, tanpa membandingkan kelas social.
b. Mampu mengekspor guru ke negara tetangga, dan banyak generasi muda yang disekolahkan
di luar negeri dengan tujuan agar mereka kelak dapat kembali ke tanah air untuk
mengaplikasikan ilmu yang telah mereka dapat.
c. Tidak ada halangan ekonomis yang merintangi seseorang untuk belajar di sekolah.

16
Keunggulan dan kelemahan masa orde lama
1) Kurikulum tahun 1947
Kelebihan :
Lebih menekankan pada pembentukan karakter manusia yang berdaulat dan sejajar dengan
bangsa lain.
Kelemahan :
Kurikulum pendidikan Indonesia masih dipengaruhi system pendidikan kolonial belanda dan
jepang.
2) Rencana Pelajaran Terurai 1952
Kelebihan:
Kurikulum ini sudah mengarah pada suatu system pendidikan nasional.
Kelemahan:
a. Masih kurangnya tenaga pengajar.
b. Tidak di dukung dengan fasilitas yang memadai.
3) Kurikulum 1968
Kelebihan:
a. Bertujuan pada pembentukan manusia pancasila sejati.
b. Struktur pendidikan dari pancawardhana menjadi pembinaan jiwa pancasila, pengetahuan
dasar, dan kecakapan khusus.
Kelemahan:
Muatan materi masing-masing mata pelajaran masih bersifat teoritis dan belum terikat erat
dengan keadaan nyata dalam lingkungan sekitar.
6. Pendidikan Masa Orde Baru
Keunggulan :
Pendidikan mengalami perkembangan yang sanyangat pesat.
Kelemahan :
a. Kekurangan tenaga kerja guru.
b. Kurangnya sarana dan prasarana pendidikan.
c. Sekolah begitu banyak namun tingkat kualitasnya mengalami penurunan,
d. Hilangnya kebebasan berpendapat.
Keunggulan dan kelemahan kurikulum pada masa orde baru :
1) Kurikulum 1968
Keunggulan :
a. Bertujuan pada pembentukan manusia pancasila sejati.
b. Struktur pendidikan dari pancawardhana menjadi pembinaan jiwa pancasila, pengetahuan
dasar, dan kecakapan khusus.
Kelemahan:
Muatan materi masing-masing mata pelajaran masih bersifat teoritis dan belum terikat erat
dengan keadaan nyata dalam lingkungan sekitar.
2) Kurikulum 1975
Keunggulan :
a. Menekankan pada pendidikan yang lebih efektif dan efisien dalam hal daya dan waktu.
b. Menganut sistem yang senantiasa mengarah kepada tercapainya tujuan yang spesifik,dapat
diukur dan dirumuskan dalam bentuk tingkah laku siswa.
Kelemahan :
Guru dibuat sibuk menulis rincian apa yang akan dicapai dari setiap kegiatan pembelajaran
3) Kurikulum 1984
Keunggulan :
Pendekatan pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk aktif terlibat secara
fisik, mental, intlektual dan emosional dengan harapan siswa memperoleh pengalaman belajar
secara maksimal, baik dalam ranah kognitif, afektif, maupun psikomotor.
17
Kelemahan :
a. Posisi siswa ditempatkan sebagai subjek belajar.
b. Banyak sekolah kurang mampu menafsirkan, yang terlihat adalah suasana gaduh di ruang
kelas lantaran siswa berdiskusi, di sana sini ada tempelan gambar, dan yang menyolok guru
tak lagi mengajar model berceramah.
4) Kurikulum 1994
Keunggulan :
a. Penggunaan strategi yang melibatkan siswa aktif dalam belajar, baik secara mental, fisik,
dan sosial.
b. Pengajaran dari hal yang konkret ke hal yang abstrak, dari hal yang mudah ke hal yang sulit,
dari hal yang sederhana ke hal yang kompleks.
Kelemahan :
a. Aspek yang di kedepankan dalam kurikulum 1994 terlalu padat.
b. Konsep pengajaran satu arah, dari guru ke murid.
c. Beban belajar siswa terlalu berat karena banyaknya mata pelajaran dan banyaknya materi/
substansi setiap mata pelajaran.
d. Materi pelajaran yang dianggap terlalu sukar karena kurang relevan dengan tingkat
perkembangan berpikir siswa, dan kurang bermakna karena kurang terkait dengan aplikasi
kehidupan sehari-hari.
e. Pengulangan-pengulangan materi yang dianggap sulit perlu dilakukan untuk pemantapan
pemahaman.

7. Pada Masa Reformasi


Keunggulan :
a. Adanya dana untuk sarana dan prasarana pendidikan.
b. Masyarakat dapat berperan aktif dalam pelaksanaan satuan pendidikan.
Kelemahan :
a. Pemerintah belum memberikan kebebasan sepenuhnya untuk mendesain pendidikan sesuai
dengan kebutuhan dan kepentingan lokal, misalnya penentuan kelulusan siswa masih diatur
dan ditentukan oleh pemerintah.
b. Masyarakat luas yang mudah bertindak anarkis.
c. Birokrasi yang lamban, korup dan tidak kreatif.
Keunggulan dan kelemahan kurikulum masa reformasi
1. Kurikulum Berbasis Kompetensi
Keunggulan :
a. Mengembangkan kompetensi-kompetensi siswa pada setiap aspek mata pelajaran dan
bukan pada penekanan penguasaan konten mata pelajaran itu sendiri
b. Mengembangkan pembelajaran yang berpusat pada siswa (student oriented). Siswa dapat
bergerak aktif secara fisik ketika belajar dengan memanfaatkan indra seoptimal mungkin
dan membuat seluruh tubuh serta pikiran terlibat dalam proses belajar.
c. Penilaian yang menekankan pada proses memungkinkan siswa untuk mengeksplorasi
kemampuannya secara optimal, dibandingkan dengan penilaian yang terfokus pada konten.
Kelemahan :
a. Paradigma guru dalam pembelajaran KBK masih seperti kurikulum-kurikulum sebelumnya
yang lebih pada teacher oriented
b. Kualitas guru, hal ini didasarkan pada statistik, 60% guru SD, 40% guru SLTP, 43% SMA,
34% SMK dianggap belum layak untuk mengajar di jenjang masing-masing. Selain itu
17,2% guru atau setara dengan 69.477 guru mengajar bukan bidang studinya. Kualitas
SDM kita adalah urutan 109 dari 179 negara berdasarkan Human Development Index.
c. Sarana dan pra sarana pendukung pembelajaran yang belum merata di setiap sekolah,
sehingga KBK tidak bisa diimplementasikan secara komprehensif.
18
d. Kebijakan pemerintah yang setengah hati, karena KBK dilaksanakan dengan uji coba di
beberapa sekolah mulai tahun pelajaran 2001/2002 tetapi tidak ada payung hukum tentang
pelaksanaan tersebut.
e. Konsep KBK sering mengalami perubahan termasuk pada urutan standar kompetensi dan
kompetensi dasar sehingga menyulitkan guru untuk merancang pembelajaran secara
berkelanjutan.
2. Kurikulum KTSP
Keunggulan:
a. Mendorong terwujudnya otonomi sekolah dalam penyelenggaraan pendidikan.
b. Mendorong para guru, kepala sekolah dan pihak manajemen sekolah semakin
meningkatkan kreativitasnya dalam penyelenggaraan program-program pendidikan.
c. KTSP sangat memungkinkan bagi setiap sekolah untuk menitikberatkan dan
mengembangkan mata pelajaran tertentu bagi kebutuhan siswa.
d. KTSP akan mengurangi beban belajar siswa yang sangat padat dang memberatkan kurang
lebih 20%.
e. KTSP memberikan peluang yang lebih luas kepada sekolah-sekolah plus untuk
mengembangkan kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan.
Kelemahan :
a. Kurangnya SDM yang diharapkan mampu menjabarkan KTSP pada kebanyakan satuan
pendidikan yang ada.
b. Kurangnya ketersediaan sarana dan prasarana pendukung sebagai kelengkapan dari
pelaksanaan KTSP.
c. Masih banyak guru yang belum memahami KTSP secara komprehensif baik konsepnya,
penyusunannya maupun prakteknya di lapangan.
d. Penerapan KTSP yang merekomendasikan pengurangan jam pelajaran akan berdampak
berkurang pendapatan guru.

19
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Pendidikan di Indonesia pada zaman sebelum kemerdekaan digolongkan dalam tiga periode,
yaitu pendidikan yang berlandaskan ajaran keagamaan, pendidikan yang berlandaskan
kepentingan penjajah dan pendidikan dalam rangka perjuangan kemerdekaan.
Setelah kemerdekaan, telah muncul system kurikulum, system persekolahan, dan juga sudah
banyak penduduk Indonesia yang mengenyam bangku sekolah.
Hal ini disebabkan oleh adanya pendidikan yang telah ada pada zaman-zaman dahulu. Yang
memberikan dasar-dasar tentang pendidikan, selain itu tokoh-tokoh yang berpengaruh dalam
dunia pendidikan.
Sistem pendidikan nasional di Indonesia pada zaman orde lama masih banyak dipengaruhi
oleh sistem pendidikan zaman Belanda. Dalam usahanya Ki hajar Dewantara sebagai Menteri
Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan mencoba merumuskan Sistem pendidikan nasional
yang berlandaskan budaya bangsa Indonesia sendiri demi mewujudkan bangsa yang terhormat
dan maju. Masa orde baru pendidikan hanya berlangsung dari segi kuantitas tanpa diimbangi
dengan perkembangan kualitas. Yang terpenting pada masa ini adalah menciptakan lulusan
terdidik sebanyak-banyaknya tanpa menghasilkan kualitas pengajaran dan hasil didikan.

B. Saran
Diharapkan agar semua elemen masyarakat indonesia dapat mengetahui lebih dalam tentang
pendidikan terutama sejarah pendidikan di indonesia. Dengan demikian kita dapat merasakan
perjuangan yang dulu telah di perjuangkan dan kita bisa meningkatkan mutu dari pendidikan
tersebut.

20
DAFTAR PUSTAKA

http://subhanfadjrin.blogspot.co.id/2013/11/sejarah-pendidikan-di-indonesia.html?m=1
http://reksisandika.blogspot.co.id/2013/03/sejarah-pendidikan-di-indonesia-sebelum.html?m=1
http://catatankhaerulsoleh.blogspot.co.id/2015/10/v-behaviorurldefaultvmlo.html?m=1
http://samplinngkuliah.blogspot.co.id/2017/04/pelopor-pendidikan-indonesia.html?m=1
http://madyrezan.blogspot.co.id/2015/01/pendidikan-masa-orde-lama-masa-orde.html?m=1
http://rochmatulummah1806.blogspot.co.id/2013/04/makalah-sejarah-pendidikan-di-
indonesia.html?m=1
http://erwan-jwi.blogspot.co.id/2012/04/pendidika-pada-masa-kemerdekaan.html?m=1
http://wartasejarah.blogspot.co.id/2015/06/sistem-pendidikan-indonesia-pada-masa.html?m=1
http://pelajariduniaku.blogspot.co.id/2016/01/kurikulum-sesudah-dan-sebelum.html?m=1

21