Anda di halaman 1dari 18

Pendahuluan :

Osteo arthritis biasa terjadi pada usia tua. Penyakit degeneratif ini menyerang sendi sendi yang
bila tidak diobati akan menyebabkan sakit yang cukup mengganggu.

Anamnesis :

Pada anamnesis biasanya didapatkan pasien yang berusia lanjut yang menderita nyeri pada
sendi-sendi besar seperti vertebrae, panggul, lutut dan pergelangan kaki. Sendi-sendi
pergelangan dan jari tangan jarang terkena osteoarthritis. Tidak ada dominasi jenis kelamin
dalam osteoarthtritis. Pada umur di bawah 50 tahun didapatkan lebih banyak pria yang
menderita osteoarthritis. Sedangkan pada saat berusia diatas 50 tahun lebih banyak
ditemukan penderita wanita.1

Osteoarthtritis ialah penyakit yang bersifat kronik progresif. Pada tingkat yang lebih lanjut
pasien dapat datang bukan hanya dengan keluhan nyeri, namun bisa juga terdapat
pembesaran sendi yang dapat menghambat gerakan sendi bahkan deformitas sendi tersebut.
Pada osteoarthritis daerah genu dapat terlihat kaki yang berbentuk valgus maupun varus.1
Pasien osteoarthritis juga biasanya mengalami stress pada sendi akibat penekanan berat
badan tubuh yang berlebih. Sehingga pada pasien penyakit ini biasanya didapat obesitas.
Selain itu dapat pula ditanyakan apakah pasien mengalami cedera sebelumnya karena cedera
dapat memperburuk keadaan penyakit.

Pemeriksaan fisik dan penunjang :

A. Pemeriksaan Fisik

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana 1


Pada pemeriksaan fisik yang dapat dilakukan meliputi look (inspeksi), feel (palpasi) dan
move (menggerakan sendi-sendi). Pemeriksaan osteoarthritis difokuskan pada sendi-sendi
dengan kemungkinan terbesar terkena penyakit ini, yaitu sendi pangkal paha, lutut serta
pergelangan kaki.2
Pada persendian di daerah pangkal paha pemeriksaan yang dilakukan meliputi:
Inspeksi
Pemeriksaan sendi pangkal paha dapat dimulai ketika pasien memasuki ruang periksa.
Yang perlu diperhatikan ialah fase berdiri dan fase mengayun. Fase berdiri ialah pada
saat kaki mengenai tanah dan menyangga beban tubuh. Sedangkan fase mengayun ialah
fase disaat kaki bergerak ke depan dan tidak menyangga beban tubuh. Cara berjalannya
harus terlihat lancar dengan irama yang berkesinambungan. Selain itu dapat dilihat
pemukaan anterior dan posterior sendi pangkal paha untuk menemukan bagian yang
mengalami atrofi otot maupun memar.2

Palpasi
Pada perabaan dapat ditemukan bagian-bagian os coxae seperti SIAS, krista illiaka, dan
tuberkulum illiaka di permukaan anterior sendi. Pada permukaan posterior ditemukan
trokanter mayor dan tuber iskiadikum.
Jika terasa nyeri pada sendi pangkal paha dapat dilakukan palpasi bursa illiopektineal
yang berada pada bidang yang lebih dalam dari ligamentum inguinalis.
Kisaran gerak dan manuver
Gerakan pada sendi pangkal pada meliputi fleksi, ekstensi, abduksi, adduksi dan rotasi.
Khusus untuk osteoarthritis biasanya dijumpai keterbatasan pada abduksi. Selain itu
gangguan pada rotasi internal merupakan suatu indikator yang sensitif terhadap penyakit
sendi pangkal paha. Biasanya hal ini juga diikuti dengan gangguan pada rotasi
eksternal.2

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana 2


Pada sendi lutut dan tungkai bawah juga dapat dilakukan pemeriksaan yang dengan pola
yang sama, yaitu:

Inspeksi
Perhatikan aliran gerak pasien saat berjalan memasuki ruang periksa. Lutut harus
diekstensikan ketika tumit menyentuh tanah dan difleksikan pada siklus berdiri dan
mengayun. Pada penderita osteoarthritis sering terdapat pembengkakan sendi lutut dan
kantong suprapatela sehingga cekungan normal di sekitar patela menghilang.2
Palpasi
Pada posisi duduk palpasi akan lebih mudah dilakukan karena semua patokan tulang
terlihat dengan lebih jelas. Ibu jari dapat digunakan untuk meraba cekungan lunak yang
terletak di kedua sisi patela. Selain itu dapat juga diraba kondilus medialis femur serta
tepi atas plateau medialis tibia.
Pada perabaan juga tanyakan pada pasien apakah ada nyeri tekan. Rasa nyeri dan
krepitasi merupakan indikasi adanya pergesekan antara os tibia dan os femur.

Hal ini dapat terjadi akibat berkurangnya cairan sendi maupun pembentukan
spur/osteofit yang kerapkali dapat ditemukan pada penderita osteoarthritis.1,2
Pada osteoarthritis terjadi efusi banyak di sendi. Hal ini dapat menyebabkan kompresi
sendi sehingga cairan tersebut dapat menyemprot ke dalam rongga yang berada di dekat
patella. Gelombang cairan dapat dideteksi dengan tes tertentu seperti tes balon.

Kisaran gerak dan manuver


Gerakan sendi lutut yang terutama adalah fleksi, ekstensi, rotasi internal dan eksternal.
Pada penderita osteoarthritis biasanya ditemukan pengurangan range of movemen /
ROM. Terutama pada gerakan fleksi-ekstensi. Normalnya pada pergerakan ini pasien
setidaknya dapat mencapai ROM sebesar 120o. Namun sudut ini dapat menurun pada
penderita osteoarthritis. Umumnya pasien akan kesulitan melakukan fleksi yang dalam
seperti pada saat berlutut.2

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana 3


Pergelangan kaki dan kaki juga merupakan tempat yang sering terjadi perubahan radiografi
akibat terjadinya proses peradagan. Oleh karena itu pemeriksaan di daerah ini tidak kalah
pentingnya.

Inspeksi
Amati apakah ada deformitas, noduli maupun pembengkakan di daerah pergelangan
kaki.
Palpasi
Pemeriksaan dengan menggunakan kedua ibu jari di daerah anterior setiap sendi
pergelangan kaki dengan memperhatikan adanya pembengkakan serta nyeri tekan.
Selain itu dapat dilakukan perabaan pada daerah posterior yaitu pada tendon Achiles
untuk menemukan adanya noduli dan nyeri tekan. Selain itu lakukan pula palpasi pada
artikulasio metatarsofalangeal. Nyeri pada daerah ini lebih mengindikasikan ke arah
penyakit arthritis gout.2

Kisaran gerak dan manuver


Pergerakan pada pergelangan kaki meliputi gerakan fleksi dan ekstensi serta gerakan
inversi dan eversi.

Secara umum pada pemeriksaan osteoarthritis didapatkan nyeri sendi yang dapat disertai
dengan gangguan pergerakan pada sendi yang terkena peradangan.

B. Pemeriksaan Penunjang
Pada pemeriksaan penunjang dapat dilakukan artosentesis sebagai suatu indikasi untuk
memastikan diagnosis. Namun perlu diperhatikan kontraindikasi yaitu pada sendi yang tidak
stabil. Hal ini biasanya terjadi pada tingkat ostearthritis yang lebih tinggi dimana terjadi
deformitas. Selain itu pada osteoarthritis yang sudah parah juga dapat ditemukan gangguan
sendi celah sendi menyempit dan jmlah cairan sendi berkurang. Pengambilan cairan sendi
akan semakin memperburuk keadaan pada kondisi ini.3

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana 4


Pada artrosentesis dapat dilakukan pemeriksaan makroskopik, mikroskopik, tes
mikrobiologi, tes kimia serta tes imunologi. Pada pemeriksaan makroskopik yang dapat
dilihat ialah warna cairan sendi, tes musin, tes viskositas dan melihat bekuan dalam sendi.
Diantara keempat jenis tes tersebut hanya tes warna yang masih bisa digunakan untuk kasus
osteoarthritis. Pada tes warna umumnya didapatkan perubahan warna cairan sendi dari
bening menjadi warna kuning jernih. Tes yang lain umumnya tetap terlihat seperti keadaan
normal.
Selain itu angka normal juga ditunjukan pada pemeriksaan hitung sel darah dan laju endap
darah darah. Pemeriksaan imunologi seperti pemeriksaan C-Reactive Protein, Anti Nuclear
Antibodies serta Rheumatoid Factor juga tidak banyak membantu karena hasilnya tetap
normal. Akan tetapi ketiga pemeriksaan ini bisa digunakan untuk membedakan osteoarthritis
terhadap jenis penyakit sendi yang lain seperti rheumatoid arthritis.3
Pemeriksaan radiologi ialah jenis pemeriksaan yang cukup akurat dan meyakinkan dalam
diagnosis penyakit ini. Pada pemeriksaan radiologi umumnya didapatkan penyempitan pada
rongga sendi yang disertai dengan sklerosis tepi persendian.

Mungkin pula terdapat deformitas, pembentukan kista juksta artikular serta pembentukan
spur/osteofit. Kadang bisa didapatkan liping pada tepi tulang serta adanya tulang yang
lepas.1,4
Berdasarkan gambaran radiologisnya, dua orang ahli yaitu Kellgren dan Lawrance
menetapkan lima derajat osteoarthritis, yaitu:
Derajat 0 : normal, celah sendi baik, tidak ada osteofit dan kista subkondral.
Derajat 1 : adanya penyempitan celah sendi yang meragukan dan adanya
kemungkinan pembentukan osteofit.
Derajat 2 : adanya osteofit yang disertai dengan kemungkinan penyempitan pada
celah sendi.
Derajat 3 : jumlah osteofit yang lebih dari satu, penyempitan celah sendi, beberapa
gambaran sklerotik pada tulang yang disertai dengan kemungkinan adanya deformitas
tulang.
Derajat 4 : osteofit yang besar, celah sendi yang menyempit, sklerosis dalam
tingkatan yang parah serta didapatkan adanya deformitas pada tulang.

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana 5


Derajat ini digunakan untuk mengetahui tingkat keparahan penyakit serta penanganan yang
tepat terhadap tingkat penyakit tersebut. Selain pemeriksaan radiologi, dapat pula dilakukan
pemeriksaan resonansi magnetik (MRI) serta artoskopi untuk mendukung diagnosis
osteoarthritis.3

Diagnosis :

A. Diagnosis Kerja
Diagnosis kerja penderita osteoarthritis dipastikan melalui gambaran klinis dan radiografis.3
Gambaran klinis yang tampak pada pasien osteoarthritis umumnya ialah sebagai berikut :
Nyeri sendi
Keluhan ini yang umumnya disampaikan oleh pasien saat pertama kali bertemu dengan
dokter. Pasien biasanya merasa bertambah nyeri pada saat beraktivitas dan berkurang
nyerinya saat beristirahat.
Nyeri pada osteoarthritis juga dapat berupa penjalaran maupun akibat radikulopati
misalnya pada osteoarthritis servikal dan lumbal. OA lumbal dapat menimbulkan
stenosis spinal yang berujung pada rasa nyeri di daerah betis yang disebut sebagai
claudicatio intermitten.
Hambatan gerakan sendi
Gangguan ini umumnya semakin bertambah parah seiring bertambahnya rasa nyeri.
Kaku pagi
Kaku biasanya timbul setelah imobilitas, seperti duduk di kursi dalam waktu yang lama
maupun setelah bangun tidur. Setidak-tidaknya didapati 20 menit keadaan kaku sebelum
sendi dapat digerakan lagi.
Krepitasi
Pada keadaan di mana celah sendi telah menyempit dapat terjadi pergesekan antara
tulang yang satu dengan yang lainnya yang menimbulkan bunyi gemertak dan dapat
terdengar pada jarak tertentu.
Pembesaran sendi (Deformitas)

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana 6


Biasanya perbesaran sendi secara progresif dapat terlihat pada sendi lutut dan sendi
tangan.
Perubahan gaya berjalan
Perubahan gaya berjalan yang paling sering terlihat ialah menjadi pincang. Hal ini akan
sangat mengganggu mobilisasi pasien OA.

Adapun gambaran radiologi yang dapat menyokong diagnosis osteoarthritis ialah:

Penyempitan celah sendi yang seringkali bersifat asimetris dan lebih sering terjadi pada
persendian yang berperan untuk menyangga badan.
Peningkatan densitas (gambaran sklerotik) tulang subkondral.
Adanya kista pada tulang akibat efusi cairan sendi.
Osteofit yang tampak pada pinggiran sendi.
Perubahan struktur anatomis sendi.

Namun yang perlu diperhatikan ialah perubahan radiografi ini seringkali tidak terlihat pada
tingkat awal OA.

Selain radiografi dapat dilakukan pemeriksaan pencitraan magnetik (MRI) untuk bila OA
dicurigai berkaitan dengan penyakit akibat gangguan metabolisme seperti alkaptonuria,
displasia epifisis, hiperparatiroidisme, maupun penyakit Paget. MRI serta artroskopi dapat
dilakukan juga bila OA disertai dengan penyakit berat seperti osteonekrosis dan pigmented
sinovitis.3

B. Diagnosis banding :
Aartritis Gout :
Merupakan peradangan sendi akut yang disebabkan oleh pengendapan kristal asam urat
dalam rongga sendi.
Penyebab gangguan Asam Urat adalah tingginya kadar asam urat di dalam darah yang
akhirnya memicu terjadinya penumpukan kristal di daerah persendian sehingga
menimbulkan rasa sakit. Sedangkan tingginya kadar asam urat didalam tubuh disebabkan
2 hal, yaitu :

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana 7


- Produksi Asam Urat Berlebihan, yang disebabkan karena faktor genetik (mutasi enzim
HGRT), penderita leukemia, asupan tinggi purin, obesitas dan hipertiglideridemia,
konsumsi alkohol, konsumsi fruktose.
- Pengeluaran Asam Urat Berkurang, yang disebabkan karena faktor genetik (penurunan
ekskreasi fraksional urate), penyakit ginjal kronik, obat-obatan dierutik tiazid salisilat
pirazinamid, obesitas dan kurangnya produksi urin.
Gejala Asam Urat ditandai dengan suatu serangan tiba-tiba di aderah persendian. Saat
bangun tidur, misalnya, ibu jari kaki dan pergelangan kaki Anda terasa terbakar, nyeri
dan membengkak. Asam urat akut sering berulang dan berhubungan dengan peningkatan
kadar asam urat dalam darah (hiperurisemia). Kadar Asam Urat yang tinggi selama 10
tahun akan menyebabkan terjadinya pengendapan kristal asam urat dalam sendi dan batu
ginjal.5

Bursitis :

Merupakan peradangan pada bursa yang di sertai oleh rasa nyeri. Bursa adalah kantong datar
yang mengandung cairan synovial, yang memudahkan pergerakan normal dari beberapa sendi
pada otot dan mengurangi gesekan.

Penyebab dari bursitis seringkali tidak di ketahui, tetapi bursitis dapat di sebabkan oleh cidera,
gout, infeksi.

Bursitis menyebabkan nyeri yang cinderung membatasi pergerakan. Tetapi gejalanya khusus
tergantung pada lokasi bursa yang meradang.6

Etiologi :

Faktor umum yang mempengaruhi peningkatan resiko osteoarhritis ialah:


Umur

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana 8


Faktor ini merupakan faktor dengan hubungan terbesar terhadap osteoarthritis.
Ditemukan sekitar 80% individu berusia diatas 75 tahun yang menderita osteoarthritis
dengan progresivitas penyakit hampir mengenai seluruh sendi. Perubahan radiologis
yang menunjukan gejala OA umumnya makin nyata ditemukan pada usia lanjut
meskipun perubahan ini tidak selalu berkorelasi dengan gejala klinik yang muncul.3
Perubahan morfologis dan struktural yang berkaitan dengan kartilago pada sendi ialah
semakin menipis dan melembutnya permukaan kartilago. Selain itu berkurangnya
ukuran dan agregasi matriks proteoglikan juga dapat terlihat pada usia tua. Hal ini
mungkin disebabkan oleh penurunan kemampuan kondrosit dalam memperbaiki
jaringan akibat proses degenerasi yang terjadi.3,4

Lokasi Sendi
Ostearthritis kerapkali terjadi pada persendian antara tulang-tulang yang menyangga
badan, seperti pada persendian pangkal paha, lutut dan pergelangan kaki.

Hal ini juga tidak lepas dari pengaruh umur yang mempercepat penurunan fungsi
persendian dalam menyangga badan. Sebuah studi menunjukkan bahwa daerah pangkal
paha dan lutut lebih tinggi kemungkinannya untuk terkena osteoarthritis. Pada kedua
daerah ini ditemukan lebih banyak reseptor terhadap interleukin 1 dan lebih banyak
kondrosit yang mengekspresikan Mrna pembentuk metalloproteinase dibanding daerah
pergelangan kaki. Hal ini diduga turut berperan dalam mempercepat degenerasi yang
terjadi dalam persendian tersebut.3,4

Obesitas
Obesitas juga merupakan suatu predisposisi terhadap peningkatan resiko terkena
osteoarthritis. Seseorang dikatakan mengalami obesitas apabila indeks massa tubuhnya
melebihi 25,0 (indeks massa tubuh ialah hasil pembagian berat badan dalam kilogram
terhadap kuadrat tinggi badan dalam meter). Obesitas menyebabkan tulang-tulang
penyangga badan bekerja lebih keras dalam menyangga badan sehingga meningkatkan
gaya mekanik pada persendian antar tulang tersebut.3

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana 9


Genetik
Ada beberapa gen struktural yang berperan penting dalam pengelolaan serta perbaikan
kartilago sendi dan berperan dalam pengaturan proliferasi kondrosit serta ekspresi gen.
Beberapa gen untuk kode protein pembentukan matriks ekstraselular yang mengalami
mutasi telah dianggap sebagai salah satu penyebab terjadinya osteoarthritis. Contohnya
ialah mutasi titik yang terjadi pada gen yang berperan dalam pembentukan protein
kolagen tipe II. Mutasi ini diwariskan dalam keluarga yang memiliki riwayat
spondyloepifisial displasia dan poliartikular osteoarthritis. Gangguan ini pada gilirannya
akan menghasilkan protein yang salah sehingga protein yang terbentuk tidak dapat
bekerja dengan tepat dalam perbaikan kartilago sendi. Hal ini meningkatkan resiko
timbulnya osteoarthritis.3,4

Trauma
Terjadinya trauma dapat menyebabkan peningkatan terjadinya osteoarthritis secara
cepat maupun dapat menginisiasi suatu proses lambat yang menghasilkan gejala
osteoarthritis beberapa tahun kemudian. Hal ini mungkin disebabkan kurangnya suplai
darah periartikular pasca trauma maupun berkurangnya proses remodelling pada
osteochondral junction. Faktor lokal lainnya seperti stress yang berkaitan dengan
frekuensi penggunaan sendi dan deformitas sendi juga mempunyai pengaruh atas
timbulnya osteoarthritis.4

Gender
Wanita memiliki resiko dua kali lebih besar dibanding pria untuk terkena osteoarthritis.
Sebelum usia 50 tahun, lebih banyak didapati pria penderita OA dibanding wanita.
Diatas 50 tahun, hal ini menjadi berkebalikan. Hal ini dikaitkan dengan berkurangnya
kadar estrogen pasca menopause pada wanita berusia di atas 50 tahun. Kondrosit pada
daerah persendian memiliki reseptor terhadap estrogen yang mengindikasikan bahwa
sebenarnya sel-sel diregulasi oleh estrogen. Peningkatan kadar estrogen juga sebanding

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana 10


dengan peningkatan proteoglikan yang sangat diperlukan untuk menunjang matriks
ekstraselular.4

Patofisiologi dan komplikasi:


Secara umum berdasarkan patogenesisnya osteoarthritis dibagi menjadi dua, yaitu OA
primer dan OA sekunder. OA primer primer disebut juga OA idiopatik yaitu jenis OA yang
penyebabnya tidak diketahui dan tidak ada hubungan dengan penyakit sistemik serta
perubahan lokal yang terjadi pada sendi. Sedangkan yang disebut sebagai OA sekunder ialah
OA yang didasari pada kelainan endokrin, inflamasi, metabolik, pertumbuhan, herediter,
jejas mikro dan makro serta imobilisasi yang terjadi dalam waktu yang lama. Kasus primer
lebih sering ditemukan dalam kenyataannya dibanding dengan kasus sekunder.3

OA merupakan penyakit dengan gangguan metabolisme pada kartilago yang juga diikuti
dengan kerusakan struktur proteoglikan kartilago yang belum diketahui mekanismenya.
Terjadinya jejas mekanik dan kimiawi pada sinovial sendi umumnya disebabkan oleh
banyak faktor dan jejas ini dapat merangsang pembentukan molekul yang abnormal serta
menyebabkan adanya produk dari hasil degradasi kartilago yang berada di dalam persendian
yang memicu terjadinya inflamasi sendi, kerusakan kondrosit serta nyeri. Pada OA juga
didapati hipertrofi kartilago berupa peningkatan terbatas dari sintesis matriks makromolekul
oleh kondrosit yang diduga merupakan suatu mekanisme kompensasi terhadap degradasi
rawan sendi, remodelling tulang dan inflamasi pada cairan sendi.3

Secara fisiologis didapatkan bahwa rawan sendi mampu melakukan perbaikan sendiri
dimana akan terjadi replikasi pada kondrosit untuk memproduksi matriks yang baru. Proses
perbaikan ini dibantu oleh oleh suatu polipeptida yang mengontrol proliferasi sel serta
membantu proses komunikasi antar sel. Polipeptida ini merupakan suatu faktor pertumbuhan
yang menginduksi proses sintesis DNA dan protein serta kolagen dan proteoglikan. Contoh
faktor pertumbuhan tersebut ialah insulin-like growth factor (IGF-1), growth hormon,
transforming growth factor (TGF- ) dan coloni stimulating factors (CSFs). Namun pada

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana 11


keadaan inflamasi terjadi suatu kondisi dimana sensitivitas sel terhadap faktor pertumbuhan
menurun. Hormon seperti testosteron, -estradiol dan kalsitonin juga memiliki peranan
dalam sintesis komponen kartilago.4
Proses degradasi pada kolagen akan terjadi oleh berbagai macam faktor (yang terutama ialah
usia). Seiring dengan laju degradasi yang makin cepat ini maka hasil degradasi matriks
tulang rawan sendi cenderung berkumpul di dalam cairan sendi. Hal ini akan mengawali
terjadinya inflamasi sendi. Hal ini juga didukung dengan data bahwa perbandingan sintesis
dan pemecahan matriks tulang rawan sendi pada pasien penderita OA ialah sekitar 0,29
berbanding 1.3

Pada penderita OA juga terjadi gangguan suplai darah. Gangguan ini disebabkan oleh
peningkatan aktivitas fibrinogenik sekaligus penurunan aktivitas fibrinolitik. Proses ini akan
menyebabkan munumpuknya trombus dan kompleks lipid pada pembuluh darah daerah
subkondral yang berujung pada iskemia dan nekrosis pada jaringan subkondral tersebut.
Seperti kita ketahui bersama saat terjadi nekrosis, sel akan melepaskan mediator kimiawi
seperti prostaglandin dan interleukin yang dapat memicu rasa sakit karena dihantar oleh
saraf sensibel. Selain dilepaskannya mediator kimiawi, adanya peradangan pada tendo atau
ligamen serta spasme otot ekstra artikuler juga dapat memicu terjadinya rasa sakit. Sakit
pada sendi juga dapat disebabkan oleh adanya penekanan periosteum dan radiks saraf oleh
osteofit serta peningkatan tekanan intramedular akibat statisnya aliran darah vena
intramedular karena proses remodelling pada trabekula dan subkondral.3,4
Pada saat terjadi jejas yang menyebabkan nekrosis sel, material hasil nekrosis (yang dikenal
sebagai CSFs) akan memproduksi suatu sitokin aktivator plasminogen yang disebut sebagai
katabolin. Sitokin ini terdiri dari interleukin, tumor necrosis factor dan interferon. Sitokin ini
akan merangsang pembentukan CSFs tambahan yang akan mempengaruhi monosit untuk
mendegradasi rawan sendi secara lebih lanjut. Selain itu adanya sitokin ini juga akan
mempercepat proses resorpsi matriks rawan sendi. Adanya interlekuin-1 juga memiliki efek
yang banyak terhadap cairan sendi, yaitu meningkatkan sintesis enzim yang mendegradasi

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana 12


rawan sendi seperti stromelisin dan kolagenosa. Selain mendegradasi rawan sendi, enzim ini
juga menghambat proses sintesis dan perbaikan normal kondrosit.4
Efek antagonis dapat terlihat antara sitokin terhadap faktor pertumbuhan. Sitokin cenderung
merangsang degradasi komponen matriks rawan sendi, sebaliknya faktor pertumbuhan
merangsang sintesis. Namun yang menjadi permasalahan adalah pada penderita OA
seringkali didapatkan penurunan kadar faktor pertumbuhan seperti insulin-like growth factor
1/IGF-1.3

Penatalaksanaan :
1. Terapi Non-Farmakologis
Perlindungan sendi dengan koreksi postur tubuh yang buruk, penyangga untuk
lordosis pada daerah lumbal, menghindari aktivitas berlebihan pada sendi yang
sakit dan pemakaian alat-alat yang dapat meringankan kerja sendi.4
Dapat juga dilakukan terapi penggunaan ultrasound, stimulasi elektrik, akupuntur
dan pemijatan untuk mengurangi efek nyeri pada osteoarthritis.
Diet untuk menurunkan berat badan agar dapat mengurangi timbulnya keluhan.
Fisioterapi dengan pemakaian panas dan dingin (diathermi), serta program latihan
yang tepat.
Edukasi dan penerangan tentang cara menangani pasien osteoarthritis bagi kerabat
dan keluarga yang bersangkutan.
Dorongan psikososial bagi penderita osteoarthritis.

2. Terapi Farmakologis

Pada penyakit osteoarthritis obat yang dapat digunakan meliputi analgesik oral non-
opioid, analgesik topikal, OAINS, steroid intraartikular serta penggunaan suplemen.

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana 13


Pada penderita osteoarthritis yang digunakan sebagai lini pertama penanganan
penyakit adalah asetaminofen. Asetaminofen/Paracetamol merupakan obat
analgesik-antipiretik yang berasal dari golongan Para Amino Fenol.3

Obat antiinflamasi non-steroid (OAINS) yang digunakan hanya bekerja sebagai


analgesik dan mengurangi peradangan, namun tidak dapat menghentikan reaksi
patologis yang terjadi. Adapun jenis obat yang digunakan ialah fenoprofin,
piroksikam serta ibuprofen.

Bila penggunakan Asetaminofen dan OAINS tidak memberi perubahan yang berarti
pada pasien, maka dapat diberikan analgesik opiod dalam dosis yang rendah yang
dikombinasikan dengan Asetaminofen. Contohnya ialah penggunaan 8 mg kodein
ditambah dengan 650 mg Paracetamol.3

Selain penggunaan per oral, dapat digunakan analgesik topikal. Contohnya adalah
Capsaicin yang berasal dari ekstrak cabe merah.3

Penggunaan ketiga jenis obat-obatan diatas memiliki efek gastrointestinal yang cukup
besar seperti tukak lambung dan gastritis.

Jenis obat YANG digolongkan sebagai chondroprotective agents atau disease modifying
osteoarthritis drugs (DMOADs). Yang termasuk ke dalam golongan DMOADs ialah:
Tetrasiklin dan derivatnya yang mempunyai kemampuan menghambat kerja enzim
metaloproteinase. Salah satu derivat yang digunakan ialah doksisiklin.8
Asam Hialuronat digunakan untuk memperbaiki tingkat kekentalan cairan sinovial.
Obat ini digunakan melalui suntikan intra-artikuler dengan dosis 2 cc sekali
seminggu dan disuntik sebanyak 3-5 minggu berturut-turut.7,8
Injeksi steroid intra-artikuler dapat mengurangi inflamasi sendi maupun efusi sendi
yang terjadi pada osteoarthritis.3 Penggunaan kortikosteroid dibatasi hanya 3 4

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana 14


kali per tahun dikarenakan efek sistemiknya yang besar. Preparat yang digunakan
ialah Metil Prednisolon Asetat dan Triamnisolon Hexatidone.

Glikosaminoglikan merupakan sejenis suplemen yang dapat menghambat sejumlah


enzim yang berperan dalam proses degradasi tulang rawan seperti hialuronidase,
protease, elastase dan cathepsin B1 in vitro.7

Kondroitin Sulfat ialah suatu komponen yang penting pada matriks ekstraselular
sekeliling sel pada kelompok vertebrata.8
Vitamin C, dapat berguna pada penderita OA karena dapat menghambat aktivitas
enzim lizosim.
Superoxide Dismutase, merupakan suatu enzim yang dapat menangkal radikal
bebas seperti superoksida dan radikal hidroksil.

3. Pembedahan
Pembedahan dilakukan bila penatalaksanaan dengan terapi non farmakologis dan terapi
farmakologis tidak berhasil dengan baik. Selain itu pembedahan juga dapat dilakukan
juga pasien mengalami keluhan seperti nyeri, kaku dan deformitas bengkok yang
semakin bertambah parah seiring dengan perjalanan penyakit.

Secara umum ada 2 tindakan yang dilakukan dalam pembedahan yaitu artroskopi dan
total joint replacement. Tindakan ini diindikasikan sesuai dengan derajat keparahan
radiologis penderita OA menurun Kellgren dan Lawrance (Pembagian derajat Kellgren
Lawrance dapat dilihat pada bagian pemeriksaan penunjang). Untuk OA derajat 1 dan 2
dilakukan artroskopi sedangkan untuk OA derajat 3 dan 4 dilakukan total joint
replacement. Berikut ini akan dideskripsikan mengenai kedua bentuk pembedahan
tersebut.
1. Artroskopi
Artroskopi merupakan prosedur pembedahan tanpa operasi terbuka dengan cara
melihat sendi melalui kabel serat optik sambil melakukan proses pembedahan
dengan semacam selang kecil yang ditusukan ke dalam persendian. Indikasi

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana 15


dilakukannya artroskopi ialah bila ada peradangan tiba-tiba serta keluhan terkunci
(locking), tertahan (catching), dan sempoyongan (giving way).9

Ada dua bentuk artroskopi yang dipakai saat ini yaitu lavage dan debridement.
Lavage merupakan proses pencucian cairan sendi dengan memakai larutan garam
yang kemudian dikeluarkan lagi bersama benda asing dari dalam sendi beserta
dengan cairan sendi yang berlebihan. Sedangkan debridement merupakan proses
yang sama namun ditambah dengan proses penipisan dan pelembutan kartilago
sendi yang telah keras dan meradang serta pengambilan serpihan tulang rawan yang
ada dari persendian. Selain itu pada debridement dapat pula dilakukan synovectomy
yaitu tindakan membuang selaput sinovial yang meradang.7

2. Total Joint Replacement


Merupakan operasi penggantian permukaan sendi yang rusak dengan metal dan
plastik. Operasi penggantian sendi secara total diindikasikan pada orang yang
mengalami ostearthritis derajat 3 dan 4. Operasi ini jarang dilakukan pada usia
muda. Kontraindikasi dilakukannya total joint replacement ialah adanya penyakit
tambahan seperti diabetes dan jantung yang dapat memperparah keadaan pasien.
Operasi ini dilakukan pada penderita yang mengalami nyeri lutut parah hingga
terjadi deformitas (seperti varus dan valgus pada lutut), kegagalan pengobatan serta
keterbatasan dalam melakukan gerakan / penurunan range of movement yang
berujung pada kehilangan fungsi sendi seperti ketidakmampuan berjalan dan
berjongkok.

Pencegahan :

Secara umum pencegahan yang dapat dilakukan untuk menghindari resiko terkena
osteorarthritis adalah:
1. Mengatur diet dan pola makan sehingga berat badan tetap stabil dan tidak terjadi
obesitas.8

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana 16


2. Menghindarkan diri sebisa mungkin dari kemungkinan trauma yang dapat terjadi.
3. Konsumsi suplemen yang bersifat chondroprotective agents seperti kondroitin sulfat
dan glikosaminoglikan.
4. Aktivitas fisik teratur namun hindari aktivitas fisik yang memberi beban terlalu berat
pada tubuh, apalagi bila sudah berusia lanjut.

Prognosis :

Umumnya baik. Sebagian besar nyeri dapat ditangani dengan obat-obat konservatif. Hanya
pada kasus yang berat dan sangat mengganggu aktivitas pasien saja baru dilakukan operasi.
Operasi yang dilakukan pun memiliki tingkat keberhasilan yang tinggi. Kuncinya
bergantung kepada penanganan yang cepat dan tepat terhadap penyakit ini.7

Kesimpulan :

Osteo Artritis merupakan penyakit degenerative yang biasanya di alami oleh orang berumur
sekitar 45 ke atas, dan akan menyebabkan rasa nyeri yang sangat mengganggu bila tidak di obati.
Sering berolah raga dan makan makanan yang bergizi akan dapat mengurangi resiko terkena
penyakit osteo arthritis.

Daftar Pustaka :

1. Runge MS, Greganti MA. Netters internal medicine. 2nd edition. Philadelphia:
Saunders Elsevier Publisher; 2009.p.1009-17.
2. Bickley LS, Szilagyi PG. Buku ajar pemeriksaan fisik & riwayat kesehatan. edisi
8. Jakarta: EGC; 2009.h.516-30.
3. Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia. Buku ajar ilmu
penyakit dalam. edisi 5 jilid III. Jakarta: Interna Publishing; 2009.h.2538-49.

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana 17


4. Firestein GS, Budd RC, Harris ED, etc. Kelleys textbook of rheumatology. 8th
edition. Philadelphia: Elsevier Publisher; 2009.p.1525-73.
5. Artritis gout, di unduh dari
http://www.gotransferfactor.com/index.php/component/content/article/111-
pengobatan-penyakit/1155-asam-urat-artritis-gout pada 15 Maret 2012.
6. Bursitis, di unduh dari http://medicastore.com/penyakit/652/Bursitis.html pada 15
Maret 2012.
7. Mansjoer A, Triyanti K, Savitri R, dkk. Kapita selekta kedokteran. Edisi 4 jilid 1.
Jakarta: Media Aeculapius; 2005.h.535-9.
8. Beers MH, Berkow R. The merck manual of geriatrics. 3th edition. New York:
Merck & Co. Inc; 2004.p.489-93.
9. Halter JB, Ouslander JG, Tinetti ME, etc. Hazzards geriatri medicine and
gerontology. 6th edition. New York: McGraw-Hill Medical Publisher;
2009.p.1411-9.

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana 18