Anda di halaman 1dari 15

PEMERIKSAAN KADAR ASAM URAT

I. TUJUAN PERCOBAAN
- Terampil dalam menentukan kadar asam urat dalam sampel
- Memahami metode penentuan kadar asam urat
- Memahami peranan pemeriksaan kadar asam uratdalam menegakan
diagnosis kondisi patologis.

II. PRINSIP DAN REAKSI


Asam urat dioksidasi enzim urikse membentuk allantion,co2, dan peroksida
dengan bantuan enzim peroksidase, peroksida yang terbentuk akan bereaksi
dengan 4-Aminoantipirin dikopling dengan fenol menghasilkan senyawa
quinoneimina yang berwarna.

Reaksi yang terjadi :

urikase
Asam urat + O2 + H2O Allantoin + CO2 + H2O2

2 H2O2 + 4 aminoantipirin + DHBS hydrogen peroksidase


quinoneimine
+ 4 H2 O

III. TEORI DASAR


Asam Urat
Asam urat adalah hasil metabolisme purin dalam tubuh. Zat asam urat
ini biasanya akan dikeluarkan oleh ginjal melalui urine dalam kondisi
normal. Namun dalam kondisi tertentu, ginjal tidak mampu mengeluarkan
zat asam urat secara seimbang, sehingga terjadi kelebihan dalam darah.
Kelebihan zat asam urat ini akhirnya menumpuk dan tertimbun pada
persendian-persendian dan tempat lainnya termasuk di ginjal itu sendiri
dalam bentuk kristal-kristal. Asam urat terutama disintesis dalam hati yang
dikatalisis oleh enzim xantin oksidase. Asam urat diangkut ke ginjal oleh
darah untuk filtrasi, direabsorbsi sebagian, dan diekskresi sebagian sebelum
akhirnya diekskresikan melalui urine. Peningkatan kadar asam urat dalam
urine dan serum bergantung pada fungsi ginjal, kecepatan metabolisme
purin, dan asupan diet makanan yang mengandung purin. (Syamsuhidayat
dan Wim de Jong, 2004)

Sifat kimia asam urat

Asam urat merupakan asam lemah yang terdapat pada plasma ekstraselular
dan cairan synovial atau cairan sendi . Sebagian besar urat terdapat dalam
bentuk monosodium urat pada pH 7.4 dan larut di dalam plasma pada
konsentrasi 6,8 mg/dl, apabila kadar asam urat lebih tinggi, plasma menjadi
jenuh dan dapat mengendap membentuk kristal urat (Harrison, 2000).

Gambar 1: Rumus bangun asam urat : C5 H4 N4 O3 (Ganong, 2008).

Dalam beberapa keadaan, misalnya konsumsi makanan yang mengandung


purin tinggi, atau karena ginjal kurang mampu mengeluarkannya dalam
tubuh, maka kadar asam urat dalam darah akan meningkat. Kadar asam urat
dalam darah adalah laki - laki 3,4-7,7 mg/dL, perempuan 2,5-5,5 mg/dL dan
anak-anak 2,0-2,5 mg/dL.Peningkatan kadar asam urat dalam darah disebut
juga hiperurisemia. Keadaan ini dapat menyebabkan penumpukan kristal
asam urat di persendian dan menimbulkan peradangan di daerah tersebut.
Kondisi menetapnya hiperurisemia menjadi predisposisi (faktor
pendukung) seseorang mengalami radang sendi akibat asam urat (gout
arthritis), batu ginjal akibat asam urat ataupun gangguan ginjal.
(Misnadiarly, 2009)

Komplikasi Hiperurisemia

1. Radang sendi akibat asam urat (Arthritis pirai atau gout)

Arthritis pirai atau gout adalah suatu proses inflamasi yang terjadi karena
deposisi kristal asam urat pada jaringan sekitar sendi. Gout dapat bersifat
primer maupun sekunder. Gout primer merupakan akibat langsung
pembentukan asam urat tubuh yang berlebihan atau ekskresi asam urat yang
berkurang akibat proses penyakit lain atau pemakaian obat tertentu dan
faktor generik. Sedangkan gout sekunder dipengaruhi dari pola hidup
mulain dari konsumsi makanan, minuman yang mengandung alcohol
(Misnadiarly, 2009).

Definisi Artritis Pirai ( Gout ) menurut beberapa ahli:

a. Artritis pirai (Gout) adalah kelompok penyakit heterogen sebagai akibat


deposisi kristal monosodium urat pada jaringan atau akibat supersaturasi
asam urat didalam cairan ekstraselular. (Edward Stefanus, 2010)

b. Gout merupakan kelainan metabolisme purin bawaan yang ditandai dengan


peningkatan kadar asam urat serum dengan akibat penimbunan kristal asam urat
di sendi. (Syamsuhidayat dan Wim de Jong, 2004)

c. Arthritis pirai atau gout adalah suatu proses inflamasi yang terjadi karena
deposisi kristal asam urat pada jaringan sekitar sendi. (Misnadiarly, 2009)

d. Arthritis gout adalah penyakit dimana terjadi penumpukan asam urat dalam
tubuh secara berlebihan. (Vita Health, 2007)
Faktor resiko arthritis pirai antara lain:

1) Riwayat keluarga atau genetik

2) Asupan senyawa purin berlebih dalam makanan

3) Konsumsi alkohol berlebihan

4) Berat badan berlebihan (obesitas)

5) Hipertensi, penyakit jantung

6) Obat-obatan tertentu (terutama diuretika)

7) Gangguan fungsi ginjal

8) Keracunan kehamilan (preeklampsia). (VitaHealth, 2007)

2. Komplikasi Hiperurisemia pada Ginjal

beragam sehingga mengakibatkan penurunan fungsi ginjal yang progresif,


dan pada umumnya berakhir dengan gagal ginjal (Suwitra, 2009). Etiologi
penyakit ginjal kronik adalah diabetes mellitus, hipertensi,
glomerulonefritis kronik, penyakit ginjal polikistik, nefritis interstisial
tubular, nefropati obstruktif, dan penyakit vascular ginjal (Saputra, 2009).
Gambaran klinik PGK adalah anemia, hipertensi, edema (trias penyakit
ginjal kronik), sindrom uremia dan sesuai penyakit yang mendasari
(Suwitra, 2009).

Asam urat adalah hasil akhir produk metabolisme purin (Victor, 2009).
Hiperurisemia adalah peningkatan kadar asam urat dalam darah diatas
normal yaitu kadar asam urat >7 mg/dl pada laki-laki dan >6 mg/dl pada
perempuan. Hiperurisemia dan gout dibedakan menjadi hiperurisemia
primer, sekunder dan idiopatik. (Putra, 2009).

Artritis gout merupakan sekelompok penyakit yang terjadi akibat deposit


monosodium urat dalam jaringan. Deposit ini berasal dari cairan ekstra
seluler yang sudah mengalami supersaturasi dari hasil akhir metabolisme
purin yaitu asam urat (Nasution & Sumariyono, 2009). Artritis gout
mempunyai 3 stadium yaitu stadium akut, interkritikal, dan kronik
(Hidayat, 2009). Diagnosis artritis gout adalah menggunakan kriteria ACR
(American College of Rheumatology) tahun 1977 (Wortmann, 2009).

Ginjal sebagai tempat pengeluaran sisa-sisa zat metabolisme tubuh


berfungsi untuk menyeimbangkan cairan dalam tubuh dan terhindar dari
zat-zat berbahaya. Proses pengeluaran zat-zat sisa pada ginjal terdiri dari
fase filtrasi oleh glomerulus, fase reabsorbsi melalui tubulus-tubulus dan
terakhir fase ekskresi oleh tubulus kolektivus. Pada penyakit ginjal kronik
terjadi pengurangan massa ginjal dan penurunan fungsi ginjal, dimana hal
tersebut akan menyebabkan gangguan dalam proses fisiologis ginjal
terutama dalam hal ekskresi zat-zat sisa salah satunya asam urat (Silbernagl
& Lang, 2012).

Pengobatan Radang Sendi akibat asam urat (Gouty arthitis)

Pengaturan pola makan dan perubahan gaya hidup termasuk penurunan


berat badan, pembatasan minuman alkohol, makanan tinggi purin, dan
pengawasan hiperlipidemia dan hipertensi dapat menurunkan kadar serum
asam urat walau tanpa terapi obat-obatan.

Obat anti-peradangan non-steroid (NSAIDs)

Digunakan untuk mengurangi rasa sakit dan pembengkakan selama gout


akut. NSAIDs biasanya mulai berfungsi dalam waktu 24 jam dan mungkin
menyebabkan efek samping seperti rasa tidak enak pada perut, ruam pada
kulit, retensi cairan, atau masalah ginjal, dan tukak lambung. NSAIDs harus
digunakan secara hati-hati pada pasien yang mengalami penurunan fungsi
ginjal atau tukak lambung. Obatobatan terbaru yang disebut sebagai
penghambat COX-2 lebih aman bagi lambung. misalnya, Naproxen, asam
Mefenamic, Indometasin, atau Diclofenac.

Kortikosteroid

Memiliki efek yang cepat dan dapat dikonsumsi dengan diminum atau
disuntikkan secara langsung pada sendi yang meradang untuk mengurangi
rasa sakit dan pembengkakan pada gout akut.

Kolkisin

Mampu meghilangkan rasa sakit seketika saat tanda-tanda awal serangan


akan terjadi. Efek samping yang umum terjadi diantaranya adalah kram
perut atau diare. Kolkisin dalam dosis rendah dapat diminum setiap hari
untuk mencegah serangan berikutnya.

Allopurinol

Mengurangi tingkat asam urat dalam darah dan harus dikonsumsi setiap
hari. Obat ini juga mengecilkan tophi dan mencegah penumpukan kristal
pada persendian dan jaringan lainnya. Efek samping yang umum terjadi
adalah ruam pada kulit dan harus dihentikan jika pasien menderita ruam
atau gatal. Allopurinol biasanya diminum setiap hari selama bertahun-
tahun. Konsumsinya tidak boleh dihentikan pada waktu serangan gout akut.
Obat uricosurik seperti probenecid

Menurunkan tingkat asam urat pada darah dengan meningkatkan


pembuangannya melalui urin, walaupun tidak semanjur allopurinol dan
tidak dapat berfungsi dengan baik pada pasien yang menderita penurunan
fungsi ginjal. Pasien harus banyak minum air karena eksresi asam urat
dalam urin dapat mengakibatkan pembentukan batu ginjal. (Emir Afif,
2010).

Spektrofotometri

Spektrofotometri merupakan suatu metode analisa yang didasarkan pada


pengukuran serapan sinar monokromatis oleh suatu larutan berwarna pada
panjang gelombang spesifik. Prinsip kerja spektrofotometri didasarkan
pada huku lambert-beer yaitu bila cahaya monokromatik melalui suatu
media maka sebagian cahayanya diserap, sebagian dipantulkan, sebagian
lagi dipancarkan (Basset, 1994).

Spektrofotometri dapat digunakan untuk menentukan kadar suatu zat


dengan mengukur absobansi zat yang akan ditetapkan kadarnya
dibandingkan dengan standar.

IV. ALAT DAN BAHAN

Alat Bahan
Fotometer dengan panjang DHBS
gelombang 520 nm
Mikropipet 25 l Enzim (urikase, hidrogenperoksidase)
Pipet 1,0 ml Pelarut (aquadest)
Tabung reaksi Reagen warna
Serum
Standar

V. PROSEDUR PERCOBAAN
Larutkan standar, balngko (aquadest) dan tes (serum) masing-masing
sebanyak 0,02 ml dengan menggunakan mikro pipet ke dalam gelas kima.
Reagen yang telah mengandung enzim glokosa oksidase dan peroksidase
dicampurkan ke dalam serum sebanyak 1 ml, lalu dikocok. Campuran
diinkubasi pada suhu kamar (18-30OC) selama 10 menit. Larutan tes dan
standar dibaca absorbansinya terhadap blanko pada panjang gelombang 520
nm (520-540 nm).

VI. HASIL PENGAMATAN DAN PERHITUNGAN


Absorbansi standar = 0,102
Kadar standar = 5 mg/dl
Kelompok Absorbansi
1 0,174
2 0,081
3 0,168
4 0,191
5 0,172
6 0,098


Glukosa darah (mg/dl) = kadar standar
0,174
Kelompok 1 = 0,102 5 / = 8,529 /
0,081
Kelompok 2 = 5 / = 3,970 /
0,102
0,168
Kelompok 3 = 0,102 5 / = 8,232 /
0,191
Kelompok 4 = 0,102 5 / = 9,363/
0,172
Kelompok 5 = 0,102 5 / = 8,431 /
0,098
Kelompok 6 = 0,102 5 / = 4,804 /
8,529+3,970+8,235+9,363+8,431+4,804
Rata-rata glukosa darah = 6

= 7,222 mg/dl
( )2
Standar defiasi = 1

(8,529 7,222)2+(, 7,222)2+(8,235 7,222)2+(9,363 7,222)2+(8,431 7,222)2+(4,804 7,222)2



61

= 5,041
= 2,245


RSD = 100%

2,245
= 7,222 100%

= 31,086%

VII. PEMBAHASAN

Pada praktikum ini dilakukan percobaan pemeriksaan kadar asam urat dalam
darah. Pemeriksaan kadar asam urat sangat penting dilakukan untuk penegakan
diagnosa suatu penyakit sehingga terapi dapat dilakukan dengan tepat.

Berdasarkan tinjauan pustaka, asam urat adalah asam yang berbentuk kristal
kristal yang merupakan hasil akhir dari metabolisme purin (bentuk turunan
nukleoprotein), yaitu salah satu komponen asam nukleat yang terdapat pada inti sel
sel tubuh (Indriawan, 2009).
Dalam keadaan normalnya 90 % dan hasil metabolit nukleotida adenine, guanine, dan
hipoxantin akan digunakan kembali sehingga akan terbentuk kembali masing masing
menjadi adenosine monophosphate ( AMP ), inosine monophospate ( IMP ) dan
guanosine monophosphate ( GMP ) oleh adenine phosribosyl transferase ( APRT ) dan
tipoksantin guanne phosphoribosyl transferase ( HPGAT ). Hanya sisanya akan diubah
manjadi xantin dan selanjutnya akan diubah menjadi asam urat oleh enzim xantin
oksidase. ( Sustrani, 2007 )

Penyebab penyakit gout adalah peningkatan kadar asam urat dalam darah yang be
rlebih. Hal tersebut dapat disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya:

Adanya produksi asam urat berlebihan karena meningkatnya pembentukan zat


purin dalam tubuh. Peningkatan tersebut dapat berasal dari asupan makanan
yang mengandung purin tinggi, serta kurangnya enzim spesifik yang dapat
menghambat pembentukan asam urat.

Adanya gangguan pada ginjal. Secara normal, asam urat dikeluarkan oleh ginjal
berupa urin, namun dalam kondisi tertentu ginjal tidak dapat berfungsi dengan
baik, oleh karena itu zat asam urat tertimbun dalam tubuh terutama pada
persendian jarijari kaki karena dipengaruhi oleh gaya gravitasi sehingga asam
urat lebih banyak tertimbun di persendian kaki.

Pemeriksaan kadar asam urat dilakukan pada serum darah seorang laki-laki
dewasa yang sudah dilakukan penghilangan fibrinogen yaitu agen pembekuan darah
dengan cara sentrifugasi. Kadar asam urat pada darah ini dapat diukur dengan 3
metode, yaitu metode kimia, kolorimetri dan enzimatik. Masing-masing metode
memiliki kekurangan dan kelebihan yaitu, pada metode kimia dinilai memiliki presisi
yang baik, lebih akurat dibandingkan dengan metode yang lain, lebih sensitive, tetapi
harganya mahal. Sedangkan metode kolorimetri merupakan metode yang mudah
dilakukan dan harganya pun jauh lebih murah tetapi tidak spesifik karena
pengukurannya dapat terganggu oleh zat-zat lain seperti bilirubin dan senyawa
pereduksi seperti asam askorbat sehingga pada praktikum ini dilakukan pemeriksaan
asam urat menggunakan metode enzimatik karena metode ini memiliki kelebihan lebih
spesifik, lebih akurat dan bebas dari gangguan senyawa lainnya.

Prinsip pemeriksaan kadar asam urat menggunakan metode enzimatik yaitu


pemeriksaan menggunakan enzim urikase pada reaksi pertama menghasilkan senyawa
hidrogen peroksida dan enzim peroksidase pada reaksi indikasi sehingga menghasilkan
senyawa quinoneimina yang berwarna.

Reaksi yang terjadi :

urikase
C5H4N4O3 + O2 + H2O Allantoin + CO2 + H2O2 (reaksi utama)

hidrogen peroksidase
2 H2O2 + DHBS + 4-Aminoantipirin Quinoneimina + 3 H2O

(reaksi indikasi)

Pada praktikum ini dilakukan pengukuran terhadap larutan blangko, standar,


dan sampel. Larutan blangko berisi reagen warna dan aquades sebagai pelarut
berfungsi untuk memastikan pelarut yang digunakan tidak menghasilkan absorbansi
pada panjang gelombang yang dipakai sehingga hasil yang didapat adalah hasil yang
sebenarnya, tidak ada pengaruh dari pelarut yang digunakan. larutan standar berisi
reagen warna dengan standar berfungsi untuk membandingkan hasil supaya yang
terukur benar-benar senyawa yang dituju, dan larutan sampel sendiri berisi reagen
warna dan serum yang diperiksa. Reagen warna yang dipakai adalah 4-aminoantipirin
dan dikopling dengan DHBS sehingga membentuk komplek yang berwarna yang telah
dicampurkan dengan enzim urikase dan peroksidase yang akan digunakan. Ketiga
larutan tersebut kemudian diberikan perlakuan yang sama yaitu dengan di diamkan
selama 10 menit pada suhu kamar, hal ini berfungsi agar enzim dapat bekerja sebagai
katalisator dengan sempurna. Setelah itu pengukurannya menggunakan
spektrofotometer pada panjang gelombang 520 nm. Pada panjang gelombang ini asam
urat akan mengabsorbsi radiasi dengan kuat sehingga memberikan hasil yang
sebenarnya.

Prinsip kerja spektrofotometer uv-vis mengacu pada hukum Lambert-Beer.


Apabila cahaya monokromatik melalui suatu media, maka sebagian cahaya tersebut
akan diserap, sebagian dipantulkan dan sebagian lagi akan dipancarkan.

Dari nilai absorbansi yang didapat dari spektrofotometer dapat dihitung rata-rata kadar
asam urat sampel dari laki-laki dewasa yaitu 7,222 mg/dL. Sedangkan kadar asam urat
normal menurut WHO adalah :

Pada laki-laki dewasa kadar normal asam uratnya adalah sekitar 2 7,5 mg/dL,
sementara itu pada wanita yang sudah dewasa adalah 2 6,5 mg/dL.
Pada laiki-laki dengan usia diatas 40 tahun kadar normal asam uratnya 2 8,5
mg/dL, pada wanita 2 8 mg/dL
Anak-anak yang berusia 10 18 tahun kadar asam uratnya 3,6 5,5 mg/dL,
sementara itu pada anak wanita 3,6 4 mg/dL
Dari data diatas, dapat dilihat bahwa kadar asam urat dari sampel masih termasuk
normal karena masih ada direntang 2 7,5 mg/dL.

Nilai simpangan baku (RSD) yang diperoleh yaitu 31,086 %, sangat jauh dari yang
seharusnya yaitu <2%. Hal ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya:

Cara memipet yang kurang tepat. Pemipetan yang tidak benar dapat
memengaruhi hasil karena banyak atau sedikitnya larutan yang dimasukkan
sangat berpengaruh terhadap hasil.
Waktu inkubasi. Waktu inkubasi yang tidak tepat juga sangat memengaruhi
hasil pemeriksaan.
Kondisi spektrofotometer. Alat yang digunakan, termasuk spektrofotometer
harus dalam keadaan baik dan terkalibrasi dengan baik supaya hasil yang
didapat merupakan hasil yang sebenarnya.
Cara membawa tabung. Membawa tabung dari meja praktikum ke meja
spektrofotometer pun harus dilakukan dengan prosedur yang sesuai. Karena
apabila cara membawa tabung dengan cara digenggam oleh tangan, maka akan
dipengaruhi oleh suhu tubuh (tidak hanya oleh suhu ruang), maka hasil yang
didapat pun akan berbeda.

VIII. KESIMPULAN
Penentuan kadar asam urat dalam darah seorang laki-laki dewasa
menggunakan metode enzimatik menghasilkan kadar asam urat sebesar
7,222 mg/dL yang tergolong normal dan memiliki nilai simpangan baku
(RSD) yang tidak memenuhi persyaratan yaitu sebesar 31,086 %.
DAFTAR PUSTAKA

Basset, J., R. C. Denney, G.H Jeffrey, J. Mendhom. 1994. Buku Ajar Vogel Kimia
Analisis Kuantitatif. Jakarta: EGC.

Edward, Stefanus. 2010. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam jilid II Edisi IV. Tehupetory.

Ganong,W.F. 2008. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta: EGC

Harrison (2000), Prinsip-Prinsip Ilmu Penyakit Dalam, Volume 1, Jakarta: EGC.

Hidayat dan Wim de Jong. 2004. Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi 2. Jakarta: EGC.

Hidayat R., 2009. Gout dan Hiperurisemia. Medicinus. 22:47-50

Indriawan, Iin. 2009. Asam Urat. Malang : JICA

Khopkar S. 1990. Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta: Universitas Indonesia (UI-
Press).

Misnadiarly. 2009. Rematik, Asam Urat, dan Arthritis Gout. Jakarta:Yayasan Obor
Indonesia.

Nasution A.R., Sumariyono., 2009. Introduksi Reumatologi, Dalam : Buku Ajar Ilmu
Penyakit Dalam Jilid III. Edisi 5. Jakarta: FKUI hal.2353-9

Putra T.R., 2009. Hiperurisemia, Dalam : Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid III.
Edisi 5. Jakarta: FKUI hal. 2550-5

Rohman, Abdul dan Gandjar, Ibnu Gholib. 2007. Kimia Farmasi Analisis. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.

Saputra L., 2009. Gagal Ginjal Kronik, Dalam : Intisari Ilmu Penyakit Dalam.
Tangerang: Binarupa Aksara hal. 459-62
Silbernagl S., Lang F., 2012. Gagal Ginjal Kronis: Gangguan Fungsi, Dalam : Teks &
Atlas Berwarna Patofisiologi. Jakarta: EGC hal.108-13

Sustrani, Lenny. 2007. Asam Urat. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama WHO

Suwitra K., 2009. Penyakit Ginjal Kronik, Dalam : Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam
Jilid II. Edisi 5. Jakarta: FKUI hal.1035-40

Syamsu hidayat dan Wim de Jong. 2004. Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi 2. Jakarta: EGC.

Tim Redaksi VITA HEALTH, 2007. Gagal Ginjal (Informasi lengkap Untuk
Penderita dan Keluarganya), PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Tjay, Tan Hoan, Kirana Rahardja. 2007. Obat-obat Penting . Jakarta: Elex Media
Komputindo

Victor W.R., 2009. Metabolisme Nukleotida Purin dan Pirimidin, Dalam : Biokimia
Harper (Harpers Illustrated Biochemistry). Edisi 27. Jakarta: EGC hal. 311-
20

Wortmann RL. Gout and Hyperuricemia. In: Firestein GS, Budd RC, Harris ED, Rudy
S, Sergen JS, editors. Kelleys Textbook of Rheumatology. 8thed.
Philadelphia:Saunders; 2009.p.1481-6