Anda di halaman 1dari 19

ETIKA, CSR, KELANGGENGAN LINGKUNGAN

SEKITAR DAN STRATEGI

OLEH:

BARITA SORMIN

(02420162033)

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI AKUNTAN

UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

MAKASSAR

2016/2017
BAB I

A. PENDAHULUAN

Banyak faktor yang mempengaruhi dan menentukan kegiatan berbisnis. Sebagai


kegiatan sosial, bisnis dengan banyak cara terjalin dengan kompleksitas masyarakat
modern. Dalam kegiatan berbisnis, mengejar keuntungan adalah hal yang wajar, asalkan
dalam mencapai keuntungan tersebut tidak merugikan banyak pihak. Jadi, dalam mencapai
tujuan dalam kegiatan berbisnis ada batasnya. Kepentingan dan hak-hak orang lain perlu
diperhatikan.
Perilaku etis dalam kegiatan berbisnis adalah sesuatu yang penting demi
kelangsungan hidup bisnis itu sendiri. Bisnis yang tidak etis akan merugikan bisnis itu sendiri
terutama jika dilihat dari perspektif jangka panjang. Bisnis yang baik bukan saja bisnis yang
menguntungkan, tetapi bisnis yang baik adalah selain bisnis tersebut menguntungkan juga
bisnis yang baik secara moral. Perilaku yang baik, juga dalam konteks bisnis, merupakan
perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai moral.
Bisnis juga terikat dengan hukum. Dalam praktek hukum, banyak masalah timbul
dalam hubungan dengan bisnis, baik pada taraf nasional maupun taraf internasional.
Walaupun terdapat hubungan erat antara norma hukum dan norma etika, namun dua macam
hal itu tidak sama. Ketinggalan hukum, dibandingkan dengan etika, tidak terbatas pada
masalah-masalah baru, misalnya, disebabkan perkembangan teknologi.
Tanpa disadari, kasus pelanggaran etika bisnis merupakan hal yang biasa dan wajar
pada masa kini. Secara tidak sadar, kita sebenarnya menyaksikan banyak pelanggaran etika
bisnis dalam kegiatan berbisnis di Indonesia. Banyak hal yang berhubungan dengan
pelanggaran etika bisnis yang sering dilakukan oleh para pebisnis yang tidak bertanggung
jawab di Indonesia. Berbagai hal tersebut merupakan bentuk dari persaingan yang tidak sehat
oleh para pebisnis yang ingin menguasai pasar. Selain untuk menguasai pasar, terdapat faktor
lain yang juga mempengaruhi para pebisnis untuk melakukan pelanggaran etika bisnis, antara
lain untuk memperluas pangsa pasar, serta mendapatkan banyak keuntungan. Ketiga faktor
tersebut merupakan alasan yang umum untuk para pebisnis melakukan pelanggaran etika
dengan berbagai cara.
Seiring perkembangan zaman, kesadaran akan lingkungan sudah meningkat. Masalah
pencemaran sudah banyak menarik minat, mulai lapisan bawah sampai lapisan atas. Setiap
pemerintah daerah mewajibkan pembuatan instalasi pengolahan limbah kepada pimpinan
industri di daerahnya. bahkan sudah ada yang diajukan kepengadilan karena pelanggaran
limbah ini.

Perusahaan-perusahaan barupun banyak yang tumbuh dan berkembang di sekitar


masyarakat. Dan tidak sedikit pula yang merugikan masyarakat sekitar karena limbah yang
dihasilkan tidak diolah atau dibuang sebagaimana mestinya

Pembangunan yang dilakukan besar-besaran di Indonesia dapat meningkatkan


kemakmuran namun disisi lain hal ini juga dapat membawa dampak negatif terhadap
lingkungan hidup. Dampak yang diakibatkan dari pencemaran lingkungan yang disinyalir
dari buangan proses sebuah industri mengakibatkan rusaknya ekosistem (pencemaran
terhadap ikan dan air) serta mengakibatkan sejumlah penyakit dimasyarakat sekitar.

Tanggung Jawab Sosial Korporasi / Corporate Social Responsibility (CSR) telah


menjadi pemikiran para pembuat kebijakan sejak lama. Bahkan dalam Kode Hammurabi
(1700-an SM) yang berisi 282 hukum telah memuat sanksi bagi para pengusaha yang lalai
dalam menjaga kenyamanan warga atau menyebabkan kematian bagi pelanggannya. Dalam
Kode Hammurabi disebutkan bahwa hukuman mati diberikan kepada orang-orang yang
menyalahgunakan ijin penjualan minuman, pelayanan yang buruk dan melakukan
pembangunan gedung di bawah standar sehingga menyebabkan kematian orang lain.
Secara umum, perhatian para pembuat kebijakan terhadap CSR saat ini telah
menunjukkan adanya kesadaran bahwa terdapat potensi timbulnya dampak buruk dari suatu
kegiatan usaha. Dampak buruk tersebut tentunya harus direduksi sedemikian rupa sehingga
tidak membahayakan kemaslahatan masyarakat sekaligus tetap bersifat kondusif terhadap
iklim usaha. Konsep dan praktik CSR sudah menunjukkan gejala baru sebagai keharusan
yang realistis diterapkan. Para pemilik modal tidak lagi menganggap CSR sebagai
pemborosan. Masyarakat pun menilai hal tersebut sebagai suatu yang perlu, ini terkait dengan
meningkatnya kesadaran sosial kemanusiaan dan lingkungan.

B. RUMUSAN MASALAH

1. Apa yang dimaksud dengan etika bisnis?


2. Bagaimana dan mengapa standar etika berdampak terhadap penyusunan dan pelaksanaan
strategi?
3. Apa pemicu dari strategi dan perilaku bisnis yang tidak etis?
4. Mengapa strategi perusahaan harus beretika?
5. Strategi, tanggung jawab sosial korporat, dan keberlanjutan lingkungan
BAB II

PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN ETIKA DAN BISNIS

Istilah Etika berasal dari bahasa Yunani kuno. Bentuk tunggal kata 'etika'
yaitu ethos sedangkan bentuk jamaknya yaitu ta etha. Ethos mempunyai banyak arti yaitu :
tempat tinggal yang biasa, padang rumput, kandang, kebiasaan/adat, akhlak,watak, perasaan,
sikap, cara berpikir. Sedangkan arti ta etha yaitu adat kebiasaan.
Arti dari bentuk jamak inilah yang melatar-belakangi terbentuknya istilah Etika yang
oleh Aristoteles dipakai untuk menunjukkan filsafat moral. Jadi, secara etimologis (asal usul
kata), etika mempunyai arti yaitu ilmu tentang apa yang biasa dilakukan atau ilmu tentang
adat kebiasaan (K.Bertens, 2000).
Bisnis adalah suatu organisasi yang menjual barang atau jasa kepada konsumen atau
bisnis lainnya, untuk mendapatkan laba. Secara historis kata bisnis dari bahasa Inggris
business, dari kata dasar busy yang berarti sibuk dalam konteks individu, komunitas,
ataupun masyarakat. Dalam artian, sibuk mengerjakan aktivitas dan pekerjaan yang
mendatangkan keuntungan. Di dalam melakukan bisnis, kita wajib untuk memperhatikan
etika agar di pandang sebagai bisnis yang baik. Bisnis beretika adalah bisnis yang
mengindahkan serangkaian nilai-nilai luhur yang bersumber dari hati nurani, empati, dan
norma. Bisnis bisa disebut etis apabila dalam mengelola bisnisnya pengusaha selalu
menggunakan nuraninya. Berikut ini ada beberapa pengertian bisnis menurut para ahli :
Allan afuah (2004)
Bisnis adalah suatu kegiatan usaha individu yang terorganisasi untuk menghasilkan dana
menjual barang ataupun jasa agar mendapatkan keuntungan dalam pemenuhan
kebutuhan masyarakat dan ada di dalam industry
T. chwee (1990)
Bisnis merupaka suatu sistem yang memproduksi barang dan jasa untuk memuaskan
kebutuhan masyarakat.
Grifin dan ebert
Bisnis adalah suatu organisasi yang menyediakan barang atau jasa yang bertujuan untuk
mendapatkan keuntungan.
B. ETIKA BISNIS

Secara sederhana yang dimaksud dengan etika bisnis adalah cara-cara untuk melakukan
kegiatan bisnis, yang mencakup seluruh aspek yang berkaitan dengan individu, perusahaan,
industri dan juga masyarakat. Kesemuanya ini mencakup bagaimana kita menjalankan bisnis
secara adil, sesuai dengan hukum yang berlaku, dan tidak tergantung pada kedudukan
individu ataupun perusahaan di masyarakat.
Etika bisnis juga merupakan studi yang dikhususkan mengenai moral yang benar dan
salah. Studi ini berkonsentrasi pada standar moral sebagaimana diterapkan dalam kebijakan,
institusi, dan perilaku bisnis. Etika bisnis merupakan studi standar formal dan bagaimana
standar itu diterapkan ke dalam system dan organisasi yang digunakan masyarakat modern
untuk memproduksi dan mendistribusikan barang dan jasa dan diterapkan kepada orang-
orang yang ada di dalam organisasi.
Etika bisnis lebih luas dari ketentuan yang diatur oleh hukum, bahkan merupakan standar
yang lebih tinggi dibandingkan standar minimal ketentuan hukum, karena dalam
kegiatan bisnis seringkali kita temukan wilayah abu-abu yang tidak diatur oleh ketentuan
hukum. Berikut ini beberapa pengertian etika bisnis menurut para ahli :
a) Zimmerer (1996:20), etika bisnis adalah suatu kode etik perilaku pengusaha berdasarkan
nilainilai moral dan norma yang dijadikan tuntunan dalam membuat keputusan dan
memecahkan persoalan.
b) Ronald J. Ebert dan Ricky M. Griffin (2000:80), etika bisnis adalah istilah yang sering
digunakan untuk menunjukkan perilaku dari etika seseorang manajer atau karyawan
suatu organisasi.
c) K. Bertens, Pengantar Etika Bisnis, (Yogjakarta: Penerbit Kanisius, 2000, Hal. 5), Etika
Bisnis adalah pemikiran refleksi kritis tentang moralitas dalam kegiatan ekonomi dan
bisnis
d) Velasquez, 2005, Etika Bisnis merupakan studi yang dikhususkan mengenai moral yang
benar dan salah. Studi ini berkonsentrasi pada standar moral sebagaimana diterapkan
dalam kebijakan, institusi, dan perilaku bisnis
e) Von der Embse dan R.A. Wagley dalam artikelnya di Advance Managemen Journal
(1988), memberikan tiga pendekatan dasar dalam merumuskan tingkah laku etika bisnis,
yaitu :
i. Utilitarian Approach: setiap tindakan harus didasarkan pada konsekuensinya. Oleh
karena itu, dalam bertindak seseorang seharusnya mengikuti cara-cara yang dapat
memberi manfaat sebesar-besarnya kepada masyarakat, dengan cara yang tidak
membahayakan dan dengan biaya serendah-rendahnya.
ii. Individual Rights Approach: setiap orang dalam tindakan dan kelakuannya memiliki
hak dasar yang harus dihormati. Namun tindakan ataupun tingkah laku tersebut harus
dihindari apabila diperkirakan akan menyebabkan terjadi benturan dengan hak orang
lain.
iii. Justice Approach: para pembuat keputusan mempunyai kedudukan yang sama, dan
bertindak adil dalam memberikan pelayanan kepada pelanggan baik secara
perseorangan ataupun secara kelompok.
Beberapa hal yang mendasari perlunya etika dalam kegiatan bisnis:
1. Selain mempertaruhkan barang dan uang untuk tujuan keuntungan, bisnis juga
mempertaruhkan nama, harga diri, bahkan nasib manusia yang terlibat di dalamnya.
2. Bisnis adalah bagian penting dalam masyarakat
3. Bisnis juga membutuhkan etika yang setidaknya mampu memberikan pedoman bagi
pihak pihak yang melakukannya.

C. PEMICU DARI STRATEGI DAN PERILAKU BISNIS YANG TIDAK ETIS

Tindakan yang tidak etis, bagi perusahaan akan memancing tindakan balasan dari
konsumen dan masyarakat akan sangat kontra produktif, misalnya melalui gerakan
pemboikotan, larangan beredar, larangan beroperasi. Hal ini akan dapat menurunkan nilai
penjualan maupun nilai perusahaan. Sedangkan perusahaan yang menjunjung tinggi nilai-
nilai etika pada umumnya perusahaan yang memiliki peringkat kepuasan bekerja yag tinggi
pula, terutama apabila perusahaan tidak mentolerir tindakan yang tidak etis. Karyawan yang
berkualitas adalah aset yang paling berharga bagi perusahaan oleh karena itu semaksimal
mungkin harus tetap dipertahankan. Berikut ini, ada tiga pemicu utama dari perilaku bisnis
yang tidak etis ditunjukkan sebagai berikut :
1) pengawasan rusak, memungkinkan mengejar oknum keuntungan pribadi dan
kepentingan (Faulty oversight, enabling the unscrupulous pursuit of personal gain and
self-interest)
2) Tekanan berat pada manajer perusahaan untuk memenuhi atau mengalahkan target
kinerja jangka pendek (Heavy pressures on company managers to meet or beat short-
term performance targets)
3) Suatu budaya perusahaan yang menempatkan profitabilitas dan kinerja bisnis menjelang
perilaku etis (A company culture that puts profitability and business performance ahead
of ethical behavior)

D. ALASAN STRATEGI PERUSAHAAN HARUS BERETIKA

Ibarat sebuah mobil, laju mobil penting untuk dapat mengantarkan penumpangnya ke
tempat tujuan. Mobil melaju karena injakkan pedal gas pengemudinya dan berhenti kerena
injakan pedal rem. Injakan pedal gas mobil diperlukan agar mobil dapat melaju dan injakan
pedal rem diperlukan agar mobil melaju dengan selamat. Begitu pula sebuah perusahaan
bergerak karena beraksinya sumber daya manusia bersama-sama sumberdaya yang lain. Agar
aksi manajemen perusahaan berjalan selamat perlu memperhatikan etika bisnis dan tanggung
jawab sosial. Etika dan tanggung jawab sosial perupakan rem perusahaan agar berkerja tidak
bertabrakan dengan pemegang kepentingan perusahaan, seperti pelanggan, pemerintah,
pemilik, kreditur, pekerja dan komunitas atau masyarakat.

Hubungan yang harmonis dengan pemegang kepentingan akan menghasilkan energi


positif buat kemajuan perusahaan. Mengapa etika bisnis dalam perusahaan terasa sangat
penting saat ini? Karena untuk membentuk suatu perusahaan yang kokoh dan memiliki daya
saing yang tinggi serta mempunyai kemampuan menciptakan nilai (value-creation) yang
tinggi, diperlukan suatu landasan yang kokoh. Biasanya dimulai dari perencanaan strategis,
organisasi yang baik, sistem prosedur yang transparan didukung oleh budaya perusahaan
yang andal serta etika perusahaan yang dilaksanakan secara konsisten dan konsekwen.

Haruslah diyakini bahwa pada dasarnya praktek etika perusahaan akan selalu
menguntungkan perusahaan baik untuk jangka menengah maupun jangka panjang karena :

a) Akan dapat mengurangi biaya akibat dicegahnya kemungkinan terjadinya friksi baik
intern perusahaan maupun dengan eksternal.
b) Akan dapat meningkatkan motivasi pekerja.
c) Akan melindungi prinsip kebebasan berniaga
d) Akan meningkatkan keunggulan bersaing.
Ada pun dua alasan mengapa strategi perusahaan harus etis;

1. karena strategi yang tidak etis secara moral salah dan mencerminkan keburukan pada
karakter personil perusahaan
2. karena strategi etika bisa menjadi bisnis yang baik dan melayani kepentingan pribadi bagi
para pemangku kepentingan

Selain itu, dalam hal ini diperlukan 2 pondasi penting yang mendasari agar strategi bisnis
dapat beretika:

1) Perspektif Moralistik (Pondasi Moral)

Hakikatnya, orang menjalankan usaha komersial untuk menghasilkan keuntungan, sebagai


upaya meningkatkan kesejahteraan pemilik dan orang-orang yang terlibat di
dalamnya. Keuntungan merupakan kata kunci dalam kegiatan bisnis, seperti yang dikatakan
oleh Fry dkk (2002) bahwa sebagai sebuah organisasi yang berusaha memenuhi permintaan
barang dan jasa yang dibutuhkan pelanggan, bisnis selalu mencari keuntungan. Sejatinya,
keuntungan adalah darah bagi setiap kegiatan usaha perdagangan barang maupun jasa.
Semua orang yang terlibat dalam kegiatan usaha itu sangat bergantung pada
keuntungan untuk kelangsungan hidupnya. Demikian pula, perkembangan usaha pun
sebagian ditentukan oleh besar-kecilnya laba yang ditahan dan dialokasikan untuk kegiatan-
kegiatan meningkatkan skala (scale-up) sehingga sebagai organisme, perusahaan pun perlu
tumbuh agar bisa beradaptasi dengan perubahan lingkungan.
Namun, bisnis juga perlu mengadopsi nilai- nilai moral agar bisnis dijalankan secara etis.
Bisnis yang etis memperhatikan kepentingan holistik semua pemangku kepentingan, dalam
pengertian hubungan bisnis harus bersih, jujur, saling menguntungkan, dan bermanfaat.
Mencari keuntungan tidak boleh menghalalkan segala cara. Pedoman moral menjadi penting
karena menurut Robert Heilbroner, seorang ekonom Amerika, kalau pencarian keuntungan
menjadI motif utama bagi bisnis, dengan sendirinya bisnis mengejar kepentingan diri yang
berlanjut pada tumbuh suburnnya egoisme. Pengusaha yang egois selalu melihat
kelangsungan bisnisnya untuk kepentingannya sendiri dan menutup mata kepentingan
orang lain. Kalau perlu dia mengorbankan kepentingan orang lain untuk kepentingannya
sendiri. Bisnis yang berhasil, masih menurut Fry dkk (2002) adalah bisnis unggul sepanjang
waktu, bukan hanya bisnis yang berjaya sesaat karena muslihat tertentu. Bisnis yang
berhasil juga tidak mencari keuntungan finiansial besar dengan mengorbankan moralitas,
komitmen kerja yang rendah, produk-produk yang buruk, atau perilaku tidak etis lain.
Dalam literatur Yunani kuno, Aristoteles (384-322 SM) bahkan menolak perdagangan dan
penumpukan kekayaan karena kegiatan menambah kekayaan adalah tindakan
tidak etis. Dalam kegiatan krematistik yang berorientasi penumpukan kekayaan, dengan
uang sebagai alat penyimpan kekayaan, ada kecenderungan penguasaan kekayaan secara
tidak merata dan sangat tidak terbatas. Perilaku bisnis yang tidak etis juga ditimbulkan oleh
sifat cinta uang (phylargia). Dengan prinsip deontologi, ajaran agama sudah menetapkan
batas yang diwajibkan untuk dilakukan, dan batas yang dilarang. Immanuel Kant (1724-
1804), seorang filsuf Jerman ternama, menyebut bahwa sebuah tindakan disebut baik bila
dilakukan berdasar prinsip imperatif kategoris, yaitu kepatuhan tanpa syarat pada norma
yang sudah ditetapkan.

2) Persaingan Bisnis dan Perilaku Etis


Persaingan merupakan salah satu mesin penggerak kemajuan dalam bisnis. Kotler (2003)
menyatakan bahwa seiring dengan semakin kompetitifnya pasar, memfokuskan strategi
pada pelanggan saja tidak cukup. Perusahaan harus mulai memperhatikan pesaing. Dengan
persaingan bisnis dipaksa mencari cara-cara kreatif dan inovatif dalam memelihara
kelangsungan hidupnya. Bila dilakukan secara sehat, persaingan adalah jamu bagi
perkembangan usaha. Persaingan usaha menyiratkan perlunya strategi mengalahkan
pesaing. Persaingan yang sehat tentu menuntut kreatifitas dan inovasi yang menghasilkan
keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif. Diperlukan upaya yang tekun, telaten,
dan terus menerus untuk berkembang secara sehat, dengan cara-cara yang fair. Masih
menurut Kotler (2003) persaingan melibatkan pesaing yang bukan saja pembuat atau penjual
barang serupa, tetapi juga barang substitusi. Selain itu, persaingan juga bisa lebih sengit
dengan ancaman masuknya pemain baru, atau meningkatnya posisi tawar konsumen karena
kemampuan mereka memilih penjual barang atau penyedia jasa, padahal persaingan yang ada
sudah melibatkan banyak pemain dan sudah padat, seperti suatu pertarungan di laut merah,
dimana pemainnya terlalu banyak dan harus bertarung berdarah-darah.
Kondisi terakhir ini, terutama telah menyebabkan persaingan yang tidak sehat, seperti perang
harga, perang iklan, atau peluncuran produk baru. Menjual barang dengan harga murah
sering disertai penurunan kualitas produk maupun layanan. Secara internal, upah karyawan
pun ditekan agar harga bisa bersaing. Lebih buruk lagi, perang harga juga disertai keengganan
mengeluarkan biaya pengelolaan limbah. Bisa dikatakan bahwa malapraktik bisnis bisa
berdampak merugikan pada, diantaranya, konsumen, karyawan, dan lingkungan.

E. STRATEGI, TANGGUNG JAWAB SOSIAL PERUSAHAAN, SERTA


KELANGGENGAN LINGKUNGAN SEKITAR

Tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR) dapat
didefinisikan sebagai bentuk kepedulian perusahaan terhadap lingkungan eksternal
perusahaan melalui berbagai kegiatan yang dilakukan dalam rangka penjagaan lingkungan,
norma masyarakat, partisipasi pembangunan, serta berbagai bentuk tanggung jawab sosial
lainnya.

Selain definisi diatas masih ada definisi lain mengenai CSR yakni Komitmen perusahaan
dalam pengembangan ekonomi yang berkesinambungan dalam kaitannya dengan karyawan
beserta keluarganya, masyarakat sekitar dan masyarakat luas pada umumnya, dengan tujuan
peningkatan kualitas hidup mereka (WBCSD, 2002).

Sedangkan menurut Commission of The European Communities, 2001, mendefinisikan


CSR sebagai aktifitas yang berhubungan dengan kebijakan-kebijakan perusahaan untuk
mengintegrasikan penekanan pada bidang sosial dan lingkungan dalam operasi bisnis mereka
dan interaksi dengan stakeholder.

Dari sudut pandang strategis, suatu perusahaan bisnis perlu mempertimbangkan tanggung
jawab sosialnya bagi masyarakat dimana bisnis menjadi bagiannya. Ketika bisnis mulai
mengabaikan tanggung jawabnya, masyarakat cenderung menanggapi melalui pemerintah
untuk membatasi otonomi bisnis.

Tanggung Jawab Sosial Menurut Carrol, Carroll menyatakan bahwa manajer organisasi
bisnis memiliki empat tanggung jawab yakni :

Tanggung jawab ekonomi yakni memproduksi barang dan jasa yang bernilai bagi
masyarakat
Tanggung jawab hukum yakni perusahaan diharapkan mentaati hukum yang ditentukan
oleh pemerintah
Tanggung jawab etika yakni perusahaan diharapkan dapat mengikuti keyakinan umum
mengenai bagaimana orang harus bertindak dalam suatu masyarakat.
Tanggung jawab kebebasan memilih yakni tanggung jawab yang diasumsikan bersifat
sukarela.

Dari keempat tanggung jawab tersebut, tanggung jawab ekonomi dan hukum dinilai
sebagai tanggung jawab dasar yang harus dimiliki perusahaan. Setelah tanggung jawab dasar
terpenuhi maka perusahaan dapat memenuhi tanggung jawab sosialnya yakni dalam hal etika
dan kebebasan memilih.

Ada beberapa alasan mengapa sebuah perusahaan memutuskan untuk menerapkan


CSR sebagai bagian dari aktifitas bisnisnya, yakni :

o Moralitas : Perusahaan harus bertanggung jawab kepada banyak pihak yang


berkepentingan terutama terkait dengan nilai-nilai moral dan keagamaan yang dianggap
baik oleh masyarakat. Hal tersebut bersifat tanpa mengharapkan balas jasa.
o Pemurnian Kepentingan Sendiri : Perusahaan harus bertanggung jawab terhadap pihak-
pihak yang berkepentingan karena pertimbangan kompensasi. Perusahaan berharap
akan dihargai karena tindakan tanggung jawab mereka baik dalam jangka pendek
maupun jangka panjang.
o Teori Investasi : Perusahaan harus bertanggung jawab terhadap stakeholder karena
tindakan yang dilakukan akan mencerminkan kinerja keuangan perusahaan.
o Mempertahankan otonomi : Perusahaan harus bertanggung jawab terhadap stakeholder
untuk menghindari campur tangan kelompok-kelompok yang ada didalam lingkungan
kerja dalam pengambilan keputusan manajemen.

Adapun manfaat dari tanggung jawab sosial perusahaan, ialah :

a) Manfaat bagi Perusahaan

Tanggung jawab sosial perusahaan tentunya akan menimbulkan citra positif perusahaan
di mata masyarakat dan pemerintah.

b) Manfaat bagi Masyarakat

Selain kepentingan masyarakat terakomodasi, hubungan masyarakat dengan perusahaan


akan lebih erat dalam situasi win-win solution.

c) Manfaat bagi Pemerintah


Dalam hal ini pemerintah merasa memiliki partner dalam menjalankan misi sosial dari
pemerintah dalam hal tanggung jawab sosial.

Strategi Pengelolaan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan.

1. Strategi Reaktif

Kegiatan bisnis yang melakukan strategi reaktif dalam tanggung jawab sosial
cenderung menolak atau menghindarkan diri dari tanggung jawab sosial.

2. Strategi Defensif

Strategi defensif dalam tanggung jawab sosial yang dilakukan oleh perusahaan terkait
dengan penggunaan pendekatan legal atau jalur hukum untuk menghindarkan diri atau
menolak tanggung jawab sosial .

3. Strategi Akomodatif

Strategi Akomodatif merupakan tanggung jawab sosial yang dijalankan perusahaan


dikarenakan adanya tuntutan dari masyarakat dan lingkungan sekitar akan hal tersebut

4. Strategi Proaktif

Perusahaan memandang bahwa tanggung jawab sosial adalah bagian dari tanggung
jawab untuk memuaskan stakeholders. Jika stakeholders terpuaskan, maka citra positif
terhadap perusahaan akan terbangun.

Regulasi Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan dalam Perusahaan:

Di Indonesia sendiri, munculnya Undang-Undang No. 40 tahun 2007 tentang


Perseroan Terbatas (UU PT) menandai babak baru pengaturan CSR. Selain itu, pengaturan
tentang CSR juga tercantum di dalam Undang-Undang No. 25 tahun 2007 tentang Penanaman
Modal (UU PM). Walaupun sebenarnya pembahasan mengenai CSR sudah dimulai jauh
sebelum kedua undang-undang tersebut disahkan. Salah satu pendorong perkembangan CSR
yang terjadi di Indonesia adalah pergeseran paradigma dunia usaha yang tidak hanya semata-
mata untuk mencari keuntungan saja, melainkan juga bersikap etis dan berperan dalam
penciptaan investasi sosial.
Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan dalam Undang-Undang RI No. 40 Tahun
2007 tanggal 16 Agustus 2007 yang tercantum dalam bab V pasal 74. Dalam pasal 74 di
sebutkan sebagai berikut :

Perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya di bidang dan/atau berkaitan dengan


sumber daya alam wajib melaksanakan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan.

Ketentuan ini bertujuan untuk tetap menciptakan hubungan Perseroan yang serasi,
seimbang, dan sesuai dengan lingkungan, nilai, norma, dan budaya masyarakat
setempat. Yang dimaksud dengan Perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya di
bidang sumber daya alam adalah Perseroan yang kegiatan usahanya mengelola dan
memanfaatkan sumber daya alam. Yang dimaksud dengan Perseroan yang
menjalankan kegiatan usahanya yang berkaitan dengan sumber daya alam adalah
Perseroan yang tidak mengelola dan tidak memanfaatkan sumber daya alam, tetapi
kegiatan usahanya berdampak pada fungsi kemampuan sumber daya alam.

Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan sebagaimana dimaksud pada ayat


(1) merupakan kewajiban Perseroan yang dianggarkan dan diperhitungkan sebagai
biaya Perseroan yang pelaksanaannya dilakukan dengan memperhatikan kepatutan
dan kewajaran.
Perseroan yang tidak melaksanakan kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Yang dimaksud dengan dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan adalah dikenai segala bentuk sanksi yang diatur dalam peraturan perundang-
undangan yang terkait.

Ketentuan lebih lanjut mengenai Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan diatur
dengan Peraturan Pemerintah.

Sedangkan pengaturan di dalam UU PM, yaitu di dalam Pasal 15 huruf b adalah sebagai
berikut:

Setiap penanam modal berkewajiban melaksanakan tanggung jawab sosial


perusahaan.

Kemudian di dalam Pasal 16 huruf d UU PM disebutkan sebagai berikut:


Setiap penanam modal bertanggung jawab menjaga kelestarian lingkungan hidup.

KASUS

(PT. PLN) merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang diberikan mandat
untuk menyediakan kebutuhan listrik di Indonesia. Seharusnya sudah menjadi kewajiban bagi
PT. PLN untuk memenuhi itu semua, namun pada kenyataannya masih banyak kasus dimana
mereka merugikan masyarakat. PT. Perusahaan Listrik Negara (Persero) adalah perusahaan
pemerintah yang bergerak di bidang pengadaan listrik nasional. Hingga saat ini, PT. PLN
masih merupakan satu-satunya perusahaan listrik sekaligus pendistribusinya. Dalam hal ini
PT. PLN sudah seharusnya dapat memenuhi kebutuhan listrik bagi masyarakat, dan
mendistribusikannya secara merata. Usaha PT. PLN termasuk kedalam jenis monopoli murni.
Hal ini ditunjukkan karena PT. PLN merupakan penjual atau produsen tunggal, produk yang
unik dan tanpa barang pengganti yang dekat, serta kemampuannya untuk menerapkan harga
berapapun yang mereka kehendaki. Kasus ini menjadi menarik karena disatu sisi
kegiatanmonopoli mereka dimaksudkan untuk kepentingan mayoritas masyarakat dan
sebesar-besarnya kemakmuran rakyat sesuai UUD 1945 Pasal 33, namun disisi lain tindakan
PT. PLN justru belum atau bahkan tidak menunjukkan kinerja yang baik dalam pemenuhan
kebutuhan listrik masyarakat. Seperti berita yang di lansirkan dari www.RRI.co .id sebagai
berikut :

RRI, Surabaya : Meningkatnya kebutuhan listrik masyarakat setiap tahunnya mengalami


peningkatan antara 5-6 persen, namun kondisi tersebut mengakibatkan stok listrik kian
terbatas. Sudah maksimalnya beban penggunaan sejumlah Gardu Induk (GI) di wilayah Jawa
Timur dan terkendalanya pembangunan GI menyebabkan kondisi kelistrikan di wilayah
membaut Jatim terancam terjadi pemadaman bergilir.

Sedikitnya, ada 9 kabupaten yang terancam terjadinya pemadaman bergilir hingga dua tahun
kedepan diantaranya Surabaya, Sidoarjo, Bangkalan, Sampang, Sumenep dan Pamekasan.

Dikatakan Rido Hantoro Wakil Kepala Pusat Studi Energi ITS krisis listrik tidak saja terjadi
di Jatim dan Surabaya namun hampir keseluruhan pulau Jawa juga mengalami krisis listrik.
"Hal ini dipicu terus menurunnya pasokan listrik yang bisa disuplai kepada konsumen.
Program peningkatan daya sebesar 35.000 Megawatt jika terealisasi dengan cepat,
kemungkinan terjadinya krisis bisa dihindari," terangnya kepada RRI, Rabu (12/11/2014).
Selain kasus diatas yang terjadi di Sidoarjo adapun kasus krisis listrik terjadi
disejumlah kabupaten diseluruh daerah, kasus ini memuncak saat PT. Perusahaan Listrik
Negara (PT. PLN) memberlakukan pemadaman listrik secara bergiliran di berbagai wilayah
termasuk Jakarta dan sekitarnya, selama periode 11-25 Juli 2008. Hal ini diperparah oleh
pengalihan jam operasional kerja industri ke hari Sabtu dan Minggu, sekali sebulan. Semua
industri di Jawa-Bali wajib menaati, dan sanksi bakal dikenakan bagi industri yang
membandel. Dengan alasan klasik, PLN berdalih pemadaman dilakukan akibat defisit daya
listrik yang semakin parah karena adanya gangguan pasokan batubara pembangkit utama di
sistem kelistrikan Jawa-Bali, yaitu di pembangkit Tanjung Jati, Paiton Unit 1 dan 2, serta
Cilacap. Namun, di saat yang bersamaan terjadi juga permasalahan serupa untuk pembangkit
berbahan bakar minyak (BBM) PLTGU Muara Tawar dan PLTGU Muara Karang.
Dikarenakan PT. PLN memonopoli kelistrikan nasional, kebutuhan listrik masyarakat sangat
bergantung pada PT. PLN, tetapi mereka sendiri tidak mampu secara merata dan adil
memenuhi kebutuhan listrik masyarakat. Hal ini ditunjukkan dengan banyaknya daerah-
daerah yang kebutuhan listriknya belum terpenuhi dan juga sering terjadi pemadaman listrik
secara sepihak sebagaimana contoh diatas. Kejadian ini menyebabkan kerugian yang tidak
sedikit bagi masyarakat, dan investor menjadi enggan untuk berinvestasi.

Penyelesaian kasus :

Pada dasarnya kegiatan bisnis tidaklah hanya bertujun untuk memperoleh keuntungan
sebanyak-banyaknya dengan menghalalkan segala cara melainkan perlu adanya perilaku etis
yang diterapkan oleh semua perusahaan. Etika yang diterapkan oleh sebuah perusahaan
bukanlah salah satu penghambat perusahaan untuk dapat berkompetisi dengan para
pesaingnya melainkan untuk dipandang oleh masyarakat bahwa perusahaan yang menerapkan
etika didalam perusahaan bisnis adalah sebagai perusahaan yang memiliki perilaku etis dan
bermoral.
Dari pembahasan pada bab sebelumnya dapat disimpulkan bahwa PT. Perusahaan Listrik
Negara (Persero) telah melakukan tindakan monopoli, yang menyebabkan kerugian pada
masyarakat. Tindakan PT. PLN ini telah melanggar Undang-undang Republik Indonesia
Nomor 5 Tahun 1999 Tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak
Sehat. Untuk memenuhi kebutuhan listrik bagi masyarakat secara adil dan merata, sebaiknya
Pemerintah membuka kesempatan bagi investor untuk mengembangkan usaha di bidang
listrik. Akan tetapi Pemerintah harus tetap mengontrol dan memberikan batasan bagi investor
tersebut, sehingga tidak terjadi penyimpangan yang merugikan masyarakat serta Pemerintah
dapat memperbaiki kinerja PT. PLN saat ini, sehingga menjadi lebih baik demi tercapainya
kebutuhan dan kesejahteraan masyarakat banyak sesuai amanat UUD 1945 Pasal 33. Selain
daripada itu bukan hanya pihak pemerintahan yang harus berpartisipati kita sebagai
masyarakat yang cerdas sudah seharusnya berpikir terbuka dan cerdas untuk masa depan,
gunakanlah sumber daya alam yang terdapat di negeri ini secukupnya agar sumber daya alam
kita tetap terjaga sehingga penerus bangsa nanti bisa merasakan sumber daya alam yang
sama. Jangan memandang karena kita mampu membayar kita bisa menggunakan sumber
daya alam secara berlebihan. Hal tersebut tidak etis dan tidak menunjukkan sikap masyarakat
yang cerdas. Save our energy & love our earth.

BAB III

KESIMPULAN
Di dalam persaingan dunia usaha yang sangat ketat ini, etika bisnis merupakan sebuah
harga mati, yang tidak dapat ditawar lagi. Dalam zaman keterbukaan dan
luasnya informasi saat ini, baik-buruknya sebuah dunia usaha dapat tersebar dengan cepat
dan luas. Memposisikan karyawan, konsumen, pemasok, pemodal dan masyarakat umum
secara etis dan jujur adalah satu-satunya cara supaya dapat bertahan di dalam dunia bisnis
saat ini. Ketatnya persaingan bisnis menyebabkan beberapa pelaku bisnisnya kurang
memperhatikan etika dalam bisnis.
Etika bisnis mempengaruhi tingkat kepercayaan atau trust dari masing-masing
elemen dalam lingkaran bisnis. Pemasok (supplier),perusahaan, dan konsumen, adalah
elemen yang saling mempengaruhi. Masing-masing elemen tersebut harus menjaga etika,
sehingga kepercayaan yang menjadi prinsip kerja dapat terjaga dengan baik.
Etika berbisnis ini bisa dilakukan dalam segala aspek. Saling menjaga kepercayaan
dalam kerjasama akan berpengaruh besar terhadap reputasi perusahaan tersebut, baik dalam
lingkup mikro maupun makro. Tentunya ini tidak akan memberikan keuntungan segera,
namun ini adalah wujud investasi jangka panjang bagi seluruh elemen dalam lingkaran bisnis.
Oleh karena itu, etika dalam berbisnis sangatlah penting.
CSR merupakan kewajiban mutlak perusahaan sebagai suatu bentuk tanggung jawab
sosial perusahaan berupa kepedulian dan perhatian pada komunitas sekitarnya.
Pandangan perusahaan terhadap kewajiban tersebut berbedabeda. Mulai dari anggapan seke
dar basabasi atau suatu keterpaksaan, hanya untuk pemenuhankewajiban, hingga pelaksana
an berdasarkan asas kesukarelaan.
Bentuk-bentuk CSR yang dapat dilakukan oleh perusahaandapat diwujudkan dalam
berbagai bidang kehidupan yang penerapannya harus disesuaikandengan kebutuhan
masyarakat penerima CSR.
CSR memberikan manfaat yang sangat besar dalam menyejarterakan masyarakat
danmelestarikan lingkungan sekitarnya, serta bentuk investasi bagi perusahaan
pelakunya.Investasi bagi perusahaan dapat berupa jaminan keberlanjutan operasi perusahaan
dan pembentukan citra positif perusahaan. Manfaat ini dapat diperoleh apabila perusahaanm
enerapkan CSR atas dasar kesukarelaan, sehingga akan timbul hubungan timbal balikantara
pihak perusahaan dengan masyarakat sekitar. Masyarakat akan secara sukarelamembela
keberlanjutan perusahaan tersebut dan memberikan persepsi yang baik pada perusahaan.
Dengan begitu citra positif perusahaan akan terbentuk dengan sendirinya.
Pada akhirnya, strategi dari perusahaan akan berjalan dengan baik ketika didalam
strategi tersebut dijalankan etika bisnisnya. Sehingga, perilaku tidak etis pun dapat
diminimalisir dengan baik. Dan perusahaan akan mencapai keberhasilan dari strategi tersebut
setelah menjalankan CSR dengan baik.

Anda mungkin juga menyukai