Anda di halaman 1dari 16

37

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN

4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Hanura yang secara

administrasi termasuk ke dalam kecamatan Teluk Pandan kabupaten Pesawaran

provinsi Lampung. Puskesmas Hanura yang terletak di Jalan Jendral Suprapto no. 01,

Padang Cermin, Pesawaran, Lampung memiliki 10 desa sebagai wilayah kerjanya,

dengan total jumlah penduduk 34.712 jiwa. Puskesmas Hanura memiliki 10 desa

sebagai wilayah kerjanya dengan jumlah penduduk masing-masing desa Sukajaya

Lempasing sebanyak 6880 penduduk, desa Muncak sebanyak 1440 penduduk,desa

Hurun sebanyak 1854 penduduk, desa Cilimus sebanyak 2206 penduduk,desa Talang

Mulya sebanyak 2533 penduduk,desa Hanura sebanyak 6159 penduduk,desa

Sidodadi sebanyak 2161 penduduk,desa Gebang sebanyak 5312 penduduk,desa

Batu Menyan sebanyak 2463 penduduk dan desa Tanjung Agung sebanyak 3704

sehingga didapatkan total jumlah penduduk di wilayah kerja Puskesmas Hanura

sebanyak 34.712 penduduk (Puskesmas Hanura, 2016).

Lokasi penelitian yang peneliti ambil yaitu desa Sukajaya Lempasing dan

desa Gebang Kecamatan Teluk Pandan Kabupaten Pesawaran. Lokasi penelitian

dipilih berdasarkan laporan dari Puskesmas Hanura bahwa Desa Sukajaya Lempasing

dan Desa Gebang memiliki angka kejadian malaria tertinggi diantara desa lain dan

merupakan daerah endemik malaria yang memiliki daerah yang berpotensi untuk
37
38

berkembangnya penyakit malaria seperti daerah-daerah pedesaan yang mempunyai

rawa-rawa, genangan air payau di tepi laut dan tambak-tambak ikan yang tidak

terurus (Puskesmas Hanura, 2016).

Gambar 4.1 Peta Kabupaten Pesawaran Provinsi Lampung (Pemda Kabupaten


Pesawaran, 2013 ; Google Maps, 2017)

Lokasi pertama penelitian ini adalah desa Sukajaya Lempasing. Desa

Sukajaya Lempasing merupakan desa yang letaknya dibagian utara dari Puskesmas

Hanura. Desa Lempasing memiliki 4 dusun dengan jumlah total penduduk sebanyak

6.880 penduduk. Kondisi geografis desa Lempasing diliputi daerah pinggir pantai,

rawa-rawa, dan genangan air payau di tepi laut. Hal tersebut menunjukkan desa

Lempasing memiliki potensi untuk berkembangnya penyakit malaria.


39

Lokasi kedua penelitian ini adalah desa Gebang. Desa Gebang merupakan

desa yang letaknya dibagian selatan dari Puskesmas Hanura. Desa Gebang memiliki

6 dusun dengan jumlah total penduduk sebanyak 5312 penduduk. Desa Gebang

merupakan desa yang memiliki wilayah yang cukup luas, dimana wilayah desa

gebang juga mencakup pulau Tegal, pulau tepencil di perairan laut Teluk. Cakupan

wilayah yang luas tersebut menyebabkan minimnya cakupan deteksi dini penyakit

malaria.

Pulau Tegal merupakan sebuah pulau yang secara administrasi termasuk ke

dalam wilayah desa Gebang, kabupaten Pesawaran, provinsi Lampung. Pulau tegal

terletak di perairan Teluk Lampung dengan luas total 98 ha. Berdasarkan data

Puskemas Hanura, pulau Tegal memiliki jumlah penduduk 113 orang dan memiliki

topografi berupa pantai pasir putih yang landai, pantai berbatu serta wilayah daratan

(dekat pantai), hingga berupa lerengan bukit.

Gambar 4.1 Peta wilayah pulau Tegal Pesawaran


40

Sampai saat ini, pulau Tegal belum memiliki fasilitas umum yang memadai,

dimana belum tersedianya sekolah dan fasilitas kesehatan yang memadai. Dalam hal

kesehatan, penduduk yang mengalami sebuah penyakit harus terlebih dahulu

menyebrang dengan estimasi waktu sekitar 45 menit agar dapat menerima fasilitas

kesehatan di pusat desa Gebang.

4.2 Skema Partisipasi Subjek Penelitian

Penelitian ini dilakukan selama 40 hari mulai dari tanggal 15 Januari sampai

23 Februari 2017 yang terbagi menjadi empat tahap pemeriksaan. Tahap pertama

dilakukan di Pulau Tegal pada tanggal 15 Januari 2017. Tahap Kedua dilaksanakan

pada tanggal 9 Februari 2107 di desa Sukajaya Lempasing. Tahap ketiga

dilaksanakan pada tanggal 22 Februari 2017 di Pulau Tegal Desa Gebang dengan

jumlah penduduk yang diperiksa berjumlah 57 orang dan ditemukan 3 orang yang

menderita asymptomatic malaria kemudian dilakukan phlebotomy untuk mengambil

sampel pemeriksaan kadar hemoglobin dan sampel dikirim ke Laboratorium Patalogi

Klinik RSUD Abdul Moeloek. Tahap keempat dilaksanakan pada tanggal 23 Februari

2017 di Dusun Tanjung Jaya dan Dusun Seribu Desa Gebang dengan jumlah

penduduk yang diperiksa berjumlah 175 orang ditemukan 3 orang yang menderita

asymptomatic malaria kemudian dilakukan phlebotomy untuk mengambil sampel

pemeriksaan kadar hemoglobin dan sampel dikirim ke Laboratorium Patalogi Klinik

RSUD Abdul Moeloek.


41

15 Januari 2017 Asymptomatic Kriteria Inklusi


MBS ke-1 malaria (N = 9)
Desa Gebang (Pulau Tegal)
(N=40 orang)
Kriteria Eksklusi
(N=11)
9 Februari 2017
MBS ke-2 Asymptomatic malaria (N=0)
Desa Sukajaya Lempasing
(N=133 orang)

22 Februari 2017 MBS ke-3


Asymptomatic malaria(N=1) Kriteria Inklusi
Desa Gebang (Pulau Tegal)
(N=23 orang)
Responden Penelitian
(N=10)

Phlebotomy

Lab. Patologi Klinik


RSUD Abdul
Moeloek

s Asymptomatic malaria Kriteria Inklusi


23 Februari 2017
MBS ke-4 (N=3)
Desa Gebang
(Tanjung Jaya, Seribu) Responden Penelitian
(N=192) Kriteria Eksklusi
(N=17) (N=3)

Phlebotomy

Lab. Patologi Klinik RSUD Abdul Moeloek

Gambar 4.2 Diagram partisipasi subjek penelitian


42

4.2 Hasil Penelitian

4.2.1 Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin

Jenis Kelamin
54%
46 %
6
4 Laki-laki
2 Perempuan
0
Jenis Kelamin

Gambar 4.3 Diagram jenis kelamin penderita asymptomatic malaria di


wilayah kerja Puskesmas Hanura Kabupaten Pesawaran

Berdasarkan Gambar 4.1 diketahui bahwa karakteristik penderita berdasarkan

jenis kelamin yaitu laki-laki sebanyak 6 orang (46%), dan perempuan sebanyak 7

orang (54%).

Umur
8 46 %
39%
6 0- 11 tahun = Anak
4 15 % 12 - 25 tahun = Remaja
2 26 - 45 tahun = Dewasa
0

Gambar 4.4 Diagram usia penderita asymptomatic malaria di wilayah


kerja Puskesmas Hanura Kabupaten Pesawaran

Berdasarkan Gambar 4.5 diketahui bahwa karateristik pasien anak-anak

sebanyak 2 orang (15%), remaja sebanyak 6 orang (46%), Dewasa sebanyak 5 orang

(39%).
43

4.2.2 Distribusi Frekuensi Kasus Asymptomatic Malaria

Kejadian Asymptomatic Malaria


400 96,4 %

300
Asymptomatic
200
Tidak Malaria
100 3,6 %

Gambar 4.5 Diagram penemuan kasus kasus asymptomatic malaria di


wilayah kerja Puskesmas Hanura Kabupaten Pesawaran

Berdasarkan Gambar 4.6 diketahui bahwa dari 360 orang yang mengikuti

kegiatan Mass Blood Survey ditemukan sebanyak 13 orang (3.6%) yang menderita

asymptomatic malaria dan yang tidak menderita asymptomatic malaria sebanyak 347

orang (96.4%).

4.2.3 Distribusi Frekuensi Lokasi Ditemukan Kasus Asymptomatic malaria

Kasus Asymptomatic Malaria berdasarkan Lokasi


15
Desa Sukajaya
10
Lempasing
10 Pulau Tegal

Dusun Tanjung Jaya


5 2
1
0 Dusun Seribu
0

Gambar 4.6 Diagram distribusi frekuensi penemuan kasusasymptomatic


malaria di wilayah kerja Puskesmas Hanura Kabupaten
Pesawaran
44

Berdasarkan Gambar4.3 diketahui bahwa dari 13 orang yang positif

asymptomatic malaria diantaranya dari Pulau Tegal berjumlah 10 orang (77%),

Dusun Tanjung Jaya berjumlah 1 orang (7.7%), Dusun Seribu berjumlah 2 orang

(15.3%).

4.2.4 Gambaran Distribusi Frekuensi Status Anemia

Tabel 4.2 Hasil Pemeriksaan Kadar hemoglobin

Jenis Kadar Hb
No Inisial Usia Keterangan
Kelamin (U/L)
1. SU 22 Tahun P 13,2 Tidak Anemia
2. RA 7 Tahun P 12,1 Tidak Anemia
3. SA 4 Tahun L 8,6 Anemia
4. DE 15 Tahun L 12,4 Anemia
5. RO 16 Tahun L 12,1 Anemia
6. RI 17 Tahun P 12,6 Tidak Anemia
7. JA 36 Tahun P 8,7 Anemia
8. MIS 42 Tahun L 13,3 Tidak Anemia
9. MAR 30 Tahun L 14,5 Tidak Anemia
10. NING 26 Tahun P 6,9 Anemia
11. NE 39 Tahun P 9,8 Anemia
12. AH 14 Tahun L 11,8 Anemia
13 ES 14 Tahun P 11 Anemia
45

62%
Status Anemia
9
8
7
38%
6
5
4 Anemia
3
2 Tidak Anemia
1
0
Anemia Tidak Anemia
Ket : dari 13 orang sampel

Gambar 4.7 Diagram distribusi frekuensi status anemia pada penderita


Asymptomatic Malaria di wilayah kerja Puskesmas Hanura
Kabupaten Pesawaran

Berdasarkan Gambar 4.3 diketahui bahwa responden yang mengalami anemia

sebanyak 8 orang (62%), yang tidak mengalami anemia sebanyak 5 orang (38%).

Table 4.1 Rata-rata kadar Hemoglobin pada kasus asymptomatic malaria di wilayah
kerja Puskesmas Hanura Kabupaten Pesawaran tahun 2017

Kadar Hb N Mean(SD) Median (Min-Max)

Anemia 8 10.16 (1.982) 10.4(6.9-12.4)

Tidak Anemia 5 13.14 (0.901) 13.2 (12.1-14.5)

Berdasarkan Tabel 4.3 diketahui bahwa kadar rerata hemoglobin penderita

asymptomatic malaria yang mengalami anemia adalah 10.16 (1.982) U/L, nilai

median 10.4, kadar minimum 6.9 U/L dan kadar maksimum 12.4 U/L. Kadar rerata

hemoglobin penderita asymptomatic malaria yang tidak mengalami anemia adalah

13.14 (0.901) U/L, nilai median 13.2, kadar minimum 12.1 U/L dan kadar

maksimum 14.5 U/L.


46

4.3 Pembahasan

4.3.1 Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin dan Usia Penderita


Asymptomatic Malaria

Berdasarkan hasil penelitian penderita asymptomatic malaria di wilayah kerja

Puskesmas Hanura Kabupaten Pesawaran ditemukan responden perempuan lebih

banyak daripada responden laki-laki. Pelaksanaan kegiatan Mass Blood Survey di

masing-masing lokasi penelitian dilakukan pada saat jam kerja, sehingga hal ini

diduga cukup berpengaruh pada jumlah populasi yang terbatas. Kegiatan Mass Blood

Survey lebih banyak diikuti oleh ibu-ibu rumah tangga dan anak-anak yang kegiatan

sehari-harinya berada di sekitar lokasi penelitian. Hal ini berbeda dengan responden

laki-laki dewasa dengan mayoritas pekerjaan sebagai nelayan yang kegiatannya lebih

banyak dilakukan di luar lokasi penelitian,sehingga partisipasi responden laki-laki

pada saat kegiatan Mass Blood Survey lebih sedikit dibandingkan responden

perempuan.

Berdasarkan hasil penelitian penderita asymptomatic malaria di wilayah kerja

Puskesmas Hanura Kabupaten Pesawaran ditemukan usia yang paling banyak adalah

usia 12 25 tahun.

Teori terjadinya asymptomatic malaria merupakan akibat proses modifikasi

genetik. Modifikasi genetik yang terjadi berupa polimorfisme genetik respon imun

bawaan dan respon imun adaptif. Polimorfisme genetik pada respon imun tersebut

pada akhirnya menghasilkan kekebalan terhadap infeksi malaria sehingga tidak

menimbulkan gejala (asymptomatic malaria). Keadaan tersebut mengakibatkan orang


47

dewasa mempunyai titer antibodi malaria yang tinggi, dimana individu pada umur tua

memperoleh kekebalan dari episode paparan malaria parah lebih lama (selama masa

kanak-kanak hingga umurnya saat ini). Kekebalan akibat titer antibodi yang tinggi

pada kategori umur tua tersebut mengakibatkan penurunan tingkat parasitemia

sehingga tidak menimbulkan gejala klinis pada keadaan asymptomatic

malaria.Sedangkan keadaan tersebut tidak terjadi pada kategori umur anak-anak

dikarenakan belum terbentuknya kekebalan terhadap infeksi malaria sehingga

memiliki kerentanan yang lebih besar untuk terjadinya symptomatic malaria (Galatas

et al., 2015).

Hal ini sedikit berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Akiyama

et al pada tahun 2016 didapatkan dari 20 orang penderita asympomatic malaria

terbanyak adalah laki-laki dengan interval usia 2,5 -10 tahun (Akiyama et al.,

2016).Penelitian lain yang dilakukan oleh Igbeneghu pada tahun 2011 menyatakan

bahwa dari 141 penderita asymptomatic malaria paling banyak terjadi pada laki-laki

dengan usia penderita 20-29 tahun (Igbeneghu, C., Odaibo, A., Olaleye, D., 2011).

Perbedaan hasil penelitian tersebut mungkin dikarenakan perbedaan lokasi

penelitian, jumlah populasi, kondisi masyarakat, perbedaan ras, sosial-ekonomi dan

budaya, serta metode pemeriksaan yang digunakan pada penelitian.


48

4.3.2 Penemuan Kasus Asymptomatic Malaria di Wilayah Kerja Puskesmas


Hanura Kabupaten Pesawaran

Berdasarkan hasil penelitian,dari total populasi 388 penduduk ditemukan

penderita asymptomatic malaria di wilayah kerja Puskesmas Hanura Kabupaten

Pesawaran berjumlah 13 orang. Responden didapatkan dari lokasi penelitian di Desa

Gebang dengan lokasi yang paling banyak didapatkan kejadian asymptomatic

malaria adalah Pulau Tegal yang berjumlah 10 orang.

Kondisi lingkungan Pulau Tegal yang merupakan daerah pulau menjadikan

daerah ini potensial terbentuknya payau, laguna, yang secara alamiah maupun buatan

manusia. Tingginya angka kejadian asymptomatic malaria di Pulau Tegal ini diduga

karena beberapa faktor diantaranya masih banyaknya tempat perindukan nyamuk

malaria yang tersebar luas, jumlah penderita yang sangat banyak, tidak adanya

fasilitas dan petugas kesehatan yang menetap, serta akses menuju Pulau Tegal yang

cukup jauh dengan harus melintasi lautan kurang lebih 45 menit menuju Dermaga

Pantai Sari Ringgung. Sebagian besar kasus terjadi pada penduduk pribumi Pulau

Tegal,dimana dari 10 responden diketahui 8 responden merupakan penduduk pribumi

yang sudah cukup lama menetap. Berbeda dengan penderita asymptomatic malaria

yang ditemukan di Dusun Tanjung Jaya dan Dusun Seribu yang jumlahnya lebih

sedikit dibandingkan Pulau Tegal. Dimana lokasi tersebut angka kejadian malaria

tidak sebanyak di Pulau Tegal. Hal ini dikarenakan penduduk Dusun Tanjung Jaya

dan Seribu sudah sering dilakukan Mass Blood Survey dan diberikan obat anti

malaria, selain itu akses untuk menuju Puskesmas Hanura yang cukup dekat sehingga
49

tidak perlu melintasi lautan seperti halnya Pulau Tegal dikarenakan lokasi tersebut

sudah berada di daratan Kabupaten Pesawaran. Hal ini yang menyebabkan angka

kejadian malaria di Dusun Tanjung Jaya dan Dusun Seribu tidak sebanyak di Pulau

Tegal.

Berdasarkan teori immunoregulator pada asymptomatic malaria, faktor

genetik pada host memiliki beberapa mekanisme yaitu polimorfisme sistem imun,

hemoglobinopati dan polimorfisme Red Blood Cell (RBC). Berdasarkan teori ini, hal

yang berkaitan mengenai daerah endemis malaria dengan asymptomatic malaria

adalah keadaan polimorfisme respon imun bawaan yang didapat sejak lahir dan

respon imun adaptif yang terjadi akibat paparan terus menerus antara host dan parasit

malaria yang terjadi dalam waktu yang lama seperti pada keadaan daerah endemis

malaria yang pada akhirnya menghasilkan kekebalan terhadap infeksi malaria

(Medonca et al., 2015).

Sedangkan pada penduduk non-pribumi (pendatang) memiliki kerentanan

yang lebih besar untuk terjadinya symptomatic malaria dikarenakan belum

terbentuknya kekebalan terhadap infeksi malaria akibat minimalnya paparan antar

host (manusia) dan parasit malaria. Teori yang telah dijelaskan ini memperkuat hasil

penelitian dimana lebih banyak ditemukan penduduk pribumi yang terinfeksi

asymptomatic malaria daripada penduduk pendatang.

Pada penelitian sebelumnya tentang asymptomatic malaria di daerah endemis

malaria oleh Arwati pada tahun 2012 dari 18 responden yang diteliti,didapatkan

penderita asymptomatic malariadi daerah endemis malaria dengan jumlah 5 orang.


50

Penelitian lain yang dilakukan oleh Akiyama tahun 2016 menggunakan alat PCR dari

319 didapatkan 20 orang penderita asymptomatic malaria. Pada penelitian ini, dari

388 responden didapatkan 13 orang yang menderita asymptomatic malaria. Hal ini

menunjukkan bahwa penemuan kasus asymptomatic malaria masih cukup sulit untuk

ditemukan dan walaupun ditemukan dalam jumlah yang sedikit akan tetapi dapat

menjadi transmisi kejadian malaria.

4.3.2 Status Anemia pada Penemuan Kasus Asymptomatic Malaria di Wilayah

Kerja Puskesmas Hanura Kabupaten Pesawaran.

Berdasarkan hasil pemeriksaan hematologi di Laboratorium Patologi klinik di

RSUD Abdul Moeloek didapatkan bahwa pada penderita asymptomatic malaria yang

mengalami anemia sebanyak 8 orang (62%), dimana paling banyak terjadi pada

kategori umur 12 25 tahun serta pada kategori jenis kelamin didapatkan presentase

kejadian yang sama antara laki-laki dan perempuan.

Berdasarkan teori bahwa keadaan anemia diasumsikan sebagai keadaan yang

biasa terjadi pada malaria. Hal tersebut dikarenakan siklus hidup plasmodium terdiri

dari siklus seksual yang berlangsung pada nyamuk Anopheles betina, dan siklus

aseksual yang berlangsung pada manusia. Siklus hidup pada manusia terbagi menjadi

fase eksoeritrositer di dalam parenkim sel hepar dan fase eritrositer. Di dalam fase

eritrositer merozoit yang berasal dari skizon hati yang pecah akan masuk ke

peredaran darah dan menginfeksi eritrosit. Di dalam eritrosit, parasit tersebut

berkembang dari stadium tropozoit sampai skizon (8-30 merozoit, tergantung


51

spesiesnya). Proses perkembangan aseksual ini disebut skizogoni. Selanjutnya

eritrosit yang terinfeksi (skizon) pecah dan merozoit yang keluar akan menginfeksi

eritrosit lainnya hal tersebut akan berlangsung secara terus menerus sehingga terjadi

penghancuran yang berlebihan oleh parasit malaria pada sel darah merah dan

mengakibatkan anemia (Susanto, 2008).

Selanjutnya anemia juga terjadi pada penderita asymptomatic malaria. Hal

tersebut terjadi karena setiap episode berulang dari malaria menyebabkan serangan

lebih lanjut dari hemolisis, sehingga menyebabkan kehilangan 8%- 14% sel darah

merah. Semakin besar jumlah gejala kekambuhan dan semakin tinggi parasitemia

maka semakin besar tingkat kerusakan sel darah merah dan semakin besar penurunan

hemoglobin. Semakin lama hal ini terjadi maka semakin besar resiko terjadinya

anemia (Chen et al., 2016).

Hal ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan di Yaman

bahwa dari 67 orang penderita asymptomatic malaria terdapat sebanyak 42 orang

yang menderita anemia. Hal ini menunjukkan bahwa anemia pada penderita

asymptomatic malaria cukup tinggi yaitu 62,6 %. Namun pada penelitian yang

dilakukan oleh Igbeneghu et al di Nigeria tahun 2011 mengemukakan bahwa tidak

ada hubungan yang signifikan antara asymptomatic malaria dengan anemia.

Pada penelitian ini terdapat perubahan tujuan penelitian dimana peneliti tidak

menganalisis hubungan antara status anemia dengan kejadian asymptomatic malaria

di wilayah kerja Puskesmas Hanura melainkan menggambarkan status anemia pada

kejadian asymptomatic malaria di wilayah kerja Puskesmas Hanura. Hal ini


52

dikarenakan beberapa keterbatasan penelitian seperti keterbatasan alat pemeriksaan

untuk mendiagnosis asymptomatic malaria. Adapun pemeriksaan yang sangat akurat

dan efektif untuk mendiagnosis asymptomatic malaria yaitu dengan menggunakan

PCR, alat tersebut bisa mendeteksi derajat parasitemia yang rendah pada

asymptomatic malaria. Mengingat tersedianya PCR di Provinsi Lampung yang masih

sedikit dan biaya yang cukup mahal untuk melakukan pemeriksaan tersebut, maka

peneliti menggunakan pemeriksaan mikroskopis dan RDT (Rapid Diagnostic Test)

yang memiliki tingkat sensitifitas dan keakuratan yang rendah untuk mendeteksi

derajat parasitemia yang rendah pada asymptomatic malaria. Selain itu faktor yang

berpengaruh pada hasil penelitian ini adalah jumlah sampel yang sedikit, mengingat

kegiatan MBS (Mass Blood Survey) dilakukan pada saat jam kerja dan waktu

penelitian yang terbatas. Keterbatasan lain adalah berupa alokasi alokasi waktu

penelitian yang relatif singkat. Namun demikian, meskipun terdapat banyak

keterbatasan penelitian, hasil penelitian ini mampu memberikan informasi mengenai

gambaran status anemia pada kejadian asymptomatic malaria di wilayah kerja

Puskesmas Hanura.