Anda di halaman 1dari 7

www.scribd.

com/madromi

KISAH DAN ASAL USUL NANJI LAOREN / BINTANG PANJANG


UMUR SHOU XING (; )

Nanji Laoren (Hanzi=; (Pria Tua Kutub Selatan) adalah dewa


perwujudan bintang Canopus, bintang paling terang dari rasi bintang
Carina, dalam kepercayaan Taoisme. Dalam kultur Timur Jauh, bintang
Canopus menjadi simbol dari kebahagiaan dan umur panjang.

Ia juga disebut dengan nama Shouxing ( ; ; Shou Hsing; Bintang


Panjang Umur), dalam mitologi China merupakan salah satu dari tiga
bintang Fu Lu Shou. Meskipun dipuja sebagai dewa yang sangat
berhubungan dengan usia panjang (shou), Shouxing tidak memiliki kuil
yang khusus memujanya, tetapi banyak rumah-rumah yang membuat altar
untuk Shouxing atau Fu Lu Shou.

Berdasarkan cerita rakyat China, ShouXing digambarkan bijak, mengetahui


segala hal, dan mampu mengatur dunia. Saat festival, keluarga China
biasanya berdoa kepada rupang atau gambarnya untuk bersyukur bahwa
para orang tua di keluarga mereka dianugerahi usia panjang.

Nama dan Etimologi :

Nanji (Hanzi=; pinyin=nnj) memiliki arti Kutub Selatan. Laoren


(Hanzi=; pinyin=lorn) memiliki arti "pria atau wanita tua, orang tua,
panggilan untuk orang tua atau kakek/ nenek yang sudah tua".

Shouxing (Hanzi=; pinyin=shuxng) memiliki arti "dewa umur


panjang, atau orang tua yang hari ulang tahunnya sedang dirayakan". Shou
memiliki arti "marga Shou; usia panjang; usia tua; umur; hidup; ulang
tahun; pemakaman". Xing memiliki arti "bintang, satelit, jumlah sedikit".
Aksara shou (usia panjang) sering digunakan bersama dengan aksara lu
(bahagia) sebagai fushou (Hanzi=; pinyin=fshu) yang merupakan
ungkapkan "kebahagiaan dan umur panjang".

Shou-xing juga dikenal dengan nama Shou-lao dan Nan-ji-Xian-weng


(Hanzi=; lit. Imortal Tua dari Kutub Selatan).[3] Selain itu, ia juga
disebut sebagai:

Shou Xing Gong (Hanzi=; w=Shou Hsing Kung; lit. Kakek Bintang
Panjang Umur).
Chang Ming Zhi Shen (Hanzi= ; pinyin=Chng mng zh Shn; lit.
Dewa Pemilik Usia Panjang).

Kelahiran hingga kenaikan ke surga :

Pada suatu malam, seorang wanita muda berdiri di luar rumahnya dan
melihat ke langit. Ia terkejut melihat sebuah bintang bersinar sangat
benderang kemudian menunjukkan kepada suaminya. Suaminya berkata
bahwa bintang itu adalah Bintang Kutub Selatan yang anehnya malam itu
bersinar lebih terang daripada biasanya. Seorang tetangga yang
mendengar pembicaraan tersebut segera keluar, tetapi bintang tersebut
lenyap.

Bersamaan dengan itu, si wanita muda merasa tidak sehat sehingga


memutuskan untuk beristirahat. Saat tengah malam, wanita itu terbangun
karena mendengar suara seorang anak kecil. Anak itu menjerit keras dan
berkata kepadanya bahwa ia berada di dalam kandungannya, tetapi ia
harus menunggu selama sepuluh tahun sebelum dapat terlahirkan. Wanita
itu ketakutan kemudian membangunkan suaminya, ia ketakutan apakah ia
sedang mengandung Bintang Kutub Selatan. Saat keduanya melongok
keluar, bintang itu sudah tidak ada.
Sembilan tahun kemudian, wanita yang tengah mengandung tersebut
bertanya kapan putranya akan lahir. Tiba-tiba ia mendengar bayinya
berkata bahwa waktunya masih belum tiba, ia akan lahir pada tahun ke
sepuluh saat mata naga batu berubah merah. Tetangganya yang
mendengar hal tersebut menganjurkan suami si wanita untuk mengecat
mata naga batu dengan darah babi sehingga berwarna merah. Ternyata
wanita tersebut melahirkan setelahnya. Mereka menamakan bayi tersebut
Shou Xing atau Bintang Kutub Selatan.

Namun, Shou Xing terlahir sama sekali tidak memiliki rambut karena
ibunya mengandung dirinya tidak sampai sepuluh tahun. Karena tak
berambut, ia malu bertemu dengan orang-orang serta memilih untuk
berlatih Jalan di bukit. Suatu ketika, Shou Xing merasa ada yang
memanggilnya untuk masuk ke dalam bukit dimana tak seorang pun
berani masuk ke dalamnya. Orang-orang bertanya kemana dirinya pergi, ia
menjawab ia pergi ke bukit dan akan kembali bila sudah tiba waktunya. Ia
kembali 1000 tahun kemudian, pada masa Dinasti Song, setelah sembilan
generasi terlewati.

Shou Xing sekarang memiliki janggut yang panjang hingga ke pinggang,


membawa tongkat berjalan yang ujungnya diikat botol labu di tangan kiri,
dan persik keabadian di tangan kanan. Ia pergi menuju Bianliang dan
menarik perhatian banyak orang karena penampilannya yang aneh. Para
pejabat istana memberitahukan Kaisar Renzong mengenai kehadirannya
sehingga sang kaisar memanggilnya untuk menghadap. Saat Kaisar
Renzong bertanya berapa usianya, Shou Xing tidak menjawab melainkan
meminta kurma dan arak. Setelah menghabiskan hampir tujuh gelas arak
terbaiknya tetapi tetap tidak berkata apa-apa, kaisar merasa tidak
terkesan kemudian mempersilahkannya untuk pergi. Shou Xing pergi
keluar dari ibukota.
Keesokan harinya, pengamat bintang istana datang menemui kaisar dan
berkata bahwa ia melihat Bintang Kutub Selatan turun ke tahta, kemudian
menyimpulkan bahwa pria tua yang ia temui kemarin bisa jadi adalah sang
bintang. Kaisar Renzong menjadi murka karena ia tidak menanyakan
rahasia untuk berumur panjang kemudian menyuruh orang-orangnya
untuk membawa Shou Xing kembali, tetapi tidak ada yang berhasil
menemukannya. Seorang pria yang kemarinnya datang ke kota
menceritakan bahwa ia melihat Shou Xing berjalan di jalan desa tepat di
depannya, tetapi tiba-tiba ia naik ke Surga dalam kabut.

Nanji Xianweng pada masa Tiga Kerajaan :

Pada masa Tiga Kerajaan, seorang peramal bernama Guan Lu berada di


Negara Wei. Orang tua seorang bocah bernama Yan Chao (versi lain
bernama Zhao Yen) memanggilnya untuk meramalkan nasib putra mereka,
ternyata ia diramalkan hanya hidup hingga berusia 19 tahun. Pasangan
tersebut sangat berduka dan memohon petunjuknya, Guan Lu
menganjurkan mereka berdoa di Kuil Kwan Im kemudian ia akan datang
keesokan harinya untuk memberikan jalan keluar kepada mereka.

Keesokan harinya, Guan Lu menasihati Yan Chao untuk pergi ke hutan


sendirian sambil membawa sepoci arak dan daging kering esok hari. Di
sana, ia akan bertemu dua pria yang sedang berada di bawah pohon
mulberry, Yan Chao harus menyuguhi mereka makanan dan minuman itu
tetapi dilarang untuk menjawab apapun pertanyaan mereka. Meskipun tak
seorangpun mengerti maksud Guan Lu, Yan Chao tetap pergi ke hutan
sendirian. Yan Chao benar-benar menemukan dua orang pria seperti
gambaran Guan Lu kemudian mempersembahkan makanan dan minuman
yang ia bawa kepada mereka. Setelah makan dan minum , kedua pria
tersebut berdiskusi bagaimana mereka seharusnya membalas kebaikan
Yan Chao. Keduanya kemudian memutuskan untuk membalik angka
ekspektasi hidup Yan Chao, dari 19 menjadi 91.

Setelah kembali ke desa, Yan Chao kemudian diberi tahu bahwa salah satu
pria yang ia temui adalah Dewa Bintang Kutub Utara yang berkuasa
memutuskan hari kelahiran manusia dan Dewa Bintang Kutub Selatan yang
menetapkan hari kematian.