Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Susu merupakan hasil utama dari ternak perah, dengan kandungan
gizi yang lengkap dan sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Nilai gizi yang terkandung
antara lain karbohidrat, protein, lemak, mineral, kalsium, vitamin A, asam amino
esensial maupun non esensial, dan sebagianya. Produksi susu yang dihasilkan untuk
memenuhi kebutuhan masyarakat di Indonesia masih sangat rendah, karenanya
diperlukan peningkatan hasil, baik kualitas maupun kuantitasnya. Peningkatan
permintaan susu yang tidak diimbangi dengan bertambahnya populasi sapi, tentu saja
mengakibatkan kebutuhan akan susu tidak terpenuhi. Pemenuhan produksi susu
dengan penambahan ternak sapi perah membutuhkan waktu yang lama.
Hal ini membuktikan bahwa pengembangan usaha ternak sapi perah memiliki
peluang dan prospek usaha yang sangat cerah. Meskipun demikian, prospek usaha
ternak sapi perah yang sangat menjanjikan di Indonesia ini tidak akan memperoleh
hasil yang memuaskan tanpa memperhatikan tata laksana pemeliharaan sapi perah itu
sendiri. Manajemen pemeliharaan induk laktasi sapi perah merupakan pelaksanaan
pemeliharaan ternak setiap hari yang kegiatannya meliputi pemberian pakan dan
minum, sanitasi kandang, pelaksanaan perkawinan, pemerahan, pembersihan dan
kesehatan sapi, dan sistem perkandangan.
Efisien pengembangbiakan dan pengembangan usaha ternak perah hanya
dapat dicapai apabila peternak memiliki perhatian terhadap tata laksana pemeliharaan
dan manajemen pengelolaan yang baik. Faktor manajemen inilah yang memegang
peranan penting dalam usaha ternak perah. Maka dari itu adanya kegiatan magang ini
diharapkan bisa mengetahui semua manajemen yang berkaitan dengan perusahaan
peternakan karena sangat penting bagi mahasiswa untuk menunjang pengetahuan dan
pengalaman dilapangan sebelum terjun kedunia usaha peternakan nantinya.
Tujuan
1. Dapat menjalankan manajemenen pemberian pakan dengan baik.
2. Dapat menjalankan manajemen pelaksanaan perkawinan.
3. Dapat menjalankan manajemen pemerahan sesuai dengan prosedur.
4. Dapat menjalankan manajemen pembersihan dan kesehatan sapi denganbaik.
5. Dapat menjalankan manajemen sistem perkandangan yang benar.
Rumusan Masalah
1. Bagaimana Manajemen pakan yang baik
2. Bagaimana manajemen perkawinan yang maksimal
3. Bagaimana manajemen pemerahan
4. Bagaimana sanitasi kandang dan ternak
5. Bagaimana sistim perkandangan
BAB II
PEMBAHASAN
Pemeliharaan sapi sapi perah pada masa laktasi memerlukan kehati-hatian
baik dari pakan, kesehatan dan kandang. Sapi yang sedang produksi sangat sensitif
terhadap keadaan lingkungan sekelilingnya dan oleh sesuatu keadaan yang berubah
ubah. Oleh sebab itu, untuk menjaga kelangsungan produksi susu tetap stabil, maka
kegiatan pemeliharaan yang teratur dan menjadi kebutuhan sapi perah harus
dilakukan secara pasti.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemeliharaan sapi masa laktasi,
antara lain :
A. Manajemen pakan dan air minum
1. Manajemen Pakan
Dalam pemberian pakan sapi laktasi harus diperhitungkan dan disesuaikan
dengan kebutuhan yang didasarkan atas hidup pokok, pertumbuhan dan
produksi. Pemberian pakan secara individu pada sapi laktasi di kandang atau milking
parlor berubah mengarah ke sistem pemberian pakan yang baru. Meskipun metode
yang lebih baru tidak seefektif pemberian secara individual, sistem ini lebih ekonomis
daripada semua sapi diberi sejumlah konsentrat yang sama tanpa memperhatikan
produksi susu. Di samping itu, ada penghematan tenaga kerja dan fasilitas. Yang
paling baik perbaikan pemberian pakan mengkombinasikan seni dan ilmu pemberian
pakan.
Pakan ternak yang diberikan kepada sapi perah kandungan zat zat pakan
seperti karbohidrat, vitamin, protein, lemak air dan mineral. Pemberian pakan yang
baik juga harus mempertimbangkan phalatabilitas dan aspek ekonomis. Pada
pemberian pakan fase laktasi dikenal PhaseFeeding. Phase Feeding merupakan suatu
program pemberian pakan yang dibagi ke dalam periode-periode berdasarkan pada
produksi susu, persentase lemak susu, konsumsi pakan, dan bobot badan. Lihat
ilustrasi bentuk dan hubungan kurva produksi susu, % lemak susu, konsumsi BK, dan
bobot badan. Didasarkan pada kurva-kurva tersebut, didapatkan 4 fase pemberian
pakan sapi laktasi:
a. Fase 1, laktasi awal (early lactation), 0 70 hari setelah beranak.
Selama periode ini, produksi susu meningkat dengan cepat, puncak produksi
susu dicapai pada 4-6 minggu setelah beranak. Pada saat ini konsumsi pakan tidak
dapat memenuhi kebutuhan zat-zat makanan (khususnya kebutuhan energi) untuk
produksi susu, sehingga jaringan-jaringan tubuh dimobilisasi untuk memenuhi
kebutuhan. Selama fase ini, penyesuaian sapi terhadap ransum laktasi merupakan cara
manajemen yang penting. Setelah beranak, konsentrat perlu ditingkatkan 1-1,5 lb per
hari untuk memenuhi kebutuhan zat-zat makanan yang meningkat dan meminimisasi
problem tidak mau makan dan asidosis. Namun perlu diingat, proporsi konsentrat
yang berlebihan (lebih dari 60% BK ransum) dapat menyebabkan asidosis dan kadar
lemak yang rendah. Tingkat serat kasar ransum tidak kurang dari 18% ADF, 28%
NDF, dan hijauan harus menyediakan minimal 21% NDF dari total ransum. Bentuk
fisik serat kasar juga penting, secara normal ruminasi dan pencernaan akan
dipertahankan bila lebih dari 50% hijauan panjangnya 1 atau lebih.
Kandungan protein merupakan hal yang kritis selama laktasi awal. Upaya
untuk memenuhi atau melebihi kebutuhan PK selama periode ini membantu
konsumsi pakan, dan penggunaan yang efisien dari jaringan tubuh yang dimobilisasi
untuk produksi susu. Ransum dengan protein 19% atau lebih diharapkan dapat me-
menuhi kebutuhan selama fase ini. Tipe protein (protein yang dapat didegradasi atau
tidak didegradasi) dan jumlah protein yang diberikan dipengaruhi oleh kandungan zat
makanan ransum, metode pemberian pakan, dan produksi susu. Sebagai patokan,
yang diikuti oleh banyak peternak (di luar negeri) memberikan 1 lb bungkil kedele
atau protein suplemen yang ekivalen per 10 lb susu, di atas 50 lb susu.
Bila zat makanan yang dibutuhkan saat laktasi awal ini tidak terpenuhi,
produksi puncak akan rendah dan dapat menyebabkan ketosis. Produksi puncak
rendah, dapat diduga produksi selama laktasi akan rendah. Bila konsumsi konsentrat
terlalu cepat atau terlalu tinggi dapat menyebabkan tidak mau makan, acidosis,
dan displaced abomasum. Untuk meningkatkan konsumsi zat-zat makanan:
1. Memberi hijauan kualitas tinggi,
2. Protein ransum cukup,
3. Tingkatkan konsumsi konsentrat pada kecepatan yang konstan setelah beranak,
4. Tambahkan 1,0-1,5 lb lemak/ekor/hari dalam ransum,
5. Pemberian pakan yang konstan, dan
6. Minimalkan stress.
2. Fase 2, konsumsi BK puncak, 10 minggu kedua setelah beranak.
Selama fase ini, sapi diberi pakan berkualitas untuk mempertahankan produksi
susu puncak selama mungkin. Konsumsi pakan mendekati maksimal sehingga dapat
me-nyediakan zat-zat makanan yang dibutuhkan. Sapi dapat mempertahankan bobot
badan atau sedikit meningkat. Konsumsi konsentrat dapat banyak, tetapi jangan
melebihi 2,3% bobot badan (dasar BK). Kualitas hijauan tinggi perlu disediakan,
minimal konsumsi 1,5% dari bobot badan (berbasis BK) untuk mempertahankan
fungsi rumen dan kadar lemak susu yang normal. Untuk meningkatkan konsumsi
pakan:
1. Memberi hijauan dan konsentrat tiga kali atau lebih sehari,
2. Memberi bahan pakan kualitas tinggi,
3. Membatasi urea 0,2 lb/sapi/hari,
4. Meminimalkan stress,
5. Menggunakan TMR (total mix ration).
Problem yang potensial pada fase 2, yaitu:
1. Produksi susu turun dengan cepat,
2. kadar lemak rendah,
3. Periode silent heat (berahi tidak terdeteksi),
4. Ketosis.
3. Fase 3, pertengahan laktasi akhir, 140 305 hari setelah beranak.
Fase ini merupakan fase yang termudah untuk me-manage. Selama periode ini
produksi susu menurun, sapi dalam keadaan bunting, dan konsumsi zat makanan
dengan mudah dapat dipenuhi atau melebihi kebutuhan. Level pem-berian konsentrat
harus mencukupi untuk memenuhi kebutuhan produksi, dan mulai mengganti berat
badan yang hilang selama laktasi awal. Sapi laktasi membutuhkan pakan yang lebih
sedikit untuk mengganti 1 pound jaringan tubuh daripada sapi kering. Oleh karena
itu, lebih efisien mempunyai sapi yang meningkat bobot badannya dekat laktasi akhir
daripada selama kering.
2. Pemberian Air Minum
Sebagian besar kebutuhan air bagi ternak ruminansia dipenuhi dari air dan
selebihnya berasal dari ransum dan dari proses metabolisme yang terjadi pada tubuh
ternak. Jumlah air yang diminum tergantung pada ukuran tubuh, temperature
lingkungan, kelembaban udara dan jumlah air yang ada pada pakan. Air yang
dibutuhkan seekor sapi perah tidak cukup bila hanya diharapkan dari hijauan saja,
walaupun kadar air hijauan sekitar 70%-80%. Air yang diperlukan seekor sapi perah
sekitar 37-45 liter/hari. Sapi laktasi diberikan air minum secara ad-libitum yang
diletakkan dalam bak air minum di samping bak pakan. Keadaan ini sesuai dengan
pendapat Sudono (2003), bahwa jumlah air minum dibutuhkan untuk menghasilkan 1
liter susu adalah 4 liter . Air minum yang dikonsumsi rata-rata per ekor adalah 47-50
liter. Menurut Siregar (1995), air minum yang dibutuhkan ternak sapi perah untuk
memproduksi susu sekitar 30-40 liter per hari. Air minum tersebut diperoleh dari
sumur yang terdapat di dalam area peternakan. Air dari sumur dipompa dengan mesin
pompa air dan disalurkan kedalam bak penampung air dengan menggunakan peralon.
Dari bak penampungan air dialirkan ketiap-tiap kandang dengan peralon yang
didesain pada tiap kandang.
B. Manajemen Perkawinan
Ketepatan waktu mengawinkan memperoleh tingkat kebuntingan yang tinggi.
Sebaiknya sapi dikawinkan kembali 60 hingga 90 hari setelah beranak. Perkawinan
yang kurang dari 60 hari mengakibatkan beberapa kerugian:
1. mengakibatkan endometritis karena uterus belum kembali pulih sempurna.
2. Turunnya produksi susu
3. dapat menimbulkan keguguran karena saluran reproduksi belum kembali
normal.
Agar tidak menurunkan fertilitas, sebaiknya sapi harus sudah kawin dan
bunting kembali saat 90 hari setelah beranak. Mintalah bantuan tenaga medis bila sapi
tak kunjung bunting setelah dikawinkan untuk memeriksa apakah ada kelainan alat
reproduksi atau sapi tersebut mengidap Nympomania. Namun ada 26 pula sapi yang
berahi tetapi tidak menampakkan gejala berahi. Keadaan ini diatasi dengan
menggunakan pejantan.
Tiga minggu kemudian peternak perlu memeriksa apakah usaha mengawinkan
sapinya berhasil atau tidak. Dalam hal ini peternak perlu memiliki catatan. Sapi yang
bunting tidak akan memperlihatkan gejala berahi. Kebuntingan umur satu bulan sulit
diketahui karena embrio umur empat minggu tersebut berukuran 1 cm. akhir bulan
kedua, embrio berkembang menjadi bakal pedet dengan panjang 8 cm. sesudah tiga
bulan terlihat jelas bentuk pedet. Tanda kebuntingan yang dapat dijadikan patokan
selain tidak memperlihatkan berahi kembali yaitu ada beberapa:
a. Ukuran perut. Ukuran perut meningkat bagi sapi yang bunting lebih dari
empat bulan . Rumen menekan uterus bunting ke kanan.
b. Ambing mulai membesar akibat perkembangan jaringan ambing dan
formasi cairan. Peningkatan ambing bagi sapi dara dimulai lebih dini.
c. Pergerakan foetus. Pergerakan foetus dapat dideteksi dengan meletakkan
kepalan tangannya pada legok lapar (flank) kanan. Hal ini dapat dirasakan
saat enam bulan kebuntingan .
d. Palpasirectal atau pemeriksaan kebuntungan melalui rogohan rectum.
C. Pemerahan
Tugas terpenting seorang peternak yang menjalankan usaha sapi perah adalah
memerah. Pada saat inilah peternak memanen hasil kerjanya. Pemerahan terbagi atas
tiga bagian yang terdiri dari persiapan, pemerahan, dan penanganan hasil.
1. Persiapan
Persiapan berperan terhadap kualitas susu yang akan dihasilkan.
Sebelum pemerahan, pemerah sebaiknya menyiapkan alat dan bahan yang
akan digunakan. Alat-alat dan bahan tersebut yaitu ember penampung susu,
Can susu, kain lap, kain penyaring susu, corong, alat timbang, ekop, sapu lidi,
tali, ember air, air hangat, desinfektan, cawan strip, dan bangku. Peralatan-
peralatan tersebut dalam keadaan bersih dan kering sebelum digunakan.
Pemerah dalam keadaan bersih, sehat, memakai topi, tidak memakai
perhiasan, tidak merokok, kuku dipotong pendek agar tidak melukai ambing
sapi 22 saat diperah, mengotori dan mencemari susu, dan menyebabkan susu
berubah aroma mengingat susu sangat sensitive terhadap kontaminasi bakteri
dan bau. Sapi dimandikan dengan disikat untuk membuang kotoran yang
melekat pada badan sapi dan membuat rontok rambut di sekitar ambing.
Persiapan lain yaitu dengan membersihkan kandang. Lantai kandang disapu
dan disiram air. Bak pakan dibersihkan, kotoran sapi dan sisa-sisa pakan
dibuang. Lingkungan kandang dijaga agartetap tenang. Suara berisik, dan
pengunjung agar tidak ada saat dilaksanakannya pemerahan agar sapi tidak
tercekam. Air hangat dengan temperature 48 - 57 o C disiapkan lalu bubuhi
dengan desinfektan. Desinfektan yang digunakan yaitu Chlor, Iodine,
ammonium.
2. Pemerahan
Ambing diseka dengan air hangat berdesinfectan sambil diremas-
remas. Rangsangan ini diterima syaraf penerima dan diteruskan ke syaraf
yang terdapat di tulang punggung hingga sampai ke otak. Otak
memerintahkan untuk melepaskan oksitosin. Dengan demikian, hormone
oksitosin keluar, masuk ke peredaran darah mencapai daerah kantung susu
dalam waktu satu menit. Hormone mendorong susu kea rah putting sehingga
susu mudah keluar dan mengalir lancer. Kejutan atau perubahan mendadak
menyebabkan sapi tercekam, akibatnya oksitosin terhambat dan lebih lanjut
susu tidak keluar. Hormone penggerak turunnya susu bekerja selama 6 8
menit. Karena itu, pemerahan seekor sapi harus dilakukan dengan cepat dan
selesai dalam waktu tujuh menit.
Metode pemerahan yang sering digunakan di Indonesia adalah sebagai
berikut :
a. Whole Hand
Metode ini dilakukan dengan cara jari memegang puting susu pada
pangkal puting diantara ibu jari dan telunjuk dengan tekanan diawali dari atas
yang diikuti jari tengah, jari manis dan kelingking seperti memeras.
Pemerahan secara Whole hand membutuhkan waktu rata-rata 6,64 menit
untuk memerah seekor sapi dan cara ini digunakan untuk sapi yang putingnya
panjang.
b. Stripping
Metode ini dilakukan dengan cara puting dijepit antara ibu jari dan jari
telunjuk yang digeserkan pada pangkal puting bawah sambil dipijat.
Pemerahan secara Stripping rata-rata waktu yang dibutuhkan untuk memerah
seekor sapi adalah 7,72 menit dan cara ini digunakan untuk sapi yang ukuran
putingnya pendek. Cara pemerahan tersebut sesuai dengan pendapat
Syarief dan Sumoprastowo (1985) yang menyatakan bahwa whole hand
merupakan cara terbaik untuk sapi yang memiliki puting panjang dan
produksi susu tinggi sedangkan cara Strippen biasa digunakan untuk sapi yan
putingnya pendek.
c. Pemerahan dengan mesin
Pemerahan susu dengan mesin masih sedikit digunakan di Indonesia,
hanya peternakan dalam skala besar yang menggunakannya. Cara kerja
dengan menggunakan mesin perah inihampir sama dengan pemerahan pakai
tangan, hanya saja dibedakan dengan dengan mesin. Pemerahan berjalan dan
air susu mengalir dalam ember. Lama pemerahan untuk setiap sapi perah
kurang lebih 8 menit. Hal ini sangat tergantung pada banyaknya produksi susu
yang dihasilkan.
3. Keteraturan
Pemerahan sebaiknya dilaksanakan secara teratur sehingga menjadi
suatu kebiasaan. Biasanya pemerahan dilakukan dengan selang waktu 12 jam.
Akan tetapi, ada juga yang menggunakan selang waktu 13 dan 11 jam. Yang
penting yaitu membuat jadwal pemerahan untuk jangka waktu tertentu,
misalnya satu mnggu, dan menerapkannya.
4. Frekuensi
Pemerahan 24 Peternak biasanya memerah sapi dua kali sehari yaitu
pagi dan sore hari. Pemerahan dua kali sehari memberi hasil susu dengan
kadar lemak tinggi pada pemerahan pagi. Pemerahan sore harinya meberikan
hasil yang lebih tinggi. Tetapi pemerahan mungkin saja dilkukan 3 4 kali
sehari. Peningkatan pemerahan tergantung pada produksi susu sapi,
pemberian pakan, pemeliharaan, dan tenaga kerja. Produksi susu sapi perah
bertambah dengan meningkatnya frekuensi pemerahan. Bahkan hal itu terjadi
pula pada sapi yang berpoduksi rendah.
Peningkatan produksi susu karena pertambahan frekuensi pemerahan
terjadi karena prinsip (1) tekanan hidrostatik susu dalam alveoli berkurang
dan menyebabkan alveoli aktif memproduksi susu. (2) Rangsangan
neurohormonal menggertak produksi susu lebih banyak lagi. Perubahan
frekuensi pemerahan 2 menjadi 3 kali menambah hasil susu sebanyak 17 %,
sedangkan 3 menjadi 4 kali menaikan produksi susu sebanyak 26 %.
Frekuensi pemerahan sebaiknya dikurangi sejalan dengan pertambahan uimur.
Pertambahan umur mengurangi produksi susu sapi.
D. Sanitasi kandang dan Ternak
Sanitasi kandang dilakukan dengan cara membersihkan tempat pakan dan
tempat minum, feses serta sisa pakan yang tercecer pada lantai kandang. Lingkungan
kandang yang bersih dimaksudkan agar sapi tidak terserang penyakit dan susu yang
dihasilkan tidak terkontaminasi oleh kotoran. Hal ini sesuai dengan
pendapat Williamson dan Pyne (1993), bahwa lingkungan kandang sapi harus bersih
supaya saat pemerahan susu tidak terkontaminasi serta menjaga kesehatan sapi.
Sumoprastowo (1990), bahwa memandikan sapi hendaknya dilakukan setiap hari
sekitar pukul 06.00 - 08.00 WIB, yakni sebelum sapi diperah sehingga harus selalu
bersih setiap kali akan diperah terutama bagian lipatan paha sampai bagian belakang
tubuh. Sebab kotoran yang menempel pada tubuh sapi akan menghambat proses
penguapan pada saat sapi kepanasan, sehingga energi yang dikeluarkan untuk
penguapan lebih banyak dibanding dengan energi untuk pembentukan susu.
Sapi yang dipelihara terus menerus di dalam kandang akan memiliki kuku
yang tidak normal. Kuku tumbuh panjang dan memiliki bentuk yang tidak bagus,
serta dapat dijadikan sebagai tempat berkembangbiaknya bibit penyakit. Kuku yang
panjangnya berlebihan mengakibatkan tekanan pada teracak tidak merata, tepatnya
tekanan tidak menyebar ke seluruh kaki dan titik berat tubuh bergeser. Hal ini
membuat sapi menjadi tidak nyaman dan tidak seimbang saat berjalan.
Ketidaknyamanan membuat sapi tercekam sehingga bisa menurunkan produksi susu,
sedangkan kepincangan menyebabkan sapi betina tidak dapat menerima pejantan bila
dikawinkan secara alamiah. Kuku sapi sebaiknya dipotong setiap enam bulan. Mula-
mula kuku sapi dibersihkan, semua kotoran di sela kuku dibuang. Sol kuku ditipiskan
sedikit demi sedikit dengan menggunakan pisau kuku. Perlu diperhatikan dalam
memotong kuku agar tidak melewati batas putih kuku agar tidak terjadi pendarahan.
Kuku dipotong rata sedikit cekung pada bagian sol. Akhirnya, sol dikikir untuk
meratakan permukaan.
Agar susu yang dihasilkan bersih, sapi perah sebaiknya dicukur rambutnya
pada bagian ambing, legok lapar, dan ekor sapi perah. Maksudnya agar rambut pada
area tersebut tidak mencemari susu yang sedang diperah. Pencukuran menyebabkan
respirasi kulit menjadi baik dan sapi jadi bersih, ketombe menjadi berkurang,
mengurangi kotoran yang melekatpada rambut.
Sapi perah menghendaki temperature rendah. Untuk itu penyemprotan sekitar
kandang dengan air dan menanam pohon peneduh akan menurunkan temperature
kandang. Selain itu pohon peneduh berfungsi sebagai penahan angina karena
pemeliharaan sapi perah tidak boleh kena angina secara langsung.
Lalat mengganggu sapi sehingga dapat merugikan produksi susu.
Penyemprotan insektisida atau racun lalat dapat mengurangi populasi lalat. Namun
dalam penggunaan insektisida Perlu diperhatikan jangan sampai mencemari pakan
dan susu.
Kotoran kandang berupa urin, feses dan sisa pakan dikeluarkan dari kandang
ke tempat penampungan sementara.usahakan kotoran kandang cepat kering agar
baunya tidak tersebar.
E. Perkandangan
Bangunan kandang sebaiknya diusahakan supaya sinar matahari pagi bisa
masuk ke dalam kandang. Sebab sinar matahari pagi tidak begitu panas dan banyak
mengandung ultraviolet yang berfungsi sebagai disinfektan dan membantu
pembentukan vitamin D. Pembuatan kandang sebaiknya jauh dari pemukiman
penduduk sehingga tidak menganggu masyarakat baik dari limbah ternak maupun
pencemaran udara (Girisonta, 1995).
Sistem perkandangan merupakan aspek penting dalam usaha peternakan sapi
perah. Kandang bagi sapi perah bukan hanya berfungsi sebagai tempat tinggal saja,
akan tetapi harus dapat memberikan perlindungan dari segala aspek yang menganggu
(Siregar, 1993), seperti untuk menghindari ternak dari terik matahari, hujan ,angin
kencang, gangguan binatang buas, dan pencuri (Sugeng, 2001).
Ukuran kandang induk laktasi yaitu lebar 1,75 m dan panjang 1,25 m serta
dilengkapi tempat pakan dan minum, masing-masing dengan ukuran 80 x 50 cm dan
50 x 40 cm. Kandang yang baik mempunyai persyaratan, seperti lantai yang kuat dan
tidak licin, dengan kemiringan 2-5 dan kemiringan atap 30 serta disesuaikan dengan
suhu dan kelembaban lingkungan sehingga ternak akan merasa nyaman berada di
dalam kandang serta letak selokan dibuat pada gang tepat di belakang jajaran sapi
(Girisonta, 1995).
Menurut konstruksinya kandang sapi perah dapat dibedakan menjadi dua
yaitu kandang tunggal yang terdiri satu baris dan kandang ganda yang terdiri dari dua
baris yang saling berhadapan (Head to Head ) atau berlawanan (Tail to Tail). Tipe
kandang Head to Head dirancang dengan satu gang bertujuan agar mempermudah
saat memberi pakan dan efisien waktu, sedangkan tipe kandang Tail to Tail terdapat 2
gang dengan tujuan untuk mempermudah saat membersihkan feses (Anonimus,
2002). Untuk bahan atap kandang dapat menggunakan genting, seng, asbes, rumbia,
ijuk/ alang-alang, dan sebagainya. Menurut Girisonta (1995) bahan atap kandang
yang ideal di negara tropis adalah genting. Dengan berbagai pertimbangan yakni
genting dapat menyerap panas, mudah didapat, tahan lama, antara genting yang satu
dengan yang lain terdapat celah sehingga sirkulasi udara cukup baik.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Pemeliharaan sapi sapi perah pada masa laktasi memerlukan kehati-hatian
baik dari pakan, kesehatan dan kandang. Sapi yang sedang produksi sangat sensitif
terhadap keadaan lingkungan sekelilingnya dan oleh sesuatu keadaan yang berubah
ubah. Oleh sebab itu, untuk menjaga kelangsungan produksi susu tetap stabil, maka
kegiatan pemeliharaan yang teratur dan menjadi kebutuhan sapi perah harus
dilakukan secara pasti.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemeliharaan sapi masa laktasi
adalah pemberian pakan, air minum, pemerahan, sanitasi kandang dan ternak berupa
pembersihan kandang, pemandian sapi dan pemotongan kuku serta perkandangan.
Semua itu menunjang performa produksi susu baik secara kuantitas ataupun kualitas.
Pemeliharaan yang baik menghasilkan produksi yang baik.
Saran
Sebaiknya memelihara sapi perah masa laktasi sangat diperlukan manajemen
pemeliharaannya karena pada masa tersebut adalah masa yang sangat menguntungkan
bagi peternak sapi perah.
DAFTAR PUSTAKA

Anonimus. 2002. Beternak Sapi Perah. Kanisius. Yogyakarta.

Djaja, W. 2010. Pemeliharaan Sapi Laktasi. Universitas Padjajaran.

Girisonta. 1995. Petunjuk Praktis Beternak Sapi Perah .Kanisius. Yogyakarta. Hadiwiyoto,
S. 1983. Tekhnik Uji Mutu Susu dan Hasil Olahannya. Liberty. Yogyakarta.

Sarwono, B. dan H.B.Arianto. 2002. Penggemukan Sapi Potong Secara Cepat. Penebar
Swadaya. Jakarta.

Siregar D.A. 1995. Usaha Ternak Sapi. Kanisius Yogyakarta.

__________. 1996. Konsep Peraturan Makanan Ternak tentang Standar Makanan Sapi
Perah. Usaha Angkasa. Bandung.

Sitorus, P.E. 1983. Perbandingan Produktivitas Sapi Perah Impor di Indonesia. Laporan
Khusus Kegiatan Penelitian Periode Tahun 1982-1983. Balai Penelitian Ternak.
Bogor.

Soebandryo. 2001. Pemanfaatan Limbah Ternak. Trobos, edisi 11 hlm 7. Jakarta.

Sudono, A. 2003. Keuntungan Dalam Pengolahan Limbah Ternak. Trobos. Jakarta.


Produksi Ternak. Fakultas Peternakan IPB . Bogor.

Williamson, G. dan W.J.A. Payne. 1993. Pengantar Peternakan di Daerah


Tropis.Diterjemahkan oleh Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
TUGAS KELOMPOK
MANAJEMEN TERNAK PERAH

MANAJEMEN SAPI PERAH LAKTASI

OLEH :

MUHAMMAD DANIAL (I111 13 307)


MAGFIRAH MANSYUR (I111 13
MUHAMMAD HUSNI (