Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN RESMI

PRAKTIKUM ILMU UKUR TANAH 1

PENGUKURAN JARAK LANGSUNG

PADA AREA MENDATAR, MIRING, DAN TERHALANG

Disusun Oleh:

1. Aeny Sugianto 12/330070/TK/39261

2. Ahmad Baihaqi 12/330398/TK/39565

3. Bondan Galih Dewanto 12/332934/TK/39648

4. I Made Sapta Hadi 12/330081/TK/39272

5. Puji Nurhidayah 12/330456/TK/39598

TEKNIK GEODESI FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS GADJAH MADA

YOGYAKARTA

2012
PENGUKURAN JARAK LANGSUNG

PADA AREA MENDATAR

A. Tujuan

Mengukur suatu jarak pada area mendatar dengan menggunakan pita ukur dengan

1
memperhatikan ketelitian pengukuran (angka minimal TOR = )
3000

B. Alat

1. Jalon 3 buah
2. Pita Ukur 1 buah
3. Pen Ukur 3 buah
4. Kapur
5. Paku payung 4 buah

C. Teori

Pengukuran suatu bidang memiliki bagian penting, yakni membuat garis lurus. Dapat
dimengerti bahwa garis lurus ini tidak dapat dibuat seperti menarik garis lurus diatas kertas.
Dan garis lurus yang harus dibuat, harus diketahui kedua titik ujungnya. Maka untuk
menentukan garis lurus ini, ditentukan titik-titik di lapangan yang letak di garis lurus yang
menghubungkan dua titik ujung dengan jumlah yang cukup bnyak, sehingga garis lurus itu
keliatan dengan jelas. Titik-titik ini dinyatakan dengan jalon. Tiap-tiap bagian garis lurus
yang letak antara dua jalon dianggap sebagai garis lurus. Pengukuran-pengukuran dilakukan
dengan maksud untuk mendapatkan bayangan daripada keadaan lapangan, dengan
menentukan tempat titik-titik diatas permukaan bumi terhadap satu sama lainnya. Untuk
mendapatkan hubungan antara titik-titik itu, baik hubungan yang mendatar maupun
hubungan-hubungan tegak,diperlukan sudut yang mendatar dan untuk hubungan diperlukan
sudut yang tegak (Wongsotjitro, 1985).

Pengukuran jarak horizontal dengan pita terdiri atas penetapan panjang yang diketahui
pada pita berpembagian skala langsung pada sebuah garis beberapa kali. Dua jenis masalah
yang timbuladalah mengukur jarak antara dua jenis tertentu, misalnya dua petak di tanah
dan memasang sebuah jarak di satu titik awal saja yang tertentu tempatnya. Pengukuran
dengan pita dilaksanakan dalam enam langkah, meluruskan, member tegangan,
pemenggalan, penandaan dengan pita, pembacaan pita ukur, pembacaan jarak dan
pencatatan jarak. Penerapan langkah-langkah dengan pengukuran pita ini dapat dilakukan
pada bidang datar dan miring (Brinker, 1986).

Pelaksanaan pengukuran pada area mendatar dapat dilakukan dengan melakukan


beberapa penggalan. Misalkan saja jarak antara A dan B merupakan bidang datar maka
jarak A dan B dapat diukur dengan pita ukur. Apabila jarak antara A dan B terlalu panjang
dan tidak cukup diukur dengan pita ukur,maka kita bisa melakukan penggalan dalam
beberapa titik diantar jarak A dan B.

D. Pelaksanaan Praktek
1. Menyiapkan alat-alat yang akan digunakan
2. Menentukan posisi 2 titik yang akan diukur jarak antara keduanya
- Jarak minimal 80 meter (tidak boleh kurang)
- Ditentukan dengan langkah kaki
3. Melakukan pelurusan dengan jalon
- Memasang jalon pada titik A dan B
- Menentukan 3 buah titik diantara A dan B sebagai penggalan (titik p, q dan r)
- 3 orang memegang jalon dan 1 orang sebagai pengamat melakukan pelurusan
4. Memasang pen ukur/kapur/paku paying pada titik-titik yang telah ditentukan dengan
jalon
5. Meletakkan jalon ditanah
6. Menarik pita ukur dari ririk A ke p, lalu catat hasilnya, dengan cara yang sama lakukan
pengukuran dari titik p ke q, q ke r, dan r ke B
7. Melakukan pengukuran pulang dari titik B ke A dengan 3 titik penggalan yang berbeda
(p , q , dan r) dengan langkah sama pada poin c, d, e dan f.

E. Hasil Dan Pembahasan

1. Hasil

No Lokasi Pergi Pulang Ketelitian


1. A (depan Selisih = (83,720-83,715)
83,720 83,715
gedung Teknik m = 0,005 m
m m Rata-rata = (83,720
Arsitektur dan
m+83,715 m) /2 = 83,717
PWK)
m
TOR = 0,005/83,717 =
1/16743,5
2. B (Utara Selisih = (85,496-85,492)
85,496 85,492
gedung Teknik m = 0,004 m
m m Rata-Rata = (85,496
Arsitektur dan
m+85,492 m)/2 = 85,494
PWK)
m
TOR = 0,004/85,494 =
1/21373,5

Sketsa Pengukuran
1. Pengukuran Lokasi A

Pengukuran pergi lokasi A


A 21,950 m p 21,186 m q 20,054 m r 20,530 m B

Pengukuran pulang lokasi A

A 21,354 p 20,753 m q 20,358 m r 21,250 m B

2. Pengukuran Lokasi B
Pengukuran pergi lokasi B

A 22,690 m p 21,596 m q 20,548 m r 20,662 m B

Pengukuran pulang lokasi B

A 20,634 m p 20,938 m q 21,680 m r 22,240 m B

2. Pembahasan

Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa, pada lokasi 1 (timur gedung arsitektur
dan perencanaan), hasil pengukuran pergi adalah 83,720 m dan hasil pengkuran
pulangnya adalah 83,715 m, sehingga rata-rata jaraknya adalah 83,717 m dan selisih

jaraknya 0,005 m dengan ketelitian mencapai . Sedangkan pada lokasi 2 (utara

gedung arsitektur dan perencanaan), hasil pengukuran pergi adalah 85,496 m dan hasil
pengkuran pulangnya adalah 85,492 m, sehingga rata-rata jaraknya adalah 85,494 m dan

selisih jaraknya 0,004 m dengan ketelitian mencapai . Dengan TOR lebih dari
, maka dapat dikatakan bahwa data hasil pengukuran jarak langsung baik di lokasi 1

maupun lokasi 2 memenuhi TOR.

PENGUKURAN JARAK LANGSUNG

PADA AREA MIRING

A. Tujuan

Mengukur suatu jarak pada area miring dengan menggunakan pita ukur dengan

1
memperhatikan ketelitian pengukuran (angka minimal TOR = ).
3000

B. Alat :
1. Pita ukur 1 Buah
2. Pen ukur 3 Buah
3. Unting-unting 2 Buah
4. Paku payung 6 Buah
5. Kapur 3 Batang
6. Jalon 3 Buah
C. Teori
1. Pengertian
Jarak antara dua buah titik di permukaan bumi dalam ilmu ukur tanah adalah jarak
dalam bidang horizontal, yang merupakan jarak terpendek antara 2 buah titik. Jarak dapat
diukur atau ditentukan dengan berbagai alat dan cara atau metode, yang pemilihannya
tergantung dari alat yang tersedia dan tujuan pengukuran serta tingkat ketelitian yang
disyaratkan. Pengukuran jarak dapat dibagi menjadi 2 yakni pengukuran jarak langsung
dan pengukuran jarak tidak langsung. Pengukuran jarak langsung adalah pengukuran
yang dilakukan langsung terhadap parameternya, misalnya parameternya berupa jarak
dan jarak tersebut yang langsung diukur.
2. Alat yang Diperlukan Dalam Pengukuran Jarak
Dalam pengukuran jarak langsung diperluka alat utama dan alat alat bantu. Alat
- alat utama dalam pengukuran jarak langsung antara lain :
1. Pita ukur yang terbuat dari baja, fiberglass,plastic,kain atau campuran dari
padanannya.
2. Pegas ukur yang terbuat dari plat/pita baja dan dilengkapi dengan pegas pengukuran
ketegangan.
3. Rantai ukur yang terbuat dari kawat baja.
4. Kayu ukur.
Adapun alat alat bantu ukur antara lain :
1. Jalon atau anjir,yaitu tongkat kayu, aluminium atau besi berdiameter 1,5 3 cm
dengan panjang 1,5 sampai 3 m yang runcing dibagian bawah dan dicat merah putih
atau hitm putih setiap 20 sampai 30 cm, digunakan untuk pelurusan. Tongkat ini bisa
berupa satu batang penuh atau berupa dua batang sambungan yang dapat dilepas.
2. Pen ukur terbuat dari kawat baja. Pen ukur berfungsi untuk menandai titik titik
pnggalan pada pengukuran jarak langsung.
3. Benang dan unting unting,memiliki fungsi untuk memproyeksikan suatu titik
secara vertical ke bawah.
4. Klinometer atau heling meter atau Abney level.
5. Jepitan penarik.
6. Pegas pengukuran ketegangan.
7. Cermin atau prisma penyiku.
3. Tahapan Pengukuran Jarak Langsung
Tahapan pengukuran jarak langsung biasanya berbeda beda tergantung dari area
yang akan diukur,baik itu area mendatar, miring ataupun area dengan halangan. Namun
secara umum pengukuran jarak langsung biasanya melalui tahapan :
1. Penentuan titik titik yang akan diukur.
Penentuan titik titik yang akan diukur dapat dilakukan secara manual misalnya
saja dengan langkah kaki.
2. Pelurusan arah anatara dua titik yang akan diukur.
Pelusuran dilakukan apabila pengukuran tidak dapat dilakukan dengan sekali
membentangkan pita ukur karena jarak yang diukur melebihi panjang pita ukur dan
atau permukaan tanahnya tidak mendatar, sehingga jarak tersebut perlu dipenggal
penggal agar pada setiap penggalan dapat dilakukan pengukuran jarak dengan
sekali membentangkan pita ukur dan pita ukur dapat ditarik hingga mendatar.
3. Pelaksanaan pengukuran jaraknya sendiri.
Pengukuran jarak langsung minimal dilakukan oleh 2 orang, orang pertama
memegangi bagian awal pita ukur, dan orang kedua menarik pita ukur dibagian
yang lain.
Pengukuran Pada Area Miring.
Pada medan yang miring, misalnya saja A ke B adalah jarak yang berisi area
miring, maka dalam pengukurannya bisa dibantu dengan unting unting. Dalam
pengukuran jarak dalam area miring perlu dilakukan pelurusan dan pembuatan
penggalan - penggalan lebih dahulu. Baru kemudian dilakukan pengukuran jarak
untuk setiap penggalannya. Disini pita ukur ditarik sehingga mendatar ( bisa dengan
alat khusus dan pengukur ketegangan ) dan batas penggal jarak yang diukur ditanah
diperoleh dengan bantuan unting unting yang digantung dengan benang dari pita
ukur yang direntangkan dan padaa ujung unting unting diatas tanah ditancapkan
pen ukur.
Angka bacaan jarak dibaca pada angka yang berimpit dengan benang unting
unting. Selain dengan cara tersebut pengukuran dapat pula dilakukan dengan
permukaan tanah yang miring, kemudian besarnya kemiringan medannya ( )
diukur dengan alat klinometer atau Abney level sehingga jarak datar sama dengan
jarak miring cos .
4. Pencatatan hasil pengukuran
Agar data ukuran-ukuran jarak yang banyak tidak membingungkan dan menjadi
lebih sistematik dan mudah dipahami orang lain, maka data tsb dicata dalam
formulir ukur atau buku ukur dan disertakan sket pengukuran, arah pengukuran dan
cara penulisan data dengan aturan yang baku atau seragam.
4. Kesalahan Dalam Pengukuran Jarak Langsung
Secara umum kesalahan pengukuran jarak dapat dikategorikan menjadi 3 :

1. Mistake atau blunder atau kesalahan besar, umumnya terjadi karena ketidak
cermatan dari surveyor. Misalnya saja salah pencataatan.

2. Kesalahan sistematik, kesalahan yang umumnya bersumber dari alat. Kesalahan ini
makin kecil bila alat yang digunakan makin baik. Cara yang biasanya dilakukan
untuk menghilangkan kesalahan sistematik adalah dengan kalibrasi dan melakukan
pengukuran sesuai dengan SOP ( Standar Operational Prosedur )

3. Kesalahan random,merupakan kesalahan yang tersisa (umumnya kecil) sesudah


kesalahan besar dan kesalahan besar dihilangkan.

Beberapa contoh lain kesalahan dalam pengukuran jarak langsung antara


lain pita ukur tidak betul betul mendatar, unting unting tidak vertiakl betul
karena hembusan angina, pelurusan yang tidak seksama,panjang pita ukur tidak
standar, kesalahan membaca angka pita ukur, dan lain lain.

D. Pelaksanaan Praktek

1. Menyiapkan alat-alat yang dibutuhkan.

2. Menentukan lokasi 2 titik yang akan diukur jarak antara keduanya (titik A dan B).

a. Jarak minimal 80 meter ( tidak boleh kurang dari 80 meter).

b. Ditentukan dengan langkah kaki (tidak boleh menentukan jarak langsung


menngunakn pita ukur).

3. Melakukan pelurusan dengan jalon.

a. Memasang jalon pada titik A dan B.

b. Menentukan titik-titik di antara A dan B sebagai penggalan.

c. 3 orang memegang jalon dan 1 orang sebagai pengamat melakukan pelurusan.

4. Memasang pen ukur/kapur/paku payung pada titik-titik yang sudah ditentukan dengan
jalon.

5. Meletakkan jalon di tanah.

6. Pada area pengukuran yang bidangnya mendatar, pengukuran dilakukan dengan pita ukur
dari titik awal sampai titik akhir di bidang mendatar. Kemudian catat hasil pengukuran.

7. Pada area pengukuran yang bidangnya miring, pengukuran dilakukan dengan pita ukur
yang dibantu dengan unting-unting.

a. Menempatkan unting-unting secara vertical tepat pada titik penggalan sampai


terjadi keseimbangan.

b. Menarik pita ukur secara mendatar sampai pada benang unting-unting, sehingga
keduanya tegak lurus.
c. Catat hasil pengukuran yang terlihat pada pita ukur yang berpotongan dengan
unting-unting.

8. Melakukan pengukuran pulang titik B ke A dengan membuat titik-titik penggalan yang


baru. Langkah pengukuran sama dengan yang tercanutm pada poin 3 sampai dengan 7.

E. Hasil dan Pembahasan

1. Hasil

NO LOKASI PERGI PULANG KETELITIAN

1. Area miring dari tugu 100,106 m 100,110 m


Rata-rata :
teknik menuju KPFT

100,108 m

100,110 - 100,106 = 0,004 m

TOR = =

2. Area miring samping 92,814 m 92,826 m Rata-rata :


kantin teknik (sebelah
timur) = 92,820 m

= 0,012 m

TOR = =
Sketsa Pengukuran

Lokasi 1
Pergi

100,106 m

A 15,694 m a

5,480 m
b
4,624 m
c 27,638 d
m 4,412 m
Pulang e
5,590
m f 19,728 m g 16,940 m B

100,110 m

A 15,694 m a
5,138 m
b
5,210 m
c 27,396 m
d
4,938 m
e

Lokasi 2 5,064 m f 18,332 m g 18,338 m B

Pergi

92,814 m

A 25,664 m a 9,323 m b
9,750 m
c

12,420 m
d 14,008 m e 21,740 m B
Pulang

92,826 m

A 25,456 m a 9,942 m b
10,180 m
c

11,494 m
d 12,176 m e 23,578 m B

2. Pembahasan
Dalam pengukuran jarak pada area miring ini diperlukan alat bantu yakni unting
unting sebagai alat untuk memproyeksikan suatu titik secara vertical ke bawah.
Dalam pengukuran jarak langsung pada area miring, ada beberapa hal yang perlu
diperhatikan antara lain :

a. Titik penggalan di area miring.


Jarak antara titik penggalan diarea kemiringan dengan area datar sebelum masuk
area miring harus diperkirakan, agar pada saat unting unting digunakan , pita ukur
dapat tegak lurus / berpotongan dengan tali unting unting. Apabila titik penggalan
pada bidang miring terlalu jauh dengan area datarnya maka kemungkinan pita ukur
tidak dapat bertpotongan / tegak lurus dengan tali unting unting.
b. Posisi unting unting
Posisi unting unting harus benar benar lurus kearah vertical. Sedikit saja
bergeser atau miring maka hasil pengukuran akan kurang akurat..
c. Ketegangan dan kelurusan pita
Ketegangan pita berkaitan dengan tenaga yang kita berikat dalam menarik pita
ukur. Usahakan ketegangan pita dalam setiap pengukuran itu sama sehingga
pengukuran lebih akurat. Untuk kelurusan pita itu juga sangat penting terutama saat
mengukur di area miring,pita harus lurus dan tegak lurus pada tali unting unting.
Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa, pada lokasi 1 yang terletak di Area
miring dari tugu teknik menuju KPFT, hasil pengukuran pergi adalah 100,106 m dan
hasil pengkuran pulangnya adalah 100,110 m, sehingga rata-rata jaraknya adalah

100,108 m dengan ketelitian mencapai . Sedangkan pada lokasi 2 yang terletak

di Area miring samping kantin teknik (sebelah timur), hasil pengukuran pergi adalah
92,814 m dan hasil pengkuran pulangnya adalah 92,826 m, sehingga rata-rata

jaraknya adalah 92,820 m dengan ketelitian mencapai .

Dengan TOR lebih dari , maka dapat dikatakan bahwa data hasil pengukuran

jarak langsung baik di lokasi 1 maupun lokasi 2 baik.

PENGUKURAN JARAK LANGSUNG

PADA AREA TERHALANG

A. Tujuan
Untuk mengetahui cara pengukuran pada bidang yang terdapat halangannya dan untuk
mengetahui jarak pada pada bidang tersebut
B. Alat
1. Jalon 3 buah
2. Pita Ukur 1 buah
3. Pen Ukur 3 buah
4. Kapur
5. Paku payung 4 buah
6. Benang bangunan yang salah satu ujungnya diikatkan paku

C. Teori
Di lapangan, dua titik yang akan diukur jaraknya kadang-kadang tidak langsung
dapat saling terlihat karena adanya halangan. Halangan tersebut dapat berupa gedung atau
rumah, semak-semak, rumpun bambu, bukit, tanggul sungai atau bahkan harus menyeberang
sungai yang cukup lebar.
Apabila di lapangan akan dibuat sebuah garis melalui suatu obyek dan garis tersebut
tegak lurus terhadap garis lain dengan peralatan yang sederhana,maka dapat dikerjakan
dengan beberapa macam cara antara lain, dengan:
1. Perbandingan sisi segitiga siku-siku.
D

A B
C E

2. Mengukur titik tengah tali busur.


C

D B
A
E F
3. Bantuan cermin penyiku atau prisma penyiku.
(Basuki, Slamet : 2011)

D. Pelaksanaan Praktek
1. Terhalang mobil

Mobil

a. Menyiapkan alat-alat yang akan digunakan.


b. Menentukan 2 titik, A dan B, (menggunakan jalon) yang akan diukur jaraknya
B dan
C E D
diantaranya terdapat halangan berupa mobil.
c. Menandai titik A dan B menggunakan pen ukur.
d. Menggunakan metode busur, membuat busur lingkaran menggunakan benang
bangunan dan paku dengan pusat titik A.
e. Membuat garis lurus dari titik B yang memotong busur lingkaran yang telah
dibuat.
f. Menandai dengan kapur/ tipex/ paku payung titik perpotongan antara garis lurus
dari B dan busur lingkaran yang berpusat di A sebagai titik C dan D.
g. Menentukan titik tengah garis CD dan menandainya dengan kapur/ tipex/ paku
payung sebagai titik E.
h. Menghubungkan titik A dan E, sehingga AE tegak lurus BC.
i. Mengukur jarak garis AAE dan garis BE menggunakan pita ukur.
Gedung
j. Menghitung jarak AB dengan menggunakan rumus phytagoras.
k. Mencatat hasil pengukuran dan perhitungan.

2. Terhalang gedung

D I J
G H C
E F
a. Menyiapkan alat-alat yang akan digunakan.
b. Menentukan 2 titik, A dan B, (menggunakan jalon) yang akan diukur jaraknya dan
diantaranya terdapat halangan berupa gedung.
c. Menandai titik A dan B menggunakan pen ukur.
d. Menggunakan metode busur, membuat busur lingkaran menggunakan benang
bangunan dan paku dengan pusat titik A.
e. Dengan cara yang sama, membuat busur lingkaran menggunakan benang bangunan
dan paku dengan pusat titik B.
f. Membuat garis lurus sembarang menggunakan pita ukur (jalon untuk pelurusan) yang
memotong busur lingkaran yang berpusat di A dan B, misal CD di luar gedung yang
saling terlihat.
g. Menandai titik perpotongan antara garis CD dan busur lingkaran yang berpusat di A
(sebagai titik E dan F) dan berpusat di B (sebagai titik G dan H) menggunakan kapur/
tipex/ paku payung.
h. Menentukan dan menandai (menggunakan kapur/ tipex/ paku payung) titik tengah
garis EF sebagai titik I dan titik tengah garis GH sebagai titik J.

i. Mengukur jarak AI, BJ, danIJ menggunakan pita ukur.


j. Menghitung jarak AB dengan menggunakan metode phytagoras.
- Mencari alas segitiga dengan cara mengurangkan panjang garis AI dengan garis
BJ.
- Tinggi segitiga sama dengan panjang garis IJ.
E. Hasil dan Pembahasan
1. Hasil
1. Hasil
a. Terhalang mobil

Titik
Jarak Terukur (m) Sketsa
Dari Ke
B C 10,288
A
B D 6,214
B E Mobil 8,251
C D 4,074
C/D E 2,037
E
A E D
3,538
B
C
A B 8,978

b. Terhalang gedung

Titik
Jarak Terukur (m) Sketsa
Dari Ke
C D 20,802
G H 3,64
A
E F 6,07
Gedung
E/F I 3,035
G/H J 1,82
K A IB 7,712
I J 11,935
D I B K
J
C
11,935
E F G H
B J 2,248
A K 5,464
A B 13, 126
2. Pembahasan
a. Terhalang mobil
Pengukuran jarak antara titik A dan B dilakukan dengan metode busur dengan
titik A sebagai titik tumpu, kemudian tarik garik lurus dari B hingga mengalami
perpotongan sebanyak dua kali pada busur yang telah dibuat, tandai dan ukur kedua
titik perpotongan tersebut (Titik C dan D) kemudian titik tengah antara kedua titik
perpotongan (Titik E) akan tegak lurus dengan B (900), sehingga dapat dipastikan
bahwa segitiga AEB adalah segitiga siku-siku. Dengan begitu dapat dilakukan
pengukuran dari A ke B dengan menggunakan teorema phytagoras sebagai berikut :

Jarak BC = 10,288 m
BD = 6,214 m
CD = 4,074 m
CE = DE = 2,037 m
BE = BD+DE = 6, 214 m + 2, 037 m = 8,251 m
AE = 3,538 m
AB =

=
= 8,978 m

b. Terhalang gedung
Metode pengukuran titik A dan dilakukan dengan cara yang hampir sama dengan
pada pengukuran di area pertama I. Pada pengukuran di area II kali ini, pengukuran
jarak A dan B dilakukan dua kali metode busur dengan dua titik sumbu yakni titik A
dan B. Setelah terbentuk dua buah busur tarik garis lurus sembarang (dari titik C ke D)
yang memotong kedua busur tersebut. Tandai titik perpotongan antara garis CD
dengan busur yang berpusat pada titik A (titik E dan F) dan busur yang berpusat pada
titik B (titik G dan H), kemudian lakukan pengukuran untuk mendapatkan titik tengah
antara titik E dan F (titik I) dan antara titik G dan H (titik J), dimana keduanya (titik I
dan J) tegak lurus terhadap titik C (90 0). Selisih antara garis AI dengan BJ akan
membentuk garis AK. Sehingga pada akhirnya terbentuk segitiga AKB yang siku-siku.
Dengan begitu pengukuran dapat dilakukan dengan teorema Phytagoras sebagai
berikut :

Jarak CD = 20,802 m
GH = 3,64 m
EF = 6,07 m
EI = FI = 3,035 m
GJ = HJ = 1,82 m
AI = 7,712 m
BJ = 2,248 m
IJ = BK = 11,935 m
AK = AI-BJ = 7,712 m - 2,248 m = 5,464 m
AB =

= 13,126 m

DAFTAR PUSTAKA

Basuki, Slamet.2012. Ilmu Ukur Tanah Edisi Revisi.Gadjah Mada University Press: Yogyakarta.

http://informasi-budidaya.blogspot.com/2010/02/pengukuran-jarak-horizontal.html

Anda mungkin juga menyukai