Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Sedimentasi terjadi melalui proses pengendapan material yang ditransport oleh media
air, angin, es, atau gletser di suatu cekungan. Delta yang terdapat di mulut-mulut sungai
adalah hasil dan proses pengendapan material-material yang diangkut oleh air sungai,
sedangkan bukit pasir (sand dunes) yang terdapat di gurun dan di tepi pantai adalah
pengendapan dari material-material yang diangkut oleh angin. Proses tersebut terjadi terus
menerus, seperti batuan hasil pelapukan secara berangsur diangkut ke tempat lain oleh tenaga
air, angin, dan gletser. Air mengalir di permukaan tanah atau sungai membawa batuan halus
baik terapung, melayang atau digeser di dasar sungai menuju tempat yang lebih rendah.
Hembusan angin juga bisa mengangkat debu, pasir, bahkan bahan material yang lebih besar.
Makin kuat hembusan itu, makin besar pula daya angkutnya. pengendapan material batuan
yang telah diangkut oleh tenaga air atau angin tadi membuat terjadinya sedimentasi.
Menurut Dibyosaputra (1997: 65) besar kecilnya sedimen di daerah sungai ditentukan
melalui transportasi sungai yang disebabkan oleh adanya kekuatan aliran sungai yang sering
dikenal dengan istilah kompetensi sungai (stream competency), yaitu kecepatan aliran
tertentu yang mampu mengangkut sedimen dengan diameter tertentu. Dengan kata lain bahwa
besarnya sedimen yang terangkat tergantung pada :
a) Debit sungai
b) Material sedimen
c) Kecepatan aliran.
Dengan kekuatan aliran dan faktor lainnya maka ada tiga bentuk/macam sedimen
yang terangkut yaitu:
a) Muatan terlarut (dissolved load)
b) Muatan tersuspensi (suspended load)
c) Muatan dasar (bed load)
Pada saat sungai banjir, maka hydraulic action dapat melepas dan mengangkut
material sedimen dalam jumlah besar. Tidak hanya dari dsarnya saja tetapi juga menggerus
material sepanjang tebing atau tanggul sungai. Akibatnya tanggul sungai mengalami
kerusakan dan terjadilah nendatan atauslumping (Dibyosaputra,1997: 65).

1
Menurut Anonim (2011) Sedimen yang dalam jangka waktu yang lama mengalami
pembatuan atau disebut dengan istilah batuan sedimen, yaitu suatu batuan yang terbentuk dari
hasil proses sedimentasi, baik secara mekanik maupun secara kimia dan organik.

1.2 RUMUSAN MASALAH

1. Apa itu sedimen ?


2. Bagaimanakah kharakteristik alirannya ?
3. Bagaimanakah upaya pengendalian sedimen ?

2
BAB II

PEMBAHASAN
2.1 Landasan Teori

Sedimen adalah bahan alami yang dipecah oleh proses pelapukan dan erosi, dan
kemudian diangkut oleh aksi angin, air, atau es, dan atau oleh gaya gravitasi yang bekerja
pada partikel itu sendiri, partikel sedimen ini biasanya merupakan material yang berasal dari
hasil pelapukan batuan dan pengikisan permukaan bumi yang pada umumnya media
transportasi atau pengangkutan sedimen adalah air (proses fluvial), angin (proses Aeolian)
dan gletser. Pasir pantai dan sungai adalah contoh transportasi fluvial, meskipun sedimen
juga sering diendapkan secara perlahan dalam air danau maupun laut. Gundukan pasir gurun
adalah contoh transportasi Aeolian. Sedangkan endapan moraine dan till adalah contoh
transportasi glasial atau gletser. Klasifikasi sedimen pada umumnya dilakukan berdasarkan
ukuran dan komposisinya. Berdasarkan ukuran butirnya, sedimen dibagi menjadi beberapa
jenis berdasarkan ukuran diameter butirnya yang kemudian ditetapkan dalam ukuran skala
tertentu. Klasifikasi ukuran butir yang paling umum dan dijadikan standar adalah klasifikasi
ukuran butir sedimen oleh Wentworth. Sedangkan dari komposisinya, sedimen
diklasifikasikan berdasarkan batuan asalnya, komposisi mineral dan komposisi kimianya.

Sumber Sedimen

Menurut Asalnya Garrison (2006) sedimen itu sendiri sebenarnya dibagi menjadi 4
kelompok, yaitu sedimen Lithogenous (sedimen yang berasal dari daratan), sedimen
Biogenous (sedimen yang berasal dari sisa rangka organisme hidup, terutama hewan yang
memiliki cangkang karbonat dan kalium fosfat), sedimen Hydrogenous (sedimen yang
berasal dari lautan yang terbentuk secara perlahan melalui penyerapan mineral ke dasar laut),

3
dan sedimen Cosmogenous (yaitu sedimen yang berasal dari luar angkasa). Ukuran sedimen
pun beragam dan mulai dari yang Boulders (yang berukuran > 256 mm) sampai yang berjenis
Dissolved material (dengan ukuran partikel < 0,0005 mm). Sedangkan untuk jenis partikel
yang terendapkan di kawasan hutan mangrove termasuk ke dalam jenis partikel Clay atau
lempung yang memiliki ukuran partikel sebesar 0,0005 0,002 mm.

Dengan ukuran partikel yang sangat kecil, sedimen ini dapat diangkut dengan cara
suspension yang pada umumnya memang terjadi pada sedimen yang sangat kecil ukurannya
seperti lempung sehingga mampu diangkut oleh aliran air ataupun angin. Selain dengan cara
suspension sedimen juga dapat diangkut dengan cara Bed load yaitu dengan cara
menggelinding, menggeser atau mendorong sedimen satu dengan yang lainnya. Cara ini
hanya terjadi pada jenis partikel sedimen yang relatif lebih besar seperti pasir, kerikil, dan
bongkahan. Cara lainnya yaitu Saltation yang berarti meloncat. Biasanya terjadi pada
sedimen yang berukuran sedang seperti pasir, dimana aliran fluida mampu menghisap dan
mengangkut sedimen pasir sampai dapat turun kembali ke dasar akibat adanya gaya gravitasi.

Perilaku Sedimen Pasir di Bawah Permukaan Air

2.2 Pembentukan Sedimen


Sedimen sebagai material padat alami yang bersifat lepas terbentuk dari pecahan
partikel batuan yang telah ada sebelumnya. Proses pelepasan partikel batuan menjadi sedimen
umumnya disebut pelapukan. Dalam bukunya Sedimentology and Stratigraphy(2009), Gary

4
Nichols membedakan proses pelapukan menjadi 2 jenis, yaitu pelapukan fisika dan pelapukan
kimiawi.

Pelapukan Fisik dan Kimiawi


Selain dari pelapukan batuan secara langsung, proses sedimen juga dapat terbentuk oleh
faktor biologis yang terjadi pada permukaan batuan, proses ini akan menghasilkan tanah,
dimana dalam pengertiannya secara geologis tanah adalah material sedimen lepas yang tidak
atau belum mengalami proses transportasi.

Profil Perkembangan Pembentukan Tanah


Proses selanjutnya dari pembentukan sedimen adalah erosi. Erosi adalah peristiwa
pengikisan padatan (sedimen, tanah, batuan, dan partikel lainnya) akibat transportasi angin,
air atau es, karakteristikhujan, creep pada tanah dan material lain di bawah pengaruh
gravitasi, atau oleh makhluk hidup semisal hewan yang membuat liang, dalam hal ini disebut
bio-erosi (wikipedia.org). Erosi tidak sama dengan pelapukan akibat cuaca, yang mana
merupakan proses penghancuran mineral batuan dengan proses kimiawi maupun fisik, atau
gabungan keduanya. Dalam prosesnya, jenis erosi yang membentuk sedimen bermacam-

5
macam dan dapat terjadi baik di darat maupun dibawah permukaan air, tergantung
mekanisme dan jenis media yang mengerosi batuan tersebut.

Jenis-jenis Erosi Batuan


Ukuran partikel memiliki peranan penting dalam proses pengendapan atau sedimentasi.
Hal ini dapat dilihat dari berat jenis pada partikel pembentuk sedimen, dimana berat jenis
pada partikel yang lebih besar kurang bisa diangangkut oleh air sehingga akan diendapkan di
dekat daratan, sedangkan partikel yang lebih kecil yang memiliki berat jenis lebih ringan
akan diangkut oleh air sampai bertemu cekungan ataupun turun ke dasar akibat adanya
gravitasi bumi dan membentuk endapan. Pengendapan partikel tidak hanya bergantung pada
ukuran partikel tetapi juga terhadap arus. Partikel yang lebih besar mengendap lebih cepat
daripada partikel yang lebih kecil dan arus yang kuat mempertahankan partikel dalam
suspensi lebih lama daripada arus yang lemah. Oleh karena itu, substrat pada tempat yang
arusnya kuat akan menjadi kasar (pasir atau kerikil), karena hanya partikel besar yang akan
mengendap; sedang jika perairan yang tenang dan arus lemah, lumpur halus akan mengendap.

2.3 Proses Terjadinya Sedimen


Berdasarkan tempat pengendapan dan tenaga yang mengendapkannya, proses
sedimen dapat dibedakan menjadi 3, yaitu:
1) Sedimen fluvial, merupakan proses prngendapan materi yang diangkut oleh sungai dan
diendapkan disepanjang aliran sungai , danau, waduk, atau muara sungai. Hasil
bentuknya antara lain delta dan bantaran sungai.
2) Sedimen eolis (sedimentasi teresterial, )merupakan proses pengendapan materi yang
diangkut oleh angin. Bentuknya antara lainberupa gugus pasir (sand dunes) atau
gundukan pasir yang seringkali ditemukan di pantai.

6
3) Sedimen laut (marine sedimentation), merupakan hasil abrasi pantai yang kemudian
diendapkan kembali disepanjang pantai. Contoh hasil bentukannya, antara lain endapan
puing karang (beach), endapan gosong pasir (bar), dan endapan pasir yang
menghubungkan dua pulau (tombolo).

2.4 Sebaran Sedimen


Penyebaran sedimen pada tiap-tiap tempat tidak sama dan tidak merata tergantung
pada kondisi yang mempengaruhinya seperti arus, gelombang, pasang surut serta jenis dan
komposisi sedimen (Komar, 1982). Salah satu parameter fisika perairan yang sangat
berpengaruh terhadap sebaran biologi dan kimia adalah partikel sedimen dan arus pasang
surut. Menurut Uktoselya (1992), sedimentasi sangat erat hubungannya dengan
pendangkalan. Sedimentasi ini merupakan proses yang berlangsung dalam jangka waktu yang
lama. Postma (1976) menyatakan bahwa kecepatan pengendapan partikel yang berdiameter 5
mm dengan densitas yang sama mengendap dengan kecepatan 20 cm/det. Sementara Wotton
(1992) mengemukakan bahwa partikel-partikel pasir memerlukan waktu 1,8 hari agar bisa
mengendap pada kedalaman 4.000 m. sedangkan jenis partikel lumpur yang berukuran lebih
kecil membutuhkan waktu untuk tenggelam kira-kira 185 hari pada kedalam 4.000 m dan
jenis partikel tanah Hat membutuhkan waktu tenggelam kira-kira 51 tahun pada kedalaman
yang sama. Menurut Streeter dan Wylie (1990), kecepatan pengendapan butiran sedimen
didalam air dimana benda tersebut digerakan secara horizontal ke dalam air sebagai
kombinasi dari gaya angkat, gaya hambat dan gaya-gaya lainnya yang bekeria.
Menurut Trask (1982, dalam Selley, 1976) menamakan sebaran sedimen terdiri dari
baik, sendang dan buruk. Sebaran baik adalah seluruh besar butir sedimen relative seragam.
Sebaran sedang adalah antara butiran kecil dan besar jumlahnya hampir sama, dan sebaran
buruk adalah ukuran butir seragam.

2.5 Karakteristika Aliran


Karakteristik fluida air yang berpengaruh terhadap transport sedimen
Rapat massa,
Viskositas,
Variabel aliran
- kecepatan, V(u,v,w)
- tegangan geser,

7
Karakteristika sedimen yang berkait dengan transpor sedimen
ukuran
bentuk
kecepatan endap
komposisi batuan (mineral)
Ukuran butir sedimen merupakan salah satu karakteristika yang paling penting dan
banyak digunakan dalam persamaan transpor sedimen. Ukuran butiran direpresentasikan oleh
diameter nominal
diameter jatuh (fall diameter)
diameter sedimentasi (sedimentation diameter)
diameter saringan, dan
ukuran sumbu triaxial
Bentuk butir sedimen merupakan salah satu sifat sedimen yang sering dianggap ikut
berpengaruh terhadap proses transport sedimen, bentuk butir sedimen direpresentasikan oleh
koefisien/parameter yang dikelompokkan menjadi 3 bagian yaitu:

a) koefisien yang didasarkan pada volume butir sedimen,


b) koefisien yang didasarkan pada proyeksi luas butir sedimen, dan
c) koefisien yang didasarkan pada sumbu triaxial (sumbu panjang, sumbu pendek, dan
sumbu tengah)
Koefisen/parameter yang sering digunakan untuk mendefinisikan bentuk butir sedimen
berdasarkan volumenya adalah sphericity yaitu untuk bentuk butir sedimen berbentuk bola,
nilai sphericity sama dengan satu dan untuk bentuk yang lain, nilai sphericity kurang daripada
satu

8
Koefisen/parameter yang biasa digunakan untuk mendefenisikan bentuk butir sedimen
berdasarkan proyeksi luasan butir sedimen adalah roundness yaitu koefisien roundness
digunakan untuk menunjukkan keruncingan ujung-ujung butir sedimen

2.6 Gerak Butir Sedimen


Awal gerak butir sedimen sangat penting dalam kaitannya dengan studi tentang
transpor sedimen, degradasi dasar sungai, desain saluran stabil, dsb. Dalam desain saluran
stabil, salah satu metode adalah kemiringan dan dimensi saluran dibuat sedemikian hingga
aliran tidak menimbulkan erosi di dasar dan tebing saluran. Karena pergerakan butir sedimen
sangat tidak teratur, maka sangat sulit untuk mendefinisikan dengan pasti sifat atau kondisi
aliran yang menyebabkan butir sedimen mulai bergerak kondisi kritis (awal gerak butir
sedimen). Beberapa pendekatan dalam mendefinisikan awal gerak butir sedimen (dikaitkan
dengan kondisi aliran):
1. sudah ada satu butir sedimen yang bergerak
2. sejumlah butir sedimen sudah bergerak
3. butir material dasar secara umum sudah bergerak
4. terjadi pergerakan butir sedimen dan awal gerak sedimen adalah situasi saat jumlah
transpor sedimen sama dengan nol.
Pendekatan ke-1 dan ke-2 sangat subyektif, bergantung pada orang yang mengamati
pergerakan butir sedimen. Metode ke-3 kurang tepat didefinisikan sebagai awal gerak butir
sedimen karena transpor sedimen sudah terjadi di sepanjang dasar saluran. Metode ke-4
barangkali yang dapat dikatakan paling objektif; hanya saja, dibutuhkan pengukuran
kuantitas transpor sedimen pada berbagai kondisi aliran yang berbeda untuk selanjutnya
dilakukan interpolasi untuk memperoleh kondisi aliran saat kuantitas transpor sedimen sama
dengan nol.

9
Pendekatan teoritis (lihat berbagai literatur tentang transpor sedimen)
untuk menentukan awal gerak butir sedimen didasarkan pada pendekatan:
Pendekatan kecepatan (competent velocity) Ukuran butir material dasar sungai,
dihubungkan dengan kecepatan di dekat dasar atau dengan kecepatan rerata yang
menyebabkan pergerakan butir sedimen.
Pendekatan gaya angkat (lift force) Diasumsikan bahwa pada saat gaya angkat ke atas
akibat aliran (lift force) sedikit lebih besar daripada berat butir sedimen di dalam air,
maka kondisi awal gerak butir sedimen telah dicapai.
Pendekatan tegangan geser kritis Pendekatan ini didasarkan pada konsep bahwa gaya
geser yang bekerja pada aliran dianggap paling berperan terhadap pergerakan butir
sedimen. Pendekatan dengan cara lain, diantaranya dengan teori probabilitas.

Akibat adanya aliran air, timbul gaya-gaya aliran yang bekerja pada butir sedimen.
Gaya-gaya tersebut mempunyai kecenderungan untuk menggerakkan/menyeret butir
sedimen. tsb merupakan fungsi berat butir sedimen. Pada butir sedimen halus yang
mengandung fraksi lanau (silt) atau lempung (clay) yang cenderung bersifat kohesif, gaya
untuk melawan gaya-gaya aliran lebih disebabkan oleh haya kohesi daripada berat butir
sedimen. Kohesi butir sedimen halus merupakan fenomena yang kompleks; pengaruh kohesi
bervariasi dan bergantung kandungan mineral.

2.7 Upaya Pengendalian Sedimen


Cara pengendalian sedimen yang terbaik adalah pengendalian sedimen yang dimulai
dari sumbernya, yang berarti merupakan pengendalian erosi. Upaya pengendalian sedimen
untuk memperkecil akibat-akibatnya antara lain berupa:
a) Pengendalian sungai (river training)
b) Perencanaan bangunan inlet yang baik untuk penyadapan air ke saluran
c) Pemilihan lokasi bendungan yang tepat
d) Pembangunan Bangunan Pengendali Sedimen (chek dam) di hulu waduk
e) Membuat alur pintas atau sudetan
f) Perencanaan outlet waduk yang baik
g) Perencanaan bangunan (structures) yang baik.

10
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
1. Sedimen didefinisikan secara luas sebagai material yang diendapkan di dasar suatu
cairan (air dan udara), atau secara sempit sebagai material yang diendapkan oleh air,
angin, atau gletser / es. Proses sedimentasi berawal dari proses pelapukan dan erosi
menghasilkan materi yang bisa terangkut oleh aliran air, kekuatan angin, gelombang
dan lain sebaginya. Material tersebut dapat berupa pasir, lumpur, maupun tanah.
Material yang terangkut tersebut akan mengendap di suatu tempat sesuai dengan
karakteristik media pengangkutnya.
2. Menurut asalnya Garrison (2006) menggolongkan sedimen ke dalam 4 bagian yaitu
Sedimen Terrigenous, Sedimen Lithogenous, Sedimen Biogenous dan Sedimen
Hydrogenous
3. Penyebaran sedimen pada tiap-tiap tempat tidak sama dan tidak merata tergantung
pada kondisi yang mempengaruhinya seperti arus, gelombang, pasut serta jenis dan
komposisi sedimen (Komar, 1982).
4. Karakterisrik aliran berupa Rapat massa (),Viskositas (v),dan Variabel aliran.
5. Bentuk butir sedimen merupakan salah satu sifat sedimen yang sering dianggap ikut
berpengaruh terhadap proses transport sedimen, bentuk butir sedimen
direpresentasikan oleh koefisien/parameter
6. Dan adapun upaya upaya untuk memperkecil akibat dari sedimen itu sendiri yaitu
pengendalian sungai,perencanaan bangunan intel yang baik,pemilihan lokasi bendung
yang tepat,pembangunan bangunan pengendali sedimen,serta perencanaan bangunan
yang baik.

11