Anda di halaman 1dari 11

A.

Tinjauan Pustaka

Dewatering merupakan proses pemisahan antara cairan dengan padatan.


Proses pemisahan ini tidak dapat dilakukan sekaligus tetapi harus secara bertahap,
yaitu dengan cara thickening, filtrasi, dan drying.

1. Thickening merupakan tahapan pertama dari dewatering dengan


mendasarkan atas kecepatan jatuh material pada media sehingga solid
faktor mencapai 1(%solid = 50%).
2. Fitrasi merupakan operasi pemisahan antara cairan dengan padatan
menggunakan saringan (filter) dari kain, solid faktor 4 (%solid = 80%)
3. Drying merupakan operasi pemanasan material sampai 110oC,
sehingga didapat %solid = 100%

Pada kesempatan kali ini hanya akan membahas mengenai settling test atau
uji pengendapan.

Uji Pengendapan adalah uji untuk mengetahui seberapa cepat suatu partikel
untuk mengendap. Gaya-gaya yang bekerja pada saat partikel mengendap adalah
gaya gravitasi/gaya berat partikel, gaya Arcchimedes dan gaya gesek. Pada saat
partikel mengendap, partikel awalnya memiliki kecepatan dan percepatan akibat
gravitasi. Namun, seiring bertambahnya kecepatan partikel, maka gaya gesek atau
gaya hambat partikel tersebut makin besar. Akhirnya partikel akan mengalami
suatu keadaan konstan yaitu dimana percepatannya adalah nol karena gaya gesek
tersebut besarnya sama dengan gaya berat partikel dan kecepetannya tidak akan
bertambah. Kecepatan ini disebut kecepatan terminal. Kecepatan terminal
bervariasi secara langsung dengan rasio gaya hambat.

Sedimentasi adalah proses pemisahan padatan yang terkandung dalam


limbah cair oleh gaya gravitasi, pada umumnya proses Sedimentasi dilakukan
setelah proses Koagulasi dan Flokulasi dimana tujuannya adalah untuk
memperbesar partikel padatan sehingga menjadi lebih berat dan dapat tenggelam
dalam waktu lebih singkat. Flokulan merupakan senyawa yang digunakan untuk
membentuk senyawa dari polutan yang mudah mengendap dan atau senyawa yang
mempunyai ukuran yang lebih besar dengan suatu reaksi kimia.

Sedimentasi bisa dilakukan pada awal maupun pada akhir dari unit
sistim pengolahan. Jika kekeruhan dari influent tinggi,sebaiknya dilakukan proses
sedimentasi awal (primary sedimentation) didahului dengan koagulasi dan
flokulasi, dengan demikian akan mengurangi beban pada treatment berikutnya.
Sedangkan secondary sedimentation yang terletak pada akhir treatment gunanya
untuk memisahkan dan mengumpulkan lumpur dari proses sebelumnya (activated
sludge, OD, dlsb) dimana lumpur yang terkumpul tersebut dipompakan keunit
pengolahan lumpur tersendiri.

B. Alat dan Bahan

Alat dan bahan yang dibutuhkan dalam uji pengendapan antara lain:

Alat: Bahan:

Gelas ukur Sampel bahan galian

Spatula Senyawa Floaktulan

Rak tabung reaksi Air

Neraca

*gambar alat terlampir

C. Prosedur Uji Pengendapan


i
Langkah-langkah dalam uji pengendapan yaitu:

1. Siapakan alat dan bahan yang dibutuhkan

2. Timbang sampel bahan galian, kemudian masukkan dalam gelas ukur


3. Tambahkan air dalam gelas ukur

4. Aduk larutan hingga homogen

5. Ukur seberapa banyak endapan yang terbentuk dalam suatu selang


waktu tertentu.

6. Kemudian dilakukan lagi percobaan dengan jumlah perbandingan


pelarut dan zat terlarut (bahan galian) dengan jumlah yang berbeda.

7. Yang terakir dilakukan percobaan dengan menggunakan suatu


flucolating

*video prosedur ditampilkan di file persentasi.

D. Tabulasi Data

Setelah melakukan uji pengendapan atau settling test, data yang diperoleh
dimasukkan ke dalam table-tabel seperti di bawah ini:

Percobaan tanpa penambahan floaktulan.


Tabung 1. Tabung 2.
t Tinggi t (detik) Tinggi
(detik) endapan endapan
(cm) (cm)
30 2,5 30 2,1
60 2,6 60 2,3
90 2,7 90 2,4
120 3 120 2,5
150 3,2 150 2,6
180 3,3 180 2,7
210 3,35 210 2,8
240 3.35 240 2,8
270 3.35 270 2,8
300 3.35 300 2,8
Massa sampel yang dimasukkan = 100g
Volume tabung 1 = 1020 ml
Volume tabung 2 = 850ml
Tinggi cairan tabung 1 = 34cm
Tinggi cairan tabung 2 = 28cm

Percobaan dengan penambahan floaktulan.


Tabung 1. Tabung2.
t (detik) Tinggi t (detik) Tinggi
endapan endapan
(cm) (cm)
30 2,6 30 3,2
60 3,1 60 3,85
90 3,2 90 3,55
120 3,2 120 3,5
150 3,2 150 3,4
180 3,2 180 3,4
210 3,2 210 3,4
240 3,2 240 3,4
270 3,2 270 3,4
300 3,2 300 3,4

Massa sampel yang dimasukkan = 100g


Volume tabung 1 = 1020 ml
Volume tabung 2 = 850ml
Tinggi cairan tabung 1 = 34cm
Tinggi cairan tabung 2 = 28cm

E. Pengolahan Data Percobaan

% solid:
%solid tabung 1 =100g/[100g+1020g-(100g /2,65g/ml)
=9,24%
%solid tabung 2 =100g/[100g+850g-(100g /2,65g/ml)
=10,96%

dilusi:
dilusi tabung 1 = [1020g-(100g/2,65g/ml)]/100
= 9,82
dilusi tabung 2 = [850g-(100g/2,65g/ml)]/100
= 8,12

kecepatan teoritis
=[10x(2,65-1)x (0,105)^2 ] / (18x0,891)
= 0,01134 x

kecepatan pengamatan:
= 0,2/30
= 0,0666 x

F. Analisis Data

Tabung 1 tanpa floaktulan


waktu Tinggi V %soli dilusi v
pulp cairan d pengend
(cm) bersih apan
(mL)
30 2,1 957 0,07
60 2,3 951 0,0067
90 2,4 948 0,0033
120 2,5 945 0,0033
150 2,6 942 0,0033
9,24 9,82
180 2,7 939 0,0033
210 2,8 936 0,0033
240 2,8 936 0
270 2,8 936 0
300 2,8 936 0
Tabung 2 tanpa floaktulan
waktu Tinggi V %soli dilusi v
pulp cairan d pengend
(cm) bersih apan
(mL)
30 2,5 774,11 10,96 8,12 0,0833
60 2,6 771.07 0,0033
90 2,7 768.03 0,0033
120 3 758,93 0,0033
150 3,2 752.85 0,01
180 3,3 749,82 0,0067
210 3,35 748,30 0,0017
240 3,35 748,30 0
270 3,35 748,30 0
300 3,35 748,30 0
Tabung 2 dengan floaktulan
waktu Tinggi V %soli dilusi v
pulp cairan d pengend
(cm) bersih apan
(mL)
30 2,6 942 0,0867
60 3,1 927 0,0167
90 3,2 924 0,0033
120 3,2 924 0
150 3,2 924 0
9,24 9,82
180 3,2 924 0
210 3,2 924 0
240 3,2 924 0
270 3,2 924 0
300 3,2 924 0
Tabung 2 dengan floaktulan
waktu Tinggi V %soli dilusi v
pulp cairan d pengend
(cm) bersih apan
(mL)
30 3,2 752.86 0,1067
60 3,85 733,12 0,0217
90 3,55 742,23 -0,1
120 3,5 743,75 -0,0017
150 3,4 746.78 9,24 9,82 -0.0033
180 3,4 746.78 0
210 3,4 746.78 0
240 3,4 746.78 0
270 3,4 746.78 0
300 3,4 746.78 0

Grafik h(cm) vs t(detik)

Tabung 1 tanpa floaktulan.

3
2.5
2
1.5
1
0.5
0
30 60 90 120 150 180 210 240 270 300

Tabung 2 tanpa floaktulan.

0
30 60 90 120 150 180 210 240 270 300

Tabung 1 dengan floaktulan

3.5
3
2.5
2
1.5
1
0.5
0
30 60 90 120 150 180 210 240 270 300
.

Tabung 2 dengan floaktulan.


5

0
30 60 90 120 150 180 210 240 270 300

G. Pembahasan

Pada percobaan didapat kecepatan pengendapan yang berbeda dengan


kecepatan pengendapan yang dihitung secara teoritis, kemungkinan terjadi
kesalahan dalam percobaan. Faktor-faktor seperti diameter tabung tidak dihitung,
jadi pertambahan tinggi bahan yang terendapkan sebenarnya harus dihitung dalam
dimensi volume, bukan dalam dimensi panjang. Selain itu pengukuran fluida
dilakukan kurang teliti, karena bentuk tabung dan kondisi yang kurang
memungkinkan.

Dalam uji pengendapan banyak faktor yang dapat mempengaruhi


kecepatan pengendapan, seperti, %solid, pH larutan, flow ion, kekeruhan air,
bahan yang diuji, dan viskositas larutan. Semakin besar %solid kecepatan
pengendapan akan lebih cepat, karena lebih banyak solid yang ada dalam larutan.
Kekeruhan air juga akan mempengaruhi pembacaan skala pada tabung, semakin
jernih air pembacaan semakin jelas dan kesalahn lebih mudah dihindari.

Pada grafik yang diperoleh ditemukan bahwa kecepatan pengendapan


cenderung meningkat dan akan konstan setelah mencapai suatu tinggi tertentu.
Namun pada grafik terakhir ditemukan kejanggalan, dimana kecepatan
pengendapan berkurang, didapatkan data dimana ketinggian endapan tidak
bertambah banyak, namun berkurang. Kemungkinan terjadi kesalahan pembacaan
pada saat percobaan atau bisa mungkin terjadi penurunan akibat endapan yang
sebelumnya kurang rapi jadi terlihat lebih tinggi, namun setelah beberapa saat
berkurang karena sudah menjadi compact.

H. Kesimpulan

Didapatkan kecepatan pengendapan dari larutan silica air dengan %solid


9.24% sebesar 0.0038 cm/s dan dengan %solid 10.96% sebesar 0.0047 cm/s.
Hasil percobaan menunjukan bahwa kecepatan pengendapan lebih cepat
terjadi pada larutan yang memiliki %solid yang lebih tinggi.

Setelah ditambah floaktulan didapatkan kecepatan pengendapan yang


meningkat cukup signifikan. Jadi fluaktulan mempengaruhi kecepatan
pengendapan suatu larutan.

Dari hasil percobaan terlihat faktor yang mempengaruhi kecepatan suatu


pengendapan adalah adanya reagen floaktulan.

REFERENSI

Rafinika Yoga. 2016. Laporan Modul V, MG2213 UJI PENGENDAPAN (SETTLING


TEST). Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan Universitas Gadja Mada.
LAMPIRAN