Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH MANAJEMEN TERNAK UNGGAS

MANAJEMEN PENETASAN

Oleh :
Kelompok 3
Kelas D

Fahmi Rauf Nugraha 200110130018


Latip Mustopa 200110130028
Khrisna Putra Ramadhan 200110130122
Rezha M Firdaus 200110130139
Chairunnisa 200110130266
Risa Gunawan 200110130334
Prasetyo Hadi 200110130355

FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS PADJAJARAN
SUMEDANG
2015
I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kemajuan industri perunggasan di Indonesia sudah mencapai tingkat
efisiensi yang optimal, sehingga mampu bersaing dengan produk unggas luar
negeri. Namun, masih lemahnya kinerja penyediaan bahan baku pakan, sehingga
untuk biaya produksi masih sangat tergantung impor.
Telur unggas berbeda dengan telur mamalia, karena telur unggas seperti
ayam dapat menghasilkan telur setiap 25 jam. Namun, hal itu tidak semua telur
dapat dibuahi. Karena telur ayam ada yang fertil dan infertil. Telur fertil adalah
telur yang dibuahi sehingga dapat berkembang menjadi embrio, sedangkan telur
infertil tidak dapat berkembang menjadi embrio, namun dapat di konsumsi.
Telur ayam dapat ditetaskan secara alami atau buatan. Penetasan telur yang
alami dilakukan oleh induk ayamnya sendiri untuk dierami. Sedangkan, untuk
penetasan telur yang buatan yaitu menggunakan mesin tetas.
Melakukan penetasan perlu adanya manajemen penetasan guna untuk
menciptakan kenyamanan bagi ternak. Manajemen penetasan perlu dilakukan
beberapa hal seperti, persiapan penetasan, tata laksana putaran, pemanenan DOC,
dan evaluasi hasil yang akan dijelakan pada makalah ini.

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana persiapan penetasan pada telur
2. Bagaimana mengetahui tatalaksana penetasan telur
3. Bagaimana mengetahui pemanenan DOC dan evaluasi hasil telur.

1.3 Maksud dan Tujuan


1. Mengetahui persiapan penetasan pada telur
2. Mengetahui tatalaksana penetasan telur
3. Mengetahui pemanenan DOC dan evaluasi hasil telur.

II
PEMBAHASAN
Penetasan merupakan proses perkembangan embrio di dalam telur sampai
telur pecah menghasilkan anak ayam. Penetasan dapat dilakukan secara alami oleh
induk ayam atau secara buatan (artifisial) menggunakan mesin tetas. Bagi
beberapa spesies, penetasan secara alami merupakan cara penetasan paling efisien.
Namun, bagi ayam, kalkun, dan itik, cara penetasan buatan lebih menguntungkan
untuk tujuan ekonomis (Suprijatna dkk., 2008).
Keberhasilan penetasan buatan tergantung banyak faktor, antara lain telur
tetas, mesin tetas, dan tatalaksana penetasan (Suprijatna dkk., 2008). walau pun
pada kondisi yang baik tetapi pada periode penyimpanan telur yang semakin lama
tersimpan yaitu lebih dari 6 hari sangat mempengaruhi daya tetas telur.

2.1 Persiapan Penetasan


2.1.1 Fumigasi Mesin Tetas
Sebelum digunakan sebaiknya mesin tetas dibersihkan dan dicucihamakan.
Pencucihamaan ini bukan hanya dilakukan bila keadaan mesin tetas itu sangat
kotor, melainkan setiap kali akan dipergunakan harus dicucihamakan. Cucihama
mesin tetas diawali dengan pencucian menggunakan air bersih atau air hangat.
Setelah itu di lap dengan menggunakan 2 - 3% larutan cresol atau obat anti hama
(desinfektan).
Setelah kering mesin tetas dibiarkan hingga kering, setelah kering dilakukan
pencucihamaan ulang dengan cara fumigasi. Fumigasi ini dilakukan agar bibit
penyakit yang masih hidup dan tersisa dalam mesin tetas menjadi mati.
Fumigasi yang digunakan pada umumnya berupa campuran formalin dan
kalium permanganat (KMnO4), reaksi keduanya akan menghasilkan gas
Formaldehid. Gas tersebut berfungsi sebagai desinfektan.
Untuk menfumigasi mesin tetas, fumigasi diuapkan selama 20 menit,
caranya hanya dengan menguapkan formalin ke wadah yang berisi KMnO4.
Bahan tersebut harus tahan panas. Setelah diuapkan mesin tetas segera ditutup dan
didiamkan selama 24 - 48 jam dengan kondisi pemanasan tetap hidup (Suprijatna
dkk, 2010).
Perlakukan fumigasi yang tidak benar seperti terlalu lama atau dosis terlalu
keras akan menyebabkan kematian embrio yang sangat dini.
Tabel 1. Dosis Fumigasi untuk Ruangan Sebesar 2,83 m3

Tabel 2. Rekomensasi Pelaksanaan Fumigasi

Sumber : Sukses Menetaskan Telur 1998


Pada penetasan komersial biasanya terdapat dua inkubator yang terpisah.
Inkubasi pertama dilaksanakan mulai telur dimasukkan sampai dengan hari ke 24.
Suhu yang diperlukan berkisar antara 99,5-100F dengan kelembaban nisbi 60-
65% atau wet bulb menunjukkan angka 87-89F. Selanjutnya pada hari ke 25 telur
tetas dipindahkan ke inkubator kedua. Pada periode ini telur tetas sudah tidak
perlu dibalik. Suhu yang diperlukan pada periode inkubator kedua ialah 98 - 99F
dengan kelembaban nisbi 70 - 80% atau wet bulb menunjukkan angka 90-94F.
Maksud dari penurunan suhu inkubator kedua ialah pada periode ini embrio sudah
tidak mengalami proses pertumbuhan akan tetapi sudah memasuki proses
penetasan, yang mana embrio justru perlu sedikit mengeluarkan panas didalam
aktifitas untuk proses pemecahan kulit. Akan tetapi didalam periode ini untuk
membantu keremahan kulit telur perlu kelembaban yang cukup tinggi yaitu 70 -
80%.
2.1.2 Suhu dan Kelembaban
Suhu embrio dianggap sebagai faktor penting mempengaruhi perkembangan
embrio, daya tetas, dan performa setelah menetas (Lourens dkk., 2005). Embrio
sangat sensitif terhadap suhu penetasan yang lebih rendah atau lebih tinggi, suhu
penetasan yang lebih rendah akan memperlambat dan semakin tinggi suhu
inkubasi akan mempercepat pertumbuhan dan perkembangan embrio (Ricklefs,
1987 dalam Elsayed, 2009).
Suhu dan kelembaban relatif harus diatur selama inkubasi agar kehidupan
embrio di dalam telur dapat dipertahankan pada tingkat optimal (Williamson dan
Payne, 1993). Pembentukan embrio yang optimal terjadi saat suhu 37,2-39,4C
(Ensminger, dkk., 2004).
A. Suhu
Dalam proses penetasan telur, suhu dan kelembaban merupakan variabel
terpenting yang sangat menentukan keberhasilan proses penetasan. Suhu yang
diperlukan alat penetas harus memiliki kesamaan dengan kondisi suhu induk
unggas pada saat mengeram. Adapun keadaan suhu yang perlu diperhatikan pada
penetasan telur ayam dan bebek berkisar 38 oC 40oC dan lamanya penetasan 21
hari untuk telur ayam dan 28 hari untuk telur bebek. (Sudrajat, 2003).
Suhu yang berfluktuasi akan menyebabkan kegagalan proses penetasan.
Kegagalan ini ditandai dengan banyaknya anak ayam yang tidak menetas.
Kalaupun menetas bulu anak ayam tersebut lengket oleh cairan amnion. Selain
menyebabkan banyaknya telur yang tidak menetas, suhu yang tinggi maupun
rendah juga berpengaruh terhadap lamanya waktu tetas.
Dua masa yang paling kritis pada kehidupan embrio yang sedang ditetaskan
terjadi pada umur 2-4 hari dan 19-20 hari (pada saat anak ayam bersaha memecah
kulit telur).
Suhu di dalam inkubator maupun hatcher harus konstan (=37,6 oC) dan tidak
dicek setiap jam. Cara pengaturannya pun diatur sehingga kapasitas satu mesin
tidak dipenuhi sekaligus, melainkan hanya 1/3 bagian pada setiap minggu. Hal ini
berkaitan dengan pengeluaran dan penyerapan panas.
B. Kelembaban
Kelembaban adalah perbandingan antara tekanan parsial uap air yang ada di
dalam udara dan tekanan jenuh uap air pada temperatur air yang sama. Ketika
proses penetasan, kelembaban dalam penetasan telur ayam berkisar 50% 60%
dan 55%-65% untuk menetaskan telur bebek. Pemberian kelembaban ini
dilakukan dengan cara memberikan tempat air di dasar tempat peletakkan telur.
Kelembaban yang terlalu tinggi akan mencegah terjadinya penguapan air
dari dalam telur. Sementara kelembaban yang terlalu rendah dapat menyebabkan
terjadinya penguapan air yang terlalu banyak dari dalam telur, sehingga akan
terjadi akan terjadi kematian embrio.
Kelembaban ideal di dalam mesin tetas saat proses penetasan telur ayam
berkisar 60-70%. Para ahli menyatakan bahwa kelembaban ruang mesin tetas
sebaiknya 68-70%. Namun kondisi yang baik dalam proses penetasan adalah
kelembaban relatif 68% selama 24 jam pertama dan 70% selama 4 jam terakhir
sebelum telur menetas.
2.1.3 Seleksi Telur Tetas
Telur tetas harus berasal dari ayam indukan yang dikawini atau dibuahi
oleh pejantan. Sesuai dengan pendapat Suprijatna (2005) yang menyatakan bahwa
telur tetas merupakan telur fertil yang dihasilkan dari peternakan ayam pembibit
bukan dari peternakan ayam petelur komersial, yang digunakan untuk ditetaskan.
Dengan demikian maka yang menjadi faktor kunci bagi keberhasilan penetasan
buatan adalah produksi telur tetas. Untuk menghasilkan telur-telur yang
memenuhi syarat untuk ditetaskan maka telur-telur tersebut harus dan perlu untuk
diseleksi (atau lebih dikenal dengan seleksi telur tetas). Salah satu penyeleksian
telur tetas yang penting adalah diantaranya adalah bentuk telur tetas. Sebutir telur
dapat dikeluarkan melalui saluran telur (oviduct) memakan waktu sekitar 25,1 jam
(sehari lebih 1 jam). Jika dalam proses peneluran tersebut terganggu (karena
nutrisi, genetik, lingkungan kandang sekitar baik secara internal maupun ekternal
maka akan menghasilkan telur-telur yang mempunyai macam-macam bentuk
telur. Dikenal ada 3 bentuk telur unggas yaitu : bulat, lonjong dan oval telur. Dari
ketiga bentuk tersebut yang ovallah yang baik untuk ditetaskan karena
menghasilkan daya tetas yang lebih tinggi bila dibandigkan dengan bentuk bentuk
lainnya. Untuk menghitung bentuk telur tersebut bulat, lonjong atau oval dapat
dihitung dengan menggunakan rumuss yang disebut: indek telur / it (egg index) =
sumbu pendek dibagi sumbu panjang telur dikalikan 100 persen, jika telur tersebut
termasuk oval maka IT nya 72 74 %, sedangkan yang bulat lebih dari 72 74 %
dan lonjong dibawah 72 74 %.
Telur tetas yang baik tentunya harus memiliki penampakan eksterior yang
baik yaitu bersih dah kerabangnya halus. Sesuai dengan pendapat Suprijatna
(2005) yang menyatakan bahwa telur tetas yang berkualitas baik, harus memenuhi
persyaratan sebagai berikut : telur harus berasal dari induk, umur tidak boleh lebih
dari satu minggu, kualitas fisik telur. Kualitas fisik telur meliputi hal-hal sebagai
berikut :
a. Asal telur: telur yang akan ditetaskan harus berasal dari induk yang
dikawinkan.
b. Besar telur: telur yang terlalu kecil ataupun terlalu besar mempunyai
daya tetas yang rendah. Disamping itu ukuran (bobot) telur mempunyai
korelasi positif dengan bobot tetas, sehingga telur yang kecil akan
menghasilkan bobot tetas yang kecil, demikian pula sebaliknya.
c. Bentuk telur: telur mempunyai bentuk oval (bulat telur) dengan dua
ujung yaitu ujung tumpul dan ujung lancip. Telur yang normal memiliki
indeks telur sekitar 74%.
d. Kerabang telur: kerabang telur disamping penting sebagai sumber
mineral untuk pertumbuhan embrio, juga untuk melindungi isi sel telur
dari gangguan fisik serta mencegah masuknya mikroba yang dapat
merusak isi telur sehingga daya tetasnya rendah.
Sedangkan untuk lama penyimpanan telur, telur yang akan ditetaskan
haruslah berumur tidak lebih dari satu minggu. Hal ini sesuai dengan pendapat
Murtidjo (1992) yang menyatakan bahwa usia penyimpanan tidak boleh lebih dari
tujuh hari, dihitung setelah telur dikeluarkan dari kandang bibit. Untuk menaksir
umur telur bisa dilihat dari ukuran rongga udara didalam telur.
2.1.4 Fumigasi Telur Tetas
Telur yang baru diambil dari kandang telah tercemar mikroba yang
populasinya tergantung pada tingkat kebersihan telur. Fumigasi merupakan upaya
untuk membasmi mikroba tersebut. Fumigasi dengan menggunakan gas
formaldehyde digunakan secara luas pada perusahaan penetasan telur, karena
disamping mudah dilakukan, gas tersebut mempunytai daya basmi terhadap
mikroba yang tinggi (Sukardi, 1999).
Fumigasi adalah upaya untuk membasmi mikroba yang menempel pada
kerabang telur maupun mikroba yang terdapat pada mesin tetas dan ruang
penyimpanan telur. Sesuai dengan pendapat Ismoyowati (2011) yang menyatakan
bahwa fumigasi adalah cara atau langkah yang dilakukan untuk membasmi
mikroba yang terdapat pada telur dan mesin tetasnya. Fumigasi dilakukan dengan
gas formaldehyde hasil dari campuran antara formalin dengan kalium
permanganat. Sesuai dengan pendapat Murtidjo (1992) yang menyatakan bahwa
metode fumigasi merupakan cara sanitasi telur dengan menggunakan gas
formaldehyde hasil campuran antara formalin dengan Kalium Permanganat. Cara
fumigasi ini cukup populer, walaupun sejauh ini fungsi gas formaldehyde adalah
sebagai pembersih telur.

2.2 Tatalaksana Penetasan


Pada prinsipnya penetasan buatan sama dengan penetasan alami, yaitu
menyediakan kondisi lingkungan (temperatur, kelembaban dan sirkulasi udara)
yang sesuai agar embrio dalam telur berkembang dengan optimal, sehingga telur
dapat menetas (Sukardi, 1999). Penetasan dengan alat tetas buatan terbagi atas dua
cara, yaitu dengan matahari dan sekam serta mesin tetas. Alat-alat ini sederhana,
bahkan dapat kita buat sendiri. Dari kedua jenis ini pun terdapat bermacam-
macam jenis alat tetas yang prinsip kerjanya sama, karena umumnya
menggunakan tenaga panas, baik panas matahari maupun panas listrik atau lampu
teplok (Paimin, 2000).
2.2.1 Memasukkan Telur
a. Dengan melakukan sanitasi/membersihkan mesin tetas dari segala kotoran,
kemudian dilakukan fumigasi dengan menggunakan KMnO4 dan Formalin
40%, dengan perbandingan untuk 1 m diperlukan KMnO4 6 gram dan
Formalin 40% 12 ml.
b. Wadah/bak air diisi dengan air hangat suhu (38,5oC), setelah itu bak air
dimasukkan dalam mesin tetas.
c. Hidupkan mesin tetas dan stabilkan suhu dalam mesin tetas hingga
mendapatkan suhu yang konstan pada skala 101oF. Cara mengatur suhu
dengan merubah kedudukan skrup termostat, apabila suhu belum mencapai
101oF lampu sudah mati maka skrup pada termostat diputar ke kiri sampai
menyala, atau sebaliknya apabila suhu sudah mencapai 101oF tetapi lampu
belum mati maka skrup pada termostat diputar ke kanan sampai lampu mati.
Pekerjaan ini di ulang-ulang hingga diperoleh suhu 101oF, kemudian tunggu
selama 24 jam, apabila sudah tidak berubah lagi maka mesin tetas sudah
siap digunakan.
d. Susun telur yang akan ditetaskan pada rak telur dengan posisi kemiringan 45
derajat, dan bagian ujung tumpul berada diatas.
e. Penambahan kelembaban, untuk telur itik perlu dilakukan penambahan
kelembaban dengan pengabutan air pada telur maupun dalam mesin atau
telur di basahi dengan air hangat dilakukan setiap pembalikan telur, namun
untuk telur ayam tidak diperlukan, karena tebal kerabang telur ayam yang
masih dapat ditembus oleh kelembaban dari bak air pada mesin tetas.
(Rasyaf, 1991).
2.2.2 Suhu dan Kelembaban Mesin Tetas
A. Suhu
Perkembangan embrio akan mengalami istirahat atau tidak berkembang
pada kondisi temparatur tertentu, hal ini disebut physiological zero. Temperatur
tersebut adalah 75oF (23,6oC). Telur ayam akan menetas pada penetasan buatan
(menggunakan mesin tetas) bila tersedia temperatur sekitar 95-105oF (35-40,5oC).
Diantara temperatur tersebut terdapat temperatur optimal, dimana dihasilkan
perkembanagan embrio terbaik pada 19 hari pertama penetasan, temperatur
optimal lebih tinggi dibandingkan dua hari terakhir penetasan (Suprijatna dkk.,
2005).
Dua masa paling kritis dalam kehidupan embrio yang sedang ditetaskan
terjadi pada umur 2-4 hari (24-96 jam) dan 19-20 hari (pada saat anak ayam
berusaha memecahkan kulit telur). Oleh sebab itu, waktu untuk candling
(peneropongan telur) dan transfer telur dari setter ke hetcher (saat telur berada di
luar mesin tetas) yang dilakukan pada hari ke 19 sebaiknya tidak lebih dari 30
menit. Selain itu fumigasi di inkubator/setter sebaiknya tidak dilakukan hari ke
dua (24 jam) sampai hari ke empat (96 jam) dari saat telur masuk kemesin tetas.
Untuk mendapatkan hasil tetas yang lebih tinggi, transfer dari setter ke hatcher
dilakukan pada saat 5% telur mulai retak (Sudaryani, dkk., 2004). Pengaruh suhu
terhadap lama waktu penetasan dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Hubungan Temperatur dan Waktu yang Dibutuhkan Telur
Untuk Menetas

Sumber: Sudaryani, dkk., (2004)

B. Kelembaban
Selama penetasan berlansung diperlukan kelembaban yang sesuai dengan
perkembangan embrio. Kelembaban nisbi yang umum untuk penetasan telur ayam
sekitar 60-70%. Kelembaban juga dipengaruhi proses metabolisme kalsium (Ca)
pada embrio. Saat kelembaban nisbi terlalu tinggi, perpindahan Ca dari kerabang
ketulang-tulang dalam perkembangan embrio lebih banyak. Pertumbuhan embrio
dapat diperlambat oleh keadaan kelembaban udara yang terlalu tinggi atau terlalu
rendah. Sedangkan pertumbuhan embrio optimum akan diperoleh pada
kelembaban nisbi mendekati 60%. Mulai hari pertama hingga hari kedelapan belas
kelembaban nisbi yang diperlukan sebesar 60%, sedangkan untuk hari-hari
berikutnya diperlukan 70%. Biasanya, kelembaban dapat diatur dengan
memberikan air ke dalam mesin tetas dengan cara meletakannya dalam wadah
ceper (Paimin, 2001).
Kelembaban udara yang diukur dengan hygrometer di dalam ruang
inkubator haruslah dijaga pada pembacaan menggunakan hygrometer pada kisaran
55-60% untuk 18 hari pertama di incubator, dan 65-70% untuk 3 hari berikutnya.
Hal ini menjadi penting karena ke tidak akuratan dalam penerapan kelembaban
udara dapat mempengaruhi secara signifikan keberhasilan dalam penetasan telur.
Bila kelembaban udara terlalu rendah maka akan terjadi peningkatan penguapan
udara dari kulit telur yang kemudian dapat menyebabkan embrio ayam tidak kuat
memecah kulit telur karena lapisan/selaput bagian dalam telur menjadi keras.
Dalam hal demikian maka penambahan sebuah nampan dan diisi air diperlukan
untuk mencapai kisaran angka yang diperlukan. Sebaliknya jika kelembaban
udaranya terlalu tinggi maka penurunan kelembabannya dapat dengan cara
mengganti nampan dengan yang lebih kecil atau menutupi sebagian permukaan
Kelembaban di inkubator/setter 52-55% (setara dengan 28,9oC-29,4oC pada
bola basah thermometer), sedangkan kelembaban pada hatcher mula-mula 52-
55%. Apabila 1/3 dari jumlah telur di dalam hicher telur retak, maka kelembaban
dinaikan menjadi 70-75% (32,8-33oC) pada bola basah thermometer), untuk
mendapatkan data kelembaban di dalam setter maupun hatcher, maka setiap saat
kain kaos yang terdapat pada bola basah thermometer harus dibersihkan agar kain
kaos tidak mengeras karena kalsium, maka untuk mengecek thermometer bola
basah dipakai air minum/air destrilisasi. Untuk itu, dapat dipakai air
hujan/aguades supaya tidak terjadi gangguan kelembaban pada hicher. Gangguan
kelembaban ini dapat menyebabkan kegagalan pembukaan pintu hatcher pada saat
telur mulai pecah kulit dan anak ayam mulai menyampul (Sudaryani dan Santosa,
2003).

2.2.3 Pemutaran Telur


Pemutaran sebaiknya dilaksanakan paling sedikit 2 kali atau lebih baik
diputar 6, 8, sampai 10 kali sehari dengan setengah putaran. Dengan pemutaran
yang lebih sering maka telur akan lebih cepat menetas (daya tetas) sehingga
kandungan air di dalamnya tidak akan banyak hilang yang dapat membuat bobot
badan DOC meningkat, dan sebaliknya pemutaran yang tidak sering akan
membuat telur tidak cepat menetas (daya tetas) dengan baik, sehingga terjadi
penguapan yang berlebihan dan kadar air di dalam telur akan berkurang yang
dapat membuat bobot badan DOC akan berkurang (North, 1978).
2.2.4 Candling
Pada saat periode penetasan dilakukan candling atau peneropongan yang
bertujuan untuk mengetahui fertilitas keadaan suatu telur. pada telur ayam
candling dilakukan pada hari ketujuh penetasan, sedangkan pada itik dilakukan
pada hari ke 1. Daya tetas : sebesar 80% setiap melakukan penetasan, ciri-ciri
dalam candling setiap telur yang fertil ditandai dengan guratan darah. Telur yang
tidak fertil ditandai dengan telur yang bening tidak ada tanda tanda guratan
darah dalam telur yang ditetaskan. Kartasudjana (2006) menyatakan bahwa telur
yang fertil mempunyai sifat yang gelap pada yolk dengan beberapa pembuluh
darah yang terpancar dari spot tersebut, lebih besar spot, lebih nyata embryo
didalamnya. Apabila spot muncul tanpa disertai pembuluh darah dan disertai
cincin darah yang mengelilinginya, kemungkinan sel kecambah itu mati.
Ayam yang dipelihara sebagai penghasil telur konsumsi umunya tidak
memakai pejantan dalam kandangnya karena telur konsumsi tidak perlu dibuahi.
Berbeda dengan ayam petelur yang dipelihara untuk tujuan penghasil telur tetas,
di dalam kandang perlu ada pejantan. Hal ini dimaksudkan agar telur yang
dihasilkan dapat dibuahi atau fertil karena telur yang steril tidak akan menetas
(Kartasudjana dan Suprijatna, 2006). Telur tetas merupakan telur fertil atau telah
dibuahi, dihasilkan dari peternakan ayam pembibit bukan dari peternakan ayam
petelur komersial yang digunakan untuk ditetaskan (Suprijatna dkk.,2005).
Tabel 4. Daya Tetas Telur Pada Berbagai Kondisi

Sumber : North dan Bell 1990


Telur yang dihasilkan induk ayam tidak semuanya berkualitas baik untuk
ditetaskan. Oleh karenanya, memilih telur yang akan ditetaskan merupakan hal
yang sangat penting, karena berpengaruh pada daya tetas dan anak ayam yang
dihasilkan. Telur yang dihasilkan induk ayam dapat dibagi menjadi 2 jenis yaitu
telur infertile dan telur fertile. Telur infertile disebut juga telur konsumsi yang
merupakan telur yang dihasilkan tanpa perkawinan. Telur ini tidak dapat menetas
dan hanya dipakai sebagai konsumsi rumah tangga. Sedangkan telur fertile yang
disebut juga dengan telur tetas adalah telur yang dihasilkan oleh induk ayam yang
telah dikawini oleh pejantannya. Jenis ini memiliki daya tetas yang cukup tinggi
(Sudradjad, 1995).

2.2.5 Perkembangan Embrio


Perkembangan embrio (Ceva animal Health, Hatchery expertise online No.
8, 2006)
1. Hari Pertama : Asal mula lempengan embrio pada tahap blastodermal.
Nampak ada rongga segmentasi yang berada di bawah area pelucida,
terdapat pada cincin yang berwarna lebih gelap dari sekitarnya.
2. Hari kedua : Nampak jalur pertama pada pusat blastoderm. Diantara
extraembrionic annexis nampak membran vitelin yang memiliki peranan
utama dalam nutrisi embrio.
3. Hari ketiga : Embrio berada di sisi kiri, dikelilingi oleh sistem peredaran
darah, membram viteline menyebar di atas permukaan kuning telur. Kepala
dan badan dapat dibedakan, demikian juga otak. Nampak juga struktur
jantung yang mulai berdenyut.
4. Hari keempat : Perkembangan rongga amniotik, yang akan mengelilingi
embrio, yang berisi cairan amniotik, berfungsi untuk melindungi embrio
dan membolehkan embrio bergerak. Nampak gelembung alantois yang
berperan utama dalam penyerapan kalsium, pernapasan dan tempat
penyimpanan sisa-sisa.
5. Hari kelima : Peningkatan ukuran embrio, embrio membentuk huruf C,
kepala bergerak mendekati ekor. Terjadi perkembangan sayap.
6. Hari keenam : Membram vetiline terus berkembang dan mengelilingi lebih
dari separuh kuning telur. Fissura ada diantara jari kesatu, kedua dan ketiga
dari anggota badan bagian atas dan antara jari kedua dan ketiga anggota
badan bagian bawah. Jari kedua lebih panjang dari jari lain.
7. Hari ketujuh : Cairan yang makin mengencer di bagian leher. Nampak jelas
memisahkan kepala dengan badannya. Terjadi pembentukan paruh. Otak
nampak ada di daerah kepala, yang lebih kecil ukurannya dibanding dengan
embrio.
8. Hari kedelapan : Membram vetillin menyelimuti (menutupi) hampir seluruh
kuning telur. Pigmentasi pada mata mulai nampak. Bagian paruh atas dan
bawah mulai terpisah, demikian juga dengan sayap dan kaki. Leher
merenggang dan otak telah berada di dalam rongga kepala. Terjadi
pembukaan indra pendengar bagian luar.
9. Hari kesembilan : Kuku mulai nampak, mulai tumbuh folikel bulu pertama.
Alantois mulai berkembang dan meningkatnya pembuluh darah pada
vitellus.
10. Hari kesepuluh : Lubang hidung masih sempit. Terjadi pertumbuhan
kelopak mata, perluasan bagian distal anggota badan. Membran viteline
mengelilingi kuning telur dengan sempurna. Folikel bulu mulai menutup
bagian bawah anggota badan. Patuk paruh mulai nampak.
11. Hari kesebelas : Lubang palpebral memiliki bentuk elips yang cenderung
menjadi encer. Alantois mencapai ukuran maksimal, sedangkan vitellus
makin menyusut. Embrio sudah nampak seperti anak ayam.
12. Hari kedua belas : Folikel bulu mengelilingi bagian luar indera pendengar
meatus dan menutupi kelopak mata bagian atas. Kelopak mata bagian
bawah menutupi 2/3 atau bahkan bagian kornea.
13. Hari ketiga belas : Alantois menyusut menjadi membran Chorioalantois.
Kuku dan kaki mulai nampak jelas.
14. Hari keempat belas : Bulu-bulu halus hampir menutupi seluruh tubuh dan
berkembang dengan cepat.
15. Hari kelima belas dan enambelas : Beberapa morfologi embrio berubah :
anak ayam dan bulu halus terus berkembang. Vitellus menyusut cepat, putih
telur mulai menghilang. Kepala bergerak ke arah kerabang telur (posisi
pipping) di bawah sayap kanan.
16. Hari ketujuh belas : Sistem ginjal dari embrio mulai memproduksi urates
(garam dari asam urat). Paruh yang berada di bagian bawah sayap kanan,
menuju rongga udara (yang ada di dalam telur). Putih telur telah terserap
semua.
17. Hari kedelapan belas : Permulaan internalisasi vitellin. Terjadi pengurangan
cairan amniotik. Pada umur ini dilakukan transfer dari mesin setter
(inkubtor) ke mesin hatcher dan juga bisa dilakukan vaksin in ovo.
18. Hari kesembilan belas : Penyerapan vitellin secara cepat. Paruh mulai
mematuk selaput/membran kerabang bagian dalam dan siap untuk
menembusnya. Penyerapan vitelis mulai cepat
19. Hari kedua puluh : Vitelus terserap semua, menutup pusar (umbilicus). Anak
ayam menembus selaput kerabang telur bagian dalam dan bernafas pada
rongga udara. Pertukaran gas terjadi melalui kerabang telur. Anak ayam siap
menetas dan mulai memecah kerabang telur.
20. Hari kedua puluh satu : Anak ayam menggunakan sayap sebagai pemandu
dan kakinya memutar balik, paruh memecah kerabang dengan cara sirkular.
Anak ayam mulai melepaskan diri dari kerabang telur dalam waktu 12 18
jam dan membiarkan bulunya menjadi kering.

2.3 Pemanenan DOC dan Evaluasi Hasil Tetas


Apabila telur telah dieramkan dalam mesin tetas selama 18 hari maka telur
tersebut harus dipindah ketempat khusus untuk menetas. Pada mesin tetas
tradisional yang tidak dilengkapi dengan hatcher, biasanya tempat menetas tetap
berada pada tempat yang sama. Pada mesin tetas tradisional yang dilengkapi
dengan hatcher, maka telur dipindah ke hatcher dan biasanya ditutup dengan ram
kawat untuk menjaga agar anak ayam yang baru keluar dari telur tidak berkeliaran
ke mana-mana (Kartasudjana, 2001).

2.3.1 Pengeluaraan DOC (Pull Chick)


Pulling the hatch adalah proses pengeluaran dan pengumpulan DOC dari
mesin hatcher ke ruangan pull chick pada hari ke-21. Anak ayam yang telah
menetas sebaiknya segera dikeluarkan dari mesin tetas, kira-kira setelah 95%
bulunya sudah kering kemudian dipindahkan dari bagian penetasan ke ruang pull
chick dengan suhu 75oF (23,9oC), tujuannya untuk mengurangi cekaman panas
pada DOC (Kartasudjana dan Suprijatna, 2006) dan DOC sebaiknya tidak diberi
pakan apa-apa sebelum 24 jam karena masih memiliki sisa kuning telur dalam
tubuhnya (North dan Bell, 1990).
Standar kualitas DOC yang baik adalah sehat, mata bersinar, anusnya tidak
terdapat kotoran yang menempel, pusar tidak hitam, tidak dehidrasi, warna bulu
seragam mewakili bangsanya dan tidak memiliki kelainan fisik yaitu antara lain
kaki bengkok, jari kaki kurang atau paruh bengkok (Suprijatna dkk, 2005).

2.3.2 Seleksi dan Culling DOC


Seleksi adalah memilih ayam yang kualitasnya memenuhi standar dari
kelompoknya meliputi kesehatan, aktifitas, warna bulu, dan performa. Culling
adalah proses pengeluaran DOC yang tidak diinginkan dari kelompoknya dengan
cara melihat tanda-tanda kelainan atau cacat yang diderita (Hartono dan Isman,
2010). DOC diseleksi terlebih dahulu karena tidak semua DOC yang menetas baik
untuk dipelihara. Tujuan dari penilaian atau proses seleksi adalah untuk
mendapatkan anak ayam yang sehat dan berkualitas baik (Sudaryani dan Santosa,
2002) ciri-ciri DOC yang baik yaitu berat badan tidak kurang dari 32 gram,
berperilaku gesit, lincah dan aktif mencari makan, kotoran tidak menempel pada
dubur, posisi di dalam kelompok selalu tersebar, rongga perut elastis, pusar kering
tertutup bulu kapas yang halus, lembut dan mengkilap, mata bulat dan cerah
Sudarmono (2003). Ciri-ciri DOC yang baik menurut SNI (2005) yaitu bobot kuri
per ekor minimal 37 gram; kondisi fisik sehat, kaki normal dan dapat berdiri
tegak, paruh normal, tampak segar dan aktif, tidak dehidrasi, tidak ada kelainan
bentuk dan tidak cacat fisik, sekitar pusar dan dubur kering dan pusar tertutup,
warna bulu seragam sesuai dengan warna galur (strain) dan kondisi bulu kering
dan berkembang, jaminan kematian kuri maksimal 2%.

2.3.3 Evaluasi Hasil Tetas


Fertilitas adalah banyaknya telur yang dibuahi dari jumlah total telur yang
diinkubasi. Tanda telur dibuahi bila dilihat dengan menggunakan alat peneropong
(candling) akan tampak perkembangan embrio di dalam telur tersebut yang bisa
berupa bintik hitam, atau seperti sarang labah, dan pembuluh darah merah juga
tampak jelas. Candling ini dilakukan pada hari ke 7 dari waktu penetasan.
Motilitas dan fertilitas spermatozoa ayam sangat dipengaruhi oleh lama
penyimpanan. Semakin lama semen disimpan, maka semakin rendah nilai
motilitas dan fertilitasnya (Saleh dan Isyanto, 2011).
Daya tetas adalah angka yang menunjukkan tinggi rendahnya kemampuan
telur untuk menetas. Daya tetas dapat dihitung dengan dua cara, yaitu pertama
membandingkan jumlah telur yang menetas dengan jumlah telur yang dieramkan,
dan kedua membandingkan jumlah telur yang menetas dengan jumlah telur yang
fertil (dibuahi). Fertilitas diartikan sebagai presentase jumlah telur fertil
dibandingkan dengan jumlah telur yang dierami (Suprijatna dan Kartasudjana,
2006). Faktor yang mempengaruhi daya tetas (hatchability) adalah dari breeding
farm sendiri (nutrisi yang diberikan kepada induk, penyakit, infertilitas, kerusakan
telur dan penyimpanan) dan unit penetasan (higienitas, manajemen inkubasi,
mesin setter dan mesin hatcher). Daya tetas (hatchability) terjadi pada telurtelur
tetas yang mengalami penyusutan 10,90% - 11,10% setelah 18 hari masa inkubasi
diruang setter (Sudaryani dan Santoso, 2002). Penyimpanan sampai hari ke-4
tidak begitu mengurangi daya tetas telur, akan tetapi waktu penyimpanan lebih
dari 4 hari maka daya tetas telur ayam akan turun (Zakaria, 2010). Banyak faktor
yang mempengaruhi rendahnya daya tetas, antara lain cara/metoda penetasan,
pengaturan suhu inkubator, kebersihan telur, pengumpulan dan penyimpanan telur,
ukuran dan bentuk telur dan faktor faktor lain yang masih belum diketahui
(Setioko, 1998).
III
KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pembahasan yang telah dipaparkan, maka dapat ditarik


kesimpulan sebagai berikut :
1. Fumigasi dilakukan untuk mencucihamakan mesin tetas yang berfungsi
untuk meminimailisir bakteri pathogen yang ada di mesin tetas.
2. Suhu dan kelembaban untuk menetaskan telur tetas adalah suhu 38oC-40oC
dan kelembaban 50% 60%.
3. Telur yang akan ditetaskan harus melewati seleksi terlebih dahulu agar hasil
tetasnya tinggi. Seleksi telur tetas meliputi berat telur, bentuk telur, warna
telur, ketebalan kerabang,kualitas kulit telur serta kualitas interior.
4. Fumigasi telur tetas dilakukan untuk membunuh bakteri pada kulit telur agar
tidak masuk kedalam telur dan mengakibatkan ke gagalan pada fase setter
dan hatcher.
5. Suhu dan kelembaban pada saat fase setter maupun hatcher harus selalu
dijaga agar keberhasilan dalam penetasan semakin tinggi.
6. Pemutaran telur dilakukan agar embrio tidak menempel pada kerabang telur
dan untuk memperoleh daya tetas yang tinggi.
7. Candling biasanya dilakukan pada hari ke 7 pada masa penetasan, hal ini
dilakukan untuk mengetahui telur yang fertile dan telur yang infertile.
8. Pulling the hatch adalah proses pengeluaran dan pengumpulan DOC dari
mesin hatcher ke ruangan pull chick pada hari ke-21 dengan suhu 75oF
(23,9oC), tujuannya untuk mengurangi cekaman panas pada DOC.
9. Seleksi dan culling DOC dilakukan untuk mendapatkan anak ayam yang
sehat dan berkualitas baik serta mengeluarkan anak ayam yang tidak
berkualitas.
10. Evaluasi hasil tetas dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dengan
menghitung persentase fertilitas dan menghitung persentase daya tetas.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. Tanpa Tahun. Fumigasi. https://telurtetas.wordpress.com/fumigasi/.


Diakses pada tanggal 13 Oktober 2015 Pukul 18.00.
Elsayed, N.A.M, Allan E.E., Amina S.E., dan Effet Y.Hassan. 2009. New
Suggested Schemes for Incubation Temperature and Their Effect on
Embryonic Development and hatching Power. Poultry Science, 3(1) : 19-29.
Ensminger, M. E., G. Brant, & C. G. Scanes. 2004. Poultry Science. 4th ed.
Pearson Prentice Hall. United State of America.
Hartono, T. dan Isman. 2010. Kiat Sukses Menetaskan Telur Ayam. PT. Agromedia
Pustaka, Jakarta.
Ismoyowati, Moch Mufti, dan Ibnu Hari. 2011. Petunjuk Praktikum Ilmu Ternak
Unggas. Fakultas Peternakan Unsoed. Purwokerto.
Kartasudjana, R., 2001. Penetasan Telur. Departemen Pendidikan Nasional,
Jakarta
Kartasudjana, R. dan Suprijatna, E. 2006. Manajemen Ternak Unggas. Penebar
Swadaya, Depok.
Lourens, A., H. Van den Brand, R. Meijerhof, and B. Kemp. 2005. Effect of
Eggshell Temperature During Incubation On Embryo Development,
Hatchability, And Posthatch Development. Poultry Science. 84:914-920.
Murtidjo, Bambang. 1992. Ayam Petelur dan Pedaging. Agromedia pustaka.
Jakarta.
North, N. O. 1978. Commercial Chicken Production Manual 2nd Edition. Avi
Publishing Co. Inc, Connecticut
North, M. O. dan D. D. Bell., 1990. Commercial Chicken Manual. 4th Ed. Avi
Publishing Company Inc. West Port, California.
Paimin, Farry. 2000. Membuat Dan Mengelola Mesin Tetas. Penebar Swadaya.
Jakarta.
Paimin, F. B., 2001. Membuat dan mengelola mesin tetas. Penebar swadaya.
Jakarta
Rasyaf. 1991. Pengelolaan Penetasan. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.
Saleh, D. M. dan A. Y. Isyanto,. 2011. Pengaruh Lama Penyimpanan Terhadap
Motilitas Dan Fertilitas Spermatozoa Ayam Kate Lokal Cakrawala Galuh. 1
(6) : 1-6
Setioko. 1998. Penetasan Telur Itik di Indonesia. Wartazoa. 7 (2): 40-46
Sudarmono, A.S., 2003. Pedoman Pemeliharaan Ayam Ras Petelur. Kanisius,
Yogyakarta.
Sudaryani, T dan H. Santoso. 2002. Pembibitan Ayam Ras. Penebar Swadaya,
Jakarta.
Sudaryani, T dan Santoso, 2003. Pembibitan Ayam Ras. PT. Penebar Swadaya:.
Bogor
Sudaryani, Titik dan Santosa, H., 2004. Pembibitan Ayam Ras. Penebar swadaya.
Jakarta
Sudradjad. 1995. Beternak Ayam Cemani. Penebar Swadaya, Jakarta.
Sudrajat. 2003. Penetasan telur unggas. Penebar swadaya : Jakarta.
Sukardi, dkk. 1999. Dasar Ternak Unggas. Fakultas Peternakan Unsoed.
Purwokerto.
Suprijatna, E., Umiyati A. dan Ruhayat, K. 2005. Ilmu Dasar Ternak Unggas.
Penebar Swadaya, Depok
Suprijatna, E., Atmomarsono, U., Kartasudjana, R. 2008. Ilmu Dasar Ternak
Unggas. Penebar swadaya, Jakarta.
Williamson & W. J. A. Payne, 1993. Pengantar Peternakan Didaerah Tropis.
Terjemahan: Darmadja., S. G. N. Djiwa. Gadjah Mada University Press.
Yogyakarta.
Zakaria, M. A. S. 2010. Pengaruh Lama Penyimpanan Telur Ayam Buras
Terhadap Fertilitas, Daya Tetas Telur Dan Berat Tetas. Jurnal Agrisistem. 6
(2) : 97-102.

LAMPIRAN

No Nama Tugas
1. Fahmi Rauf N Fumigasi Mesin Tetas, Mengatur Suhu dan
Kelembaban.
2. Latip Mustopa Seleksi dan Fumigasi Telur Tetas.
3. Khrisna Putra R Memasukkan Telur, Menjaga Suhu dan
Kelembaban.
4. Rezha M Firdaus Pemutaran Telur, Candling, dan
Perkembangan Embrio.
5. Chairunnisa Editor dan Kesimpulan.
6. Risa Gunawan Pendahuluan dan PowerPoint
7. Prasetyo Hadi Pengeluaran dan Seleksi DOC