Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PRAKTIKUM

TERMODINAMIKA KIMIA
PENENTUAN BERAT MOLEKUL BERDASARKAN PENGUKURAN MASSA JENIS
GAS

Nama : Wilda Kamila


NIM : 161810301072
Kelas/Kelompok : B/4
Asisten : Khumairah

LABORATORIUM KIMIA FISIKA


JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS JEMBER
2017
BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Senyawa volatil merupakan senyawa yang sangat sensitif terhadap suhu tinggi sehingga
menguap menjadi gas. Senyawa volatil mudah menguap dibawah titik didih air. Senyawa
volatil mudah menguap karena mempunyai ikatan antar molekul yang lemah. Berat molekul
atau yang biasa disebut massa relatif molekul merupakan massa molekul dalam setiap satu
mol. Berat molekul diperoleh dengan menjumlahkan massa relatif unsur penyusunnya
(Keenan,1996).
Gas ideal merupakan gas yang memenuhi hukum-hukum gas. Berbeda dengan gas nyata
yang hanya memenuhi hukum-hukum gas pada keadaan tertentu. persamaan gas ideal
merupakan gabungan dari beberapa hukum gas. Persamaan hukum gas ideal ini dapat
digunakan dalam menentukan berat molekul suatu senyawa volatil. Persamaan hukum gas
ideal tersebut dihubungkan dengan massa jenis.Massa jenis merupakan masa suatu zat dalam
setiap volume. Massa jenis menunjukkan kerapatan dari suatu zat.Massa jenis dari suatu zat
akan berbeda dengan yang lainnya karena bahan penyusunya berbeda. Alat yang digunakan
untuk menentukan massa jenis yaitu victor meyer (Atkins,1996).
Praktikum penentuan berat molekul ini dilakukan dengan memanaskan cairan volatil,
yaitu kloroform, aseton dan etanol. Pemanasan menyebabkan cairan volatil menguap sehingga
erlemeyer berisi uap senyawa volatil. Massa senyawa volatil ditentukan serta volumenya
sehingga bisa dicari massa jenisnya. Data tersebut kemudian dihubungkan dengan persamaan
gas ideal.
Praktikum ini dilakukan untuk mengetahui berat molekul masing-masing senyawa
volatil. Senyawa volatil sangat banyak terdapat dalam kehidupan sehari-hari. contoh senyawa
volatile dalam kehidupan sehari-hari yaitu parfum, alkohol, aseton, bensin dan lain
sebagainya. Banyaknya prinsip volatildalam kehidupan sehari-hari serta untuk meningkatkan
kemampuan dari mahasiswa dalam memahami senyawa volatil, sehingga dilakukan
percobaan ini.
1.2 Tujuan Percobaan
Tujuan dari percobaa kali ini yaitu sebagai berikut :
- Menentukan berat molekul senyawa volatil berdasarkan pengukuran massa jenis gas.
- Mengaplikasikan persamaan gas ideal.
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 MSDS(Material Safety Data Sheet)


2.1.1 Kloroform
Kloroform mempunyai rumus molekul CHCl3. Kloroform berbahaya jika terkena kulit,
mata, tertelan dan terhirup. Penangan jika terjadi kontak langsung dengan mata dan kulit,
segera bilas dengan air yang mengalir. Penanganan jika terthirup, segera pindahkan ke ruang
terbuka sedang jika tertelah segera kendorkan pakaian. Kloroform merupakan cairan yang
tidak berwarna dan baunya enak. Kloroform mempunyai berat molekul 119,38 g/mol. Titik
didih, titik leleh serta suhu kritisnya berturut-turut sebesar 61C , -63,5C dan 263,33C.
massa jenis kloroform sebesar 1,484, tekanan uapnya sebesar 21,1 kPa serta kerapatan
uapnya ssebesar 4,36. Kloroform sangat mudah larut dalam air dingin (Sciencelab, 2017).
2.1.2 Etanol
Etanol mempunyai rumus moleku CH3CH2OH. Etanol berbahaya jika terkena kulit,
mata dan terhirup, namun sedikit berbahaya jika tertelan. Penanganan jika terkena mata dan
kulit segera bilas dengan air mengalir. Penanganan jika terhirup segera pindahkan ke ruang
terbuka. Etanol merupakan cairan tidak berwarna yang baunya kuat seperti arak atau wine.
Rasanya tajam dan terbakar. Berat molekulnya sebesar 46,07 g/mol. Titik didih, titik leleh
serta suhu kritisnya berturut-turut sebesar 78,5 C, -114,1C, dan 243C. etanol mempunyai
massa jenisnya sebsar 0,789, tekanan uap sebesar 5,7 kPa sedangkan densitas uapnya sebesar
1,59. etanol mudah larut dalam air panas dan air dingin (Sciencelab, 2017).
2.1.3 Aseton
Aseton mempunyai rumus kimia C3H6O. aseton berbahaya jika terkena kulit, mata,
tertela, dan terhirup. Penangan jika terjadi kontak langsung dengan mata dan kulit, segera
bilas dengan air yang mengalir. Penanganan jika terthirup, segera pindahkan ke ruang terbuka
sedang jika tertelah segera kendorkan pakaian. Aseton merupakan cairan tidak berwarna yang
memiliki bau seperti buah-buahan, parfum dan sangat ringan dengan rasa yang manis. Berat
molekul aseton sebesar 58,08 g/mol dengan massa jenis sebesar 0,79. Titik didih, titik leleh
dan suhu kritis aseton berturut-turut sebesar 56,2 C, -95,35C dan 235C. tekanan uap serta
densitas uap kloroform sebesar 24 kPa dan 2. Aseton mudah larut dalam air dingin maupun
air panas (Sciencelab, 2017).
2.2 Dasar Teori
2.2.1 Massa jenis
Massa jenis merupakan kerapat atau densitas dari suatu zat. Massa jenis dilambangkan
dengan symbol (rho). Zat yang tersusun atas bahan murni seperti emas murni walaupun
mempunyai massa dan ukuran berbeda namun akan tetap mempunyai massa jenis yan sama.
Massa jenis suatu benda tidak akan sama antara yang satu dengan yang lainnya karena bahan
penyusunnya berbeda. Fungsi dari massa jenis yaitu untuk menentukan jenis dari suatu zat.
Massa jenis adalah massa per satuan volum. Secara sistematis dapat dituliskan sebagai
berikut.

= ........(2.1)

Dimana
: masaa jenis (kg/m3)
m : massa (kg)
V :Volume (m3)
(Halliday, et all, 2010 )
2.2.2 Gas ideal
Zat dapat berwujud padat, cair dan gas. Perbedaan ketiganya terletak pada susunan antar
partikelnya. Zat yang mempunyai wujud gas mempunyai susunan pertikel lebih renggang
daripada zat padat maupun zat cair. Gas terdiri dari gas ideal dan gas nyata. Gas ideal adalah
gas yang memenuhi semua hukum- hukum gas, sedangkan gas nyata adalah gas yang tidak
sepenuhnya memenuhi hukum-hukum gas, biasanya hanya memenuhi pada tekanan rendah
(Sukardjo, 1997).
Sifat- sifat gas ideal sebagai berikut :
a. Tidak mempunyai gaya tarik menarik maupun gaya tolak menolak antar molekul.
b. Molekulnya bergerak bebas dengan kecepatan yang konstan dan memenuhi hukum
Newton
c. Molekulnya tersebar keseluruh ruangan
d. Tumbukan antar molekul maupun molekul dengan dinding merupakan tumbukan lenting
sempurna
e. Gas yang mempunyai molekul yang jumlahnya sangat banyak
f. Gas yang mempunyai ukuran molekul lebih kecil daripada jarak antar molekulnya
(Keenan, 1996).
Hukum- hukum gas terdiri dari :
a. Hukum Boyle
Hukum ini diajukan oleh Robert Boyle berdasarkan saran dari asistennya pada tahun
1662. Suhu gas pada ruangan tertutup yang dijaga tetap ( proses isotherm), maka volume
berbanding terbalik dengan tekanan gasnya. Hukum boyle digunakan untuk memprediksi
tekanan gs apabila volumenya berubah (atau sebaliknya). Hukum boyle secara sitematis dapat
ditulis sebagai berikut :
PV = konstan ....(2.2)
b. Hukum Charles
Hukum ini disampaikan oleh Jacques Charles yaitu ahli fisika asal Prancis.Tekanan
gas dalam ruangan tertutup dijaga tetap (proses isobar), maka volume gas berbanding terbalik
dengan suhunya. Hukum Charles secara sitematis dapat ditulis sebagai berikut :
V
= konstan ........(2.3)
T

c. Hukum Gay-lussac
Hukum ini disampaikan oleh Joseph Gay Iussac ahli kimia asal Perancis.Volume gas di
dalam ruang tertutup dijaga tetap ( proses isokhorik), maka tekanan gas berbanding lurus
dengan suhunya. Hukum Gay-lussac secara sitematis dapat ditulis sebagai berikut :
P
= konstan ........(2.4)
T

d. Hukum Boyle- Gay lussac


Hukum ini merupakan gabungan dari beberapa kondisi.Hukum ini merupakan
penggabungan dari hukum boyle dan hukum gay lussac. Hukum ini biasanya sering
digunakan dalam beberapa persoalan. Hukum Boyle-Gay Lussac secara sistematis dapat
ditulis sebagai berikut.
PV
=konstan....(2.5)
T

( Bird,1987).
Hukum gas ideal merupakan gabungan dari semua hukum gas diatas. Persamaan gas
ideal meghubungkan antara P, V dan T. Persamaan gas ideal secara matematis dapat
dituliskan sebagai berikut.
PV= nRT .....(2.6)
Dimana :
P : tekanan (Pa)
V : volume (m3)
n : jumlah mol (mol)
R : konstanta (8,314 J/molK)
T : suhu (K)
(Atkins, 1996)
Berat molekul ditentukan degan menggunakan persamaan gas ideal dan massa jenis gas.
Massa jenis suatu gas digunakan dengan cara menguraikan mol. Persamaan 2.1 dihubungkan
dan disubstitusikan dengan persamaan 2.6 seperti berikut.
PV= nRT...(2.7)
m
PV= BMRT ....(2.8)
m
PBM= V RT .......(2.9)

P BM = RT....(2.10)
RT
BM = ...........................................................................(2.11)
P

Dimana :
= massa jenis (kg/m3)
BM : berat molekul
(Atkins, 1996).
2.2.3 Gas Pressurer Sensor (GPS)
Sensor tekanan gas digunakan untuk memantau perubahan tekanan pada percobaan
hukum gas dalam bidang kimia dan fisika, seperti hukum Boyle dan hukum Gay Lussac.
Tekanan uap pada cairan dan larutan dapat dilihat menggunakan sensor ini. Sensor tekanan
gas dapat digunakan untuk melihat produksi atau konsumsi oksigen atau gas karbon dioksida
dalam atmosfer tertutup. Berikut ini adalah kegunaan sensor tekanan gas dalam percobaan.
- Percobaan mengenai hukum Boyle yaitu hubungan antara tekanan dan volume.
- Mengukur ekanan uap cairan
- Mempelajari hukum Gay Lussac yaitu efek suhu pada tekanan gas
- Memantau produksi O2 selama fotosintesis tanaman air dalam keadaan tertutup.
- Menentukan tingkat transpirasi untuk tanaman dalam kondisi berbeda
- Menentukan tingkat respirasi dalam perkembangbiakan biji kacang polong atau kacang.
- Memantau tekanan dan pergerakan air pada proses osmosis
- Mempelajari pengaruh suhu dan konsentrasi terhadap laju dekomposisi H2O2
- Mempelajari pola pernapasan manusia menggunakan sabuk monitor resin
(Sparkfun, 2017)
BAB 3. METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Alat
- Labu Erlenmeyer 100 ml dan 125 ml
- Beaker glass 150 ml dan 50 ml
- Pipet mohr
- Ball pipet
- Thermometer
- Penjepit kayu
- Botol semprot
- Neraca analitik
- Penangas
- Bunsen
- Desikator
- Aluminium foil
- Karet gelang
3.2 Bahan
- Kloroform
- Aseton
- Etanol
3.3 Diagram Alir

Kloroform

Dimasukkan klorofom sebanyak 0,5 ml ke dalam labu Erlenmeyer 100 ml yang


bersih dan kering.
ditutup menggunakan aluminium foil dan kencangkan kembali menggunakan karet
gelang
Ditimbang Erlenmeyer dan isinya tersebut
Dihubungkan dengan alat GPS
Direndam labu Erlenmeyer dalam penangas air pada suhu sesuai titik didih
kloroform sedemikian sehingga air dibawah aluminium foil.
Dibiarkan labu Erlenmeyer dalam penangas sampai cairan klorofom menguap
semua
Dilihat tekanan pada monitor, jika sudah mengalami penurunan dapat dihentikan
Diangkat labu Erlenmeyer dan ditutup kembali menggunakan aluminium foil serta
dibiarkan sampai mencapai suhu normal.
Ditimbang labu Erlenmeyer yang telah dingin menggunakan neraca analitik (
jangan lepaskan tutup aluminium foil dan karet gelang sebelum labu Erlenmeyer
ditimbang).
Diulangi prosedur tersebut pada bahan aseton dan etanol.

Hasil
BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
Tabel 4.1 Data Hasil Percobaan

Bahan Massa P V T R n BM
(g) (atm) (L) (K) (L.atm/K.mol) (mol) (g/mol)

0,094 1,27 0,125 340,9 0,00569 16,5


Etanol 0,128 1,56 0,100 340,2 0,00560 22,9
0,125 1,85 0,125 337,4 0,00834 12,3
0,115 1,25 0,100 320,0 0,00478 24,1
Kloroform 0,215 0,988 0,125 320,0 0,082 0,00471 45,7
0,415 0,987 0,100 326,9 0,00368 112,7
0,154 1,40 0,125 319,7 0,00666 23,1
Aseton 0,042 1,21 0,100 316,7 0,00467 9,00
0,082 1,38 0,125 321,1 0,00656 12,5

Tabel 4.2 Data Hasil Percobaan Rata-rata


R
Bahan Massa V T n BM
P (atm) (L.atm/K.mol)
(g) (L) (K) (mol) (g/mol)
Etanol 0,108 1,56 0,117 339,5 0,082 0,00654 17,2
Kloroform 0,248 1,08 0,108 322,3 0,082 0,00439 60,8
Aseton 0,0927 1,33 0,117 319,2 0,082 0,00596 14,9

4.2 Pembahasan
Percobaan ini dilakukan untuk menghitung berat molekul senyawa volatil berdasarkan
pengukuran massa jenis gas. Persamaan dari massa jenis tersebut dihubungkan dengan
persamaan gas ideal. Substitusi dari persamaan tersebut digunakan untuk menghitung berat
molekul.
Gas memiliki partikel yang tersusun bebas memenuhi ruang yang ditempatinya. Massa
jenis suatu benda tidak akan sama antara yang satu dengan yang lainnya karena bahan
penyusunnya berbeda Massa jenis merupakan kerapatan atau densitas dari suatu zat. benda
tidak akan sama antara yang satu dengan yang lainnya karena bahan penyusunnya berbeda.
Fungsi dari massa jenis yaitu untuk menentukan jenis dari suatu zat. Massa jenis adalah massa
per satuan volum (Halliday, et all, 2010 ).
Senyawa volatil merupakan senyawa yang sangat sensitif terhadap suhu tinggi sehingga
menguap menjadi gas. Senyawa volatil mudah menguap dibawah titik didih air. Volatilitas
suatu zat berhubungan dengan titik didih yang dimilikinya. Senyawa volatil mudah menguap
karena mempunyai ikatan antar molekul yang lemah. Volatilitas juga berhubungan dengan
tekanan uap, hal ini karena tekanan uap bergantung pada suhu. Senyawa yang memiliki
tekanan uap tinggi akan mudah menguap dan sebaliknya. (Keenan,1996).
Senyawa volatil yang digunakan antara lain, kloroform, aseton dan etanol. Masing-
masing senyawa tersebut ditambahkan kedalam erlenmeyer berukuran 100 ml atau 125 ml
sebanyak 0,5 ml dengan keadaan erlenmeyer tertutup rapat dengan aluminium foil dan
dikencangkan dengann karet gelang. Erlenmeyer yang berisi zat volatil tersebut ditimbang.
Erlenmeyer yang telah ditimbang tersebut kemudian dihubungkan dengan GPS (sebelumnya
tutup aluminium foil harus dibuka terlebih dahulu) dan dipanaskan pada titik didihnya. Titik
didih dari ketiga senyawa volatil tersebut berbeda-beda, yaitu 61C, 78,5C dan 56,2C.
Pemanasan terus dilakukan sampai tekanan yang ditunjukkan pada monitor menurun.
Erlenmeyer yang telah diangkat dari tungku pemanasan ditutup kembali dengan aluminium
foil selanjutnya dikeringkan dan dibiarkan dalam suhu normal. Penimbangan dilakukan
kembali. Data yang diperoleh kemudian dicatat dan dihubungkan ke persamaan antara massa
jenis dan persamaan gas ideal untuk menentukan berat molekulnya.
Penggunaan senyawa volatil sebanyak 0,5 ml bertujuan agar letupan yang terjadi pada
akhir pemanasan tidak terlalu besar. Erlenmeyer ditutup rapat agar senyawa volatil tidak
menguap ke lingkungan sebelum dipanaskan. Penggunaan aluminium foil sebagai penutup
erlenmeyer karena bahan tersebut inert atau tidak bereaksi dengan senyawa volatil. Karet
gelang berfungsi agar aluminium foil terikat kuat pada erlenmeyer. Penimbangan
dimaksudkan untuk mengetahui berat erlenmeyer dan isinya sebelum dilakukan pemanasan
dan senyawa volatil menguap. GPS atau Gas Pressurer Sensor berfungsi untuk mengukur
suhu dan tekanan sistem. Alat ini digunakan karena memiliki akurasi dan ketelitian yang
tinggi. Data yang dihasilkan juga dapat disimpan, sehingga sangat membantu praktikan dalam
mengolah dan meyimpan data. Tekanan maupun suhu tersebut dapat dilihat pada monitor
laptop, sehingga kita mudah mengontrol dan menentukan kapan berakhirnya suatu reaksi.
Pemanasan dilakukan pada titik didihnya, supaya senyawa volatil secara perlahan menguap
menjadi gas. Pemanasan dihentikan saat tekanan mulai turun karena menunjukkan bahwa
sebagian besar senyawa telah menjadi gas dan mulai mengembun kembali ke wujud aslinya
sebagai cairan. Penutupan kembali erlenmeyer dengan aluminium foil yang sama harus
dilakukan dengan cepat, agar gas yang terdapat didalamnya tidak keluar. Gas yang keluar
akan berhubungan dengan berat yang dihasilkan ketika penimbangan tidak akurat.Gas yang
ikut keluar apabila tidak cepat menutup erlemeyer dapat mempengaruhi berat molekul.
Aluminium foil yang digunakan untuk menutup erlenmeyer setelah pemanasan harus
merupakan aluminium yang sama seperti sebelumnya. Hal ini dilakukan agar data
penimbangan yang diperoleh akurat.
Data yang diperoleh dari percobaan ini berupa tekanan, suhu dan berat. Data tersebut
kemudian diolah dan dimasukkan kedalam persaman massa jenis dan gas ideal. Hubungan
antara massa jenis dengan persamaan gas ideal ditunjukkan pada persamaan 2.11. berat
molekul senyawa kloroform yang diperoleh dari hasil perhitungan tersebut yaitu 24.1 g/mol,
45.7 g/mol dan 112.7 g/mol. Berat molekul yang diperoleh berdasarkan hasil percobaan
berbeda dengan teori. Menurut Sciencelab (2017) tentang Material Safety Data Sheet of
kloroform, berat molekul kloroform yaitu 119,38 g/mol. Hasil perhitungan yang paling
mendekati hanya pada pengulangan yang ketiga yaitu 112.7 g/mol. Hasil yang diperoleh
sangat mendekati dikarenakan, pada pengulangan ini volume kloroform habis menguap
semua, hal ini diketahui karena adanya bunyi letupan pada saat akhir dari pemanasan. Hasil
yang diperoleh pada pengulangan pertama dan kedua sangat jauh berbeda. Menurut Mulyono,
et all (2017) pada buku penunjuk praktikum termodinamika kimia, pengukuran berat molekul
menggunakan metode ini akan menghasilkan nilai berat molekul yang tidak sebenarnya atau
mengandung kesalahan. Faktor yang mempengaruhi kesalahan pada perhitungan berat
molekul kloroform yaitu terdapat udara yang masuk dari lingkungan terhadap sistem melalui
selang GPS. Hal ini dapat menyebabkan tekanan didalam sistem sama dengan tekanan
atmosfernya. Tekanan yang ditunjukkan pada monitor dari awal sampai akhir selalu konstan
pada kisaran 100 kPa. Faktor lainnya yang juga mempengaruhi hasil adalah tidak semua
kloroform habis menguap pada saat pemanasan dan pada saat pendinginan dalam suhu ruang,
kloroform yang menjadi uap belum sepenuhnya kembali ke bentuk cairnya. Perhitungan berat
molekul rata-rata dari tiga pengulangan menghasilkan berat molekul yang juga tidak sesuai
yaitu sebesar 60,8 g/mol. Hal ini terjadi karena hasil yang diperoleh dari ketiga pengulangan
perbedaannya jauh.
Berat molekul etanol yang dihasilkan berdasarkan tiga kali pengulangan pada
percobaan tersebut berturut-turut yaitu 16.5 g/mol, 22.9 g/mol dan 12.3 g/mol. Berat molekul
yang diperoleh dari percobaan berbeda dengan teori yang ada. Menurut Sciencelab (2017)
tentang Material Safety Data Sheet of etanol, berat molekul etanol sebesar 46,07 g/mol.
Menurut Mulyono, et all (2017) pada buku penunjuk praktikum termodinamika kimia,
pengukuran berat molekul menggunakan metode ini akan menghasilkan nilai berat molekul
yang tidak sebenarnya atau mengandung kesalahan. Faktor yang mempengaruhi yaitu tidak
semua etanol habis menguap pada saat pemanasan dan pada saat pendinginan dalam suhu
ruang, etanol yang menjadi uap belum sepenuhnya kembali ke bentuk cairnya. Hal ini
mengakibatkan kesalahan pada pengambilan data berat senyawa etanol. Berat senyawa
berpengaruh terhadap perhitungan massa jenisnya. Semakin sedikit berat yang diperoleh maka
perhitungan dari massa jenis menjadi semakin kecil. Massa jenis ini juga berpengaruh
terhadap berat molekul senyawa etanol jika dilihat pada persamaan 2.11. Berat molekul rata-
rata yang diperoleh dari tiga kali pengulangan yaitu sebesar 17,2 g/mol. Ketidaksesuaian berat
molekul rata-rata yang diperoleh dikarenakan semua hasil perhitungan berat molekul yang
diperoleh tidak benar dan berbeda jauh dengan teori yang ada, sehingga ketika dirata-rata
akan menghasilkan nilai yang salah.
Berat molekul aseton yang dihasilkan berdasarkan tiga kali pengulangan pada
percobaan tersebut berturut-turut yaitu 23.1 g/mol, 9.00 g/mol dan 12.5 g/mol. Berat molekul
yang diperoleh dari percobaan berbeda dengan teori yang ada. Menurut Sciencelab (2017)
tentang Material Safety Data Sheet of aseton, berat molekul etanol sebesar 58,08 g/mol.
Menurut Mulyono, et all (2017) pada buku penunjuk praktikum termodinamika kimia,
pengukuran berat molekul menggunakan metode ini akan menghasilkan nilai berat molekul
yang tidak sebenarnya atau mengandung kesalahan. Faktor yang mempengaruhi yaitu tidak
semua etanol habis menguap pada saat pemanasan dan pada saat pendinginan dalam suhu
ruang, etanol yang menjadi uap belum sepenuhnya kembali ke bentuk cairnya.
Kesalahan dan ketidak akuratan nilai berat molekul yang diperoleh dikarenakan
metode ini memang tidak sepenuhnya menghasilkan nilai yang sama dengan teori. Menurut
Mulyono (2017), perhitungan menggunakan metode ini mempunyai faktor koreksi. Hal
tersebut karena pada saat melakukan prosedur kerja penimbangan, labu erlenmeyer yang
kosong sebenarnya terisi oleh udara. Penimbangan pada saat setelah pemanasan dan
pendinginan dalam suhu ruang, senyawa volatil, baik kloroform, aseton maupun etanol tidak
seleruhnya uap yang dihasilkan berubah menjadi cairan kembali. Hal ini menyebabkan berat
erlenmeyer lebih kecil daripada berat erlenmeyer jika semua uap kembali ke bentuk semula.
Faktor pengkoreksi tersebut membantu dalam memperoleh nilai berat molekul yang sesuai.
Faktor koreksi dapat dihitung dengan menggunakan nilai tekanan uap pada suhu kamar,
volume labu Erlenmeyer dan berat molekul udara (28,6 g/mol). Hasil tersebut kemudian
ditambahkan pada massa cairan senyawa volatil.
BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Kesimpulan yang diperoleh dari praktikum ini adalah :
5.1.1 Berat molekul rata-rata kloroform, aseton dan etanol masing-masing adalah 60.8
g/mol, 17.2 g/mol dan 14.9 g/mol.
5.1.2 Berat molekul dapat dihitung menggunakan gas ideal.
5.2 Saran
Sebaiknya praktikan harus berhati-hati dalam melakukan setiap prosedur kerja agar
tidak terjadi kesalahan sehingga data yang diperoleh akurat .
DAFTAR PUSTAKA

Atkins, P.W. 1996. Kimia Fisika Jilid I. Erlangga, Jakarta.


Bird, T. 1993. Kimia Fisika untuk Universitas. Cetakan ke-2. Jakart: PT. Gramedia Pustaka
Utama.
Halliday, dkk. 2010. Fisika Dasar Jilid 7 Edisi ke 1, Terjemahan. Jakarta: Erlangga.
Keenan. 1996. Kimia Untuk Universitas. Erlangga, Jakarta.
Sciencelab. 2017. Material Safety Data Sheet of Acetone. [Serial
Online].http://www.sciencelab.com/msds.php?msdsId=9927062.[Diakses pada tanggal
7 Oktober 2017].
Sciencelab. 2017. Material Safety Data Sheet of Etanol. [Serial
Online].http://www.sciencelab.com/msds.php?msdsId=9923955.[Diakses pada tanggal
7 Oktober2017].
Sciencelab. 2017. Material Safety Data Sheet of Kloroform. [Serial
Online].http://www.sciencelab.com/msds.php?msdsId=9927133.[Diakses pada tanggal
7 Oktober2017].
Sparkfun. 2017. Gas Pressure Sensor (Order Code GPS-BTA). [Serial Online]
https://cdn.sparkfun.com/datasheets/Sensors/Pressure/gps-bta.pdf. [Diakses Pada
Tanggal 10 Oktober 2017]
Sukardjo. 1989. Termodinamika Kimia. Jakarta: Erlangga.
LAMPIRAN FOTO
LAMPIRAN
1. Etanol
m etanol = massa sebelum pemanasa massa sesudah pemanasan
PV
n=
RT
PV = nRT

1,27 atm 0,125 L


n= = 0,00569 mol
0,082 Latm/molK 340,9 K

1,56 atm 0,100 L


n= = 0,00560 mol
0,082 Latm/molK 340,2 K

1,85 atm 0,125 L


n= = 0,00834 mol
0,082 Latm/molK 337,4 K

1,60 atm 0,117 L


n rata rata = = 0,00654 mol
0,082 Latm/molK 339,5 K
m
BM =
n
0,094 g
BM = = 16,5 g/mol
0,00569 mol
0,128 g
BM = = 22,9 g/mol
0,00560 mol
0,103 g
BM = = 12,3 g/mol
0,00834 mol
0,108 g
BM rata rata = = 17,2 g/mol
0,00654 mol

2. Kloroform
m etanol = massa sebelum pemanasa massa sesudah pemanasan
PV
n=
RT
PV = nRT

1,25 atm 0,100 L


n= = 0,00478 mol
0,082 Latm/molK 320 K

0,988 atm 0,125 L


n= = 0,00471 mol
0,082 Latm/molK 320 K
0,988 atm 0,100 L
n= = 0,00368 mol
0,082 Latm/molK 326,9 K

1,08 atm 0,108 L


n rata rata = = 0,00439 mol
0,082 Latm/molK 322,3 K
m
BM =
n
0,0115 g
BM = = 24,1 g/mol
0,00478 mol
0,215 g
BM = = 45,7 g/mol
0,00471 mol
0,415 g
BM = = 112,7 g/mol
0,00368 mol
0,248 g
BM rata rata = = 60,8 g/mol
0,00439 mol

3. Aseton
m etanol = massa sebelum pemanasa massa sesudah pemanasan
PV
n=
RT
PV = nRT

1,40 atm 0,125 L


n= = 0,00666 mol
0,082 Latm/molK 319,7 K

1,21 atm 0,100 L


n= = 0,00467 mol
0,082 Latm/molK 316,8 K

1,38 atm 0,125 L


n= = 0,00656 mol
0,082 Latm/molK 321,1 K

1,33 atm 0,117 L


n rata rata = = 0,00596 mol
0,082 Latm/molK 319,2 K
m
BM =
n
0,154 g
BM = = 23,1 g/mol
0,00666 mol
0,042 g
BM = = 9,00 g/mol
0,00467 mol
0,082 g
BM = = 12,5 g/mol
0,00656 mol
0,093 g
BM rata rata = = 14,9 g/mol
0,00596 mol

Anda mungkin juga menyukai