Anda di halaman 1dari 5

NAMA : MARIYANI

NIM : 102151010019
JURUSAN : AKUNTANSI SEMESTER V (LIMA)
MATA KULIAH : AKMEN LANJUTAN (BAB 3)

PENGGUNAAN SISTEM MANAJEMEN BIAYA UNTUK EFESIENSI


A. Activity Based Managemend
Operating activity based management merupakan informasi ABC yang di
pergunakan untuk menunjukkan aktivitas-aktivitas apa saja yang dilakukan
perusahaan secara tidak efisien, yang menimbulkan biaya yang tinggi, yang pada
akhirnya mengurangi profitabilitas produk atau pelanggan perusahaan
Model activity based costing diwakili dengan model yang vertikal, dimana
biaya akan dibebankan pada aktivitas, yang pada akhirnya akan dibebankan pada
objek biaya. Sedangkan model activity based management diwakili dengan model
yang horizontal dengan tujuan untuk melakukan perbaikan terhadap aktivitas,
sehingga aktivitas-aktivitas tersebut dapat dilakukan dengan lebih efisien. Dalam
penerapan activity based management, maka model activity based costing yang
harus dipakai adalah model activity based costing yang memisahkan antara biaya
fleksibel dengan biaya committed. Tanpa pemisahan tersebut, perusahaan akan
mengalami kesulitan untuk melakukan monitoring dari dampak dikeluarkan
perusahaan akan otomatis berkurang meskipun perusahaan menghilangkan semua
aktivitas-aktivitas yang dilakukannya. Hanya biaya yang bersifat fleksibel yang
akan hilang, sedangkan biaya yang bersifat committed tidak otomatis langsung
hilang.
Efisiensi biaya dalam operating activity based management
Dalam konsep activity based management, efisiensi aktivitas dapat dilakukan
dengan empat cara, yaitu:
1. Penghilangan aktivitas (activity elimination); tujuan utamanya adalah untuk
menghilangkan aktivitas dengan harapan jika amtivitas dihilangkan maka
biaya-biaya yang dikeluarkan untuk aktivitas itu juga dapat dihilangkan.

1
2. Pengurangan aktivitas (activity reduction); untuk aktivitas yang tidak dapat
dihilangkan sepenuhnya, maka perusahaan dapat menghasilkan tingkat output
yang sama dengan mempergunakan aktivitas yang lebih sedikit.
3. Pemilihan aktivitas (activity selection); perusahaan akan memilih alternatif
aktivitas yang lebih murah seperti pemilihan apakah sebaiknya perusahaan
memproduksi sendiri atau melakukan outsourcing.
4. Activity sharing; tujuannya adalah untuk mengurangi besarnya kapasitas
menganggur perusahaan.

B. Biaya Kualitas (Cost Of Quality)


Konsep biaya kualitas ini disarankan dipergunakan oleh perusahaan-
perusahaan yang mengaplikasikan program gugus kendali mutu (GKM).
Tujuannya adalah untuk menghasilkan barang yang berkualitas. Biaya kualitas
yang dikeluarkan perusahaan dapat dibagi menjadi empat bagian besar, yaitu:
1. Biaya pencegahan
2. Biaya pemeriksaan
3. Biaya kegagalan internal
4. Biaya kegagalan eksternal
Monitoring terhadap pergerakan biaya kualitas dapat dilakukan melalui
perbandingan rasio dari satu periode ke periode lainnya. Rasio-rasio yang akan
dibuat adalah:
1. Total biaya kualitas/penjualan
2. Biaya pencegahan/penjualan
3. Biaya pemeriksaan/penjualan
4. Biaya kegagalan internal/penjualan
5. Biaya kegagalan eksternal/penjualan

C. Just In Time
Just in time pertama kali dikembangkan di Negara Jepang oleh perusahaan
Toyota pada decade yang lalu, dan kemudian diadopsi oleh banyak perusahaan

2
manufaktur dijepang dan Amerika serikat seperti : Hewlet Packard,IBM,dan
Herley Davidson.
Just In Time (JIT) merupakan integrasi dari serangkaian aktivitas desain untuk
mencapai produksi volume tinggi dengan menggunakan minimum persediaan
untuk bahan baku, WIP, dan produk jadi. Konsep dasar dari system JIT adalah
memproduksi produk yang diperlukan, pada waktu yang dibutuhkan oleh
pelanggan, dalam jumlah sesuai kebutuhan pelanggan, pada setiap tahap proses
dalam system produksi dengan cara yang paling ekonomis atau paling efesien
melalui eliminasi pemborosan ( waste elimination ) dan perbaikan terus.
Tujuan utama yang ingin dicapai dari system JIT adalah :
1. Zero defect ( tidak ada barang yang rusak )
2. Zero set- up time ( tidak ada waktu set-up)
3. Zero lot excesses ( tidak ada kelebihan lot )
4. Zero handling ( tidak ada penanganan )
5. Zero Queues ( tidak ada antrian )
6. Zero breakdowns ( tidak ada kerusakan mesin )
7. Zero Lead time ( tidak ada lead time )
Faktor pendukug keberhasilan JIT :
1. Aliran material yang lancer
2. Pengurangan waktu set-up fleksiber dan responsive dalam menghadapi
perubahan permintaan.
3. Pengurangan lead time vendor kontrak jangka panjang.
4. Zero defect sertifikat vendor
5. Control lantai produksi, pembelian dan produksi JIT
6. Kanban

D. Lean Production and Accounting


Konsep efisiensi biaya lainnya yang belakangan ini muncul adalah lean
production. Konsep ini juga sering disebut dengan Toyota Production System
(TPS), karena perusahaan tersebut yang mempelopori penggunaan sistem ini.
Lean production adalah praktik produksi yang mempertimbangkan segala

3
pengeluaran sumber daya yang ada untuk mendapatkan nilai ekonomis terhadap
pelanggan tanpa adanya pemborosan, dan pemborosan inilah yang menjadi target
untuk dikurangi. Lean selalu melihat nilai produk dari sudut pandang pelanggan,
dimana nilai sebuah produk didefenisikan sebagai sesuatu yang mau dibayar oleh
pelanggan. Berdasarkan model lean production inilah kemudian berkembang
sebuah konsep baru yang disebut dengan lean accounting. Konsep lean production
bertujuan untuk membuat perusahaan menjadi kurus dengan cara membuang
segala aktivitas-aktivitas dan juga biaya yang tidak memiliki nilai tambah bagi
perusahaan. Dalam konsep lean, terdapat tujuh pemborosan yang harus
dihilangkan perusahaan yaitu:
1. Kelebihan produksi
2. Persediaan
3. Motion
4. Material movement
5. Correction, termasuk didalamnya pengerjaan ulang
6. Over processing
7. Waiting
Lean Acconting (LA)
Lean accounting merupakan pendekatan yang dirancang untuk mendukung
dan mendorong lean manufacturing. Maskell dan Baggaley (2006), dalam
mendukung laen manufacturing lean accounting mempunyai misi antara lain :
1. Menyediakan informasi yang akurat, tepat waktu dan mudah dipahami.
2. Eliminasi kegiatan tidak bernilai tambah
3. Patuh pada prinsip akuntansi berterima umum, regulasi pelaporan ekstern
dan persyaratan pelaporan intern
4. Mendukung lean culture dengan mendorong investasi pada SDM,
menyediakan informasi yang relevan dan actionable, memberdayakan
continuois improvement
Aplikasi Lean Accounting :
1. Penentuan harga pokok berdasarkan beban langsung value streams
2. Pelaporan keuangan tepat waktu dengan bahasa sederhana

4
Pertanyaan :
Lean production adalah praktik produksi yang mempertimbangkan segala
pengeluaran sumber daya yang ada untuk mendapatkan nilai ekonomis terhadap
pelanggan tanpa adanya pemborosan, dan pemborosan inilah yang menjadi target
untuk dikurangi. Dalam konsep lean, terdapat tujuh pemborosan yang harus
dihilangkan perusahaan salah satunya persedian. Dalam hal ini mengapa
persediaan ini termasuk kedalam bagian pemborosan?