Anda di halaman 1dari 4

KEPUTUSAN DIREKTUR

NOMOR 450 / KEP-DIR /RSIAHBG/XII/2012

TENTANG

KEBIJAKAN TEPAT LOKASI, TEPAT PROSEDUR, DAN


TEPAT PASIEN OPERASI

DIREKTUR RUMAH SAKIT IBU DAN ANAK HERMINA BOGOR

Menimbang : a. bahwa salah lokasi, salah prosedur, dan salah pasien operasi adalah
kejadian yang mengkhawatirkan dan biasa terjadi di rumah sakit yang
dapat disebabkan oleh :
1. Akibat dari komunikasi yang tidak efektif dan tidak adekuat antara
anggota tim bedah, kurang / tidak melibatkan pasien dalam penandaan
lokasi (site marking)
2. Tidak adanya prosedur untuk mencari lokasi operasi
3. Assesment pasien yang tidak adekuat
4. Penelaahan ulang catatan medis tidak adekuat
5. Budaya yang tidak mendukung komunikasi terbuka antar anggota tim
bedah
6. Illegable hand writing / tulisan resep tidak terbaca
7. Pemakaian singkatan yang tidak seragam
b. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a,
maka perlu menetapkan Keputusan Direktur Rumah Sakit tentang
Pemberlakuan Kebijakan Tepat Lokasi, Tepat Prosedur, dan Tepat Pasien
Operasi.

Mengingat : 1. Undang-Undang RI No. 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran.


2. Undang-Undang RI No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan.
3. Undang-Undang RI No. 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit.
4. Peraturan Menteri Kesehatan No. 519/MENKES/PER/III/2011 tentang
Pedoman Penyelenggaraan Pelayanan Anestesiologi dan Terapi Intensif
di Rumah Sakit.
5. Peraturan Menteri Kesehatan No. 1691/MENKES/PER/VIII/2011
tentang Keselamatan Pasien.
6. Peraturan Menteri Kesehatan No. 269/MENKES/PER/II/2008 tentang
Rekam Medis.
7. Peraturan Menteri Kesehatan No. 290/MENKES/PER/III/2008 tentang
Persetujuan Tindakan Kedokteran
.

MEMUTUSKAN

Menetapkan :
KESATU : MEMBERLAKUKAN KEPUTUSAN DIREKTUR TENTANG
KEBIJAKAN TEPAT LOKASI, TEPAT PROSEDUR, DAN TEPAT
PASIEN OPERASI DI RUMAH SAKIT IBU DAN ANAK HERMINA
BOGOR.
KEDUA : Rumah sakit menggunakan suatu tanda yang segera dikenali untuk
identifikasi lokasi operasi dengan tanda berupa lingkaran (O), check list
() atau garis (-) dengan menggunakan spidol hitam permanen.
KETIGA : Penandaan lokasi operasi harus dibuat oleh dokter yang akan melakukan
tindakan (operator) dan dilaksanakan sebelum pelaksanaan operasi, saat
pasien sadar dan disaksikan oleh perawat kamar bedah serta melibatkan
pasien dalam proses penandaan / pemberian tanda.
KEEMPAT : Penandaan lokasi operasi dilakukan pada semua kasus termasuk sisi miring
(laterality), struktur multipel (jari tangan, jari kaki, lesi) atau multipel
level (tulang belakang). Penandaan lokasi operasi dilakukan pada tubuh
pasien di tempat atau dekat lokasi operasi dan harus dilakukan sebelum
pasien masuk kamar operasi/ ruang tindakan.
KELIMA : Penandaan lokasi operasi tidak dilakukan pada kasus :
a. Sectio Caesaria
b. Operasi jantung
c. Sircumsisi
d. Kasus intervensi dimana menggunakan kateter/ instrument
yang diinsersi (contoh kateterisasi jantung)
e. Pada kasus dimana lokasi operasi tidak dapat ditandai,
misalnya operasi gigi
f. Kssus luka bakar
g. Operasi THT seperti tonsilektomi
h. Curretage
i. Bayi prematur karena menyebabkan tanda yang permanen
j. Endoskopi
k. Laparatomi
KEENAM : Rumah sakit menggunakan suatu checklist untuk melakukan verifikasi pra
operasi tepat lokasi, tepat prosedur, tepat pasien, dan semua dokumen
serta peralatan yang diperlukan tersedia, tepat / benar dan fungsional.
Pelaksanaan checklist sesuai dengan prosedur.
KEDELAPAN : Pada operasi kecil yang biasanya dikerjakan dengan anestesi lokal dan
dikerjakan di luar kamar operasi seperti jahit luka, insisi abses, eksisi
tumor jinak yang dapat dilakukan di IGD , maupun tindakan bedah dental
yang dilakukan di poliklinik gigi, pemeriksaan identitas pasien, pemastian
prosedur dan lokasi operasi dilakukan saat akan melakukan tindakan.
Pemastian lokasi tempat tindakan dilakukan dengan cara mengajukan
pertanyaan kepada pasien mengenai daerah yang akan dilakukan operasi
( bila memungkinkan ) dengan mencocokkan pada berkas rekam medis dan
data penunjang seperti radiologi, dengan cara melingkari bagian yang akan
dioperasi pada foto rontgen (pada operasi gigi)
KESEMBILAN : Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan.

Ditetapkan di Bogor
Pada tanggal 9 Desember 2012
Direktur,

Dr. Yuni Pantjawardhani