Anda di halaman 1dari 12

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat dan
rahmat-Nya lah kami dapat menyelesaikan paper Kewirausahaan Pentingnya Pola Pikir
Kewirausahaan tepat pada waktunya. Dan juga kami berterimakasih kepada Bapak Drs. I
Komang Ardana, M.M. selaku dosen mata kuliah Kewirausahaan yang telah memberikan tugas
ini kepada kami.

Kami sangat berharap paper ini dapat berguna untuk menambah wawasan serta
pengetahuan kita. Kami menyadari bahwa dalam paper ini terdapat banyak kekurangan, oleh
sebab itu kami mengharapkan kritik dan saran untuk perbaikan paper kami di masa yang akan
datang.

Denpasar, 27 Februari 2017

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .............................................................................................. i

DAFTAR ISI ............................................................................................................. ii

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang .................................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ............................................................................................... 1
1.3 Tujuan Penulisan ................................................................................................. 1
1.4 Manfaat Penulisan ....1
1.5 Metode Penulisan 2

BAB II PEMBAHASAN
2.1 Keterkaitan antara Wirausaha dengan Pola Pikirnya ........................................... 3
2.2 Pentingnya Pola Pikir Kewirausahaan ................................................................. 6
2.3 Prinsip Dasar Pola Berpikir Kewirausahaan ........................................................ 7
2.4 Tahap Berpikir Kewirausahaan............................................................................ 8

BAB III PENUTUP


3.1 Kesimpulan ......................................................................................................... 9
3.2 Saran ... 9

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................... 10

ii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Sering kali pola pikir seseorang untuk mewujudkan mimpinya dalam melakukan wirausaha
kadang sering berubah. Hal ini dikarenakan banyak sekali orang yang akan takut hal-hal yang
belum mereka coba, dimana pola pikir merupakan kepercayaan mengenai siapa kita dan apa
keahlian yang kita miliki dalam berwirausaha. Sehingga kita harus mengubah mindset kita
dengan cara melalui mempelajari tentang bagaimana harus mempunyai pola pikir terkait
dengan kewirausahaan. Perubahan pola pikir bahkan sering terjadi terhadap semua orang yang
ingin menjalan wirausahanya apakah pola pikirnya positif atau negative tergantung seseorang
yang menjalaninya. Maka dari itu pendidikan sangatlah perlu untuk mendapatkan pengetahuan
dan informasi mengenai mengubah pola pikir dan mindset seseorang dalam berwirausaha agar
memiliki pola pikir yang inovatif dan kreatif dalam mewujudkan mimpinya di dalam
kewirausahaan yang berhasil.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa saja keterkaitan antara wirausaha dengan pola pikirnya ?
2. Apakah pentingnya pola pikir kewirausahaan ?
3. Apa saja prinsip dasar pola berpikir kewirausahaan ?
4. Apa saja tahap berpikir kewirausahaan ?

1.3 Tujuan
1. Mengetahui keterkaitan antara wirausaha dengan pola pikirnya
2. Mengetahui pentingnya pola pikir kewirausahaan
3. Mengetahui prinsip dasar pola berpikir kewirausahaan
4. Mengetahui apa saja tahap berpikir kewirausahaan

1.4 Manfaat Penulisan

Dalam makalah ini penyusun berharap pembaca dapat mengambil manfaat dan sesuai
dengan tujuan yang diharapkan.

1
1.5 Metode Penulisan

Dalam makalah ini penulis menggunakan metode studi literatur, dimana kami menjadikan
bacaan-bacaan dari beberapa media sebagai sumber informasi.

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Keterkaitan antara Wirausaha dan Pola Pikirnya

Berbicara tentang kewirausahaan, menurut penulis adalah berbicara tentang mindset


(pola pikir) dan method (sistem kerja, langkah, prosedur, tehnik). Tulisan kali akan membahas
mengenai pola pikir wirausaha yang dikembangkan dari pemikiran Neal Thornberry. Menurut
Neal Thornberry[1], Pola pikir wirausaha melibatkan 10 kualitas, sebagai berikut (yang akan
coba dikupas lebih dalam oleh penulis).

1. Memiliki Locus of Control internal


Locus of Control (lokus kendali) adalah istilah untuk menggambarkan bagaimana
seseorang berpikir tentang kendali hidupnya. Seseorang yang memiliki kendali eksternal,
adalah mereka yang merasa bahwa hidupnya dikendalikan oleh faktor-faktor diluar dirinya,
seperti cuaca, kebijakan pemerintah, keluarga, pacar, peraturan kantor dan lain-lain. Sehingga
mereka hanya punya sedikit sekali punya kontrol terhadap kehidupannya. Mereka cenderung
pasrah, dan mengikuti kehendak di luar dirinya. Sebagai contoh wah hujan nih, mau gimana
lagi, sudah pasti kita tidak bisa belajar dengan konsentrasi, habis hujan.. dan sebagainya.
Intinya, hidup mereka dikendalikan oleh daya-daya diluar dirinya, dan mereka meyakini bahwa
tidak banyak yang mampu dilakukan untuk mengatasinya. Sebaliknya kendali internal (internal
locus of control) adalah pemikiran bahwa kita adalah pusat kendali. Cuaca boleh hujan, namun
kita tetap punya kontrol penuh untuk membuat hati kita sedih/senang karena adanya hujan
tersebut. Seorang wirausaha, diyakini memiliki kendali internal tersebut. Mereka yakin bahwa
dirinyalah pusat kendali, bukan atasan, cuaca, kebijakan pemerintah dll.

2. Memiliki toleransi untuk ambiguitas


Beberapa ahli sering mengatakan bahwa salah satu blok kreativitas adalah keenganan
untuk berbeda, kemalasan untuk mencari yang tidak biasa dan ketidakbersediaan untuk
bermain-main dengan sesuatu yang menurut orang kebanyakan ganjil. Sebaliknya, seorang
wirausaha memiliki toleransi untuk berbuat berbeda dan melanggar hal-hal yang dianggap
pakem. Sebagai contoh: pakem yang umum buat mereka yang ingin membuka restoran adalah;
bukalah di tempat yang ramai. Namun demikian, saat ini sudah sangat banyak contohnya

3
dimana restoran yang dibuka di tempat terpencil (jauh diatas gunung, di pulau, di tengah sawah,
dll) justru diserbu oleh pelanggannya.

3. Kesediaan untuk mengaji orang yang lebih cerdas dari dirinya.


Seorang wirausaha sejati sangat mengenal dirinya, dan ia menyadari bahwa dirinya
bukanlah dewa. Ia sangat sadar akan kelebihan dan potensi, dan juga terkait hal-hal yang
kurang dikuasainya. Oleh karena itu, mereka selalu siap untuk berbagi pikiran dan wawasan,
serta mengisi kekosongan-kekosongan dalam usahanya. Sebagai contoh, beberapa orang
mahasiswa yang membuka bisnis cuci motor, sangat sadar akan keterbatasannya dengan cairan
kimia sabun. Oleh karena itu, mereka ikhlas bekerja sama dengan mahasiswa kimia/farmasi
untuk menghasilkan formula sabun yang tidak panas ditangan, wangi dan tahan lama
bersihnya. Satu hal adalah bahwa, mereka tidak pernah takut tersaingi. Sebaliknya, mereka
sangat sadar bahwa sinergitas akan menghasilkan jauh lebih banyak dari yang dapat
dibayangkan. Sinergi bukanlah satu ditambah satu sama dengan dua, namun satu ditambah satu
bisa menjadi tiga, tujuh atau bahkan sebelas.

4. Konsistensi untuk selalu berkreativitas, membangun dan mengubah berbagai hal.


Begitu seseorang berkecimpung dalam dunia wirausaha, maka seyogianya ia harus siap
berenang dalam kreativitas. Hal ini sangat bisa dimaklumi,mengingat beberapa peluang bisnis,
terutama yang pintu (entrance) untuk memulainya tidak sulit untuk dibuka (tidak butuh
keterampilan khusus, tidak butuh modal besar dll), akan sangat mudah dipenuhi oleh para
pemula (start-up). Sehingga yang tadinya bisnis baru tersebut berada di lautan biru (blue ocean)
dalam waktu singkat ia harus berdarah-darah di lautan mera (red ocean) karena ratusan
pesaingnya saling berebutan kue. Lalu bagaimana caranya bertahan dalam lautan darah seperti
itu? Satu hal, yaitu konsistensi untuk selalu berkreativitas. Perusahaan waralaba ayam KFC,
adalah contoh yang bisnis yang memiliki konsistensi untuk selalu berkreativitas. Hampir setiap
bulan mereka selalu mengeluarkan paket-paket baru, seperti paket hemat plus CD musik,
burger dengan harga terjangkau, paket ulang tahun, paket porsi anak-anak plus mainan anak
(biasanya tokoh film kartun tertentu), interior ruangan yang selalu update dan dilengkapi taman
bermain mini dll. Belum ditambah jika memasuki bulan ramadhan, maka KFC dengan
kreativitasnya yang tinggi, akan meluncurkan paket sahur, paket berbuka, paket berdua dll.
Dengan itu semua, daya tahan sebuah bisnis terhadap persaingan menjadi semakin kuat. Ia
tidak akan mudah runtuh terhadap serbuan kompetitor yang semakin dasyhat.

4
5. Dorongan yang kuat untuk peluang dan kesempatan
Mata seorang wirausaha, adalah seperti mata elang. Mereka selalu awas terhadap
peluang-peluang baru. Mereka dengan kemampuan intuisinya yang selalu ditempa- mampu
membaca trend jaman. Salah satu contoh kepekaan ini adalah apa yang dilakukan oleh Trans
Corp dengan Proyek Trans Studionya. Mereka melihat kesempatan yang besar pada bisnis
hiburan di Bandung Ibukota Jawa Barat. Jumlah penduduk yang berjumlah kurang lebih 40
juta ditambah penghuni Jabodetabek yang sekitar 20 juta, menjadi alasan yang sangat kuat
untuk mendirikan kawasan terpadu yang sarat hiburan kelas dunia untuk keluarga. Inilah mata
elang wirausaha. Mereka mampu melihat peluang dan berani mengambil tindakan untuk
menangkapnya.

6. Rasa urgenitas yang tinggi.


Para tokoh bisnis sering mengatakan pameo ini inovasi atau mati. Apa artinya? Artinya
adalah bahwa inovasi sudah merupakan sesuatu harga mati, ini adalah sesuatu yang urgen dan
tidak bisa ditunda-tunda lagi. Mengapa? Karena kompetitor begitu banyak dan pasar sangat
haus terhadap inovasi baru. Mari kita lihat trend pasar telepon selular. Inovasi yang terjadi
disini dapat dikatakan hampir terjadi setiap hari. Jika kita membaca surat kabar, maka sangat
mudah ditemukan iklan yang mengabarkan teknologi terbaru dari sebuah telepon selular. Inilah
bentuk dari urgenitas yang sangat tinggi. Para pelaku alat telekomunikasi canggih tersebut
sangat paham, bahwa lengah satu langkah dapat berarti ancaman kebangkurtan (ditinggalkan
pelanggannya).

7. Perseverance
Mereka menjaga dan memelihara idenya untuk kemudian diwujudkan. Beberapa orang
hanya berhenti pada level menemukan ide baru. Namun, para wirausahawan sejati, mereka
memelihara, mengembangkan dan berusaha mewujudkan ide tersebut. Nurfitira Khoirunnisa
adalah contoh yang baik untuk menjelaskan karakter ini. Ia memiliki ide untuk membuat
penghapus elektrik gara-gara badannya yang kurang tinggi, sehingga tidak dapat menjangkau
seluruh bagian papan tulis di sekolahnya. Berkaca dari situasi itu, ia dan rekannya kemudian
berusaha menciptakan penghapus elektrik. Inilah contoh preserverasi, yaitu usaha untuk
menemukan ide baru kemudian berusaha mematangkan dan mewujudkannya.

8. Resilience (ketahanan)
Wirausaha yang tangguh memiliki sikap seperti boneka anak-anak yang jika dipukul
selalu kembali ke posisi semula. Inilah kewirausahaan yang sesungguhnya. Tidak ada satupun

5
usaha yang tanpa penghalang dan tanpa hambatan. Namun, daya tahan ini akan mengembalikan
kita kembali ke posisi semula. Sudah terlalu banyak para pelaku usaha mental dan jatuh
diterjang angin. Namun tidak terlalu banyak yang kemudian dapat kembali ke posisi semula.
Inilah sikap ketahanan yang perlu dimiliki setiap kita yang sadar bahwa hidup adalah
perjuangan, dan perjuangan selalu memerlukan kekuatan untuk bangkit setelah jatuh dan
bangun setelah terjerembab oleh kerasnya kehidupan.

9. Optimis
Optimis, secara sederhana dapat diartikan sebagai lompatan dari satu aktivita ke aktivitas
lain, tanpa kehilangan antusiasme. Optimis adalah juga bentuk keyakinan bahwa tujuan akan
tercapai dan target akan terpenuhi dengan kekuatan sendiri. Mungkin para pembaca mengenal
sosok Jerry Aurum, seorang fotographer ternama. Ia adalah contoh seorang wirausaha yang
sangat optimis dan yakin dengan kapabilitas yang dimilikinya. Saat ini, berbagai institusi, dan
perusahaan besar di Indonesia sudah menggunakan jasanya. Optimisnya antara lain dibuktikan
dengan kegigihannya dalam memulai usaha fotographinya. Ia mengirimkan 500 eksemplar
kalender ke berbagai perusahaan di Indonesia yang berisi foto-foto hasil karyanya. Dengan rasa
optimisnya, ia beranggapan bahwa minimal pasti ada satu dua perusahaan yang akan
menggunakan jasanya. Hal itu kemudian terbukti, dan akhirnya berbagai tingkatan klien
berlomba-lomba menggunakan jasanya.

10. Rasa humor tentang diri sendiri.


Ini adalah bentuk rasa besar hati. Kemampuan mentertawakan diri sendiri adalah salah
bentuk kapabilitas untuk mengkoreksi dan bahkan mengkritik diri sendiri. Ini adalah sebuah
rasa legowo untuk tidak menilai diri sendiri sudah mencapai prestasi yang optimal. Sebaliknya
sikap ini mendorong kita untuk selalu melihat hal-hal belum maksimal dan punya potensi untuk
dikembangkan. Rasa humor terhadap diri sendiri, juga akan mampu memacu kreativitas dalam
diri untuk selalu mencari sisi-sisi yang belum tereksplorasi.
(http://kesos.unpad.ac.id/2011/09/27/pola-pikir-wirausaha/)

2.2 Pentingnya Pola Pikir Kewirausahaan

Mindset/pola pikir pada seseorang dalam mewujudkan mimpinya dalam melakukan


wirausaha kadang seringberubah,karna banyak sekali orang yang takut akan hal hal yang
belum pernah mereka coba, padahal menurut dweckmenerjemahkan mindset sebagai
kepercayaan mengenai siapa kita dan apa kemampuan kita, maka dari itu kita terlebih dahulu
harus mengenal kemampuan kita dan kita harus yakin/percaya kepada kemampuan diri kita

6
sendiri, karna banyak mengetahui/mempelajaripengetahuan barutentang bagaimana kita harus
mempunyaipola pikir yang inovatif, karna dengan berpikiran inovatif kita dapat menciptakan
hal yang baru dalam berwirausaha. Perubahan pola pikir kadang sering terjadi terhadap semua
orang, terutama kepada orang yang selalu merasakannya, karna mereka akan menyadari
perubahan sekecil apapun terhadap pola pikir mereka, apakah itu pola pikir yang positive atau
negative yang mereka rasakan, jika mereka merasakan perubahan hal positive terhadap diri
mereka sendiri maka ada dorongan dalam diri mereka sekali orang yang ragu akan kemampuan
dirinya yang dapat mengurungkan niat mereka untuk mewujudkan mimpinya dalam menjadi
wirausaha, dalam hal ini kita harus mengubah mindset kita dengan cara untuk selalu optimis
dalam meraih mimpi dalam berwirausaha, dan jika dengan pola pikir yang negative , itu akan
menyebabkan mereka selalu bersifat pesimis untuk meraih mimpi mereka, maka dari itu
pendidikan dan komunikasi untuk medapatkan informasi sangatlah penting dalam mengubah
mindset seseorang dalam berwirausaha supaya mempunyai pikiran inovatif dan kreatif dalam
mewujudkan mimpinya menjadi seorang wirausahayangberhasil.(Kompasiana.com)

2.3 Tiga Prinsip Dasar Pola Berpikir Kewirausahaan

1. Perhatian (Attention)

Pada tahap perhatian (attention) wirausaha berusaha agar calon konsumen memperhatikan
penawaran yang dilakukannya. Untuk mendapatkan perhatian dari calon konsumen wirausaha
harus memperlihatkan sikap yang baik, tutur kata dan cara berpakaian yang menarik yang akan
memberikan penilaian yang positif dari calon konsumen yang akan bepengaruh terhadap
terjadinya jual beli. Dalam pola berfikir khususnya perhatian, juga melihat apa yang
dibutuhkan konsumen sesuai dengan apa yang kita lakukan, memperhatikan cara bekerja
wirausahawan lain untuk bisa menjadi ide atau memotivasi.

2. Pelarian

Yang dimaksud dengan pelarian disini adalah diaman saat kita jatuh atau bangkrut, kita
masih mempunyai pekerjaan lain, seperti pekerjaan sampingan sabagai pengganti pekerjaan
yang telah bangkrut tadi sambal membangun ulang usaha baru disamping usaha sampingan.

3. Tindakan (Action)

Pada tahap tidakan wirausaha harus dapat mewujudkan kebutuhan dan harapan konsumen
dan memberikan keyakinan bahawa baranng, jasa, dan ide yang dibeli merupakan langkah

7
yang tepat yang dapat memberikan keuntungan bagi konsumen. Tindakan sesuatu yang harus
dilakukan seseorang untuk menjadi wirausahawan , karena tanpa ada tindakan kita tidak
mungkn bisa menjadi maju dan terus maju. (http://fekool.blogspot.co.id/2015/03/tiga-prinsip-
dasar-pola-berfikir.html)

2.4 Empat Tahap Berpikir Kewirausahaan

1. Tahap Memulai

Tahap dimana sseorang yang berniat untuk melakukan usaha mempersiapka segala sesuatu
yang diperlukan, diawali dengan melihat peluang usaha baru yang mungkin apakah membuka
usaha baru, melakukan akuisisi, atau melakukan franching. Tahap ini juga memilih jenis
usaha yang akan dilakukan apakah di bidang pertanian, industry, atau jasa.

2. Tahap Melaksanakan Usaha

Dalam tahap ini seorang wirausahawan mengelola berbagai aspek yang terkait dengan
usahanya mencakup aspek-aspek pembiayaan, SDM, kepemilikan, organisasi, kepemimpinan
yang meliputi bagaimana mengambil risiko dan mengambil keputusan, pemasaran, dan
melakukan evaluasi.

3. Tahap Mempertahankan Usaha

Tahap dimana wirausahawan berdasarkan hasil yang dicapai melakukan analisis


perkembangan yang dicapai untuk ditindaklanjuti sesuai dengan kondisi yang dihadapi.

4. Tahap Mengembangkan Usaha

Tahap dimana jika hasil yang diperoleh tergolong positif atau mengalami perkembangan
atau bertahan maka perluasan usaha menjadi salah satu pilihan yang mungkin diambil.

8
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Mindset/pola pikir pada seseorang dalam mewujudkan mimpinya dalam melakukan


wirausaha kadang seringberubah,karna banyak sekali orang yang takut akan hal hal yang
belum pernah mereka coba, padahal menurut dweckmenerjemahkan mindset sebagai
kepercayaan mengenai siapa kita dan apa kemampuan kita, maka dari itu kita terlebih dahulu
harus mengenal kemampuan kita dan kita harus yakin/percaya kepada kemampuan diri kita
sendiri, karna banyak mengetahui/mempelajaripengetahuan barutentang bagaimana kita harus
mempunyaipola pikir yang inovatif, karna dengan berpikiran inovatif kita dapat menciptakan
hal yang baru dalam berwirausaha. Perubahan pola pikir kadang sering terjadi terhadap semua
orang, terutama kepada orang yang selalu merasakannya, karna mereka akan menyadari
perubahan sekecil apapun terhadap pola pikir mereka, apakah itu pola pikir yang positive atau
negative yang mereka rasakan, jika mereka merasakan perubahan hal positive terhadap diri
mereka sendiri maka ada dorongan dalam diri mereka sekali orang yang ragu akan kemampuan
dirinya yang dapat mengurungkan niat mereka untuk mewujudkan mimpinya dalam menjadi
wirausaha, dalam hal ini kita harus mengubah mindset kita dengan cara untuk selalu optimis
dalam meraih mimpi dalam berwirausaha, dan jika dengan pola pikir yang negative , itu akan
menyebabkan mereka selalu bersifat pesimis untuk meraih mimpi mereka, maka dari itu
pendidikan dan komunikasi untuk medapatkan informasi sangatlah penting dalam mengubah
mindset seseorang dalam berwirausaha supaya mempunyai pikiran inovatif dan kreatif dalam
mewujudkan mimpinya menjadi seorang wirausaha yang berhasil.

3.2 Saran

Setelah membaca makalah ini, diharapkan ada dorongan dan motivasi untuk menjadi
wirausaha terutama untuk generasi muda Indonesia dengan menerapkan pola pikir
kewirausahaan sehingga tercipta wirausaha yang sukses demi meningkatkan pertumbuhan
perekonomian Indonesia .

9
DAFTAR PUSTAKA

Kool, Fery. 2015. Tiga Prinsip Dasar Pola Berfikir Kewirausahaan (Perhatian, Pelarian,
Tindakan). http://fekool.blogspot.co.id/2015/03/tiga-prinsip-dasar-pola-berfikir.html
(Diakses 27 Februari 2017)
Nugroho, Daru Setyo. 2015. Pola Pikir (Mindset) Wirausaha.
http://www.kompasiana.com/darusetyonugroho/pola-pikir-mindset-
wirausaha_552e61596ea834c65a8b4567 (Diakses 27 Februari 2017)

Wibowo, Hery. 2011. Pola Pikir Wirausaha. http://kesos.unpad.ac.id/2011/09/27/pola-pikir-


wirausaha/ (Diakses 27 Februari 2017)

10