Anda di halaman 1dari 14

Pengamatan Dan Analisa Aspek K3 Listrik Di

Gedung JTCC (Jogja Training & Carier Centre)


18 Oktober 2017

KELOMPOK AHLI K3 LISTRIK :


Asep Jayadi
Dwi Heru Purnomo
Fahreizal
Andri
Febri Tri Handoyo
Arif Fuadianto
Prasetyo Nugroho
DAFTAR ISI

1. DAFTAR ISI
2. BAB I

PENDAHULUAN

SEJARAH PT. CENTRA GAMA INDOVISI

ASPEK KENYAMANAN, KESEHATAN DAN KESELAMATAN

PENGERTIAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA

TUJUAN INSPEKSI

3. BAB II

PEMBAHASAN TEMUAN

ASPEK LINGKUNGAN GEDUNG

ASPEK TEKNIS KELISTRIKAN

ASPEK PROTEKSI TERHADAP BAHAYA KEBAKARAN

TABEL

4. BAB III

KESIMPULAN

SARAN
BAB I
PENDAHULUAN

I. SEJARAH PT. CENTRA GAMA INDOVISI

PT Centra Gama Indovisi adalah badan usaha (perseroan) yang


didirikan dan dikelola oleh alumni Fakultas Teknik Elektro Universitas Gadjah
Mada Yogyakarta, pada tanggal 23 Juni 2004 berdasarkan Akta Notaris dan
PPAT di Yogyakarta. Dengan dukungan total dari praktisi berpengalaman di
bidang konsultan dan pelatihan Sumber Daya Manusia, PT Centra Gama
Indovisi berkomitmen untuk memberikan kualitas produk layanan yang prima
bagi konsumen.

PT Centra Gama Indovisi, bertempat dan berkedudukan di Jl.


Patangpuluhan No. 26 Yogyakarta. Dengan mengemban misi menjadi salah
satu mediator beberapa Perguruan Tinggi di Yogyakarta dengan perusahaan-
perusahaan di sektor industri. Konsep terciptanya link and match antara
kebutuhan industri dan perkembangan ilmu pengetahuan berbasis kompetensi,
menjadi acuan kami dalam pendirian badan usaha ini.

PT Centra gama Indovisi, merupakan gabungan dari 3 kata:

Centra : Pusat, sentra


Gama : Merupakan singkatan dari Gadjah Mada, nama
perguruan tinggi negeri di Yogyakarta, sebagai universitas ternama yang
menjadi afiliasi ilmu pengetahuan khususnya di Yogyakarta
Indovisi : Pandangan jauh ke depan yang bermakna pada tujuan /
visi yang hendak dicapai oleh perusahaan atau organisasi di seluruh
Indonesia.
Mengacu pada makna di atas, Centra Gama Indovisi dapat diartikan sebagai
pusat kegiatan pendidikan dan pelatihan yang berbasis pada ilmu pengetahuan
yang terus berkembang dan dinamis sebagai bekal untuk mencapai tujuan
perusahaan.
Visi PT. Centra gama Indovisi adalah menjadi perusahaan global yang
terpercaya dan terdepan dibidang pelatihan sumber daya manusia dan
konsultan industri dengan jaminan produk, jasa dan layanan yang berkualitas
berbasis dukungan teknologi unggul dan sumber daya manusia yang
professional. Sedangkan misi dari PT. Centra gama Indovisi adalah :

Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) untuk Kalangan


Industri, Pemerintah dan Masyarakat dengan Menyediakan Pelatihan SDM
yang Berkualitas Secara Total dan Berkelas.
Meningkatkan Hubungan Kerja Sama yang Konstruktif dan Mutualistis antara
Tenaga Ahli, Perguruan Tinggi, Pemerintah dan Industri.
Memberikan All-Out Service kepada pelanggan dengan Dukungan Sumber
Daya Manusia Perusahaan yang Memiliki Kompetensi, Dinamis, Responsif,
Kreatif, Cerdas dan Bertanggung Jawab.
Memberikan Jasa Layanan yang Dibutuhkan Pelanggan secara Professional
dengan Dukungan Sumber Daya yang Berkualitas.
Memberikan Dukungan Total untuk Meningkatkan Kualitas, Kapasitas dan
Kesejahteraan SDM Perusahaan sehingga Mempunyai Keunggulan SDM
yang dapat Digunakan untuk Mencapai Visi Perusahaan.
II. ASPEK KENYAMANAN, KESEHATAN DAN KESELAMATAN

Kesehatan dan keselamatan kerja merupakan parameter utama yang tidak


bisa di tawar tawar lagi dalam lingkungan kerja terutama di Gedung JTCC yang
notabene adalah milik Lembaga Pelatihan K3. Wajib hukumnya menerapkan
peraturan (kebijakan) terkait K3 dalam semua aspek. Seluruh karyawan dan peserta
training yang sedang mengikuti program pelatihan harus diperhatikan dan dipastikan
dalam kondisi yang sehat, aman dan nyaman. Terlebih karyawan yang dalam
keseharian beraktifitas dalam gedung JTCC menjadikan kesehatan dan keselamatan
kerja merupakan faktor penting dalam menjaga kelancaran operasional.

Untuk itulah perlu dilakukan suatu tindakan inspeksi (baik berupa wawancara
terhadap karyawan dan tamu yang berada di gedung JTCC, observasi dan melakukan
pengukuran, seperti, tingkat kebisingan, penerangan dan kelembaban udara)
terhadap Gedung JTCC. Pengukuran tidak mencakup pengukuran besaran listrik
mengingat keterbatasan waktu yang tersedia. Inspeksi ini diharapkan memperoleh
hasil berupa rekomendasi sebagai masukan kepada manajemen perusahaan JTCC
dalam menerapkan standarisasi Kesehatan dan Keselamatan Kerja. Apabila semua
standard tersebut dapat diterapkan secara baik dan benar, maka seluruh karyawan
dan tamu akan merasa aman, nyaman dalam menjalankan aktivitas.

III. PENGERTIAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA

Pengertian kesehatan dan keselamatan kerja dapat ditinjau dari dua aspek
yaitu aspek filosofis dan teknis, secara filosifis kesehatan dan keselamatan kerja
adalah konsep berfikir dan upaya nyata untuk menjamin kelestarian tenaga kerja pada
khususnya dan setiap insan pada umumnya, beserta hasil-hasil karya dan budayanya
dalam upaya mewujudkan masyarakat adil, makmur dan sejahtera.

Secara teknis adalah upaya perlindungan yang ditujukan agar tenaga kerja dan
orang lain di tempat kerja/perusahaan selalu dalam keadaan selamat dan sehat,
sehingga setiap sumber produksi dapat digunakan secara aman dan efisien.
Kesehatan dan keselamatan kerja bertujuan:
1. memberikan jaminan rasa aman dan nyaman bagi karyawan dalam berkarya pada
semua jenis dan tingkat pekerjaan.
2. Menciptakan masyarakat dan lingkungan kerja yang aman, sehat dan sejahtera,
bebas dari kecelakaan dan penyakit akibat kerja.
3. Ikut berpatisipasi dalam melaksanakan pembangunan nasional dengan prinsip
pembangunan berwawasan lingkungan.

IV. TUJUAN INSPEKSI

Inspeksi ini menggunakan metodologi pemeriksaan visual dan pengukuran


yang bertujuan untuk mengetahui kelayakan gedung JTCC dilihat dari aspek
Keselamatan dan Kesehatan Kerja.

BAB II
PEMBAHASAN TEMUAN

Penerapan K3 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja) memiliki beberapa dasar


hukum di dalam pelaksaanaannya diantaranya adalah:

1. UU No. 1 Tahun 1970 Tentang Keselamatan Kerja


2. Permen No. 07/MEN/1964 Tentang Syarat Kesehatan, Kebersihan serta
Penerangan di Tempat Kerja
3. Permen No. 04/MEN/1980 Tentang Syarat Syarat Pemasangan dan
Pemerliharaan Alat Pemadam Api Ringan
4. Permen 01/Men/1990 Tentang Tempat Kerja dan Alat Kerja
5. Permen No. 02/Men/1983 Tentang Instalasi Alarm Kebakaran Otomatik
6. Permenaker No.4 Tahun 1987 Tentang Panitia Pembina Keselamatan dan
Kesehatan Kerja (P2K3).
7. Permenaker No. 5 Tahun 1996 Tentang Sistem Manajemen K3
8. Instruksi Menaker No: Ins.11/M/BW/1997 Tentang Pengawasan Khusus K3
Penanggulangan Kebakaran
9. Keputusan Menteri Kep-51/MEN/1999 Tentang Nilai Ambang Batas Faktor
Fisika di Tempat Kerja
10. Permen No. Per-15/MEN/VIII//2008 Tentang Pertolongan Pertama Pada
Kecelakaan di Tempat Kerja.
11. Keputusan Menteri Kep-75/MEN/2002 Tentang Pemberlakuan SNI No. SNI-04-
0225-2000 Mengenai Persyaratan Umum Instalasi Listrik 2000 (PUIL 2000)
12. SNI No. SNI-03-6572-2001 Mengenai Tatacara Perancangan Sistem Ventilasi
dan Pengkondisian Udara pada Bangunan Gedung
13. UU No. 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan (pasal 86 dan 87)

Jika kita merujuk pada dasar hukum penerapan K3 seperti yang telah
disampaikan diatas, maka selayaknya kita juga harus mentaati aturan aturan atau
norma-norma yang tertuang di dalam regulasi tersebut. Didalam implementasinya
masih ada beberapa hal yang menjadi temuan bagi kami secara team di Lokasi
Gedung JTCC menyangkut beberapa aspek, yaitu kesehatan lingkungan gedung,
pencegahan kecelakaan yang mungkin terjadi serta penanganan dan
penanggulangannya. Untuk mewujudkan kesehatan dan keselamatan kerja karyawan
dan tamu di gedung JTCC kita harus mewujudkan semua aspek tersebut yang saling
berkaitan antara satu dengan yang lainnya.
Adapun penjelasannya dari temuan temuan yang secara tim di dapatkan di
lokasi Gedung JTCC sebagai berikut :
1. Aspek Lingkungan Gedung
2. Aspek Instalasi Listrik
3. Aspek Proteksi Terhadap Bahaya Kebakaran

II.1. Aspek Lingkungan Gedung


Di dalam aspek lingkungan ada beberapa temuan yang mempunyai potensi
bahaya sehingga bisa terjadi kecelakaan kerja di lokasi gedung baik itu oleh karyawan
gedung maupun tamu. Adapun potensi-potensi bahaya yang berhasil di identifikasi
dapat dilihat pada table 2.1.

II.2. Aspek Teknis Kelistrikan


Dari hasil pengamatan dan pengukuran sederhana di lokasi gedung yang
dilakukan secara team terkait dengan instalasi kelistrikan yang ada di Gedung JTCC.
Hasil temuan dapat dilihat pada table 2.1

II.3. Aspek Proteksi Terhadap Bahaya Kebakaran

Untuk proteksi terhadap bahaya kebakaran harus diperhatikan aspek aspek


yang dapat meminimalisir terjadinya kebakaran tersebut berupa sistem proteksi yang
terdiri dari detektor asap, panas, springkler dan hydrant termasuk alarm kebakaran.
Didukung dengan Tim Tanggap Darurat, arah evakuasi dan assembly point ( titik
kumpul).
TABEL HASIL TEMUAN POTENSI SUMBER BAHAYA ( Table 2.1. )
TEMUAN POTENSI SUMBER REKOMENDASI
NO LOKASI POTENSI DOKUMENTASI REGULASI PEMERINTAH
BAHAYA

1. Grounding tidak - Dapat menyebabkan sentuhan - Agar kabel grounding segera - PUIL 2011
tersalurkan ke tanah tidak langsung dipasang sesuai standard

2. MCB tidak dilengkapi - MCB rawan terkena air - MCB Box agar segera diberi Kepmen 75/ MEN/ 2002 tentang
dengan box yang - Menyebabkan arch ketika terjadi penutup atau diganti dengan pemberlakuan SNI-04-0225-2000
mengguakan penutup gangguan MCB Box yang memiliki tutup

MCB Lantai 2 MCB Lantai


3
NO LOKASI POTENSI DOKUMENTASI TEMUAN POTENSI SUMBER REKOMENDASI REGULASI PEMERINTAH
BAHAYA

3 Outdoor AC ditempatkan - Dapat menggangu sirkulasi udara Outdoor AC agar dipindahkan di Permen No. 05/MEN/1996
di dalam ruangan didalam ruangan (Meningkatkan luar ruangan / gedung Lamp. I :
suhu) point 3.3.1. Identifikasi sumber bahaya
point 3.3.2. Penilaian Resiko
point 3.3.3. Tindakan Pengendalian

4 Kotak Kontak yang terlalu - Dapat mengakibatkan beban - Agar ditinjau ulang Permen No. 05/MEN/1996
banyak cabangnya berlebih / korsleting pemakaian kotak kontak point 3.3.1. Identifikasi sumber bahaya
- Dapat menimbulkan arch / point 3.3.2. Penilaian Resiko
busur api point 3.3.3. Tindakan Pengendalian
NO LOKASI POTENSI DOKUMENTASI TEMUAN POTENSI SUMBER REKOMENDASI REGULASI PEMERINTAH
BAHAYA

5 Penempatan kotak kontak - Dapat mengakibatkan beban Kabel harus ditempatkan di Permen No. 05/MEN/1996
yang berdekatan dengan berlebih / korsleting tempat yang aman point 3.3.1. Identifikasi sumber bahaya
dispenser - Dapat menimbulkan arch / point 3.3.2. Penilaian Resiko
busur api point 3.3.3. Tindakan Pengendalian

6 Pemasangan kabel yang - Dapat mengakibatkan bahaya Kabel agar supaya dilakukan N/A
tidak rapi sentuhan langsung instalasi ulang terkait
- Menggangu estetika ruang penempatan jalur penghantar
yang lebih rapi
Hasil Pengukuran Enviromental Meter

Intensitas Temperatur Kelembapan Kebisingan


Nama Ruang Ruang (dB)
Cahaya (lux) Ruang (0C) Ruang (RH)
Ruang Fitness 49,8 30,5 72,8 % 52,8
Ruang Meeting 37,3 30,3 73,9 % 50,8
Teras Lt.3 57,4 30,2 72,9 % 56,6
Studio 0,25 32,6 73,0 % 50,9
Ruang Kerja 29,1 30,4 75,5 % 50,3
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
III.1. KESIMPULAN
Dari hasil pengamatan yang telah di lakukan secara team,dan berdasarkan hasil temuan -
temuan yang di dapat di lapangan, maka dapat diambil kesimpulan bahwa:
1. Dari hasil pengukuran dilapangan mengenai nilai penerangan, suhu, kelembaban udara dan
kebisingan ditemukan dalam kondisi normal kecuali untuk penerangan ruang kerja masih
dibawah standart (> 250 lux)dan atau tergantung pada spesifikasi ruangan.
2. Pengukuran tahanan pembumian tidak dapat di ukur karena box kontrol tidak ditemukan.

III.2. SARAN
Adapun saran yang bisa disampaikan adalah sebagai berikut :
1. Agar dioperasikan oleh orang yang mengerti tentang tekniksi kelistrikan yang sudah
mempunyai sertifikat dari Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi
2. Apabila terjadi perubahan instalasi agar dilaporkan ke pihak instansi yang berwenang
dalam hal ini Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provensi Kota Istimewa
Yogyakarta

Mengetahui Disaksikan Oleh

PT. Centra Gama Indovision Supervisor

Sukmanjaya Ir. Bledug Kusuma P.,MT


AHLI AK 3 LISTRIK

No Nama Tanda Tangan

1
.
2

.
. .