Anda di halaman 1dari 23

MAKALAH PERADABAN DAN PEMIKIRAN ISLAM

MASA POSTMODERN

Drs Slamet Abdullah ,M.A

PERADABAN DAN PEMIKIRAN ISLAM

KELOMPOK 8

Hikmatul Husna Dian Kharisma 14513143

Margita Rahayu Abay 14513144

Hermina Intan Bestari 14513146

TEKNIK LINGKUNGAN

FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN

UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA


KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah swt. yang telah memberikan kekuatan
dan keteguhan hati kepada kami untuk menyelesaikan makalah ini. Sholawat beserta salam
semoga senantiasa tercurah limpahan kepada Nabi Muhammad saw. yang menjadi tauladan
para umat manusia yang merindukan keindahan syurga.
Kami menulis makalah ini bertujuan untuk mempelajari dan mengetahui ilmu
tentang Peradaban dan pemikiran islam pada masa postmodern. Alhamdulillah akhirnya
kami berhasil menyelesaikan makalah peradaban dan pemikiran islam yang berjudul
Postmodern. meskipun terdapat banyak kendala namun hal itu menambah semangat kami
untuk menyelesaikannya.
Dalam makalah ini dijelaskan mengenai sejarah pemikiran pada masa postmodern,
perubahan-perubahan yang didapat,dan contohnya. Oleh karena itu, kami berharap makalah
ini bisa menjadikan ilmu dan manfaat bagi kita semua. Memang dalam penyusunan makalah
ini belum sempurna masih terdapat banyak kekurangan maka dari itu kami mohon maaf bila
terdapat kesalahan,semoga makalah ini dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya dan
digunakan di masa yang akan datang.

Yogyakarta, Mei 2016


DAFTAR ISI

Kata pengantar....................................................................................................................

Daftar isi ............................................................................................................................

Bab I Pendahuluan

A. Latar belakang .......................................................................................................


B. Rumusan masalah ..................................................................................................
C. Tujuan

Bab II peembahasan
A. Biografi Umar bin Abdul Aziz ................................................................................
B. Kebijakan dan Keteladanan Umar Bin Abdul Aziz ................................................
C. Kebijakan Politik dan Ekonomi Umar Bin Abdul Aziz ..........................................
D. Umar Bin Abdul Aziz Pemimpin Amanah ..............................................................

Bab III penutup

Kesimpulan..........................................................................................................................

Daftar pusataka....................................................................................................................
BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Dunia saat ini sedang bergejolak, khususnya dalam bidang filsafat, ilmu, seni dan
kebudayaan. Manusia merasa tidak puas dan tidak dapat bertahan dengan
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, kapitalisme, serta cara berpikir
modern. Modernismedianggap sudah usang dan harus diganti dengan paradigma baru
yaitu postmodernisme. Postmodernisme adalah suatu pergerakan ide yang
menggantikan ide-ide zaman modern(yang mengutamakan rasio, objektivitas, dan
kemajuan). Postmodern ingin memiliki cita-cita, ingin meningkatkan kondisi ekonomi
dan sosial, kesadaran akan peristiwa sejarah dan perkembangan dalam bidang
penyiaran. Postmodern mengkritik modernisme yangdianggap telah menyebabkan
desentralisasi di bidang ekonomi dan teknologi, apalagi hal ini ditambah dengan
pengaruh globalisasi. Selain itu, postmodern menganggap media yang ada saat ini
hanya berkutat pada masalah yang sama dan saling meniru satu samalain.

Perjalanan sejarah umat manusia telah memasuki zaman Postmodern. Namun


demikian nampaknya belum ada kesepakatan tentang konsep Postmodern tersebut.
Dalam studi Postmodernisme mengisyaratkan adanya dua
hal. Pertama, Postmodernisme dipandang sebagai keadaan sejarah setelah zaman
Modern. Dalam pengertian ini era modern telah dianggap berakhir dan dilanjutkan
dengan zaman berikutnya, yaitu Postmodern. Kedua, Postmodernisme dianggap
sebagai gerakan intelektual yang mengkritik dan mendekonstruksi paradigma
pemikiran pada zaman modern.

Sebagaimana diketahui bahwa modernisme yang sangat mengagungkan kekuatan


rasionalitas, mengusung pandangan hidup saintifik, sekularisme, rasionalisme,
empirisisme, cara befikir dikotomis, pragamatisme, penafian kebenaran metafisis
meskipun telah menghasilkan berbagai sains modern dan teknologi akan tetapi telah
menyisakan problem serius, yakni membawa manusia pada absolutisme, alienasi serta
cenderung represif. Oleh karenanya Postmodern muncul sebagai gugatan
atas worldview zaman modern yang bersifat absolut dan represif ini. Postmodern
membawa dan mewacanakan Pluralisme, relativisme dan penolakan terhadap
kebenaran tunggal seperti yang terjadi di zaman modern.
B. Rumusan Masalah

1. Jelaskan pengertian Post-modernisme dan sejarah munculnya ?

2. Bagaimanakah ciri-ciri era Post-modernisme ?

3. Bagamanakah sejarah Post-modernisme dalam Islam serta aspek-aspek


peradabannya?

4. Siapakah Tokoh Post-modernisme dalam islam beserta pemikirannya ?

C. Tujuan

1. Untuk mengetahui pengertian postmodernisme

2. Untuk mengetahui ciri-ciri dari periode postmodernisme

3. Untuk mengetahui sejarah peradaban pada masa postmodernisme

4. Untuk mengetahui tokoh-tokoh yang ada pada periode postmodernisme


BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Postmodernisme
Banyak faktor yang berpengaruh terhadap timbulnya postmodernisme. Pada
umumnya yang dianggap sebagai titik tolak lahirnya postmodernisme adalah filsafat
Nietzschean, seperti penolakannya terhadap absolutisme filsafat Barat dan sistem pemikiran
tunggal. Menurut Sarup (2003: 231-232) postmodernisme adalah gerakan kultural yang
semula terjadi di masyarakat Barat tetapi telah menyebar ke seluruh dunia, khususnya
dalam bidang seni. Beberapa masalah pokok yang dikaitkan dengan postmodernisme dalam
bidang seni, antara lain hilangnya batas-batas sekaligus hierarki antara budaya populer
dengan budaya elite, budaya massa dengan budaya tinggi. Dalam karya sastra, misalnya,
hilangnya batas-batas yang tegas antara seniman sebagai pencipta dengan pembaca
sebagai penerima, bahkan pengarang dianggap sebagai anonimitas.

Dalam karya seni juga terjadi pergeseran dari keseriusan, dari kedalaman ke
permukaan, ke permainan sehingga terjadi ironi, parodi, interteks, dan pastiche. Secara
umum, postmodernisme merupakan hasil gerakan mahasiswa 1968. Oleh karena kekuatan
negara tidak dapat dihancurkan, maka postmodernisme mencoba menemukan jalan melalui
struktur bahasa, melalui kekuatan wacana. Struktur bahasa dan dengan demikian struktur
teks menjadi model, semua disiplin dianggap sebagai tulisan, sebagai teks dan wacana,
sehingga pemecahannya pun dapat dilakukan secara tekstual. Sasarannya adalah semua
sistem pemikiran total, khususnya organisasi politik yang didasarkan atas struktur
masyarakat secara keseluruhan.

Pada awalnya estetika merupakan studi tentang keindahan, baik dalam karya seni
maupun keindahan alam pada umumnya. Atas dasar pengaruh Plato, sebagian para filsuf
memandang keindahan sebagai kualitas intrinsik yang terkandung dalam objek. Berbeda
dengan pendapat tersebut, pendekatan semiotika, khususnya periode postmodern lebih
banyak memberikan perhatian pada tanda-tanda, sebagai estetika semiotis, dengan
pertimbangan bahwa kualitas estetis bersumber dari dan dihasilkan melalui pemahaman
terhadap sistem tanda. Menurut Noth (1990: 421-428), dengan mempertimbangkan
keterlibatan filsuf Jerman, Baumgarten dan Lambert, mereka menggunakan istilah estetika
dan semiotika pada abad ke-18, secara historis semiotika dan estetika memiliki asal-usul
yang hampir sama. Apabila teori-teori tradisional mengenai seni cenderung didasarkan atas
dua prinsip yang berbeda, bahkan bertentangan, yaitu karya seni sebagai
tiruan (mimesis) dan karya seni sebagai karya seni (Iart pour Iart), semiotika estetis
didasarkan atas prinsip semantis dan pragmatis. Estetika semantik dicirikan oleh karya seni
sebagai memiliki tipe-tipe tanda tertentu dengan mode referensi tertentu juga, sedangkan
estetika pragmatis dicirikan melalui hakikat dan kemampuan karya seni sebagai komunikasi.
Kualitas estetis dapat dipahami semata-mata melalui tanda, sebagai system
komunikasi. Dalam sastralah, sebagai bahasa model kedua, sebagai teks, sistem tanda
tersebut dieksploitasi secara maksimal. Dengan kalimat lain, teks sastra secara keseluruhan
merupakan sistem tanda dan demikian juga sebagai sistem komunikasi. Kualitas estetis
jelas paling banyak ditunjukkan dalam stilistika dan gaya bahasa pada umumnya.dalam hal
ini genre puisilah yang paling banyak berperan.

Menurut Pauline Rosenau (1992) postmodernisme merupakan kritik atas masyarakat


modern dan kegagalannya memenuhi janji-janjinya. Juga postmodern cenderung mengkritik
segala sesuatu yang diasosiasikan dengan modernitas, yaitu pada akumulasi pengalaman
peradaban Barat adalah industrialisasi, urbanisasi, kemajuan teknologi, negara bangsa,
kehidupan dalam jalur cepat. Namun mereka meragukan prioritas-prioritas modern seperti
karier, jabatan, tanggung jawab personal, birokrasi, demokrasi liberal, toleransi, humanisme,
egalitarianisme, penelitian objektif, kriteria evaluasi, prosedur netral, peraturan impersonal
dan rasionalitas. teoritisi postmodern cenderung menolak apa yang biasanya dikenal
dengan pandangan dunia (world view), metanarasi, totalitas, dan sebagainya.

Dalam bukunya Mengenal Posmodernisme : for begginers, Appignanesi, Garrat,


Sardar, dan Curry (1998) mengatakan bahwa postmodernisme menyiratkan pengingkaran,
bahwa ia bukan modern lagi. Postmodernisme, pada hakikatnya, merupakan campuran dari
beberapa atau seluruh pemaknaan hasil, akibat, perkembangan, penyangkalan, dan
penolakan dari modernisme Postmodernisme adalah kebingungan yang berasal dari dua
teka-teki besar, yaitu:

Ia melawan dan mengaburkan pengertian postmodernisme Ia menyiratkan


pengetahuan yang lengkap tentang modernisme yang telah dilampaui oleh zaman baru.
Sebuah zaman, zaman apapun, dicirikan lewat bukti perubahan sejarah dalam cara kita
melihat, berpikir, dan berbuat. Kita dapat mengenali perubahan ini pada lingkup seni, teori,
dan sejarah ekonomi.

B. Sejarah Postmodernisme

Postmodernisme berasal dari kata post dan modern. Post atau

pascasecara literal mengandung arti sesudah, jadi istilah Postmodernisme berarti


era Postmodernisme itu sendiri, belum ada rumusan yang baku sampai saat ini,
karena Postmodernisme sebagai wacana pemikiran masih terus berkembang
sebagai reaksi melawan modernisme yang muncul sejak akhir abad 19.
Istilah Postmodernisme digunakan dalam berbagai arti, dan tidak mudah
untuk membuat dan merumuskan satu definisi yang dapat mencakup atau
menjangkau semua dimensi arti yang dikandungnya. Istilah postmodernsme
pertama kali muncul sebelum tahun 1926, yakni tahun 1870 an oleh seniman Inggris
bernama John Watkins. Ada juga yang menyatakan bahwa istilah Postmodernisme
telah dibuat pada akhir tahun 1940 oleh sejarawan Inggris, Arnold Toynbee. Akan
tetapi istilah tersebut baru digunakan pada pertengahan 1970 oleh kritikus seni asal
Amerika, Charles Jenck untuk menjelaskan gerakan anti modernism.

Istilah postmdernisme pertama-tama dipakai dalam seni arsitektur.


Diantara ciri utama arsitektur modern adalah gedung-gedung tinggi menjulang yang
sangat teratur tanpa banyak variasi. Dari seni arsitektur, istilah Postmodernisme
dipakai juga untuk bidang teori sastra, teori sosial, gaya hidup, filsafat, bahkan juga
agama.

Dalam kajian Postmodernisme mengisyaratkan pada dua hal. Pertama.


Postmodernisme dipandang sebagai keadaan sejarah setelah zaman modern. Dalam hal ini
modernisme dipandang telah mengalami proses akhir yang akan digantikan dengan zaman
berikutnya, yaitu postmodern. Kedua. Postmodern dianggap sebagai gerakan intelektual
(intellectual movmen) yang mencoba menggugat, bahkan mendekonstruksi pemikiran
sebelumnya yang berkembang dalam bingkai paradigma pemikiran modern dengan pilar
utamanya kekuatan rasionalitas manusia, hal ini ingin digugat karena telah menjebak manusia
kepada absolutisme dan cenderung represif yang keduanya akan kami bahas dalam bab-bab
selanjutnya. Adapun inti pokok alur pemikiran Postmodernisme adalah menentang
segala hal yang berbau kemutlakan, baku, menolak dan menghindari suatu
sistematika uraian atau pemecahan persoalan yang sederhana dan skematis, serta
memanfaatkan nilai-nilai yang berasal dari berbagai aneka ragam sumber.

C. Konsep dan Ciri-ciri di Era Postmodernisme

Menurut Amin Abdullah, ciri-ciri Post modernisme terbagi ke dalam dua

bentuk. Pertama, Post-modernisme sebagai mode pemikiran dan Kedua, sebagai


periode kesejarahan.
1) Post-modernisme sebagai mode pemikiran

A. Dekonstruktifisme

Era Postmodernisme ingin melihat suatu fenomena social, fenomena

keberagamaan, realitas fisika apa adanya, tanpa harus terkurung oleh anggapan
dasar atau teori baku dan standar yang diciptakan pada masa modernisme. Maka
konstruksi bangunan atau bangunan keilmuan yang telah dibangun susah payah
oleh generasi modernisme ingin diubah, diperbaiki, dan disempurnakan oleh para
pemikir postmodernis. dalam istilah Amin Abdullah dikenal dengan
deconstructionism yakni upaya mempertanyakan ulang teori-teori yang sudah
mapan yang telah dibangun oleh pola pikir modernisme, untuk kemudian dicari dan
disusun teori yang lebih relevan dalam memahami kenyataan masyarakat, realitas
keberagamaan, dan realitas alam yang berkembang saat ini.[6]

B. Relativisme

Dari sinilah nampak jelas, bahwa para pemikir Postmodernisme menganggap

bahwa segala sesuatu itu sifatnya relative dan tidak boleh absolut, karna harus
mempertimbangkan situasi dan kondisi yang ada. Namun konsepsi relativisme ini
ditentang oleh Seyyed Hoessein Nasr, seorang pemikir kontempor. Baginya tidak
ada relativisme yang absolut lantaran hal itu akan menghilangkan normativitas
ajaran agama. Tetapi juga tidak ada pengertian absolut yang benar-benar absolut,
selagi nilai-nilai yang absolute itu dikurung oleh historisitas keanusiaan itu sendiri.

C. Pluralisme

Akumulasi dari ciri pemikiran Postmodernisme yaitu pluralisme. Era

pluralisme sebenarnya sudah diketahui oleh banyak bangsa sejak dahulu kala,
namun gambaran era pluralisme saat itu belum dipahami sepeti era sekarang,Hasil
teknologi modern dalam bidang transportasi dan komunikasi menjadikan era
pluralisme budaya dan agam telah semakin dihayati dan dipahami oleh banyak
orang dimanapun mereka berada. Adanya pluralitas budaya, agama, keluarga, ras,
ekonomi, social, suku, pendidikan, ilmu pengetahuan, militer, bangsa, negara, dan
politik merupakan sebuah realitas.

2) Post-modernisme sebagai periode kesejarahan

Merujuk Akbar S. Ahmed, dalam bukunya Postmodernism and Islam


(1994), terdapat delapan ciri karakter sosiologis postmodernisme :

Pertama, timbulnya pemberontakan secara kritis terhadap proyek modernitas,


memudarnya kepercayaan pada agama yang bersifat transenden dan semakin
diterimanya pandangan pluralisme-relativisme kebenaran.

Kedua, meledaknya industri media massa, sehingga ia seolah merupakan


perpanjangan dari system indera, organ dan syaraf manusia. Kondisi ini pada
gilirannya menjadikan dunia dan ruang realitas kehidupan terasa menyempit. Lebih
dari itu, kekuatan media massa telah menjelma menjadi Agama dan Tuhan baru
yang menentukan kebenaran dan kesalahan perilaku manusia.

Ketiga, munculnya radikalisme etnis dan keagamaan. Fenomena ini muncul sebagai
reaksi manakala orang semakin meragukan kebenaran ilmu, teknologi dan filsafat
modern yang dinilai gagal memenuhi janji emansipatoris untuk membebaskan
manusia dan menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Keempat, munculnya kecenderungan baru untuk menemukan identitas dan


apresiasi serta keterikatan romantisme dengan masa lampau.

Kelima, semakin menguatnya wilayah perkotaan (urban area) sebagai pusat


kebudayaan dan sebaliknya, wilayah pedesaan (rural area) sebagai daerah
pinggiran. Pola ini juga berlaku bagi menguatnya dominasi negara maju (Negara
Dunia Pertama) atas negara berkembang (Negara Dunia Ketiga).

Keenam, semakin terbukanya peluang bagi berbagai kelas sosial atau kelompok
minoritas untuk mengemukakan pendapat secara lebih bebas dan terbuka. Dengan
kata lain, era postmodernisme telah turut mendorong proses demokratisasi.
Ketujuh, munculnya kecenderungan bagi tumbuhnya ekletisisme dan
pencampuradukan berbagai diskursus, nilai, keyakinan dan potret serpihan realitas,
sehingga sekarang sulit untuk menempatkan suatu objek budaya secara ketat pada
kelompok budaya tertentu secara eksklusif.

Kedelapan, bahasa yang digunakan dalam diskursus postmodernisme seringkali


mengesankan tidak lagi memiliki kejelasan makna dan konsistensi, sehingga bersifat
paradoks.

D. Sejarah Post-modernisme Dalam Islam

Bagi umat Islam, modernisme adalah salah satu fase sejarah yang ditandai

dengan maraknya aktivitas mulai dari maraknya pemikiran Islam hingga tindakan
politik, dari arsitektur hingga mode berpakaian. Fase modernis Muslim pada
dasarnya banyak dipengaruhi oleh kolonialisme Eropa, sehingga dalam beberapa
hal umat Islam banyak unsure kesamaannya dengan Negara Eropa. Oleh Karena itu
jika fase modern berarti mengejar pendidikan Barat, tekhnologi dan industrialisai
pada fase pertama periode pasca colonial, maka postmodern bias diartikan sebagai
upaya kembali kepada nilai-nilai tradisional Muslim dan menolak modernisme yang
nantinya akan mebangkitkan rospon kaum muslim dalam segala bidang, termasuk
politik, arsitektur, serta mode pakaian. Oleh karena itu Postmodernisme dalam dunia
islam mempunyai arti peralihan menuju identitas Islam yang sejati yang
bertentangan dengan identitas Barat.

Berbagai respon diberikan masyarakat muslim terhadap postmodernisme ini.


Jika Postmodernisme dipandang semata-mata sebagai bentuk respon dan jawaban
terhadap kekurangan-kekurangan dan kelemahan modernisme, maka kita dapat
melihat kembali bentuk-bentuk respon masyarakat muslim terhadap modernisme.
Karena baik disadari atau tidak, respon masyarakat terhadap modernisme
sebenarnya merupakan refleksi, apresiasi dan respon masyarakat muslim terhadap
munculnya postmodernisme.

Di antara respon masyarakat muslim tersebut adalah:


a. Ada yang mengingkari seluruh nilai-nilai modernitas dan melihatnya sebagai
akar penyebab munculnya problem modern

b. Ada yang melihatnya sebagai sebuah berkah

c. Ada yang melakukan kritik dan memodifikasi modernisme

Sikap-sikap seperti ini ada pada masyarakat muslim pascamodern atau postmodern.
Maka logika dialektikanya, bahwa respon masyarakat muslim terhadap
postmodernisme adalah:

a. Ada yang menerima secara utuh postmodernisme dalam Islam sebagai


jawaban terhadap problem-problem modern

b. Ada yang masih terkagum-kagum terhadap modernisme sehingga tidak peduli


dengan wacana postmodernisme.

c. Mayoritas di antara umat muslim tetap dalam bentuknya yang tradisional

d. Yang paling banyak di antara mereka adalah tidak tahu wacana


postmodernisme sama sekali sehingga tidak memberikan respon apa-apa,
kendatipun kadang-kadang tanpa disadari pola pemikira maupun tindakan mereka
mengarah pada pola post-modernisme

E. Aspek-aspek Peradaban Postmodernisme dalam Islam

1) Dalam bidang Pendidikan


Ditandai dengan adanya pergeseran paradigma dalam memandang ilmu
pengetahuan, dari pemisahan keilmuan agama dengan keilmuan umum kepada
paradigma integralistik, yaitu penyatuan antara dua kelompok besar ilmu tersebut.
Hal ini karena dinilai bahwa pemisahan antar keduanya telah menyebabkan pada
kehidupan yang tidak seimbang. Mereka yang mengenyam pendidikan umum akan
terasa jauh dari agama sehingga merasa kekeringan spiritualitasnya. Pergeseran
nilai juga terjadi akibat berkembang pesatnya ilmu dan tehnologi yang tidak
berwawasan manusiawi. Pemaknaan hiduppun menjadi tidak lagi pengabdian suci
untuk menata kehidupan berkebudayaan secara harmonis, melainkan sudah
mengukuhkan suatu tatanan hukum rimba. Nilai-nilai cinta kasih telah bergeser pada
individualistik.

2) Dalam Bidang Teknologi Informasi

Sebagaimana dinyatakan Akbar S. Ahmad, bahwa ciri sosiologis peradaban


postmodernisme adalah dengan mendominasinya media massa. Dalam realitas
kehidupan, hal ini bisa dilihat dengan sangat nyata. Dalam kehidupan muslim, hal ini
dapat dilihat seperti semakin luasnya media dakwah. Dakwah tidak lagi hanya
dengan pengajian-pengajian akan tetapi melalui telavisi, radio, internet, telephone
celluler, majalah, buku, dan berbagai media baik elektronik maupun cetak yang lain.
Bagaimana pentingnya media massa ini juga telah turut mengilhami umat Muslim
untuk mendirika stasiun televisi maupun radio, memiliki penerbitan dan percetakan.
Hal ini terlihat dengan mulai munculnya stasiun televisi maupun radio yang Islam
oriented. Pada umumnya ini didirikan oleh lembaga-lembaga pendidikan.

Demikianlah karakteristik masyarakat postmodern, sebagaimana dinyatakan


Jalaluddin Rahmat bahwa masyarakan yang akan datang adalah masyarakat yang
ditandai dengan dominasi teknologi komunikasi. Sebagaimana alam pada zaman
pertanian, modal pada zaman industri, maka informasi adalah kekayaan dan
kekuasaan pada zaman pascamoderndalam masyarakat.[12]

3) Dalam bidang Arsitektur

Dinyatakan oleh Andy Siswanto, bahwa kecenderungan arsitektur postmodernisme


adalah bersifat naratif, simbolisme dan fantasi. Masa lalu bisa ditulis kembali
sebagai fiksi. Ide regionalisme berkembang pada zaman postmodernisme, terlebih di
dunia ketiga seperti Indonesia. Konsep ini sering diromantisir dan dipolitisir dalam
semangat nasionalisme. Bahkan bisa dipadukan dalam kerangka eksotisme atau
orientalisme. Pandangan ide ini adalah bahwa arsitektur tradisional, baik yang
adiluhung maupun yang merakyat dipercaya mampu merepresentasikan sosok
arsitektur yang sudah terbukti ideal: sebuah harmoni yang lengkap dari bentuk jadi,
budaya, tempat dan iklim. Oleh karenanya, misi gerakan ini adalah mengembalikan
kelangsungan rangkaian arsitektur masa kini dengan kekhasan arsitektur masa
lampau yang ada pada suatu wilayah budaya tertentu dengan mencoba
mengimbangi perusakan budaya setempat oleh kombinasi kekuatan sistem produksi
baik rasionalisasi, birokrasi, pengembangan skala besar maupun oleh gaya
internasional.

4) Dalam bidang Seni Islam

Tradisi yang secara sadar mengikat spritualitas dengan seni terus berjalan di
kalangan muslim. Seni bertindak sebagai jembatan yang membawa inspirasi, trend,
gaya dan ide-ide di antara kultur Islam. Selama beberapa periode di negara-negara
muslim seni dihambat dan sulit mencari pelindung. Karena itu, ekspresi seni di
negara MuslIm diaprisiasi secara steril. Bakat-bakat seni muslim kontemporer telah
menemukan ekspresinya. Salah satu buktinya bayaknya seni film yang disutradari
oleh seniman muslim, antara lain kontribusi muslim dalam sinema India yang
memiliki industri perfilman terbesar di dunia.

E. Tokoh Postmodernisme Dalam Islam

1. Pemikiran Hasan Hanafi

Hasan Hanafi kecil hidup di lingkungan yang di jajah oleh bangsa asing.
Kenyataan ini membangkitkan sikap patriotik dan nasionalismenya.
Karena sikapnya inilah ia ahirnya memberanikan diri mendaftar sebagai
sukarelawan perang melawan Israel pada tahun 1948 ketika usianya baru
mencapai 13 tahun. Tetapi ia ditolak oleh pemuda Muslimin karena
mereka menganggap hanafi masih terlalu muda. Ia merasa kecewa dan
menganggap bahwa mesir saat itu sedang terjadi problem persatuan dan
perpecahan.

Hasan hanafi mempunyai banyak sekali pemikiran dalam dunia islam. Ada hasil
pemikiran beliau dalam hal politik yang sangat terkenal yaitu Kiri Islam dan dalam
bidang tafsir karyanya adalah Hermeneutika Al-quran. Ada juga tentang
oksidentalisme. Disini akan coba di jelaskn beberapa inti pemikiran dari Hasan
Hanafi.
Buku karya Hasan Hanafi yang disusunnya selama 10 tahun ini terdiri dari lima
volume. Volume pertama terfokus pada premis-premis teoritis (al-muqaddimah an-
nazhariyyah), volume ke 2 membahas tntang ketauhidan (at-tauhid), volume ketiga
membahas tentang keadialn (al-adl), volume keempat mendiskusikan tentang
kenabian (an-nubuwwah al-muad) dan volume yang terakhir berbicara tentang amal,
keimanan dan imamah. Pada kelima karya nya hanya pada volume pertamalah ia
mampu menuangkan ide-ide pemikiran yang sangat cemerlang yang diberi nama at-
turats wa at-Tajdid ini berbicara tentang tradisi barat.[7]
Hasan Hanafi dalam karyanya yang berjudul at-turats wa at-Tajdid dirumuskan
kedalam 3 bagian yang saling berhubungan. Pertama adalah rekonstruksi tradisi
Islam dengan melakukan interpretasi kritis dan kritik historis yang mencerminkan
apresiasi terhadap hasanah klasik. Kedua rekonstruksi ulang terhadap batas-batas
kultural Barat melalui pendekatan kritis yang tercermin dalam sikap kita terhadap
barat. Yang ketiga adalah upaya membangun sebuah teoriinterpretasi al-Quran yang
mencakup dimensi kebudayaan dari agama dalam skla global yang memposisikan
islam sebagai fondasi ideologis bagi kemanusiaan (sikap kita terhadap realitas).

1. C. Kiri Islam hasan Hanafi

1. Pengertian Kiri Islam


Makna kata kiri disini adalah nama ilmiah, sebuah istilah ilmu politik yang berarti
resistensi dan kritisisme dan menjelaskan jarak anatara realitas dan idealitas. Ia juga
istilah ilmu-ilmu kemanusiaan secara umum. Kata Kiri Islam sendiri muncul secara
spontan. Penamaan itu pun setelah meliahat realitas yang berkembang dalam
masyarakat khususnya umat islam yang kehidupannya terkotak-kotak seperti antara
penguasa dan rakyat, kaya dengan yang miskin, atasan dengan bawahan, dll. Kiri
Islam berada pada posisi yang dikuasai, si miskin, terpinggirkan. Kiri Islam berada
[18]

pada pihak yang terkotak-kotak di bawah, mengambil hak-hak kaum miskin yang
terenggut oleh orang-orang kaya, memperkuat orang-orang yang lemah menjadi
umat yang super, menjadikan manusia tidak hidup terkotak-kotak menjadikan
manusia sama tingginya. Dalam bahasa ilmu politik, kiri berarti perjuangan dan
kritisisme.
1. Isi Pemikiran Kiri Islam
Kiri islam bertopang pada tiga pilar dalam rangka mewujudkan kebangkitan islam,
revolusi islam (revolusi tauhid), dan kesatuan umat.[19]
1. Revitalisasi khazanah islam klasik. Hasan hanafi menekankan bahwa perlunya
rasionalisme untuk revitalisasi khazanah islam. Rasionalisme adalah keniscayaan untuk
kemajuan dan kesejahteraan muslim serta untuk memecahkan situasi kekinian di dalam
dunia islam.
2. Perlunya menantang peradaban Barat. Ia mengingatkan tentang bahayanya imperalisme
kultural barat yang cenderung membasmi kebudayaan bangsa-bangsa yang secara
kesejahteraan kaya.
3. Analisis terhadap realitas dunia Islam. Ia mengkritik metode tradisional yang bertumpu
pada teks (nash), dan mengusulkan suatu metode tertentu agar realitas dunia Islam dapat
berbicara pada dirinya sendiri.
Karya tulis hasan hanafi tentang kiri Islam ini di buat oleh beliau sekitar sepuluh
tahun dalam lima jilid dan terbit pada tahun 1988 dan karya ini disebut-sebut sebagai
karya yang paling fenumental dalam sejarah karyanya. Kiri islam bukan hanya
bentuk respon hasan hanafi atas revolusi Islam di Iran. Dalam karyanya yang lain
yang menggambarkan pula tentang pemikirannya tentang Agama dan
Pembebasan mngkin kita mengkaji Teologi pembebasan. Disini Hanafi tidak hanya
mengeluarkan tentang isu-isu revolusioner tentang dunia Arab-Islam tetapi juga
berkaitan dengan Teologi Pembahasan.[20]

1. PEMIKIRAN HASSAN HANAFI


Pemikiran Hanafi, menurut Isaa J. Boulatta dalam Trends and lssues in Contemporary Arabs
Thought bertumpu pada tiga landasan, yaitu tradisi atau sejarah Islam, metode fenomenologi, dan
analisis sosial marxian.[12] Dengan demikian dapat dipahami bahwa gagasan semacam Kiri Islam
dapat disebut sebagai pengetahuan yang terbentuk atas dasar watak sosial masyarakat (socially
contructed) berkelas yang merupakan ciri khas tradisi Marxian.
a. Kritik Terhadap Teologi Tradisional

Dalam gagasannya tentang rekonstruksi teologi tradisional, Hanafi menegaskan perlunya mengubah
orientasi perangkat konseptual sistem kepercayaan (teologi) sesuai dengan perubahan konteks
sosial-politik yang terjadi. Teologi tradisional, kata Hanafi, lahir dalam konteks sejarah ketika inti
keislaman sistem kepercayaan, yakni transendensi Tuhan, diserang oleh wakil-wakil dari sekte-sekte
dan budaya lama. Teologi itu dimaksudkan untuk mempertahankan doktrin utama dan untuk
memelihara kemurniannya. Dialektika berasal dari dialog dan mengandung pengertian saling
menolak; hanya merupakan dialektika kata-kata, bukan dialektika konsep-konsep tentang sifat
masyarakat atau tentang sejarah.[13]
Sementara itu konteks sosio-politik sekarang sudah berubah. Islam mengalami berbagai kekalahan di
berbagai medan pertempuran sepanjang periode kolonisasi. Karena itu, lanjut Hanafi, kerangka
konseptual lama masa-masa permulaan, yang berasal dari kebudayaan klasik harus diubah menjadi
kerangka konseptual baru, yang berasal dari kebudayaan modern.[14]
Teologi merupakan refleksi dari wahyu yang memanfaatkan kosakata zamannya dan didorong oleh
kebutuhan dan tujuan masyarakat; apakah kebutuhan dan tujuan itu merupakan keinginan obyektif
atau semata-mata.manusiawi, atau barangkali hanya merupakan cita-cita dan nilai atau pernyataan
egoisme murni. Dalam konteks ini, teologi merupakan basil proyeksi kebutuhan dan tujuan
masyarakat manusia ke dalam teks-teks kitab suci. Ia.menegaskan, tidak ada arti-arti yang betul-betul
berdiri sendiri untuk setiap ayat Kitab Suci. Sejarah teologi, kata Hanafi, adalah sejarah proyeksi
keinginan manusia ke dalam Kitab Suci itu. Setiap ahli teologi atau. penafsir melihat dalam Kitab Suci
itu sesuatu yang ingin mereka lihat. Ini menunjukkan bagaimana manusia menggantungkan
kebutuhan dan tujuannya pada naskah-naskah itu.

Hanafi ingin meletakan teologi tradisional Islam pada tempat yang sebenarnya, yakni bukan pada
ilmu ketuhanan yang suci yang tidak boleh dipersoalkan lagi dan harus diterima begitu saja. Namun
teologi adalah ilmu kemanusiyaan yang terbuka untuk diadakan verifikasi dan falsifikasi baik secara
historis untuk kontekstualisasi ajaran Islam. Pemikiran ini juga tidak jauh berbeda dengan teolgi
pembebasan yang terjadi di Kristen.

Secara praksis, teologi tradisional menurut hasan Hanafi gagal menjadi idiologi yang fugsional bagi
kehidupan nyata masyarakat muslim dikarenakan oleh para sikap teolog yang tidak mengaitkan
teologi dengan kesadaan murni dan nilai-nilai perbuatan manusia. Teologi dapat berperan sebagai
suatu ideologi pembebasan bagi yang tertindas atau sebagai suatu pembenaran penjajahan oleh
para penindas. Teologi memberikan fungsi legitimatif bagi setiap perjuangan kepentingan dari
masing-masing lapisan masyarakat yang berbeda. Karena itu, Hanafi menyimpulkan bahwa tidak ada
kebenaran obyektif atau arti yang berdiri sendiri, terlepas dari keinginan manusiawi. Kebenaran
teologi, dengan demikian, adalah kebenaran korelasional atau, dalam bahasa Hanafi, persesuaian
antara arti naskah asli yang berdiri sendiri dengan kenyataan obyektif yang selalu berupa nilai-nilai
manusiawi yang universal. Sehingga suatu penafsiran bisa bersifat obyektif, bisa membaca
kebenaran obyektif yang sama pada setiap ruang dan waktu.

Hanafi menegaskan bahwa rekonstruksi teologi tidak harus membawa implikasi hilangnya tradisi-
tradisi lama. Rekonstruksi teologi untuk mengkonfrontasikan ancaman-ancaman baru yang datang ke
dunia dengan menggunakan konsep yang terpelihara murni dalam sejarah. Tradisi yang terpelihara
itu menentukan lebih banyak lagi pengaktifan untuk dituangkan dalam realitas duniawi yang
sekarang. Dialektika harus dilakukan dalam bentuk tindakan-tindakan, bukan hanya terdiri atas
konsep-konsep dan argumen-argumen antara individu-individu, melainkan dialektika berbagai
masyarakat dan bangsa di antara kepentingan-kepentingan yang bertentangan.[15]
Rekonstruksi itu bertujuan untuk mendapatkan keberhasilan duniawi dengan memenuhi harapan-
harapan dunia muslim terhadap kemendekaan, kebebasan, kesamaan sosial, penyatuan kembali
identitas, kemajuan dan mobilisasi massa.[16] Teologi baru itu harus mengarahkan sasarannya pada
manusia sebagai tujuan perkataan (kalam) dan sebagai analisis percakapan. Karena itu pula harus
tersusun secara kemanusiaan.[17]
Asumsi dasar dari pandangan teologi semacam ini adalah bahwa Islam, dalam pandangan Hanafi,
adalah protes, oposisi dan revolusi.[18] Baginya, Islam memiliki makna ganda. Pertama, Islam
sebagai ketundukan; yang diberlakukan oleh kekuatan politik kelas atas. Kedua, Islam sebagai
revolusi, yang diberlakukan oleh mayoritas yang tidak berkuasa dan kelas orang miskin. Jika untuk
mempertahankan status-quo suatu rezim politik, Islam ditafsirkan sebagai tunduk. Sedang jika untuk
memulai suatu perubahan sosial politik melawan status-quo, maka harus menafsirkan Islam sebagai
pergolakan.[19]
Melihat kegagalan teologi tradisional, Hanafi mewacanakan rekonstruksi teologi Islam agar teologi
Islama benar-benar menjadi Ilmu yang bermanfaat bagi manusia dan umat masa kini. Yaitu dengan
melakukan rekonstruksi dan revisi , serta membangun kembali epistimologi lama menju epistimologi
yang baru. Tujuan pokok dari rekonstruksi teologi adalah agar menjadikan teologi agama tidak
sekedar dogma-dogma yang kosong, melainkan menjelma sebagai ilmu tentang perjuagan sosial,
yang menjadikan keimanan-keimanan tradisional memiliki fungsi secara aktua sebagai landasan etnik
dan motivasi bagi manusia.

Menurut Hasan Hanafi, untuk melakukan rekonstruksi teologi sekurang kurangnya dilatar belakangi
oleh tiga hal, sebagai berikut:

1. Pertama, kebutuhan akan adanya sebuah idiologi yang jelas di tengah-tengah pertarungan global
antara berbagai Idiologi.

2. Kedua, pentingnya teologi baru ini bukan semata pada sisi teoritisnya, melainkan juga terletak
kepada kepentingan praktis untuk secara nyata mewujudkan idiologi sebagai gerakan dalam sejarah,
salah satu kepentingan praksis idiologi Islam (dalam teologi) adalah memecahkan kemiskinan dan
keterbelakangan di negara-negara muslim.
3. Ketiga, kepentingan teologi yang bersifat praksis, yaitu secara nyata diwujudkan dalam realitas
melalui realisasi tauhid dalam dunia Islam.

Menurut hasan Hanafi, Rekonstruksi teologi merupakan salah satu cara yang harus di tempuh jika
mengharapkan teologi dapat memberikan sumbangan konkrit bagi kehidupan dan peradaban
manusia. Oleh karena itu perlu menjadikan teologi sebagai wacana tentang kemanusiaan, baik
secara eksistensia, kognitif, naupun kesejahteraan. Selanjutnya Hanafi menawarkan dua hal untuk
memperoleh kesempurnaan teori ilmu dalam teologi Islam, yaitu analisa bahasa dan analisa realitas.

b. Oksidentalisme

Sebelum melangkah pada oksidentlaisme, kita perlu bahas dahulu apa yang menjadi pemahaman
Hassan Hanafi mengenai tradisi (turats). Tradisi, menurutnya, bukanlah sekedar barang mati yang
telah ditinggalkan orang-orang terdahulu. Pernyataan ini persis sama seperti pengakuan Al-Jabiri,
yaitu bahwa tradisi adalah barang hidup yang selalu menyertai kekinian kita. Tradisi adalah elemen-
elemen budaya, kesadaran berfikir, serta potensi yang hidup, dan masih terpendam dalam tanggung
jawab generasi sesudahnya. Dia adalah sebagai dasar argumentatif, dan sebagai pembentuk
pandangan dunia serta membimbing perilaku bagi setiap generasi mendatang.[20]
Tradisi ternyata telah banyak dicemari oleh hegemoni feodalisme dan menjadi kekuatan kekuasaan
yang berkedok agama. Sehingga perlu direvitalisasi menjadi kekuatan yang membebaskan. Titik tolak
Hassan Hanafi adalah realitas Arab saat ini, dan menurutnya adalah keharusan pemecahannya untuk
mengakhiri semua hal yang menghambat perkembangan dalam dunia Islam dan Arab. Tradisi, pada
dasarnya tidak bernilai. Kecuali jika ia dapat menjadi sarana yang dapat memberikan teori aksi
negara Arab dalam merekonstruksi manusia dan hubungannya dengan Tuhan.

Oksidentalisme merupakan antitesis Orientalisme. Para oksidentalis mengkritik orientalisme sekaligus


mengkaji ulang Barat. Para penyerang dari kubu Oksidentalis antara lain Edward Said, Anouar Abdel-
Malek dan Hassan Hanafi. Hassan Hanafi terang-terangan menyebut kritikannya terhadap
Orientalisme sebagai Oksidentalisme. Profesor filsafat Universitas Kairo ini pula yang membeda
dengan menghadirkan Oksidentalisme bercorak filosofis.

Dengan Oksidentalisme, Hassan Hanafi berupaya membalik kedudukan Orientalisme bahkan Barat.
Dalam Oksidentalisme neraca-neraca berbalik, peran-peran pun bergantian, ego Eropa yang dulu
pengkaji hari ini menjadi objek kajian sebagaimana liyan non-Eropa yang kemarin dikaji kini menjadi
subjek pengkaji. Pembalikan kedudukan itu ditujukan untuk menghilangkan kesombongan Eropa dan
kerendahdirian non-Eropa.[21]
Namun Hanafi mengantisipasi masuknya unsur-unsur Orientalisme ke dalam Oksidentalisme dalam
pembalikan itu. Ia menetapkan garis-garis pembeda antara keduanya antara lain: Pertama,
Oksidentalisme muncul pasca gerakan kemerdekaan nasional sehingga bernuansa pembelaan atas
kemerdekaan, yang tentu saja berbeda dengan Orientalisme yang muncul bersama Kolonialisme
yang merenggut kemerdekaan. Kedua, Orientalisme menggunakan metode-metode abad ke-19
bercorak positivistik, historistik, dan rasialis, sementara Oksidentalisme memanfaatkan metode-
metode kontemporer yang mengkritik metode-metode tersebut di atas, seperti metode linguistik,
metode fenomenologi dan metode pembebasan nasional. Ketiga, Oksidentalisme tak berkehendak
untuk kuasa kecuali kehendak untuk merdeka sehingga lebih netral ketimbang Orientalisme yang
berselingkuh dengan Kolonialisme.[22]
Seperti dijelaskan Hassan Hanafi, Oksdentalisme adalah wajah lain dan tandingan bahkan
berlawanan dengan Orientalisme. Orientalisme melihat ego (Timur) melalui the other, maka
Oksidentalisme bertujuan mengurai simpul sejarah yang mendua antara ego dengan the other, dan
dialektika antara kompleksitas inferioritas (murakab al-naqish) pada ego dengan kompleksitas
superioritas (murakab al-uzma) pada pihak the other. Oreintalisme lama adalah pandangan ego
Eropa terhadap the other non Eropa, subyek pengkaji terhadap obyek yang dikaji. Di sini terjadi
superioritas Barat dalam melihat Timur.

Hal demikian dibalikkan dengan Oksidentalisme, yang tugasnya yaitu mengurai inferioritas sejarah
hubungan ego dengan the other, menumbangkan superioritas the other Barat dengan menjadikannya
sebagai obyek yang dikaji, dan melenyapkan infererioritas kompleks ego dengan menjadikannya
sebagai subyek pengkaji. Hanya saja Oksidentalsime kali ini dibangun di atas ego yang netral dan
tidak berambisi merebut kekuasaan, dan hanya menginginkan pembebasan. Ia juga tidak ingin
mendiskreditkan kebudayaan lain, dan hanya ingin mengetahui keterbentukan dan struktur
peradaban Barat. Seperti diklaim oleh Hassan Hanafi, ego Oksidentalisme lebih bersih, obyektif, dan
netral dibadindingkan ego Orientalisme

2. Pemikiran Mohammed Arkoun

Metodologi dan pendekatan yang digunakan Mohammad Arkoun sedikit banyak telah
dipengaruhi oleh dua kekuatan tradisi pemikiran yang telah ada, yaitu: tradisi
pemikiran budaya Timur Tengah kuno yang memiliki tempat spesial di dalam
pemikiran Yunani dan tradisi pemikiran monoteisme yang dipikirkan (dibawa) oleh
para Nabi. Sehingga, Arkoun mengemukakan bahwa dirinya sebagai pengguna
metodologi historis-kritis yang mencoba merespon rasa keingin tahuannya secara
modern, karena metodologi ini dinilainya dapat menelusuri studi tentang
pengetahuan mitis yang tidak hanya dibatasi dengan mentalitas lama. Dengan
demikian menurut Mohammed Arkoun, pada saat ini usaha intelektual utama yang
harus dipresentasikan secara luas ke dalam pemikiran tentang Islam dan tentang
agama lainnya adalah bagaimana mengevaluasi karakteristik-karakteristik dari
sistem ilmu pengetahuan yang historis dan mitis, dengan perspektif epistemologis
yang baru.

Perhatian Arkoun sangat besar terhadap persoalan Islam yang intinya dapat
dikelompokkan dalam pemikiran islam yaitu masalah kemasyarakatan, pemahaman
terhadap kitab suci, pengertian etika, serta kaitannya antara islam dan modernitas. Arkoun
dalam studinya ia menggunakan pendekatan ilmu sosial untuk memahami Islam sebagai
suatu agama yang dianut oleh masyarakat majemuk dizaman modern.
Dalam Islamisasi pengetahuan Barat, Arkoun mempunyai wewenang dan keunikan
sendiri dalam menggagas pemikirannya, ia sangat memahami seluk beluk tentang Barat.
Kebanyakan pemikirannya terilhami gagasan-gagasan Barat kontemporer, dan juga upaya
untuk menghidupkan pemikiran dalam model atau corak baru.[7] Arkoun menganjurkan
untuk melakukan usaha pembebasan atas pemikiran Islam dari kejumudan dan ketertutupan
dengan pendekatan kajian historis dan kritis dan dengan perangkat pemikiran ilmu
pengetahuan Barat mutakhir. Pemikirannya banyak mengarah kepada usaha para peneliti
Islam yang mendekati Islam melalui karya-karya tulis dari berbagai tokoh klasik. Mengenai
hal yang menyangkut pemikiran logis dan rasional seperti fiqh, terutama Teologi agar
melampaui batas studi Islam Tradisional; Hal tersebut tampak bahwa tulisan Arkoun
memusatkan perhatian pada tokoh- tokoh besar seperti Miskawaih dan tokoh lainnya.
Landasan utamanya adalah pengetahuan modern yang menjadi pendekatan Arkoun
terhadap Islam. Karena, menurutnya sejarah masyarakat islam sangat berkaitan dengan
masyarakat Barat. Tidak ada dikotomi antara pemikiran Barat dengan pemikiran Islam.
Keduanya harus dihargai. Keduanya perlu dievaluasi, mengingat konteks sejarah ada
rumpun dalam kelompok ahli-ahli kitab yang menurutnya untuk merevormasi universalitas
tanpa merusak partikularitas.[8]Perkembangan mutakhir tentang pemikiran ilmu-ilmu
keislaman, telah menerima ilmu ushul fiqih dalam fungsi metodologi projektifnya merupakan
suatu dukungan ilmiah dan intelektual bagi sifat agama dalam hukum islam. Suatu
dekontruksi kritis gagasan dan tipe rasionalitas penting untuk secara modern menilai
kembali wahyu sebagai gejala budaya dan sejarah yang komplek. Arkoun mendorong
adanya islamologi terapan dalam pengembangan pemikiran dan nalar islam. Menurutnya,
berbagai karya klasik saat itu menjadi kajian penting masyarakat Barat. Suatu pendekatan
atau metodologis yang tidak mungkin terabaikan adalah bahwa ada nasib kesejarahan
antara barat dan islam dalam konteks historis.
Catatan penting dalam pemikiran Arkoun adalah tentang perlunya kesadaran dan
daya kritis tinggi untuk mencermati khasanah pengetahuan Barat yang dipakai dalam
mengkaji nilai Islam. Ia sebenarnya punya filterisasi atas barat untuk memadukannya
dengan Islam. Pisau analisisnya adalah perangakat teoritis barat yang digunakannya untuk
mengislamisasikan nilai yang terbaratkan. Arkoun juga ingin menyatukan semua perbedaan
identitas sesama umat Islam, bahkan dengan nonmuslim. Mencitrakan islam baik isi nilai
keislaman maupun muatan permukaan dari umatnya, agar persepsi yang keliru dari
masyarakat barat terhadap islam dapat dihilangkan. Arkoun mencitrakan Islam bukan
dengan cara menonjolkan islam dalam keanekaragaman, tapi Islam yang Islami dalam
kesatuan.
Arkoun menjabarkan selama beberapa dasawarsa umat islam seakan lupa tentang
segala sesuatu yang berbau Barat juga terkandung berbau Eropa. Menurutnya Eropa perlu
dicermati esensi-esensi peradabannya jangan hanya diambil permukaannya saja. Arkoun
berusaha menyatakan diri sebagai perwakilan yang mencoba mengedepankan islam apa
adanya, baik selaku nilai suci maupun sudah terkontekstualisasi dalam sejarah. Muatan
Islam tersebut selain memudahkan kelompok pemula islam, juga memudahkan bagi
kelompok yang meremehkan dan memandang Islam sebagai suatu nilai yang sudah
tercatatkan sejarah. Dari sisi ini, karya-karya Arkoun sangat melewati batas batas pemikir
sebelumnya mengenahi Islam

. Kritik Postmodernisme terhadap Ideologi Ilmu Modern


Postmodernisme merupakan suatu fenomena yang menggejala dalam kancah ide dan pemikiran.
Kelahiran postmodernisme merupakan akumulasi konkret atas kritik modernisme yang dirasakan kurang
memenuhi tuntutan inteletual dalam menyelesaikan problem-problem sosial dan kemanusian. Di tengah
pemikiran dan ide postmodernisme yang carut marut, minimal dapat dikemukakan sejumlah kritik
ideologis yang diajukan oleh pemikir postmodernis atas gerakan modernisme,yang mencakup hal-hal
sebagai berikut :[18]
Pertama, penafian atas ke-universal-an suatu pemikiran (totalism). Para penganut postmodernisme
beranggapan, tidak ada realita yang bernama rasio universal. Yang ada adalah relativitas dari eksistensi
plural. Oleh karenanya, perlu dirubah dengan cara berpikir dari totalizing menuju pluralistic and open
democracy dalam segala aspek kehidupan. Dari sini dapat diketahui, betapa postmodernisme sangat
bertumpu pada pemikiran individualisme sehingga dari situlah muncul relativisme dalam pemikiran
seorang postmodernis. Ini jelas sangat berbeda dengan konsep metode ilmiah dan gejala ilmu pengetahuan
modern yang menitikberatkan pada konseptualisasi dan universalisasi teori.
Kedua, penekanan adanya pergolakan pada identitas personal maupun sosial secara terus-menerus
yang tiada henti. Hal itu sebagai solusi dari konsep yang permanen dan mapan yang merupakan hasil dari
kerja panjang modernisme. Postmodernis memberikan kritik bahwa hanya melalui proses berpikirlah yang
dapat membedakan manusia dengan makhluk lain. Jika pemikiran manusia selalu terjadi perubahan, maka
perubahan tadi secara otomatis akan dapat menjadi penggerak untuk perubahan dalam disiplin lain.
Ketiga, semua jenis ideologi harus dikritisi dan ditolak. Selayaknya dalam konsep berideologi,
ruang lingkup dan gerak manusia akan selalu dibatasi dengan mata rantai keyakinan prinsip yang
permanen. Sedang setiap prinsip permanen dengan tegas ditolak oleh kalangan postmodernis. Oleh
karenanya, manusia postmodernis tidak boleh terikat pada ideologi permanen apapun, termasuk ideologi
agama sekalipun.
Keempat, setiap eksistensi obyektif dan permanen harus diingkari. Atas dasar pemikiran
relativisme, manusia postmodernis ingin membuktikan tidak adanya tolok ukur sejati dalam penentuan
obyektifitas dan hakekat kebenaran,kebenaran agama sekaligus. Ini tentu sangat berbeda dengan
paradigma modernisme pada ilmu pengetahuan modern yang sangat menekakan obyektifitas dalam
prosesdur ilmiah untuk mendapatkan kebenaran. Ungkapan Nietzsche(1844-1900), God is Dead[19].
Atau ungkapan lain seperti The Christian God has ceased to be believable, terus merebak dan semakin
digemari oleh banyak kalangan di banyak negara Barat, Sebagai bukti atas usaha propaganda mereka yang
mengusung tema konsep nihilisme dalam filsafat posmodernisme.[20]
Kelima, semua jenis epistemologi harus dibongkar. Kritik tajam secara terbuka merupakan asas
pemikiran filsafat postmodernisme. Pemikiran ataupun setiap postulatyang bersifat prinsipyang
berkaitan dengan keuniversalan, kausalitas, kepastian dam sejenisnya akan diingkari.
Keenam, postmodernisme memiliki ide besar melakukan pengingkaran penggunaan metode
permanen dan paten dalam menilai fakta dan realitas serta ilmu pengetahuan. Jika dilihat secara spintas,
postmodernist cenderung menerapkan metodologi berpikir asal comot dengan mainstream pemikiran
yang kurang jelas dan tidak beraturan.[21]
Demikian inilah poin-poin penting kritik ideologis ilmu pengetahuan modern yang digencarkan
oleh kaum posmodernisme. Dari paparan tersebut tema besar yang diusung oleh kaum posmodernisme
adalah kerangka dekonstruktif (perombakan total) atas kuasa ilmu pengetahuan modern yang berbasis
rasionalisme, obyektivitas, strukturalis, sistematisasi, totalisasi, universalisasi dan mengenyampingkan
nilai nilai lain yang justru cukup siginifikan mempengaruhi realitas. Hal hal lain inilah yang dipikirkan
oleh postmodernisme sehingga menjadi isu sentral dalam merumuskan kerangka konseptual ide dan
pemikirannya.

G. Kesimpulan
Postmodernisme memiliki pengertian yang cukup ambigu. Postmodernisme merupakan gabungan
dan peleburan dari berbagaia gaya pemikiran filosofis. Yang kesemuanya dirangkum dan diikat oleh
sebuah nalar unik dan seolah olah tiada batasan dengan rambu-rambu yang konkret dan jelas. Kerangka
konseptual itu misalnya ruang diskursive yang dikaji, persoalan-persoalan yang dicoba ditemukan
jawabannya oleh kaum posmodernisme dan teori-teori posmodernisme yang dilontarkan oleh para
teoritikus ilmu pengetahuan. Postmodernisme adalah suatu pergerakan ide yang menggantikan ide-ide
zaman modern. Zaman modern dicirikan dengan pengutamaan rasio, objektivitas, totalitas, strukturalisasi/
sistematisasi, universalisasi tunggal dan kemajuan saints.
Ciri dari postmodern adalah melingkupi hal-hal secara konseptual ide melakukan kritik ideologi
iolmu pengetahuan modern yang meliputi: pengangkatan derajad martaba manusi. bahasa semoitotik
Hermeneutik, Filologi sebagai language game. merupakan ide-ide cemerlang yang menjadi daya
dorong kebangkitan golongan tertindas, seperti golongan ras, gender, kelas minoritas secara sosial yang
tersisihkan. Ide tentang tumbuhnya kesadaran akan pentingnya interdependensi secara radikal dari semua
pihak dengan cara yang dapat dan memungkinkan terpikirkan oleh manusia sehingga hal- hal yang mapan
dan permanen harus di dekonstruksi.