Anda di halaman 1dari 10

ANALISA CUACA TERKAIT HUJAN LEBAT DI SEBAGIAN BESAR

WILAYAH LAMPUNG (20 FEBRUARI 2017)

Ramadhan Nurpambudi13
Eka Suci Puspita Wulandari23
1
Stasiun Meteorologi Radin Inten II Lampung
2
Stasiun Maritim Panjang Lampung
3
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, Jakarta
Email : ramaunited92@gmail.com

Abstrak
Terjadi hujan mulai sore hingga keesokan pagi di hampir seluruh wilayah Lampung
dengan intensitas yang beragam mulai dari ringan hingga lebat yang disetartai angin
kencang dan juga petir. Dampak dari kejadian ini menyebabkan banjir setinggi 1,5 meter
hancurkan rumah warga Kelapa Tiga Bandar Lampung, 50-an rumah warga Way Huwi
Lampung Selatan terendam banjir, jembatan di Lampung Utara patah di tengah akibat
tersapu air sungai, 3 kecamatan terendam dan 1 warga meninggal di Pesawaran.
Berdasarkan analisa secara meteorologi dapat disimpulkan bahwa hujan lebat yang
terjadi di sebagian besar wilayah Lampung disebabkan oleh gangguan cuaca regional
seperti adanya konvergensi dan juga shearline tepat di wilayah Lampung. Hal ini didukung
dengan hangat suhu muka laut (SML) di wilayah perairan Lampung bagian selatan.
Kelembaban udara terpantau lembab mulai lapisan 850mb hingga 500mb hingga mencapai
100%, serta kondisi labilitas atmosfer yang terpantau labil hingga dini hari. Analisa citra
satelit didapatkan awan Cumulunimbus yang menyebabkan hujan lebat di wilayah
Lampung terbentuk mulai sore dan terus berkembang hingga dini hari.

Kata Kunci : Hujan Lebat, Banjir, Meteorologi, Cumulunimbus

Abstract
Rains from afternoon until the next morning in almost all areas of Lampung with
varying intensity from slight to heavy accompanied strong winds and lightning. The impact
of these events cause flooding as high as 1.5 meters of homes destroyed Coconut Three
Bandar Lampung, 50s houses Way Huwi South Lampung flooded, bridges in North
Lampung broken in the middle of the river water due to washed, 3 districts submerged and
1 citizen died in Pesawaran.
Based on meteorological analysis can be concluded that the heavy rains that
occurred in most areas of Lampung caused by weather disturbances such regional
convergence and also shearline right in Lampung. This is supported by warm sea surface
temperatures (SML) in the territorial waters of the southern part of Lampung. Humid air
humidity monitored start lining up to 500MB 850mb up to 100%, as well as atmospheric
conditions were observed labile lability until early morning. Analysis of satellite imagery
obtained Cumulunimbus cloud that caused heavy rains in the area of Lampung is formed
from afternoon and continue to grow until the early hours.

Keywords : Heavy Rain, Flood, Meteorology, Cumulunimbus

Telah terjadi hujan mulai sore hingga


1. PENDAHULUAN keesokan pagi di hampir seluruh wilayah

1
Lampung dengan intensitas yang beragam
mulai dari ringan hingga lebat yang disetartai
angin kencang dan juga petir. Hujan lebat
tersebut menyebabkan banyak kerusakan di
beberapa tempat. Dampak dari hujan ini
seperti banjir setinggi 1,5 meter hancurkan
rumah warga Kelapa Tiga Bandar Lampung,
50-an rumah warga Way Huwi Lampung
Selatan terendam banjir, jembatan di
Lampung Utara patah di tengah akibat tersapu
air sungai, 3 kecamatan terendam dan 1 warga
meninggal di Pesawaran, ribuan warga korban
banjir di Pringsewu mengungsi ke bukit dan
mulai kelaparan. Analisa secara global,
regional, dan lokal akan dilakukan untuk
membahas fenomena apa yang terjadi
sehingga menyebabkan terjadinya hujan lebat
di wilayah Lampung pada saat itu yang
menyebabkan banyak terjadi bencana
hidrometeorologis.

2
Data analisa yang digunakan yaitu
data OLR dari NOAA, data pola angin
(streamline) dari BOM, data suhu muka
laut (SML) dari BOM, data TRMM dari
NASA, data kelembaban relatif dari WRF
BMKG dan NOAA, data labilitas dari
KMA, serta data citra satelit dari BMKG.

2.2 Metode
Analisa akan dilakukan bertahap
mulai dari analisa gangguan cuaca skala
global, regional, lalu lokal. Dengan
menggunakan metode ini akan ditarik
kesimpulan faktor-faktor apa saja yang
mendukung terjadinya hujan lebat pada
saat itu.
Selain analisa pada saat kejadian,
analisa meteorologi juga dilakukan untuk
2. DATA DAN METODE mengetahui prospek cuaca kedepannya di
2.1 Data wilayah Lampung.
Lokasi penelitian terfokus pada
Provinsi Lampung sebab hujan lebat 3. HASIL DAN PEMBAHASAN
terjadi di sebagian besar wilayah 3.1 Analisis Skala Global
Lampung. A. Outgoing Longwave Radiation (OLR)
Data curah hujan merupakan data
dari beberapa titik pos hujan serta data
pengamatan stasiun meteorologi dan juga
klimatologi di wilayah Lampung.

STASIUN CURAH HUJAN KETERANGAN


Stamet Branti 77,8 mm Hujan Lebat
Pos Hujan Bekri 8,2 mm Hujan Ringan
Pos Hujan Gunung Sugih 35,6 mm Hujan Sedang
Staklim Masgar 79,5 mm Hujan Lebat
Pos Hujan Labuhan Ratu 10,6 mm Hujan Ringan
Pos Hujan Sukadana 77,4 mm Hujan Lebat
Pos Hujan Ganti Warno 91,6 mm Hujan Lebat
Pos Hujan Taman Bogo 63,18 mm Hujan Lebat
Pos Hujan Raman Utara 174,4 mm Hujan Sangat Lebat
Pos Hujan Seputih Raman 82,4 mm Hujan Lebat
Pos Hujan Kelapa Tujuh 8,6 mm Hujan Ringan
Pos Hujan Bunga Wayang 11,0 mm Hujan Ringan
Pos Hujan Negeri Abung 19,8 mm Hujan Ringan Gambar 2. Rata-Rata OLR
Pos Hujan Balik Bukit 7,1 mm Hujan Ringan
Pos Hujan Wonosobo 32,0 mm Hujan Sedang
Pos Hujan Sumber Rejo 37,8 mm Hujan Sedang
Analisa OLR pada gambar
Pos Hujan Pringsewu 94,0 mm Hujan Lebat menunjukkan semakin rendah nilai OLR
Pos Hujan Bergen 80,47 mm Hujan Lebat semakin tebal tutupan awan di wilayah
Pos Hujan Kalianda 75,7 mm Hujan Lebat
Pos Hujan Sragi 128,4 mm Hujan Sangat Lebat
tersebut. Wilayah Lampung pada saat
Pos Hujan Bakauheni 123,8 mm Hujan Sangat Lebat kejadian memiliki nilai OLR yang sangat
Gambar 1. Data Curah Hujan rendah <140 W/m. Nilai yang rendah ini
menunjukkan pada saat itu tutupan awan
di wilayah Lampung begitu banyak.

3
Kondisi ini terjadi di seluruh wilayah Pergerakan MJO saat kejadian
Lampung. Banyaknya tutupan awan pada hujan lebat berada pada kuadran 2.
saat itu sejalan dengan data jumlah curah Kondisi menandakan MJO tidak
hujan yang merata di wilayah Lampung. berkontribusi pada pembentukan awan-
awan hujan di wilayah Indonesia bagian
barat. MJO berperan pada pembentukan
awan jika berada di kuadran 4 dan 5.

3.2 Analisa Skala Regional


A. Angin Zonal

Gambar 3. Normal OLR

Nilai OLR <140 W/m tadi lebih


rendah dibandingkan dengan rata-rata
klimatologisnya (1980-2010) yang
bernilai 190 W/m, menunjukkan bahwa
pada saat itu tutupan awan cenderung
lebih tebal dibanding dengan rata-ratanya
selama 30 tahun terakhir.
Gambar 5. Angin Zonal 850mb
B. Madden-Julian Oscillation (MJO)
Angin zonal yang bernilai positif (3-
6) menunjukkan angin baratan bertiup di
wilayah Lampung. Semakin besar nilai
positif angin zonal semakin kuat angin
baratan yang terjadi di wilayah yang
bersangkutan dan potensi pembentukan
awan hujan semakin besar.

Gambar 4. Pergerakan Fase MJO Gambar 6. Normal Angin Zonal

4
Nilai angin zonal (3-6) pada saat Dibandingkan dengan rata-rata
kejadian hujan lebat cenderung tidak jauh klimatologisnya (1980-2010) suhu muka
berbeda dengan rata-rata klimatologisnya laut pada saat kejadian hujan lebat tidak
selama 30 tahun (4-6). Normalnya angin ada perbedaan yang signifikan (30.1-
baratan memang dominan mempengaruhi 30.2C). Pada tanggal tersebut suhu muka
pergerakan angin pada tanggal tersebut, laut mendukung pasokan uap air yang
cenderung banyak pembentukan awan di banyak ke atmosfer, jika didukung dengan
wilayah Lampung pada tanggal tersebut. adanya belokan angin serta kelembaban
yang tinggi di lapisan atas akan membuat
B. Sea Surface Temperature (SST) pumpunan awan-awan hujan yang banyak.

C. Angin Gradien (3000 ft)

Gambar 7. Sea Surface Temperature

Gambaran suhu muka laut pada saat


kejadian hujan lebat berkisar 30.1-30.2C
di sekitar perairan wilayah Lampung.
Kondisi ini sudah cukup untuk memberi
pasokan uap air ke atmosfer sebagai bahan
dasar pembentukan awan.

Gambar 9. Angin Gradien

Adanya tekanan rendah di sebelah


barat dan selatan Lampung (1007 dan
1008 hpa) disertai sirkulasi Eddy di Laut
Jawa menyebabkan timbulnya arus
konvergensi serta belokan angin
(shearline) di wilayah Lampung. Hal ini
yang dominan mempengaruhi
pembentukan cuaca di wilayah Lampung
sebab dengan adanya konvergensi massa
udara terpusat di wilayah terkait ditambah
Gambar 8. Normal Sea Surface dengan adanya belokan angin di perairan
Temperature timur Lampung.

5
3.3 Analisa Skala Lokal awan pada saat itu dapat tumbuh
A. Kelembaban Relatif (RH) NOAA menjulang ke atas dengan baik dibanding
dengan keadaan normalnya.

B. Kelembaban Relatif (RH) WRF

Gambar 10. RH Vertikal

Analisa kelembaban relatif secara Gambar 12. RH 850mb 12 UTC


vertikal terlihat di wilayah Lampung
lembab (>90%) hingga ketinggian 700mb.
Kondisi ini berperan penting dalam
mendukung pembentukan awan-awan
hujan hingga ketinggian tersebut.

Gambar 13. RH 700mb 12 UTC

Gambar 11. Normal RH Vertikal

Dibandingkan dengan normal


kelembaban relatifnya, kelembaban pada
saat kejadian hujan lebat terlihat jauh
lebih tinggi. Normal kelembabannya
memiliki nilai yang lembab hanya sampai
950mb sedangkan pada saat hujan lebat
mencapai lapisan 700mb. Pembentukan Gambar 14. RH 500mb 12 UTC

6
Berdasarkan data kelembaban relatif
(WRF), pada lapisan 850mb di wilayah
Lampung bernilai 90-100%. Untuk
lapisan 700mb bernilai 85-100% dan
untuk lapisan 500mb bernilai 60-80%.
Kelembaban udara pada saat kejadian
semakin tinggi pada dini hari, hal ini
menunjukkan bahwa pada saat kejadian
kondisi atmosfer sangat basah sehingga
menyebabkan hujan awet hingga pagi
hari.

C. Indeks Stabilitas
Gambar 17. Showalter Index 12 UTC

Nilai K-Index pada jam 12.00 dan


18.00 UTC bernilai 39 mengindikasikan
adanya TS pada malam hingga dini hari.
Nilai Lifted Index pada jam 12.00 UTC
dan 18.00 UTC berkisar (-1) (-3)
mengindikasikan malam hingga dini hari
atmosfer dalam keadaan yang Labil.
Sedangkan nilai Showalter Index pada jam
12.00 UTC dan 18.00 UTC bernilai (-1)
(-3) yang mendikasikan malam hingga
dini hari atmosfer juga dalam kondisi
yang Labil.

3.4 Analisa Tropical Rainfall Measuring


Mission (TRMM)
Gambar 15. K-Index 12 UTC

Gambar 16. Lifted Index 12 UTC Gambar 18. TRMM 20 Februari 2017

7
Berdasarkan analisis data prakiraan
akumulasi curah hujan TRMM di wilayah
Lampungmm disekitar lokasi kejadian
banjir curah hujan berkisar 97 163mm,
menunjukkan bahwa pada tanggal 20
Februari 2017 tergolong mendapat hujan
yang sangat lebat. Data estimasi satelit ini
sebagai pembanding data pengamatan pos
hujan di beberapa wilayah yang tersebar
di wilayah Lampung.

3.4 Analisa Citra Satelit

Gambar 21. Citra Satelit IR Potential


Rainfall

Gambar 19. Citra Satelit IR Enhanced

Gambar 21. Citra Satelit IR Potential


Rainfall

Berdasarkan citra satelit terlihat


bahwa awan hujan mulai berkembang
pada sore hari. Dimulai dari wilayah
selatan dan juga barat yang perlahan
berkembang hingga menutupi seluruh
wilayah Lampung. Suhu puncak terlihat
sangat dingin hingga mencapai -100C.
Awan Cumulunimbus terpantau menutupi
Gambar 20. Citra Satelit Cloud Type wilayah Lampung yang menyebabkan

8
petir dan kilat muncul hingga dini hari. masih berpotensi terbentuk dimulai dari
Analisa citra Rain Potential terlihat hujan Lampung bagian utara yang perlahan
lebat turun di wilayah Lampung hingga bergerak hingga Lampung bagian selatan.
dini hari serta atmosfer terpantau sangat
basah pada saat kerjadian hujan lebat 4.3 Peringatan Dini
sehingga awan-awan hujan bisa
berkembang dalam waktu yang lama.

4. PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Berdasarkan analisa diatas dapat
disimpulkan bahwa hujan lebat yang
terjadi di sebagian besar wilayah
Lampung disebabkan oleh gangguan
cuaca global seperti rendahnya nilainya
OLR yang menandakan banyaknya
tutupan awan di wilayah Lampung,
sirkulasi MJO berada di kudran yang
tidak memberi dampak terhadap
pembentukan awan di wilayah Lampung.
Gangguan skala regional, angin baratan
mempengaruhi pembentukan awan-awan
hujan pada saat itu, konvergensi dan juga
shearline tepat di wilayah Lampung dan
juga hal ini didukung dengan hangat
suhu muka laut (SML) di wilayah
perairan Lampung bagian selatan.
Kelembaban udara terpantau lembab
mulai lapisan permukaan hingga 700mb
hingga mencapai 100%, serta kondisi
labilitas atmosfer yang terpantau labil
hingga dini hari dan berpotensi adanya
TS. Hasil curah hujan estimasi TRMM
berkisar 97 163mm sehingga pada saat
itu hujan begitu derasnya turun di
wilayah Lampung, data ini sebagai
pembanding data pos pengamatan curah
hujan. Analisa citra satelit didapatkan
awan Cumulunimbus yang menyebabkan
hujan lebat di wilayah Lampung
terbentuk mulai sore dan terus
berkembang hingga dini hari.

4.2 Prospek Kedepan


Berdasarkan analisa meteorologi
wilayah Lampung, potensi hujan masih
akan turun hingga 3 hari kedepan terutama
pada sore hingga malam hari dengan
intensitas ringan lebat. Awan hujan

9
4.4 Daftar Pustaka

http://www.bom.gov.au/australia/charts

https://www.esrl.noaa.gov/psd/data/com
posites/day/

https://giovanni.sci.gsfc.nasa.gov/giovan
ni/#service=AcMp&starttime=2017-02-
27T00:00:00Z&endtime=2017-02-
27T23:59:59Z&shape=state_dept_coun
tries/shp_101&bbox=103,-6,107,-
3&data=TRMM_3B42RT_7_precipitati
on&dataKeyword=TRMM

http://202.90.198.212/awscenter/

ftp://202.90.199.115/

http://diseminasi.meteo.bmkg.go.id/wrf/

http://www.kma.go.kr/ema/nema03/rall
/index_asia1_instability_ra2d_asia1_kin
dex_ft06_pa4_s.jsp?opt1=asia1&opt2=i
nstability&opt3=ra2d_asia1_kindex_ft0
6_pa4_s&tm=2017.02.20.12&delta=000
&ftm=2017.02.21.00

http://duajurai.co/2017/02/21/banjir-
setinggi-15-meter-hancurkan-rumah-
warga-kelapa-tiga-bandar-lampung/

http://duajurai.co/2017/02/21/50-an-
rumah-warga-way-huwi-lampung-
selatan-terendam-banjir-arifin-
sesalkan-sikap-pamong/

http://lampung.tribunnews.com/2017/02
/21/foto-banjir-menerjang-berbagai-
kawasan-di-bandar-lampung

http://lampung.tribunnews.com/2017/02
/21/ribuan-warga-korban-banjir-di-
pringsewu-mengungsi-ke-bukit-dan-
mulai-kelaparan)

http://www.nyokabar.com/berita-4214-
ini-kawasan-bandar-lampung-yang-
dilanda-banjir.html

10

Anda mungkin juga menyukai