Anda di halaman 1dari 26

LAPORAN PRAKTIKUM

TEKNOLOGI DAN PRODUKSI BENIH

ACARA I
PENGUJIAN KEMURNIAN BENIH

Oleh:
Alfian Nopara Saifudin
NIM A1D015033
Rombongan 2
PJ asisten: Farichatul Mufaroh

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PERTANIAN
PURWOKERTO
2017
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Indonesia merupakan negara agraris yang masih bergantung pada komoditas

pertanian. Sebagian besar kebutuhan pangan rakyat Indonesia masih bergantung

pada hasil-hasil pertanian yang salah satunya didukung oleh peningkatan faktor

produksi benih unggul. Penggunaan benih unggul yang baik dan benar akan

mampu mengeliminasi kesenjangan antara produktivitas rill saat panen dan

produktifitas potensial komoditas pertanaman.

Benih merupakan salah satu bahan dasar dalam budidaya tanaman. Pengujian

benih mengacu pada ISTA (International Seed Testing Association). Pengujian

benih merupakan cara untuk mengetahui benih yang berkualitas dan bermutu

tinggi. Menjamin penggunaan benih yang yang benar-benar murni, bersih dan

tidak tercampur dengan bahan lain adalah dengan melakukan pengujian

kemurnian benih.

Benih merupakan inti dari kehidupan di alam semesta dan satu yang paling

penting adalah kegunaannya sebagai penyambung dari kehidupan tanaman secara

berkelanjutan. Benih dituntut untuk memiliki kemurnian dan bermutu tinggi jika

ditinjau dalam konteks agronomi, karena benih harus mampu menghasilkan

tanaman yang berproduksi maksimum dengan sarana teknologi yang maju.

Benih murni yang merupakan salah satu komponen dalam pengujian benih,

sangat penting dalam menghasilkan benih yang berkualitas tinggi. Pada pengujian

daya berkecambah, benih yang diuji diambil dari fraksi benih murni. Dengan

2
demikian hasil pengujian kemurnian benih dan daya kecambah benih

mempengaruhi nilai benih untuk tujuan pertanaman. Pengujian kemurnian

digunakan untuk mengetahui komposisi contoh kerja, kemurnian, dan identitasnya

yang akan mencerminkan komposisi lot benih yang didasarkan pada berat

komponen pengujian. Dalam pengujian kemurnian contoh kerja kemurnian

dipisahkan menjadi benih murni, biji tanaman lain, dan kotoron.

Pengujian benih dilakukan dengan menggunakan dua cara yaitu pengujian

mutu secara fisik dan fisiologi benih. Pengujian kemurnian benih merupakan

kemurnian secara fisik. Pengujian ini dilakukan untuk menetapkan nilai pada

setiap contoh benih yang diuji sehingga akan diketahui keadaaan faktor kualitas

benih. Faktor yang mempengaruhi kualitas benih dapat ditentukan dalam

persentase dari kemurnian benih, benih tanaman lain, daya tumbuh benih.

Pengujian ini merupakan pengujian yang dilakukan dengan memisahkan

empat komponen benih diantaranya benih murni, varietas lain, dan benih lain atau

kotoran benih, dengan dilakukan pengujian ini kita bisa mengetahui apakah benih

ini layak untuk ditanam. Pengujian ini dapat mengetahui kualitas benih dan mutu

benih yang akan ditanam, sehingga petani dapat menghasilkan produksi yang

tinggi.

Pengujian benih di laboratorium bertujuan untuk mendapat keterangan

tentang mutu suatu benih yang dipergunakan untuk keperluan penanaman. Dalam

rangka sertifikasi benih, pengujian tersebut diperlukan guna pengisian label.

Tujuan dari pengujian kemurnian adalah mengetahui komposisi dari contoh yang

diuji yang akan mencerminkan komposisi kelompok benih dari mana contoh

3
tersebut diambil dengan jenis / kultivar / varietas dan kotoran benih pada contoh

tersebut dengan identifikasi yang telah ditetapkan.

Pada prinsipnya, pengujian kemurnian benih di laboratorium merupakan

kemurnian secara fisik atau berdasarkan identitas fisik yang telah ditetapkan

dengan jalan memisahkan contoh kerja benih ke dalam komponen komponen

benih murni, biji tanaman / varietas lain, biji gulma dan kotoran benih.

B. Tujuan

Praktikum ini bertujuan untuk membedakan benih murni, biji tanaman lain,

kotoran benih dan menghitung persentase kemurnian benih

4
II. TINJAUAN PUSTAKA

Sejarah perkembangan perbenihan di Indonesia dimulai pada tahun 1905

ketika pemerintah Hindia Belanda mendirikan Departemen Pertanian, yang

bertujuan untuk meningkatkan produksi tanaman rakyat. Setelah kemerdekaan RI

(1957), penyebaranbenih unggul dilakukan oleh Jawatan Pertanian Rakyat. Pada

tahun 1960, penyebaran benih dilakukan oleh gabungan pemancar bibit

(penangkar). Selanjutnya pada tahun 1971, dibentuk Badan Benih Nasional yang

tugas pokoknya adalah merencanakan dan merumuskan kebijaksanaan di bidang

perbenihan.

Permasalahan dalam perbenihan yang berhubungan dengan mutu benih dapat

muncul pada saat proses produksi benih, prosessing, penyimpanan dan pada

proses pengujian mutu benih. Benih sebagai sarana produksi yang selalu

diharapkan tersedia tepat waktu, tepat jumlah, tepat jenis dan tepat harga, sangat

ditentukan oleh ketepatan dalam perencanaanjumlah dan jenis benih yang akan

diproduksi, distribusi dan pemasarannya (Kamil, 1979).

Kemurnian benih adalah tingkatan kebersihan benih dari materi materi non

benih / seresah, atau benih varietas lain yang tidak diharapkan. Biasanya

kemurnian benih dinyatakan dalam persentase (%). Pengujian kemurnian benih

adalah pengujian yang dilakukan dengan memisahkan tiga komponen benih

murni, benih tanaman lain, dan kotoran benih yang selanjutnya dihitung

presentase dari ketiga komponen benih tersebut. Tujuan analisis kemurnian adalah

5
untuk menentukan komposisi benih murni, benih lain dan kotoran dari contoh

benih yang mewakili lot benih (Heddy. G. 2000).

Pengujian kemurnian benih adalah pengujian yang dilakukan dengan

memisahkan tiga komponen benih murni, benih tanaman lain, dan kotoran benih

yang selanjutnya dihitung presentase dari ketiga komponen benih tersebut .

Adapun tujuan pengujian kemurnian benih adalah:

1. Untuk mengetahui komponen jenis benih yang ada dalam kelompoknya

2. Untuk mengetahui identitas dari berbagai spesies benih dan partikelpartikel

lainnya yang ada dalam kelompoknya

3. Untuk menjamin kemurnian (genuineness) mutu benih dan kualitas (quality)

benih

4. Mengetahui kebenaran varietas dan tersedianya benih bermutu secara

berkesinambungan

5. Untuk melindungi konsumen benih (Agrawal, 1982).

Uji kemurnian benih sebaiknya merupakan uji yang pertama kali dilakukan.

Benih murni yang diperoleh itu baru kemudian dipakai untuk uji yang lain, yaitu

presentase kadar air dan viabilitas benih. Hal ini dilakukan karena nilai yang ingin

diperoleh adalah nilai dari benih murni, bukan dari benih campuran(Kuswanto,

1997).

Benih bermutu tinggi ditentukan oleh dua faktor, yaitu faktor genetik dan

faktor fisik. Menurut Kartasapoetra (1992), faktor faktor genetik adalah benih

yang berasal dari varietas-varietas yang memiliki genotipe yang baik seperti hasil

produksi tinggi, tahan terhadap hama dan penyakit, responsif terhadap kondisi

6
pertumbuhan yang lebih baik, atau tahan terhadap cekaman abiotik. Faktor fisik

adalah benih bermutu tinggi dengan kemurnian yang tinggi, daya kecambah yang

tinggi, bebas dari kotoran dan benih rerumputan serat bebas dari hama dan

penyakit, serta kadar air benih yang rendah (Kamil, 1986).

7
III. METODE PRAKTIKUM

A. Alat dan Bahan

Alat yang dibutuhkan untuk praktikum meliputi meja pemurnian, pinset,

petridish, dan timbangan listrik. Bahan yang digunakan pada praktikum ini

meliputi benih padi, jagung dan kedelai.

B. Prosedur Kerja

1. Contoh kerja dari benih yang ada diambol dengan jalan pengurangan dengan

memakai pembagi benih sehingga diperoleh berat benih yang diinginkan dan

timbangan.

2. Alat-alat yang dipergunakan disiapkan.

3. Contoh kerja diperiksa sedikit demi sedikit di atas meja pemurnian dengan teliti

dan dipisahkan ke dalam komponen-komponen : benih murni, biji

tanaman/varietas lain, biji gulma dan kotoran benih.

4. Persentase berat komponen-komponen tersebut dihitung terhadap berat contoh

benih. Persentase benih murni adalah (100% - jumlah persentase komponen-

komponen).

8
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Tabel 1. Pengujian Kemurnian Benih


Berat Komponen Presentase
Komoditas
M VL KB BM VL KB

Padi 9,9 - 10,2 49,25% - 50,75%

Jagung 14,7% 7,6% 14,3% 40,164% 20,765% 39,071%

Kedelai 19,7% 7,0% 13,3% 32,5% 21,3% 40,4%

Presentase :
Padi

% BM = 100%
8,2
= 20,1 100%

= 40,8%

% KB = 100%
12,1
= 20,1 100%

= 60,2%
Kedelai

% BM = 100%
10,7
= 32.9 100%
= 32,5%

% VL = 100%
7
= 32,9 100%

= 21,3%

% KB =
100%
13,3
= 32,9 100%

9
= 40,4 %
Jagung

% BM = 100%
26,
= 44,4 100%

= 25,2%

% VL = 100%
6,6
= 44,4 100%

= 14,86%

% KB = 100%
11,2
= 44,4 100%

= 58,55%

10
B. Pembahasan

Kemurnian benih adalah tingkatan kebersihan benih dari materi materi non

benih / seresah, atau benih varietas lain yang tidak diharapkan. Biasanya

kemurnian benih dinyatakan dalam persentase (%). Pengujian kemurnian benih

adalah pengujian yang dilakukan dengan memisahkan tiga komponen benih

murni, benih tanaman lain, dan kotoran benih yang selanjutnya dihitung

presentase dari ketiga komponen benih tersebut. Tujuan analisis kemurnian adalah

untuk menentukan komposisi benih murni, benih lain dan kotoran dari contoh

benih yang mewakili lot benih (Heddy. G. 2000).

Sedangakan menurut Kartasapoetra (1982), kemurnian benih adalah

persentase berdasarkan berat benih murni yang terdapat dalam suatu contoh benih.

Pengujian kemurnian benih yang juga merupakan deskripsi mutu benih yang pada

umumnya dicantumkan pada kemasan oleh pihak produsen merupakan pengujian

yang bertujuan untuk memperoleh persentase kemurnian suatu lot benih. Prinsip

dari pengujian ini yaitu dengan memisahkan benih ke dalam tiga komponen, yaitu

benih murni (benih yang dimaksud oleh pihak produsen), benih tanaman lain

(benih komoditas lain atau varietas lain yang masih satu komoditas), dan kotoran

benih. Untuk memperoleh persentase kemurnian maka benih murni ditimbang

pada unit penimbang, dan hasilnya dibandingkan dengan standar minimum benih

murni.

Pengujian kemurnian benih adalah pengujian yang dilakukan dengan

memisahkan tiga komponen benih murni, benih tanaman lain, dan kotoran benih

yang selanjutnya dihitung presentase dari ketiga komponen benih tersebut

11
(xxxx,xxxx). Uji kemurnian benih merupakan tahapan yang harus dilakukan untuk

mengendalikan mutu genetik suatu lot benih (Mulsanti et.al, 2013). Uji kemurnian

benih sebaiknya merupakan uji yang pertama kali dilakukan. Benih murni yang

diperoleh itu baru kemudian dipakai untuk uji yang lain, yaitu presentase kadar air

dan viabilitas benih. Hal ini dilakukan karena nilai yang ingin diperoleh adalah

nilai dari benih murni, bukan dari benih campuran (Kuswanto, 1997).

Analisa kemurnian benih biasanya dilakukan secara duplo. Beda antara hasil

ulangan pertama dan kedua tidak boleh lebih tinggi atau lebih rendah dari 5%.

Setiap komponen ditimbang lalu ditotal, dimana berat total seharusnya dengan

berat mula-mula keseluruhan contoh uji untuk kemurnian tetapi bisa kurang.

Persentase dari setiap komponen didapatkan dari berat masing-masing komponen

dibagi berat total kali 100%. Hasilnya ditulis dalam dua desimal atau dua angka di

belakang koma (Kartasapoetra, 1982).

Uji kemurnian benih merupakan kegiatan-kegiatan untuk menelaah tentang

kepositifan fisik komponen-komponen benih termasuk pula persentase berat dari

benih murni (pure seed), benih tanaman lain, dan kotoran pada masa benih.

Benih uji dipisahkan menjadi 3 komponen yaitu ;

1. Benih murni adalah segala macam biji-bijian yang merupakan jenis/ spesies

yang sedang diuji. Yang termasuk benih murni diantaranya adalah:

a) Benih masak utuh

b) Benih yang berukuran kecil, mengkerut, tidak masak

c) Benih yang telah berkecambah sebelum diuji

12
d) Pecahan/ potongan benih yang berukuran lebih dari separuh benih

yang sesungguhnya, asalkan dapat dipastikan bahwa pecahan benih

tersebut termasuk kedalam spesies yang dimaksud

e) Biji yang terserang penyakit dan bentuknya masih dapat dikenali

2. Benih varietas lain adalah jenis/ spesies lain yang ikut tercampur dalam

contoh dan tidak dimaksudkan untuk diuji.

3. Kotoran benih, adalah benih dan bagian dari benih yang ikut terbawa dalam

contoh. Yang termasuk kedalam kotoran benih adalah:

a) Benih dan bagian benih

b) Benih tanpa kulit benih

c) Benih yang terlihat bukan benih sejati

d) Biji hampa tanpa lembaga pecahan benih 0,5 ukuran normal

e) Cangkang benih ataupun batu

Menurut Kamil (1979), cara yang diperlukan untuk menjaga dan

memelihara kemurniaan benih adalah dengan sertifikasi benih. Sertifikasi benih

merupakan bagian dari system distribusi yang dirancang untuk memelihara dan

mempertahankan identitas dan kualitas suatu tanaman atau benih (Harjadi, 1979).

Menurut Agrawal (1982) tujuan dari sertifikasi benih adalah untuk menjamin

kemurnian (genuineness) dan kualitas (quality) benih yang akan dibeli konsumen.

Kemurnian varietas merupakan syarat yang sangat penting dalam pertanian

modern. Sertifikasi benih dilaksanakan dengan urutan prioritas sebagai berikut:

1. Serifikasi Benih Dasar (F.S.) biasa dilakukan di LPP Sukamandi.

2. Sertifikasi Benih Pokok (S.S.) dilakukan oleh Balai Benih Induk.

13
3. Sertifikasi Benih Sebar (E.S.) dengan label biru (produsen) oleh BAP.

Dalam pengujian benih menurut Sutopo (1985), tentu ada komponen-

komponen yang harus diuji dalam pengujian tersebut, antara lain :

1. Benih murni adalah benih yang termasuk dari spesie yag dinyatakan

berdasarkan penemuan dengan uji laboratorium. Yang termasuk ke dalam

kategori benih murni dari suatu spesies diantaranya adalah :

Benih masak dan utuh

Benih muda

Benih yang terserang penyakit

Benih mengerut tidak masak

Benih yang berukuran kecil

Benih yang telah berkecambah sebelum di uji

2. Varietas lain merupaan yang mencakup semua benih dari tanaman pertanian

yang ikut tercampur dalam contoh kerja benih dan tidak dimaksudkan untuk

diuji. Dalam kata lain, biji tersebut tidak termasuk kedalam spesies yang

dimaksud.

3. Biji gulma adalah biji yang mencakup semua benih ataupun bagian vegetatif

tanaman yang termasuk dalam kategori gulma. Baik pecahan gulma yang

berukuran setengah maupun kurang dari setengah ukuran yang sesungguhnya

tetapi masih mempunyai embrio (Sutopo, 1985).

4. Kotoran benih yang biasa tercampur dapat digolongkan menjadi tiga yaitu

tanah, pasir, kerikil, potongan bagian tanaman dan nematoda galls, fungus

bodies. Kotoran ini dapat tercampur dengan benih pada waktu dilakukan

14
perontokan, prosesing dan pengemasan. Berikut adalah yang termasuk kotoran

benih meliputi :

a. Benih dan bagian benih

b. Benih tanpa kulit benih

c. Benih yang terlihat bukan benih sejati

d. Biji hampa tanpa lembaga pecahan benih = 0,5 ukuran normal 12

e. Cangkang benih, Kulit benih, Bahan lain, Sekam, pasir, partikel tanah,

jerami, ranting,daun, tangkai, dll (Setyastuti, 2004).

Sertifikasi benih merupakan suatun kegiatan dalam program produksi benih

unggul dan kualitas tinggi dari varietas-varietas genetik unggul yang selalu

terpelihara dan dipertanggungjawabkan. Sertifikasi benih menunjukkan suatu

perlindungan bagi keberadaan benih dengan persyaratan keunggulannya. Salah

satu peranan sertifikasi benih dalam pembangunan pemerintah adalah pengadaan

dan penyebaran benih, untuk dijualbelikan dipasaran bagi masyarakat (Soetopo,

2004). Hubungan sertifikasi dengan kemurnian benih adalah sebelum disertifikasi

benih diuji dulu dengan melakukan pengujian kemurnian benih agar benih

tersebut bisa diperjualbelikan dipasaran dan juga benih tersebut harus dicek dulu

oleh pemerintah agar benih tersebut tidak illegal. Benih yang sudah dicek oleh

pemerintah bisa diperjual belikan dipasaran untuk masyarakat.

Program sertifikasi benih bertujuan untuk memelihara kemurnian dan multi

benih dari varietas unggul, menyediakan secara kontinu kepada petani. Kegiatan

itu meliputi:

1. Pengujian Lapang

15
2. Pengujian di Laboratorium

3. Pemeriksaan alat-alat pengolahan benih, cara dan temmpat penyimpanan

benih (Suwandi, dkk., 1995).

Menurut Wahyuni (2005) pada prinsipnya sertifikasi benih terdiri atas 6

tahap, yaitu:

1. Verifikasi lahan tempat produksi benih. Kriteria lahan untuk produksi benih :

a. Lahannya subur dan memiliki sistem pengairan yang jelas,

b. Bebas dari hama dan penyakit

c. Lahan di sekitarnya tidak ditanami komoditas atau varietas yang sama,

d. Tidak memproduksi benih bersamaan dengan tanaman yang masih satu

famili.

2. Verifikasi sumber benih yang digunakan. Sumber benih harus jelas,

kemurniannya terjamin, dan kelas benihnya minimal satu kelas lebih tinggi

daripada benih yang akan diproduksi. Kelas Breeder Seed / Benih Penjenis,

Foundation Seed / Benih Dasar, atau minimal Stock Seed / Benih Pokok

untuk memproduksi Extention Seed / Benih Sebar.

3. Pengawasan Tanaman di Lahan (oleh BPSB). Pengawasan dilakukan sejak

penetapan lahan, proses budidaya, sampai panen. Beberapa hal yang harus

diperhatikan:

a. Isolasi atau jarak antara petak produksi benih dengan petak pertanaman

lain di sekitarnya harus sesuai dengan ketentuan.

b. Pertumbuhan tanaman harus sesuai dengan deskripsinya.

c. Pelaksanaan roguing harus teliti dan sesuai ketentuan

16
4. Penentuan saat panen yang tepat (masak fisiologis).

5. Pengawasan dan pengujian benih selama prosesing dan pengemasan.

Pengujian benih dilakukan secara laboratoris yang meliputi viabilitas , kadar

air, kemurnian dan kesehatan benih. Kadangkala dilakukan pula uji

homogenitas dan verifikasi terhadap populasi benih.

6. Pemberian sertifikat dan label. Dasar dari pemberian sertifikat dan masa

berlakunya sertifikat adalah hasil pengawasan lapangan dan uji laboratorium.

Kemurnian benih memiliki manfaat-manfaat yang ada di dalamnya.

Mengetahui kemurnian benih yang awalnya berasal dari proses pengujian

kemurnian benih adalah supaya mengetahui komposisi benih dalam kelompok

yang diuji sehingga nantinya diharapkan benih yang ditanam telah murni hanya

benih yang diinginkan yang ditanam dengan kualitas yang baik. Menurut

Setyastuti (2004), manfaat dari Pengujian kemurnian benih antara lain untuk

mengetahui komposisi contoh kerja benih, kemurnian, dan identitasnya yang akan

mencerminkan komposisi lot benih yang didasarkan pada berat komponen

pengujian. Benih murni yang merupakan salah satu komponen dalam pengujian

benih, sangat penting dalam menghasilkan benih yang berkualitas tinggi. Pada

pengujian daya berkecambah, benih yang diuji diambil dari fraksi benih murni.

Dengan demikian hasil pengujian kemurnian benih dan daya kecambah benih

mempengaruhi nilai benih untuk tujuan pertanaman.

Menurut Soetopo (2004), tujuan utama dari analisis kemurnian benih adalah:

1. Untuk menentukan komposisi berdasarkan berat dari contoh benih yang akan

diuji atau dengan kata lain komposisi dari kelompok benih.

17
2. Identitas dari berbagai spesies benih dan partikel-partikel lain yang terdapat

dalam contoh.

Sedangkan manfaat pengujian kemurnian benih antara lain :

1. Untuk mengetahui komponen jenis benih yang ada dalam kelompoknya

2. Untuk mengetahuinya identitas dari berbagai spesies benih dan partikel lainnya

yang ada dalam kelompoknya

3. Untuk melindungi konsumen benih.

Pengujian benih merupakan metode untuk menentukan nilai pertanaman di

lapangan. Oleh karena itu, komponen-komponen mutu benih yang menunjukan

korelasi dengan nilai pertanaman benih di lapang harus dievaluasi dalam

pengujian. Dalam pengujian benih mengacu dari ISTA, dan beberapa penyesuaian

telah diambil untuk mempertimbangkan kebutuhan khusus (ukuran, struktur, pola

perkecambahan) jenis-jenis yang dibahas di dalam petunjuk ini. Beberapa

penyesuaian juga telah dibuat untuk menyederhanakan prosedur pengujian benih.

Menurut ISTA (2010), prosedur untuk melakukan analisis kemurnian benih

adalah:

1. Pengambilan contoh primer (primary sample). Contoh primer dapat diambil

dengan tangan atau dengan seed trier, yaitu alat. Apabila menggunakan

tangan, maka pengambilan contoh harus dilakukan pada kedalaman 40 cm

dari bulk / wadah.

2. Contoh campuran (composite sample), semua contoh primer dijadikan satu

dan dicampur dalam satu wadah. Jumlah yang terdapat pada contoh campuran

masih akan dikurangi untuk pengujian.

18
3. Contoh kirim (submitted sample), berasal dari contoh campuran yang telah

dikurangi, sesuai dengan berat minimum yang telah ditetapkan oleh

Padi = 1000 gram

Jagunng = 1500 gramgram

Kacang tanah = 1000 gram

Kedelai = 1000 gram

Kacang hijau = 1000 gram

4. Contoh kerja (working sample) berasal dari submitted sampel. Pengambilan

working sample, dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu (Harjadi, 1979):

a. Secara duplo, yaitu pengambilan contoh kerja yang dilakukan dua kali.

b. Secara simplo, adalah pengambilan contoh kerja yang dilakukan satu kali.

5. Penimbangan working sample

6. Pengujian kemurnian

7. Menghitung faktor kehilangan, jika diatas 5 % maka diulang pengambilan

contohnya.Jika faktor kehilangan kurang dari 5 %, maka dihitung persentase

kemurniannya

8. Ditulis hasil analisisnya.

19
Gambar 1. Skema Analisis Kemurnian Benih (ISTA, 2010).

Dari skema diatas dapat diketahui bahwa pengambilan contoh benih dapat

dilakukan secara simplo yaitu dengan melakukan pengambilan contoh kerja hanya

satu kali, tetapi jika secara duplo maka pengambilan contoh kerja dilakukan 2 kali

setengah berat contoh kerja (Sutopo, 2002).

Adapun beberapa metode untuk menguji kemurnian benih antara lain :

1. Metode Kue ( Pie Methode )

Dengan cara benih ditebarkan di meja serata mungkin hingga membentuk

bulatan seperti kue. Hamparan benih tersebut kemudian dibagi menjadi beberapa

bagian dan diberi nomor, setelah itu secara acak dipilih nomor mana yang akan

dipakai untuk pengujian.

2. Metode Mangkuk ( Cup methode )

20
Mangkuk ditata di atas nampan dengan jumlah dan ukuran tertentu. Masing

masing mangkuk diberi nomor dan benih ditebarkan serata mungkin sampai

semua mangkuk terisi penuh dan benih habis terbagi rata. Seacara acak dipilih

mangkuk nomor berapa yang akan dipakai untuk pengujian.

Pada pengujian daya berkecambah, benih yang diuji diambil dari fraksi benih

murni.Dengan demikian hasil pengujian kemurnian benih dan daya kecambah

benih mempengaruhi nilai benih untuk tujuan pertanaman (Kamil, 1982).

Sebagai langkah pertama dalam melaksanakan pengujian benih adalah

menyediakan suatu contoh benih yang dapat dianggap seragam dan memenuhi

persyaratan yang telah ditentukan oleh ISTA. Suatu contoh benih yang diuji harus

dapat mewakili keseluruhan kelompok benih yang lebih besar jumlanya (Justice

dan Louis, 1990).

Pada praktikum kali ini telah dilakukan uji kemurnian benih. Uji kemurnian

benih pada praktikum kali ini dilakukan dengan cara memisahkan benih padi,

jagung, dan kedelai yang akan diuji dengan komponen-komponen lain selain

benih tersebut. Pengujian dilaksanakan di atas meja pemurnian benih. Hasil dari

pemurnian diketahui terdapat varietas lain dan kotoran benih dari sekumpulan

benih yang ada. Persentase dari benih padi yaitu BM 40,8%, KB 60,2%, dan VL

0%. Selanjutnya persentase dari benih jagung yaitu BM 58,55%, KB 25,2%, dan

VL 14,86%. Sedangkan persentase dari benih kedelai yaitu BM 32,5%, KB 40,4%

dan VL 21,3%. Hasil praktikum yang didapatkan tidak sesuai dengan standar yang

diterapkan oleh ISTA, standar yang diterapkan ISTA untuk kemurnian benih padi

yang baik adalah untuk benih penjenis (breeder seed) dan benih dasar (foundation

21
seed) = 99 %. Sedangkan untuk benih sebar (extention seed) = 98 % (ISTA,2010)

Sehingga dapat disimpulkan bahwa sampel benih yang di uji memIliki kemurnian

yang rendah.

Berikut adalah dokumentasi foto saat melakukan praktikum acara I pengujian

kemurnian benih :

Gambar 2. Timbangan listrik, yaitu alat yang digunakan untuk memisahkan


antara benih murni, benih varietas lain, dan kotoran benih.

Gambar 3. Proses pemisahan antara benih murni, varietas lain, dan kotoran
benih.

22
V. PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari praktikum dan pembahasan yang telah dilakukan dapat diambil

kesimpulan bahwa :

1. Kemurnian benih adalah merupakan persentase berdasarkan berat benih

murni yang terdapat dalam suatu contoh benih.

2. Pengujian kemurnian benih merupakan suatu proses atau kegiatan yang

berfungsi untuk menelaah kepositifan fisik komponen komponen pada

benih.

3. Persentase dari benih padi yaitu BM 40,8%, KB 60,2%, dan VL 0%.

4. Persentase dari benih jagung yaitu BM 58,55%, KB 25,2%, dan VL 14,86%.

5. Persentase dari benih kedelai yaitu BM 32,5%, KB 40,4% dan VL 21,3%.

B. Saran

Sebelum melakukan praktikum sebaiknya meja pemurnian dibersihkan terlebih

dahulu dan pada saat melakukan uji kemurnian praktikan lebih teliti dalam

memisahkan komponen pada benih murni, varitas benih lain dan kotoran lain agar

hasilnya sesuai yang diharapakan.

23
DAFTAR PUSTAKA

Agrawal, R.L. 1982. Seed Technology. Oxford and IBH Publishing Co. New
Delhi.

Budi, D. W . 2008. Pengujian Benih. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Desmawan. 2010. Panduan Teknik Pemurnian. Fakultas Pertanian Gadjah Mada.


Yogyakarata.

Harjadi, S.S., 1979. Pengantar Agronomi. Garmedia, Jakarta.

Heddy, G. 2000. Biologi Pertanian. Rajawali Press. Jakarta.

ISTA. 2006. The International Seed Testing Association. Bassersdorf CH,


Switzerland.

Justice, O. L dan Lois, N. Bass. 1990. Praktek dan Penyimpanan Benih. Rajawali
Pers: Jakarta

Kamil, Jurnalis. 1979. Teknologi Benih I. Angkasa Raya, Padang.

Kartasapoetra, dkk., 1992. Teknologi Benih, Pengolahan Benih dan Tuntunan


Praktikum. Rineka Cipta, Jakarta.
Kuswanto, H. 1997. Analisis Benih. Penerbit Andi, Yogyakarta.

Mulsanti, Indria W.; M.Surahman; S.Wahyuni dan D.W. Utami. 2013. Identifikasi
galur tetua padi hibrida dengan marka SSR spesifik dan pemanfaatannya
dalam uji kemurnian benih. Penelitian Pertanian Tanaman Pangan 32 (1):
1-8.

Santoso. 2004. Perkecambahan dan pertumbuhan palem Jepang (Actinophloeus


mochorturi) akibat perendaman dalam lumpur. Jurnal Natur Indonesia 6 :
99-100.

Setyastuti, Purwanti. 2004. Kajian Suhu Ruang Terhadap Kualitas Benih Kedelai
Hitam dan Kedelai Kuning. Jurnal Ilmu Pertanian. Vol. 11 No. 1,2004:
22-3

Soetopo, Lita. 2004. Teknologi Benih. Rajawali Press, Jakarta.

Sutopo, L. 2002. Teknologi Benih. Raja Grafindo Persada, Jakarta.

24
Suwandi, N. Sumarni dan F.A. Bahar. 1995. Aspek Agronomi Cabai. Penebar
Swadaya, Jakarta.

Wahyuni, S., 2005. Pengantar Sertifikasi Benih dan Sistem Manajemen Mutu.
Makalah. Disampakan pada Lokakarya Pengembangan Jaringan Alih
Teknologi Produksi dan Distribusi Benih Sumber di Balitpa, 21-22
November 2005, Sukamandi.

25
LAMPIRAN

26