Anda di halaman 1dari 27

LAPORAN PRAKTIKUM

TEKNOLOGI DAN PRODUKSI BENIH

ACARA V
PENGUJIAN DAYA PERKECAMBAHAN DAN INDEKS VIGOR
PERKECAMBAHAN

Oleh :
Alfian Nopara Saifudin
NIM A1D015033
Rombongan 2
Pj asisten : Farichatul Mufaroh

KEMENTRIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PERTANIAN
PURWOKERTO
2017
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Benih pada spesies tanaman mempunyai daya tumbuh yang berbeda-beda

ada yang memiliki daya tumbuh besar dan ada pula yang kecil. Secara ideal,

semua benih harus memiliki kekuatan tumbuh yang tinggi sehingga saat ditanam

pada kondisi lingkungan yang berbeda-beda akan tetap tumbuh serta berproduksi

tinggi dengan kualitas yang baik. Kelangsungan daya hidup benih ditunjukan oleh

persentase benih yang akan menyelesaikan perkecambahan, kecepatan

perkecambahan dan vigor akhir yang menyelesaikan perkecambahannya. Proses

perkecambahan suatu benih, memerlukan kondisi lingkungan yang baik, viabilitas

benih yang tinggi dan pada beberapa jenis tanaman tergantung pada upaya

pemecahan dorminasinya. Tingkat vigor merupakan komponen penting dalam

menguji kualitas suatu benih. Vigor benih harus sesuai dengan kemauan dan

lingkungan sehingga dapat diatur saat berkecambah dan membantu proses

produksi dengan harapan mendapat hasil yang maksimal.

Tujuan pengujian daya tumbuh benih adalah untuk mendapatkan keterangan

dari benih yang diuji agar mudah untuk ditanaman di lapangan. Dari benih yang

baik akan muncul kecambah yang normal, sebaliknya benih yang rusak, rendah

kualitasnya menghasilkan kecambah atau bibit abnormal. Kecambah atau bibit

abnormal adalah bibit yang tidak memenuhi syarat sebagai bibit normal.

Abnormalitas dapat terjadi pada plumula terbelah, kerdil, akar tumbuh lemah atau

tidak tumbuh sama sekali, koleoptil kosong atau tidak keluar seluruhnya. Dapat

132
juga plumula dan akar tumbuh melingkar-lingkar (spiral). Pada Legume

abnormalitas berupa tidak ada epikotil, hipokotil pendek, menjadi tebal atau

belah, akar terlambat perkembangannya. Dapat juga kotiledon dan epikotil busuk

atau rusak.

Benih dikatakan berkecambah jika dari benih tersebut telah muncul

plumula dan radikula dari embrio. Sebagian umum embryo axis yang pertama kali

menonjol keluar dari biji adalah radikula, kemudian diikuti oleh plumule.

Radikula akan tumbuh memanjang dan kemudian dari radikula ini akan keluar

bulu bulu akar. Plumula akan tumbuh dan membesar menuju arah atangnya

sinar matahari. Plumula dan radikula yang tumbuh akan dapat menghasilkan

kecambah yang normal, jika faktor lingkungan mendukung.

B. Tujuan

Menguji daya berkecambah berbagai benih tanaman, mengidentifikasi

kecambah/ bibit normal dan abnormal, dan membiasakan dengan konsep indeks

matematis vigor benih.

133
II. TINJAUAN PUSTAKA

Perkecambahan (germination) merupakan serangkaian peristiwa-peristiwa

penting yang terjadi sejak benih dorman sampai ke bibit yang sedang tumbuh,

tergantung pada viabilitas benih, kondisi lingkungan yang cocok dan pada

beberapa tanaman tergantung pada usaha pemecahan dormansi. Viabilitas benih

menunjuk pada persentase benih yang akan menyelesaikan perkecambahan,

kecepatan perkecambahan dan vigor akhir dari kecambah-kecambah yang baru

berkecambah (Hardjadi, 1979).

Secara umum vigor diartikan sebagai kemampuan benih untuk tumbuh

normal pada keadaan lingkungan yang suboptimal. Vigor dapat dibedakan atas

vigor benih, vigor kecambah, vigor bibit dan vigor tanaman (Sutopo, 2002). Vigor

benih adalah komponen kualitas penting yang berguna untuk menduga lama benih

dalam penyimpanan (Pandey et al., 2013). Vigor atau kekuatan tumbuh benih

memberikan informasi akan kemungkinan kemampuan benih untuk tumbuh

menjadi tanaman normal dan berproduksi wajar meskipun keadaan biofisik

lapangan produksi suboptimum. Vigor kekuatan tumbuh (VKT), meliputi tinggi

bibit (cm), jumlah daun (helai), panjang akar, bobot kering akar (g), bobot kering

tajuk (g), penimbangan bobot kering tajuk, bobot kering bibit (g), bobot kering

bibit dan bibit yang hidup dari kecambah normal yang dipindahkan(%).

Kecambah digunakan adalah kecambah normal yang menampakkan pertumbuhan

morfologi kecambah yang baik. kecambah normal adalah munculnya plumula dan

radikula yang diikuti tumbunya akar-akar lateral secara sempurna). Vigor

134
kekuatan tumbuh (VKT) benih/bibit yang mampu tumbuh di lapang menghasilkan

bibit/tanaman normal yang berproduksi normal pada kodisi sub-optimum atau

menghasilkan produk di atas normal pada kondisi optimum. Indeks vigor hiptetik

(IVH) bibit merupakan hasil perhitungan perbandingan semua komponen tumbuh

bibit yang dibandingkan dengan umur bibit. Dengan demikian bibit yang

mempunyai indeks vigor hipotetik lebih besar berarti pertumbuhan bibit tersebut

lebih cepat, karena pertambahan bobot kering bibit lebih besar (Saleh dan Somba,

2010).

Pada hakikatnya vigor benih harus relevan dengan tingkat produksi, artinya

dari benih yang bervigor tinggi akan dapat dicapai tingkat produksi yang tinggi.

Pada umumnya uji vigor benih hanya sampai pada tahapan bibit. Karena terlalu

sulit dan mahal untuk mengamati seluruh lingkaran hidup tanaman. Oleh karena

itu digunakanlah kaidah korelasi misal dengan mengukur kecepatan berkecambah

sebagai parameter vigor, karena diketahui ada korelasi antara kecepatan

berkecambah dengan tinggi rendahnya produksi tanaman (Koes dan Arief, 2011).

Benih yang berkualitas tinggi akan menghasilkan semai yang sehat dan

memiliki kondisi pertumbuhan yang baik dan sesuai dengan materi genetik benih.

Masalah yang dihadapi dalam penyimpanan benih makin kompleks sejalan

dengan meningkatnya kadar air benih. Penyimpanan benih yang berkadar air

tinggi dapat menimbulkan resiko terserang cendawan. Benih bersifat higroskopis,

sehingga selama penyimpanannya akan mengalami kemunduran tergantung dari

tingginya faktor-faktor kelembaban relatif udara dan suhu lingkungan tempat

benih disimpan (Suryanto, 2013).

135
Mutu benih dapat mengalami kemunduran seiring dengan berjalannya

waktu dan tidak dapat dikembalikan (Jyoti and Malik, 2013). Faktor-faktor yang

mempengaruhi viabilitas benih selama penyimpanan dibagi menjadi faktor

internal dan eksternal. Faktor internal mencakup sifat genetik, daya tumbuh dan

vigor, kondisi kulit dan kadar air benih awal. Faktor eksternal antara lain kemasan

benih, komposisi gas, suhu dan kelembaban ruang simpan (Azadi and Younesi,

2013).

136
III. METODE PRAKTIKUM

A. Bahan dan Alat

Kertas label, kertas merang, benih padi dan jagung, plastik bening,

petridish, sprayer, ember.

B. Prosedur Kerja

1. Pengujian Daya Perkecambahan Dengan Kertas Gulung

Metode Uji Kertas Digulung dalam plastik (UKDdp) sebagai berikut :

a. Kertas direndam air sampai seluruh bagiannya basah, kemudian di pres

dengan alat pengepres kertas hingga air tidak mengalir lagi.

b. Hamparkan 1 (satu) lembar plastik lalu letakkan tiga lembar kertas merang

di Atasnya.

c. Selanjutnya benih sebanyak 20 butir diletakan secara zig zag di atas kertas

merang, kemudian ditutup dengan 2 - 3 lembar kertas merang, lipat bagian

bawah kertas dan digulung. Kemudian ditulis tanggal tanam, tanggal

panen benih, pada label yang ditempelkan di gulungan kertas.

d. Gulungan kertas yang telah diberi ikatan/isolasi agar tidak lepas disusun

dalam germinator dengan posisi lipatan di bawah.

e. Pengamatan dilakukan 2 (dua) kali yaitu perhitungan pertama 5 hari

setelah tanam dan perhitungan ke dua 10 hari setelah tanam.

f. Pengamatan dengan menghitung benih normal, abnormal, biji keras, biji

segar dan biji mati, kemudian membuat persentasenya.

137
2. Pengujian Indeks Vigor Perkecambahan

a. Kecambahkan benih-benih tersebut di atas sebanyak 20 butir, diulangi 2

kali di dalam cawan petri dengan media kertas filter.

b. Pengamatan dilakukan setiap hari selama 10 hari, hitung benih yang

berkecambah (diambil). Sebagai kriteria berkecambah adalah setelah

keluar akar sepanjang 5 mm.

c. Dihitung indeks vigor dan coefficient vigor dengan rumus-rumus di atas.

138
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Tabel.5.1 Pengujian Daya Perkecambahan Dengan Kertas Gulung


Benih Perkecambahan Normal Perkecambahan Tidak
Abnormal Berkecambah
Jagung 18 1 1

Perhitungan = jumlah benih berkecambah normal / jumlah semua benih yang


ditanam

Kesimpulan : Daya perkecambahan benih jagung pada media kertas merang


sebesar 90%

Tabel 5.2 Pengujian Indeks Vigor Perkecambahan


Pengamatan ke-
Benih
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Padi 0 0 7 11 1 1 0 0 0 0

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Indeks Vigor (IV) = + + + + + + + + +
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

0 0 7 11 1 1 0 0 0 0
= + + + + + + + + +
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

140+165+12+10
= = 5,45
60

100(1+2+3+4+5+6+7+8+9+10)
Coefficient Vigor (CV) = (0.1)+(0.2)+((7.3)+(11.4)+(1.5)+(1.6)+(0.7)+(0.8)+..(0.10)

5500
=
76

= 72,36

Kesimpulan = Indeks vigor perkecambahan benih padi pada media kertas merang
di dalam cawan sebesar 5,45 dan koefisien vigornya 72,36.

139
B. Pembahasan

Menurut Ichsan (2006), vigor dicerminkan oleh vigor kekuatan tumbuh dan

daya simpan benih. Kedua nilai fisiologis ini memungkinkan benih tersebut untuk

tumbuh menjadi normal meskipun keadaan biofisik dilapangan produksi sub

optimum. Tingkat vigor tinggi dapat dilihat dari penampilan kecambah yang tahan

terhadap berbagai faktor pembatas yang mempengaruhi pertumbuhan dan

perkembangannya.

Vigor benih merupakan keadaan fisiologi yang ditentukan oleh faktor

genetik dan faktor lingkungan. Pemupukan merupakan salah satu faktor

lingkungan yang mempengaruhi tanaman induk di lapang. Benih yang vigor akan

tanggap terhadap pemupukan. Tanaman hasil pemupukan yang tepat akan

mempunyai penampilan sempurna dan pada akhirnya akan menghasilkan benih

yang vigor. Peningkatan vigor benih dengan pemupukan berkorelasi dengan

peningkatan susunan kimia benih. Unsur pupuk yang memegang peranan penting

diantaranya unsur fosfat (P). Fosfat memelihara energi yang sangat diperlukan

selama proses perkecambahan (Madauna, 2007).

Viabilitas adalah kemampuan benih atau daya hidup benih untuk tumbuh

secara normal pada kondisi optimum. Berdasarkan pada kondisi lingkungan

pengujian viabilitas benih dapat dikelompokkan ke dalam viabilitas benih dalam

kondisi lingkungan sesuai (favourable) dan viabilitas benih dalam kondisi

lingkungan tidak sesuai (unfavourable). Pengujian viabilitas benih dalam kondisi

lingkungan tidak sesuai termasuk kedalam pengujian vigor benih. Perlakuan

dengan kondisi lingkungan sesuai sebelum benih dikecambahkan tergolong

140
untukmenduga parameter vigor daya simpan benih, sedangkan jika kondisi

lingkungan tidak sesuai diberikan selama pengecambahan benih maka tergolong

dalam pengujian untuk menduga parameter viabilitas tumbuh benih. Pengujian

untuk menunjukkan kualitas benih tidak hanya ditentukan dari kualitas fisik,

fisiologis, dan genetik, tetapi juga ditentukan oleh tingkat kesehatan. Secara visual

kondisi benih sehat sulit dibedakan dengan benih yang terinfeksi patogen,

sebagian besar tidak menunjukkan gejala apa pun, secara morfologis, benih

tampak sehat (Bramasto, 2011).

Menurut Copeland dan McDonald (2001), viabilitas benih menunjukan daya

hidup benih, aktif secara metabolik dan memiliki enzim yang dapat mengkatalis

reaksi metabolik yang diperlukan untuk perkecambahan dan pertumbuhan

kecabah. Viabilitas absolt merupakan indikasi viabilitas benih yang menunjukan

benih kuat tumbuh dilapang dalam kondisi yang suboptimum, dan tahan untuk

disimpan dalam kondisi yang tidak ideal. Dengan demikian, vigor benih dipilah

atas dua kualifikasi, yaitu Vigor Kekuatan Tumbuh (VKT) dan Vigor Daya

Simpan (VSD), (Sadjad, 1993). Viabilitas beih adalah daya hidup benih yang

dapat ditunjukkan melalui gejala metabolisme dan atu gejala pertumbuhan, selain

itu daya kecambah juga merupakan tolak ukur parameter viabilitas potensial benih

(Kamil, 1979).

Benih dapat berkecambah dengan tingkat vigor dan viabilitas bila tersedia

faktor-faktor pendukung selama terjadinya proses perkecambahan. Perkembangan

benih dipengaruhi oleh faktor dalam dan faktor luar, yaitu :

141
A. Faktor Dalam

Faktor dalam yang mempengaruhi perkecambahan benih antara lain :

a. Tingkat kemasakan benih

Benih yang dipanen sebelum tingkat kemasakan fisiologisnya tercapai tidak

mempunyai viabilitas yang tinggi karena belum memiliki cadangan makanan

yang cukup serta pembentukan embrio belum sempurna (Sutopo, 2002). Pada

umumnya sewaktu kadar air biji menurun dengan cepat sekitar 20 persen, maka

benih tersebut juga telah mencapai masak fisiologos atau masak fungsional dan

pada saat itu benih mencapat berat kering maksimum, daya tumbuh maksimum

(vigor) dan daya kecambah maksimum (viabilitas) atau dengan kata lain benih

mempunyai mutu tertinggi (Kamil, 1979).

b. Ukuran benih

Benih yang berukuran besar dan berat mengandung cadangan makanan yang

lebih banyak dibandingkan dengan yang kecil pada jenis yang sama. Cadangan

makanan yang terkandung dalam jaringan penyimpan digunakan sebagai

sumber energi bagi embrio pada saat perkecambahan. Berat benih berpengaruh

terhadap kecepatan pertumbuhan dan produksi karena berat benih menentukan

besarnya kecambah pada saat permulaan dan berat tanaman pada saat dipanen

(Sutopo, 2002).

c. Dormansi

Benih dikatakan dormansi apabila benih tersebut sebenarnya hidup tetapi tidak

berkecambah walaupun diletakkan pada keadaan yang secara umum dianggap

telah memenuhi persyaratan bagi suatu perkecambahan atau juga dapat

142
dikatakan dormansi benih menunjukkan suatu keadaan dimana benih-benih

sehat (viabel) namun gagal berkecambah ketika berada dalam kondisi yang

secara normal baik untuk berkecambah, seperti kelembaban yang cukup, suhu

dan cahaya yang sesuai (Schmidt, 2002).

d. Penghambat perkecambahan

Menurut Kuswanto (1997), penghambat perkecambahan benih dapat berupa

kehadiran inhibitor baik dalam benih maupun di permukaan benih, adanya

larutan dengan nilai osmotik yang tinggi serta bahan yang menghambat

lintasan metabolik atau menghambat laju respirasi.

B. Faktor Luar

Faktor luar utama yang mempengaruhi perkecambahan diantaranya :

a. Air

Penyerapan air oleh benih dipengaruhi oleh sifat benih itu sendiri terutama

kulit pelindungnya dan jumlah air yang tersedia pada media di sekitarnya,

sedangkan jumlah air yang diperlukan bervariasi tergantung kepada jenis

benihnya, dan tingkat pengambilan air turut dipengaruhi oleh suhu (Sutopo,

2002). Perkembangan benih tidak akan dimulai bila air belum terserap masuk

ke dalam benih hingga 80 sampai 90 persen (Darjadi,1972) dan umumnya

dibutuhkan kadar air benih sekitar 30 sampai 55 persen (Kamil, 1979). Benih

mempunyai kemampuan kecambah pada kisaran air tersedia. Pada kondisi

media yang terlalu basah akan dapat menghambat aerasi dan merangsang

timbulnya penyakit serta busuknya benih karena cendawan atau bakteri

(Sutopo, 2002).

143
b. Suhu

Suhu optimal adalah yang paling menguntungkan berlangsungnya

perkecambahan benih dimana presentase perkembangan tertinggi dapat dicapai

yaitu pada kisaran suhu antara 26,5-35 C (Sutopo, 2002). Suhu juga

mempengaruhi kecepatan proses permulaan perkecambahan dan ditentukan

oleh berbagai sifat lain yaitu sifat dormansi benih, cahaya dan zat tumbuh

giberelin.

c. Oksigen

Saat berlangsungnya perkecambahan, proses respirasi akan meningkat disertai

dengan meningkatnya pengambilan oksigen dan pelepasan CO2, air dan energi

panas. Terbatasnya oksigen yang dapat dipakai akan menghambat proses

perkecambahan benih. Kebutuhan oksigen sebanding dengan laju respirasi dan

dipengaruhi oleh suhu, mikroorgan (Sutopo, 2002).

d. Cahaya

Kebutuhan benih akan cahaya untuk perkecambahannya berfariasi tergantung

pada jenis tanaman (Sutopo, 2002). Adapun besar pengaruh cahanya terhadap

perkecambahan tergantung pada intensitas cahaya, kualitas cahaya, lamanya

penyinaran (Kamil, 1979). Menurut Sutopo (2002) pengaruh cahaya terhadap

perkecambahan benih dapat dibagi atas 4 golongan yaitu golongan yang

memerlukan cahaya mutlak, golongan yang memerlukan cahaya untuk

mempercepat perkecambahan, golongan dimana cahaya dapat menghambat

perkecambahan, serta golongan dimana benih dapat berkecambah baik pada

144
tempat gelap maupun ada cahaya.isme yang terdapat dalam benih (Kuswanto,

1997).

e. Medium

Medium yang baik untuk perkecambahan haruslah memiliki sifat fisik yang

baik, gembur, mempunyai kemampuan menyerap air dan bebas dari organisme

penyebab penyakit terutama cendawan. Pengujian viabilitas benih dapat

digunakan media antara lain substrat kertas, pasir dan tanah (Sutopo, 2002).

Menurut Farin (2004), kecambah normal yaitu kecambah yang

menunjukkan potensi untuk berkembang lebih lanjut menjadi tanaman normal.

Ciri-cirinya adalah sebagai berikut: kecambah memiliki perkembangan sistem

perakaran yang baik, terutama akar primer dan akar seminal paling sedikit dua,

perkembangan hipokotil baik dan sempurna tanpa ada kerusakan pada

jaringan, pertumbuhan plumula sempurna dengan daun hijau tumbuh

baik. Epikotil tumbuh sempurna dengan kuncup normal dan memiliki satu

kotiledon untuk kecambah dari monokotil dan dua bagi dikotil.

Benih kecambah normal merupakan kecambah yang menunjukan potensi

untuk berkembang lebih lanjut hingga menjadi tanmaan normal. Sedangkan

kecambah tidak normal atau abnormal tidak menunjukan adanya potensi nk

berkembang lebih lanjut. Daya kecambah benih memberikan informasi kepada

pemakai benih akan kemampuan benih tumbuh normal menjadi tanaman yang

berproduksi wajar dalam lingkungan yang optimum. Kriteria kecambah normal

diantaranya adalah:

145
1. Benih berkecambah memiliki perkembangan sistem perakaran yang baik,

terutama akar prier dan akar seminal paling sedikit dua

2. Perkembangan hipokotil baik dan sempurna tanpa ada kerusakan pada

jaringan.

3. Pertumbhan plumula sempurna dengan daun hijau tumbuh baik.epikotil

tumbuh sepurna dengan kuncup normal.

4. Memiliki satu kotiledon untuk kecambah dari monokotil dan dua bagi dikotil

(Yuniarti et al., 2013)

Kecambah abnormal yaitu kecambah yang tidak menunjukkan adanya

potensi untuk berkembang menjadi tanaman normal jika ditambahkan pada tanah

berkualitas baik dan di bawah kondisi yang sesuai bagi pertumbuhannya. Ciri-

cirinya adalah sebagai berikut : kecambah rusak tanpa kotiledon, embrio pecah,

dan akar primer pendek, bentuk kecambah cacat, perkembangan bagian-bagian

penting lemah dan kurang seimbang. Plumula terputar, hipokotil, epikotil,

kotiledon membengkok, akar pendek, kecambah kerdil, kecambah tidak

membentuk klorofil dan kecambah lunak. Benih mati adalah benihbenih yang

busuk sebelum berkecambah atau tidak tumbuh setelah jangka waktu pengujian

yang ditentukan, tetapi bukan dalam keadan dorman. (Hasanah, 2002)

Menurut Kartasapoetra (2003) terdapat 2 macam metode pengujian daya

berkecambah dan kekuatan tumbuh, yaitu:

1. Pengujian secara langsung

Cara pengujian langsung baik dilakukan untuk benih yang cepat

berkecambah. Pada benih yang sulit berkecambah benih harus melalui

146
perlakuan lebih dulu dan membutuhkan waktu pengujian yang lebih lama.

Pada pengujian secara langsung terdapat beberapa metode yang dapat

digunakan yaitu diantaranya:

a. UKDp (Uji Kertas Digulung dalam plastik)

Pada metode ini benih diuji dengan cara menanam benih diantara lembar

substrat lalu digulung

b. UAK (Uji Antar Kertas)

Metode UAK digunakan untuk benih yang tidak peka terhadap cahaya.

Pada metode ini benih ditanam di antara substrat, kemusian substrat

dilipat

c. UDK (Uji Diatas Kertas) dan UDKm (Uji Diatas Kertas diMiringkan)

Dengan metode UDK dan UDKm dimaksudkan menguji benih di atas

lembar substrat. Metode ini sangat beik digunakan untuk benih yang

membutuhkan cahaya bagi perkecambahnnya.

d. UKDdp (Uji Kertas Digulung didirikan dalam plastik)

Metode ini menggunakan lapisan plastik diluarnya ang berfungsi

mencegah tembusnya substrat kertas oleh akar.

2. Pengujian secara tidak langsung

Cara pengujian tidak langsung dilakukan dengan melakukan pewarnaan benih

menggunakan bahan kimia garam tetrazolium yang memberikan warna merah

pada sel.

Menurut Roberts (2012), metode uji viabilitas pada benih dapat dilakukan

secara langsung dan tidak langsung. Metode uji secara langsung dapat mengetahui

147
dan menilai struktur-struktur penting kecambah secara langsung. Sedangkan

metode uji secara tidak langsung dapat diketahui mutu hidup benih yang

ditunjukkan melalui gejala metabolisme. Umumnya media yang banyak

digunakan dan direkombinasikan dalam pengujian daya kecambah yakni kertas,

pasir, tanah, dan lainnya. Penggunaan kertas substrat merupakan bahan yang

praktis tidak banyak memerlukan tempat, mudah menilai struktur penting pada

kecambah dan mudah distandarisasi. Contoh jenis substrat kertas yang dapat

digunakan adalah kertas merang, kertas saring, kertas buram. Tingkat vigor tinggi

dapat dilihat dari penampilan kecambah yang tahan terhadap berbagai faktor

pembatas yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangannya. Sadjad

(1993) menyatakan bahwa ketahanan terhadap faktor pembatas juga dipengaruhi

oleh mutu genetis yang dicerminkan oleh varietas. Varietas yang lebih dapat

beradaptasi dengan kondisi daerah tropis dengan panjang hari yang netral disebut

varietas dari ecotype indica. Bimas Deptan (1997) mengemukakan bahwa

perbedaan ecotype dipengaruhi oleh keadaan letak geografis sehingga

mempengaruhi fotoperiodebitas tanaman berupa daya merumpun, panjang malai

dan tinggi rendahnya hasil serta pengaruh agronomis lainnya.

Indeks vigor yang mengekspresikan jumlah benih yang berkecambah pada

interval satu hari setelah dikecambahkan. Vigor benih dicerminkan oleh dua

informasi tentang viabilitas, masing-masing kekuata tumbh dan daya simpan

benih. Kedua nilai fisiologi ini menempatkan benih pada kemungkinan

kemampuannya untuk tumbuh menjadi tanaman normal melalpaui suatu periode

simpan yang lama, indeks vigor benih digunkaan untuk menduga kecepatan dan

148
kemampuan tumbuh benih, sedangkan indeks vigor hipotetik digunakan untuk

mengetahui kekuatan dan kemampuan tumbuh benih secara normal dilapangan.

Indeks vigor dapat digunakan untuk menduga keserempakkan dan kecepatan

benih tumbuh pada interval hari setelah dikecambahkan, namun tidak dapat

menduga kualitas dan ketegaran bibit yang dihasilkan. Oleh karena itu pengujian

indeks vigor harus beserta dengan indeks vigor hipotetik yang berguna untuk

mengetahui kekuatan dan kemampuan tumbuh benih secara normal dilapangan.

Daya kecambah (viabilitas) dan vigor benih dapat menjadi informasi penting

untuk mengetahui kemampuan tumbuh normal dalam kondisi optimal dan

suboptimal.

Kertas merang digunakan dalam metode UDK karena kertas merang

memiliki daya mempertahankan air yang tinggi, walaupun tujuh hari tidak diberi

air (Suwarno dan Hapsari, 2008).

Pengujian viabilitas benih dengan metode UKD yang dilakukan oleh

Santana (2005) menunjukkan bahwa kertas merang dapat digunakan sebagai

alternatif substrat perkecambahan benih berukuran besar seperti pada tanaman

pangan yaitu jagung, padi sedangkan pada Uji Diatas Kertas (UDK) untuk benih

berukuran kecil sepeti tanaman sayuran yaitu bayam dan wijen.

Substrat kertas dapat digunakan untuk berbagai metode uji viabilitas benih,

yaitu:

1. Uji Diatas Kertas (UDK), digunakan untuk uji benih-benih ukuran kecil yang

membutuhkan cahaya dala perkecambahannya

149
2. Uji Antar Kertas (UAK), digunakan untuk benih-benih yang tidak peka

cahaya dalam perkecambahnnya

3. Uji Kertas Digulung (UKD)

4. Digunakan untuk benih-benih berukuran besar yang tidak peka cahaya dalam

perkecambahnnya. Jika dalam pemakaiannya digunakan plastik sebagai alas

kertas maka disebut Uji Kertas digulung dengan plastik (UKDdp), (Sadjad,

1993).

Uji perkecambahan padi menggunakan Uji Diatas Kertas (UDK) dan Uji

Kertas Digulung didirikan dalam plastik (UKDdp) digunakn untuk melakukan

pengujian perkecambahan jagung karena sesuai dengan pendapat Sadjad (1993),

bahwa Uji Diatas Kertas (UDK) digunakan untuk benih-benih berukuran kecil

yang membutuhkan cahaya dalam perkecambahannya, baik benih pangan seperti

padi, benih sayuran (bayam dan wijen). Sementara Uji Kertas Digulung didirikan

dalam plastik (UKDdp) untuk benih besar (tanaman pangan) seperti jagung.

Tahapan kerja UKD (kertas gulung) dan UDK (diatas kertas) berdasarkan

praktikum yang telah dilakukan adalah sebagai berikut:

1. Uji Diatas Kertas

a. Benih padi dikecambahkan sebanyak 20 benih, dalam cawan petri yang

sudah dialasi kertas merang basah

b. Pengamatan dilakukan setiap hari selama 10 hari setiap hari, diamati

jumlah benih yang berkecambah

2. Uji Kertas Digulung

150
a. Kertas merang ukuran besar dan sedang direndam air hingga basah

seluruhnya, kemudian kertas merang ukuran besar dilipat menjadi dua

bagian dan dihamparkan diatas plastik bening

b. Benih jagung sebanayk 20 butir di sebar pada permukaan hamparaan

kertas merang secara zig-zag, kemudian ditutup dengan kertas merang

ukuran sedang dan dilipat pada bagian tepinya

c. Kertas kemudian digulung, bersama plastik benig yang berada dibagian

luar gulungan dan dipasangi karet ntuk menjada kertas tetap menggulung

d. Dilakukan pengamatan selama 10 hari setiap 2 hari

Menurut Sunantara (2005), tahapan kerja metode UDK (Uji Diatas Kertas)

dan UKD (Uji Kertas Digulung) adalah sebagai berikut:

1. UDK (Uji Diatas Kertas)

a. Siapkan 3-4 kertas merang lembab didalam petridish

b. Tanamkan 25 butir benih mentimun (kelompok 1-3), benih sawi

(kelompok 4-6), dan benih terong (7-10) diatas substrat pada petridish

yang berbeda dengan cara menysunnya secara teratur dalam posisi lingkar

c. Tutup petridish dan benih dibiarkan terbuka (terlihat)

d. Tempatkan materi yang sedang diuji didalam alat pengecambah

(germinator)

e. Amati bentuk-bentuk kecambah normal dan abnormal pada umur 4 dan 8

HST (hari setelah tanam) untuk mentimun, pada umur 5 dan 7 HST untuk

sawi dan pada umur 7 dan 14 HST untuk terong

151
f. Buang kecambah normal yang dijumpai pada hiungan pertama demikian

juga kecambah yang mati atau busuk

g. Hitung presentase potensi berkecambah dan daya berkcambah benih pada

pengamatan terakhir

2. UKD (Uji Kertas Digulung)

a. Siapkan 3 4 kertas merang lembab berukuran 20 cm x 30 cm dan

letakkan terhampar di atas meja praktikum

b. Lipat substrat tersebut ke arah panjang kertas sehingga menjadi setengah

bagiannya

c. Tanam 25 butir benih kangkung di atas substrat itu dengan cara

menyusunnya secara teratur dalam 5 baris di atas setengah bagian kertas,

lalu benih kacang merah pada lipatan kertas yang dilipat membentuk

lipatan kipas

d. Lipatkan setengah bagian kertas yang tidak ditanami sehingga menutup

benih

e. Tempatkan materi yang sedang diuji di dalam alat pengecambah

f. Amati bentuk-bentuk kecambah normal dan abnormal pada umur 4 dan

10 HST untuk kangkung dan pada umur 5 dan 8 HST untuk kacang

merah

g. Buang kecambah normal yang dijumpai pada hitungan pertama,

demikian juga kecambah yang mati atau busuk 8. Hitung persentase

potensi Berdasarkan hasil praktikum, sebelumnya telah dilakukan

langkah kerja pada Uji Kertas Digulung dalam plastik (UKDdp)

152
menggunakan kertas merang sebagai media tumbuh. Media kertas

merang dicelupkan ke dalam air lalu diletakan benih di atasnya. Kertas

yang telah berisi benih lalu digulung dan diletakan di dalam germinator

yang dibuat sedemikian rupa sehingga intensitas cahaya yang masuk dan

kelembaban udara di sekitarnya dapat diatur. Dari hasil pengamatan

benih padi yang berkecambah sedikit yaitu sebanyak 15 % saja.

153
V. PENUTUP

A. Kesimpulan

Kesimpulan dari hasil percobaan adalah metode perkecamabahan UKDdp

(Uji kertas digulung didirikan dalam plastik) menunjukkan persentase hasil 15 %.

Kemudian uji indeks vigor diatas kertas merang diperoleh indeks vigor 1,102 dan

koefisien vigornya 17,65

B. Saran

Sebaiknya penyiraman dilakukan lebih teratur agar benih dapat berkecambah

dengan normal dan variabel pengamatan dapat diamati dengan maksimal.

154
DAFTAR PUSTAKA

AAK. 1992. Budidaya tanaman padi. Kanisius. Jakarta


Ashari. 2006. Meningkatkan Produksi Jagung di Lahan Kering, Sawah dan
Pasang Surut. Penebar Swadaya. Jakarta
Bimas Deptan. 1997. Pedoman bercocok tanam; padi, palawija, dan sayur-
sayuran. Badan Pengendali Bimas Departeman Pertanian. Jakarta
Bramasto, Y. et.al. 2011. Viabilitas Beni dan Pertumbuhan Semai Merbau (Intsia
bijuga O. Kuntze). Yang Terinfeksi Cendawan Fusarium sp. Dan
Penicillium sp. Jurnal Tekno Hutan Tanaman. Vol. 4 No. 3 : 100
Darjadi, L. dan Hardjono, 1972. Sendi-Sendi Silvikultur. Dirjen Kekutanan.
Jakarta
Dwidjoseputro. 1983. Biologi Sains dalam Kehidupan. Yudhistira. Yogyakarta
Harrington. 1972. Substrat Kertas Alternatif Pada Uji Viabilitas Benih. Balai
Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan. Surabaya
Ichsan, N. I. 2006. Uji Viabilitas dan Vigor Benih Beberapa Varietas Padi (Oryza
sativa L.) yang Diproduksi pada Temperatur yang Berbeda Selama
Kemasakan. Jurnal Floratek. Vol 2. No 3 : 27-42
Justice, O. L dan Lois, N. B. 1990. Praktek dan Penyimpanan Benih. Rajawali
Pers. Jakarta
Kamil, J. 1979. Teknologi Benih. Angkasa Raya. Bandung
Kartasapoetra. 2003. Ilmu dan Teknologi Benih. Rineka Cipta. Jakarta
Kuswanto, H. 1997. Analisis Benih. ANDI. Yogyakarta
Lesilolo, M. K. 2013. Pengujian Viabilitas dan Vigor Benih Beberapa Jenis
Tanaman yang Beredar di Pasaran Kota Ambon. Jurnal Agrologia. Vol. 2
No. 1 :1-9
Madauna, S.I. 2007. Vigor Benih Kacang Hijau pada Budidaya Tanpa Olah Tanah
dengan Aplikasi Pupuk Fosfat Dosis Rendah yang Ditanam Setelah Padi
Sawah. Jurnal Agroland. Vol. 14 No. 3 : 181-185
Mugnisjah, W. Q dan Setiawan, A. 1995. Pengantar produksi benih. Raja
Grafindo Persada, Jakarta
Sadjad, S. 1972. Kekuatan tumbuh benih. Penataran penyuluhan pertanian
spesialis. Bagian Penataran BIMAS. Departemen Agronomi IPB. Bogor.
_________. 1993. Dari Benih Kepada Benih. Gramedia. Jakarta

155
Schmidt, L. 2002. Pedoman Penanganan Benih Tanaman Hutan Tropis dan
Subtropis. Direktorat Jenderal Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial
Departemen Kehutanan, Jakarta
Shanker. 2006. Hubungan Antara Kandungan Lignin Kulit Benih dengan
Permeabilitas dan Daya Hantar Listrik Rendemen Benih Kedelai. Jurnal
Alta Agrosia. Vol. 6 No. 2 : 25-27
Sutopo, L. 2002. Teknologi Benih. Raja Grafindo Persada. Jakarta
Suwandi, N. et.al. 1995. Aspek Agronomi Tanaman Pangan. Penebar Swadaya.
Jakarta
Utomo. 1990. Pengaruh Perbedaan Tingkat Kemasakan, Periode After-ripening,
Pematahan Dormansi dan Media Perkecambahan terhadap Dormansi Benih.
Skripsi. Fakultas Pertanian IPB. Bogor
Wahyuni, S. 2011. Peningkatan Daya Berkecambah dan Vigor Benih Padi Hibrida
Melalui Invigorisasi. Jurnal Penelitian Pertanian Tanaman Pangan. Vol 20
No. 2 : 83-84

156
LAMPIRAN

157